Anda di halaman 1dari 15

A.

JUDUL PRAKTIKUM
ANGKA KECUKUPAN GIZI
B. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Untuk mengetahui cara menghitung kebutuhan energi
2. Untuk mengetahui cara menghitung kebutuhan protein, lemak, dan
karbohidrat.
C. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pangan dan gizi terkait sangat erat dengan upaya peningkatan
sumber daya manusia. Ketersediaan pangan yang cukup untuk seluruh
penduduk di suatu wilayah belum dapat digunakan sebagai jaminan
akan terhindarnya suatu penduduk dari masalah pangan dan gizi.
Karena selain ketersediaan juga perlu diperhatikan aspek pola
konsumsi atau keseimbangan kontribusi diantara jenis pangan yang
dikonsumsi, sehinga memenuhi standart gizi tertentu. Dalam hal ini
kecukupan energi dan protein dapat digunakan sebagai indikator untuk
melihat kondisi gizi masyarakat dan juga keberhasilan pemerintah
dalam pembangunan pangan, pertanian, kesehatan dan sosial ekonomi
secara terintegrasi.
Istilah Gizi berasasal dari Bahasa Arab “Giza” yang berarti zat
makanan, dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah nutrition yang
berarti bahan makanan atau zat gizi atau sering diartikan sebagai ilmu
gizi. Pengertian lebih luas bahwa gizi diartikan sebagai proses
organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal
melalui proses pencernaan, penyerapan, transportasi, penyimpanan,
metabolisme, dan pengeluaran zat gizi untuk mempertahankan
kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normal organ tubuh serta untuk
menghasilkan tenaga.
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan
yang dikonsumsi secara normal melalui proses degesti, absorpsi,
transportasi. Penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat yang
tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan, dan
fungsi dari organ-organ serta menghasilkan energi. Zat-zat gizi yang
dapat memberikan energi adalah karbohidrat, lemak, dan protein.
Oksidasi zat-zat gizi ini menghasilkan energi yang diperlukan tubuh
untuk melakukan kegiatan atau aktivitas. Ketiga zat ini merupakan zat
organik.
Secara umum fungsi zat makanan adalah sebagai berikut :
A. Memberi bahan untuk membangun tubuh dan
memelihara serta memperbaiki bagian-bagian tubuh
yang hilang dan rusak.
B. Memberi kekuatan atau tenaga, sehingga kita dapat
bergerak dan bekerja.
C. Memberi bahan untuk mengatur proses-proses dalam
tubuh.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka untuk
mendapatkan lima kualitas gizi yang baik makanan yang kita konsumsi
setiap hari harus mengandung zat-zat gizi, misalnya di Indonesia telah
lama masyarakatnya dianjurkan mengkonsumsi makanan empat sehat
lima sempurna yaitu :nasi, sayur, lemak yang tidak berlebihan, buah,
dan susu. Sehingga diharapkan dengan mengkonsumsi makanan yang
mengandung zat-zat gizi akan membantu dalam pertumbuhan dan
makanan yang mengandung zat-zat gizi akan membantu dalam
pertumbuhan dan perkembangan fisik serta energi yang cukup guna
melaksanakan kegiatan sehari-hari. Berdasarkan uraian di atas, maka
gizi merupakan suatu zat yang terdapat dalam makanan yang
mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral yang
penting bagi manusia untuk pertumbuhan dan perkembangan manusia,
memelihara proses tubuh dan sebagai penyedia energi untuk
melakukan aktivitas sehari-hari.
Makan makanan yang beraneka ragam sangat bermanfaat bagi
kesehatan. Makanan yang beraneka ragam yaitu makanan yang
mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan tubuh baik kualitas
maupun kuantitasnya, dalam pelajaran ilmu gizi biasa disebut triguna
makanan yaitu, makanan yang mengandung zat tenaga, zat pembangun,
dan zat pengatur. Apabila terjadi kekurangan atas kelengkapan salah
satu zat gizi tertentu pada suatu jenis makanan, akan dilengkapi oleh
zat gizi serupa dari makanan yang lain. Jadi makan makanan yang
beraneka ragam akan menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat
tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur.
2. Tinjauan Teori
Status gizi merupakan keadaan yang ditentukan oleh derajat
kebutuhan fisik terhadap energi dan zat-zat gizi yang diperoleh dari
asupan makanan yang dampak fisiknya dapat diukur. Status gizi
dibedakan menjadi status gizi kurang, status gizi baik dan status gizi
lebih. Berdasarkan pola konsumsi makan yang tidak sama dan
dipengaruhi oleh banyak hal akan menimbulkan perbedaan asupan
energi dan protein yang diterima (Waryana, 2010).
Konsumsi pangan merupakan faktor utama untuk memenuhi
kebutuhan gizi yang selanjutnya bertindak menyediakan energi bagi
tubuh, mengatur proses metabolisme, memperbaiki jaringan tubuh
serta untuk pertumbuhan. Tujuan fisiologis adalah upaya untuk
memenuhi keinginan makan (rasa lapar) atau untuk memperoleh zat-
zat gizi yang diperlukan tubuh. Tujuan psikologis adalah untuk
memenuhi kepuasan emosional atau selera, sedangkan tujuan
sosiologis adalah untuk memelihara hubungan manusia dalam
keluarga dan masyarakat (Lie, 2010).
Kecukupan gizi adalah rata-rata asupan gizi harian yang cukup
untuk memenuhi kebutuhan gizi bagi hampir semua (97,5%) orang
sehat dalam kelompok umur, jenis kelamin dan fisiologis tertentu.
Nilai asupan harian zat gizi yang diperkirakan dapat memenuhi
kebutuhan gizi mencakup 50% orang sehat dalam kelompok umur,
jenis kelamin dan fisiologis tertentu disebut dengan kebutuhan gizi.
Kecukupan energi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu umur, jenis
kelamin, ukuran tubuh, status fisiologis, kegiatan, efek termik, iklim
dan adaptasi. Untuk kecukupan protein dipengaruhi oleh faktor-faktor
umur, jenis kelamin, ukuran tubuh, status fisiologi, kualitas protein,
tingkat konsumsi energi dan adaptasi (Lie, 2010).
Apabila tubuh kekurangan zat gizi, khususnya energi dan
protein, pada tahap awal akan meyebabkan rasa lapar dan dalam
jangka waktu tertentu berat badan akan menurun yang disertai dengan
menurunnya produktivitas kerja. Kekurangan zat gizi yang berlanjut
akan menyebabkan status gizi kurang dan gizi buruk. Apabila tidak
ada perbaikan konsumsi energi dan protein yang mencukupi, pada
akhirnya tubuh akan mudah terserang penyakit infeksi yang
selanjutnya dapat menyebabkan kematian (Hardinsyah dan Martianto,
2012).
Pendapatan mempengaruhi daya beli terhadap makanan.
Semakin baik pendapatan maka akan semakin baik pula makanan yang
dikonsumsi baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Sebaliknya,
pendapatan yang kurang mengakibatkan menurunnya daya beli
terhadap makanan secara kualitas maupun kuantitas. Penduduk yang
berpendapatan cukup masih banyak yang tidak memanfaatkan bahan
makanan bergizi dalam menyediakan makanan keluarga. Hal ini
disebabkan karena :
a. Kurangnya pengetahuan akan bahan makanan yang
bergizi.
b. Pantangan-pantangan secara tradisional masih
diberlakukan.
c. Atau keengganan untuk mengkonsumsi bahan makanan
murah walaupun mereka tahu banyak mengandung gizi
(Kartasapoetra dan Marsetyo, 2010)
Kebiasaan makan yang buruk, berpangkal pada kebiasaan makan
keluarga yang tidak baik sudah tertanam sejak kecil akan terus
menerus terjadi pada usia remaja. Remaja makan seadanya tanpa
mengetahui kebutuhan akan berbagai zat gizi dan dampak
tidakdipenuhinya kebutuhan zat gizi tersebut terhadap kesehatan
(Budiyanto, 2010).
Kebutuhan zat gizi (nutrient requirement) menggambarkan
banyaknya zat gizi minimal yang diperlukan oleh setiap orang agar
dapat hidup sehat. Kebutuhan gizi antar individu bervariasi, ditentukan
atau dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, ukuran tubuh (berat badan
dan tinggi badan), keadaan fisiologis (hamil dan menyusui), aktivitas
fisik serta metabolisme tubuh. Oleh karena itu, jumlah zat gizi yang
diperoleh melalui konsumsi pangan harus mencukupi kebutuhan tubuh
untuk melakukan kegiatan fisik internal dan eksternal, pertumbuhan
bagi usia bayi, balita, anak, dan remaja, atau untuk aktivitas dan
pemeliharaan tubuh bagi orang dewasa dan lanjut usia. Selain itu,
kebutuhan gizi lebih menggambarkan banyaknya zat gizi minimal
yang diperlukan oleh masing-masing individu, jadi ada yang tinggi dan
ada pula yang rendah, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor antara
lain genetika (Sumarwan,2010).
Anak-anak seyogyanya diberi kesempatan untuk memilih
makanan sendiri yang disukai dengan pengawasan seperlunya dari
orang tua. Kewajiban orang tua adalah menjamin hak anak-anak untuk
memeperoleh makanan secara cukup dan berkualitas. Dengan disertai
pola asuh yang baik, anak-anak akan tumbuh dan berkembang secara
optimal menjadi generasi yang sehat dan cerdas (Khomsan,2011).
Kecukupan Gizi setiap rumah tangga berbeda-beda. Perbedaan
ini dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor antara lain :
1. Pendapatan Rumah Tangga
Semakin tinggi pendapatan maka daya beli seseorang akan
meningkat dan membeli beragam makanan.
2. Tingkat Pendidikan Ibu Rumah Tangga
Pendidikan yang rendah akan mencerminkan jenis pekerjaan
dan pendapatan serta daya beli konsumen yang rendah
sehingga konsumen dengan pendidikan rendah cendrung
mengkonsumsi pangan dalam jumlah yang sedikit.
3. Jumlah Anggota keluarga
Rumah tangga dengan jumlah anggota keluarga yang lebih
banyak akan membeli dan mengkonsumsi pangan yang lebih
banyak dibandingkan dengan rumah tangga dengan jumlah
anggota keluarga yang sedikit.
4. Usia Ibu Rumah Tangga
Usia akan mempengaruhi kemampauan atau pengalaman yang
dimiliki orang tua dalam pemberian pangan dan pemenuhan
kecukupan pangan (Nursalam,2011).
D. HASIL PRAKTIKUM
1) Identitas Responden
 Nama : Nurul Arifah
 Usia : 19 tahun
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Berat Badan : 44,3 kg
 Tinggi Badan : 161 cm
 Aktivitas : Ringan
2) Hasil Pengukuran dan Dokumentasi
1. Tinggi Badan 161 cm

2. Berat Badan 44,3 kg


3) Hasil Perhitungan
 IMT :
𝐵𝐵 (𝑘𝑔)
IMT = [𝑇𝐵 (𝑚)] 2
44,3
= (1,61) 2

= 17,1 kg/m 2 (kurus / kekurangan BB


tingkat ringan)
BB Ideal (Pr) = [TB-100] – [15%(TB-100)]
= [161-100] – [(15%(161-100)]
= 61 – 9,15
= 51,85 kg
= 52 kg
 AMB / BMR :
AMB / BMR = 65,5 + 9,6 (52) + 1,8 (161) – 4,7 (19)
= 65,5 + 499,2 + 289,8 – 89,3
= 765,2
 Kebutuhan Energi :
Energi = AMB x Aktivitas Fisik (Ringan)
= 765,2 x 1,55
= 1.186,06 kkal
= 1.186 kkal
 Kebutuhan Protein :
Protein = 10-15% x 1.186
= (10%*1.186) – (15%*1.186)
= 118,6 – 177,9 gr
 Kebutuhan Lemak :
Lemak = 10-25% x 1.186
= (10%*1.186) – (25%*1.186)
= 118,6 – 296,5 gr
 Kebutuhan Karbohidrat :
Karbohidrat = 60-75% x 1.186
= (60%*1.186) – (75%*1.186)
= 711,6 – 889,5 gr
E. PEMBAHASAN
 IMT
Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI)
merupakan alat atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi
orang dewasa, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan
kelebihan berat badan. Berat badan kurang dapat meningkatkan resiko
terhadap penyakit infeksi, sedangkan berat badan lebih akan
meningkatkan resiko terhadap penyakit degeneratif. Oleh karena itu,
mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat
mencapai usia harapan hidup yang lebih panjang.
Dengan IMT akan diketahui apakah berat badan seseorang
dinyatakan normal, kurus atau gemuk. Penggunaan IMT hanya untuk
orang dewasa berumur > 18 tahun dan tidak dapat diterapkan pada
bayi, anak, remaja, ibu hamil, dan olahragawan.
Batas ambang IMT ditentukan dengan merujuk ketentuan
FAO/WHO, yang membedakan batas ambang untuk laki-laki dan
perempuan. Disebutkan bahwa batas ambang normal untuk laki-laki
adalah: 20,1–25,0; dan untuk perempuan adalah : 18,7-23,8. Untuk
kepentingan pemantauan dan tingkat defesiensi kalori ataupun tingkat
kegemukan, lebih lanjut FAO/WHO menyarankan menggunakan satu
batas ambang antara laki-laki dan perempuan. Ketentuan yang
digunakan adalah menggunakan ambang batas laki-laki untuk kategori
kurus tingkat berat dan menggunakan ambang batas pada perempuan
untuk kategorigemuk tingkat berat. Untuk kepentingan Indonesia,
batas ambang dimodifikasi lagi berdasarkan pengalam klinis dan hasil
penelitian dibeberapa negara berkembang. Pada akhirnya diambil
kesimpulan, batas ambang IMT untuk Indonesia adalah sebagai berikut:

Kategori IMT

Kurus Kekurangan berat badan tingkat berat < 17,0

Kekurangan berat badan tingkat ringan 17,0 – 18,4

Normal 18,5 – 25,0

Gemuk Kelebihan berat badan tingkat ringan 25,1 – 27,0

Kelebihan berat badan tingkat berat > 27,0

Jika seseorang termasuk kategori :

1. IMT < 17,0 : keadaan orang tersebut disebut kurus dengan kekurangan
berat badan tingkat berat atau Kurang Energi Kronis (KEK) berat.
2. IMT 17,0 – 18,4 : keadaan orang tersebut disebut kurus dengan
kekurangan berat badan tingkat ringan atau KEK ringan.

Responden memiliki IMT 17,1 kg/𝑚2 , jadi termasuk kurus atau


kekurangan berat badan tingkat ringan. Maka BB yang digunakan untuk
menghitung AMB / BMR menggunakan BB Ideal Nurul yaitu 52 kg.

 Kebutuhan Energi
Kebutuhan gizi juga sangat penting untuk menjaga
keseimbangan tubuh yang baik. Mulai dari energi yang harus
dibutuhkan untuk metabolisme tubuh maupun untuk aktivitas sehari-
hari. Energi tersebut berasal dari makanan yang dikonsumsi meliputi
karbohidrat, lemak, protein, vitamin maupun mineral. Makanan yang
baik dikonsumsi adalah makanan yang beragam, bergizi dan
berimbang.
Kebutuhan energi remaja dipengaruhi oleh aktivitas,
metabolisme basal dan peningkatan kebutuhan untuk menunjang
percepatan tumbuh-kembang masa remaja. Metabolisme basal (MB)
sangat berhubungan erat dengan jumlah massa tubuh tanpa lemak
(lean body mass) sehingga MB pada lelaki lebih tinggi daripada
perempuan yang komposisi tubuhnya mengandung lemak lebih
banyak. Karena usia saat terjadinya percepatan tumbuh sangat
bervariasi, maka perhitungan kebutuhan energi berdasarkan tinggi
badan (TB) akan lebih sesuai.
Percepatan tumbuh pada remaja sangat rentan terhadap
kekurangan energi dan nutrien sehingga kekurangan energi dan nutrien
kronik pada masa ini dapat berakibat terjadinya keterlambatan
pubertas dan atau hambatan pertumbuhan.
 Kebutuhan Protein
Kebutuhan protein pada remaja ditentukan oleh jumlah protein
untuk rumatan masa tubuh tanpa lemak dan jumlah protein yang
dibutuhkan untuk peningkatan massa tubuh tanpa lemak selama
percepatan tumbuh. Kebutuhan protein tertinggi pada saat puncak
percepatan tinggi terjadi (perempuan 11-14 tahun, lelaki 15-18 tahun)
dan kekurangan asupan protein secara konsisten pada masa ini dapat
berakibat pertumbuhan linear berkurang, keterlambatan maturasi
seksual serta berkurangnya akumulasi massa tubuh tanpa lemak.
 Kebutuhan Lemak
Tubuh manusia memerlukan lemak dan asam lemak esensial
untuk pertumbuhan dan perkembangan normal. Pedoman makanan di
berbagai negara termasuk Indonesia (gizi seimbang), menganjurkan
konsumsi lemak tidak lebih dari 30% dari energi total dan tidak lebih
dari 10% berasal dari lemak jenuh.Sumber utama lemak dan lemak
jenuh adalah susu, daging (berlemak), keju, mentega / margarin, dan
makanan seperti cake, donat, kue sejenis dan es krim, dan lain-lain.
 Kebutuhan Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber energi utama dalam makanan,
selain juga sebagai sumber serat makanan. Jumlah yang dianjurkan
adalah 50% atau lebih dari energi total serta tidak lebih dari 10-25%
berasal dari karbohidrat sederhana seperti sukrosa atau fruktosa. Di
Amerika Serikat, konsumsi minuman ringan (soft drinks) memasok
lebih dari 12% kalori yang berasal dari karbohidrat dan konsumsinya
meningkat 3 kali lipat pada dua dekade terakhir ini. Penelitian Josep di
Jakarta (2010) pada remaja siswa SMP didapatkan bahwa siswa yang
mengonsumsi minuman bersoda 3-4 kali per minggu berisiko untuk
terjadi gizi lebih.
Dampak jika kekurangan zat gizi yang dikonsumsi :
a. Energi
Dampak KEP ringan bila tidak ditangani maka status gizi akan
lebih buruk dan dapat menyebabkan penyakit seperti Marasmus,
dan Kwashiokor.
b. Protein
Dampak yang dapat ditimbulkan dalam kekurangan konsumsi
protein beberapa diantarnya adalah Rambut rontok , Gangguan
fungsi otak dan kesehatan mental.
c. Lemak
Akibat yang dapat ditimbulkan jika kekurangan lemak yakni
beberapa hal yang dapat terjadi ialah mudah depresi , beresiko
mengalami kekurangan berbagai vttamin , sering merasa dingin.
D. Karbohidrat
Akibat yang ditimbulkan jika kekurangan karbohidrat yaitu lelah
dan sulit konsentrasi, kelelahan, lemas, pusing, sakit kepala, rasa
lapar, dan kebingungan, ketosis, penurunan berat badan yang
tidak sehat, sistem imun yang tidak bekerja semestinya, dehidrasi.

F. KESIMPULAN
1. Angka Kecukupan Gizi (AKG) adalah tingkat konsumsi gizi esensial
yang dinilai mampu untuk mencukupi kebutuhan gizi seseorang yang
dianggap sehat atau cukup disuatu negara.
2. Angka Kecukupan Gizi untuk orang Indonesia dibuat berdasarkan
pada patokan berat badan dan tinggi badan dan dikelompokkan
berdasarkan pada umur, patokan berat badan dan tinggi badan dan
dikelompokkan berdasarkan pada umur, gender, dan aktivitas fisik
yang ditetapkan secara berkala melalui survey penduduk.
3. Responden memiliki IMT 17,1 kg/𝑚2 yang termasuk dalam kategori
kurus / kekurangan BB tingkat ringan.
4. Responden memiliki AMB sebesar 756,2
5. Kebutuhan energi responden sebesar 1.186 kkal, kebutuhan protein
sebesar 118,6 – 177,9 gr, kebutuhan lemak sebesar 118,6 – 296,5 gr
dan kebutuhan karbohidrat sebesar 711,6 – 899,5 gr
G. DAFTAR PUSTAKA
Hardiansyah & Martianto. 2012. Penuntun Praktikum Penilaian Status Gizi
Antropometri, Biokimia, Survei Konsumsi Pangan. Makassar: Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin.
Kartasapoetra, G & Marsetyo. 2010. Ilmu Gizi: Korelasi Gizi, Kesehatan, dan
Produktivitas Kerja. Jakarta : Rineka Cipta.
Khomsan. 2011 . Dasar Ilmu Gizi . Malang : UMM Press.
Lie . 2010. Gizi Atlet Cepat 100 Meter Pelajar Putra Indonesia. Jurnal Ilmiah
SPIRIT, ISSN: 1411-8319 Vol. 10 No. 2, Tahun 2010.
Nursalam . 2011 . Kecukupan Gizi . Yogyakarta : UGM Press.
Sumarwan, 2010. Perilaku Konsumen Teori dan Penerapannya dalam
Pemasaran. Bogor : Ghalia Indonesia.
Waryana. 2010. Gizi Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka Rihama.
Budiyanto. 2010. Gizi dan Kesehatan. Cetakan pertama. Malang: UMM Press.