Anda di halaman 1dari 3

Pengetahuan dan tindakan terhadap perdarahan gingiva memiliki

hubungan positif atau searah, sedangkan sikap terhadap perdarahan gingiva


memiliki hubungan negatif atau tidak searah (Tabel 4.51). Kurangnya
pengetahuan mengenai kesehatan gigi merupakan faktor predisposisi dari
perilaku kesehatan yang mengarah kepada timbulnya penyakit. Pengetahuan
responden berhubungan dengan jumlah adanya perdarahan gingiva.
Pengetahuan tentang kebersihan gigi dan mulut sangat penting untuk
terbentuknya tindakan dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut.
Pengetahuan berkaitan erat dengan pendidikan, mayoritas masyarakat Jelbuk
berpendidikan tamat Sekolah Dasar kemungkinan kurang motivasi atau
kemauan dan kurang menyadari pentingnya pemeliharaan kebersihan gigi dan
mulut, menganggap penyakit gigi merupakan penyakit ringan Tingginya
jumlah responden yang mengalami perdarahan gingiva dapat dihubungkan
dengan rendahnya kebersihan rongga mulut (oral hygiene). Penelitian oleh
Fatah (2015) menunjukkan adanya perdarahan gingiva yang tinggi sesuai
dengan teori yang menyatakan bahwa penyakit periodontal terjadi karena
adanya faktor primer berupa iritasi bakteri dan faktor sekunder berupa faktor
lokal dan sistemik. Faktor lokal dapat berupa restorasi yang keliru, kavitas
karies, tumpukan sisa makanan, geligi tiruan yang desainya tidak baik, alat
ortodonti, susunan gigi-geligi yang tidak teratur, kurangnya seal bibir atau
kebiasaan bernafas melalui mulut, dan merokok. Faktor sistemik dapat berupa
faktor genetik, nutrisional, hormonal, dan hematologi (penyakit darah). Data
hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sebesar 59,5% responden terjadi
perdarahan gingiva pada responden
Hasil uji korelasi spearman mengenai penyakit periodontal terhadap
sikap. Didapatkan hasil tidak adanya hubungan antara sikap dengan
perdarahan gingiva. Sikap yang dimiliki masyarakat desa Suger Kidul
terhadap kondisi kesehatan jaringan periodontal dalam kategori sedang
(37%). Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahayu dkk.
(2014) bahwa sikap belum tentu disertai dengan perilaku yang baik dalam
memelihara kebersihan gigi dan mulut. Sekalipun sikap merupakan
predisposisi evaluatif yang banyak menentukan tindakan individu, tetapi
sikap dan tindakan nyata seringkali jauh berbeda. Hal ini dikarenakan
tindakan nyata tidak hanya ditentukan oleh sikap semata, tetapi oleh berbagai
faktor eksternal lainnya.
Data hasil uji korelasi spearman menunjukkan bahwa terdapat
hubungan antara tindakan dengan adanya perdarahan gingiva, hasil
pemeriksaan menunjukkan bahwa tindakan mengenai kesehatan gigi dan
mulut masyarakat desa Suger Kidul dalam kategori sedang (65%). Hasil ini
sejalan dengan penelitian oleh Wiradona (2013) yang menunjukkan bahwa
responden dengan praktek menggosok gigi kurang memiliki skor plak yang
cukup besar. Tindakan menggosok gigi telah dianggap sebagai faktor penting
penyebab karies dan penyebab periodontal. Apabila terjadi kesalahan
menyikat gigi baik dalam cara maupun waktu akan menyebabkan bakteri plak
dapat menumpuk. Waktu menyikat gigi sebelum tidur, bakteri plak akan tetap
tertinggal selama orang tersebut tidur. Kesalahan dalam cara menyikat gigi
dapat mengakibatkan terkikisnya jaringan pada gingiva (resesi gingiva) yang
berdampak pada rentannya pendarahan pada gingiva (Gede dkk, 2013).

Sumber:

Fatah, M.K., D. Khursheed, dan G. Didar. 2015. Prevalence of Dental Plaque,


Gingival Bleeding and Dental Calculus among Patients Attended
Periodontal Department of School Dentistry at University of Sulaimani.
IOSR Journal of Dental and Medical Sciences (IOSR-JDMS). Vol
14(19): 82- 85. Hal 83

Gede, Pandelaki, Mariati; Hubungan Pengetahuan Kebersihan Gigi. 2013.


Hubungan Pengetahuan Kebersihan Gigi Dan Mulut Dengan Status
Kebersihan Gigi Dan Mulut Pada Siswa Sma Negeri 9 Manado. Jurnal
e-GiGi (eG), Vol 1( 2): 84-88
Rahayu, Culia., S. Widiati, dan N. Widyanti. 2014. Hubungan antara
Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku terhadap Pemeliharaan Kebersihan
Gigi dan Mulut dengan Status Kesehatan Periodontal Pra Lansia di
Posbindu Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya. Maj Ked Gi. Vol
21(1): 27-32. Hal 31