Anda di halaman 1dari 12

UAS

Manajemen Sektor Publik


Dosen Pengampu : Dr. WURYAN ANDAYANI , SE.,Ak., M.Si.

Teknis Penyusunan Pengadaan Barang dan Jasa serta


Kerangka Acuan Kerja

Dijelaskan

Oleh :

ALAN SMITH PURBA (1860203000111015)

Program Magister Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya
2019
Pengadaaan Barang dan Jasa
1. Pendahuluan

Pengadaan barang dan jasa pemerintah dewasa ini merupakan isu startegis dan penting,
baik dalam prespektif perdagangan internasional, maupun dari prespektif hukum nasional dan
implikasinya terhadap hukum Indonesia berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut : Pertama,
Organisasi perdagangan dunia mengagendakan isu baru (new issues), yang salah satunya
mengenai transparansi dan perlakuan non diskriminatif dalam pengadaan barang dan jasa
pemerintah sesuai dengan persaingan dan liberalisasi perdagangan, kedua, Negara
berkembang sebaliknya mengambil sikap defensif dan melakukan upaya protektif dan
preferensi dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah,ketiga liberalisasi dalam
pengadaan barang dan jasa merupakan perdebatan panjang dan kontroversial antara negara
maju dan negara berkembang,keempat, terdapat polarisasi yang perlu ditelaah, yakni
terdesentralisasinya ketentuan- ketentuan pengadaan barang/jasa pemerintah dari norma
hukum internasional ke dalam norma hukum yang bersifat regional maupun bilateral yang
telah banyak dirumuskan dalam berbagai ketentuan organisasi internasional, kelima,
kesepakatan dalam forum internasional memiliki implikasi normatif maupun ekonomi yang
signifikan terhadap kebijakan regulasi pengadaan barang dan jasa pemerintah suatu negara.
pengadaan barang/jasa untuk kepentingan pemerintah merupakan salah satu alat untuk
menggerakkan roda perekonomian, dalam rangka meningkatkan perekonomian nasional guna
mensejahterakan kehidupan rakyat Indonesia, karena pengadaan barang dan jasa terutama
di sektor publik terkait erat dengan penggunaan anggaran Negara. yang menjadi titik penting
dari itu adalah urgensi pelaksanaan pengadaan yang efektif dan efisien serta ekonomis untuk
mendapatkan manfaat maksimal dari penggunaan anggaran. Hal ini disebabkan karena
pengadaan barang dan jasa sebagian besar dibiayai oleh keuangan Negara, baik melalui APBN
maupun non-APBN. pengembangan sistem pengadaan barang dan jasa pemerintah merupakan
bagian penting dalam agenda proses transformasi mewujudkan keadilan guna membangun
tatanan pemerintahanyangmakinbersihdanberwibawa (good governance and clean
government). proses transformasi dimaksud merupakan upaya membawa Indonesia dari
sebuah negara dengan tata kelola pemerintahan yang buruk, karena merajalelanya praktik
korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), menjadi sebuah negara dengan tata kelola pemerintahan
yang lebih baik, lebih bersih dan lebih berwibawa, dan bebas dari berbagai kepentingan pribadi,
kelompok, dan golongan.
Sebagai salah satu indikator kunci perubahan guna menciptakan persaingan usaha yang
sehat, efisiensi belanja negara, sekaligus public service delivery, yaitu dengan mewujudkan
instrumen pengadaan (procurement) yang kredibel. perubahan tersebut merupakan bagian dari
pengelolaan dan pemanfaatan ApBN dalam menunjang berjalannya fungsi pemerintahan.
pengadaan barang dan jasa harus dapat dilaksanakan secara efektif dan efesien serta dapat
dipertanggungjawabkan, karena potensi kerugian negara sangat besar dalam proses
pengadaan ini. Lebih dari 20 tahun yang lalu, Begawan Ekonomi Indonesia, profesor Soemitro
Djojohadikusumo, sudah mensinyalir 30-50 persen kebocoran Anggaran pendapatan
dan Belanja Negara akibat praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme yang berkaitan dengan
kegiatan pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Sementara itu, hasil kajian Bank Dunia dan Bank pembangunan Asia yang tertuang
dalam Country Procurement Assessment Report (CpAR) tahun 2001 menyebutkan, bahwa
kebocoran dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah sebesar 10-50 persen.7
Kebocoran ini dapat disebabkan oleh kondisi sosial ekonomi yang miskin, kondisi
pelayanan publik yang buruk, kekuasaan sewenang-wenang para pejabat publik,8
hukum dan peraturan yang bermacam- macam dengan penerapan lemah, minimnya
lembaga pengawas, relasi patron-klien, dan tidak adanya komitmen dan kehendak politik.
Kurangnya transparansi dan akuntabilitas disinyalir menjadi persoalan terbesar penyebab
terjadinya korupsi, sehingga korupsi tidak hanya dilakukan pada level individu dan bisnis,
bahkan politik.

Desentralisasi pemerintahan atau otonomi daerah adalah sebuah bentuk pemerintah pusat
kepada pemerintah daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang baik dan
bersistem. Organisasi publik dalam hal ini birokrasi pemerintahan sebagai stakeholders
seharusnya memiliki rasa kepekaan terhadap kepentingan dan permasalahan masyarakat yang
harus dipecahkan. Birokrasi juga dituntut bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugasnya
dan tidak melaksanakan bentuk penyalahgunaan wewenang dan melampaui batas
kewenangannya. Dengan ini akan tercipta bentuk pelayanan publik yang efisien dan efektif,
transparan, akuntabel serta akses pasar dan persaingan usaha yang sehat.

Namun fenomena yang terjadi adalah ketika para birokrat diberi kewenangan terhadap
penyelenggaraan pemerintahan yang ada justru birokrat memanfaatkan kewenangan dan
kekuasaan yang mereka miliki untuk kepentingan pribadi lalu mengabaikan kepentingan publik
dengan berbagai praktek KKN. Sebagaimana yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya, bahwa
sisi negatif yang ditimbulkan dalam pengadaan barang dan jasa yang sering terjadi antara lain:
Pertama suap untuk memenangkan tender; Kedua, proses tender tidak transparan; Ketiga,
memenangkan perusahaan saudara; kerabat atau orang-orang partai tertentu; Keempat,
pencantuman spesifikasi teknik hanya dapat dipasok oleh satu pelaku usaha tertentu; Kelima,
pengusaha yang tidak memiliki administrasi lengkap dapat ikut tender bahkan menang

2. Landasan Teori
a. NPS ( New Public Service )

New Public Service adalah paradigma yang berdasar atas konsep-konsep yang pada
hakikatnya sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat.Peran dari pemerintah adalah
mengolaborasikan antara nilai-nilai yang ada sehingga kongruen dan sesuai kebutuhan
masyarakat.Sistem nilai dalam masyarakat adalah dinamis sehingga membutuhkan pelayanan
yang prima dari pemerintah (Denhart and denhart, 2007). Berawal dari sini organisasi sektor
publik mulai membangun suatu pondasi dimana keberadaan manusia dalam lingkup organisasi
yang disini berperan sebagai pegawai mempunyai kedudukan yang penting dalam lingkup
organisasi sehingga sangatlah penting untuk memperhatikan keberadaanya.

Wujud dari perhatian organisasi kepada anggotanya ini bisa menjadi ujung tombak dalam
mewujudkan tujuan daripada New Public Service itu sendri yaitu melayani masyarakat
(Ningtyas, 2010). Kinerja organisasi adalah bagian utama untuk mewujudakan pelayanan publik
yang memuaskan. Dengan NPS orientasi ekonomi menjadi bagian kesekian begimana
seorang pegawai dalam pemerintahan tersebut bekerja. Didalmnya harus terdapat komitmen
yang kuat dari masing masing pegawai untuk bertahan dan bekerja dalam organisasi
pemerintahan. Menurut Mowday dan Potter (dalam Armstrong, 1999) Ada 3 faktor yang
tercakup didalamnya, yakni keinginan kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi, keyakinan
kuat dan penerimaan terhadap nilai-nilai dan serta tujuan dari organisasi, penerimaan untuk
melakukan usaha-usaha sesuai dengan organisasi. Sementara menurut Steers dalam
Muchinsky (1993). Komitmen organisasi ditandai oleh adanya keyakinan kuat dan penerimaan
terhadap tujuan serta nilai-nilai dari organisasi, adannya keinginan untuk mengerahkan usaha
bagi organisasi, adanya keinginan untuk mempertahankan keanggotaan di organisasi tersebut.
Dengan meningkatkan komitmen organisasi pegawai tentunya pelyanan yang mereka berika
akan semakin baik. Meningkatkan pelayanan publik adalah suatu kebijakan jangka panjang
guna mewujudkan suatu konsep birokrasi yang benar benar diinginkan masyarakat sebagai
pemegang hak utama atas pelayanan publik itu sendiri. Untuk itu dibuatlah Undang undang
pelayanan publik guna menguatkan, memantau dan memberi arah dalam penyelenggaraan
pelayanan publik seperti yang tercantum pada UU No 25 Tahun 2009 pasal 3 bahwa
penyelenggaraan pelayanan public harus layak untuk melayani masyarakat dan sesuai dengan
kelayakan yang diperuntukkan masyarakat tentunya dengan tata pemerintahan yang baik
sebagai proseduralnya.(Ningtyas, 2013). Undang-Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik mendefinisikan pelayanan publik sebagai kegiatan atau rangkaian kegiatan
untuk memenuhi kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi
setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan atau pelayanan administratif yang
disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Laing (dalam Purwanto, 2006) menyebutkan
terdapat tiga karakteristik yang dapat mendefinisikan pelayanan publik: Pertama, pelayanan
publik bukan hanya sekedar usaha memberikan pelayanan tetapi juga usaha memberikan
manfaat sosial yang lebih luas yang berbasis keadilan. Kedua, pelayanan publik meletakkan
pengguna layanan lebih sebagai warga negara daripada sebagai pengguna layanan (customer)
semata. Ketiga, pengguna layanan pelayanan public lebih kompleks dan multidemensional bisa
bersifat individu, keluarga, maupun komunitas. Di indonesia Penyelenggaraan pelayanan publik
tersebut meliputi seperti yang telah dicantumkan pada pasal 8 ayat 2 UU 25/09.
Penyelenggaraan pelayanan publik sebagaimana dimaksud pada ayat ( I), sekurang-kurangnya

meliputi:

i. pelaksanaan pelayanan;

ii. pengelolaan pengaduan masyarakat;

iii. pengelolaan informasi;

iv. pengawasan internal;

v. penyuluhan kepada masyarakat; dan

vi. pelayanan konsultasi

Undang-Undang Nomer 25 Tahun 2009 tepatnya di Pasal 5 jugamenjelaskan dengan rinci


bahwa ruang lingkup pelayanan publik meliputipengadaan dan penyaluran barang publik dan
jasa publik serta pelayananadministrasi di bidang pendidikan, pengajaran, pekerjaan dan
usaha, tempat tinggal, komunikasi dan informasi, lingkungan hidup, kesehatan, jaminan sosial,
energi, perbankan, perhubungan, sumber daya alam, pariwisata, dan sektorstrategis lainnya
b. Good Public Governance

Menurut Koiman (2009:273), governance merupakan serangkaian proses interaksi sosial


politik antara pemerintah dengan masyarakat dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan
kepentingan masyarakat dan intervensi pemerintah atas kepentingan-kepentingan tersebut.
Governance merupakan mekanisme- mekanisme, proses-proses dan institusi-institusi melalui
warga Negara mengartikulasi kepentingan-kepentingan mereka, memediasi perbedaan-
perbedaan mereka serta menggunakan hak dan kewajiban legal mereka. Governance
merupakan proses lembaga-lembaga pelayanan , mengelola sumber daya publik dan menjamin
realita hak azasi manusia. Dalam konteks ini good governance memiliki hakikat yang sesuai
yaitu bebas dari penyalahgunaan wewenang dan korupsi serta dengan pengakuan hak yang
berlandaskan pada pemerintahan hukum. Menurut Mardiasmo (2005:114) mengemukakan
bahwa orientasi pembangunan sektor publik adalah untuk menciptakan good governance,
dimana pengertian dasarnya adalah tata kelola pemerintahan yang baik. Menurut OECD dan
World Bank (Sedarmayanti, 2009:273), Good Governance sebagai penyelenggaraan
manajemen pembangunan solid dan bertanggungjawab yang sejalan dengan demokrasi dan
pasar yang efisien, penghindaran salah alokasi dana investasi yang langka, dan pencegahan
korupsi secara politik dan administrasi, menjalankan disiplin anggaran serta pendiptaan
kerangka kerja politik dan hukum bagi tumbuhnya aktivitas kewiraswastaan. Menurut (Mardoto
2009) Governance adalah mekanisme pengelolaan sumber daya ekonomi dan sosial yang
melibatkan pengaruh sektor negara dan non negara dalam satu usaha kolektif. Menurut
dokumen United Nation Development Program (UNDP: 2004 ), tata kelola pemerintahan yang
baik adalah “Penggunaan wewenang ekonomi politik dan administrasi untuk mengelola
berbagai urusan negara pada setiap tingkatannya dan merupakan instrumen kebijakan negara
untuk mendorong terciptanya kondisi kesejahteraan integritas, dan kohesivitas social dalam
masyarakat“.

Asas GPG adalah demokrasi, transparansi, akuntabilitas, budaya hukum, kewajaran, dan
kesetaraan. Demokrasi mengandung tiga unsur pokok yaitu partisipasi, pengakuan adanya
perbedaan pendapat, dan perwujudan kepentingan umum. Asas demokrasi harus diterapkan
baik dalam proses memilih dan dipilih sebagai penyelenggara negara maupun dalam proses
penyelenggaraan negara yang mencakup pemilihan penyelenggara negara oleh rakyat
dilakukan secara bertanggung jawab berdasarkan kesadaran dan pemahaman politik
masyarakat, pemilihan penyelenggara negara oleh penyelenggara negara yang dipilih oleh
rakyat, dilakukan atas dasar kepentingan negara dan masyarakat, penyelenggara negara harus
mampu mendengar, memilah, memilih, dan menyalurkan aspirasi rakyat dengan berpegang
pada kepentingan negara dan masyarakat, penyusunan peraturan perundang-undangan dan
kebijakan publik dengan mengikutsertakan partisipasi masyarakat dan dunia usaha secara
bertanggung jawab (rule-making rules), peraturan perundang-undangan dan kebijakan publik
harus disusun dalam rangka mewujudkan kepentingan umum, dan penyelenggara negara harus
menerapkan prinsip partisipasi dalam melaksanakan fungsi, tugas, dan wewenangnya.

3. Pembahasan
a. Pelaku dalam Pengadaan Barang dan jasa

Sesuai PP NOMOR 15 TAHUN 2018 Tentang Pelaku Pengadaan Barang dan Jasa bahwa
Pelaku Pengadaan Barang/Jasa terdiri atas:

1. PA;

2. KPA;

3. PPK;

4. Pejabat Pengadaan;

5. Pokja Pemilihan;

6. Agen Pengadaan;

7. PjPHP/PPHP;

8. Penyelenggara Swakelola; dan

9. Penyedia.

a. Teknis SOP Pengadaan Barang dan Jasa Sesuai PP NO 14,15 dan 16

No Urutan Kegiatan Estimasi


Waktu
1 Unit Kerja :
a. membuat surat permintaan pengadaan ditujukan kepada Direktur 1
dilengkapi dengan :
b. Spec teknis 6
c. HPS (dilengkapi dengan ferensi harga minimal 3 pembanding) 2
d. Lembar Data Pengadaan (termasuk rekomendasi penyedia) 1
2 Direktur :
a. Memberikan Disposisi ke KPA 1
3 KPA :
a. memerintahkan kepada PPK untuk melakukan pengadaan 1
4 PPK :
a. memerintahkan kepada Admin PPK untuk :
b. Memastikan permintaan pengadaan sesuai denga RKAKL 0.5
c. Memeriksa kelengkapan dokumen pengadaan 0.5
d. Meminta rekomendasi dari SPI 0.5
5 SPI :
a. melakukan telaah terhadap kewajaran Spec teknis terhadap 1
kebutuhan
b. melakukan telaah terhadap kewajaran HPS 1
c. Memberikan rekomendasi pengadaan kepada PPK 0.5
(menggunakan form rekomendasi SPI)
6 PPK :
a. menetapkan Specteknis dan HPS 0.5
b. memerintahkan kepada Pejabat pengadaan untuk melakukan 0.5
proses pengadaan
7 Pejabat
pengadaan
:
a. menentukan kualifikasi penyedia 1
b. membuat undangan kepada penyedia untuk mengajukan 1
penawaran (dilampiri dengan data perusahaan)
c. menerima dokumen penawaran harga dari penyedia 3
d. melakukan evaluasi dokumen penawaran 1
e. melakukan klarifikasi teknis dan negosiasi 1
f. menetapkan penyedia 0.5
g. membuat pakta integritas 1
h. memberikan rekomendasi kepada PPK untuk dibuatkan SPK 0.5
8 PPK :
a. memerintahkan kepada Admin PPK untuk membuat SPK 1
b. Menandatangani SPK bersama dengan penyedia 1
9 Penyedia :
a. melaksanakan pekerjaan pengadaan sesuai denga SPK 14
b. membuat surat kepada PPK bahwa pekerjaan sudah selesai 1
100%
10 PPK :
a. Memerintahan kepada PPHP untuk malakukan pemeriksaan hasil 2
pekerjaan
11 PPHP :
a. membuat dan menandatangani berita acara pemeriksaan hasil 1
pekerjaan
12 PPK :
a. Menandatangani berita acara pemeriksaan hasil pekerjaan 0.5
b. memerintahkan kepada admin PPK untuk membuat berita acara 0.5
serah terima hasil pekerjaan
c. menandatangani berita acara serah terima hasil pekerjaan 0.5
bersama dengan penyedia
d. memerintahkan kepada admin PPK untuk membuat berita acara 0.5
pembayaran
e. menandatangani berita acara pembayaran bersama dengan 1
penyedia
f. memerintahkan PPSPM untuk membuat Surat Perintah 0.5
Membayar
g. menandatangani SPM bersama dengan PPSPM 0.5
13 PPSPM :
pejabat
pembuat
surat
perintah
membayar
a. memerintahkan admin PPSPM untuk memverifikasi kelengkapan 1
dokumen pembayaran
b. memerintahkan admin PPSPM untuk membuat Surat Perintah 0.5
Membayar
c. menandatangani SPM bersama dengan PPK 0.5
d. memerintahkan admin PPSPM untuk menyerahkan SPM kepada 1
KPPN
e. menerima SP2D ( Bukti Pembayaran ) 2
Jumlah 55
Sumber : SOP Pengadaan Barang dan Jasa Politeknik Negeri Balikpapan

KERANGKA ACUAN KERJA

1. Pendahuluan
a. Kerangka Acuan Kerja (KAK)

Kerangka Acuan Kerja atau juga disebut Term of Reference (TOR) Pengadaan Barang
adalah suatu dokumen yang menginformasikan gambaran latar belakang, tujuan, ruang lingkup
dan struktur sebuah proyek pengadaan barang yang telah disusun oleh SKPD/dinas terkait.
KAK/Term of Reference (TOR) menjadi salah satu data pendukung dalam pengalokasian
anggaran. Rencana kegiatan yang diajukan harus dilampirkan KAK/TOR sebagai salah satu
acuan perencana anggaran untuk menguji kelayakan pendanaan bagi kegiatan dimaksud.
Untuk memudahkan dalam pembuatan KAK/TOR biasanya ada format tersendiri untuk masing-
masing

2. Pembahasan

KAK adalah pedoman untuk menentukan basis kinerja pada suatu pemerintah maka dari itu
KAK harus meliputi sebagai berikut

a. Latar Belakang (Why)

Dasar hukum: Menjelaskan dasar hukum yang terkait dan kebijakan Kementerian
Negara/Lembaga yang merupakan dasar keberadaan kegiatan/aktivitas berkenaan berupa
Peraturan Perundangan yang berlaku, Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga, dan
Tugas Fungsi Kementerian Negara/Lembaga;
Gambaran umum: Penjelasan secara singkat mengapa (why) kegiatan tersebut dilaksanakan
dan alasan penting kegiatan tersebut dilaksanakan serta keterkaitan kegiatan yang dipilih
dengan kegiatan keluaran (output) dalam mendukung pencapaian sasaran dan kinerja
program/yang pada akhirnya akan mendukung pencapaian tujuan kebijakan.

b. Kegiatan Yang Dilaksanakan (What)

Uraian Kegiatan dan Batasan Kegiatan

c. Maksud dan Tujuan (Why)

Maksud Kegiatan: Menjelaskan mengapa (why) kegiatan harus dilaksanakan Tujuan Kegiatan:
Hasil akhir yang diharapkan dari suatu kegiatan (bersifat kualitatif) dan manfaat (outcome)
kegiatan.

d. Indikator Keluaran dan Keluaran

Indikator Keluaran (kualitatif): Menjelaskan indikator keluaran (output) berupa target yang
ingin dicapai (bersifat kualitatif) Keluaran (kuantitatif): keluaran (output) yang terukur dalam
suatu kegiatan (bersifat kuantitatif). Misalnya: 50 km, 40 m², 20 orang, 1 LHP, dan lain-lain.

e. Cara Pelaksanaan Kegiatan (How)

Metode Pelaksanaan: Menjelaskan bagaimana (how) cara pelaksanaan kegiatan baik


berupa metode pelaksanaan, komponen, dan Tahapan Kegiatan: tahapan dalam mendukung
pencapaian keluaran (output) kegiatan.

f. Tempat pelaksanaan Kegiatan (where): Menjelaskan dimana (where) kegiatan tersebut


akan dilaksanakan.
g. Pelaksana dan Penanggung Jawab Kegiatan (who)

Pelaksana kegiatan: Menjelaskan siapa (who) saja yang terlibat Apabila menyangkut jasa
konsultasi, maka terdapat informasi Tenaga ahli yang dibutuhkan meliputi :

– Tingkat pendidikan formal sesuai bidang keahlian dari masing masing tenaga ahli yang
dibutuhkan;

– Pengalaman dalam menangani pekerjaan yang sejenis/ sesuai bidang keahliannya;

– Jumlah masing masing tenaga ahli yang dibutuhkan;


– Waktu penugasan dari masing masing tenaga ahli

Penanggungjawab kegiatan: Siapa bertanggungjawab atas pelaksanaan kegiatannya.


Penerima manfaat

h. Jadwal Kegiatan Waktu pelaksanaan kegiatan (when): Menjelaskan berapa lama dan
kapan (when) kegiatan tersebut dilaksanakan, Matriks pelaksanaan kegiatan (time
table): dilengkapi time table kegiatan.
i. Biaya (how much): Berisikan total biaya (how much) kegiatan sebesar nilai nominal
tertentu yang dirinci dalam (Rencana Anggaran Biaya) RAB sebagai lampiran KAK.

3. Pembentukan KAK