Anda di halaman 1dari 12

Drug Management Cycle (DMC)

DMC (Drug Management Cycle) adalah suatu siklus yang didalamnya terdapat masing-masing unsur
pokok yaitu (selection, procurement, distribution dan use), dimana unsure-unsur tersebut mempunyai
fungsi pokok / sebagai pengarah dalam menentukan kebijakan kedepan.

Manajemen obat merupakan serangkaian kegiatan kompleks yang merupakan suatu siklus yang saling
terkait, pada dasarnya terdiri dari 4 fungsi dasar yaitu seleksi dan perencanaan, pengadaan, distribusi
serta penggunaan. Pada dasarnya, manajemen obat di apotek adalah bagaimana cara mengelola tahap-
tahap dan kegiatan tersebut agar dapat berjalan dengan baik dan saling mengisi sehingga dapat tercapai
tujuan pengelolaan obat yang efektif dan efisien agar obat yang diperlukan oleh dokter dan pasien selalu
tersedia setiap saat dibutuhkan dalam jumlah cukup dan mutu terjamin untuk mendukung pelayanan
yang bermutu.

Seleksi

Proses kegiatan sejak meninjau masalah kesehatan, identifikasi pemilihan terapi, bentuk sediaan, kriteria
pemilihan, standarisasi/penyusunan formularium.

Procurement

Merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang direncanakan dan disetujui, dapat melalui
pembelian, produksi/pengemasan kembali, sumbangan. Diharapkan memperoleh pembekalan yg efisien
(tak terjadi stock out).

Distribution

Proses penyaluran obat dari IFRS/apotek ke pasien untuk menjamin ketersediaan obat bagi pasien dan
mutu obat yang terjaga. Proses penyaluran obat dari IFRS/ apotek ke pasien untuk menjamin
ketersediaan obat bagi pasien dan mutu obat yang terjaga.

Use

Yang didalam nya terdapat diagnose, peresepan , dispensing dan pengguanaan yang tepat untuk pasien.
Siklus manajemen obat didukung oleh faktor-faktor pendukung manajemen (management support) yang
meliputi organisasi, keuangan atau finansial, sumber daya manusia (SDM), dan sistem informasi
manajemen (SIM). Setiap tahap siklus manajemen obat yang baik harus didukung oleh keempat faktor
tersebut sehingga pengelolaan obat dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Siklus pengelolaan
obat dinaungi/dibatasi oleh bingkai kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Siklus pengelolaan
obat tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

PENGELOLAAN OBAT-4

DRUG MANAGEMENT CYCLE


Drug management cycle pada dasarnya merupakan suatu prosedur tahapan pengelolaan obat agar
ketersediaan suatu obat dapat berjalan dengan baik yang dapat mewujudkan tercapainya keefektifan
serta efisien sehingga obat yang diperlukan oleh dokter selalu tersedia setiap saat dibutuhkan dalam
jumlah cukup dan mutu terjamin untuk mendukung pelayanan yang bermutu. Drugs management cycle
berperan dalam ketersediaan suatu obat di rumah sakit, khususnya di instalasi rawat jalan.

Drug management cycle terdiri dari beberapa tahapan yaitu :

Use

Selection

Procurement

Distribution.

Keempat hal diatas didukung oleh suatu management support yang terdiri dari organization (organisasi),
financing (keuangan), information management (sistem informasi manajemen) dan human
resources(sumber daya manusia). Setiap tahap pada drug management cycle tersebut harus didukung
oleh management support yang ada sehingga pengelolaan obat dapat berlangsung secara efektif dan
efisien, dan keempat unsur tersebut harus dilakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Management Support atau manajemen pendukung adalah tindakan atau seni melakukan, mengatur dan
mengawasi sesuatu untuk mencapai sasaran yang efektif dan efisien, dalam hal ini kesehatan
masyarakat. Ada banyak alasan mengapa obat perlu dikelola dengan baik dimana agar obat tersedia saat
diperlukan, kuantitas mencukupi, mutu menjamin, mendukung “good quality care” di rumah sakit, serta
menambah pendapatan rumah sakit swasta. Dari sisi manjemen dan keuangan diantaranya
pengurangan beban manajemen dan administrasi, mengurangi pemborosan, menurunkan biaya
pengelolaan dan investasi obat, menghindari kekurangan obat dan menambah pendapatan rumah sakit.
Manajemen pendukung merupakan tahap pengorganisasian, pendanaan, sumber informasi,
perencanaan, evaluasi, pelayanan, penelitian dan pengamanan yang mencakup seluru tahap Drug
Management Cycle. Perlu diingat bahwa seorang Apoteker harus memiliki kemampuan memanage
dirinya sendiri agar dapat menjadi seorang manajer yang berbasis akan hasil. Kemampuan memanage ini
dituang dalam manajemen pendukung yang meliputi kemampuan organisasi, management keuangan
yang memadai, informasi yang terbaru dalam dunia kesehatan dan yang paling penting yaitu manusia
yang bersumber daya.

Use

Use pada drugs management cycle meliputi : diagnozing, prescribing, dspensing dan proper consumtion
by the patient. peranan apoteker dalam hal ini adalah dapat bekerjasama dengan tenaga kesehatan lain
untuk menjamin dan memastikan bahwa pasien menerima obat yang rasional, tepat dengan kebutuhan
klinis pasien dengan dosis yang sesuai dengan kebutuhan dosis individual untuk jangka waktu yang
sesuai dan biaya yang paling rendah. Penggunaan obat yang rasional diharapkan dapat mengurangi
angka kejadian medication error dan dapat membuat biaya yang ditanggung pasien menjadi seminimal
mungkin khususnya terkait dengan biaya obat. Dalam use ini, perananan penting apoteker adalah
terlibat dalamdispensing dan proper consumtion by the patient (pemilihan obat yang paling tepat untuk
pasien), yang tahapan awalnya adalah skrining resep. Pemberian obat yang tidak rasional berdampak
kepada penggunaan obat yang tidak tepat, sehingga di khawatirkan menimbulkan efek terhadap kualitas
terapi yang dihasilkan, permasalahan yang paling sering dalam pemberian obat yang tidak rasional
adalah polifarmasi, sehingga diperlukan langkah-langkah untuk mengetahui apakah obat yang digunakan
rasional atau tidak.

Mengidentifikasi masalah

Memahami penyebab

Memcatat kemungkinan terjadinya interaksi

Mengkaji ulang informasi yang tersedia

Memilih interaksi

Memantau dan mendata ulang kerja obat.

Adapun,strategi yang dapat dilakukan untuk mencapai obat yang rasional diklasifikasikan menjadi
beberapa cara:

Strategi edukasi, meliputi : Pelatihan penulisan resep (seminar, workshop), mencetak bahan (literature
klinis dan Koran, guidelines terapi, formulasi obat), pendekatan berdasarkan pertemuan langsung.

Strategi manajerial meliputi : Memulai pemilihan, pengadaan dan distribusi, memulai peresepan dan
penyerahan obat, pembiayaan ( mengatur harga
Strategi regulasi,meliputi : Registrasi obat, daftar obat terbatas, pembatasan resep, pembatasan
penyerahan obat.

Selection

Selection dalam drugs management cycle pada dasarnya adalah pemilihan obat di instalasi rumah
sakitsampai ke revisi formularium.

Proses kegiatan selection meliputi : mereview masalah-masalah kesehatan, mengidentifikasi pemilihan


treatment yang paling tepat, pemilihan dosis untuk masing-masing individu dan bentuk sediaan yang
paling tepat serta memastikan bahwa obat yang dibutuhkan oleh dokter dan pasien selalu tersedia di
instalasi farmasi di rumah sakit.

Procurement

Procurement, kegiatannya meliputi perencanaan, pengadaan, penerimaan serta penyimpanan obat


dalam rumah sakit. Pengadaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah
direncanakan. Ada beberapa kunci pengadaan obat yang baik yaitu, dengan review data obat yang akan
diadakan, kualifikasi dan monitoring supplier, penawaran yang bersaing, dan jumlah obat yang dipesan
berdasarkan kebutuhan dilapangan,dalam hal ini adalah kebutuhan permintaan suatu obat di rumah
sakit yang dapat dipercaya. Selain itu, juga diperlukan adanya pembayaran dan pengelolaan dana yang
baik dan efisien. Ada prosedur tertulis dan transparan, jaminan kualitas produk, pemeriksaan tahunan
dengan hasil dilaporkan dan adanya laporan rutin pelaksanaan pengadaan obat. Cara pengadaan suatu
obat dapat dilakukan berbagai cara yaitu : Produksi sediaanfarmasi (produk steril dan non steril),
sumbangan atau droping atau hibah, Kerjasamaoperasional, Penyewaan, Pembelian, bisa melalui tender
(oleh panitia pembelian barang farmasi) maupun secara langsung dari pabrik, distributor, maupun
pedagang besar farmasi.

Distribution

Pendistribusian obat merupakan suatu proses penyerahan obat setelah sediaan disiapkan oleh unit
Instalasi Farmasi Rumah Sakit sampai dengan dihantarkan kepada perawat, dokter, atau profesi
kesehatan lain untuk didistribusikan kepada pasien.

Ada 4 elemenutamadalamsistemdistribusi :
a) Desain sistem (geografis atau cakupan populasi, jumlah tingkatan dalam sistem, dan derajat
sentralisasi)

b) Sistem informasi (kontrol persediaan, catatan dan formulir, pemakaian laporan, aliran informasi)

c) Penyimpanan (pemilihan tempat, desain bangunan, sistem penanganan bahan)

d)Pengiriman (pemilihan transportasi, pengadaan kendaraan, pemeliharaan kendaraan, dan jadwal


pengiriman).

Syarat-syarat distribusi yang dirancang dan dikelola dengan baik

Menjaga pasokan obat agar tetap konstan

Menyimpan obat dalam kondisi baik selama proses distribusi

Meminimalkan kerugian obat dikarenakan pembusukan dan kadaluwarsa

Menyimpan catatan inventarisasi secara akurat.

Merasionalkan tempat penyimpanan obat.

Memanfaatkan sumber daya transportasi yang ada seefisien mungkin.

Mengurangi pencurian dan penipuan

Memberikan informasi mengenai perkiraan kebutuhan obat.

THERAPEUTIC CYCLE

Therapeutic cycle merupakan sebuah siklus untuk mencapai terapi pengobatan yang efektis, efisien
dalam peningkatan efektifitas terapi yang berdampak pada peningkatan kualitas hidup pasien,
Therapeutic cyclemerupakan bagian yang tidak mungkin terlepas dari drug management cycle. kegiatan
Therapeutic cycle meliputi : pelaporan, pengendalian, pemusnahan dan pencatatan, dimana keempat
unsur tersebut didukung oleh management support antara lain : organisasi, Finansial, sistem informasi ,
dan sumber daya manusia.
pada proses pelaporan, kegiatan yang dilakukan melingkupi pengadaan suatu obat, yang sebelumnya
telah direncanakan dan disesuaikan dengan kebutuhan obat terkait dengan kegunaannya dalam terapi
pasien. Pada tahap pengendalian, obat yang dilaporkan kemudiaan akan dilakukan proses penerimaan
yang kemudian akan masuk dalam gudang penyimpanan dan selanjutnya akan mengalami proses
distribusi hingga sampai ke tangan para tenaga medis untuk selanjutnya dapat digunakan untuk terapi
pasien, pada tahap pengawasan obat, prosesnya yang melingkupi adalah pemusnahan dan distribusi
obat, kedua proses ini perlu dilakukan untuk menghindari adanya penyimpangan yang terjadi dalam
penyalah gunaan obat terutama dalam proses distribusi, serta pemusnahan untuk obat-obat yang
kadaluarsa, proses yang terakhir adalah dokumentasi atau pencatatan, dimana hasil dari proses
dispensing dan pemilihan obat dapat dilakukan evaluasi untuk dilakukan monitoring terkait pemilihan
obat yang digunakan sebagai terapi, sehingga dapat dketahui serta dapat mengatasi apabila kemungkina
obat yang diberikan memberikan hasil efek yang tidak diharapkan.

MEMAHAMI MANAJEMEN PUSKESMAS :

“PUSKESMAS, BUKAN SEKEDAR TEMPAT BEROBAT”

Oleh :
Armein Sjuhary Rowi, dr., M.Kes

Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Primer dan Tradisional

Dinas Kesehatan Kota Bogor

Masih banyak yang beranggapan bahwa Puskesmas hanyalah sebuah bangunan kecil untuk berobat.
Bahkan dulu istilah Puskesmas sering diplesetkan menjadi “pusing, keseleo dan masuk angin”
menandakan bahwa Puskesmas hanya fasilitas seadanya untuk melayani masyarakat miskin. Seiring
dengan perkembangannya, Puskesmas tidak bisa dianggap remeh lagi. Pembaruan pelayanan yang
semakin mutakhir, membuat puskesmas ter “upgrade” menjadi lebih dari yang dibayangkan. Saat ini
malah ada Puskesmas yang hampir setara dengan Rumah Sakit dan memiliki tata graha seperti hotel
bintang lima. Hal ini tidak terlepas dari perhatian pemerintah kepada puskesmas sendiri sebagai garda
terdepan pembangunan kesehatan yang memberikan pelayanan terjangkau bagi rakyat Indonesia, tetapi
tetap mengutamakan mutu yang sebaik-baiknya.

Untuk mendapatkan gambaran mengenai keadaan puskesmas yang sebenarnya saat ini, maka tulisan
ini dibuat agar puskesmas dapat diperhitungkan sebagai wahana yang turut berperan dalam
menciptakan kesehatan secara umum bagi masyarakat dan memberikan pelayanan yang mengutamakan
keramahan, kepedulian dan kenyamanan bagi pasien. Sehingga diharapkan suatu saat puskesmas dapat
bersaing dengan fasilitas kesehatan lainnya atau justru mampu menggaet pasien-pasien yang saat ini
banyak melirik untuk berobat ke luar negeri.

Sebagai ulasan awal, kita harus paham mengenai motivasi dibentuknya puskesmas. Puskesmas yang
merupakan singkatan dari Pusat Kesehatan Masyarakat, pada mulanya dirintis sekitar tahun 1965 dan
1966. Bentuk puskesmas saat itu sangat sederhana sekali, dan lebih mengutamakan paradigma sakit.
Dibandingkan saat ini, puskesmas telah bergeser ke paradigma sehat, yang artinya adalah pelayanan
diberikan kepada orang sakit untuk menjadi sehat dan kepada orang sehat agar tetap terjaga
kesehatannya. Kemudian bagaimana puskesmas beroperasi dan pola penyelenggaraannya seperti apa?

Ketika suatu puskesmas berdiri, maka yang akan ditanyakan pertama kali adalah apa yang akan
dilakukan oleh Puskesmas. Sebagaimana singkatannya, maka puskesmas adalah “pusat” atau suatu
“kegiatan yang dipusatkan” pada suatu fasilitas, kemudian kegiatan yang diselenggarakannya
berhubungan dengan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat. Selanjutnya kembali menjadi
pertanyaan, kegiatan-kegiatan apa yang diselenggarakan oleh puskesmas bagi masyarakat?

Untuk mengetahui dan memahami kegiatan-kegiatan dalam penyelenggaraan puskesmas, maka harus
dipahami dahulu bahwa sebagai penyelenggara, puskesmas merupakan wadah yang berbentuk
organisasi (Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014). Bahkan puskesmas bisa dikatakan
bersifat seperti suatu perusahaan, walaupun lebih mengutamakan nilai sosial daripada nilai profit atau
keuntungan, sehingga berbeda dengan perusahaan-perusahaan komersial. Sifat puskesmas sebagai
organisasi atau menyerupai perusahaan, mengharuskan pengelolaan puskesmas mengikuti kaidah
manajemen yang baik. Kaidah manajemen yang dimaksud adalah POACE (Planning, Organizating,
Actuating, Controlling dan Evaluating). Dengan kaidah ini, diharapkan Puskesmas menyelenggarakan
kegiatannya secara terencana, terstruktur, terlaksana, terkontrol dan terevaluasi. Kaidah POACE ini harus
memberikan dampak yang signifikan, sehingga penyelenggaraan kegiatan Puskesmas benar-benar
menghasilkan, tidak sekedar menggugurkan kewajiban. Dalam mengadaptasi kaidah manajemen, maka
puskesmas menetapkan sistem manajemennya dengan pola P1, P2 dan P3. P1 adalah perencanaan, P2
adalah Pelaksanaan-Penggerakan, P3 adalah Pengawasan-Pengendalian-Penilaian dan ditambah
dukungan dari Dinas Kesehatan setempat (Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 44 Tahun 2017).

Bagaimana memulai dan melaksanakan penyelenggaraan kegiatan di Puskesmas? Untuk menjawab


pertanyaan tersebut, harus dimulai dengan pemikiran bahwa dalam tahap permulaan semua aktivitas
apapun membutuhkan “modal” atau “data”. Inilah yang menjadi dasar apa yang akan dilaksanakan oleh
Puskesmas. Kemudian muncul pertanyaan, data apa yang dibutuhkan oleh puskesmas? Dari mana
Puskesmas mendapatkan data untuk memulai penyelenggaraannya?

Jawabannya adalah data yang dibutuhkan dapat berasal dari beberapa sumber terutama yang
berhubungan dengan penyelenggaraan kesehatan bagi masyarakat di wilayah puskesmas. Data yang ada
di Puskesmas dapat dikelompokan atas Data lama, yaitu data dari hasil kegiatan sebelumnya yang akan
menjadi acuan bagi puskesmas untuk melaksanakan kegiatan selanjutnya. Data lama biasanya berupa
kesenjangan atau kegiatan-kegiatan yang belum beres dan masih menyisakan pekerjaan untuk segera
menyelesaikannya. Apabila puskesmas baru berdiri maka tidak ada data lama, sehingga harus
menggunakan data yang baru, atau mencari data baru. Data baru adalah data segar yang didapat saat ini
dan dibutuhkan untuk menentukan kegiatan yang akan dilaksanakan. Data-data ini pun dapat dipilah
berdasarkan sumbernya sebagai berikut :
Data TOP DOWN, adalah Data yang bersumber mulai dari Peraturan-peraturan hingga petunjuk dan
pedoman dari tingkat pusat hingga tingkat daerah dan dinas kesehatan, seperti Undang-undang yang
brhubungan dengan kesehatan, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, Peraturan Menteri
Kesehatan, Kepusan Menteri Kesehatan, Peraturan Daerah, Peraturan Bupati, Peraturan Walikota,
Renstra Dinas Kesehatan dan seterusnya dari atas ke puskesmas

Data HORISONTAL, adalah Data yang bersumber dari puskesmas sendiri, disesuaikan dengan kebutuhan
puskesmas, berdasarkan situasi dan kondisi, juga bisa berasal dari kaji banding apabila ada beberapa
kegiatan yang perlu dicarikan ide pemecahan dari kegiatan puskesmas lain yang sudah berhasil.

Data BOTTOM UP, adalah data yang bersumber dari masyarakat, karena Puskesmas menyelenggarakan
kegiatan untuk masyarakat, maka harus mengetahui apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh
masyarakat, data-data ini bisa didapat dari hasil survei dan analisis kebutuhan dan harapan masyarakat,
baik melalui informasi langsung dari masyarakat dengan media tertulis atau media sosial maupun
melalui kegiatan Survei Mawas Diri (SMD), Musyawarah Masyarakat Desa/Kelurahan (MMD/K) atau
survei-survei dan informasi lainnya.

Setelah data-data diperoleh, siap untuk memulai penyelenggaraan Puskesmas. Dilakukan


pengelompokan sebagai berikut :

Penyelenggaraan Administrasi dan Manajemen Puskesmas, disingkat ADMEN

Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat di wilayah puskesmas, disingkat UKM

Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Perorangan bagi pengguna dan sasaran puskesmas, disingkat UKP

Tujuan pengelompokkan ini adalah agar dapat memudahkan dalam menerapkan program-program
penyelenggaraan yang ada dengan maksud untuk mencapai hasil yang maksimal, dengan tetap menjaga
keutuhan suatu penyelenggaraan puskesmas. Oleh karena itu ketiga pengelompokan tersebut harus
terintegrasi dan dapat menunjang satu dengan yang lainnya. Sesudah mendapatkan data-data, maka
puskesmas bida memulai penyelenggaraannya.

Tahap-tahap penyelenggaraan mengikuti P1, P2 dan P3, sebagai berikut :

1. Perencanaan

Tahap perencanaan dimulai dengan mengumpulkan semua data tersebut, menganalisisnya,


merekomendasikan dan merencanakan tindak lanjutnya (Peraturan Menteri Kesehatan No. 44 Tahun
2016). Pada tahap pengumpulan data, diharapkan puskesmas sudah memiliki data baik data lama
maupun data baru, baik yang berasal dari Top Down, Horisontal maupun Bottom Up. Kemudian data-
data tersebut dikelompokkan sesuai kelompok penyelenggaraan (ADMEN, UKM dan UKP),
dikelompokkan pula dalam usulan peningkatan mutu dan keselamatan pasien dan dikelompokkan sesuai
dengan prioritas yang dihadapi. Penentuan prioritas dapat dilakukan bersama-sama saat menganalisis
data melalui analisis yang direkomendasikan yaitu fish bone sebagai analisis penyebab dan penunjang
dengan bentuk seperti tulang ikan serta USG (Urgency, Severity dan Grouth) sebagai analisis prioritas,
berat ringan dan peluangnya. Hasil dari analisis data adalah status untuk kegiatan atau program yang
berhubungan dengan penyelenggaraan puskesmas. Kemudian tersusunlah rekomendasi kegiatan apa
yang harus dilaksanakan untuk mengatasi hasil ini. Jika datanya buruk maka kegiatannya adalah untuk
memperbaiki, jika datanya standar maka kegiatannya adalah untuk meningkatkannya dan jika datanya
baik, maka kegiatannya untuk mempertahankan.

Bagian terakhir dalam perencanaan adalah menentukan Rencana Tindak Lanjut atau kapan kegiatan-
kegiatan tersebut dilaksanakan. Penentuan harus secara detail hingga ke tanggal pelaksanaan. Hasil akhir
dari tahap ini adalah keluarlah perencanaan tingkat puskesmas (PTP) yang terdiri atas Rencana Usulan
Kegiatan (RUK) dan ketika disesuaikan dengan ketersediaan anggaran yang ada maka menjadi Rencana
Pelaksanaan Kegiatan (RPK)

2. Pelaksanaan-Penggerakan

Tahap pelaksanaan dan penggerakan adalah tahap melakukan apa yang sudah direncanakan dalam
tahap perencanaan. Pada tahap ini semua kegiatan yang sudah direncanakan harus dapat terlaksana
secara terukur, terjaga, jelas arahnya dan jelas penggunaan semua penunjangnya, termasuk
anggarannya. Oleh karena itu pada tahap ini harus memiliki teknis yang dapat dipertanggungjawabkan,
mulai dari proses pelaksanaan kegiatan hingga output dan outcome yang diharapkan. Kegiatan-kegiatan
pada tahap ini dapat ditunjang oleh pertemuan-pertemuan koordinasi seperti lokakarya mini bulanan
puskesmas (lokmin) untuk lintas program puskesmas dan Lokakarya mini tri bulanan puskesmas (loktri)
untuk lintas sektor.

3. Pengawasan-Pengendalian-Penilaian

Tahap Pengawasan, pengendalian dan penilaian adalah tahap menentukan apakah kegiatan yang
dilaksanakan sudah sesuai dengan yang direncanakan atau apakah hasil, output dan outcome sudah
sesuai dengan yang diharapkan. Jjika belum maka harus dilakukan evaluasi apa yang menyebabkan
masalah tersebut, dilanjukan dengan rekomendasi kembali kegiatan perbaikannya dan tentunya rencana
tindak lanjut kembali, begitu seterusnya sehingga akan menyerupai suatu siklus. Siklus ini digambarkan
sebagai siklus rencanakan, kerjakan, periksa dan lakukan (plan, dp, check dan action yang disingkat
dengan PDCA).

Tiga tahap puskesmas ini harus benar-benar terlaksana sehingga mampu membentuk sistem yang kuat.
Inilah sistem manajemen yang ada di puskesmas.

Kita berharap semoga dengan berjalan sistem manajemen puskesmas yang baik, maka penyelenggaraan
puskesmas akan menjadi lebih teratur dan maksimal sehingga puskesmas bukan sekedar lagi fasilitas
sederhana, tetapi fasilitas yang cukup komplek dengan pelayanan yang paripurna. (ASR)

Beri Nilai