Anda di halaman 1dari 10

Pengertian dan Arti Penting Legal Audit

Legal Audit adalah suatu proses penilaian terhadap data dan fakta atas
transaksi yang dilakukan oleh perusahaan/bank dengan pihak lainnya untuk menilai
tingkat keaman perusahaan/bank, terutama dalam hal legal risk aspect yang pada
akhirnya akan membahayakan harta perusahaan/bank, yang disajikan dalam laporan
hasil pemeriksaan mengenai opini dan saran perbaikan.1

Dari pengertian legal audit tersebut diatas dapat dikemukaan lebih lanjut
bahwa :

 Suatu transaksi tentulah ada data dan fakta yang mendasarinya, yaitu
suatu kesepakatan antara bank dengan pihak lainnya tentang sesuatu
hal tertentu, baik bidang dana maupun bidang kredit .
 Data dan fakta yang diperiksa aspek yuridisnya adalah data dan fakta
yang menyangkut suatu transaksi antara bank dengan pihak ketiga,
karena data dan fakta inilah yang mengandung nilai-nilai yuridis yang
melahirkan hak dan kewajiban. Data dan fakta transaksi intern bank
tidak termasuk dalam sasaran legal audit .
 Karena pemeriksaan maka didalamnya terdapat suatu proses penilaian
oleh legal auditor terhadap suatu transaksi yang dilakukan oleh bank
dengan pihak lainnya .
 Pemeriksaan oleh legal auditor dilaksanakan dengan tegas yang berarti
setiap kelemahan harus diungkapkan sehingga nantinya dapat
ditindaklanjuti oleh auditee (aparat pelaksana) .
 Penilaian yang dilakukan oleh legal auditor adalah tingkat keamanan
bank, terutama apabila bank akan berperkara di pengadilan.
 Legal risk aspect adalah risiko tidak siapnya bank untuk berperkara di
pengadilan karena adanya penyimpangan/problem yang terjadi sebagai
akibat tidak dipenuhinya aspek-aspek suatu transaksi, yang berdampak
pada kerugian/ membahayakan harta perusahaan/bank.
 Legal auditor juga dilengkapi dengan laporan hasil periksaan yang
berisi opini dan saran perbaikan. Opini yang disampaikan ialah
menyangkut kelemahan yuridis yang terkandung dalam suatu transaksi

1
Rahman Hasanuddin. 2000. Legal Drafting, Citra Aditya Bakti: Bandung . (hlm 19-20)

1
sedangkan saran perbaikan adalah menyangkut penyempurnaan suatu
data dan fakta transaksi sebagai alat bukti secara yuridis formal.

Besarnya kandungan hukum dalam suatu transaksi yang dilakukan oleh bank
dengan nasabahnya merupakan salah satu alasan mengapa legal audit sangat
diperlukan dalam operasional perbankan. Untuk menunjang landasan gerak perbankan
agar mampu menampung tuntutan pengembangan jasa perbankan yang ada serta
untuk meningkatkan kemajuan-kemajuan berkesinambungan maka diperlukan
pengetahuan hukum bagi aparat pelaksana perbankan. Apalagi dengan perkembangan
ekonomi yang semakin pesat menimbulkan tantangan yang perlu dihadapi perbankan
secara tanggap, untuk itu perbankan nasional perlu diperkuat dengan landasan
hukum.

Gencarnya pembentukan hukum perbankan saat ini adalah bentuk upaya


penyempurnaan terhadap hukum yang telah ada. Hal ini dimaksudkan agar perbankan
Indonesia memiliki landasan gerak yang kokoh sehingga perbankan nasional mampu
berperan dalam peningkatan taraf hidup rakyat banyak, juga mampu menjadi pelaku
pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya serta meningkatkan pertumbuhan
ekonomi dan stabilitas nasional.2

Siapa dan Bagaimana Legal Auditor Bank

Legal Audit dalam Bank juga merupakan salah satu ruang lingkup
pemeriksaan yang dilakukan oleh internal auditor dalam suatu bank, maka dalam
struktur organisasi dapat saja ia berlaku tidak independen terhadap
pelaksana/eksekutif yang tingkatannya berada diatasnya. Legal auditor bekerja untuk
keamanan asset/harta kekayaan organisasi/ bank, dengan jalan mengamankan aspek
yuridis semua transaksi yang dibuat oleh bank dengan pihak lainnya yang mana
berarti legal auditor adalah internal auditor yang berada pada top management yang
bekerja langsung untuk organisasi/bank.

Legal Auditor haruslah seorang Sarjana Hukum atau paling tidak menguasai
ilmu pengetahuan hukum perbankan. Legal Auditor adalah seorang professional yang
mempunyai kode etik dalam melakukan tugasnya. Karena pentingnya seorang
internal auditor maka The Institute of Internal Auditors atau IIA mengeluarkan kode

2
Djumhana. Mohammad. 1993. Hukum Perbankan di Indonesia. Citra Aditya : Bandung.

2
etik yang mana menjelaskan dan mengatur suatu hubungan yang unik antara manusia
yang dapat berbuat salah dan tidak sempurna, didalam suatu lingkungan organisasi,
Dan juga memberikan perhatian terhadap rasa kepercayaan manajemen dan loyalitas
pengawas internal.

Fungsi Legal Audit Dalam Pengawasan Intern Bank

Efektivitas pengawasan internal pada suatu bank merupakam tolok ukur di


dalam penilaian tingkat kesehatan bank tersebut terutama dalam kaitannya dengan
penilaian aspek manajemen. Rumusan dari pengawasan internal itu sendiri dalam arti
luas adalah pengendalian managerial untuk mengawasi kegiatan. perusahaan dengan
cara membandingkan antara realisasi kinerja terhadap rencana yang telah ditetapkan
serta menjamin bahwa seluruh sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan telah
digunakan secara efektif dan efisien. Sedangkan dalam arti sempit kegiatan
pengawasan itu adalah audit atau pemeriksaan yang dilakukan terhadap suatu objek
tertentu dan pada dasarnya merupakan bagian dari kegiatan pengawasan itu sendiri.3

Fungsi lembaga pengawasan intern secara umum ialah membantu manajemen


dalam mencapai tujuan perusahaaan secara efektif dengan memberikan analisis yang
akurat serta penilaian terhadap segala bentuk aktivitas bank. Untuk mekanisme fungsi
dimaksud maka aparat lembaga pengawasan intern mempunyai tugas sebagai berikut:

1. Melaksanakan monitoring dan pemeriksaan terhadap segala aktivitas bank.

2. Melakukan pengujian dan atau analisis terhadap data-data alat bukti dan
lainnya yang berkaitan dengan pemeriksaan tersebut secara optimal
menggunakan teknik-teknik pemeriksaan yang berlaku.

3. Melaporkan hasil pemeriksaan dan monitoring yang sudah lalu.

4. Memberikan saran dan pendapat secara objektif dan independent atas temuan
pemeriksaan .

Keberadaan legal audit adalah dalam rangka pengendalian intern, tidak hanya
sampai pengawasan intern, karena legal audit perlu tindak lanjut, tanpa tindak lanjut
jelas legal risk – indirect financial risk akan ditanggung oleh bank.

3
Rahman Hasanuddin, 2000. Legal Drafting, Citra Aditya Bakti : Bandung. (hlm 33)

3
Dalam rangka mencapai tujuan legal auditor yakni mengamankan asset/harta
kekayaan bank maka dapat dilalui dengan jalan :

1. Melakukan pemeriksaan hukum terhadap seluruh transaksi yang


dilakukan oleh bank dengan nasabahnya termasuk transaksi dengan
bank lain.

2. Melakukan pemeriksaan apakah transaksi yang dibuat tersebut tidak


bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang ada.

Lebih jelasnya fungsi legal audit adalah untuk mengetahui kekuatan/


kesempurnaan data dan fakta sebagai dokumen transaksi bank dengan nasabahnya
(pihak lain) agar bila di kemudian hari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bank
sudah memiliki alat bukti kuat, lengkap dan sempurna untuk menjalankan suatu
tindakan hukum bila dianggap perlu.

Pelaksanaan Legal Audit

A. Tahap Persiapan

1) Metode Pendekatan : Legal auditor perlu memperhatikan


aspek-aspek teknis seperti cara penetapan sampling, teknik
pengujian yang akan dilakukan, minimal bukti audit yang
diperlukan dan cara mendapatkannya serta memperhatikan
konsep materialitas

2) Penetapan Penugasan : Pemberitahuan kepada auditor sebagai


dasar untuk melakukan audit sebagaimana dalam rencana audit
tahunan bank dalam bentuk surat penugasan yang mana
menetapkan ketua dan anggota tim audit , waktu yang
diperlukan serta tujuan audit.

3) Pemberitahuan Audit : Dalam surat pemberitahuan


dikemukakan :

 Penegasan kembali wewenang Satuan Kerja Audit


Intern (SKAI) untuk melakukan audit sebagaimana
telah ditetapkan pada internal audit charter

4
 Rencana pertemuan awal kepada satuan kerja auditee,
untuk menjelaskan tujuan audit sekaligus mendapatkan
penjelasan dari kepala satuan kerja auditee mengenai
kegiatan dan fungsi dari satuan kerja auditee

 Susunan ketua dan Anggota tim

 Informasi yang diperlukan

4) Penelitian Pendahuluan : untuk mengenal dan memahami setiap


kegiatan atau fungsi auditee secara umum supaya audit dapat
difokuskan pada hal-hal yang strategis sehingga auditor dapat
merumuskan tujuan audit secara lebih jelas.

B. Penyusunan Program

Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan disusun program audit yaitu:

a) Merupakan dokumentasi prosedur bagi auditor intern dalam


mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasikan, dan
mendokumentasikan informasi selama pelaksanaan audit,
termasuk catatan untuk pemeriksaan yang akan datang.

b) Menyatakan tujuan audit

c) Menetapkan luas, tingkat, dan metodologi pengujian yang


diperlukan guna mencapai tujuan audit untuk tiap tahapan audit

d) Menetapkan jangka waktu pemeriksaan

e) Mengidentifikasi aspek-aspek teknis, risiko, proses,dan


transaksi yang harus diuji, termasuk pengolahan data elektronik

Untuk legal audit program disusun sesuai kronologis yuridis atas


suatu alasan mengapa dilakukan legal audit sehingga dapat diketahui
maksud dan tujuan legal audit dilakukan, kapan dan berapa lama legal
audit dilakukan, menetapkan ruang lingkup legal audit, dan sebagainya
yang berhubungan dengan pelaksanaan legal audit tersebut

C. Pelaksanaan Penugasan

5
Tahap pelaksanaan audit meliputi kegiatan mengumpulkan,
menganalisis, menginterpretasikan, dan mendokumentasikan bukti-
bukti audit serta informasi lain yang dibutuhkan sesuai prosedur yang
digariskan dalam program audit untuk mendukung hasil audit.

1) Proses Audit :

a) Mengumpulkan bukti dan informasi yang cukup,


kompeten dan relevan.

b) Memeriksa dan mengevaluasi semua bukti dan


informasi untuk mendapatkan temuan dan rekomendasi
audit .

c) Menetapkan metode dan teknik sampling yang dapat


dipakai dan dikembangkan sesuai keadaan.

d) Supervise atas proses pengumpulan bukti dan informasi


serta pengujian yang telah dilakukan

e) Mendokumentasikan kertas kerja audit

f) Membahas hasil audit dengan auditee

2) Bukti Audit : Semua data dan informasi yang dapat dipakai


oleh auditor untuk mendukung temuan auditnya.

3) Evaluasi Hasil Audit : Dalam mengevaluasi hasil audit, tim


harus menyusun kesimpulan pada tiap pelaksanaan program
audit, mengevaluasi hasil audit terhadap sasaran audit, dan
menyudun ikhtisar temuan dan rekomendasi hasil audit.

4) Supervisi : Harus dilaksanakan secara berkesinambungan


dimulai sejak awal hingga akhir penugasan audit. Kegiatannya
meliputi :

a) Penyiapan instruksi yang jelas kepada auditor intern dan


persetujuan program audit.

b) Pengawasan pelaksanaan program audit

6
c) Penetapan kecukupan kertas kerja audit

d) Penilaian mengenai akurasi, objektivitas, kelengkapan


dan ketepatan waktu dan laporan hasil audit.

e) Penilaian atas pencapaian tujuan dan sasaran audit.

D. Pelaporan Hasil Audit

Setelah selesai melakukan audit maka auditor intern berkewajiban


untuk menuangkan hasil audit tersebut dalam bentuk laporan
tertulis.laporan tersebut harus memenuhi standar pelaporan, memuat
kelengkapan materi dan melalui proses penyusunan yang baik.

a) Standar Pelaporan : Laporan harus tertulis, diuraikan secara


singkat dan mudah dipahami, harus didukung kertas kerja yang
memadai, laporan harus objektif berdasarkan fakta yang ada,
laporan harus konstruktif, laporan harus ditandatangani oleh
auditor intern dan atau kepala SKAI , harus dibuat dan
disampaikan tepat waktu. , dituangkan secara sitematis.

b) Materi Laporan meliputi : Tujuan, luas, dan pendekatan audit ,


temuan audit , kesimpulan auditor intern atas hasil audit,
pernyataan auditor intern bahwa audit telah dilakukan sesuai
dengan Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank
(SPFAIB) , rekomendasi auditor intern, tanggapan auditee,
hasil pengecekan komitmen auditee.

c) Informasi Khusus yang tidak Dicantumkan dalam Laporan


Hasil Audit : Informasi yang tidak dapat dicantumkan maka
dilaporkan secara khusus kepada direktur utama dan dewan
komisaris serta direktur kepatuhan

d) Proses Penyusunan Laporan mencakup : Kompilasi dan analisis


temuan audit, konfirmasi dengan auditee, diskusi dengan
kepala SKAI, diskusi dengan auditee, review laporan.

7
e) Penyampaian Laporan mencakup : Laporan SKAI kepad
Direktur Utama, Dewan Komisaris, Direktur Kepatuhan dan
Auditee dan Laporan Direktur Utaman dan Dewan Komisaris
kepada Bank Indonesia .

E. Tindak Lanjut Hasil Audit

1) Pemantauan atas Pelaksanaan Tindak Lanjut : agar dapat


mengetahui perkembangannya dan dapat diingat kepada auditee
apabila auditee belum dapat melaksanakan komitmen perbaikan
menjelang/sampai batas waktu yang dijanjikan.

2) Analisis Kecukupan Tindak Lanjut : Dari hasil pemantauan


pelaksanaan tindak lanjut, dilakukan analisis kecukupan atas
realisasi janji perbaikan yang telah di laksanakan auditee.

3) Pelaporan Tindak Lanjut : Tidak dilaksanakan oleh auditee,


maka SKAI memberikan laporan tertulis kepada Direktur
Utama dan Dewan Komisaris untuk tindakan lebih lanjut.

Tindak lanjut yang dilakukan atas rekomendasi legal auditor


sedapat mungkin memenuhi hal berikut :

 Meningkatkan kualitas dokumentasi transaksi dari segi yuridis

 Melengkapi alat bukti transaksi yang telah ada sebelumnya


pada bank

 Menghindari kemungkinan bank melakukan perbuatan


melawan hukum

 Agar nasabah/pihak lain memenuhi prestasinya sesuai dengan


transaksi/perjanjian yang disetujuinya dengan bank

 Meminimalkan legal risk pada bank

F. Dokumentasi dan Administrasi

1) Dokumentasi Kertas Kerja Audit

8
Dokumentasi yang dilakukan oleh legal auditor harus
memenuhi kriteria dokumentasi secara yuridis formal antara
lain; dapat menjadi alat bukti baik bagi legal auditor maupun
bagi bank. Dokumentasi juga harus benar-benar merupakan
suatu dokumen yang penting dan berharga bagi auditor dan
bank.

Fungsi kertas kerja audit sebagai pendukung utama dan


laporan hasil audit dan sarana dalam membantu proses
perancanaan, pelaksanaan, dan pemantauan hasil audit. Untuk
memperoleh gambaran apakah tujuan audit telah tercapai sesuai
yang direncakan , membantu pihak lain yang berkepentingan
dalam memeriksa hasil audit dan menilai kualitas SKAI dalam
melaksanakan tugasnya

2) Administrasi Audit meliputi ;

 Administrasi Komunikasi Audit

Seperti semua surat menyurat dan laporan yang


berkaitan dengan audit merupakan bentuk komunikasi
dengan auditee maupun pihak lain harus
diadministrasikan dengan baik.

 Administrasi Kelengkapan Pelaksanaan Audit

SKAI harus meneliti ulang kelengkapan administrasi


dari seluruh berkas kertas keja audit baik pada tahap
perencanaan, pelaksanaan, maupun pada tahap tindak
lanjut hasil audit.

DAFTAR PUSTAKA

9
Rahman, Hasanuddin. Legal Drafting. Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000.

Djumhana, Mohammad. Hukum Perbankan di Indonesia. Bandung: Citra Aditya,


1993.

Tjukria P.Tawaf,. Audit Intern Bank (Buku II). Jakarta: Salemba Empat, Cetakan
Pertama, 1999.

O.P Simorangkir. Dasar-dasar dan Mekanisme Perbankan. Jakarta: Aksara Persada,


Cetakan Ketujuh, 1989

10