Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH SEMINAR PRAKTIKUM FARMASI FISIK

PENENTUAN HARGA KONSENTRASI MISEL KRITIS


SURFAKTAN (CMC)

OLEH : KELOMPOK 5

Haliza Hasnia Putri 171501016

Dandy Zuhandri 171501019

Ella Januarti Efni 171501026

Rifqah Mawaddah 171501035

Annisa Nasution 171501055

LABORATORIUM FARMASI FISIK


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019

1
MAKALAH SEMINAR PRAKTIKUM FARMASI FISIK
PENENTUAN HARGA KONSENTRASI MISEL KRITIS
SURFAKTAN (CMC)

OLEH : KELOMPOK 5

Haliza Hasnia Putri 171501016

Dandy Zuhandri 171501019

Ella Januarti Efni 171501026

Rifqah Mawaddah 171501035

Annisa Nasution 171501055

Medan, 20 Mei 2019


Asisten, Praktikkan,

( Cindy Gani ) ( Kelompok 5 )

2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Suatu sifat fisika kimia yang penting dari suatu zat obat adalah kelarutan,
terutama kelarutan sistem dalam air. Jika kelarutan dari zat obat kurang dari yang
diinginkan, pertimbangan harus diberikan untuk memperbaiki kelarutannya.
Kelarutan dari suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat terlarut
dan pelarut, juga bergantung pada temperatur, tekanan, pH larutan dan untuk
jumlah yang lebih kecil, serta bergantung pada hal terbaginya zat terlarut
(Wahyuni, 2014).
Solubilisasi didefinisikan sebagai jumlah maksimum suatu zat yang
benar-benar dapat dilarutkan dalam sejumlah tertentu pelarut.Untuk meningkatkan
kelarutan suatu zat dalam air dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain
dengan pembentukan garam, pembentukan kompleks, peningkatan suhu,
mengurangi ukuran partikel atau menambahkan surfaktan (Wahyuni, 2014).
Surfaktan adalah senyawa organik yang diberkahi struktur amfifilik;
molekul mereka mengandung kedua kutub (kelompok hidrofilik) dan nonpolar
(hidrofobik) mereka agen permukaan-aktif. Properti ini menyediakan untuk
surfaktan aplikasi penting sebagai pembersih aktif agen untuk semua jenis
pencucian (Racaud, 2010).
CMC adalah biasanya didefinisikan sebagai konsentrasi di bawah ini
yang hanya asli molekul ada dalam larutan, dan di atas mana unimers dan
associate hidup berdampingan. CMC tergantung terutama pada struktur surfaktan
tetapi juga dipengaruhi oleh suhu, dan adanya zat lain seperti elektrolit yang kuat.
Nilai akurat untuk CMC sangat penting untuk studi deterjensi, pelarutan, katalisis,
dan sifat termodinamika yang diberikan surfaktan (Racaud, 2010).
Sejumlah metode, termasuk untuk contoh pengukuran tegangan
permukaan, ringan hamburan, kecepatan suara, telah digunakan. Sebuah Ulasan
metode elektrokimia baru-baru ini diterbitkan oleh Nesmerak dan Nemcova
potensiometri, listrik konduktivitas, voltametri, elektroforesis kapiler, miliki telah
berhasil digunakan untuk penentuan CMC dari berbagai surfaktan. Conductimetry
adalah yang paling sering digunakan karena kelebihannya adalah kesederhanaan
dan standar instrumentasi. (Racaud, 2010).

1
1.2 Prinsip Percobaan
Penentuan harga CMC di dasarkan pada prinsip alat Tensiometer Du Nouy
dimana gaya yang dibutuhkan untuk mengangkat cincin platina iridium yang
dicelupkan pada permukaan antarmuka adalah tidak berbanding lurus dengan
tegangan permukaan antarmuka. Penambahan surfaktan dalam larutan akan
menyebabkan penurunan tegangan permukaan larutan. Setelah mencapai
konsentrasi tertentu, tegangan permukaan akan konstan, walaupun konsentrasi
surfaktan ditingkatkan yang kemudian disebut dengan Critical Misel Critis
(CMC). Bila surfaktan ditambahkan melebihi konsentrasi ini maka akan terbentuk
misel.

1.3 Tujuan Percobaan


 Untuk mengetahui harga konsentrasi misel kritis pada larutan Tween 80
 Untuk mengetahui mengetahui harga konsentrasi misel kritis pada larutan
Sodium Lauril Sulfat (SLS)
 Untuk membandingkan konsentrasi misel kritis larutan Tween 80 dengan
larutan Sodium Lauril Sulfat (SLS)

1.4 Manfaat Percobaan


 Agar praktikan mengetahui harga konsentrasi misel kritis pada larutan
Tween 80
 Agar praktikan mengetahui harga konsentrasi misel kritis pada larutan
Sodium Lauril Sulfat (SLS)
 Agar praktikan dapat membandingkan konsentrasi misel kritis larutan
Tween 80 dengan larutan Sodium Lauril Sulfat (SLS)

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tegangan Permukaan dan Tegangan Antar Muka
Dalam keadaan cair, gaya kohesif antara molekul – molekul yang
berdekatan terbentuk dengan baik. Molekul – molekul dalam bulk cairan
dikelilingi oleh molekul – molekul lain dari segala arah. Molekul – molekul
tersebut mempunyai daya tarik-menarik yang sama, diketahui bahwa
mikropartikel dapat digunakan untuk memperbaiki imunisasi menggunakan rute
pemberian obat melalui mukosal (Sinko, 2015).
Fenomena antarmuka dalam farmasi dan kedokteran adalah faktor-faktor
yang berarti mempengaruhi adsorbsi obat pada bahan pembantu padat dalam
bentuk sediaan, penetrasi (penembusan) molekul melalui membran biologis,
pembentukan dan kestabilan emulsi, dan dispersi dari partikel yang tidak larut
dalam media cair untuk membentuk suspensi (Wahyuni dkk, 2014).
Tegangan permukaan atau tegangan antar muka adalah suatu gaya nyata
yang efeknya tampak pada tingkat makroskopis seperti halnya pada tingkat
molekuler. Hal ini dapat dilukiskan dengan meletakkan sebuah erangka kawat
dengan batag yang dapat bergerak dalam larutan sabun. Bila kerangka tersebut
ipindahkan dari larutan sabun, suatu lapisan akan terbentuk. Lapisan ini
merengang, dan batang yang dapat bergerak ditarik kea rah batang yang diam.
Tegangan permukaan lapisan sabun dapat diukur jika berat yang dibutuhkan
untuk mengimbangi gaya kontraksi ditentukan dengan menambah beban ke
batang yang dapat bergerak (Lachman dkk, 1989).
Zat terlaut dapat mengubah tegangan permukaan air. Karena efek
tersebut terdapat pada permukaan, maka dapatlah dianggap bahwa komposisi
daerah antarmuka telah berubah karena adanya natrium stearate natrium klorida.
Persamaan gibbs, salah satu persamaan dasar kimia permukaan, diturunkan
untuk menggambarkan pengaruh suatu zat terlarut pada tegangan permukaan.
Konsep kelebihan permukaan diperkenalkan oleh persamaan gibbs (Lachman
dkk, 1989).
Jumlah molekul – molekul zat aktif permukaan yang berbentuk misel
diketahui berkisar dari 50 sampai 100 molekul dan dicirikan oleh bilangan
agregasi. Umumnya bilangan agregasi dalam larutan air meningkat dengan

3
meningkatnya daerah hidrofilik zat aktif permukaan. Penambahan suatu
elektrolit menyebabkan bilangan agregasi dari zat aktif permukaan ionic
meningkat dengan berkurangnya efek muatan yang saling tolak menolak.
Seringkali bilangan agregasi meningkat dengan adanya hidrokarbon yang
diadsorpsi atau terlarut dalam daerah lipofilik dari misel (Lachman dkk, 1989).
Sifat lapisan antar muka sangat penting dalam emulsi. Secara
eksperimen, pengujian lapisan tersebut secara langsung pada antar muka
minyak/air sulit, namun ada teknik untuk mempelajari lapisan permukaan yang
larut, melengkapi pengetahuan mengenai lapisan-lapisan antar muka dalam
emulsi (Lachman dkk, 1989).
Teknik pokok yang digunakan dalam memepelajari lapisan-lapisan yang
tidak larut adalah keseimbangan lapisan yang digunakan untuk menghasilkan
sebuah grafik luas permukaan lapisan tersebut, A, terhadap tekanan lapisan, π 5.
Grafik ini disebut kurva π-A. tekanan lapisan merupakan perbedaan antara
tegangan permukaan dari cairan murni dan tegangan permukaan yang tertutup
lapisan (Lachman dkk, 1989).

2.2 Misel
Miselisasi adalah suatu mekanisme alternatef terhadap adsorpsi
antarmuka dimana zat aktif permukaan dapat memenuhi kelarutan di kedua
tempatnya, dan dengan demikian membentuk suatu system yang stabil
(Lachman dkk, 1989).
Miselisasi terjadi karena daerah lipofilik dihilangkan dari kontak dengan
air, tetapi proses tersebut dilawan oleh hilangnya kebebasan molekul – molekul
aktif permukaan sebagai akibat posisi nya dikunci dalam misel, dan dalam hal
zat aktif permukaan ionik oleh gaya tolak-menolak elektrostatis dari gugus polar
bermuatan. Konsentrasi dimana miselisasi menjadi bermakna ditentuka oleh
keseimbangan factor-faktor ini. Konsentrasi misel kritis yang rendah
menunjukkan bahwa hilangnya daerah lipofilik zat aktf permukaan dari kontak
dengan air adalah factor dominan, sedangkan konsentrasi misel kritis tinggi
menujukkan bahwa gaya yang melawan agregasi adalah bermakna (Lachman
dkk, 1989).

4
Misel memiliki struktur yang mirip dengan liposom, namun tidak
memiliki kompartemen cair dibagian dalam. Oleh sebab itu, misel dapat
digunakan sebagai wadah mikro yang compatible secara biologis dan larut
dalam air untuk menghantarkan bahan obat hidrofobik yang memiliki kelarutan
yang buruk. Sama dengan liposom, permukaan misel dapat dimodifikasi dengan
denngan antibodi (imunomisel) atau gugus penarget lainnya yang membuat
misel mampu berinteraksi secara spesifik dengan antigennya (Sinko, 2015).
Salah satu tipe misel yaitu kopolimer blok pluronik, merupakan eksipien
farmasetika yang terkenal dan tercantum dalam USP dan British
Pharmacopoiea. Misel ini telah banyak digunakan dalam berbagai macam
formulasi farmasetika, termasuk penghantaran obat bermassa molekul rendah,
polipeptida dan DNA. Selain itu kopolimer blok pluronik merupakan molekul
serba guna yang dapat digunakan sebagai elemen structural system penghantaran
gen berbasis-polikasi (polipleks) (Sinko, 2015).
Teori struktur misel, berdasarkan pada geometri berbagai misel dalam
bentuk dan ruang yang ditempati oleh kelompok hidrofilik dan hidrofobik
molekul surfaktan (Rosen, 2004).

2.3 Surfaktan
Surfaktan adalah senyawa organic yang memiliki struktur amfifilik,
molekul nya mengandung 2 kutub, kelompok polar (hidrofilik) dan kelompok
non polar (hidrofobik) yang terdapat pada permukaan aktif (Racaud dan Karine,
2010).
Surfaktan adalah zat-zat yang mengabsorbsi pada permukaan atau antar
muka untuk menurunkan tegangan antar muka suatu cairan. Karena sifatnya
yang menurunkan tegangan permukaan, surfaktan dapat digunakan sebagai
bahan pembasah atau wetting agent, bahan pengemulsi atau emulsifying agent
dan bahan pelarut atau solubilizing agent (Ansel, 1989).
Surfaktan merupakan bagian penting dalam industi kimia dan sangat
dibutuhkan hampir disetiap bidang industri modern (Sofyan dkk, 2013).
Kelebihan pada surfaktan ini berguna untuk pembersih aktif agen untuk
semua jenis pencucian. Memang sebagian besar bahan yang tidak larut air dapat
dengan mudah dilarutkan dengan adanya surfaktan yang sesuai. Konsep critical

5
micellization concentration (CMC) sangat penting dan nilai CMC sangat
berkarakteristik bergantung pada senyawa pembentuk miselCMC biasanya
didefiniskan sebagai konsentrasi bawah yang mana hanya molekul asli (disebut
unimers) yang ada dalam larutan. CMC bergantung pada struktur surfaktan tetapi
juga dipengaruhi oleh suhu, dan adanya zat lain seperti elektrolit yang kuat. Nilai
yang akurat untk CMC sangat penting untuk studi detergensi, pelarutan, katalisis,
dan sifat termodinamika dari suatu surfaktan (Racaud dan Karine, 2010).
Ketika dua fase menyatu, batas antara dua fase ini disebut antar muka.
Misalnya, permukaan tablet adalah antaramuka antara fase padat (tablet) dan fase gas
(udara). Demikian pula, jika kita mencampur dua cauran tak larut seperti minyak
zaitun dan ai. Ada batas antara minyak dan air dan itu juga bisa disebut minyak-air
(Dash dkk, 2014).
Tegangan permukaan pada suhu berapapun mempunyai kekuatan per satuan
panjang (dyne/cm) yang harus diterapkan sejajar dengan permukaan untuk
mengimbangi jaringan dalam cairan diantarmuka, cairan-udara. Demikian pula
tegangan antar muka adalah tegangan pada antarmuka dua cairan yang tidak larut
(Dash dkk, 2014).
Penambahan surfaktan memiliki peranan penting dalammeningkatkan
kelarutan zat yang sedikit larut di dalam air yang ditandai dengan terbentuknya misel.
Molekul surfaktan membentuk misel dalam rentang konsentrasi tertentu yang disebut
dengan critical misel concentration (CMC) (Sofyan dkk, 2013).
Banyak metode yang digunakan untuk mengukur permukaan dan tegangan
antar muka. Namun, metode ada metode yang lebih praktis dan sederhana yaitu
metode peningkatan kapiler (Dash dkk, 2014).
Dalam metode tensiometer Du-Nuoy, digunakan untuk mengukur permukaan
dan tegangan antar muka. Prinsip dibalik metode ini didasarkan pada kenyataan
bahwa kekuatan yang diperlukan untuk melepaskan cincin platinum-iridium
terbenam dipermukaan atau antar muka, sebanding dengan permukaan tegangan antar
muka. Kekuatan yang diperlukan melepaskan cincin dengan cara disediakan oleh
kawat punter dan direkam dalam dynes pada dial yang dikalibrasi (Dash dkk, 2014).
Volume VH ditempati oleh gugus hidrofobik dalam inti misel, panjang gugus
hidrofobik dalam core Lc dan luas penempang a0 ditempati oleh kelompok hidrofilik

6
di antarmuka solusi misel digunakan untuk menghitung “Parameter pengepakan,”
VH / Lc a0 (Rosen, 2004).
Fenomena antarmuka dalam farmasi dan kedokteran adalah faktor-faktor
yang berarti mempengaruhi adsorbsi obat pada bahan pembantu padat dalam bentuk
sediaan, penetrasi (penembusan) molekul melalui membran biologis, pembentukan
dan kestabilan emulsi, dan dispersi dari partikel yang tidak larut dalam media cair
untuk membentuk suspense (Sofyan dkk, 2013).
Surfaktan adalah senyawa ber-BM rendah sampai sedang, yang
mengandung 1 bagian hidrofobik dan 1 bagian hidrofilik. Bagian hidrofobik
umumnya cepat larut dalam minyak, tetapi tidak larut dalam air atau hanya sedikit
yang larut dalam air (Kurniawan, 2009).
Bagian hidrofilik (polar) yang sedikit larut atau sama sekali tidak larut
dalam minyak. Surfaktan dikalsifikasikan menurut gugus polar kepala sebagai
berikut :
a. Surfaktan dengan gugus kepala bermuatan negative → surfaktan anionic.
Merupakan kelompok surfaktan terbesar yang tersedia dan luas digunakan
dalam farmasi.
b. Jika mengandung gugus kepala bermuatan positif à surfaktan kationik.
Surfaktan kationik sering bersifat mengiritasi, bahkan kadang-kadang
bersifat toksik. Jadi aplikasi dalam system penghntaran obat lebih terbatas
daripada surfaktan anionic, “zwitter ionic”, dan anionic.
c. Jika gugus kepala polar tidak bermuatan →surfaktan nonionik
Merupakan surfaktan yang paling luas digunakan dalam aplikasi system dan
penghantaran obat, kecuali pada fosfolipid.
d. Jika gugus kepala mengandung baik muatan positif maupun negatif
→surfaktan “zwitter ionic”
Zwitter ionic dibagi dalam 2 sub kelas kelompok :
a. Zwitter ionic peka pH, Merupakan bahan amfolitik yang menunjukkan
sifat anionic pada pH tinggi dan kationik pada pH rendah
b. Zwitter ionic tidak peka pH
Zat ini menunjukkan sifat zwitter ionic pada semua pH (jadi tidak
bersifat kationik dan anionic pada berbagai pH) (Kurniawan, 2009).

7
BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Alat
Beaker glass 50 ml “Pyrex”, Bola hisap, Erlenmeyer 250 ml “Iwaki”,
Gelas ukur 10 ml “Iwaki Pyrex”, Kertas perkamen potong, Label, Labu tentukur
250 ml “Iwaki”, Neraca analitik “Boeco Germany”, Perkamen, Pipet tetes, Pipet
ukur 5 ml “Pyrex”, Spatula, Tensiometer Du Nouy.

3.2 Bahan
 Akuades
Pemerian : Cairan jernih ; tidak berwarna ; tidak berbau ; tidak mempunyai
rasa.
(Ditjen POM, 1979).
 Sodium Lauryl Sulfate
Pemerian : Serbuk atau hablur ; kuning pucat atau putih ; bau lemah dan
khas.
Kelarutan : Sangat larut dalam air, larutan berkabut, larut sebagian dalam
etanol (90%) p.
(Ditjen POM, 1979).
 Tween 80
Pemerian : Cairan kental seperti minyak, jernih dan kuning, bau asam lemak
khas.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol (90%) p, dalam etil asetat p,
dan dalam metanol p, sukar larut dalam paraffin dan minyak biji.
(Ditjen POM, 1979).

3.3 Prosedur
3.3.1 Pembuatan LIB Sodium Lauryl Sulfate 0,2%
Ditimbang 0,5 gram Sodium Lauryl Sulfate menggunakan timbangan
analitik. Dimasukkan kedalam labu tentukur 250 ml lalu ditambahkan akuades
hingga garis tanda.
3.3.2 Pembuatan LIB Tween 80 0,2%

8
Ditimbang 0,5 gram Tween 80 menggunakan timbangan analitik.
Dimasukkan kedalam labu tentukur 250 ml lalu ditambahkan akuades hingga
garis tanda.
3.3.3 Pembuatan Larutan Sodium Lauryl Sulfate
Dibuat Larutan SLS dalam berbagai konsentrasi yaitu konsentrasi 1x10-3 ;
1,5x10-3 ; 2x10-3 ; 3x10-3 ; 5x10-3 ; 7,5x10-3 ; 1x10-2 ; 2,5x10-2 ; 2x10-2 ; 5x10-2 ;
1x10-1 ; 1,5x10-1 ; 2x10-1. Dengan cara diambil larutan sejumlah yang diperlukan
kemudian dimasukkan dalam labu tentukur dan ditambahkan dengan aquades
hingga garis tanda. Ditutup dan dihomogenkan.
3.3.4 Pembuatan Larutan Tween 80
Dibuat Larutan SLS dalam berbagai konsentrasi yaitu konsentrasi 1x10-3 ;
1,5x10-3. Dengan cara diambil larutan sejumlah yang diperlukan kemudian
dimasukkan dalam labu tentukur dan ditambahkan dengan akuades hingga garis
tanda. Ditutup dan dihomogenkan.
3.3.5 Kalibrasi Tensiometer Du Nouy T
Disiapkan alat Tensiometer Du Nouy, dibersihkan wadah sampel.
Dimasukkan sampel kedalam wadah. Diatur petunjuk sampai posisi tepat dengan
cara mengatur lengan dalam posisi horizontal diantara bagian bagian dan cakram
tanda. Dinaikkan meja tensiometer hingga cincin platina tridium berada
dipermukaan cairan. Diputar sekrup no.3 dan no.12 sampai cincin terlepas dari
permukaan, dibaca hasil pengukuran dicatat faktor koreksi.
3.3.6 Pengukuran Tegangan Permukaan SLS dan Tween 80 dengan Berbagai
Konsentrasi
Dibersihkan wadah sampel dengan akuades. Dimasukkan sampel kedalam
wadah. Dimasukkan meja pengukuran sampai cincin platina tridium berada pada
permukaan jam 12. Diputar sekrup no.3 dan no.12 sampai cincin terlepas dari
permukaan. Dibaca hasilnya, dilakukan sebanyak 2 kali. Dihitung rata-rata hasil
dan dilakukan faktor koreksi.

9
3.4 Flowsheet
3.4.1 Pembuatan LIB Sodium Lauryl Sulfate 0,2%

0,5 gram SLS

 Dimasukkan kedalam labu tentukut 250 ml


 Ditambahkan akuades hingga garis tanda

LIB SLS 0,2%

3.4.2 Pembuatan LIB Tween 80 0,2%

0,5 gram Tween 80

 Dimasukkan kedalam labu tentukut 250 ml


 Ditambahkan akuades hingga garis tanda

LIB Tween 80 0,2%

3.4.3 Pembuatan Larutan Sodium Lauryl Sulfate

Sodium Lauryl Sulfate

 Dengan konsentrasi 2x10-3 ; 3x10-3 ; 5x10-3 ; 7,5x10-3 ; 1x10-2 ;


1x10-1
 Diambil sebanyak yang dibutuhkan
 Dimasukkan kedalam labu tentukur 250 ml
 Ditambahkan akuades hingga garis tanda
 Ditutup dan dihomogenkan

Larutan Sodium Lauril Sulfat berbagai Konsentrasi


0,2%

10
3.4.4 Pembuatan Larutan Tween 80

Tween 80

 Dengan konsentrasi 1x10-3 ; 1,5x10-3


 Diambil sebanyak yang dibutuhkan
 Dimasukkan kedalam labu tentukur 250 ml
 Ditambahkan akuades hingga garis tanda
 Ditutup dan dihomogenkan

Larutan Tween 80 berbagai Konsentrasi

3.4.5 Kalibrasi Tensiometer Du Nouy

Alat

 Dibilas atau dibersihkan wadah dengan akuades


 Dimasukkan akuades kedalam wadah sampel
 Diatur petunjuk sampai posisi tepat dengan cara
mengatur lengan dalam posisi horizontal diantara bagian
bagian dan cakram tanda
 Dinaikkan meja tensiometer hingga cincin platina
tridium berada dipermukaan cairan
 Diputar sekrup no.3 dan no.12 sampai cincin terlepas
dari permukaan, dibaca hasil pengukuran dicatat faktor
koreksi
Hasil

11
3.4.6 Pengukuran Tegangan Permukaan SLS dan Tween 80 dengan Berbagai
Konsentrasi

Alat

 Dibersihkan wadah sampel dengan akuades


 Dimasukkan sampel kedalam wadah
 Diatur petunjuk sampel pada posisi nol
 Dimasukkan meja pengukuran sampai cincin platina tridium
berada pada permukaan jam 12
 Diputar sekrup no.3 dan no.12 sampai cincin terlepas dari
permukaan
 Dibaca hasil pengukuran dan dilakukan sebanyak 2 kali
 Dihitung rata-rata hasil dan dilakukan faktor koreksi

Hasil

12
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Tabel hasil pengukuran tegangan permukaan surfaktan Sodium Lauril Sulfat
(SLS)
Konsentrasi Log C Log C + 3 γ (dyne/cm) γ γ x F. K
C% 1 2 (dyne/cm)
0,0010 -3 0 56,3 59,3 57,8 85,60
0,0015 -2,82 0,18 54,7 60,5 57,6 85,31
0,0020 -2,69 0,31 46,9 55,7 51,3 75,98
0,0030 -2,52 0,48 64 64,1 64,05 94,79
0,0050 -2,30 0,70 54,9 59,5 57,20 84,66
0,0075 -2,13 0,87 51,6 58,5 55,05 81,47
0,0100 -2 1 49,8 45,5 47,65 70,52
0,0150 -1,60 1,40 50 51,9 50,95 75,41
0,0500 -1,30 1,70 43 42,2 42,6 63,05
0,1000 -1 2 35,9 34,7 35,30 52,24
0,1500 -0,82 2,18 29,5 30,5 30 44,40
0,2000 0,69 2,31 29,8 29,9 29,85 44,18

4.1.2 Tabel hasil pengukuran tegangan permukaan surfaktan Tween 80


Konsentrasi Log C Log C + 3 γ (dyne/cm) γ γ x F. K
C% 1 2 (dyne/cm)
0,0010 -3 0 56,3 59,3 57,8 85,60
0,0015 -2,82 0,18 54,7 60,5 57,6 85,31
0,0020 -2,69 0,31 46,9 55,7 51,3 75,98
0,0030 -2,52 0,48 64 64,1 64,05 94,79
0,0050 -2,30 0,70 54,9 59,5 57,20 84,66
0,0075 -2,13 0,87 51,6 58,5 55,05 75,41
0,0100 -2 1.1 49,8 45,5 47,65 72,05
0,0500 -1,30 1,70 43 42,2 42,6 63,05

13
0,1000 -1 2 35,9 34,7 35,30 72,25

4.2 Perhitungan
4.2.1 Faktor Koreksi (FK) :
Aquadest = 47,8 + 50,4 = 49,1
2
FK = FK teori = 72,75 = 1,48 dyne/ cm
FK praktek 49,1
4.2.2 Pengenceran Tween 80 0,2%

LIB tween 80 0,2% dalam 250 ml

0,2
Berat = 100 𝑥 250 = 0,5 𝑔𝑟𝑎𝑚

- Pengenceran 1 x 10-3 - Pengenceran 2,5 x 10-2


V1 x N1 = V2 x N2 V1 x N1 = V2 x N2
-2
25 . 1x 10-3 = V2 . 0,2 25 . 2,5x 10 = V2 . 0,2
V2 = 3,125 ml
V2 = 0,125 ml - Pengenceran 5 x 10-2
-3
- Pengenceran 1,5 x 10 V1 x N1 = V2 x N2
-2
V1 x N1 = V2 x N2 25 . 5x 10 = V2 . 0,2
V2 = 6,25 ml
25 . 1,5x 10-3 = V2 . 0,2
- Pengenceran 1 x 10-1
V2 = 0,187 ml V1 x N1 = V2 x N2
-1
- Pengenceran 2 x 10-3 25 . 1x 10 = V2 . 0,2
V2 = 12,5 ml
V1 x N1 = V2 x N2
- Pengenceran 1,5 x 10-1
25 . 2x 10-3 = V2 . 0,2 V1 x N1 = V2 x N2
-1
V2 = 0,250 ml 25 . 1,5x 10 = V2 . 0,2
- Pengenceran 3 x 10-3 V2 = 18,75 ml
- Pengenceran 2 x 10-1
V1 x N1 = V2 x N2 V1 x N1 = V2 x N2
25 . 3x 10-3 = V2 . 0,2 -1
25 . 2x 10 = V2 . 0,2
V2 = 0,375 ml V2 = 25 ml

- Pengenceran 5 x 10-3
V1 x N1 = V2 x N2
25 . 5x 10-3 = V2 . 0,2
V2 = 0,625 ml

14
- Pengenceran 7,5 x 10-3
V1 x N1 = V2 x N2
25 . 7,5x 10-3 = V2 . 0,2
V2 = 0, 937 ml
- Pengenceran 1 x 10-2
V1 x N1 = V2 x N2
25 . 1x 10-2 = V2 . 0,2
V2 = 1,25 ml

4.2.3 Pengenceran Sodium Lauril Sulfat (SLS) 0,2%


LIB Sl 0,2% dalam 250 ml

0,2
Berat = 100 𝑥 250 = 0,5 𝑔𝑟𝑎𝑚

- Pengenceran 1 x 10-3 - Pengenceran 2 x 10-3


V1 x N1 = V2 x N2 V1 x N1 = V2 x N2
-3
25 . 1x 10-3 = V2 . 0,2 25 . 2x 10 = V2 . 0,2
V2 = 0,250 ml
V2 = 0,125 ml - Pengenceran 3 x 10-3
- Pengenceran 1,5 x 10-3 V1 x N1 = V2 x N2
V1 x N1 = V2 x N2 25 . 3x 10-3 = V2 . 0,2
V2 = 0,375 ml
25 . 1,5x 10-3 = V2 . 0,2
- Pengenceran 1 x 10-1
V2 = 0,187 ml V1 x N1 = V2 x N2
-1
- Pengenceran 5 x 10-3 25 . 1x 10 = V2 . 0,2
V2 = 12,5 ml
V1 x N1 = V2 x N2
- Pengenceran 1,5 x 10-1
25 . 5x 10-3 = V2 . 0,2 V1 x N1 = V2 x N2
-1
V2 = 0,625 ml 25 . 1,5x 10 = V2 . 0,2
- Pengenceran 7,5 x 10-3 V2 = 18,75 ml
- Pengenceran 2 x 10-1
V1 x N1 = V2 x N2 V1 x N1 = V2 x N2
25 . 7,5x 10-3 = V2 . 0,2 -1
25 . 2x 10 = V2 . 0,2
V2 = 0, 937 ml V2 = 25 ml

- Pengenceran 1 x 10-2
V1 x N1 = V2 x N2
25 . 1x 10-2 = V2 . 0,2
V2 = 1,25 ml

15
- Pengenceran 2,5 x 10-2
V1 x N1 = V2 x N2
25 . 2,5x 10-2 = V2 . 0,2
V2 = 3,125 ml
- Pengenceran 5 x 10-2
V1 x N1 = V2 x N2
25 . 5x 10-2 = V2 . 0,2
V2 = 6,25 ml

4.2.4 Perhitungan Nilai CMC Surfaktan Tween 80 Berdasarkan Grafik

Log C + 3 = 2,18

Log C = 2.18 – 3

Log C = -0,82

C = 0,15135

4.2.5 Perhitungan Nilai CMC Surfaktan Natrium Lauril Sulfat (SLS)


Berdasarkan Grafik

Log C + 3 = 1.1

Log C = 1,1-3

Log C = -1,9

C = 0,01

4.3 Pembahasan

Surfaktan adalah senyawa organik yang diberkahi struktur amfifilik;


molekul mereka mengandung kedua kutub (kelompok hidrofilik) dan nonpolar
(hidrofobik) mereka agen permukaan-aktif. Properti ini menyediakan untuk
surfaktan aplikasi penting sebagai pembersih aktif agen untuk semua jenis
pencucian (Racaud, 2010).
Pada percobaan yang telah dilakukan, surfaktan yang akan ditentukan
konsentrasi kritis misel adalah Tween 80 dan Sodium Lauryl Sulfat sehingga
dilakukan pembuatan LIB dan larutan dari Tween 80 dan Sodium Lauryil Sulfat.

16
Kemudian dilakukan pengukuran tegangan permukaan dengan alat yaitu Du Nouy
Tensiometer.

Dari grafik log C + 3 versus tegangan permukaan dari Tween 80 dan


Sodium Lauryl Sulfat dapat dilihat bahwa grafik yang dihasilkan telah
menunjukkan konsentrasi misel kritis (CMC) dimana ditandai dengan adanya
tegangan permukaan yang hampir menunjukkan nilai konstan. Dimana pada
masing-masing surfaktan pada grafik terlihat bahwa garis akhir dari grafik
tersebut terlihat Konstan yang mana dapat kita tentukan bahwa pembentukan
misel berjalan cepat.

Pada literatur menyatakan bahwa setelah titik cmc tegangan permukaan


masih akan turun sedikit, kemudian naik dan selanjutnya akan berjalan sejajar
dengan sumbu x (konsentrasi surfaktan) dalam hal ini dapat diterangkan bahwa
proses pembentukan misel berjalan sangat cepat, sehingga pada awalnya tidak
hanya molekul surfaktan saja didalam system yang beregregasi, tetapi juga
molekul-molekul surfaktan pada permukaan system. Sehinggga untuk sementara
ada daerah yang tidak ditempati oleh molekul surfaktan yang menyebabkan
tegangan permukaan kembali naik, setelah posisi ini tidak ditempati lagi
penurunan tegangan permukaan (Wahyuni, Dkk, 2014).

Pada percobaan yang dilakukan, diperoleh nilai CMC Tween 80 sebesar


0,01 dimana nilai CMC Tween 80 secara teoritis adalah 0,00059. Sedangkan pada
percobaan yang dilakukan, diperoleh nilai CMC Sodium Lauryl Sulfat sebesar
0,15135 dimana nilai CMC Sodium Lauryl Sulfat secara teoritis adalah 0,22
(Wahyuni, dkk, 2014).

Dimana dengan nilai CMC yang didapat dari masing-masing surfaktan


dapat kita bandingkan bahwa surfaktan Tween 80 lebih cepat membentuk misel
dibandingkan dengan surfaktan Natrium lauril sukfat. Dimana semakin rendah
konsentrasi kritis misel maka semakin menurunkan tegangan permukaan,
sehingga kecepatan surfaktan sehingga kecepatan surfaktan tersebut mudah dalam
menurunkan tegangan permukaan dan membentuk misel.

Hubungan titik cmc dengan kualitas surfaktan akan bekerja lebih baik
apabila konsentrasi surfaktan berada dibawah konsentrasi misel kritis (CMC).

17
Karena misel dalam molekulnya belum terbentuk, sehingga dapat menjadi
perantara untuk mencampur dua buah larutan yang sulit bercampur. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa Sodium Lauryl Sulfat memiliki nilai yang lebih tinggi
untuk mencapai titik CMC dibanding dengan Tween 80. Oleh karena itu, nilai
yang lebih kecil untuk mencapai titik CMC yaitu Tween 80 hal ini leih baik
dibandingkan dengan surfaktan Sodium Lauryl Sulfat (Indang dan Regina, 2004).

18
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

 Harga konsentrasi misel kritis ( CMC ) surfaktan tween 80 adalah 0,01


 Harga konsentrasi misel kritis ( CMC ) surfaktan sodium lauryl sulfat
adalah 0,15135
 Surfaktan tween 80 lebih baik dibandingkan dengan sodium lauryl sulfat
karena pada konsentrasi kecil tween 80 sudah dapat menurunkan tegangan
permukaan sampai batas maksimal sehingga konsentrasi yang lebih tinggi
itu akan membentuk misel.

5.2 Saran

 Sebaiknya pada percobaan selanjutnya digunakan metode pengukur


tegangan permukaan lain seperti metode kapiler.
 Sebaiknya pada percobaan selanjutnya digunakan surfaktan lain seperti
span 80.

19
DAFTAR PUSTAKA

Dash, K.A., Somnath, S., Justin, T.(2014). Pharmaceutics Basic Principles and
Applications to Pharmacy Practice. Sandiego: Elsevier.
Ditjen POM. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta : Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. Halaman : 96,
Kurniawan, D.W dan Saifullah S. (2009). Teknologi Sediaan Farmasi. Jakarta :
Graha Ilmu. Halaman 22-24.
Lachman, L., dkk. (1989). Teori dan Praktek Farmasi Industri I. Jakarta : UI
Press. Halaman 215-217, 221-228.
Rosen, M.J.(2004). Surfactans and Interfacial Phenomena. New York:Wiley
Interscience. Halaman 1
Racaud, C., Serrano, K. G., dan Savall, A. (2010). Voltammetric Determination of
the Critical Micellar Concentration of Surfactants by using a Boron Doped
Diamond Anode. Journal of Applied Electrochemistry. Vol. 4(10).
Halaman 1841 – 1851.
Syofyan, Tuti, A. S., Dan., R. A.(2013). Pengaruh Kombinasi Surfaktan Natrium
Lauryl Sulfat Dan Benzalkonium Klorida terhadap Kelarutan Ibuprofen.
Jurnal Sains Dan Teknologi Farmasi. Vol. 18(1).Halaman 69-74.
Wahyuni, R., Halim, A., dan Trifarmila, R. (2014). Uji Pengaruh Surfaktan
Tween 80 dan Span 80 Terhadap Solubilisasi Dekstrometorfan
Hidrobromida. Jurnal Farmasi Higea. Vol 6 (1). Halaman 1 dan 8.

20
Lampiran 1 : Grafik Log C + 3 Vs γx F.K Surfaktan Natrium Lauril Sulfat
(SLS)

21
Lampiran 2 : Grafik Log C + 3 Vs γx F.K Surfaktan Tween 80

22