Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIK

“Uji Kemampuan Sediaan Vanishing-Cream Dalam Mengurangi Penguapan Air


Pada Kulit”
D
I
S
U
S
U
N
Oleh:
Kelompok 3
Nama dan NIM :
Ervina Margaretha Zebua (1701011188)
Faiza Rahman (1701011449)
Gideon A. Pane (1701011469)
Kelas: 3C

Laboratorium Farmasi Fisik


Program Studi Sarjana Farmasi
Fakultas Farmasi dan Kesehatan
Institut Kesehatan Helvetia
Medan
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Setiap orang mempunyai kecenderungan ingin memiliki kulit yang
sehat dan terawat, sehingga produk kosmetik merupakan kebutuhan mutlak
bagi dirinya. Kulit merupakan lapisan yang menutupi dan melindungi seluruh
tubuh dari berbagai macam gangguan dari luar tubuh. Normalnya, kulit sehat
dilindungi dari kekeringan oleh bahan-bahan yang bisa menyerap air : asam
amino, purin, pentose, choline, dan 2erivate asam fosfat yang jumlah totalnya
20% dari berat lapisan stratum korneum. Bahan-bahan yang larut dalam air
tersebut dapat terangkat dari kulit oleh perspirasi atau pencucian jika bahan-
bahan itu tidak dilindungi oleh lapisan lemak tipis yang tidak larut air
(Tranggono dan Latifah, 2007)
Viskositas lemak tidak boleh terlalu rendah sehingga menyebar
dimana-mana dipermukaan kulit, atau terlalu kental sehingga membuat kulit
lengket dan terlalu berminyak. Pelembab seperti vanishing cream harus dapat
menutup daerah tertentu permukaan kulit, menutup tepi-tepi tajam sisik
stratum korneum, mencegah masuknya bahan-bahan asing, dan mencegah
penguapan air dikulit, tetapi tidak sampai mencegah sepenuhnya agar kongesti
perspirasi dan pengeluaran panas badan tetap terjadi (Tranggono dan Latifah,
2007).
Bahan utama dalam krim pelembab adalah lemak (lanolin, lemak wol,
fatty alcohol tinggi, lanette wax, glycerol monostearate, dan lain-lain) yang
semuanya merupakan bahan pengemulsi tipe w/o. Sebagai tambahan adalah
campuran minyak seperti minyak tumbuhan, yang lebih baik daripada mineral
oils karena lebih mudah bercampur dengan lemak kulit, lebih mampu
menembus sel-sel stratum korneum, dan memiliki daya adhesi yang lebih kuat
(Tranggono dan Latifah, 2007).
Salah satu kelemahan utama silika gel adalah higroskopis atau mudah
menyerap air. Silika gel mempunyai afinitas yang tinggi terhadap air. Bahkan
apabila kelemahan sangat tinggi, dan karena air memiliki polaritas yang tinggi
dapat menggantikan senyawaan yang kurang polar yang telah teradsorbsi pada
silika gel, sehingga hasil pengukuran menjadi berbeda (Lestari, 2007).

1.2. Prinsip Percobaan


Penentuan kemampuan vanishing cream dalam mengurangi penguapan
air pada kulit dengan menggunakan silika gel dalam penyerapan air dalam
waktu tertentu. Penentuan kemampuan ini dilakukan dengan cara mengolesi
salah satu bagian kulit dengan vanishing cream dan yang lainnya tidak diolesi
dengan vanishing cream lalu dilihat pertambahan berat silika gelnya, lalu
dihitung % pengurangan penguapannya.

1.3.Tujuan Percobaan
a. Mengetahui cara vanishing cream dalam mengurangi penguapan air pada
kulit.
b. Mengetahui % pengurangan penguapan air pada kulit dan sampel vanishing
cream.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Krim


Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, krim adalah bentuk sediaan
setengah padat, berupa emulsi mengandung air tidak kurang dari 60% dan
dimaksudkan untuk pemakaian luar (Ditjen POM, 1979).
Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, krim adalah bentuk sediaan
setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi
dalam bahan dasar yang sesuai (Ditjen POM, 2010).
Menurut Formularium Nasional, krim adalah sediaan setengah padat,
berupa emulsi kental mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan
untuk pemakaian luar.
Krim adalah sediaan semi solid kental, umumnya berupa emulsi m/a
(krim berair) atau emulsi a/m (krim berminyak). Secara tradisional, krim
digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsentrasi relatif
cair diformulasi sebagai emulsi air dalam minyak (a/m) atau minyak dalam air
(m/a) (Elmitra, 2017).
Krim merupakan salah satu sediaan yang berbentuk emulsi. Krim dapat
didefenisikan berbagai macam dari beberapa sumber yang berbeda. Menurut
Ansel (1989), krim adalah emulsi setengah padat baik bertipe air dalam minyak
atau minyak dalam air yang biasanya digunakan sebagai emolien (pelembab)
atau pemakaian obat pada kulit. Untuk membuat krim digunakan zat
pengemulsi, umumnya berupa surfaktan anionik, kationik dan nonionik
(Anief,2008). Sifat umum sediaan semi padat terutama krim ini adalah mampu
melekat pada permukaan tempat pemakaian dalam waktu yang cukup lama
sebelum sediaan ini dicuci atau dihilangkan. Krim yang digunakan sebagai obat
umumnya digunakan untuk mengatasi penyakit kulit seperti jamur, infeksi
ataupun sebagai anti radang yang disebabkan oleh berbagai jenis penyakit
(Elmitra, 2017).
2.2. Penggolongan Krim
Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air atau disperse mikrokristal
asam-asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci
dengan air dan lebih ditujukan untuk pemakaian kosmetika dan estetika. Ada 2
tipe krim:
 Tipe M/A atau O/W
Vanishing cream adalah kosmetika yang digunakan untuk maksud
membersihkan, melembabkan, dan sebagai alas bedak. Krim m/a (vanishing
cream) yang digunakan melalui kulit akan hilang tanpa bekas. Pembuatan
krim m/a sering menggunakan zat pengemulsi campura n dari surfaktan
(jenis lemak yang ampifil) yang umumnya merupakan rantai panjang
alkohol walaupun untuk beberapa sediaan kosmetik pemakaian asam lemak
lebih popular. Contoh : vanishing cream, sebagai pelembab (moisturizing)
meninggalkan lapisan berminyak/film kulit (Elmitra, 2017).

 Tipe A/M atau W/A


Krim berminyak mengandung zat pengemulsi a/m yang spesifik seperti
adeps lane, wool alkohol atau ester asam lemak dengan atau garam dari
asam lemak dengan logam bervalensi 2, misal Ca. Krim a/m atau m/a
membutuhkan emulgator yang berbeda-beda. Jika emulgator tidak tepat,
dapat terjadi pembalikkan fasa. Contoh: Cold Cream adalah sediaan
kosmetika yang digunakan untuk maksud memberikan rasa dingin dan
nyaman pada kulit, sebagai krim pembersih berwarna putih dan bebas dari
butiran. Cold cream mengandung mineral oil dalam jumlah besar (Elmitra,
2017).
Cold cream digunakan untuk meminimalkan efek dari perubahan iklim.
Dapat juga digunakan krim pembersih untuk membersihkan kulit dari debu
dan kotoran. Krim pembersih dibuat dengan madu, minyak lilin almond,
bubuk boraks, air mawar, dan esensi. Krim dingin dapat digunakan
sepanjang tahun. Untuk melindungi kulit dari angin dingin di musim dingin.
Di musim hujan dan panas, digunakan sebagai krim serbaguna. Beberapa
merek popular adalah Lakme, Ponds, Charmis, Nivea, Pir, Emami, dan
Jhonson (Handa, 2008).

2.3. Alasan Pembuatan Sediaan Krim


Alasan pembuatan sediaan krim untuk mendapatkan efek emolient atau
pelembut jaringan dari preparat tersebut dan keadaan permukaan kulit. Zat obat
yang akan mengiritasi kulit umumnya kurang mengiritasi jika ada dalam fase
luar yang mengalami kontak langsung dengan kulit. Pada kulit yang tidak luka,
suatu emulsi air dalam minyak biasanya dipakai lebih rata, karena kulit
diselaputi oleh suatu lapisan tipis dari sabun dan permukaan ini lebih mudah
dibasahi oleh minyak daripada oleh air. Suatu emulsi air dalam minyak juga
lebih lembut ke kulit, karena ia mencegah mengeringkan kulit dan tidak mudah
hilang bila kena air (Elmitra, 2017).

2.4. Vanishing Cream


Vanishing cream secara relatif merupakan penemuan modern. Ini
adalah salah satu item dan sangat penting dalam daftar panjang kosmetik yang
berguna bagi wanita untuk perawatan tubuh. Vanishing cream sebenarnya tidak
hilang ketika dioleskan diatas permukaan kulit. Melainkan membentuk lapisan
tipis dan tidak berminyak yang merupakan dasar yang cocok untuk
pengaplikasian sebelum bedak tabur (Redgrove, 2013).
Pembuatan vanishing cream diproduksi dengan mengolah asam stearat
murni dengan alkali yang sesuai dengan air. Jumlah alkali yang digunakan
harus multicient untuk mengembun dnegan semua asam. Kondensasi bagian
dari asam dengan semua alkali berfungsi untuk mengemulsi keseimbangan
asam, dengan demikian terbentuk sediaan yang baik (Regrove, 2013).
Diperlukan kelembaban untuk menjaga kulit dari krim agar kulit tetap
lembab, seperti vanishing cream yang sangat bermanfaat untuk perubahan
cuaca yang sangat signifikan. Vanishing cream cocok untuk kulit yang
berminyak dan normal. Vanishing mengandung asam stearat, kalium hidro-
oksida, gliserin, di-glikol stearat dan air. Vanishing cream umumnya
digunakan sebelum make up (Handa, 2008).
Setiap orang mempunyai kecenderungan ingin memiliki kulit yang
sehat dan terawat. Sehingga produk kosmetik merupakan kebutuhan mutlak
bagi dirinya. Kulit merupakan lapisan yang menutupi dan melindungi seluruh
tubuh dari beebagai macam gangguan dari luar tubuh. Normalnya, kulit sehat
dilindungi dari kekeringan oleh bahan-bahan yang bisa menyerap air: asam
amino, purin, pentosa, choline, dan derivat asam fosfat yang jumlah totalnya
20% dari berat lapisan stratum korneum. Bahan-bahan yang larut dalam air
tersebut dapat terangkat dari kulit oleh perspirasi atau pencucian jika bahan-
bahan itu tidak dilindungi oleh lapisan lemak tipis yang tidak larut air
(Tranggono, 2007). Beberapa produk yang dikenal adalah Lakme, Max-Factor
Ponds, Charmis, dll (Handa, 2008).
Pelembab seperti vanishing cream harus dapat menutup daerah tertentu
permukaan kulit, menutup tepi-tepi tajam sisi stratum korneum, mencegah
masuknya bahan-bahan asing, dan mencegah penguapan air di kulit, tetapi
tidak sampai mencegah sepenuhnya agar kongesti perspirasi dan pengeluaran
panas badan tetap terjadi (Tranggono, 2007).

2.5. Silika Gel


Biasanya silika gel banyak ditemukan dalam bentuk bungkusan kecil
yang didalamnya terdapat butiran-butiran seperti pasir dalam produk kulit,
makanan, elektronik, dsb. Jumlah maksimum kelembaban yang dapat diserap
oleh silika gel bisanya berkisar 40% dari berat totalnya (Ariesta, 2017).
Mungkin banyak orang yang belum mengetahui bahwa setelah
kapasitas penyerapan dari silika gel terpenuhi, maka silika gel sebenarnya
masih bisa digunakan kembali hingga beberapa kali. Silika gel yang siap
digunakan berwarna biru. Warna silika gel akan berubah menjadi pink atau
merah muda, ketika silika gel sudah menyerap kelembaban. Bila silika gel
sudah tidak bisa lagi menyerap kelembaban (diindikasi melalui perubahan
warna silika gel menjadi merah muda) maka silika gel perlu diregenerasi. Hal
ini dapat dilakukan dengan menghangatkannya didalam mesin oven. Panas dari
oven akan melepas kandungan air yang ada pada silika gel. Kandungan air
dalam silika gel akan menguap (Ariesta, 2017).
Banyak orang menganggap silika gel beracun, karena biasanya pada
labelnya bertuliskan “Jangan Dimakan” atau “Do Not Eat”. Sebenarnya silika
gel tidak beracun, namun tergantung pula pada jenis senyawa apa yang diserap
oleh zat tersebut, sehingga tidak dianjurkan untuk memakan silika gel karena
dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan pernafasan (Ariesta, 2017).
Silika gel lebih sering digunakan dibandingkan activated carbon untuk
beberapa senyawa, seperti:
 Senyawa polar, akan lebih mudah didesorpsi dari silika gel dibandingkan
charcoal.
 Senyawa amina, senyawa nitro dan beberapa senyawaan anorganik (acid
mists) tidak dapat dikumpulkan pada charcoal.
Salah satu kelemahan utama silika gel adalah higroskopis atau mudah
menyerap air. Silika gel mempunyai afinitas yang tinggi terhadap air. Jika
pengambilan sampel dilakukan pada atmosfer yang lembab, maka uap air akan
teradsorbsi pada silika gel, sehingga mengurangi kapasitas adsorbsi. Bahkan
apabila kelemahan sangat tinggi, dan karena air memiliki polaritas yang tinggi
dapat menggantikan senyawaan yang kurang polar yang telah teradsorbsi pada
silika gel, sehingga hasil pengukuran menjadi berbeda (Lestari, 2007).
Ketika silika gel dibiarkan untuk waktu yang lama, mereka
mengeluarkan sejumlah kecil cairan yang terperangkap dipermukaannya.
Fenomena ini dikenal sebagai synerisis. Beberapa gel semipadat ketika diam
berubah menjadi cair untuk mengatasi agitasi. Transformasi reverse-sol-gel ini
dikenal sebagai thixotropy. Gel elastis adalah gel yang mengubah massa padat
setelah kehilangan air sepenuhnya dan dapat diregenerasi dengan air tambahan.
Misalnya agar-agar dan gelatin. Gel yang tidak elastis adalah gel yang tidak
dapat diregenerasi setelah bebas dari pelembab. Misalnya silika gel. Gel yang
menjaga kontak dengan fase terdispersinya mengambil jumlah air yang cukup
besar dan meningkatkan daya tampungnya. semakin lembab udara dalam
ruangan atau dalam suatu kemasan yang diserap, maka silika gel semakin cepat
mencapai kapasitas daya serapnya. (Khanna, 2003).
BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1. Alat-alat yang Digunakan


Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah tutup pot plastik
diameter 4,5 cm sebanyak 4 buah, selotip bening, benang wol, kain kassa,
kertas perkamen, sendok tanduk dan timbangan digital.

3.2. Bahan-bahan yang Digunakan


Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah silika gel
putih 10 gram, dan vanishing cream Sari Ayu Martha Tilaar.

3.3. Spesifikasi Bahan


 Silika Gel Putih
Silika gel putih adalah silika yang pertama dan umum digunakan. Produk
ini dibuat dari sodium silikat yang memiliki berjuta-juta nanoporous
berukuran 24 nanometer. Mineral alami ini memiliki sifat hydrophilic
yang aktif menyerap molekul air di udara.
 Vanishing Cream Sari Ayu Martha Tilaar
Komposisi:
Water, Mineral oil, Asam stearat, Propilen glikol, Lanolin alkohol, Olea
Europeae (Olive) Fruit oil, Pentilen glikol, Sodium laktat, Gliserin, Lactic
acid, Sorbitol, Sodium klorida, Zinc Oxide, Ethylparaben, Propylparaben,
Dimethicone, Cetearly Alkohol, Caprylic/Capric Triglyceride,
Chamomilla Recutita Flower Water, Citrus Aurantilolia (Lime) Fruit
Extract, Citrus Hystrix Leaf Extract, Gardenia Jasminoides Leaf Extract,
Panthenol, Ethylhexyl Methoxycinnamate, Benzophenone-3, Methyl
Methacrylate Crosspolymer, Allantoin, Ceteareth-33, Acrylamide/Sodium
Acryloyldimethyltaurate Copolymer, Xanthan Gum, C13-14 Isoparaffin,
Cetearyl Glucoside, Pentylene Glycol, Serine, Urea, PEG-40
Hydrogenated Castor Oil, Decylene Glykol, Laureth-7, Trideceth-9, 1,2-
Hexanediol, Bisabolol, Sodium Sulfate, Chlorphenesin, Fragrance, Cl
16255, Cl 19140.

3.4. Prosedur Percobaan


Prosedur percobaannya yaitu pertama-tama dilubangi tutup plastik
ukuran 4,5 cm sebanyak 2 buah. Ditimbang silika gel sebanyak 10 gram (5
gram untuk kulit tangan yang diolesi vanishing cream dan 5 gram untuk kulit
tangan yang tidak diolesi vanishing cream), kemudian dibungkus dengan kain
kassa. Kemudian diletakkan pada tutup pot plastik tanpa lubang dan ditutup
dengan tutup pot plastik yang dilubangi. Dieratkan dengan menggunakan
selotip bening. Ditimbang vanishing cream sebanyak 0,5 gram dan dioleskan
diatas permukaan salah satu tangan. Diletakkan silika gel yang sudah
dibungkus dalam tutup pot tadi diatas permukaan kedua tangan yang sudah
diolesi vanishing cream dan yang tidak diolesi vanishing cream dengan tutup
pot yang dilubangi dibawahnya. Dieratkan dengan selotip bening. Didiamkan
selama 2 jam. Setelah 2 jam, ditimbang pertambahan berat pada timbangan
digital.

3.5. Formula dan Perhitungan Bahan


3.5.1. Formula: -
3.5.2. Perhitungan Bahan:
Diketahui:
- Penambahan berat tanpa sediaan vanishing cream
= 5,19 g – 5 g = 0,19
- Penambahan berat dengan sediaan vanishing cream
= 5,12 g – 5 g = 0,12
Ditanya: % pengurangan penguapan?
Jawaban:
% Pengurangan Penguapan
𝑝𝑒𝑟𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑡𝑎𝑛𝑝𝑎 𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎𝑎𝑛 − 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎𝑎𝑛
= x100%
𝑝𝑒𝑟𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎𝑎𝑛
0,19−0,12
= 𝑥 100%
0,12

= 58,3%
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Hasil dari percobaan uji kemampuan sediaan vanishing cream dalam
mengurangi penguapan pada kulit dapat diuraikan dalam tabel berikut:

% Pengurangan

Berat Awal Berat Akhir penguapan pada


Percobaan
permukaan kulit

Silika gel yang


dioleskan vanishing
5 gram 5,12 gram
cream pada
permukaan kulit.
Silika gel yang tidak 58,3 %
dioleskan vanishing
5 gram 5,19 gram
cream pada
permukaan kulit.

4.2. Pembahasan
Vanishing cream adalah kosmetika yang digunakan untuk maksud
membersihkan, melembabkan, dan sebagai alas bedak. Krim m/a (vanishing
cream) yang digunakan melalui kulit akan hilang tanpa bekas. Pembuatan krim
m/a sering menggunakan zat pengemulsi campura n dari surfaktan (jenis lemak
yang ampifil) yang umumnya merupakan rantai panjang alkohol walaupun
untuk beberapa sediaan kosmetik pemakaian asam lemak lebih popular.
Pelembab seperti vanishing cream harus dapat menutup daerah tertentu
permukaan kulit, menutup tepi-tepi tajam sisi stratum korneum, mencegah
masuknya bahan-bahan asing, dan mencegah penguapan air di kulit, tetapi
tidak sampai mencegah sepenuhnya agar kongesti perspirasi dan pengeluaran
panas badan tetap terjadi.
Percobaan kali ini, silika gel yang dioleskan vanishing cream pada
permukaan kulit diperoleh pertambahan berat 5,12 gram dari berat awal silika
gel yaitu 5 gram. Sedangkan silika gel yang tidak dioleskan vanishing cream
pada permukaan kulit diperoleh pertambahan berat 5,19 gram dari berat awal
silika gel 5 gram.
Penyebab pertambahan berat silika gel yang dioleskan vanishing cream
pada permukaan kulit lebih kecil daripada yang tidak dioleskan vanishing
cream pada permukaan kulit karena vanishing cream mencegah penguapan air
di kulit, tetapi tidak sampai mencegah sepenuhnya agar kongesti perspirasi dan
pengeluaran panas badan tetap terjadi, sedangkan silika gel yang tidak
dioleskan vanishing cream pada permukaan kulit lebih besar karena silika gel
fungsinya disitu menyerap kelembaban pada permukaan kulit sehingga
menyebabkan pertambahan berat pada silika gel tersebut. Produk anti lembab
ini menyerap lembab tanpa mengubah kondisi zatnya. Walaupun dipegang,
butiran-butiran silika gel ini tetap kering. Secara ilmiah silika gel putih
diketahui memiliki daya serap H2O sampai dengan 55% dari total beratnya
sendiri.
Silika gel merupakan suatu bentuk dari silika yang dihasilkan melalui
penggumpalan sol natrium silikat (NaSiO2). Sol mirip agar-agar ini dapat
didehidrasi sehingga berubah menjadi padatan atau butiran mirip kaca yang
bersifat elastis. Sifat ini menjadikan silika gel dimanfaatkan sebagai zat
penyerap, pengering, dan penopang katalis. Jadi, semakin lembab udara dalam
ruangan atau dalam suatu kemasan yang diserap, maka silika gel semakin cepat
mencapai kapasitas daya serapnya. Demikian pula, semakin banyak volume
udara lembab yang diserap silika maka semakin cepat pula silika tersebut
mencapai titik jenuhnya.
Salah satu kelemahan utama silika gel adalah higroskopis atau mudah
menyerap air. Silika gel mempunyai afinitas yang tinggi terhadap air. Jika
pengambilan sampel dilakukan pada atmosfer yang lembab, maka uap air akan
teradsorbsi pada silika gel, sehingga mengurangi kapasitas adsorbsi. Bahkan
apabila kelemahan sangat tinggi, dan karena air memiliki polaritas yang tinggi
dapat menggantikan senyawaan yang kurang polar yang telah teradsorbsi pada
silika gel, sehingga hasil pengukuran menjadi berbeda.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
a. Vanishing cream dapat mengurangi penguapan air pada kulit dengan
adanya komponen glyserin yang dapat melindungi kelembaban kulit
dengan cara menutupi pori-pori kulit, sehingga mampu mengurangi
penguapan air pada kulit.
b. Pengurangan penguapan air pada kulit dengan sampel vanishing cream
Sari Ayu Martha Tilaar adalah 58,3%.

5.2. Saran
Sebagai praktikan, kami menyarankan pada percobaan ini hendaknya
praktikan lebih teliti dan hati-hati dalam menggunakan dan menimbang silika
gel, agar tidak ada silika gel yang terjatuh sehingga hasil yang didapat lebih
akurat.
DAFTAR PUSTAKA

Ariesta,Rosalina,et al.2017.Kimia Fisik Pangan.Malang:Universitas Brawijaya


Press.Halaman 76.
Ditjen POM.1979.Farmakope Indonesia.Edisi Ketiga.Jakarta:Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.Halaman 8.
Ditjen POM.2010.Farmakope Indonesia.Edisi Keempat.Jakarta:Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Elmitra.2017.Dasar-dasar Farmasetika dan Semi Solid.Yogyakarta:Deepublish.
Halaman 117,119,120,128.
Handa,Pravesh.2008.Home Beauty Clinic.New Delhi:Pustaka Mahal.Halaman 46.
Khanna,K,et al.2003.Physical Chemistry.New Delhi:Golden Bells.Halaman 661.
Lestari,Fatma.2007.Bahaya Kimia:Sampling dan Pengukuran Kontaminan Kimia
di Udara.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC.Halaman 87.
Redgrove,Stanley.2013.The Cream Of Beauty-A Little Book of Beauty Culture.
London:Read Books Ltd.Chapter VI.
Tranggono,Retno dan Latifah.2013.Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik.
Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.Halaman 77 dan 78.