Anda di halaman 1dari 23

LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

PEMERIKSAAN PENETRASI
BAHAN – BAHAN BITUMEN

PA-0301-76
( AASHTO T-49-68* )
( ASTM D-5-71 )

A. MAKSUD PERCOBAAN
Penetrasi ini dimaksud untuk menetukan penetrasi bitumen keras atau
lembek (solid atau semi solid) dengan memasukan jarum penetrasi
ukuran tertentu, beban dan waktu tertentu kedalam bitumen pada suhu
tertentu.

B. PERALATAN
a. Alat penetrasi yang dapat menggerakan pemengang jarum naik turun
tanpa gesekan dan dapat mengukur presentasi sampai 0,1 mm.
b. Pemegang jarum seberat ( 47,5± 0,05 ) gr yang dapat dilepas dengan
mudah dari alat penetrasi untuk penerangan.
c. Pemberat dari ( 50± 0,05 ) gr dan ( 100± 0,05 ) gr masing-masing
dipergunakan untuk pengukuran penetrasi dengan beban 100 gr dan
200 gr.
d. Jarum penetrasi dibuat dari stainless steel mutu 440 C atau HRC 54
sampai 60 dengan ukuran dan bentuk menurut gambar nomor 2.
Ujung jarum harus berbentuk kerucut terpancung
e. Cawan contoh terbuat dari logam atau gelas berbentuk silinder
dengan dasar yang rata-rata berukuran sebagai berikut :

Penetrasi Diameter Dalam


Dibawah 200 55 mm 35 mm
200 sampai 300 70 mm 45 mm

f. Bak perendam ( Waterbath )


Terdiri dari bejana dengan isi tidak kurang dari 10 liter dan dapat
menahan suhu tertentu dengan ketelitian lebih kurang 0,1º C. bejana
dilengkapi dengan plat dasar berlubang-lubang, terletak 50 mm

KELOMPOK VII 1
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

diatas dasar bejana dan tidak kurang dari 100mm dibawah


permukaan.
g. Tempat air untuk benda uji ditempatkan dibawah alat penetrasi.
Tempat tersebut mempunyai isi tidak kurang dari 350 ml dan tinggi
yang cukup untuk merendam benda uji tanpa bergerak
h. Pengukuran waktu
Untuk pengukuran penetrasi dengan tangan diperlukan stopwatch
dengan skala pembagian terkecil 0,1 detik atau kurang dan
kesalahan tertinggi 0,1 detik per 60 detik. Untuk pengukuran
penetrasi dengan alat otomatis, kesalahan alat tersebut tidak boleh
melebihi 0,1 detik
i. Termometer sesuai dengan daftar no.1, gambar no.1.

C. BENDA UJI
Contoh dipanaskan perlahan-lahan serta diaduk hingga cukup cair
untuk dapat dituangkan. Pemanasan contoh untuk ter tidak lebih dari
60 ºC diatas titik lembek, dan untuk bitumen tidak lebih dari 90 ºC
diatas titik lembek.
Waktu pemanasan tidak boleh melebihi 30 menit. Diaduk secara
perlahan-lahan agar udara tidak masuk kedalam contoh.
Setelah contoh cair merata dapat dituangkan kedalam contoh dan
didiamkan hingga dingin. Tinggi contoh dalam tempat tersebut tidak
kurang dari angka penetrasi ditambah 10 mm. Buatlah dua benda uji
(duplo). Benda uji ditutup agar bebas dari debu didiamkan pada suhu
ruang selama 1 samapi 1,5 jam untuk benda uji kecil dan 1,5 sampai 2
jam untuk benda uji besar.

D. CARA MELAKUKAN
a. Benda uji diletakkan dalam tempat air yang kecil dan masukkan
tempat air tersebut dalam bak peredam yang telah berada pada suhu
yang telah ditentukan, didiamkan ke dalam bak tersebut 1 - 1,5 jam
b. Pemegang jarum diperiksa agar jarum dapat dipasang dengan baik
dan jarum penetrasi dibersihkan dengan toluena kemudian jarum

KELOMPOK VII 2
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

tersebut dikeringkan dengan lap bersih dan jarum untuk memperoleh


beban sebesar ( 100 ± 0,1 ) gram.
c. Tempat air dipindahkan dari bak perendam kebawah alat penetrasi.
d. Jarum perlahan-lahan diturunkan sehingga jarum tersebut
menyentuh permukaan benda uji. Kemudian angka 0 diatur di arloji
penetrometer, sehingga jarum penunjuk berimpit dengannya.
e. Pemegang jarum dilepaskan dan serentak stopwatch dijalankan
selama jangka waktu ( 5 ± 0,1 ) detik.
f. Arloji penetrometer diputar dan angka penetrasi dibaca yang berimpit
dengan jarum penunjuk. Dibulatkan hingga angka 0,1 mm terdekat.
g. Jarum dilepaskan dari pemegang jarum dan alat penetrasi lainnya
disiapkan untuk pekerjaan berikutnya.
h. Pekerjaan a sampai dengan g dilakukan tidak kurang dari 3 kali
untuk benda uji yang sama dengan ketentuan setiap titik
pemerikasaan berjarak satu sama lain dan dari tepi dinding lebih dari
1 cm.

E. DATA HASIL PERCOBAAN.


 Terlampir.

PEMERIKSAAN
PENURUNAN BERAT MINYAK DAN ASPAL
KELOMPOK VII 3
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

( THICK FILM TEST )

PA-030-76
( AASTHO T-47-74* )
(ASTM D-6-69 )

A. MAKSUD PERCOBAAN
Pemeriksaan ini dimasukkan untuk menetapkan penurunan berat
minyak aspal dengan cara pemanasandantebal tertentu yang dinyatakan
dalam persen berat semula.

B. PERALATAN
a. Termometer, sesuai dengan daftar nomor 1 gambar nomor 1.
b. Oven yang dilengkapi dengan :
i. Pengaturs suhu untuk memanasi sampai ( 180 ± 1 )º C
ii. Pinggan logam berdiameter 25 cm, menggantung dalam oven pada
poros vertikal dan berputar dengan kecepatan 5 sampai 6 putaran
permenit ( gambar 2 ).
c. Cawan
Logam atau gelas berbentuk silinder, dengan dasar yang rata. Ukuran
dalam ; Diameter 55 cm dan tinggi 35 mm.
d. Neraca analitik, dengan kapasitas ( 200 ± 0.001 ) gram.

C. BENDA UJI
a. Persiapan
Contok minyak dan aspal diaduk serta dipanaskan bila perlu untuk
mendapatkan campuran yang merata.
b. Contoh dituang kira-kira ( 50.0 ± 0.5 ) gr kedalam cawan dan
setelah dingin ditimbang dengan ketelitian 0.01 gr ( A ).
c. Benda uji yang diperiksa harus bebas air.
d. Benda uji disiapkan ganda ( duplo )

D. PROSEDUR PERCOBAAN.

KELOMPOK VII 4
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

a. Benda uji diletakkan diatas pinggan setelah oven mencapai suhu


( 163 ± 1 )º C.
b. Termometer dipasang pada dudukannya sehinga terletak pada jarak
1.9 cm dari pinggan dengan ujung 6 mm diatas pinggan.
c. Benda uji diambil dari oven setelah 5 jam sampai 5 jam 15 menit.
d. Benda uji didinginkan pada suhu ruang, kemudian ditimbang dengan
ketelitian 0.01 gr ( B ).

E. DATA HASIL PERCOBAAN


 Terlampir.

INDEKS KEPIPIHAN AGREGAT


KELOMPOK VII 5
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

A. MAKSUD PERCOBAAN
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan indeks kepipihan dari
agregat kasar.

B. PERALATAN
a. Saringan ¾’, ½’ dan 3/8’.
b. Alat pengukur kepipihan.
c. Timbangan dengan ketelitian 0.01 gram.
d. Talam

C. BENDA UJI.
a. Saring 2000 gr agregat dengan menggunakan saringan ½’ dan 3/8 ‘
b. Agregat yang tertahan pada saringan ½’ dan 3/8’ kemudian
ditimbang lalu dimasukkan pada alat pengukur kepipihan.
c. Timbang agregat yang lolos dan tertahan.
d. Hitung prosentase kepipihan.

D. DATA HASIL PERCOBAAN


 Terlampir.

PERCOBAAN KADAR LUMPUR PASIR


KELOMPOK VII 6
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

A. MAKSUD PERCOBAAN .
Percobaan ini dimaksudkan Untuk mengetahui tingkat prosentase
lumpur dari suatu agregat halus atau pasir.

B. BAHAN DAN PERALATAN PERCOBAAN


a. Bahan
 Pasir yang telah lolos saringan no.4 yang agak padat
 Air suling
b. Peralatan
 Tabung sand equivalent ( S.E )
 Beban equivalent.
 Larutan standar ( stok solusion ).
 Gelas Erlemeyer.
 Statif
 Cawan .
 Tin box
 Saringan no.4.
 Sumbat karet.

C. PROSEDUR PERCOBAAN
a. Pembebanan equivalent dimasukkan pada tabung Elenmeyer dalam
kondisi kosong kemudian dicatat letak tera putih pada posisi strip.
b. Pasir yang lolos saringan no.4 diambil secukupnya, dan dimasukkan
kedalam tin box sampai penuh, diratakan dan ditekan dengan tangan
sehingga rata permukaan.
c. Memasukkan larutan standar ke dalam tabung S.E setinggi 5 strip
(skala tabung S.E).
d. Contoh yang telah ditakar tadi dimasukkan kedalam tabung S.E
setinggi 5 strip, dan biarkan selama 10 menit.
e. Tabung dikocok dengan arah mendatar sebanyak 90 kali, dimana
perhitungan dilakukan satu arah.

KELOMPOK VII 7
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

f. Slang dimasukkan ke dalam tabung S.E dan kran dibuka sehingga


larutan standar equivalent masuk ke dalam tabung S.E sampai skala
15.
g. Didiamkan 20 menit, kemudian baca skala di atas permukaan
lumpur.
h. Selanjutnya skala beban equivalent dimasukkan secara perlahan-
lahan sampai beban tersebut berhenti.
i. Skala dibaca setelah pembebanan.
j. Perhitungan nilai S.E

Skala pasir
SE = x 100 %
Skala lumpur

D. DATA HASIL PERCOBAAN.


 Terlampir.

BERAT JENIS DAN PENYERAPAN


KELOMPOK VII 8
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

AGREGAT KASAR

PB-0202-76
( AASTHO T-85-74 )
( ASTM C-127-68 )

A. MAKSUD PERCOBAAN
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan berat jenis (bulk),
berat jenis permukaan jenuh (saturated surface dry = SSD), berat jenis
semu (apparent) dan penyerapan dari agregat kasar.
a. Berat jenis bulk (bulk specifik gravity) ialah perbandingan antara
berat agregat kering dan berat air suling yang isinya sama dengan isi
agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu.
b. Berat jenis permukaan jenuh (SSD) ialah perbandingan antara berat
kering permukaan jenuh dan berat air suling yang isinya sama
dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu.
c. Berat jenis semu (apprent) ialah perbandingan antara berat agregat
kering dengan berat air suling, akan tetapi yang diperhitungkan
adalah volume partikel dan bagian yang diresapi air pada suhu
tertentu.
d. Penyerapan adalah prosentase berat air yang dapat diserap pori
terhadap berat agregat kering.

B. PERALATAN
a Keranjang kawat dengan ukuran 3.35 mm atau 2.36 mm ( no. 6 atau
no. 8) dengan kapasitas kira-kira 5 kg.
b Tempat air yang dengan kapasitas dan bentuk yang sesuai dengan
pemeriksaan.
c Timbangan dengan kapasitas 5 kg yang dilengkapi alat penggantung
keranjang,
d Oven yang dilengkapi pemanas suhu sampai ( 110 ± 5 )ºC.
e Saringan no. 4.
f Alat pemisah contoh ( spitter )
C. BENDA UJI
KELOMPOK VII 9
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

Benda uji adalah agregat yang tertahan saringan no. 4 diperoleh dari alat
pemisah contoh atau cara perempat, sebanyak 5 kg

D. PROSEDUR PERCOBAAN
a. Benda uji dicuci untuk melepaskan debu atau bahan-bahan lain yang
melekat pada permukaan.
b. Benda uji dikeringkan dalam oven pada suhu ( 100 ± 5 )º C sampai
berat tetap.
c. Benda uji didinginkan benda uji pada suhu kamar selama 1 – 3 jam,
kemudian timbang denganketelitian 0.5 gram (BK).
d. Benda uji direndam pada suhu kamar selama 24 ± 4 jam.
e. Benda uji dikeluarkan dari dalam air, kemudian dilap dengan kain
penyerap sampai selaput air pada permukaan hilang (SSD), untuk
butiran yang besar pengeringan harus satu-satu.
f. Benda uji ditimbang didalam keranjang goncangkan batunya untuk
mengeluarkan udara yang tersekap dan tentukan beratnya didalam
air (Ba). Ukur suhu air untuk penyesuaian perhitungan pada suhu
standar 25ºC.

E. DATA HASIL PERCOBAAN.


 Terlampir.

BERAT JENIS DAN PENYERAPAN


KELOMPOK VII 10
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

AGREGAT HALUS

PB-0203-76
(AASHTO T-84-74)
(ASTM C-128-68)

A. MAKSUD PERCOBAAN
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan berat jenis (bulk),
berat jenis permukaan jenuh (saturated surface dry = SSD), berat jenis
semu (apparent) dan penyerapan dari agregat kasar.
a. Berat jenis bulk (bulk specifik gravity) ialah perbandingan antara
berat agregat kering dan berat air suling yang isinya sama dengan isi
agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu.
b. Berat jenis permukaan jenuh (SSD) ialah perbandingan antara berat
kering permukaan jenuh dan berat air suling yang isinya sama
dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu.
c. Berat jenis semu (apprent) ialah perbandingan antara berat agregat
kering dengan berat air suling, akan tetapi yang diperhitungkan
adalah volume partikel dan bagian yang diresapi air pada suhu
tertentu.
d. Penyerapan adalah prosentase berat air yang dapat diserap pori
terhadap berat agregat kering.

B. PERALATAN
a. Timbangan/ neraca, kapasitas 1 kg atau lebih dengan ketelitian 0.1
gram
b. Picnometer kapasitas 500 ml.
c. Kerucut terpancung (cone), diameter bagian atas (40 ± 3) mm,
diameter bagian bawah (90 ± 3 )mm, dan tinggi (75 ± 3)mm dibuat
dari logam dengan tebal minimum 0.8 mm.
d. Batang penumbuk yang mempunyai bidang penumbuk yang rata,
berat (340 ± 15) gram, diameter permukaan penumbuk (25 ± 3 )mm.
e. Saringan No. 4.

KELOMPOK VII 11
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

f. Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai


( 110 ± 5 )ºC
g. Pengukur suhu dengan ketelitian pembacaan 0.5ºC.
h. Talam.
i. Bejana tempat air.
j. Pompa hampa udara (vacuum pump) atau tungku.
k. Air suling.
l. Desikator.

C. BENDA UJI.
Benda uji adalah agregat yang lolos saringan No. 4, diperoleh dari alat
pemisah contoh atau cara perempatan sebanyak 1000 gram.

D. PROSEDUR PERCOBAAN.
a. Benda uji dikeringkan dalam oven pada suhu (110 ± 5)ºC, sampai
berat tetap. Yang dimaksud dengan berat tetap adalah keadaan berat
benda uji selama 3 kali penimbangan dan pemanasan dalam oven
selama waktu 2 jam berturut-turut, tidak akan mengalami perubahan
kadar air lebih besar dar 0.1 %. Diinginkan dalam suhu ruang,
kemudian direndam dalam air selama 24 jam.
b. Air perendam dibuang, hati-hati jangan sampai ada butiran yang
hilang, tebarkan agregat diatas talam, keringkan diudara panas
dengan cara membalikkan benda uji. Pengeringan dilakukan sampai
tercapai keadaan kering permukaan jenuh ( SSD ).
c. Keadaan kering permukaan jenuh diperiksa dengan mengisikan
benda uji kedalam kerucut terpancung. Keadaan kering permukaan
jenuh tercapai bila benda uji runtuh tetapi masih dalam keadaan
tercetak.
d. Segera setelah tercapai keadaan kering permukaan jenuh, masukkan
500 gram benda uji kedalam picnometer. Masukkan air suling sampai
mencapai 90% isi picnometer, putar sambil diguncang sampai tidak
terlihat gelembung udara didalamnya. Untuk mempercepat proses ini,
dapat dipergunakan pompa hampa udara, tetapi harus diperhatikan

KELOMPOK VII 12
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

jangan sampai ada air yang ikut terhisap dapat juga dilakukan
dengan merebus picnometer.
e. Picnometer direndam kedalam air dan diukur suhu air untuk
penyesuain perhitungan kepada suhu standar 25ºC.
f. Ditambahkan air sampai mencapai tanda batas kalibrasi.
g. Picnometer yang berisi air dan benda uji ditimbang sampai ketelitian
0.1 gram (C).
h. Benda uji dikeluarkan, dikeringkan dalam oven dengan suhu (110 ±
5)ºC sampai berat tetap, kemudian benda uji didinginkan dalam
dedikator.
i. Benda uji ditimbang setelah benda uji dingin.
j. Tentukan berat picnometer berisi air penuh dan ukur suhu air guna
penyesuain dengan suhu standar 25ºC (B).

E. DATA HASIL PERCOBAAN


 Terlampir.

KELOMPOK VII 13
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

PEMERIKSAAN
BERAT JENIS BITUMEN KERAS DAN TER

PA-0307-76
(AASHTO T-228-68*)

A. MAKSUD PERCOBAAN.
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan berat jenis bitumen
keras dan ter dengan alat picnometer.
Berat jenis bitumen atau ter adalah perbandingan antara berat bitumen
atau ter dan berat air suling dengan isi yang sama pada suhu tertentu.

B. PERALATAN.
a. Termometer sesuai daftar no. 1, gambar no.1
b. Bak perendam yang dilengkapi pengatur suhu dengan ketelitian (25 ±
0.1)ºC
c. Piknometer, gambar no. 2.
d. Air suling sebanyak 1000 cm³
e. Bejana gelas.

C. BENDA UJI.
a. Contoh bitumen keras atau ter dipanaskan sejumlah 50 gr sampai
menjadi cair dan diaduk untuk mencegah pemanasan setempat.
b. Contoh dituang kedalam piknpmeter yang telah kering hingga terisi
¾ bagian.

D. PROSEDUR PERCOBAAN.
a. Bejana diisi dengan air suling sehingga diperkirakan bagian atas
piknometer tidak terendam 40 mm. Kemudian bejana tersebut
direndam dan dijepit dalam bak perendam sehingga terendam
sekurang-kurangnya 100 mm. Atur suhu bak perendam diatur pada
suhu 25ºC.
b. Dibersihkan, dikeringkan, dan ditimbang piknometer dengan
ketelitian 1 mg (A).

KELOMPOK VII 14
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

c. Bejana diangkat dari bak perendam dan piknometer diisi dengan


air suling kemudian piknometer ditutup tanpa ditekan.
d. Piknometer diletakan ke dalam bejana dan penutup ditekan hingga
rapat, kembalikan bejana berisi piknometer ke dalam bak perendam
selama ± 30 menit, kemudian piknometer diangkat dan dikeringkan
dengan lap. Piknometer ditimbang dengan ketelitian 1 mg (B).
e. Benda uji ditung kedalam piknometer yang telah kering hingga
terisi ¾ bagian.
f. Dibiarkan sampai dingin waktu tidak kurang dari 40 menit dan
ditimbang dengan penutupnya dengan ketelitian 1mg (C)
g. Piknometer yang berisi benda uji diisi dengan air suling dan
ditutup tanpa ditekan, didiamkan agar gelembung-gelembung udara
keluar
h. Bejana diangkat dari bak perendam, dan piknometer diletakkan di
dalamnya dan kemudian penutup ditekan hingga rapat.
i. Bejana dimasukkan dan diamkan kedalam bak perendam selama
sekurang-kurangnya 30 menit. Di angkat, dikeringkan dan ditimbang
piknometer (D).

E. DATA HASIL PERCOBAAN


 Terlampir

KELOMPOK VII 15
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

PEMERIKSAAN
TITIK LEMBEK ASPAL DAN TER

PA-0302-76
(AASHTO T-53-74*)
(ASTM D-36-70)

A. MAKSUD PERCOBAAN.
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan titik lembek aspal
danter yang berkisar antara 30º C samapi 200º C.
Yang dimaksud dengan titik lembek suhu pada saat bola baja, denagan
berat tertentu, mendesak turun suatu lapisan aspal atau ter yang
tertahan dalam cicin yang berukuran tertentu, sehingga aspal atau ter
tersebut menyentuh pelat dasar yang terletak dibawah cincin pada
tinggi tertentu, sebagai akibat kecepatan pemanasan tertentu.

B. PERALATAN.
a. Termometer sesuai daftar no. 1
b. Cincin kuningan, gambar no. 2a.
c. Bola baja, diameter 9.53 mm ; berat 3.45 sampai 3.55 gr.
d. Alat pengarah bola, gambar no. 2c.
e. Bejana gelas, tahan pemanasan mendadak dengan diameter dalam
8.5 cm dengan tinggi sekurang-kurangnya 12 cm.
f. Dudukan benda uj, gambar no 2b.
g. Penjepit.

C. BENDA UJI
a. Contoh dipanaskan perlahan-lahan sambil diaduk terus menerus
hingga cair merata. Pemanasan dan pengadukan dilakukan
perlahan-lahan agar gelembung-gelembung udara tidak termasuk.
Setelah cair merata contoh dituang kedalam dua buah cincin. Suhu
pemanasan ter tidak melebihi 56ºC diatas titik lembeknya dan untuk
aspal tidak melebihi 111ºC diatas titik lembeknya. Waktu untuk

KELOMPOK VII 16
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

pemanasan ter tidak melebihi 30 menit sedangkan untuk aspal tidak


melebihi 2 jam.
b. 2 buah cincin dipanaskan sampai mencapai suhu ruang, contoh
kedua cincin diletakkan diatas pelat kuning yang telah diberi lapisan
dari campuran talk dan sabun
c. Contoh dituang kedalam 2 buah cincin. Didiamkab pada suhu
sekurang-kurangnya 8ºC sekurang-kurangnya selama 30 menit.
d. Setelah dingin, permukaan contoh dalam cincin diratakan dengan
pisau yang telah dipanaskan.

D. PROSEDUR PERCOBAAN
a. Kedua benda uji dipasang dan diatur diatas dudukannya dan
pengarah bola diletkkan diatasnya. Kemudian seluruh peralatan
dimasukkan kedalam bejana gelas. Bejana diisi dengan air suling
baru, dengan suhu ( 5 ± 1 )ºC sehingga tinggi permukaan air berkisar
antara 101.6 mm sampai 108 mm. Termometer yang sesuai untuk
pekerjaan ini diletakkan diantara kedua benda uji ( kurang lebih 12.7
mm dari tiap cincin ). Jarak antara permukaan pelat dasar dengan
dasar benda uji diperiksa dan diatur sehingga menjadi 25.4 mm
b. Bola-bola baja yang bersuhu 5ºC diletakkan diatas pada bagian
tengah permukaan masing-masing benda uji yang bersuhu 5ºC
dengan menggunakan penjepit dengan memasang kembali pengarah
bola.
c. Bejana dipanaskan sehingga kenaikan suhu menjadi 5ºC per menit
Kecepatan pemanasan ini tidak boleh diambil dari kecepatan
pemanasan rata-rata dari awal sampai akhir pekerjaan ini.
Untuk tiga menit pertama perbedaan kecepatan pemanasan tidak
boleh melebihi 0.5ºC

E. DATA HASIL PERCOBAAN.


 Terlampir.

KELOMPOK VII 17
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

PEMERIKSAAN TITIK NYALA DAN TITIK BAKAR


DENGAN CLEVELAND OPEN CUP

PA-0303-76
(AASHTO T-48-74*)
(ASTM D-92-52)

A. MAKSUD.
Pemeriksaan ini dimaksuk untuk menentukan titik nyata dan titik
bakar dari semua jenis minyak bumi kecuali minyak bakar dan bahan
bakar lainnya yang mempunyai titik nyala open cup kurang dari 79 º C.
Titk nyala adalah suhu pada saat terlihat nyala singkat pada suatu titik
diatas permukaan aspal. Kemudian Titik bakar adalah suhu pada saat
terlihat nyala sekurang-kurangnya 5 detik pada suatu titik diatas
permukaan aspal.

B. PERALATAN
a. Termometer, sesuai daftar no. 1, gambar no. 1.
b. Cleveland open cup adalah cawan kuningan (lihat gambar no. 2.)
c. Pelat pemanas
Terdiri dari logam, untk melekatkan cawan Cleveland, gambar no. 3.
Dan bagian atas dilapisi seluruhnya oleh asbes setebal 0,6 cm (1/4”).
d. Sumber pemanasan
Pembakaran gas atau tungku listrik, atau pembakar alkohol yang
tidak menimbulkan asap atau nyala disekitar bagian atas cawan.
e. Penahan angin, alat yang menahan angin waktu pemanasan.
f. Nyala penguji.
Yang dapat diatur dan memberikan nyala dengan diameter 3.2
sampai 4.8 mm dengan panjang tabung 7.5 cm seperti gambar no.4

C. BENDA UJI
Contoh aspal dipanaskan antara 148ºC dan 176ºC sampai cukup air.
Kemudian cawan Cleveland diisi sampai garis dan gelembung udara
yang ada pada permukaan cairan dihilangkan.
D. PROSEDUR PEKERJAAN
KELOMPOK VII 18
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

a. Cawan diletakkan diatas pelat pemanas dan sumber pemanas diatur


sehingga terletak dibawah titik tengah cawan.
b. Nyala penguji diletakkan dengan poros pada jarak 7.5 cm dari titik
tengah cawan.
c. Termometer ditempatkan tegak lurus didalam benda uji dengan jarak
6.4 mm diatas dasar cawan, dan terletak pada satu garis yang
menghubungkan titik tengah cawan dan titik poros nyala penguji.
Kemudian diatur sehingga poros thermometer terletek pada jarak ¼
diameter cawan dari tepi.
d. Penahan angi ditempatka didepan nyala penguji.
e. Sumber pemanas dinyalakan dan pemanasan diatur sehingga
kenaikan suhu menjadi (15 ± 1) º C permenit sampai benda uji
mencapai suhu 56 º C dibawa titik nyala perkiraan.
f. Kecepatan pemanasan diatur 5º C sampai 6º C permenit pada suhu
56º C dan 28º C dibawah titik nyala perkiraan.
g. Nyala penguji dinyalakan dan diatur agar diameter nyala penguji
tersebut menjadi 3.2 sampai 4.8 mm.
h. Nyala penguji diputar sehingga melalui permukaan cawan (dari tepi
ke tepi cawan) dalam waktu 1 detik. Pekerjaan diulangi tersebut
setiap kenaikan suhu 2ºC.
i. Pekerjaan f dan h dilanjutkan sampai terlihat nyala singkat pada
suatu titik d atas permukaan benda uji. Suhu pada termometer
dibaca dan dicatat.
j. Pekerjaan dilanjutkan lagi sampai terlihat nyal agak lama sekurang-
kurangnya 5 detik diatas permukaan benda uji. Kenaikan suhu pada
termometer dibaca dan dicatat.

E. DATA HASIL PERCOBAAN


 Terlampir.

KEAUSAN AGREGAT DENGAN MESIN


KELOMPOK VII 19
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

LOS ANGELES

PA-0206-76
( AASHTO T-96-74* )
( ASTM C-131-55 )
( ASTM C-535-9 )

A. MAKSUD
a. Penerapan Laboratorium
 Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui ketahanan
agregat kasar terhadap keausan dengan menggunakan mesin Los
Angeles. Keausan tersebut dinyatakan dengan berat perbandingan
antara berat bahan aus yang tertahan saringan no. 12” terhadap
berat semula dalam persen.
 Untuk mengetahui tingkat prosentase abrasi dari suatu agregat.
b. Penerapan lapangan
 Untuk mengetahui seberapa besar terjadi perubahan ukuran butir
karena pecahnya butir – butir agregat (abrasi) akibat pembebanan
yang berulang – ulang pada lapisan perkerasan jalan.

B. BAHAN DAN PERALATAN


a. Bahan Percobaan
 5000 gram agregat yang tertahan saringan no. ½ “, 3/8 “
b. Peralatan percobaan
 Mesin Los Angeles
Mesin terdiri dari silinder baja tertutup pad kedua sisinya dengan
diameter 71 cm (28”), panjang dalam 50 cm (20”). Silinder
bertumpu pada dua poros pendek tang tidak meneris dan
berputar pada poros mendatar. Silinder berlubang untuk
memasukkan benda uji. Penutup lubang tertutup rapat sehingga
permukaan dalam silinder tidak terganggu. Didalam silinder
terdapat bilah baja melintang setinggi 8,9 cm (3,56”)
 Saringan no. 12”
 Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram
KELOMPOK VII 20
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

 Bola – bola baja sebanyak 1 buah dengan ketinggian rata – rata


4,86 cm (15/8”) dan berat masing – masing antara 390 gram
sampai 445 gram
 Oven yang dilengkapi pengatur suhu

C. PROSEDUR PEKERJAAN
a. 3000 gram agregat yang tertahn saringan no. ½ “ dam 3/8 “ (A)
b. Bersihkan benda uji dan keringkan dalam oven (1105)C selama 24
jam sampai berat tetap.
c. Benda uji dan bola bja dimasukkan ke dalam mesin Los Angeles .
Putar mesin sampai 30 – 33 rpm sebanyak 500.
d. Setelah selesai pemutaran, keluarkan benda uji dari mesin kemudian
saring dengan saringan no.12” . Butiran yang tertahan diatasnya
dicuci bersih, selanjutnya dikeringkan dengn oven dengan suhu
(1105)C selama 24 jam sampai berat tetap. Kemudian timbang
benda uji (B).

D. DATA HASIL PERCOBAAN


 Terlampir.

PEMERIKSAAN
KELOMPOK VII 21
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

ANALISA SARINGAN
AGREGAT KASAR DAN HALUS

PB-0201-76
( AASHTO T-27-74 )
( ASTM C-136-46 )

A. MAKSUD
a. Penerapan Laboratorium
 Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan pembagian
butir (gradasi) agregar halus dan agregat kasar dengan
menggunakan saringan.
b. Penerapan Lapangan
 Untuk menentukan pemilihan komposisi agregat yang sesuai
terhadap lapisan perkerasan, dimana perkerasan atas
menggunakan agregat dengan butiran yang lebih kecil
dibandingkan perkerasan dibawahnya. Sedangkan perkerasan
bawah menggunakan batu – batu besar dengan agregat kecil
sebagai pengisi di sela – selanya.

B. BAHAN DAN PERALATAN PERCOBAAN


a. Bahan Percobaan
 Agregat Halus, yaitu masing – masing 1000 gram abu batu dan
1000 gram pasir yang lolos saringan 3/8 “.
 Agregat Kasar, yaitu 1500 gr agregat yang lolos saringan ¾”
b. Peralatan Percobaan
 Timbangan dan neraca
 Satu set saringan terdiri dari :1” , #3/4”, #1/2”, #3/8”, No. 4,
No.8, No. 16, No. 30, No. 50, No. 100, No. 200, PAN (standart
ASTM)
 Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi
sampai (1105)C.
 Alat pemisah contoh (Splitter)
 Mesin pengguncang saringan (Shieve Shaker)

KELOMPOK VII 22
LABORATORIUM JALAN DAN ASPAL

 Talam – talam

C. BENDA UJI
Benda uji diperoleh dari alat pemisah contoh dengan cara perempat
sebanyak :
a. Agregat halus
Ukuran maksimum No. 4 ; berat minimum 1500 gram
b. Agregat kasar
Ukuran maksimum No. 3/8” ; berat minimum 2000 gram. Bila
agregat berupa campuran dari gregat halus dan agregat kasar,
agregat tersebut disortir menjadi dua bagian dengan saringan No. 4.
Selanjutnya agregat kasar dn gregat kasar disediakan sebanyak
jumlah yang tercantum diatas.

D. PROSEDUR PERCOBAAN
a Timbang benda uji
b Benda uji dikeringkan dalam oven dengan suhu (1105)C sampai
berat tetap.
c Saring benda uji lewat susunan saringan dengn ukuran saringan
paling besar ditempatkan diatas. Saringan diguncang dengan tangan
atau mesin pengguncang selama 15 menit.
d Hitung berat agregat yang tertahan pada masing – masing saringan.

E. DATA HASIL PERCOBAAN


 Terlampir.

KELOMPOK VII 23