Anda di halaman 1dari 4

Rangkuman Pengauditan 1

Muhammad Akbar Ramdhani 17/411779/EK/21429

TUJUAN MELAKUKAN PENGAUDITAN PADA STATEMEN KEUANGAN


Tujuan pengauditan menurut AICPA adalah menyediakan pengguna atau pemakai
statemen keuangan dengan opini oleh seorang auditor apakah statemen keuangan disajikan
secara wajar atau tidak, memperhatikan semua yang materiil, berdasarkan dengan rerangka
kerja akuntansi keuangan yang bisa diaplikasikan. Opini seorang auditor dapat meningkatkan
kepercayaan pengguna statemen keuangan yang dituju. Jika auditor percaya bahwa statemen
keuangan tidak disajikan secara wajar atau tidak dapat mencapai konklusi karena kekurangan
bukti, auditor bertanggung jawab untuk memberitahukan pengguna melalui statemen auditor.

Langkah-langkah mengembangkan tujuan audit: mengerti tujuan dan tanggung jawab


untuk audit-membagi statemen keuangan menjadi beberapa siklus-mengetahui pertimbangan
manajemen terhadap statemen keuangan-mengetahui tujuan umum audit untuk golongan
transaksi, akun, dan pengungkapan dan yang terakhir mengetahui tujuan spesifik untuk
golongan transaksi, akun, dan pengungkapan.

TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN


Tanggung jawab manajemen adalah mengadopsi kebijakan akuntansi, menjaga control
internal yang memadai, dan membuat penyajian yang wajar didalam statemen keuangan.
Karena manajemen menjalankan Bisnis secara harian, manajemen harusnya lebih mengetahui
mengenai transaksi perusahaan dan hubugan asset, hutang, serta ekuitas dibandingkan auditor.
Pengetahuan auditor dan control internal terhadap hal tersebut minim untuk diperoleh saat
diadudit.

Dalam undang-undang Sarbanes-Oxley mengharuskan direktur utama dan direktur


keuangan dari perusahaan publik mensertifikasi secara triwulanan dan statemen keuangan
tahunan dan menyerahkannya kepada OJK.

TANGGUNG JAWAB AUDITOR


Dalam standar audit AICPA tujuan keseluruhan auditor, dalam mengaudit statemen
keuangan adalah: memperoleh penjaminan yang masuk akal tentang apakah statemen
keuangan secara keseluruhan bebas dari kesalahan pernyataan yang material, apakah akibat
kecurangan atau error, dengan demikian memungkinkan auditor untuk mengeluarkan
pernyataan apakah statemen keuangan tersebut disajikan secara wajar dalam hal yang material
dalam hubungannya dengan framework pelaporan keuangan yang bisa diaplikasikan, dan
tujuan kedua adalah melaporkan statemen keuangan, dan mengomunikasikannya sebagaimana
yang disyaratkan oleh standar pengauditan, dengan hubungannya dengan temuan audit. Maka
auditor bertanggung jawab untuk mendeteksi salah saji yang materiil termasuk beberapa frasa
dan istilah penting, selain itu auditor juga bertanggung jawab untuk mendeteksi kesalahan
(error) yang materiil dan mendeteksi fraud atau kecurangan yang materiil serta bertanggung
jawab mempertimbangkan hukum dan regulasi.

SKEPTISISME PROFESIONAL
skeptisisme profesional auditor adalah sikap auditor yang senantiasa meragukan dan
mempertanyakan segala sesuatu, dan menilai secara kritis bukti audit serta mengambil
keputusan audit berlandaskan keahlian auditing yang dimilikinya. Skeptisisme bukan berarti
tidak percaya, tapi mencari pembuktian sebelum dapat memercayai suatu pernyataan. Terdapat
enam karakteristik dari skeptisisme: Karakteristik pertama yakni pola pikir yang terus
bertanya-tanya (questioning mindset), mencerminkan sikap keragu-raguan seperti yang
terdapat dalam definisi skeptisisme profesional umum maupun dalam bidang auditing.
Karakteristik kedua, penundaan pengambilan keputusan (suspension of judgment),
menunjukan sikap yang tidak tergesa-gesa dalam melakukan suatu suatu hal. Karakteristik
ketiga, mencari pengetahuan (search for knowledge), menunjukkan bahwa orang yang skeptis
memiliki sikap keingintahuan akan suatu hal. Karakteristik keempat, pemahaman interpersonal
(interpersonal understanding), memberikan pemahaman bahwa orang yang skeptis akan
mempelajari dan memahami individu lain yang memiliki pandangan dan persepsi yang berbeda
mengenai suatu hal. Karakteristik kelima yakni otonomi, kemerdekaan moral dan keyakinan
untuk menentukan sesuatu seorang diri daripada menerima klaim orang lain. Serta karakteristik
terakhir adalah percaya diri (self-esteem) untuk menolak ajakan atau paksaan dan untuk
menguji asumsi serta konklusi.

PERTIMBANGAN PROFESIONAL
Terdapat lima elemen dalam proses pertimbangan professional yang pertama adalah
mengidentifikasi masalah, mengumpulkan fakta dan informasi serta mengidentifikasi literature
yang relevan, selanjutnya, melakukan analisis dan mengidentifikasi altenatif potensial, setelah
itu membuat keputusan, dan yang terakhir mereview serta menyelesaikan dokumentasi dan
merasionalkan konklusi. Terdapat beberapa tendensi pertimbangan, yang pertama adalah
konfirmasi yakni kecenderungan untuk menitikberatkan pada informasi yang konsisten dengan
kepercayaan atau referensi tertentu. Kedua, terlalu percaya diri, yakni tendensi terlalu melebih
lebihkan kemampuan seseorang untuk melakukan pekerjaan atau keakuratannya melakukan
suatu assesmen. Ketiga, Anchoring, yakni tendensi untuk membuat assesmen dari nilai awal
kemudian menyesuaikannya kurang dari nilai awal tersebut. Kelima, ketersediaan, yakni
tendensi mempertimbangkan informasi yang mudah didapatkan adalah yang paling relevan.

SIKLUS STATEMEN KEUANGAN


Salahsatu cara membagi-bagi pengauditan adalah pendekatan siklus, dengan membagi audit
tetap secara dekat jenis transaksi yang saling berhubungan dan saldo akun dalam segmen yang
sama. Terdapat lima siklus: penjualan dan pengumpulan, pembelian dan pembayaran,
penggajian dan personalia, persediaan dan penggudangan, pembelian modal dan pembayaran
kembali.

MENGATUR TUJUAN AUDIT


Jalan paling efisien dan efektif dalam melakukan audit adalah dengan memperoleh penjaminan
tiap kelas (jenis) transaksi dan saldo akhir dari tiap akun yang berhubungan. Untuk setiap jenis
transaksi, beberapa tujuan audit yang harus dipenuhi sebelum auditor dapat menyimpulkan
bahwa transaksi tersebut dicatat dengan benar, disebut dengan tujuan audit yang berhubungan
dengan transaksi. Beberapa tujuan audit harus dipenuhi untuk setiap saldo akun, disebut tujuan
audit yang berhubungan dengan saldo. Dan kategori ketiga dari tujuan audit adalah yang
berhubungan dengan penyajian dan pengungkapan informasi dalam statemen keuangan,
dikenal dengan tujuan audit yang berhubungan dengan penyajian dan pengungkapan.

PERNYATAAN MANAJEMEN
Pernyataan manajemen dapat secara tersirat atau tidak, merupakan pernyataan yang dilakukan
oleh manajemen tentang jenis transaksi dan akun yang terkait serta pengungkapan dalam
statemen keuangan. Pernyataan manajemen secara langsung berhubungan dengan rerangka
kerja pelaporan statemen keuangan yang diguanakan oleh perusahaan. Standar pengauditan
PCAOB memperhatikan bahwa manajemen secara implisit atau eksplisit membuat pernyataan
mengenai pengenalan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan dari berbagai elemen dalam
statemen keuangan serta pengungkapan terkait. PCAOB mendeskripsikan lima kategori
pernyataan: Eksistensi dan kejadian, kelengkapan, valuasi atau alokasi, hak dan kewajiban,
penyajian dan pengungkapan. Standar PCAOB menyediakan satu set pernyataan yang dapat
dipakai untuk semua informasi statemen keuangan, dan membaginya kedalam tiga kategori:
pernyataan terkait dengan jenis transaksi dan kejadian dalam periode yang diaudit, pernyataan
tentang saldo akun di akhir periode, dan pernyataan tentang penyajian dan pengungkapan data.

TUJUAN AUDIT YANG BERHUBUNGAN DENGAN TRANSAKSI


Ketika auditor sudah membuat tujuan audit yang berhubungan dengan transaksi secara umum,
mereka bisa digunakan untuk mengembangkan tujuan audit yang berhubungan dangan
transaksi secara khusus. Berikut tujuan audit yang berhubungan dengan transaksi secara umum:
Kejadian, mencatat adanya transaksi. Kelengkapan, transaksi yang telah terjadi dicatat dengan
lengkap. Akurasi, mencatat transaksi dalam Jumlah yang benar. Posting dan merangkum, yakni
mencatat transaksi yang dimasukan secara benar dalam master file dan dirangkum dengan
benar. Klasifikasi, transaksi yang dimasukan kedalam jurnal klien diklasifikasikan secara
benar. Waktu, transaksi dicatat dalam waktu yang benar (tanggal yang sesuai).

PENYAJIAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN NERACA DAN TUJUAN AUDIT


YANG BERHUBUNGAN DENGAN SALDO
Terdapat beberapa tujuan yang berhubungan dengan saldo scara umum, yakni: Eksistensi,
dicatatnya Jumlah yang ada. Kelengkapan, Jumlah yang ada dimasukan. Akurasi, Jumlah yang
dimasukan dinyatakan dalam Jumlah yang benar. Klasifikasi, Jumlah yang dimasukan oleh
klien telah diklasifikasikan dengan benar, Pemotongan, transaksi dekat dengan neraca
keuangan dicatat dalam periode yang tepat. Detail yang mengikat, detail di saldo akun selaras
dengan Jumlah di file master, dengan total di saldo akun, dan sesuai dengan total di jurnal
umum. Nilai yang terealisasi, yakni asset dimasukan kedalam akun yang diestimasi menjadi
terealisasi.dan yang terakhir Hak dan kewajiban

BAGAIMANA TUJUAN AUDIT BERTEMU


Auditor harus menentukan tujuan audit yang sesuai dan bukti untuk mengumpulkan untuk
memenuhi tujuan tiap audit. Untuk melakukan ini auditor harus memenuhi dan mengikuti
proses audit, yang mana merupakan metodologi yang telah didefinisikan dengan baik untuk
mengorganisir suatu audit agar memastikan bahwa bukti yang dikumpukan cukup dan sesuai
dan semua tujuan audit yang diperlukan terpenuhi. Terdapat empat fase utama dalam proses
audit: merencanakan dan mendesain pendekatan audit. Kedua, melakukan pengujian control
dan uji subtantif transaksi. Ketiga, melakukan prosedur analisis subtantif, dan uji detail saldo.
Keempat, menyempurnakan audit, dan mengeluarkan laporan audit.