Anda di halaman 1dari 22

Antraks

Pengertian
Antraks merupakan penyakit zoonosis yang serius yang dapat mempengaruhi
mamalia dan lebih jarang pada burung. Hal ini disebabkan oleh bakteri dalam bentuk
spora, Bacillus anthracis, yang mana hewan biasanya mendapatkannya dari tumbuh-
tumbuhan yang terkontaminasi, tanah atau produk pakan seperti tepung tulang. Spora
antraks sangat resisten terhadap inaktivasi, dan mereka berpotensi bertahan di
lingkungan selama beberapa dekade. Spesies hewan berbeda dalam kerentanannya
terhadap antraks: herbivora jinak dan liar cenderung sangat rentan dan sering mati
dengan cepat, sementara omnivora dan karnivora lebih resisten terhadap perkembangan
tanda-tanda klinis, dan dapat pulih tanpa pengobatan jika mereka sakit. Di daerah
endemik, antraks dapat menjadi masalah yang serius pada ruminansia yang tidak
divaksinasi. Epizootik pada hewan liar juga menjadi perhatian, dan dapat membunuh
sejumlah besar hewan ungulata yang rentan.
Orang biasanya mengembangkan antraks setelah terpapar oleh hewan dan
produk hewani yang terinfeksi. Wabah mungkin terjadi, meskipun kasus klinis yang
sering terjadi, jarang dan secara sporadis sebagai bahaya pekerjaan di antara dokter
hewan, pekerja pertanian dan orang-orang yang mengolah produk kulit, rambut, wol dan
tulang. Antraks kutaneus menyumbang lebih dari 95% infeksi alamiah, dan jarang fatal
jika diobati dengan antibiotik yang sesuai. Bentuk gastrointestinal lebih jarang tetapi
lebih serius, dan biasanya terjadi setelah memakan jaringan hewan yang kurang matang
atau mentah yang terkontaminasi. Antraks inhalasi adalah bentuk antraks yang paling
serius, dan tingkat fatalitas kasusnya tinggi kecuali bila diobati secara dini. Kasus
alamiah antraks inhalasi jarang terjadi; namun, antraks telah digunakan sebagai senjata
oleh bioteroris, dan antraks yang dipersenjatai ini dapat membentuk aerosol dengan
mudah. Sebuah bentuk antraks yang tidak biasa, disebabkan oleh injeksi spora B.
anthracis, telah dilaporkan baru-baru ini di Eropa, di mana ia dikaitkan dengan heroin
yang terkontaminasi.

Etiologi
Antraks dihasilkan dari infeksi oleh Bacillus antracis, sebuah bentuk spora,
batang aerobik Gram positif pada famili Bacullaceae. Isolat B. anthracis yang
sepenuhnya virulen memiliki dua plasmid: pX01, yang kodenya untuk kompleks
tripartit protein eksotoksin, dan pX02, yang mengodekan gen kapsul.
B. anthracis merupakan anggota dari grup Bacillus cereus sensu lato, yang mana
juga mengandung organisme yang berkaitan erat dengan B. cereus dan Bacillus
thuringiensis, serta beberapa spesies lainnya. Beberapa isolat B. cereus yang
mengandung plasmid berkaitan erat pada pX01 menyebabkan penyakit yang mirip
dengan antraks. Isolat yang membawa kedua plasmid yang mirip pX01 dan pX02 telah
diterminasikan sebagai Bacillus cereus biovar anthracis. Studi menyarankan bahwa
organisme ini mungkin sama virulensinya dengan B. anthracis. B. cereus yang hanya
memiliki sebuah plasmid mirip pX01, tetapi dapat menghasilkan sebuah kapsul dengan
genus lain, dapat juga menyebabkan penyakit yang sama.

Spesies yang terpengaruh


Hampir semua mamalia dapat terkena antraks, tetapi kerentanannya sangat
bervariasi. Sebagian besar kasus klinis terjadi pada herbivora jinak dan liar. Kasus
antraks umum terjadi pada ternak dan ruminansia kecil, dan mereka juga dilaporkan
pada kerbau air, kuda, unta, dan unta Amerika Selatan. Babi, omnivora dan karnivora
lainnya lebih resisten terhadap penyakit, tetapi mereka bisa menjadi sakit jika dosisnya
tinggi. Wabah telah dilaporkan pada spesies cerpelai dan satwa liar di kebun binatang,
serta pada satwa liar yang hidup bebas. Burung tampaknya sangat resisten, namun
beberapa kasus klinis telah terlihat. Spesies yang saat ini terpengaruh termasuk burung
unta, unggas, elang dan merpati.
B. cereus biovar anthracis juga cenderung memiliki kisaran inang yang luas.
Pada tahun 2017, organisme ini telah didokumentasikan dalam beberapa spesies primata
bukan manusia (termasuk simpanse, Pan troglodytes), duikers (Cephalophus spp.),
luwak (famili Herpestidae) dan landak (famili Hystricidae). B. cereus lainnya yang
membawa plasmid seperti antraks belum dilaporkan pada hewan yang terinfeksi secara
alamiah.

Potensi zoonosis
Kasus klinik pada manusia terutama disebabkan oleh B. anthracis, tetapi
beberapa penyakit yang dihasilkan dari infeksi oleh isolat B. cereus yang mengandung
plasmid mirip pX01. B. cereus biovar anthracis masih belum dilaporkan pada manusia,
meskipun tidak ada alasan untuk berpikir bahwa manusia tidaklah rentan terhadap
organisme ini.

Distribusi Geografik
Meskipun B. anthracis telah ditemukan pada sebagian besar kontinen dan di
beberapa pulau, antraks adalah hanya endemik pada wilayah yang terbatas. Pada
umumnya, wabah merupakan kejadian yang sering terjadi pada wilayah yang ditandai
oleh tanah alkalin yang kaya akan kalsium dan mineral lainnya. Pada hewan yang
peliharaan dan manusia, antraks paling banyak terutama di Afrika, Asia, dan Timur
Tengah dimana pengukuran kontrol pada hewan tidak adekuat. Hal ini juga terjadi di
Amerika Selatan dan Sentral Amerika. Penyakit ini jarang dilaporkan di Amerika Utara
dan Eropa. Di Eropa, hal ini paling banyak terlihat di daerah selatan, sementara kasus di
Amerika Utara saat ini terjadi dalam fokus yang terbatas di negara bagian A.S. barat dan
tengah dan di bagian Kanada. Siklus kehidupan satwa liar telah didokumentasikan di
beberapa wilayah, seperti Afrika dan Amerika Utara.
Bacillus cereus biovar anthracis telah ditemukan di daerah hutan tropis dari sub-
Sahara Afrika, dimana survei menyarankan hal ini mungkin saja telah meluas.
Organisme yang sama yang hanya memiliki plasmid (toksin) mirip pX01 telah
dilaporkan dari kasus manusia di beberapa daerah negara bagian A.S selatan (Florida,
Texas, Lousiana). Sebuah kemiripan B. cereus menyebabkan lesi kutaneus mirip antraks
yang ditemukan di India.

Penularan
Antraks selalu ditularkan oleh endospora bakterial, meskipun sel vegetatif
mungkin menyebabkan infeksi di beberapa bentuk antraks (misal bentuk orofaring
yang didapat oleh karena memakan daging yang terkontaminasi). Hewan merupakan
pemikiran utama yang terinfeksi kerika mereka menelan sopra; meskipun, inhalasi juga
memainkan sebuah peran, dan masuknya melalui lesi kulit juga dapat terjadi. Ketika sel
vegetatif dari B. anthracis dihancurkan dalam pencernaan di dalam lingkungan yang
asam didalam lambung, spora yang resisten pada pencernaan dan dapat bertumbuh
ketika mereka mencapai usus. Hewan, termasuk herbivora, haruslah memakan cukup
banyak B. anthracis untuk terjadi infeksi melalui jalur oral. Herbivora biasanya
mendapatkan spora dari tanah atau tumbuhan di padang rumput; namun, makanan
terkontaminasi (misal makanan ternak, tepung tulang) telah bertanggung jawab untuk
beberapa wabah yang terjadi diluar wilayah endemik. Jalur lainnya dari penularan
mungkin terjadi. Setidaknya satu kasus dari mastitis antraks telah dilaporkan pada sapi,
dengan organisme yang mungkin masuk melalui putting susu. Pada kebanyakan kasus,
hewan yang mengalami pemulihan dari antraks dianggap telah sepenuhnya
mengeliminasi bakteri. Bukti yang terbatas menyarankan bahwa infeksi lokal yang
berkepanjangan mungkin terjadi pada beberapa spesies. Secara khusus, B. anthracis
telah dilaporkan dapat bertahan selama berbulan-bulan di kelenjar getah bening dan
tonsil beberapa babi yang sehat.
Penularan langsung antara hewan yang hidup tidak dianggap signifikan dalam
antraks, tetapi bangkai merupakan hal penting dalam kontaminasinya terhadap
lingkungan. Sejumlah besar bakteri terdapat dalam cairan tubuh dan perdarahan yang
mungkin keluar dari orifisium setelah mati. Ketika mereka terpapar oleh udara, bakteri
ini membentuk spora dan mencemari tanah, akar tanaman, dan tumbuh-tumbuhan di
sekitarnya. Bakteri di jaringan juga bersporulasi jika bangkai dibuka. Suhu optimal
untuk sporulasi adalah antara 21°C dan 37°C. Hal ini tidak terjadi pada atau di bawah
9°C. Sporulasi tampaknya tidak terjadi di dalam bangkai yang tertutup, di mana
organisme diperkirakan akan dihancurkan dalam beberapa hari oleh pembusukan.
Serangga yang menghisap darah dan tidak menghisap darah dapat menyebarkan B.
anthracis secara mekanis ketika mereka memakan bangkai tersebut. Dalam banyak
kasus, serangga ini hanya dapat menyebarkan organisme ke vegetasi terdekat; namun,
gigitan serangga telah disarankan untuk penularan B. anthracis ke hewan selama
beberapa wabah meluas.
Karnivora biasanya menjadi terinfeksi ketika mereka memakan jaringan hewan
yang terkontaminasi. Pemakan bangkai, termasuk burung nasar, dapat menyebarkan
antraks secara mekanis setelah memakan bangkai. Sementara jumlah spora yang dapat
melewati saluran pencernaan dari hewan-hewan ini mungkin kecil, air mungkin
terkontaminasi ketika sejumlah besar burung nasar memakan bangkai, kemudian
terbang ke lokasi pemandian di dekatnya. Spora dari bangkai juga dianggap
terkonsentrasi di lokasi tertentu, seperti kolam atau dataran rendah, oleh hujan dan
banjir. Beberapa situs dilaporkan terkontaminasi oleh limbah dari penyamakan kulit
atau fasilitas pemrosesan untuk wol/rambut. B. anthracis secara tradisional tidak
dianggap bereplikasi di luar tubuh. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa
spora dapat bertumbuh dalam kondisi tertentu, dan replikasi mungkin terjadi terbatas di
beberapa lingkungan. Replikasi telah ditunjukkan di dalam amuba yang tinggal di tanah
pada laboratorium, dalam lingkungan simulasi air yang tergenang dan tanah yang
lembab. Namun, belum terbukti terjadi, sampai saat ini, dalam kondisi alamiah di luar
laboratorium.
Spora antraks dapat tetap hidup dalam waktu yang lama di dalam tanah atau
pada produk hewani seperti kulit (termasuk kulit yang sudah diproses) dan wol. Dalam
beberapa kasus, mereka dilaporkan dapat bertahan selama beberapa dekade. Eksperimen
laboratorium mendeteksi spora yang hidup setelah 2 tahun dalam air dan 10 tahun
dalam susu, dan hingga 71 tahun pada benang sutra. Berapa lama spora menjadi
perhatian praktis di lokasi yang terkontaminasi masih kurang jelas. Sementara sejumlah
besar spora telah ditemukan di tanah dan pada vegetasi selama 1-2 tahun pertama,
beberapa studi menunjukkan bahwa risiko infeksi dapat berkurang secara signifikan
setelah beberapa tahun jika tanah tidak diganggu. Di beberapa lokasi bangkai di sabana
Afrika, spora jarang atau tidak terdeteksi pada vegetasi setelah 3 tahun, meskipun
mereka bertahan di tanah dan akar rumput (yang dapat dimakan oleh herbivora ketika
mereka memakan rumput). Di Israel, hewan yang tidak divaksinasi tidak terinfeksi di
lokasi wabah setelah 10 tahun. Jenis dan kadar air tanah juga dapat mempengaruhi
persistensi spora. Situs yang terkontaminasi secara permanen telah didokumentasikan,
tetapi tampaknya jarang.
Manusia biasanya terkena bentuk antraks kutaneus setelah kontak kulit dengan
jaringan hewan atau produk hewani yang terinfeksi. Beberapa kasus yang diduga
diperoleh dari gigitan serangga. Orang-orang dapat terkena antraks inhalasi ketika spora
dari produk hewani, kultur laboratorium atau sumber lain yang berupa aerosol. Antraks
gastrointestinal biasanya merupakan hasil dari tertelannya jaringan mentah atau kurang
matang (misal daging) dari hewan yang terinfeksi, meskipun dari sumber yang tidak
biasa (misalnya, bermain drum pada kulit yang terkontaminasi) telah dilaporkan.
Penularan antraks dari orang ke orang sangat jarang dan hanya terlihat pada kasus
antraks kutaneus. Infeksi yang jelas dari janin dalam rahim juga dilaporkan dalam
beberapa histori kasus antraks, namun beberapa wanita yang terinfeksi tidak
menularkan organisme ke janin mereka.
B. anthracis telah dijadikan senjata dan agen ini juga telah digunakan pada
bioterorisme. Spora antraks yang menjadi senjata telah diubah menjadi bentuk aerosol
dengan mudah dan sering terinhalasi; meskipun demikian, mereka juga dapat
menyebabkan lesi kulit atau antraks gastrointestinal.
Bacillus cereus pembawa plasmid mirip antraks
Sedikit yang diketahui mengenai ekologi dari isolat B.cereus yang membawa
plasmid mirip dengan pX01 dan pX02. Kebanyakan B. cereus merupakan saprofit dan
terpisah di lingkungan.

Disinfeksi
Spora antraks resisten terhadap panas, sinar matahari, pengeringan dan banyak
desinfektan. Mereka dapat dibunuh dengan formaldehida atau glutaraldehida;
disarankan untuk merendam semalaman. Disinfektan hidrogen peroksida / asam
perasetat disinfektan, aqueous klorin dioksida, natrium dikloroisosianurat, dan hidrogen
peroksida konsentrasi tinggi (26-50%) juga dilaporkan efektif untuk beberapa jenis
desinfeksi. Larutan NaOH 10% atau larutan formaldehid 5% dapat digunakan untuk
tempat penyimpanan, pena dan peralatan. Natrium hipoklorit juga telah
direkomendasikan untuk beberapa kegunaan, jika bahan organik tidak ada. Efikasi
larutan hipoklorit terhadap spora B. anthracis tergantung pada pH dan konsentrasi dari
klorin yang tersedia bebas. Untuk menjadi agen sporisidal yang efektif, pemutih rumah
tangga harus diencerkan dengan air dan disesuaikan dengan pH 7. Kontak yang
berkepanjangan direkomendasikan. Tisu sporisidal berbasis natrium hipoklorit yang
komersial mungkin efektif dalam mengkontaminasi area yang lebih kecil. Sterilisasi gas
dapat dilakukan dengan agen seperti klorin dioksida, hidrogen peroksida fase uap dan
gas formaldehida, di bawah kondisi kelembaban dan suhu tertentu. Kemungkinan dari
menginduksi pertumbuhan spora untuk menghasilkan sel-sel vegetatif yang kurang
resisten telah diusulkan, tetapi belum dievaluasi untuk efikasinya.
Spora antraks juga dapat di eliminasi dengan autoklaf pada 121°C (250°F)
selama setidaknya 30 menit. Radiasi gamma telah digunakan untuk mendekontaminasi
produk hewani, seperti kiriman dari fasilitas pos yang terkontaminasi. Lengan dan
tangan yang terpapar dapat dicuci dengan sabun dan air panas, kemudian direndam
selama satu menit dalam desinfektan seperti larutan yodium organik atau larutan
merklorida perchloride 1 ppm. Disinfektan berbasis alkohol yang biasa digunakan untuk
membersihkan tangan tidak efektif melawan spora.
Ada sedikit informasi tentang waktu dan suhu yang dibutuhkan untuk
menghancurkan spora B. anthracis dalam makanan. Satu sumber menunjukkan bahwa,
sementara spora ini dapat dibunuh 10 menit “pada suhu mendidih,” mereka dapat
bertahan pada 98°C selama 30 menit.

Infeksi pada Hewan


Masa Inkubasi
Dilaporkan bahwa masa inkubasi pada hewan berkisar antara satu hingga 14
hari. Pada herbivora inokulasi secara oral, infeksi biasanya terlihat jelas dalam 3-7 hari.
Satu sumber menunjukan bahwa masa inkubasi pada babi selalu 1 sampai 2 minggu,
sementara percobaan laboratorium (inokulasi oral) menunjukan hasil pada tanda klinis
setelah 1-8 hari.
Masa inkubasi dari B. cereus biovar anthracis dan antraks lain terkait dengan B.
cereus tidak diketahui.

Gejala Klinis
Pada hewan, antraks dapat menjadi penyakit yang sangat akut, akut, subakut
atau kronis. Spesies yang lebih rentan cenderung mengembangkan penyakit yang sangat
akut dan akut, sementara kasus subakut dan kronis lebih mungkin dilaporkan pada inang
yang resisten.
Pada ruminansia, penyakit sistemik sangat akut sering terjadi, dan kematian
mendadak sering menjadi satu-satunya tanda. Tiba-tiba, gemetar dan dispnea kadang
menjadi catatan sesaat sebelum kematian, diikuti oleh jatuh tiba-tiba dan, dalam
beberapa kasus, terjadi kejang-kejang terminal. Hewan ruminansia dengan bentuk akut
antraks akan menjadi sakit dalam waktu yang singkat (biasanya hingga 2 hari) sebelum
mereka mati. Demam dan eksitasi mungkin dicatat pada awalnya, tetapi ini sering
diikuti oleh depresi, stupor dan anoreksia. Tanda-tanda klinis lainnya mungkin termasuk
disorientasi, tremor otot, dispnea, hematuria, diare, kongesti membran mukus, dan
perdarahan kecil yang tersebar pada kulit dan selaput lendir. Sapi yang sedang hamil
mungkin keguguran, dan produksi susu bisa menurun drastis. Pada susu juga dapat
terlihat darah atau berubah warna menjadi kekuningan. Keluarnya darah dari orifisium
seperti hidung, mulut dan anus kadang-kadang terlihat pada keadaan terminal. Beberapa
ruminansia mengalami pembengkakan akibat edematosa subkutan, sering di leher
ventral, toraks, dan bahu, tetapi kadang-kadang di lokasi lain termasuk genitalia.
Antraks pulmoner, dengan batuk produktif dan perjalanan akut, jarang dilaporkan. Apa
yang tampak sebagai bentuk antraks kutaneus terlihat pada beberapa sapi yang
sebelumnya divaksinasi selama wabah di Kanada. Hewan-hewan ini tampaknya tidak
memiliki tanda-tanda sistemik, tetapi mereka mengembangkan sejumlah variasi dari
area kulit yang meluas menjadi kehitaman, kulit nekrotik, pada satu atau kedua sisi
tubuh. Kulit yang terkena akhirnya mengelupas, meninggalkan darah dan berkerak yang
dapat sembuh secara spontan dalam beberapa minggu. Antraks mastitis, dengan tanda-
tanda klinis terutama terbatas pada kelenjar mammae, juga dilaporkan pada sapi selama
wabah ini. Munculnya antraks pada herbivora liar bervariasi pada spesiesnya, tetapi
cenderung menyerupai penyakit pada ruminansia peliharaan.
Sebuah perjalanan akut sering terjadi pada kuda. Tanda-tanda klinis yang sering
dilaporkan pada spesies ini termasuk demam, anoreksia, depresi, tanda-tanda lain dari
sepsis, kolik yang berat dan, dalam beberapa kasus, diare berdarah. Beberapa kuda
mengalami pembengkakan di leher, sternum, perut bagian bawah dan genitalia.
Pembengkakan leher dapat menyebabkan dispnea. Kuda yang terkena biasanya mati
dalam 3 hari, tetapi beberapa bisa bertahan lebih lama.
Septikemia dan kematian mendadak kadang terjadi pada babi. Lebih sering, babi
memiliki kasus subakut ringan hingga kronis yang ditandai dengan pembengkakan
lokal, demam, dan pembesaran kelenjar getah bening. Tenggorokan dapat membengkak
dengan cepat pada babi yang mengembangkan lesi antraks di orofaring. Hewan-hewan
ini mungkin mengalami kesulitan menelan, bisa menjadi dispnea, dan mungkin mati
lemas. Keterlibatan usus dapat menyebabkan anoreksia, muntah, diare (yang mungkin
berdarah) atau konstipasi. Satu sumber juga menyebutkan papula nekrosis hitam pada
kulit dan mukosa. Beberapa babi dengan antraks dapat pulih. Hewan yang pulih,
asimptomatik mungkin memiliki lesi aktif pada tonsil dan kelenjar getah bening leher
saat disembelih.
Antraks yang didapat secara alami pada anjing, kucing, dan karnivora liar
biasanya menyerupai penyakit pada babi, dengan tanda-tanda gastrointestinal dan / atau
faring. Satu ulasan dari kasus yang dipublikasikan pada anjing menunjukkan bahwa
pembengkakan masif pada kepala, leher dan mediastinum adalah tanda paling umum
pada spesies ini. Dalam kasus yang telah dipublikasikan, kematian biasanya merupakan
akibat dari toksemia dan syok, tetapi pembengkakan tenggorokan dan mati lemas juga
bisa menjadi faktor. Perdarahan gastroenteritis telah dilaporkan pada satu anjing, di
samping kaki depan yang bengkak dan ptyalism. Gastroenteritis akut yang berat juga
terlihat pada karnivora dan omnivora lainnya. Dalam beberapa kasus, karnivora telah
mati karena antraks dengan sedikit atau tanpa tanda klinis sebelumnya.
Antraks pada burung dilaporkan merupakan penyakit septikemia akut, dengan
kematian yang terjadi segera setelah tanda-tanda klinis muncul.
B. cereus biovar anthracis
Primata bukan manusia yang hidup bebas terinfeksi dengan B. cereus biovar
anthracis dapat mati dalam beberapa jam setelah tanda klinis pertama di observasi.
Sementara, ini mungkin menjadi indikasi bahwa perjalanan klinis sangat akut, hewan
liar juga tidak memperlihatkan gejala penyakit sampai pada stadium terminal.

Lesi Post Mortem


Rigor mortis biasanya tidak tampak, terlambat atau tidak sepenuhnya terjadi dan
bangkai biasanya membengkak dan membusuk secara cepat. Hitam, darah yang tersisa
kadang keluar dari orifisium tubuh; namun, beberapa sumber mengatakan ini mungkin
bukan gejala yang sering terjadi dan perembesan mungkin tidak banyak ketika hal itu
terjadi. Edema mungkin dicatat pada beberapa hewan, terutama disekitar tenggorokan
dan leher. Nekropsi sebaiknya dihindari, untuk mencegah kontaminasi area sekitar
dengan spora.
Jika sebuah bangkai ruminansia terbuka, tanda dari septikemia akan menjadi
bukti. Darah berwarna kehitaman, tipis, dan tidak membeku secara cepat. Bekuan darah
juga cenderung muncul seperti gelatin karena terjadi pembekuan yang abnormal.
Edematous, efusi bloody-tinged mungkin dapat terlihat pada jaringan subkutan, diantara
otot skeletal dan dibawah organ serosa. Limpa selalu akan membesar dan secara klasik
memiliki konsistensi “blackberry jam” meskipun kehadirannya tidak selalu di observasi,
terutama pada ruminansia kecil. Kelenjar limfe yang terkena akan selalu membengkak
dan terbendung, dan kadang mengandung perdarahan. Petekie dan ekimosis juga sering
terjadi pada berbagai permukaan serosa, epikardium dan endocardium. Perdarahan dan
ulserasi mungkin dicatat pada mukosa intestinal. Peritonitis dan cairan peritoneal yang
banyak mungkin dapat terjadi, dan hati dan kedua ginjal mungkin akan membengkak
dan terbendung. Lesi internal yang sama dapat terlihat pada beberapa kuda; yang
lainnya, lesi akan terbatas pada edema dan lesi pada leher dan tenggorokan.
Omnivora dan karnivora dapat memiliki lesi yang konsisten dengan septikemia,
tetapi ini terlihat lebih jarang terjadi daripada keterlibatan regional dari wilayah faring
atau saluran gastrointestinal. Bagian dari saluran pencernaan yang terkena dan jaringan
disekitarnya kadang akan terjadi edematous dan terinflamasi berat, dan mereka mungkin
akan mengandung perdarahan, ulserasi, dan area nekrotik. Peritonitis juga dapat terlihat.
Beberapa penampakan dari babi yang sehat dapat memiliki lesi antraks pada kelenjar
getah bening servikal dan tonsil saat disembelih. Kelenjar getah bening pada kasus ini
akan membesar dan memiliki corak salmon ke warna merah bata pada saat memotong
permukaan, atau mereka mungkin mengandung fokus kecil nekrotik abu kekuningan.
Tonsil mungkin akan di tutupi oleh membran difteri atau ulkus.
Masih ada beberapa deskripsi dari antraks pada burung. Pada burung unta,
dilaporkan lesi termasuk penggelapan pada warna kulit, hyperemia dan edema pada
saluran pernafasan, dan fokus hemoragik-nekrotik pada organ bagian dalam. Perdarahan
enteritis juga terlihat pada beberapa burung.
B. cereus biovar anthracis
B. cereus biovar anthracis dilaporkan sebagai penyebab lesi besar dan
mikroskopik yang sama dengan mereka yang disebabkan oleh B. anthracis.

Tes Diagnostik
Antraks sering didiagnosis dengan menditeksi B. anthracis pada sampel darah
dari bangkai. Bekuan darah yang buruk pada hewan yang terkena, dan sampel mungkin
diperoleh dari potongan kecil vena pada telinga, atau diperoleh dari pengambulan darah
menggunakan suntikan pada vena yang tersedia. Bakteremia jarang terjadi pada babi,
dan sebagian kecil dari jaringan limfatik yang terkena sering dikumpulkan secara
aseptik. B. anthracis juga dapat ditemukan pada jaringan yang di aspirasi dan apusan
faring. Apusan atau bentuk sampel dari konka nasal dapat juga digunakan pada bangkai
yang sudah lama (>3 hari). Pemulihan juga dapat diusahakan dari tanah yang
terkontaminasi oleh cairan terminal bila B.antrhacis tidak dapat diisolasi dari bangkai
yang membusuk; meskipun, hal ini akan sulit.
Sebuah dugaan diagnosis dapat dibuat jika karakteristik bakteri ditemukan
didalam darah, cairan tubuh lainnya atau apusan jaringan. Bacillus anthracis merupakan
batang Gram positif yang besar yang mungkin sendiri, berpasangan atau dalam rantai
pendek dalam sampel klinik (dan pada rantai panjang di kultur). Pengeringan udara,
perekatan apusan harus diberikan pengecatan dengan polychrome methylene blue
(M’Fadyean’s stain) atau Giemsa. Dengan M’Fadyean’s stain, organisme B. antrachis
merupakan basil biru kehitaman yang dikelilingi oleh kapsul merah muda. Tidak seperti
basil laiinya, ujungnya kadang membentuk persegi. Giemsa akan membuat warna basil
menjadi ungu dan kapsulnya menjadi merah-keunguan. Endospora tidak ditemukan
dalam jaringan pejamu, kecuali mereka terpapar oleh udara. Terapi menggunakan
antibiotik akan menyebabkan negatif palsu.
Kultur bakteri, menggunakan media yang bervariasi, dapat menghasilkan
diagnosis definitif. B. anthracis tidak menyebabkan hemolitik, dan tidak seperti anggota
lain dari kelompok B. cereus, ia tidak motil. Sementara ia tidak membentuk kapsul
ketika mereka bertumbuh dalam keadaan aerobic in vitro, kapsul dapat diinduksi dengan
metode kultur khusus (misal. inkubasi dalam darah untuk beberapa jam, atau
menumbuhkan pada nutrien agar dengan natrium bikarbonat 0,7% pada suhu 37°C
dibawah CO2). B. anthracis dapat selalu diidentifikasi oleh kerentanannya pada
bakteriofag spesifik yang diketahui sebagai bakteriofag gama. Kebanyakan pewarnaan
adalah sensitif terhadap penisilin, dan mereka juga menunjukan sebuah karakteristik
rangkaian ‘string-of-pearls’ ketika mereka bertumbuh pada agen ini. Metode lainnya,
seperti PCR, dapat juga digunakan untuk identifikasi bakteri. Kultur B. anthracis dari
sampel lingkungan dan proses produk hewani dapat menjadi sulit, dan mungkin
membutuhkan prosedur laboratorium khusus.
Uji PCR, yang mana umumnya didasarkan pada plasmid pX01 dan pX02, dapat
mendiagnosis antraks langsung dalam sampel diagnostik. Teknik Loop-mediated
isothermal amplification (LAMP) juga telah dipublikasi. Meskipun eksistensi dari
patogenik pewarnaan B. cereus dengan plasmid mirip pX01 dan pX02 (misal B. cereus
biovar anthracis) dapat memberikan kesulitan dalam identifikasi dari B. anthracis oleh
metode genetik, organisme ini jarang ditemukan dalam kasus klinik diluar hutan tropis
di Afrika. Teknik genetik seperti multilocus variable number of tandem repeats analysis
(MLVA) dapat digunakan untuk melacak wabah. Tikus atau babi guinea inokulasi untuk
memastikan virulensi telah secara meluas digantikan oleh PCR; meskipun demikian, uji
hewan mungkin dibutuhkan jika metode diagnostik lain telah gagal.
Antrax immunochromatographic test (AICT) merupakan uji lapangan yang
mendeteksi komponen dari toksin antraks didalam darah. Hal ini digunakan di Australia
untuk secara cepat mengidentifikasi hewan yang telah mati sebelumnya karena antraks.
Thermoprecipitin test (uji Ascoli) merupakan alat uji yang lebih lama untuk mendeteksi
antigen antraks tahan panas pada bangkai yang membusuk dan produk hewani. Tes
Ascoli tidak terlalu spesifik, seperti pada spesies lain dari Bacillus yang dapat
menghasilkan antigen tersebut. Sementara hal tersebut masih dipekerjakan di beberapa
negara, hasilnya harus diinterpretasikan dengan hati-hati. Uji imunologi lainnya untuk
toksin juga telah di publikasi. Penelitian laboratorium dapat menggunakan
imunofluoresensi untuk mendeteksi B. anthracis di darah atau jaringan, tetapi metode
ini mungkin tidak lagi banyak digunakan untuk diagnosis.
Sebuah uji hipersensitifitas pada kulit menggunakan anthraxin (AnthraxinT)
telah digunakan pada beberapa negara, seperti Rusia, untuk diagnosis retrospektif dari
antraks. Uji serologi paling banyak digunakan pada penelitian, dan jarang dipekerjakan
untuk mendiagnosis antraks pada hewan. Uji serologikal yang telah dipublikasikan
termasuk ELISA, imunobloting (Western blotting), dan lateral flow
immunochromatographic assays.
Bacillus cereus yang membawa plasmid antraks
Metode standar untuk mendiagnosis organisme ini belum dipublikasikan.
Banyak B. cereus yang menyebabkan penyakit seperti antraks yang motil, meskipun
beberapa tidak. Isolat B. cereus, termasuk B. cereus biovar anthracis, tidaklah rentan
terhadap bakteriofag gama.

Pengobatan
Antibiotik yang mungkin efektif jika pengobatan dimulai sejak dini. Penisilin
adalah obat yang secara umum digunakan untuk infeksi B. anthracis pada hewan,
meskipun obat lain dapat juga digunakan. Streptomisin juga memberikan aksi yang
sinergis dengan penisilin. Tetrasiklin juga direkomendasikan tetapi opini-opini pada
efikasi mereka di ternak dengan antraks beragam. Anti toksin tidak tersedia untuk
hewan di kebanyakan negara, namun mereka dilaporkan telah digunakan di former
Soviet Union. Terapi suportif juga diperlukan pada hewan yang sakit, beberapa negara
tidak mengijinkan hewan dengan antraks diobati.

Kontrol
Laporan penyakit
Dokter hewan yang menghadapi atau menduga antraks harus mengikuti
pedoman negaranya dan/atau pedoman lokal untuk pelaporan penyakit. Di Amerika,
negara dan/atau dokter hewan federal harus diberi tahu tentang setiap kasus yang
dicurigai.
Pencegahan
Pada wilayah endemik, modifikasi vaksin hidup dapat mencegah antraks pada
ternak. Hewan divaksinasi setiap tahunnya, sebelum terjadi musim dimana wabah
biasanya terjadi. Vaksin ternak juga telah digunakan untuk melindungi cheetah dan
ruminansia yang terancam punah termasuk badak hitam. Pemberian vaksin juga harus
diperhatikan pada kuda miniatur, karena beberapa hewan dapat mengembangkan
vaskulitis karena mediasi imun dan mati segera setelah divaksinasi, selama wabah
berlangsung di Kanada. Anak lembu llama muda, yang mana secara bersamaan
menerima ivermectin dan biologis lainnya, mengembangkan antraks terkait dengan
vaksinasi dalam laporan dari tahun 1980-an.
Karantina, teknik pembuangan bangkai yang efektif, dan dekontaminasi dapat
membantu dalam mencegah penyebaran penyakit selama wabah berlangsung. Hewan
yang sakit harus diisolasi, dan sisa kawanannya harus dijauhkan dari wilayah yang
terkontaminasi. Makanan yang terkontaminasi harus dibuang. Jika peliharaan telah
terpapar oleh antraks, maka bulunya harus di dekontaminasi dengan dimandikan
berulang kali untuk secara mekanik membuang organisme.
Untuk mencegah sporulasi, bangkai tidak boleh dibuka. Konsensus umum
adalah binatang pemakan bangkai harus dicegah untuk mengakses bangkai. Berbagai
hambatan fisik biasanya digunakan, terkadang dalam hubungannya terhadap bahan
kimia seperti formaldehid, yang mana juga dapat membantu menghancurkan bakteri
yang terlepas dari bangkai. Sebuah studi baru-baru ini menemukan tidak ada efek dari
menyingkirkan hewan pemakan bangkai pada kontaminasi lokal oleh spora. Pelindung
terhadap serangga dapat membantu lalat dari penyebaran organisme. Regulasi lokal
menentukan pembuangan bangkai; metode untuk pembuangan B. anthracis dari
bangkai, pupuk yang terkontaminasi, sprei dan material lainnya. Penguburan yang
dalam juga digunakan, tetapi ada kemungkinan bahwa mengubur bangkai juga akan
mengakibatkan antraks jika mereka kemudian digali. Metode lainnya, seperti
meninggalkan bangkai pada suatu tempat tetapi mencegah aksesnya, tidak diinginkan,
tetapi kadang dilakukan selama wabah terjadi dimana pilihan lain tidak tersedia (misal
di Afrika). Lumbung, pena, dan peralatan harus dibersihkan dan didesinfeksi. Sekali
tanah terkontaminasi oleh spora, maka akan sangat sulit untuk di dekontaminasi;
bagaimanapun, prosedur seperti pembuangan tanah dan/atau pengobatan dengan
formaldehid kadang dilakukan.
Selama wabah berlangsung, antibiotik profilaksis dapat melindungi paparan dan
risiko pada hewan. Hewan yang diterapi dengan antibiotik tidak dapat di vaksinasi pada
waktu yag bersamaan karena vaksin tersebut merupakan vaksin hidup. Meskipun
demikian, mereka dapat divaksinasi setelahnya. Vaksinasi sendiri akan dilakukan
setelah wabah, tergantung pada situasi.

Morbiditas dan Mortalitas


Antraks merupaakan penyakit musiman di banyak area endemik, dengan
kecenderungan terjadinya pada daerah dengan cuaca yang lebih hangat. Sebagai
tambahan pada kasus sporadik, ada kemunfinan terjadinya wabah berkala yang
mengenai hewan jinak dan/atau liar. Beberapa epizootik telah dikaitkan dengan
kemarau, hujan deras, atau banjir. Wabah secara predominan mengenai satu atau lebih
spesies, menyebabkan hanya kasus sporadik pada hewan lain. Di antara satwa liar,
berbagai spesies dapat terpengaruh pada waktu yang berbeda sepanjang tahun. Sebagai
contoh, gajah di satu wilayah Namibia mengalami kematian tertinggi pada awal musim
hujan, tetapi ungulata dataran cenderung paling terpengaruh pada akhir musim hujan. Di
negara maju, hewan jinak dalam fokus endemik biasanya dilindungi oleh vaksinasi, dan
wabah pada spesies ini menjadi jarang terjadi. Terkadang ada laporan antraks di luar
daerah endemik, biasanya terkait dengan pakan tambahan yang terkontaminasi, dan
sering terjadi pada hewan peliharaan selama cuaca dingin.
Kasus klinis cenderung lebih sering terlihat pada herbivora daripada omnivora
dan karnivora, dan tingkat kematian biasanya lebih tinggi. Namun, tampaknya ada
perbedaan dalam kerentanan antara spesies dalam kelompok luas ini. Sebagai contoh,
kudu (Tragelaphus strepsiceros) dan zebra (Equus quagga) adalah yang paling sering
terbunuh oleh antraks selama wabah di Afrika, sementara tingkat kematian cenderung
lebih rendah di beberapa herbivora lainnya. Persentase yang signifikan dari kerbau
Afrika (Syncerus caffer) dan rusa kutub (Connochaetes taurinus) memiliki antibodi
terhadap B. anthracis, yang menunjukkan bahwa mereka telah terpapar organisme ini
tetapi masih bertahan hidup. Demikian juga, banyak karnivora tampaknya memakan
bangkai yang terinfeksi tanpa kematian yang signifikan, tetapi cheetah (Acinonyx
jubatus) sering mati setelah terpapar, dan sangat sedikit cheetah yang seropositif dalam
survei. Paparan berkala terhadap sejumlah kecil organisme dapat membantu
mengimunisasi beberapa spesies: singa dilaporkan cukup resisten terhadap antraks dan
cenderung memiliki tingkat seroprevalensi yang tinggi, tetapi wabah antraks telah
dilaporkan pada singa setelah periode prevalensi rendah pada mangsa mereka. Di antara
hewan jinak, kasus klinis biasanya berakibat fatal pada hewan ruminansia dan kuda,
sementara babi sering kali pulih. Secara relative, sedikit kasus dari antraks telah
didokumentasikan pada anjing, walaupun infeksi fatal dapat terjadi.
Sedikit yang diketahui tentang isolat B. cereus yang membawa plasmid seperti
antraks. Namun, B. cereus biovar anthracis tampaknya menjadi penyebab kematian
yang signifikan di hutan tropis Côte d'Ivoire, dimana ia biasanya membunuh berbagai
mamalia secara bersamaan. Organisme ini tampaknya sangat virulen pada primata
bukan manusia dan duikers Maxwell (Cephalophus maxwellii), berdasarkan pada
jumlah kematian dan tidak adanya antibodi pada populasi yang terpapar pada organisme
ini.

Infeksi pada Manusia


Masa Inkubasi
Periode inkubasi yang dilaporkan untuk antraks kutaneus berkisar dari satu
hingga 20 hari, tetapi kebanyakan kasus klinis cenderung berkembang dalam 7-10 hari.
Anthrax gastrointestinal dapat terlihat 1-7 hari setelah paparan, dan antraks injeksi
setelah 1-10 hari. Namun, sebagian besar kasus antraks injeksi terjadi segera setelah
inokulasi. Masa inkubasi untuk antraks inhalasi sangatlah bervariasi. Meskipun telah
diperkirakan 2-6 hari dalam jumlah kasus yang terbatas, spora dapat tetap bertahan di
paru selama beberapa minggu (hingga 100 hari pada model primata bukan manusia),
dan spora ini dapat bertumbuh dan menyebabkan antraks inhalasi selama waktu itu.
Setelah satu kali pelepasan spora aerosol di Uni Soviet, kasus terus muncul pada orang
yang terpapar hingga 6 minggu.

Gejala Klinis
Empat bentuk penyakit yang tampak pada manusia: antraks kutaneus, antraks
injeksi, antraks gastrointestinal dan antraks inhalasi. Bentuk-bentuk ini dapat
berkembang menjadi septikemia yang mengancam jiwa atau meningitis antraks, tetapi
frekuensinya berbeda. Diduga sepsis antraks telah dilaporkan pada bayi baru lahir, dan
persalinan prematur yang tampak pada beberapa wanita dengan antraks.
Antraks kutaneus
Anthrax kutaneus awalnya muncul sebagai papula, yang dapat dikelilingi oleh
vesikel kecil berisi cairan yang melepaskan cairan bening atau sanguinous. Papula
sentral dengan cepat membentuk vesikel atau bula, ulserasi, mengering dan berkembang
menjadi eschar, yang tampak sebagai krusta hitam yang melekat kuat. Vesikel satelit
juga dapat membentuk ulserasi. Lesi antraks kutaneus biasanya tidak menimbulkan rasa
nyeri, tetapi biasanya dikelilingi oleh edema yang signifikan, dan dapat disertai dengan
limfadenopati regional. Lesi pada kelopak mata biasanya berupa edematosa, tetapi
eschar dengan sentral hitam kadang tidak ada. Suatu bentuk antraks kutaneus yang tidak
umum juga telah dideskripsikan. Hal ini muncul sebagai kelompok vesikel atau bula,
yang menjadi hemoragik dan nekrotik. Koinfeksi dengan organisme lain, termasuk
dermatofit, dapat menyebabkan kasus antraks kutaneus dengan tampilan yang atipikal.
Pus biasanya tidak terlihat pada lesi antraks kecuali mereka dengan infeksi sekunder.
Demam ringan, malaise, dan sakit kepala mungkin tampak jelas pada kasus yang lebih
parah. Pembengkakan pada wajah atau leher dapat menyebabkan penyumbatan saluran
pernafasan.
Anthrax kutaneus sering sembuh secara spontan; meskipun demikian, organisme
kadang masih dapat menyebar dan menyebabkan penyakit yang mengancam jiwa
termasuk septikemia dan meningitis. Lesi wajah dan leher lebih cenderung menyebar ke
SSP daripada lesi di bagian tubuh lainnya. Resolusi dari antraks kutaneus tanpa
komplikasi mungkin membutuhkan waktu beberapa minggu, bahkan ketika infeksi telah
berhasil diobati dengan antibiotik. Lesi kecil biasanya sembuh dengan jaringan parut
yang minimal, tetapi lesi besar dapat meninggalkan kerusakan signifikan. Jika mengenai
kelopak mata, meskipun lesi yang lebih kecil, dapat menyebabkan komplikasi seperti
entropion.
Antraks injeksi
Anthrax injeksi dihasilkan dari inokulasi B. anthracis subkutan. Kasus-kasus
yang dilaporkan sampai saat ini sebagian besar dikaitkan dengan heroin yang
terkontaminasi. Pembengkakan atau edema jaringan lunak yang luas adalah tanda yang
paling sering dilaporkan, meskipun tidak selalu ada. Beberapa pasien juga memiliki
eritema, nyeri, dan vesikel atau area nekrotik pada kulit; namun, eschar klasik antraks
kutaneus biasanya tidak ada, dan nyeri atau rasa tidak nyaman sering tampak secara
tidak proporsional ringan dalam kaitannya dengan tanda-tanda klinis. Presentasi yang
tidak biasa juga terlihat. Misalnya, satu kasus menyerupai impetigo. Debridemen lesi
kadang menyebabkan perdarahan yang tidak proporsional, yang membutuhkan transfusi
masif dalam beberapa kasus.
Tanda-tanda sistemik dalam beberapa kasus termasuk demam dan / atau gejala
gastrointestinal seperti mual, muntah dan sakit perut. Terjadi peritonitis pada dua orang
setelah menyuntikkan heroin yang terkontaminasi pada selangkangan. Beberapa kasus
berkembang menjadi sepsis, tanda pulmoner, dan meningitis.
Antraks gastrointestinal (termasuk orofaring)
Anthrax gastrointestinal biasanya terjadi setelah memakan jaringan hewan yang
terkontaminasi, kurang matang termasuk daging. Spora yang bertumbuh dapat
menyebabkan peradangan dimana pun mereka berada, dan mungkin, dalam kasus yang
berat, menyebabkan pendarahan, obstruksi, atau perforasi. Sementara bagian mana pun
dari saluran gastrointestinal dapat terkena, ileum dan kolon sering terlibat dalam bentuk
abdominal, sedangkan antraks orofaring ditandai dengan tanda klinis yang terlokalisasi
di wilayah itu.
Gejala awal dari bentuk abdominal mungkin ringan dan dapat meliputi malaise,
demam ringan dan gejala pencernaan ringan seperti mual, muntah, diare dan anoreksia.
Dalam beberapa kasus, hal ini diikuti oleh terjadinya onset akut dari nyeri perut,
hematemesis dan diare berdarah. Asites masif mungkin terjadi. Beberapa pasien
mengalami demam tinggi. Mungkin juga ada yang mengalami dispnea, sianosis,
disorientasi, dan tanda lain dari septikemia. Meningitis juga mungkin terjadi. Kasus
yang berat secara cepat berkembang menjadi syok, koma, dan kematian. Namun,
antraks abdominal mungkin tidak selalu berat. Dalam satu wabah di Thailand, 7 dari 74
orang dengan antraks gastrointestinal memiliki gejala yang berat, tetapi diare akut
adalah satu-satunya tanda dari tanda yang lain.
Gejala awal dalam bentuk orofaringeal dapat meliputi demam, sakit
tenggorokan, disfagia, suara serak, dan pembengkakan leher akibat edema dan
limfadenopati servikal. Pembengkakan leher dapat menyebabkan gangguan jalan napas.
Lesi dapat terlihat pada mukosa daerah orofaringeal, termasuk pada tonsil, faring dan
palatum durum. Dalam satu laporan, lesi ini awalnya muncul sebagai area dengan
edema dan kongesti. Sebuah area sentral yang memutih, yang disebabkan oleh nekrosis
dan ulserasi, berkembang pada akhir minggu pertama. Selama minggu kedua, sebuah
pseudomembran terbentuk di atas ulkus.
Antraks inhalasi
Antraks inhalasi terjadi setelah menginhalasi spora. Gejalanya tidak spesifik dan
mungkin akan berkembang secara bertahap. Secara dini, tanda yang samar meliputi
demam, menggigil, kelelahan dan malaise, serta batuk tidak produktif dan nyeri dada
ringan pada beberapa kasus. Gejala-gejala ini kadang membaik dalam beberapa jam
hingga beberapa hari; meskipun, masa prodromal berakhir dengan onset akut dari
distress pernafasan yang berat, takikardia, diaphoresis, stridor, dan sianosis, yang diikuti
dengan septikemia yang fatal dan syok dalam sehari atau dua hari. Penyebaran secara
hematogen dari B. anthracis setelah inhalasi dapat menyebabkan lesi dan tanda
gastrointestinal.
Antraks meningitis
Antraks meningitis dapat menjadi komplikasi dari keempat bentuk penyakit
tersebut. Setelah masa prodromal dari 1-6 hari, gejala tipikal dari meningoensefalitis
akan berkembang dengan cepat. Pasien dengan cepat terjadi penurunan kesadaran dan
meninggal, banyak dalam waktu 24 jam. Darah sering kali ditemukan dalam cairan
serebrospinal.
Bacillus cereus pembawa plasmid mirip antraks
Isolat B. cereus telah menyebabkan beberapa kasus yang mengancam jiwa,
penyakit menyerupai antraks pulmoner, serta sindrom yang menyerupai antraks
kutaneus.

Uji Diagnostik
Antraks dapat didiagnosis dengan mengobeservasi organisme tipikal dalam
pewarnaan sampel klinis, dengan PCR, dan dengan mengisolasi B. anthracis dalam
kultur, seperti pada hewan. Imunohistokimia mungkin tersedia dalam laboratorium
rujukan. Berbagai macam sampel klinis dapat dikumpulkan, tergantung pada bentuk
penyakitnya. Hal tersebut mungkin termasuk darah, cairan dari lesi kulit, aspirasi
kelenjar getah bening atau limpa, cairan asites, sekresi pernapasan, cairan pleura, cairan
serebrospinal (dalam kasus meningitis), muntahan dan feses. Seperti pada hewan,
penggunaan dengan antibiotik dapat mencegah isolasi organisme.
Antibodi terlambat terbentuk dalam perjalanan penyakit, dan serologi (ELISA
atau uji lainnya) hanya dapat berguna untuk diagnostic retrospektif. Baik serum akut
maupun konvalesen harus diambil. Beberapa pasien dengan antraks kutaneus mungkin
tidak menjadi seropositive. Sebuah tes hipersensitifitas kulit menggunakan anthraxin
(AnthraxinT) digunakan untuk membantu diagnosis antraks di beberapa negara. Hal ini
mungkin membantu ketika kasus tidak dapat dikonfirmasi secara bakteriologi dan/atau
serologi, dan ini juga dipekerjakan untuk memberikan diagnosis retrospektif.

Pengobatan
Antraks diobati dengan antibiotik. Galur B. anthracis yang terjadi secara
alamiah biasanya rentan terhadap penisilin dan beberapa antimikroba lainnya. Galur
yang digunakan dalam serangan bioteroris lebih cenderung resisten antibiotik. Pedoman
di negara maju sering merekomendasikan penggunaan antibiotik selain penisilin pada
saat awal, terutama untuk penyakit sistemik, sampai kerentanan isolat telah ditentukan.
Namun, penisilin berhasil digunakan di beberapa negara, terutama dalam kasus antraks
kutaneus. Penggunaan antibiotik secara dini pada penyakit sistemik secara signifikan
meningkatkan kemungkinan pasien akan bertahan hidup.
Antibiotik hanya efektif melawan tahap vegetative dari B. anthracis, dan tidak
menghancurkan spora. Pengobatan selama setidaknya 60 hari telah direkomendasikan
dalam anthrax inhalasi, karena spora mungkin dorman di dalam paru dan bertumbuh
selama waktu itu. Beberapa percobaan baru-baru ini dalam model hewan
mempertanyakan apakah perawatan lanjutan diperlukan setelah imunitas berkembang
menjadi B. anthracis, tetapi sampai lebih banyak bukti definitif tersedia, sebagian besar
sumber terus merekomendasikan 60 hari untuk bentuk ini. Jenis antraks lainnya
biasanya diterapi dalam periode yang lebih pendek, karena spora residual tidak menjadi
masalah.
Toksin antraks dapat menyebabkan kerusakan bahkan setelah bakteri telah
dihilangkan. Belakangan ini berkembang antitoksin yang tampaknya meningkatkan
ketahanan hidup pada model hewan, terutama ketika pengobatan tertunda. Antitoksin ini
telah direkomendasikan untuk antraks sistemik, dan mereka juga telah digunakan dalam
beberapa kasus antraks injeksi. Di sebagian besar negara, saat ini pengalaman klinis
dengan agen ini masih terbatas. Meskipun, antitoksin yang terdahulu telah digunakan
secara lebih luas di beberapa negara, seperti Rusia. Terapi simtomatik dan suportif juga
mungkin diperlukan dalam beberapa kasus antraks.
Pedoman untuk pengobatan antraks, termasuk pedoman khusus untuk anak-
anak, telah dipublikasikan.

Kontrol
Manusia secara normal mendapatkan antraks dari hewan yang terinfeksi atau
dari jaringannya; juga, manusia dapat terlindung dengan mencegah hewan tersebut
terkena antraks. Pengawasan dokter hewan terhadap penyembelihan hewan bertindak
sebagai perlindungan tambahan. Dalam beberapa kasus, pembatasan perdagangan dapat
diterapkan pada produk-produk hewani tertentu dari negara-negara di mana antraks
sering terjadi dan tidak terkontrol. Peningkatan dalam standar industri telah mengurangi
paparan oleh karena pekerjaan bagi orang-orang yang terpapar kulit, wol, tepung tulang
dan produk hewani lainnya. Namun, tingkat kontaminasi yang rendah masih dilaporkan
di beberapa fasilitas, bahkan di daerah di mana antraks tidak endemik. Penggunaan
masker wajah tampaknya secara signifikan mengurangi paparan pada orang-orang yang
memproses wol dan bulu kambing yang terkontaminasi. Di laboratorium, praktik
keselamatan kerja yang baik, termasuk penggunaan kabinet pengaman biologis, harus
digunakan. Dokter hewan harus menggunakan pakaian dan peralatan pelindung saat
memeriksa hewan yang sakit. Mereka juga harus menghindari pembukaan terhadap
bangkai pada kasus-kasus yang dicurigai. Vaksin tersedia untuk orang yang berisiko
tinggi terinfeksi.
Profilaksis antibiotik pasca pajanan, dilanjutkan selama setidaknya 60 hari, dan
vaksinasi direkomendasikan untuk orang yang terpapar spora antraks aerosol. Manusia
biasanya dapat divaksinasi saat mereka menggunakan antibiotik, karena sebagian besar
negara hanya menggunakan vaksin antraks mati. Namun, beberapa negara mungkin
masih menggunakan vaksin hidup, yang tidak dapat digunakan bersamaan dengan
antibiotik. Profilaksis antibiotik pasca pajanan, untuk periode yang lebih pendek,
mungkin juga diperlukan untuk orang yang telah memakan daging yang terkontaminasi.
Biasanya tidak direkomendasikan pada umunya setelah paparan pada kulit; namun,
wilayah yang terpapar harus segera dicuci, dan kulit harus diperhatikan untuk tanda-
tanda awal infeksi. Lesi antraks kutaneus harus ditutup sampai antibiotik diberikan
selama 24-48 jam.

Morbiditas dan Mortalitas


Antraks masih merupakan penyakit yang signifikan di beberapa negara, dan
wabah kadang terlihat pada manusia. Di Afrika, perkiraan menunjukkan bahwa setiap
sapi dengan antraks dapat menghasilkan hingga sepuluh kasus pada manusia. Namun,
kejadian antraks menurun tajam di negara maju. Di banyak negara, penyakit ini
sekarang jarang terjadi dan sporadis, terutama sebagai bahaya pekerjaan di antara dokter
hewan, pekerja pertanian, dan orang-orang yang mengolah produk kulit, rambut, wol
dan tulang. Manusia tampaknya cukup tahan terhadap B. anthracis, dan antibodi dapat
ditemukan pada beberapa orang yang tidak memiliki riwayat penyakit ini. Perlawanan
individu dapat bervariasi. Dalam kasus yang jarang terjadi, orang memiliki lebih dari
satu episode antraks kutaneus.
Bentuk kutaneus menyumbang setidaknya 90-95% dari kasus alami antraks.
Anthrax gastrointestinal tampaknya tidak umum, tetapi wabah kadang mengenai
puluhan orang yang makan dengan makanan yang sama. Kasus alami antraks inhalasi
jarang terjadi; namun, senjata biologis aerosol diharapkan dapat menghasilkan
persentase yang tinggi dari bentuk ini. Pada tahun 2001, spora anthrax yang telah
dipersenjatai yang dikirim dalam surat yang terkontaminasi menyebabkan 11 kasus
antraks inhalasi dan 11 kasus antraks kutaneus di AS. Antraks injeksi juga tampaknya
jarang terjadi; namun, sejumlah kasus telah dilaporkan baru-baru ini di Eropa, terkait
dengan heroin yang terkontaminasi.
Tingkat mortalitas bervariasi dengan bentuk dari penyakit. Anthrax kutaneus
diperkirakan berakibat fatal pada 5-30% kasus yang tidak diobati, tetapi pada kurang
dari 1% pasien yang diobati dengan antibiotik. Mortalitas lebih tinggi ketika ada lesi
kulit yang besar, multipel atau luas, atau melibatkan lesi kepala, leher, dan tubuh bagian
atas. Secara relative, sedikit wabah dari anthrax gastrointestinal telah dijelaskan dalam
literatur. Tingkat mortalitas kasus yang dilaporkan berkisar antara 4% hingga 60-75%
dalam bentuk abdominal, dan dari 12% hingga 50% dalam bentuk orofaring. Perawatan
yang efektif kemungkinan telah berkontribusi pada rendahnya mortalitas pada beberapa
insiden; namun, penyakit yang berat kadang jauh lebih jarang daripada kasus ringan.
Dalam setidaknya satu laporan, kematian lebih mungkin terjadi pada anak-anak.
Anthrax injeksi yang terkait dengan heroin yang terkontaminasi memiliki tingkat
mortalitas kasus keseluruhan sebesar 33%, tetapi beberapa rumah sakit melaporkan
sedikit atau tidak adanya kematian.
Mortalitas dapat menjadi tinggi pada antraks inhalasi, kecuali pengobatan
dimulai sangat dini. Perkiraan sebelumnya menyarankan bahwa tingkat fatalitas kasus
untuk bentuk ini mendekati 90-100%, tetapi rejimen pengobatan yang lebih baru dan
lebih intensif mungkin lebih efektif. Dalam serangan bioteroris terkait surat tahun 2001,
tingkat mortalitas kasus pada pasien dengan antraks inhalasi adalah 45%. Namun,
begitu seorang pasien mencapai tahap fulminan, satu studi menunjukkan bahwa tingkat
mortalitas > 90% terlepas dari pengobatan. Meningoensefalitis antraks juga mematikan,
dengan tingkat mortalitas kasus diperkirakan 92%.