Anda di halaman 1dari 17

DAFTAR ISI

BAB I ...................................................................................................................................................... 2
PENDAHULUAN .................................................................................................................................. 2
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................................ 2
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................... 2
1.3 Tujuan ..................................................................................................................................... 2
1.4 Sistematika Penulisan ............................................................................................................. 3
BAB II..................................................................................................................................................... 4
PEMBAHASAN ..................................................................................................................................... 4
2.1 Teori Pertumbuhan Ekonomi Regional................................................................................... 4
2.1.1 Teori Basis Ekspor .......................................................................................................... 4
2.1.2 Teori Pertumbuhan Jalur Cepat....................................................................................... 7
2.1.3 Teori Pusat Pertumbuhan ................................................................................................ 7
2.1.4 Teori Neoklasik ............................................................................................................... 9
2.1.5 Model Kumulatif Kausatif ............................................................................................ 10
2.1.6 Model Interregional....................................................................................................... 11
2.2 Faktor Penentu Pertumbuhan Wilayah ................................................................................. 12
2.3 Studi Kasus ........................................................................................................................... 13
BAB III ................................................................................................................................................. 16
PENUTUP ............................................................................................................................................ 16
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................................... 16
3.2 Lesson learned ...................................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................... 17

Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Page 1


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut Prof. Paul Anthony Samuelson, ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari
tentang manusia dalam kegiatan hidup mereka sehari-hari untuk mendapatkan dan menikmati
kehidupan. Ekonomi juga merupakan salah satu ilmu yang mempelajari tentang aktivitas
manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, konsumsi terhadap barang dan jasa.
Dalam ilmu ekonomi terdapat banyak cabang ilmu, salah satu cabang ilmunya adalah ilmu
ekonomi regional atau ilmu ekonomi wilayah.
Ekonomi wilayah adalah cabang ilmu ekonomi yang menekankan aspek ruang ke
dalam analisis ekonomi sehingga kesimpulan yang diperoleh berbeda dan lebih tajam. Ilmu
ekonomi wilayah merupakan campuran antara ilmu ekonomi tradisional dengan teori lokasi.
Ekonomi wilayah juga memasukkan unsur perbedaan potensi suatu wilayah dengan wilayah
lainnya. Ilmu ekonomi wilayah tidak membahas kegiatan individual melainkan menganalisis
suatu wilayah secara keseluruhan dan bagaimana cara mengatur suatu kebijakan yang dapat
mempercepat pertumbuhan ekonomi wilayah.
Pertumbuhan ekonomi wilayah merupakan hal yang penting dalam ilmu ekonomi
wilayah karena pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indikator utama dalam pembangunan
ekonomi di suatu negara atau wilayah dan juga memiliki implikasi pada berbagai kebijakan
dalam pembangunan ekonomi. Tanpa pertumbuhan ekonomi tidak akan ada peningkatan
kesejahteraan, kesempatan kerja, produktivitas, dan distribusi pendapatan.
Untuk dapat menciptakan pertumbuhan wilayah yang baik, maka perlu dilakukan
identifikasi terhadap faktor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi. Faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi beragam, mulai dari sumber daya alam, hingga ilm
pengetahuan dan teknologi.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dari makalah ini adalah bagaimana pengaruh dan implikasi faktor
pertumbuhan wilayah terhadap permasalahan ekonomi wilayah ?

1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor pertumbuhan
wilayah dan implikasinya terhadap permasalahan ekonomi wilayah.

Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Page 2


1.4 Sistematika Penulisan
Sistematika Pembahasan dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab 1 pendahuluan berisi tentang latar belakang pembuatan makalah yang
diawali dengan penjelasan umum kemudian penjelasan yang lebih khusus atau spesifik,
selanjutnya dijelaskan pula tujuan atau maksud dari dibuatnya makalah ini.
BAB II PEMBAHASAN
Lalu pada bab 2 berisi tentang pembahasan yang menjelaskan materi tentahg beserta
studi kasus yang membahas lebih mendalam mengenai kedua teori tersebut.
BAB III PENUTUP
Bab 3 merupakan bab yang berisikan kesimpulan dari setiap subbab yang telah
dijelaskan sebelumnya. Kesimpulan tersebut haruslah menjawab dari tujuan dibentuknya
makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Daftar pustaka berisikan sumber dari setiap data yang telah diperoleh pada laporan
ini. Sumber didapatkan dari survei yang telah dilakukan baik dari survei primer maupun
survei sekunder.

Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Page 3


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Teori Pertumbuhan Ekonomi Regional
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan
masyarakatnya mengelola sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara
pemerintah daerah dan sektor swasta untuk menciptakan lapangan kerja baru dan merangsang
perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut (Arsyad,
1999 : 108). Sedangkan pembangunan regional sendiri pada dasarnya adalah berkenaan
dengan tingkat dan perubahan selama kurun waktu tertentu suatu gugus variabel-variabel,
seperti produksi, penduduk, angkatan kerja, rasio modal tenaga, dan imbalan bagi faktor
(factor returns) dalam daerah di batasi secara jelas. Laju pertumbuhan dari daerah-daerah
biasanya di ukur menurut output atau tingkat pendapatan.
Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah pertambahan pendapatan masyarakat secara
keseluruhan yang terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah (value
added) yang terjadi (Tarigan, 2005 : 46). Sementara pertumbuhan regional adalah produk dari
banyak faktor, sebagian bersifat intern dan sebagian lagi bersifat ekstern dan sosio politik.
Fakto-faktor yang berasal dari daerah itu sendiri meliputi distribusi faktor produksi seperti
tanah, tenaga kerja, modal sedangkan salah satu penentu ekstern yang penting adalah tingkat
permintaan dari daerah-daerah lain terhadap komoditi yang dihasilkan daerah tersebut.
Glasson (1997) menjelaskan bahwa region dapat diklasifikasikan menjadi daerah
homogeny (homogeneous region), daerah administrasi (administrative region) dan daerah
nodal (nodal region). Pertumbuhan ekonomi daerah yang berbeda-beda intensitasnya akan
menyebabkan terjadinya ketimpangan atau disparitas ekonomi dan ketimpangan pendapatan
antar daerah. Myrdal (1968) dan Friedman (1976) menyebutkan bahwa pertumbuhan atau
perkembangan daerah akan menuju kepada divergensi. Ada beberapa teori pembangunan dan
pertumbuhan ekonomi regional yang lazim dikenal, diantaranya : (1) Teori Basis Ekspor; (2)
Teori Pertumbuhan Jalur Cepat; (3) Teori Pusat Pertumbuhan; (4) Teori Neoklasik; (5) Model
Kumulatif Kausatif; dan (6) Model Interregional.

2.1.1 Teori Basis Ekspor


Teori Basis Ekspor (Export Base Theory) dipelopori oleh Douglas C. North (1995)
dan kemudian dikembangkan oleh Tiebout (1956). Teori ini membagi sektor produksi atau
jenis pekerjaan yang terdapat di dalam suatu wilayah atas pekerjaan basis (dasar) dan
pekerjaan service (non-basis). Kegiatan basis adalah kegiatan yang bersifat exogenous artinya

Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Page 4


tidak terikat pada kondisi internal perekonomian wilayah tersebut dan sekaligus berfungsi
mendorong tumbuhnya jenis pekerjaan lainnya. Sedangkan kegiatan non-basis adalah
kegiatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah itu sendiri. Dari aktivitas yang
telah digolongkan menjadi dua sektor maka kegiatan basis merupakan kegiatan yang
melakukan aktivitas yang berorientasi ekspor (barang dan jasa) ke luar batas wilayah
perekonomian yang bersangkutan.
Kegiatan non-basis adalah kegiatan yang menyediakan barang dan jasa yang
dibutuhkan oleh masyarakat yang berada di dalam batas wilayah perekonomian yang
bersangkutan. Luas lingkup produksi dan pemasarannya adalah bersifat lokal. Aktivitas basis
memiliki peranan sebagai penggerak utama (primer mover) dalam pertumbuhan suatu
wilayah. Semakin besar ekspor suatu wilayah ke wilayah lain akan semakin maju
pertumbuhan wilayah tersebut, dan demikian sebaliknya. Setiap perubahan yang terjadi pada
sektor basis akan menimbulkan efek ganda (multiplier effect) dalam perekonomian regional.
Teori basis ekspor menggunakan dua asumsi yaitu, asumsi pokok atau yang utama
bahwa ekspor adalah satu-satunya unsur eksogen (independent) dalam pengeluaran, artinya
semua unsur pengeluaran lain terikat (dependent) terhadap pendapatan. Secara tidak langsung
hal ini berarti diluar pertambahan alamiah, hanya peningkatan ekspor saja yang dapat
mendorong peningkatan pendapatan daerah karena sektor lain terikat oleh peningkatan
pendapatan daerah. Sektor lain hanya meningkat apabila pendapatan daerah secara
keseluruhan meningkat. Asumsi kedua adalah bahwa fungsi pengeluaran dan fungsi impor
bertolak dari titik nol sehingga tidak akan berpotongan.
Teori pertumbuhan berbasis ekspor atau teori/model basis ekonomi tertanam dalam
gagasan bahwa perekonomian lokal harus menambah aliran uang masuknya agar tumbuh dan
satu-satunya cara yang efektif untuk menambah aliran uang masuk adalah menambah ekspor
(Blair, 1991; Hoover, 1984). Model basis ekspor adalah model dimana penentu satu-satunya
dari pertumbuhan ekonomi adalah ekspor. Berdasar model tipe Keynes diatas, dibangun
model basis ekspor yang mencerminkan perekonomian terbuka, di mana ekspor adalah satu-
satunya faktor eksogen. Bila ada pengeluaran otonom, misalnya, konsumsi maka pendapatan
regional tetap ada meskipun ekspor adalah nol (Ghali, 1977).
Teori basis ekspor adalah bentuk model pendapatan yang paling sederhana. Teori ini
menyederhanakan suatu sistem regional menjadi dua bagian yaitu daerah yang bersangkutan
dan daerah-daerah lainnya. Masyarakat di dalam satu wilayah dinyatakan sebagai suatu
sistem sosial ekonomi. Sebagai suatu sistem, keseluruhan masyarakat melakukan
perdagangan dengan masyarakat lain di luar batas wilayahnya. Faktor penentu (determinan)

Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Page 5


pertumbuhan ekonomi dikaitkan secara langsung kepada permintaan akan barang dari daerah
lain di luar batas masyarakat ekonomi regional. Pertumbuhan industri yang menggunakan
sumber daya lokal termasuk tenaga kerja dan material (bahan) untuk komoditas ekspor, akan
meningkatkan kesempatan kerja dan kesejahteraan masyarakat.
Beberapa hal penekanan dalam model teori basis ekspor yaitu, antara lain :
a. Bahwa suatu daerah tidak harus menjadi daerah industri untuk dapat tumbuh dengan cepat,
sebab faktor penentu pertumbuhan daerah adalah keuntungan komparatif (keuntungan
lokasi) yang dimiliki oleh daerah tersebut;
b. Pertumbuhan ekonomi suatu daerah akan dapat dimaksimalkan bila daerah yang
bersangkutan memanfaatkan keuntungan komparatif yang dimiliki menjadi kekuatan basis
ekspor;
c. Ketimpangan antar daerah tetap sangat besar dipengaruhi oleh variasi potensi masing-
masing daerah.
Model teori basis ini adalah sederhana, sehingga memiliki kelemahan-kelemahan
antara lain sebagai berikut :
1. Menurut Richardson, besarnya basis ekspor adalah fungsi terbalik dari besarnya suatu
daerah. Artinya, makin besar suatu daerah maka ekspornya akan semakin kecil apabila
dibandingkan dengan total pendapatan.
2. Ekspor jelas bukan satu-satunya faktor yang dapat meningkatkan pendapatan daerah. Ada
banyak unsur lain yang dapat meningkatkan pendapatan daerah seperti: pengeluaran atau
bantuan pemerintah pusat, investasi, dan peningkatan produktivitas tenaga kerja.
3. Dalam melakukan studi atas suatu wilayah, multiplier basis yang diperoleh adalah rata-
ratanya bukan perubahannya. Menggunakan multiplier basis rata-rata untuk proyeksi
seringkali memberikan hasil yang keliru apabila nilai multiplier dari tahun ke tahun.
4. Beberapa pakar berpendapat bahwa apabila pengganda basis digunakan sebagai alat
proyeksi maka masalah time lag (masa tenggang) harus diperhatikan.
5. Ada kasus dimana suatu daerah yang tetap berkembang pesat meski ekspornya relatif kecil.
Pada umumnya hal ini dapat terjadi pada daerah yang terdapat banyak ragam kegiatan dan
satu kegiatan saling membutuhkan dari produk kegiatan lainnya. Harry W. Richardson dalam
bukunya Elements of Regional Economics (Tarigan, 2005 : 56) memberi uraian sebagai
berikut:
Yi = (Ei – Mi) + Xi
Dimana :
Yi = pendapatan daerah Ei = pengeluaran daerah

Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Page 6


Mi = impor daerah Xi = ekspor daerah

2.1.2 Teori Pertumbuhan Jalur Cepat


Teori pertumbuhan jalur cepat (turnpike) diperkenalkan oleh Samuelson pada tahun
1955 (Tarigan, 2005 : 54). Inti dari teori ini adalah menekankan bahwa setiap daerah perlu
mengetahui sektor ataupun komoditi apa yang memiliki potensi besar dan dapat
dikembangkan dengan cepat, baik karena potensi alam maupun karena sektor itu memiliki
competitive advantage untuk dikembangkan. Artinya, dengan kebutuhan modal yang sama
sektor tersebut dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar, dapat berproduksi dalam
waktu relatif singkat dan sumbangan untuk perekonomian juga cukup besar.
Agar pasarnya terjamin, produk tersebut harus bisa diekspor (keluar daerah atau luar
negeri). Perkembangan sektor tersebut akan mendorong sektor lain turut berkembang
sehingga perekonomian secara keseluruhan akan tumbuh. Mensinergikan sektor-sektor
adalah membuat sektor-sektor saling terkait dan saling mendukung. menggabungkan
kebijakan jalur cepat dan mensinergikannya dengan sektor lain yang terkait akan mampu
membuat perekonomian tumbuh cepat. Selain itu perlu diperhatikan pandangan beberapa
ahli ekonomi (Schumpeter dan ahli lainnya) yang mengatakan bahwa kemajuan teknologi
sangat ditentukan oleh jiwa usaha (entrepreneurship) dalam masyarakat. Jiwa usaha berarti
pemilik modal mampu melihat peluang dan mengambil resiko untuk membuka lapangan
kerja baru untuk menyerap angkatan kerja yang bertambah setiap tahunnya.

2.1.3 Teori Pusat Pertumbuhan


Teori Pusat Pertumbuhan (Growth Poles Theory) adalah satu satu teori yang dapat
menggabungkan antara prinsip-prinsip konsentrasi dengan desentralisasi secara sekaligus.
Dengan demikian teori pusat pertumbuhan merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan
pembangunan regional yang saling bertolak belakang, yaitu pertumbuhan dan pemerataan
pembangunan ke seluruh pelosok daerah. Selain itu teori ini juga dapat menggabungkan
antara kebijaksanaan dan program pembangunan wilayah dan perkotaan terpadu.
Teori ini dipelopori oleh Francois Perroux Ahli ekonomi regional bekebangsaan
Perancis pada sekitar tahun 1955. Teori Perroux berlandaskan pada Teori Inovasi ciptaan
Shcumpeter, dimana Shcumpeter memfokuskan pada peran “Inovasi” (kewiraswastaan) di
dalam meningkatkan pertumbuhan atau pembangunan ekonomi. Konsep Growth Pole
menurut Perroux: berdasarkan fakta dasar perkembangan keruangan (spasial), pertumbuhan
tidak terjadi di sembarang tempat dan juga tidak terjadi secara serentak, pertumbuhan itu

Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Page 7


terjadi pada titik-titik atau kutub-kutub perkembangan, dengan intensitas yang berubah-ubah;
dan pertumbuhan itu menyebar sepanjang saluran-saluran yang beraneka ragam terhadap
keseluruhan perekonomian.
Sedangkan menurut Boudeville (ahli ekonomi Prancis), pusat pertumbuhan adalah
sekumpulan fenomena geografis dari semua kegiatan yang ada di permukaan Bumi. Suatu
kota atau wilayah kota yang mempunyai industri populasi yang kompleks, dapat dikatakan
sebagai pusat pertumbuhan. Industri populasi merupakan industri yang mempunyai pengaruh
yang besar (baik langsung maupun tidak langsung) terhadap kegiatan lainnya. Dalam suatu
wilayah, ada penduduk atau kegiatan yang terkosentrasi pada suatu tempat, yang disebut
dengan berbagai istilah seperti : kota, pusat perdagangan, pusat industri, pusat pertumbuhan,
simpul distribusi, pusat pemukiman, atau daerah modal. Sebaliknya, daerah di luar pusat
konsentrasi dinamakan : daerah pedalaman, wilayah belakang (hinterland), daerah pertanian,
atau daerah pedesaan. Keuntungan berlokasi pada tempat konsentrasi atau terjadinya
agglomerasi disebabkan faktor skala ekonomi (economic of scale) atau agglomeration
(economic of localization) (Tarigan, 2005 : 159).
Economic of scale adalah keuntungan karena dalam berproduksi sudah berdasarkan
spesialisasi, sehingga produksi menjadi lebih besar dan biaya per unitnya menjadi lebih
efisien. Economic of agglomeration adalah keuntungan karena di tempat tersebut terdapat
berbagai keperluan dan fasilitas yang dapat digunakan untuk memperlancar kegiatan
perusahaan, seperti jasa perbankan, asuransi, perbengkelan, perusahaan listrik, perusahaan air
bersih, tempat-tempat pelatihan keterampilan, media untuk mengiklankan produk, dan lain
sebagainya. Hubungan antara kota (daerah maju) dengan daerah lain yang lebih terbelakang
dapat dibedakan sebagai berikut :
(1) Generatif : hubungan yang saling menguntungkan atau saling mengembangkan antara
daerah yang lebih maju dengan daerah yang ada di belakangnya
(2) Parasitif : hubungan yang terjadi dimana daerah kota (daerah yang lebih maju) tidak
banyak membantu atau menolong daerah belakangnya, dan bahkan bisa mematikan berbagai
usaha yang mulai tumbuh di daerah belakangnya
(3) Enclave (tertutup) : dimana daerah kota (daerah yang lebih maju) seakan-akan terpisah
sama sekali dengan daerah sekitarnya yang lebih terbelakang. Pusat pertumbuhan mempunyai
empat ciri antara lain
a. Adanya hubungan internal dari berbagai macam kegiatan
Hubungan internal sangat menentukan dinamika sebuah kota. Ada keterkaitan satu sektor
dengan sektor lainnya sehingga apabila ada satu sektor yang tumbuh akan mendorong

Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Page 8


sektor lain karena saling terkait. Kehidupan kota menjadi satu irama dengan berbagai
komponen kehidupan kota dan menciptakan synergi untuk saling mendukung terciptanya
pertumbuhan.
b. Ada efek penggandaan (multiplier effect)
Keberadaan sektor-sektor yang saling terkait dan saling mendukung akan menciptakan
efek penggandaan. Permintaan akan menciptakan produksi baik sektor tersebut maupun
sektor yang terkait yang akhirnya akan terjadi akumulasi modal. Unsur efek penggandaan
sangat berperan dalam membuat kota mampu memacu pertumbuhan daerah belakangnya.
c. Adanya konsentrasi geografis
Konsentrasi geografis dari berbagai sektor/ fasilitas selain menciptakan efisiensi diantara
sektor-sektor yang saling membutuhkan juga meningkatkan daya tarik dari kota tersebut.
d. Bersifat mendorong daerah belakangnnya
Hal ini antara kota dan wilayah belakangnya terdapat hubungan yang harmonis. Kota
membutuhkan bahan baku dari wilayah belakangnya dan menyediakan berbagai
kebutuhan wilayah belakang untuk dapat mengembangkan dirinya.

2.1.4 Teori Neoklasik


Teori Neoklasik (Neo-classic Theory) dipelopori oleh Borts Stein (1964), kemudian
dikembangkan lebih lanjut oleh Roman (1965) dan Siebert (1969). Dalam negara yang
sedang berkembang, pada saat proses pembangunan baru dimulai, tingkat perbedaan
kemakmuran antar wilayah cenderung menjadi tinggi (divergence), sedangkan bila proses
pembangunan telah berjalan dalam waktu yang lama maka perbedaan tingkat kemakmuran
antar wilayah cenderung menurun (convergence). Hal ini disebabkan pada negara sedang
berkembang lalu lintas modal masih belum lancar sehingga proses penyesuaian kearah
tingkat keseimbangan pertumbuhan belum dapat terjadi. Teori ini mendasarkan analisanya
pada komponen fungsi produksi. Unsur-unsur yang menentukan pertumbuhan ekonomi
regional adalah modal, tenaga kerja, dan teknologi. Adapun kekhususan teori ini adalah
dibahasnya secara mendalam pengaruh perpindahan penduduk (migrasi) dan lalu lintas modal
terhadap pertumbuhan regional.
Menurut model pertumbuhan ekonomi wilayah berdasarkan model neo klasik,
pertumbuhan ekonomi suatu daerah akan sangat ditentukan oleh kemampuan daerah tersebut
untuk meningkatkan kegiatan produksinya, sedangkan kegiatan produksi pada suatu daerah
tidak hanya ditentukan oleh potensi daerah yang bersangkutan, tetapi juga ditentukan oleh
mobilitas tenaga kerja dan mobilitas modal antar daerah (Sjafrizal 2008:95). karena kunci

Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Page 9


utama pertumbuhan ekonomi daerah adalah peningkatan kegiatan produksi maka pada model
neo klasik ini fungsi produksi di formulasikan sebagai bentuk Cobb-Douglass yaitu:
Y = AKαL β, α + β = 1
Dimana:
Y = PDRB
K dan L = modal dan tenaga kerja.
Penganut model neo klasik beranggapan bahwa mobilitas faktor produksi, baik modal
maupun tenaga kerja pada permulaan pembangunan adalah kurang lancar, akibatnya modal
dan tenaga kerja ahli cendrung terkonsentrasi didaerah yang lebih maju sehingga
ketimpangan pembangunan regional cendrung melebar (Divergence), dengan semakin
baiknya prasarana dan fasilitas komunikasi, maka mobilitas modal dan tenaga kerja tersebut
akan terus lancar dengan demikian, nantinya setelah negara tersebut maju, maka ketimpangan
pembangunan regional akan berkurang (Convergence), sesuai dengan hipotesa Neo-klasik
maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kemajuan teknologi, peningkatan investasi dan
peningkatan jumlah tenaga kerja suatu wilayah berhubungan positif dengan pertumbuhan
ekonomi wilayah yang bersangkutan, dan pada permulaan proses pembangunan, ketimpangan
regional cenderung meningkat, tetapi setelah titik maksimum bila pembangunan terus
dilanjutkan, maka ketimpangan daerah akan berkurang dengan sendirinya (Sjafizal 2008 ).
Teori ini menegaskan bahwa salah satu pertumbuhan ekonomi adalah satu proses yang
gradual yang mana pada satu saat semua kegiatan manusia terakumulasi. Dasar teori ini
terletak pada kompenen produksi yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan wilayah
antara lain: modal, tenaga kerja dan teknologi.

2.1.5 Model Kumulatif Kausatif


Model kumulatif kausatif (Cummulative Causation Models) dipelopori oleh Gunnar
Myrdal (1975) dan kemudian diformulasikan lebih lanjut oleh Kaldor. Teori ini menyatakan
bahwa adanya suatu keadaan berdasarkan kekuatan relatif dari “Spread Effect” dan “Back
Wash Effect”. Spread Effect adalah kekuatan yang menuju konvergensi antar daerah-daerah
kaya dan daerah-daerah miskin. Dengan timbulnya daerah kaya, maka akan tumbuh pula
permintaannya terhadap produk daerah-daerah miskin, dengan demikian mendorong
pertumbuhannya. Namun Myrdal yakin bahwa dampak spread effect ini lebih kecil daripada
back wash effect. Pertambahan permintaan terhadap produk daerah miskin tersebut terutama
barang-barang hasil pertanian oleh daerah kaya tentu saja mempunyai nilai permintaan yang
rendah, sementara konsumsi daerah miskin terhadap produk daerah kaya akan lebih mungkin

Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Page 10


terjadi. Para pelopor teori ini menekankan pentingnya campur tangan pemerintah untuk
mengatasi perbedaan yang semakin menonjol.
Menurut Dixon dan Thirwall (1974) setiap negara akan mengalami “Verdoorn Effect”
dengan tidak terjadi Convergence dalam perbedaan tingkat kemakmuran antar wilayah
walaupun negara tersebut tergolong negara maju. Daerah maju tetap berkembang secara pesat
karena adanya hubungan positif antara kemajuan teknologi dengan tingkat keuntungan
perusahaan (usaha). Sedangkan daerah yang kurang berkembang akan tetap berkembang
secara lambat karena tingkat keuntungan yang diperoleh pengusahawan pada daerah ini
rendah. Peningkatan pemerataan pembangunan tidak dapat hanya diserahkan pada
mekanisme pasar. Tapi dapat dilakukan melalui campur tangan aktif dari pemerintah dalam
bentuk program-program pembangunan wilayah.

2.1.6 Model Interregional


Model ini merupakan perluasan dari teori basis ekspor dengan menambah faktor-
faktor yang bersifat eksogen. Selain itu, model basis ekspor hanya membahas daerah itu
sendiri tanpa memperhatikan dampak dari daerah tetangga. Model ini memasukkan dampak
dari daerah tetangga, sehingga model ini dinamakan model interregional (Tarigan, 2005 : 58).
Sedangkan dalam teori pertumbuhan interregional dalam pengembangan wilayah merupakan
teori yang mengikutsertakan dan memperhatikan dampak daeri daerah disekitarnya, karena
pada hakikatnya antara satu daerah dengan daerah lain memiliki keterkaitan. Keterkaitan ini
dilihat dari kegiatan yang dilakukan oleh daerah lain dan dapat berpengaruh positif atau
negatif terhadap suatu daerah tertentu.
Dalam model ini diasumsikan bahwa selain ekspor, pengeluaran pemerintah dan
investasi juga bersifat eksogen dan daerah itu terikat kepada suatu sistem yang terdiri dari
beberapa daerah yang berhubungan erat. Dengan memanipulasi rumus pendapatan yang
pertama kali ditulis Keynes, oleh Richardson merumuskan model interregional ini menjadi :
Yi = Ci + Ii + Gi + Xi – Mi
dimana :
Yi = regional income Gi = regional government expenditure
Ci = regional consumption Xi = regional exports
Ii = regional investment Mi = regional import
Sumber-sumber perubahan pendapatan regional (Tarigan, 2005 : 60) dapat berasal
dari :
1. Perubahan pengeluaran otonomi regional, seperti : investasi dan pengeluaran pemerintah,

Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Page 11


2. Perubahan pendapatan suatu daerah atau beberapa daerah lain yang berada dalam suatu
sistem yang akan terlihat dari perubahan ekspor,
3. Perubahan salah satu di antara parameter-parameter model (hasrat konsumsi marjinal,
koefisien perdagangan interregional, atau tingkat pajak marjinal).

2.2 Faktor Penentu Pertumbuhan Wilayah


Pertumbuhan ekonomi merupakan perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang
menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah sehingga akan
meningkatkan kemakmuran masyarakat (Sukirno,1994). Menurut Lincolin (1997),
pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai kenaikan GDP/GNP tanpa memandang apakah
kenaikan tersebut lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk, dan apakah
terjadi perubahan struktur ekonomi atau tidak. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi adalah aglomerasi, investasi, angkatan kerja yang bekerja, dan human
capital investment.
1. Aglomerasi atau pola pemusatan, yang artinya terjadi pemusatan berbagai industri ke
dalam suatu tempat tertentu sehingga memunculkan pertumbuhan ekonomi baru pada
tempat tersebut.
2. Investasi merupakan penanaman modal pada suatu perusahaan dalam rangka untuk menambah
barang-barang modal dan perlengkapan produksi yang sudah ada supaya menambah jumlah
produksi. investasi dari penjumlahan investasi dan pinjaman modal kerja pada suatu bank. Sesuai
dengan teori dan penelitian terdahulu yang menjadi landasan teori dalam penelitian ini. Menurut
Sofwin Hadiati bahwa variabel investasi secara positif dan signifikan mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi.
3. Angkatan kerja yang bekerja adalah penduduk berusia 10 tahun atau lebih yang sudah
atau sedang bekerja dan yang sedang mencari kerja atau kegiatan lain
(Simanjuntak,1998).
4. Human Capital Investment adalah pengaruh pendidikan formal terhadap tingkat
pertumbuhan ekonomi, maksudnya adalah semakin tinggi pendidikan formal yang
diperoleh seseorang maka akan meningkatkan produktifitas kerja orang tersebut juga.
Secara fungsional, pusat pertumbuhan adalah lokasi terkonsentrasi suatu industri atau
kegiatan ekonomi karena sifatnya yang dinamis sehingga mampu merangsang kehidupan
ekonomi ke dalam maupun ke luar wilayah. Secara geografis, pusat pertumbuhan merupakan
lokasi yang banyak memiliki fasilitas dan kemudahan sehingga menjadi daya tarik bagi
manusia (pole of attraction). Beberapa faktor-faktor pertumbuhan wilayah adalah sumber

Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Page 12


daya alam, sumber daya manusia, kondisi geografis dan fasilitas penunjang. Berikut ini
adalah penjabaran dari faktor-faktor pengaruh pertumbuhan wilayah:
a. Sumber Daya Alam
Setiap daerah pastinya punya sumber daya alam yang khas. Pengelolaan sumber daya alam
yang optimal akan meningkatkan kegiatan ekonomi, memperluas lapangan kerja, dan
meningkatkan pendapatan daerah. Contohnya adalah kota Bontang di Kalimantan Timur
yang dahulu merupakan hanya wilayah eksplorasi minyak bumi dan gas. Kini telah
berkembang menjadi kota yang tumbuh pesat.
b. Sumber Daya Manusia
Kualitas dan kuantitas manusia sangat penting untuk mengelola suatu daerah. Produktifitas
manusia yang tinggi akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah dan menjadi pusat
pertumbuhan.
c. Kondisi Fisiografi
Perkembangan suatu wilayah dipengaruhi oleh kondisi fisiografi. Dataran rendah berpotensi
untuk menyediakan jaringan transportasi yang strategis. Kondisi tersebut mendorong adanya
arus distribusi barang dan jasa sehingga pertumbuhan wilayah akan semakin cepat.
d. Fasilitas Penunjang
Wilayah yang punya fasilitas lengkap seperti jalan, transportasi umum, pusat niaga,
pemukiman, jaringan listrik dan lainnya akan berpeluang cepat menjadi pusat pertumbuhan.
Fasilitas tersebut merupakan modal utama dalam membangun sebuah daerah yang pesat.
Secara fungsional, pusat pertumbuhan adalah lokasi terkonsentrasi suatu industri atau
kegiatan ekonomi karena sifatnya yang dinamis sehingga mampu merangsang kehidupan
ekonomi ke dalam maupun ke luar wilayah. Secara geografis, pusat pertumbuhan merupakan
lokasi yang banyak memiliki fasilitas dan kemudahan sehingga menjadi daya tarik bagi
manusia (pole of attraction).

2.3 Studi Kasus


Adapun studi kasus yang diangkat dalam laporan ini ialah Faktor Penentu
Pertumbuhan Pada Kabupaten Bungo. Kabupaten Bungo adalah salah satu kabupaten dalam
Provinsi Jambi. Pertumbuhan ekonomi kabupaten Bungo selama periode tahun 2000-2010
yang rata rata lebih dari 6 persen pertahun. Tidak hanya pertumbuhan ekonomi yang
meningkat, indek pembangunan manusia di kabupaten ini juga mengalami peningkatan
meskipun peningkatannya lebih kecil jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonominya
(Riani, 2014).

Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Page 13


Pertumbuhan ekonomi pada Kabupaten Bungo yang ditandai dengan Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan kontribusi dari beberapa sektor ekonomi,
sektor terbesar yang berkontribusi adalah sektor pertanian sebesar 29%, kemudian sektor
perdagangan, Hotel dan restoran sebesar 17% dan sektor pertambangan dan penggalian
sebesar 16%. Sejak tahun 2000 sektor pertanian selalu mengalami penurunan kontribusi
setiap tahunnya, sedangkan sektor pertambangan menunjukkan relatif mengalami
peningkatan kontribusi. Berikut merupakan grafik pertumbuhan kontribusi pada setiap sektor
di Kabupaten Bungo tahun 2000 – 2010 (Riani, 2014).

Gambar 2.1 Perkembangan Sektor Pertanian, Sektor Pertambangan dan penggalian dan
Sektor Perdagangan, Hotel dan restoran tahun 2000-2010
Sumber: BPS Kab. Bungo Dalam Riani, 2014
Menurut (Riani, 2014) dengan melihat perkembangan beberapa sektor yang
mempengaruhi diatas maka faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi
Kabupaten Bungo diestimasi adalah pengeluaran pemerintah, tenaga kerja, kredit investasi,
inflasi dan tingkat suku bunga. Kemudian dilakukan analisis untuk mengetahui faktor apa
saja yang paling berpengaruh bagi pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bungo dan didapatkan
hasil dari analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi
Kabupaten Bungo, diketahui bahwa:
1. Pengeluaran pemerintah untuk belanja modal (Gov) berpengaruh positif terhadap
pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bungo dengan nilai koefisien sebesar 0,0525.
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bungo selaras dengan pengeluaran pemerintah untuk
belanja modal, semakin besar pengeluaran pemerintah untuk belanja modal maka tingkat
pertumbuhan ekonomi akan semakin tinggi.

Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Page 14


2. Tenaga kerja (TK) berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bungo
dengan nilai koefien sebesar 0,8538. Peningkatan jumlah tenaga kerja akan meningkatkan
pertumbuhan ekonomi secara signifikan pada Kabupaten Bungo. Jumlah tenaga kerja selaras
denga pertumbuhan ekonomi.
3. Kredit investasi (I) berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bungo
dengan nilai koefisien sebesar 0,0598. kredit investasi yang di berikan berdasarkan lokasi
proyek di Kabupaten Bungo akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi signifikan pada
Kabupaten Bungo.
4. Inflasi dan tingkat suku bunga tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi
Kabupaten Bungo.
Sehingga dapat diambil kesimpulan, berdasarkan studi kasus tersebut faktor – faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bungo adalah Pengeluaran
Pemerintah, Tenaga Kerja, dan Kredit Investasi (Riani, 2014).

Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Page 15


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan materi yang telah dijelaskan dalam makalah diatas, maka di
dapatkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah pertambahan pendapatan masyarakat secara
keseluruhan yang terjadi di wilayah tersebut, yaitu seluruh nilai tambah yang terjadi.
2. Pertumbuhan ekonomi merupakan perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang
menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah sehingga
akan meningkatkan kemakmuran masyarakat.
3. Pertumbuhan ekonomi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : aglomerasi atau
pola pemusatan yang dapat memunculkan pertumbuhan ekonomi baru, investasi
(penanaman modal) dalam rangka untuk menambah barang-barang modal dan
perlengkapan produksi, angakatan kerja yaitu penduduk yang berusia 10 tahun atau
lebih, serta pengaruh pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi (Human Capital
Invesment) dimana jika semakin tinggi seseorang dapat meningkatkan produktifitas
kerja.
4. Selain itu pertumbuhan wilayah juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : sumber
daya alam (SDA) untuk pengelolaan sumber daya alam yang optimal, sumber daya
manusia (SDM) untuk produktifitas manusia yang dapat meningkatkan pertumbuhan
ekonomi daerah , kondisi fisiologi yang berpengaruh pada perkembangan suatu
wilayah, dan fasilitas penunjang sebagai modal utama untuk pembangunan suatu
daerah.

3.2 Lesson learned


Dalam pertumbuhan ekonomi masyarakat yang berada di suatu wilayah sebagai
system sosial ekonomi yang melakukan perdagangan dengan masyaraat lainnya, dengan
faktor pertumbuhan ekonomi dikaitkan dengan permintaan barang dari daerah yang lain.
Berkaitan dengan faktor penentu pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan wilayah, pusat
pertumbuhan merupakan lokasi kegiatan ekonomi yang dapat merangsang kehidupan
ekonomi sehingga menjadi daya tarik bagi manusia.

Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Page 16


DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Lincolin. 1997. Ekonomi Pembangunan Edisi ketiga. Bagian Penerbitan STIE
YKPN: Yogyakarta
Arsyad, L. 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah Edisi Pertama.
BPFE: Yogyakarta
Friedmann, J., W. Alonso. 1975. Regional Development and Planning: A Reader,
Massachusetts: The M.I.T. Press
Glasson, J. 1997. Pengantar Perencanaan Regional, diterjemahkan Paul. Sitohang. Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia: Jakarta
Myrdal, G. 1968. Asian Drama; An Inquiry into the Poverty of Nations. Pantheon: New York
Riani, Eva., Haryadi, Amril. 2014. Faktor Penentu Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Bungo.
Program Magister Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi: Jambi
Simanjuntak, J Payaman. 1998. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. LPFE UI:
Jakarta
Sjafrizal. 2008. Ekonomi Regional, Teori dan Aplikasi. Baduose Media. Cetakan Pertama:
Padang
Sukirno, Sadono. 2005. Pengantar Makro Ekonomi. Raja Grafindo Persada: Jakarta
Tarigan, Robinson. 2005. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Bumi Aksara:
Jakarta

Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Page 17