Anda di halaman 1dari 13

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PIJAT OKSITOSIN PADA IBU HAMIL

DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LUBUK BUAYA

OLEH :

KELOMPOK H

ERNI CAHAYA YANTI GEA 1841312093


MEDHIA IQLIMA 1841312077
SUCI INDAH PUTRI 1841312096
TIARA YALITA 1841312099
RANTI ANGGASARI 1841312084
MUTHIA SYADZA IRZANI P 1841312073
NANA ARFI SURYA 1841312078
SILVINA ESA PUTRI 1841312087
YULINAR AGUSTINA 1841312071
UCI RAMADHANI ANWAR 1841312074
YARA AGUSTIN 1841312072

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok bahasan : Keperawatan Maternitas


Sub pokok bahasan : Pijat Oksitosin
Sasaran Ibu Hamil di Puskesmas Lubuk Buaya
Hari/tanggal : Rabu, 08 Mei 2019
Waktu : 08.30 WIB – 09.00 WIB
Tempat : Di Puskesmas Lubuk Buaya

1. Latar Belakang
Penurunan produksi ASI dan pengeluaran ASI pada hari-hari pertama
melahirkan dapat disebabkan oleh kurangnya produksi hormon prolaktin dan
hormon oksitosin. Faktor yang dapat mempengaruhi kelancaran produksi dan
pengeluaran ASI yaitu perawatan payudara, frekuensi menyusui, paritas, stres,
penyakit atau kesehatan ibu, konsumsi rokok atau alkohol, sebaiknya dilakukan
segera pil kontrasepsi, asupan nutrisi. Perawatan payudara setelah persalinan
(1-2) hari, dan harus dilakukan ibu secara rutin, dengan pemberian rangsangan
pada otot-otot payudara akan membantu merangsang hormon prolaktin untuk
membantu produksi air susu ibu (Saleha, 2014).
Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein
laktose dan garam – garam organik yang disekresi oleh kedua belah payudara
ibu sebagai makanan utama bagi bayi. ASI menurut stadium laktasi terdiri dari
kolostrum, ASI transisi, dan ASI matur. Kolostrum merupakan ASI yang di
produksi beberapa saat setelah bayi lahir sampai hari ke tiga atau ke empat,
warnanya lebih kuning dan lebih kental dari pada ASI. Kolostrum akan
merangsang pembentukan daya tahan tubuh sehingga berfungsi sebagai
imunisasi aktif dan pasif (Mustofa, 2012).
Berbagai kelebihan kolostrum tersebut sangat dianjurkan pada ibu untuk
memberikan kolostrum segera setelah kelahiran bayinya, dengan tujuan untuk
menurunkan angka kesakitan (morbidity) pada bayi dari berbagai penyakit
infeksi bakteri, virus, dan jamur. Oleh karena itu kolostrum sangat penting
dalam proses pertumbuhan dan perkembangan bayi (Perinasia, 2004).
Untuk memperlancar pengeluaran kolostrum maka harus sering
menyusukan bayi agar terjadi perangsangan putting susu, terbentuklah prolaktin
oleh hipofisis, sehingga sekresi ASI makin lancar. Dua refleks prolaktin pada
ibu yang sangat penting dalam proses laktasi, refleks prolaktin dan refleks
aliran timbul akibat perangsangan putting susu terdapat banyak ujung saraf
sensoris. Bila ini dirangsang, timbul implus yang menuju hipotalamus
selanjutnya ke kelenjer hipofisis bagian depan sehingga kelenjer ini
mengeluarkan hormon prolaktin. Hormon inilah yang rangsangan penyusuan
makin banyak pula produksi ASI. Refleks aliran (let down refleks) rangsangan
putting susu tidak hanya diteruskan sampai kekelenjar hipofisis depan, tetapi
juga kekelenjar hipofisis bagian belakang, yang mengeluarkan hormon
oksitosin (Perinasia, 2004).
Kurangnya rangsangan hormon prolaktin dan oksitosin dapat
menyebabkan penurunan produksi dan pengeluaran ASI pada hari-hari pertama
setelah melahirkan. Hormon ini sangat berperan dalam kelancaran produksi dan
pengeluaran ASI. Masa nifas merupakan masa kritis baik bagi ibu maupun
bayinya karena pada masa ini ibu mengalami kelelahan setelah melahirkan
sehingga dapat mengurangi produksi ASI (Hastuti, 2013).
Untuk memperlancar keluarnya hormon oksitosin maka perlu dilakukan
pula merangsang refleks oksitosin yaitu pijat oksitosin. Pijat oksitosin adalah
teknik pemijatan pada daerah tulang belakang leher, punggung, atau sepanjang
tulang belakang (vertebrae) sampai tulang costae kelima sampai keenam
(Biancuzzo, 2011).
Banyak ibu yang merasa bahwa ASI belum keluar pada hari pertama
sehingga bayi dianggap perlu diberikan minuman lain, padahal bayi yang lahir
cukup bulan dan sehat mempunyai persediaan kalori dan cairan yang dapat
mempertahankannya tanpa minuman selama beberapa hari. Disamping itu,
pemberian minum sebelum ASI keluar akan menghambat pengeluaran ASI
karena bayi menjadi kenyang dan malas menyusui.
Berdasarkan SDKI 2017, jumlah pemberian ASI Ekslusif di indonesia
masih rendah yaitu 40% dari total kelahiran bayi. Pada saat yang bersamaan
bayi – bayi yang lahir di fasilitas kesehatan lebih cenderung untuk tidak
mendapatkan ASI secara ekslusif, hal ini disebabkan sosialisasi inisiasi
menyusui dini yang masih minim serta pengetahuan dan kesadaran dari
masyarakat arti pentingnya ASI Ekslusif .
Menurut Dirjen Gizi dan KIA (2016) masalah utama masih rendahnya
penggunaan ASI di Indonesia adalah faktor sosial budaya, kurangnya
pengetahuan ibu, keluarga, dan masyarakat akan pentingnya ASI, serta jajaran
kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung peningkatan ASI. Masalah ini
diperburuk dengan gencarnya promosi susu formula dan kurangnya dukungan
dari masyarakat.
Besarnya manfaat ASI tidak diimbangi oleh peningkatan perilaku
pemberian ASI sehingga bayi tidak mendapatkan ASI dengan baik. Beberapa
faktor di duga menjadi penyebab bayi tidak mendapatkan ASI dengan baik
salah satunya adalah faktor pengetahuan ibu Keengganan ibu untuk menyusui
karena rasa sakit saat menyusui, kelelahan saat menyusui, serta kekhawatiran
ibu mengenai perubahan payudara setelah menyusui. Faktor sosial budaya,
kurangnya dukungan keluarga dan lingkungan dalam proses menyusui juga
sangat berpengaruh terhadap proses pemberian ASI. Kurangnya pendidikan
kesehatan mengenai faktor-faktor yang dapat meningkatkan produksi ASI turut
mempengaruhi pengetahuan ibu primi para yang dapat menyebabkan kurangnya
volume ASI (Lubis, 2015).
Tidak semua ibu post partum langsung mengeluarkan ASI karena
pengeluaran ASI merupakan suatu interaksi yang sangat komplek antara
rangsangan mekanik, saraf dan bermacam-macam hormon yang berpengaruh
terhadap pengeluaran oksitosin. Pengeluaran hormon oksitosin selain
dipengaruh oleh isapan bayi juga dipengaruhi oleh reseptor yang terletak pada
sistem duktus, bila duktus melebar atau menjadi lunak maka secara reflektoris
dikeluarkan oksitosin oleh hipofise yang berperan untuk memeras air susu dari
alveoli oleh karena itu perlu adanya upaya mengeluarkan ASI untuk beberapa
ibu post partum (Soettjiningsih, 2017).
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas lubuk buaya
diketahui bahwa 6 dari 10 ibu masih memiliki pengetahuan yang kurang
mengenai pengelolaan ASI yang sulit keluar atau belum lancar. Mereka sempat
bertanya mengenai cara agar ASI nya banyak. Ibu-ibu tersebut memiliki
keinginan untuk memberikan ASI eksklusif pada bayi mereka. Informasi juga
didapatkan dari petugas yang mengatakan bahwa sekitar 30% ibu mengeluh
bahwa produksi ASI nya kurang lancer dan tidak tau apa yang harus dilakukan.
Oleh karena itu kelompok tertarik melakukan pendidikan kesehatan tentang
pijat oksitosin untuk ibu hamil.

2. Tujuan
a. Tujuan Instruksional Umum
Setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang persiapan pijat oksitosin
selama 45 menit, klien mampu memahami tentang pijat oksitosin dan tau
tentang cara melakukan pijat oksitosin untuk memperlancar produksi ASI.

b. Tujuan Instruksional Khusus


Setelah mengikuti pendidikan kesehatan selama 1x 30 menit,
diharapkan klien dapat:
 Menjelaskan apa itu pijat oksitosin

 Menjelaskan tujuan pijat oksitosin

 Menjelaskan manfaat pijat oksitosin

 Mendemonstrasikan teknik pijat oksitosin


3. Pelaksanaan Kegiatan
a. Topik
Penyuluhan kesehatan tentang pijat oksitosin sebagai salah satu teknik
memperlancar ASI pada ibu hamil.
b. Sasaran
Ibu hamil di wilayah kerja puskesmas Lubuk Buaya
c. Metode
Ceramah dan demonstrasi
d. Waktu dan tempat
Hari/tanggal : Rabu, 8 mei 2019
Waktu : 08.30 WIB – 09.15 WIB
Tempat : Puskesmas Lubuk Buaya

4. Proses Penyuluhan
No Tahap Waktu Kegiatan pengajar Kegiatan sasaran
Kegiatan

1. Pembukaan 5 menit Mengucapkan salam Menjawab salam


Memperkenalkan diri Bertanya
Menyampaikan tentang mengenai
pokok pembahasan perkenalan
dantujuan pokok materi Mendengarkan
Menyampaikan kontrak dan menyimak
waktu Bertanya
tentang tujuan
jika ada yang
kurang jelas
2. Isi 35 menit Penyampaian Materi Mendengarkan
a. Menggali pengetahuan dan menyimak
peserta didik tentang pijat Bertanya
oksitosin mengenai hal-hal
b. Memberikan yang belum jelas
reinforcemen positif pada dan dimengerti
peserta penyuluhan Melakukan
c. Menjelaskan pengertian redemonstrasi
pijat oksitosin yang diajarkan
d. Menjelaskan tujuan pijat pengajar
oksitosin
e. Menjelaskan manfaat pijat
oksitosin
f. Menjelaskan langkah-
langkah pijat oksitosin
g. Meredemonstrasikan
langkah-langkah pijat
oksitosin
Tanya jawab.
Memberikan kesempatan
pada klien dan suami untuk
bertanya
3. Penutup 5 Menit Melakukan evaluasi Sasaran dapat
Memberikan reinforcemen menjawab tentang
positif pada peserta pertanyaan yang
penyuluhan diajukan
Menyampaikan Mendengar
kesimpulan materi Memperhatikan
Memberikan saran kepada Menjawab salam
klien dan keluarga.
Mengakhiri pertemuan dan
menyampaikan salam
a. Sasaran
Ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Buaya

b. Metode dan Media


Metode: demonstrasi
Media penyuluhan: sound system, PPT, leaflet, laptop, infocus.
Media demonstrasi: meja, kursi, baby oil, air hangat, waskom, bantal, handuk
c. Pengorganisasian
Penanggung Jawab : Yara Agustina
 Mengkoordinasi persiapan dan pelaksanaan kegiatan dengan ibu hamil dan
keluarga

Moderator dan Operator : Erni Cahaya Yanti Gea


 Membuka acara
 Menyampaikan susunan acara
 Membuat kontrak waktu
 Memimpin jalannya penyuluhan
 Mengarahkan alur penyuluhan
 Memperkenalkan anggota kelompok dengan klien
 Menjadi operator selama demonstrasi
 Mengajukan pertanyaan/mengevaluasi peserta penyuluhan
 Menyimpulkan materi tentang penyuluhan
 Menutup acara

Presentator : nana arfi surya


 Menyampaikan latar belakang masalah.
 Menyampaikan materi tentang pijat oksitosin
 Menjawab pertanyaan peserta penyuluhan
Observer dan Notulen: Uci Ramadhani Anwar dan Yulinar Agustina
 Mengamati proses pelaksanaan kegiatan dari awal sampai akhir.
 Membuat laporan hasil penyuluhan

Fasilitator: Tiara Yalita, Ranti Anggasari, Muthia Syedza, Suci Indah Putri,
Medhia Iqlima
 Memotivasi peserta untuk berperan aktif selama jalannya penyuluhan
 Memfasilitasi peserta untuk berperan aktif selama pertemuan.

Dokumentasi: silvina esa putri


 Mendokumentasikan acara
 Membuat media utuk penyuluhan

d. Setting Tempat

= Moderator dan operator


= Presentator
= Peserta
= Dokumentasi
= Observer dan notulen
= Fasilitator
5. Materi (Terlampir)
 Pengertian Pijat oksitosin
 Tujuan Pijat Oksitosin
 Manfaat pijat oksitosin
 Tekhnik / cara melakukan pijat oksitosin

6. Rencana Evaluasi
Tahap Evaluasi Indikator Keberhasilan
Struktur Kesiapan media, alat untuk pendidikan kesehatan,
pengaturan tempat sudah disesuaikan dan materi sudah
dipersiapkan.
Proses  Kegiatan penyuluhan sesuai waktu yang telah ditentukan
 peserta mendengarkan penyuluhan sampai selesai.
 Peserta kooperatif dan aktif dalam penyuluhan dengan
memperhatikan materi yang disampaikan dan bertanya
pada penyuluh mengenai hal-hal yang belum dimengerti
Hasil  Menjelaskan apa itu pijat oksitosin
 Menjelaskan tujuan pijat oksitosin
 Menjelaskan manfaat pijat oksitosin
 Mendemonstrasikan teknik pijat oksitosin
Lampiran
PIJAT OKSITOSIN

A. Definisi Pijat Oksitosin


Pijat oksitosin merupakan salah satu solusi untuk mengatasi ketidaklancaran
produksi ASI. Pijat oksitosin adalah pemijatan pada sepanjang tulang belakang
(vertebrae) sampai tulang costae kelima- keenam dan merupakan usaha untuk
merangsang hormon prolaktin dan oksitosin setelah melahirkan (Biancuzzo,
2003; Indiyani, 2006; Yohmi & Roesli, 2009).

B. Tujuan Pijat Oksitosin


Pijat oksitosin ini dilakukan untuk merangsang refleks oksitosin atau reflex let
down. Atau yang biasa disebut sebagai reaksi pengeluaran ASI.

C. Manfaat Pijat Oksitosin


Selain untuk merangsang refleks let down manfaat pijat oksitosin adalah
memberikan kenyamanan pada ibu, mengurangi bengkak (engorgement),
mengurangi sumbatan ASI, merangsang pelepasan hormon oksitosin,
mempertahankan produksi ASI ketika ibu dan bayi sakit (SDKI, 2007).

D. Tekhnik Pijat Oksitosin


Langkah-langkah melakukan pijat oksitosin sebagai berikut (SDKI, 2017) :
a. Melepaskan baju ibu bagian atas
b. Ibu miring ke kanan maupun kekiri, lalu memeluk
bantal
c. Memasang handuk
d. Melumuri kedua telapak tangan dengan minyak
telon atau baby oil / air hangat.
e. Memijat sepanjang kedua sisi tulang belakang ibu
dengan menggunakan dua kepalan tangan, dengan
ibu jari menunjuk ke depan
f. Menekan kuat-kuat kedua sisi tulang belakang membentuk gerakan-gerakan
melingkar kecil-kecil dengan kedua ibu jarinya.
g. Pada saat bersamaan, memijat kedua sisi tulang belakang kearah bawah, dari
leher kearah tulang belikat, selama 2-3 menit.
h. Mengulangi pemijatan hingga 3 kali
i. Membersihkan punggung ibu dengan waslap air hangat dan dingin secara
bergantian.
DAFTAR PUSTAKA

Anonym. 2016. Pijat Oksitosin. Diambil dari


http://theurbanmama.com/articles/pijat-oksitosin.html

Astutik, Y, R. (2014). Payudara dan Laktasi. Jakarta: Salemba Medika.


Bobak IM, Lowdermilk DL, Jensen MD. 2015. Buku Ajar Keperawatan
Maternitas (Maternity Nursing) Edisi 4, Maria A Wijayarti dan Peter
Anugerah (penterjemah). 2005. Jakarta: EGC.
Dirjen Bina Gizi Indonesia. Kinerja kegiatan pembinaan Gizi 2016.
Mardiyaningsih, E. (2014). Efektivitas kombinasi teknik marmet dan pijat
oksitosin terhadap produksi ASI ibu post sectio. Purwokerto: Universitas
Jenderal Soedirman
Perinasia. Manajemen Laktasi Jakarta: Perinasia Jakarta; 2004.
Saleha S. Asuhan Kebidanan 3. Yogyakarta: Rhineka Cipta; 2014.
Setiawati, S., & Dermawan.(2013). Proses pembelajaran dalam pendidikan
kesehatan. Jakarta-Timur: Trans Info Media.
Soettjiningsih. ASI petunjunk Untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta: EGC; 2017
Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI). ASI Eksklusif. Jakarta 2017
Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI). Cakupan ASI Eksklusif. 2013