Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

DI RUANG FLAMBOYAN RSUD KOTA BOGOR

RIZKI MAULANA

18170100029

PROGRAM PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU


2018

LAPORAN PENDAHULUAN

KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

A. Definisi
 Cairan adalah larutan yang terdiri dari air dan zat terlarut.
 Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel yang
bermuatan listrik yang disebut ion
 Kekurangan cairan dan elektrolit adalah keadaan dimana seorang individu
mengalami atau beresiko mengalami penurunan cairan intravaskuler,
interstitial, dan intraseluler
 Kelebihan cairan dan elektrolit adalah keadaan dimana seorang individu
mengalami atau beresiko mengalami peningkatan cairan intravaskuler,
interstitial, dan intraseluler.
 Ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit adalah keadaan dimana
seorang individu mengalami atau beresiko mengalami peningkatan,
penurunan, atau cepatnya pertukaran dari satu ke lainnya dari
intravaskuler, interstitial, dan intraseluler.

B. Anatomi Fisiologi
Cairan dan elektrolit masuk melalui makanan, minuman dan cairan
intravena (IV) dan diditribusikan ke seluruh tubuh. Keseimbangan cairan dan
elektrolit saling bergantung satu dengan yang lainnya. Jika salah satu terganggu
makan akan berpengruh pada yang lainnya.
Cairan tubuh dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu : cairan intraseluler
dan ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah cairan yang berada didalam sel di
seluruh tubuh, sedangkan cairan ekstraseluler adalah cairan yang berada di luar
sel dan terdiri dari tiga kelompok yaitu : cairan intravaskuler (plasma), cairan
interstitial dan cairan transeluler. Cairan intravaskuler (plasma) adalah cairan
didalam system vaskuler. Cairan interstitial adalah cairan yang terletak diantara
sel. Sedangkan cairan transeluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairan
intraokuler dan sekresi saluran cerna. Intravaskuler 5% berat badan, interstitial
15% berat badan, dan transeluler 40% berat badan.
Cairan intravaskuler dan interstitial bersama-sama disebut extrasel (ECF).
ECF adalah cairan tubuh dengan laju tinggi dikeluarkan melalui urine kg/hari
serta keringat dan uap panas (700/m2/hari).
Anatomi fisiologi pergerakan cairan dan elektrolit dalam tubuh :
1. Ginjal
Penting untuk pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit. Ginjal
berfungsi baik secara otonom maupun dalam berespon terhadap pembawa
pesan yang dibawa oleh darah, seperti aldosterone dan ADH. Fungsi-fungsi
utama ginjal dalam mempertahankan keseimbangan cairan yang normal
yaitu :
a. Pengatur volume dan osmolaritas CES melalui retensi dan ekskresi
selektif cairan tubuh.
b. Pengaturan kadar elektrolit dalam CES dengan retensi selektif substansi
yang di dibutuhkan dan ekskresi selektif substansi yang tidak
dibutuhkan.
c. Pengaturan PH CES melalui retensi ion-ion hydrogen
d. Ekskresi sampah metabolic dan substansi toksik
2. Jantung dan pembuluh darah
Kerja pompa jantung mensirkulasi darah melalui ginjal dibawah
tekanan yang sesuai untuk menghasilkan urine. Kegagalan kerja pompa ini
mengganggu perfusi ginjal dan area itu mengganggu pengaturan air dan
elektrolit.
3. Paru-paru
Paru-paru juga vital dalam mempertahankan homeostatis. Melalui
ekshalasi, paru-paru membuang kira-kira 300 ml air setiap hari pada orang
dewasa normal. Paru-paru juga mempunyai peran penting dalam
mempertahankan keseimbangan asam basa.
4. Kelenjar Pituitari
Hipotalamus menghasilkan suatu substansi yang dikenal dengan nama
hormone anti diuretic (ADH) yang disimpen dalam kelenjar pituitary
posterior dan dilepaskan jika diperlukan. ADH kadang di sebut sebagai
hormone penyimpan air, karena ia menyebabkan tubuh untuk menahan air.
Fungsi ADH termasuk mempertahankan tekanan osmotic sel dengan
mengendalikan retensi atau ekskresi air oleh ginjal dengan mengatur volume
darah.
5. Kelenjar Adrenal
Aldosteron, mineralokortikoid yang di sekresikan oleh
zonaglomerulosa (daerah terluar) dari korteks adrenal, mempunyai efek yang
mendalam dalam keseimbangan cairan.
6. Kelenjar Paratiroid
Kelenjar ini terdapat di sudut kelenjar tiroid, mengatur keseimbangan
kalsium dan fosfat melalui hormone paratiroid (PTH). PTH mempengaruhi
resorpsi tulang, absorpsi kalsium dari usus halus dan reabsopsi kalsium dari
tubulus ginjal.
7. Renin
Enzim yang mengubah angiotensinogen, suatu substansi tidak aktif
yang di bentuk oleh hepar, menjadi angiotensin I dan angiotensin II. Dengan
kemampuan vasokontriktornya, meningkatkan tekanan perfusi arteri dan
menstimulasi rasa haus.
8. Hormon Anti Diuretik (ADH) dan mekanisme rasa haus
Mempunyai peran penting dalam mempertahankan konsentrasi natrium
dan masukan cairan oral. Masukan cairan oral di kendalikan oleh pusat rasa
haus yang berada di dalam hipotalamus.

C. Proses Kebutuhan Manusia Terhadap Kebutuhan Cairan dan Elektrolit


Kebutuhan cairan merupakan kebutuhan dasar manusia secara fisiologis
memiliki proporsi 90% dari total berat badan. Sisanya merupakan zat padat dari
tubuh. Secara keseluruhan, presentase cairan dalam tubuh berbeda, berdasarkan
usia, yaitu :
1. Bayi baru lahir : 75 % dari total berat badan
2. Dewasa
a. Pria : 60 % dari total berat badan
b. Wanita : 55 % dari total berat badan
c. Usia lanjut : 45 % dari total berat badan

Bergantung lemak dalam tubuh, jika lemak sedikit maka cairan tubuh pun
lebih besar. Di dalam tubuh seseorang yang sehat volume cairan tubuh dan
komponen kimia dari cairan tubuh berada dalam kondisi dan batas yang nyaman.
Dalam kondisi normal intake cairan sama dengan kehilangan cairan dalam tubuh
yang terjadi. Kondisi sakit dapat menyebabkan gangguan pada keseimbangan
cairan dan elektrolit tubuh. dalam rangka mempertahankan fungsi tubuh. Maka
tubuh akan kehilangan cairan antara lain melalui proses penguapan ekspirasi,
penguapan kulit, ginjal, ekskresi pada metabolisme.
Intake cairan adalah selama aktifitas dan temperature sedang seorang
dewasa minum kira-kira 1500ml/hari sedangkan kebutuhan cairan tubuh kira-kira
2500ml/hari sehingga kekurangan 1000ml/hari diperoleh dari makanan dan
oksidasi selama proses metabolisme.

Berikut adalah kebutuhan intake cairan yang diperlukan berdasarkan umur


dan berat badan :

Kebutuhan Air
Umur
Jumlah Air dalam 24 jam Ml/kg Berat Badan
3 Hari 250-300 80-100
1 Tahun 1150-1300 120-135
2 Tahun 1350-1500 115-125
4 Tahun 1600-1800 100-110
10 Tahun 2000-2500 70-85
14 Tahun 2200-2700 50-60
18 Tahun 2200-2700 40-50
Dewasa 2400-2600 20-30
D. Pathway

Usia Temperatur Diet Stress Sakit

Cadangan makanan Peningkatan Anti Ketidakseibangan


Proses tumbuh kembang Hipertermi
dalam sel dipecah Diuretik Hormon hormonal
(ADH)
Luas permukaan tubuh Peningkatan reabsorbsi Intrsel kehilangan Glikolisis Otot Kerusakan sel
meningkat Na+ dan H2O cadangan makanan

Aktivitas organ Permeabilitas membran Perpindahan cairan Retensi Na+ dan H2O Proses perbaikan sel
meningkat meningkat interstisial ke intrasel

KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT


Sumber : Diolah kembali dari Tarwoto & Wartonah (2010).
E. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Cairan dan Elektrolit
1. Usia
Perbedaan usia menentukan luas permukaan tubuh dan aktivitas organ.
sehingga dapat mempengaruhi jumlah kebutuhan cairan dan elektrolit.
2. Temperatur
Temperatur yang tinggi menyebabkan proses pengeluaran cairan melalui
keringan cukup banyak, sehingga tubuh akan banyak kehilangan cairan.
3. Diet
Apabila tubuh kekurangan zat gizi, maka tubuh akan memecah
cadangan makanan yang tersimpan dalam tubuh, sehingga terjadi pergerakan
cairan dari interstitial ke interseluler yang dapat berpengaruh pada jumlah
pemenuhan kebutuhan cairan.
4. Stres

Stres dapat berpengaruh dalam pemenuhan kebutuhan cairan dan


elektrolit, melalui proses peningkatan produksi ADH karena pada proses ini
glikolisis otot yang dapat menimbulkan retensi natrium dan air.

5. Sakit
Pada keadaan sakit terdapat banyak sel yang rusak, sehingga untuk
memperbaikinya sel membutuhkan proses pemenuhan cairan yang cukup.
Keadaan sakit menimbulkan ketidakseimbangan system dalam tubuh seperti
ketidakseimbangan hormonal yang dapat mengganggu keseimbangan
kebutuhan cairan.

F. Manifestasi Klinis
Kekurangan volume cairan terjadi ketika tubuh kehilangan cairan dan
elektrolit ekstraseluler dalam jumlah proporsional (isotonic). Kondisi seperti ini
disebut juga hipovolemia. Umumnya gangguan ini diawali dengan kehilangan
cairan intravaskuler, lalu diikuti dengan perpindahan cairan interseluler menuju
intravaskuler sehingga menyebabkan penurunan cairan ekstraseluler. Untuk
mengkonpensasi kondisi ini, tubuh melakukan pemindahan cairan intraseluler.
Secara umum deficit volume cairan tubuh disebabkan oleh beberapa hal, yaitu
kehilangan cairan abnormal melalui kulit, penurunan asupan cairan, perdarahan
dan pergerakan cairan ke lokasi ketiga (lokasi tempat cairan berpindah dan tidak
mudah untuk mengembalikannya ke lokasi semula dalam kondisi cairan
ekstraseluler istirahat). Cairan dapat berpindah dari lokasi intravaskuler menuju
lokasi potensial seperti pleura, peritoneum, pericardium, atau rongga sendi.
Selain itu kondisi tertentu, seperti terperangkapnya cairan dalam saluran
pencernaan, dapat terjadi akibat obstruksi saluran pencernaan.
Tanda dan gejala klinik yang mungkin di dapat pada klien dengan
hipovelemia antara lain :
1. Pusing
2. Kelemahan
3. Keletihan
4. Sinkope
5. Anoreksia
6. Mual, muntah
7. Haus
8. Kekacauan mental
9. Konstipasi
10. Oliguria
11. Tergantung pada jenis kehilangan cairan hipovelemia dapat disertai
dengan ketidakseimbangan asam basa, osmolar atau elektrolit,
penipisan (ces) berat dapat menimbulkan syok hipovolemik.

G. Diagnosa Keperawatan yang berhubungan


Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
(00027).
H. Intervensi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan Tujuan/Kriteria Hasil Rencana Keperawatan


Kekurangan volume cairan Setelah diberikan asuhan keperawatan NIC
selama 2 x 24 jam diharapkan Management Elektrolit/Cairan
berhubungan dengan kehilangan
keseimbangan cairan terpenuhi dengan (2080) :
cairan aktif (00027)  Timbang berat badan harian dan
kriteria :
pantau gejala
NOC : Keseimbangan cairan (0601)  Berikan cairan yang sesuai
Dengan Kriteria hasil :  Tingkatkan intake/asupan per oral
indikator Awal Tujuan  Jaga infuse intravena yang tepat
Keseimbangan  Jaga pencatatan intake dan output
intake dan yang akurat
3 5
output  Monitor ttv
(060107)  Konsultasikan dengan dokter jika
Berat badan ada tanda dan gejala
stabil 4 5
ketidakseimbangan cairan dan
(060109)
Turgor kulit elektrolit
4 5
(060116)

Keterangan :
1. Berat
2. Cukup berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada
DAFTAR PUSTAKA

Docterman dan Bullechek. (2013). Nursing Interventions Classification (NIC),


Edision 6. United States Of America: Mosby Elseveir Acadamic Press.

Maas, Morhead, Jhonson dan Swanson. (2013). Nursing Out Comes (NOC), Edision
5. United States Of America: Mosby Elseveir Acadamic Press.

NANDA Internasional. (2015). Diagnosa Keperawatan : Definisi & Klasifikasi 2015-


2017 Edisi 10. EGC : Jakarta.

Tarwoto & Wartonah. (2010). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan
Edisi 4. Salemba Medika : Jakarta.