Anda di halaman 1dari 32

Hizib Al Bahr As Syaikh Abul Hasan Asy

Syadzily terkenal sebagai seorang yang memiliki


banyak rangkaian doa yang halus dan indah,
disamping kekayaan berupa khazanah hizib-
hizibnya. Salah satu hizib beliau yang terkenal
sejak dulu hingga sekarang adalah Hizib Bahr dan
Hizib Nashr. Kedua Hizib tersebut banyak
diamalkan oleh kaum muslimin di seluruh dunia,
terlebih ulama-ulama besar, kendati sebagian dari
mereka tidak mengikuti Thoriqot asy-Syaikh.
Hizib Bahr adalah hizib yang di terima Syaikh Abu
Hasan asy Syadzili langsung dari Rasulullah
‫ ﷺ‬berkaitan dengan lautan yang tidak ada
anginnya. Sejarah diterimanya Hizib Bahri adalah
sebagai berikut : Pada waktu itu asy Syaikh Abul
Hasan Asy Syadzili tengah melakukan perjalan
ibadah haji ke tanah suci. Perjalanan itu di
antaranya harus menyeberangi Laut Merah. Untuk
menyeberangi lautan itu sedianya beliau akan
menumpang perahu milik seseorang yang
beragama Nasrani. Orang itu juga akan berlayar
walaupun berbeda tujuan dengan asy Syaikh.
Akan tetapi keadaan laut pada waktu itu sedang
tidak ada angin yang cukup untuk menjalankan
kapal. Keadaan seperti itu terjadi sampai berhari-
hari, sehingga perjalananpun menjadi tertunda.
Sampai akhirnya pada suatu hari, asy Syaikh
bertemu dengan baginda Rasulullah ‫ﷺ‬. Dalam
perjumpaan itu, Rasulullah ‫ ﷺ‬secara langsung
mengajarkan Hizib Bahri secara imla’ (dikte)
kepada syaikh. Dalam ilmu hadits riwayat
demikian disebut riwayat Barzakhi. Riwayat
seperti ini dapat diterima karena dua alasan:
Pertama, tsiqohnya perawi dalam hal ini asy
Syaikh dan Kedua, tidak ada jin maupun setan
yang dapat menyerupai Rasulullah ‫ﷺ‬. Setelah
Hizib Bahri yang baru beliau terima dari
Rasulululah ‫ ﷺ‬itu beliau baca, kemudian beliau
menyuruh si pemilik perahu itu supaya berangkat
dan menjalankan perahunya. Mengetahui keadaan
yang tidak memungkinkan, karena angin yang
diperlukan untuk menjalankan perahu tetap tidak
ada, orang itupun tidak mau menuruti perintah
asy Syaikh. Namun asy Syaikh tetap menyuruh
agar perahu diberangkatkan. “Ayo, berangkat dan
jalankan perahumu ! sekarang angin sudah
waktunya datang “, ucap asy Syaikh kepada orang
itu. Dan memang benar kenyataannya, angin
secara perlahan-lahan mulai berhembus, dan
perahupun akhirnya bisa berjalan. Singkat cerita
alkisah kemudian si nasrani itupun lalu
menyatakan masuk islam.
Berkata Syaikh Abdurrahman al Busthomi, “Hizbul
Bahri ini sudah digelar di permukaan bumi.
Bendera Hizbul Bahri berkibar dan tersebar di
masjid-masjid. Para ulama sudah mengatakan
bahwa Hizbul Bahri mengandung ismullohil
a’zhom dan beberapa sirr atau rahasia yang
sangat agung. Dalam kitab Kasyf al-Zhunun `an
Asami al-Kutub wa al-Funun, Haji Khalifah seorang
pustakawan terkenal asal Konstantinopel
(Istanbul Turki) menulis berbagai jaminan yang
diberikan asy Syaikh Abul Hasan Syadzili dengan
Hizib Bahrinya ini. Di antaranya, menurut Haji
Khalifah, Asy Syaikh Syadzili pernah berkata:
Seandainya hizibku (Hizib Bahri, Red.) ini dibaca
di Baghdad, niscaya daerah itu tidak akan jatuh.
Mungkin yang dimaksud Asy Syaikh Syadzili
dengan kejatuhan di situ adalah kejatuhan
Baghdad ke tangan Tartar, Wallahu a’lam. Bila
Hizib Bahri dibaca di sebuah tempat, maka
termpat itu akan terhindar dari malapetaka, ujar
Syaikh Abul al-Hasan, seperti ditulis Haji Khalifah
dalam Kasyf al-Zhunun. Haji Khalifah juga
mengutip komentar ulama-ulama lain tentang
Hizib Bahri ini. Ada yang mengatakan, bahwa
orang yang istiqamah membaca Hizib Bahar, ia
tidak mati terbakar atau tenggelam. Bila Hizib
Bahri ditulis di pintu gerbang atau tembok rumah,
maka akan terjaga dari maksud jelek orang dan
seterusnya. Konon, orang yang mengamalkan
Hizib Bahri dengan kontinu, akan mendapat
perlindungan dari segala bala’. Bahkan, bila ada
orang yang bermaksud jahat mau menyatroni
rumahnya, ia akan melihat lautan air yang sangat
luas. Si penyatron akan melakukan gerak renang
layaknya orang yang akan menyelamatkan diri
dari daya telan samudera. Bila di waktu malam, ia
akan terus melakukan gerak renang sampai pagi
tiba dan pemilik rumah menegurnya. Banyak
komentar-komentar, baik dari Asy Syaikh Syadzili
maupun ulama lain tentang keampuhan Hizib
Bahri yang ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-
Zhunun jilid 1 (pada entri kata Hizb). Selain itu,
Haji Khalifah juga menyatakan bahwa Hizib Bahri
telah disyarahi oleh banyak ulama, diantaranya
Syaikh Abu Sulayman al-Syadzili, Syaikh Zarruq,
dan Ibnu Sulthan al-Harawi. Seperti yang telah
disampaikan dalam manaqib Asy Syaikh Syadzili,
bahwa menjelang akhir hayat beliau, asy Syaikh
telah berwasiat kepada murid-murid beliau agar
anak-anak mereka, maksudnya para murid
Thariqah Syadziliyah, supaya mengamalkan Hizib
Bahri. Namun untuk mengamalkan Hizib ini
seyogyanya harus melalui talqin atau ijazah dari
seorang guru yang memiliki wewenang untuk
mengajarkannya. Seseorang yang tidak
mempunyai wewenang tidak berhak
mengajarkannya ataupun memberikan Hizib ini
kepada orang lain. Hal ini
merupakan adabiyah atau etika dilingkungan
dunia thariqah.
Secara harfiah Hizib dapat diartikan sebagai
golongan, atau kelompok bahkan ada yang
mengartikan sebagai tentara, Kata Hizib muncul
di Al-Quran sebanyak beberapa kali yaitu :

1. Surat Al Maaidah ayat 56 :

‫ب ال‬
‫ا بهبم اللنغاللببونن‬ ‫سونلبه نوااللذينن آننمبنوا نفإلان لحلز ن‬ ‫نونملن نينتنول ا ا ن‬
‫ا نونر ب‬

“Dan barang siapa yang menjadikan Allah,


RosulNya dan orang-orang yang beriman sebagai
pemimpin, maka sesungguhnya Golongan (Hizbu)
Alloh-lah sebagai pemenang”.

2. Surat Al Kahfi ayat 12 :

‫صى للنما لنلببثوا أننمددا‬


‫ي الللحلزنبليلن أنلح ن‬
‫بثام نبنعلثننابهلم للننلعلننم أن ي‬
“Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami
mengetahui manakah diantara kedua golongan (al
hizbaini) itu yang lebih tepat dalam menghitung
berapa lamanya mereka tinggal didalam gua itu”
3. Surat Ar Ruum ayat 32 :

‫ب لبنما لنندليلهلم نفلربحونن‬


‫لمنن االلذينن نفاربقوا لديننبهلم نونكابنوا لشنيدعا بكل ي لحلز ب‬

“dari orang-orang yang memecah belah agama


mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.
setiap golongan merasa bangga dengan apa yang
ada pada golongan (hizbin) mereka”
4. Surat Al Fathiir ayat 6 :

‫سلعيلر‬
‫ب ال ا‬ ‫شلينطانن لنبكلم نعبدوو نفااتلخبذوهب نعبددووا إلاننما نيلدبعو لحلزنببه للنيبكوبنوا لملن أن ل‬
‫صنحا ل‬ ‫إلان ال ا‬

“Sungguh setan itu membawa permusuhan


bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh,
sesungguhnya mereka mengajak Golongannya
(hizbuhu) agar menjadi penghuni neraka yang
menyala-nyala”.
5. Surat Al Mujaadalah ayat 19 :

‫شلينطالن أننل إلان لحلزنب ال ا‬


‫شلينطالن‬ ‫ب ال ا‬ ‫سابهلم لذلكنر ا‬
‫ال بأونلئلنك لحلز ب‬ ‫شلينطابن نفأ نلن ن‬
‫السنتلحنونذ نعلنليلهبم ال ا‬
‫بهبم اللنخالسبرونن‬

“Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan


mereka lupa mengingat Alloh ta’ala; mereka
itulah golongan (Hizbu) setan. Ketahuilah bahwa
golongan (hizba) setan lah yang merugi”.
6. Surat Mujadalaah ayat 22 :
‫سولنبه نولنلو نكابنوا‬ ‫ا نونر ب‬‫نل نتلجبد نقلودما بيلؤلمبنونن لباالل نواللنيلولم اللنلخلر بينوايدونن نملن نحااد ا ن‬
‫آننبانءبهلم أنلو أنلبننانءبهلم أنلو إللخنواننبهلم أنلو نعلشينرنتبهلم بأونللئنك نكنتنب لفي قببلولبلهبم ا ل للينمانن نوأنايندبهلم‬
‫ا ب نعلنبهلم‬ ‫ضني ا‬ ‫ت نتلجلري لملن نتلحلتنها اللنلننهابر نخالللدينن لفينها نر ل‬ ‫ح لملنبه نوبيلدلخل ببهلم نجانا ب‬ ‫لببرو ب‬
‫ال بهبم اللبملفللبحونن‬ ‫ب ا‬ ‫ال أننل إلان لحلز ن‬‫ب ا‬‫ضوا نعلنبه بأونللئنك لحلز ب‬ ‫نونر ب‬

“Engkau tidak akan mendapatkan satu kaum yang


beriman kepada Allah ta’ala dan kepada hari
akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-
orang yang menentang Allah dan RasulNya,
sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya,
saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah
orang-orang yang didalam hatinya telah
ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah
menguatkan mereka dengan pertolongan/ ruh
yang datang dari Dia. Lalu dimasukkannya
mereka kedalam syurga yang mengalir
dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal
didalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan
merekapun ridha. Merekalah golongan (hizbu)
Allah. Ingatlah sesungguhnya golongan (hizba)
Allah-lah yang beruntung”.
Masih segar dalam ingatan kita, ketika Nabi dan
para sahabat bertempur melawan kaum musyrikin
dalam perang badar, Allah sengaja mendatangkan
5000 pasukan sebagai bala bantuan yang
bertandakan putih, mereka adalah para malaikat
(Hizbullah), kata Hizib sendiri terkadang juga
digunakan untuk menyebut “mendung yang
berarak” atau “mendung yang tersisa”.
Semisal hizbun min al-ghumum (sebagian atau
sekelompok mendung).
Ternyata untuk selanjutnya perkembangan kata
hizib dalam tradisi thariqah atau yang
berkembang di pesantren adalah untuk
“menandai” sebuah bacaan-bacaan tertentu.
Misalnya hizib yang dibaca Hari Jum’at; yang
dimaksud adalah wirid-wirid tertentu yang dibaca
hari Jum’at. Untuk selanjutnya, makna hizib
adalah wirid itu sendiri. Atau juga bisa
bermakna munajat, ada hizib Ghazali, Hizib
Bukhori, Hizib Nawawi, Hizib Bahri, Hizib Syeikh
Abdul Qadir Jailani, Ratib Al-Haddad, yang
masing-masing memiliki sejarah sendiri-sendiri.
Hizib adalah himpunan sejumlah ayat-ayat Al-
Qur’anul Karim dan untaian kalimat-kalimat zikir
dan do’a yang lazim diwiridkan atau diucapkan
berulang-ulang sebagai salah satu bentuk ibadah
untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
Beliau pernah dimintai penjelasan tentang siapa
saja yang menjadi gurunya? Sabdanya, “Guruku
adalah Syekh Abdus Salam Ibnu Masyisy, akan
tetapi sekarang aku sudah menyelami dan minum
sepuluh lautan ilmu. Lima dari bumi yaitu dari
Rasululah ‫ﷺ‬, Abu Bakar r.a, Umar bin Khattab r.a,
Ustman bin ‘Affan r.a dan Ali bin Abi Thalib r.a,
dan lima dari langit yaitu dari malaikat Jibril,
Mika’il, Isrofil, Izro’il dan ruh yang agung. Beliau
pernah berkata, “Aku diberi tahu catatan muridku
dan muridnya muridku, semua sampai hari
kiamat, yang lebarnya sejauh mata memandang,
semua itu mereka bebas dari neraka. Jikalau
lisanku tak terkendalikan oleh syariat, aku pasti
bisa memberi tahu tentang kejadian apa saja
yang akan terjadi besok sampai hari kiamat”.
Syekh Abu Abdillah Asy-Syathibi berkata, “Aku
setiap malam banyak membaca radiya Allahu ‘an
Asy-Syekh Abil Hasan dan dengan ini aku
berwasilah meminta kepada Allah SWT apa yang
menjadi hajatku, maka terkabulkanlah apa saja
permintaanku”. Lalu aku bermimpi bertemu
dengan Nabi Muhammad ‫ ﷺ‬dan aku bertanya, “Ya
Rasulallah, kalau seusai shalat lalu berwasilah
membaca Radiya Allahu ‘An Asy-Syekh Abil Hasan
dan aku meminta apa saja kepada Allah SWT. apa
yang menjadi kebutuhanku lalu dikabulkan,
seperti hal tersebut apakah diperbolehkan atau
tidak?”. Lalu Nabi ‫ﷺ‬. Menjawab, “Abul Hasan itu
anakku lahir batin, anak itu bagian yang tak
terpisahkan dari orang tuanya, maka barang
siapa bertawashul kepada Abul Hasan, maka
berarti dia sama saja bertawashul kepadaku”.
Pada suatu hari dalam sebuah pengajian Syekh
Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. menerangkan tentang
zuhud, dan di dalam majelis terdapat seorang
faqir yang berpakaian seadanya, sedang waktu itu
Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili berpakaian serba
bagus. Lalu dalam hati orang faqir tadi berkata,
“Bagaimana mungkin Syekh Abul Hasan Asy-
Syadzili r.a. berbicara tentang zuhud sedang
beliau sendiri pakaiannya bagus-bagus. Yang bisa
dikatakan lebih zuhud adalah aku karena
pakaianku jelek-jelek”. Kemudian Syekh Abul
Hasan menoleh kepada orang itu dan berkata,
“Pakaianmu yang seperti itu adalah pakaian yang
mengundang senang dunia karena dengan
pakaian itu kamu merasa dipandang orang
sebagai orang zuhud. Kalau pakaianku ini
mengundang orang menamakanku orang kaya
dan orang tidak menganggap aku sebagai orang
zuhud, karena zuhud itu adalah makam dan
kedudukan yang tinggi”. Orang fakir tadi lalu
berdiri dan berkata, “Demi Allah, memang hatiku
berkata aku adalah orang yang zuhud. Aku
sekarang minta ampun kepada Allah dan
bertaubat”. Di antara Ungkapan Mutiara Syekh
Abul Hasan Asy-Syadili: 1. Tidak ada dosa yang
lebih besar dari dua perkara ini : pertama, senang
dunia dan memilih dunia mengalahkan akherat.
Kedua, ridha menetapi kebodohan tidak mau
meningkatkan ilmunya. 2. Sebab-sebab sempit
dan susah fikiran itu ada tiga : pertama, karena
berbuat dosa dan untuk mengatasinya dengan
bertaubat dan beristighfar. Kedua, karena
kehilangan dunia, maka kembalikanlah kepada
Allah SWT. sadarlah bahwa itu bukan
kepunyaanmu dan hanya titipan dan akan ditarik
kembali oleh Allah SWT. Ketiga, disakiti orang
lain, kalau karena dianiaya oleh orang lain maka
bersabarlah dan sadarlah bahwa semua itu yang
membikin Allah SWT. untuk mengujimu.Kalau Allah
SWT. belum memberi tahu apa sebabnya sempit
atau susah, maka tenanglah mengikuti jalannya
taqdir ilahi. Memang masih berada di bawah awan
yang sedang melintas berjalan (awan itu berguna
dan lama-lama akan hilang dengan sendirinya).
Ada satu perkara yang barang siapa bisa
menjalankan akan bisa menjadi pemimpin yaitu
berpaling darh dunia dan bertahan diri dari
perbuatan dhalimnya ahli dunia. Setiap keramat
(kemuliaan) yang tidak bersamaan dengan ridha
Allah SWT. dan tidak bersamaan dengan senang
kepada Allah dan senangnya Allah, maka orang
tersebut terbujuk syetan dan menjadi orang yang
rusak. Keramat itu tidak diberikan kepada orang
yang mencarinya dan menuruti keinginan
nafsunya dan tidak pula diberikan kepada orang
yang badannya digunakan untuk mencari
keramat. Yang diberi keramat hanya orang yang
tidak merasa diri dan amalnya, akan tetapi dia
selalu tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan
yang disenangi Allah dan merasa mendapat
anugerah (fadhal) dari Allah semata, tidak
menaruh harapan dari kebiasaan diri dan
amalnya.
SEJARAH HIZIB BAHR

Hizb al-bahr ini adalah hizib yang termasyhur


disamping dua hizib lagi iaitu hizib an-Nawawi
dan Ratib Hadad. Ketiga-tiga ini adalah milik wali-
wali Qutub. Wali Qutub ialah ketua para wali atau
pusat para wali di dunia ini pada zamannya. Yang
mana mereka ini adalah orang yang amat
bertakwa kepada Allah secara zahir dan batin.
Tujuan asal amalan hizib-hizib adalah untuk
membawa diri seseorang itu menjadi dekat
dengan Allah S.W.T. Dalam arti kata lain,
Mengharapkan redha Allah dalam
mengamalkannya disamping melakukan amalan-
amalan wajib seperti solat fardu, puasa,
mengeluarkan zakat, jauhi maksiat dan
sebagainya. Ini kerana Hizib adalah juga kategori
doa atau zikir yang bertujuan memperkuat tauhid
pengamal tersebut. Terdapat banyak
keistimewaan @ kelebihan @ fadhilat bagi sesiapa
yang mengamalkankan hizib-hizib ini. Antaranya
mendapat redha Allah, sentiasa dalam keadaan
hati yang tenang, terpelihara dari hasad dengki
khianat orang, terpelihara dari gangguan jin,
syaitan serta iblis dan sebagainya. Apapun
kelebihan-kelebihan yang ada itu adalah kurniaan
Allah kepada hamba yang diredhainya, maka kita
sebagai hamba Allah hendaklah mengikhlaskan
niat terhadap apa jua amalan yang dilakukan.
Berkenaan kelebihan-kelebihan itu kita serahkan
kepada Allah dan jangan mengharapkannya.
Kerana setiap musihabah yang berlaku keatas
kita terkadang ada hikmah disebaliknya dan
terkadang menjadi kaffarah (balasan untuk
menghapus dosa) atas dosa-dosa yang pernah
kita lakukan, cukuplah yang penting kita
mengamalkannya hanya mencari redha Allah
S.W.T. Kembali kepada Hizb al-Bahr, hizib inilah
yang al-Imam selalu berwasiat kepada anak-anak
muridnya supaya rajin dibaca, diamalkan dan
diajarkan kepada anak-anak. Kerana di dalamnya
mengandungi al-Ismul A’dzam (nama Allah yang
Maha Agung). Hizb ini diajarkan oleh Rasulallah
S.A.W melalui mimpi Imam Abu Hasan asy-Syazili
sewaktu beliau berdukacita di tengah-tengah
Laut Merah. Diceritakan, suatu hari Al-Imam ingin
pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk
menunaikan fardu haji melalui jalan laut. Kapten
kapalnya itu seorang nasrani (kristian). Di tengah-
tengah perjalanan tiba-tiba angin tidak lagi
bertiup, ini membuatkan kapal yang al-Imam naiki
tidak boleh berlayar. Bukan setakat sehari, malah
berhari-hari. Semua awak-awak kapal menjadi
gelisah dan berdukacita. Dalam kegelisahan
inilah, Imam Abu Hasan asy-Syazili bermimpi
bertemu Rasulullah S.A.W. Baginda S.A.W
mengajarkan al-Imam akan hizib ini. Apabila tiba
waktu siang, al-Imam menyuruh kapten kapal itu
bersiap-siap untuk berlayar. Dan ini menyebabkan
kapten kapal itu kehairanan, lalu bertanya.
Kapten kapal : “Mana Anginnya, tuan?”. Jawab al-
Imam : ” Sudah! siap-siap, sekarang angin
datang!”. Dengan Izin Allah S.W.T beberapa saat
kemudian angin pun datang. Oleh kerana
peristiwa yang luar biasa ini, kapten kapal yang
seorang nasrani itu pun memeluk Islam. Masya
Allah.

Di antara keramatnya para Shidiqin ialah :


Selalu taat dan ingat pada Allah swt. secara
istiqamah (kontineu).
Zuhud (meninggalkan hal-hal yang bersifat
duniawi).
Bisa menjalankan perkara yang luar bisa, seperti
melipat bumi, berjalan di atas air dan sebagainya.
Diantara keramatnya Wali Qutub ialah :

Mampu memberi bantuan berupa rahmat dan


pemeliharaan yang khusus dari Allah
Mampu menggantikan Wali Qutub yang lain.
Mampu membantu malaikat memikul Arsy.
Hatinya terbuka dari haqiqat dzatnya Allah swt.
dengan disertai sifat-sifat-Nya.
Kamu jangan menunda ta’at di satu waktu, pada
waktu yang lain, agar kamu tidak tersiksa dengan
habisnya waktu untuk berta’at (tidak bisa
menjalankan) sebagai balasan yang kamu sia-
siakan. Karena setiap waktu itu ada jatah ta’at
pengabdian tersendiri. Kamu jangan menyebarkan
ilmu yang bertujuan agar manusia
membetulkanmu dan menganggap baik
kepadamu, akan tetapi sebarkanlah ilmu dengan
tujuan agar Allah swt. membenarkanmu. Radiya
allahu ‘anhu wa ‘aada ‘alaina min barakatihi wa
anwarihi wa asrorihi wa ‘uluumihi wa ahlakihi,
Allahumma Amiin.

Ini hizib (ajian) yang dikarang oleh Syekh Abul


Hasan Asy Syadzili pendiri Tarekat Syadziliyah.
Kegunaannya sangat banyak, di antaranya adalah
disegani kawan maupun lawan, kebal senjata dan
serangan gaib, menundukkan musuh bahkan
mampu menewaskan musuh. Hizib ini cocok
diamalkan saat keadaan genting dan kekuatan
musuh tidak sebanding dengan kekuatan kita.
Misalnya saat perjuangan melawan penjajah dan
melawan musuh juga banyak faedah yang
terkandung didalamnya..

Dikarang di Tengah Laut MerahOrang


pesantren mana yang tidak tahu Hizib Bahar.
Hizib yang satu ini sangat masyhur. Ia sejajar
dengan Hizib Nashr, Hizib Nawawi, Hizib
Maghrabi, Suryani dan sederet nama-nama hizib
`beken’ lainnya.Konon, orang yang
mengamalkan Hizib Bahar dengan kontinu, akan
mendapat perlindungan dari segala bala. Bahkan,
bila ada orang yang bermaksud jahat mau
menyatroni rumahnya, ia akan melihat lautan air
yang sangat luas. Si penyatron akan melakukan
gerak renang layaknya orang yang akan
menyelamatkan diri dari daya telan samudera.
Bila di waktu malam, ia akan terus melakukan
gerak renang sampai pagi tiba dan pemilik
rumah menegurnya.Orang-orang yang tidak
percaya dengan hal-hal supranatural, mungkin
tidak akan percaya dengan hal itu.Tapi, cerita
mengenai keampuhan hizib yang dikarang oleh
Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili ini betul-betul
masyhur, termasuk cerita tentang lautan yang
membentang di tengah-tengah orang yang
bermaksud jahat.Syaikh al-Syadzili, pemilik hizib
ini, terkenal sebagai pelopor tarekat al-
Syadziliyah. Ia seorang sufi terkenal. Ia juga
kesohor sebagai pemilik bacaan-bacaan hizib
ampuh, seperti Hizib Nashr dan
Hizib Bahar.Ada backgroung kisah yang amat
menarik tentang asal muasal Bahar Syaikh al-
Syadzili. Kisah itu ditulis oleh Haji Khalifah,
pustakawan terkenal asal Konstantinopel
(Istanbul Turki).Konon, Hizib Bahar ditulis Syaikh
Abu al-Hasan al-Syadzili di Laut Merah (Laut
Qulzum). Di laut yang membelah Asia dan Afrika
itu Syaikh al-Syadzili pernah berlayar menumpang
perahu. Di tengah laut tidak angin bertiup,
sehingga perahu tidak bisa berlayar selama
beberapa hari. Dan, beberapa saat kemudian
Syaikh al-Syadzili melihat Rasulullah. Beliau
datang membawa kabar gembira (?). Lalu,
menuntun Abu al-Hasan al-Syadzili melafadzkan
doa-doa. Usai al-Syadzili membaca doa, angin
bertiup dan kapal kembali berlayar.Doa-doa itu
kemudian diabadikan oleh al-Syadzili dan
diajarkan kepada murid-murid tarekatnya. Dan,
kemudian diberi nama Hizb al-Bahr (doa/senjata
laut). Disebut Hizb al-Bahr karena doa-doa ini
tersebut mempunyai ikatan historis yang sangat
erat dengan laut. Juga, al-Syadizili membacanya
dalam rangka berdoa agar selamat dalam
perjalanan di Laut Merah. Jadi, Hizib Bahar betul-
betul wirid yang punya kedekatan tersendiri
dengan air, termasuk dalam berbagai cerita
mengenai khasiat ampuhnya membuat penjahat
terengah-engah di tengah
samudera mahaluas.Dalamkitab Kasyf al-Zhunun
`an Asami al-Kutub wa al-Funun, Haji Khalifah
juga memuat berbagai jaminan yang diberikan al-
Syadzili dengan Hizib Baharnya ini. Di antaranya,
menurut Haji Khalifah, al-Syadzili perbah berkata:
“Seandainya hizibku (Hizib Bahar, Red.) ini
dibaca di Baghdad, niscaya daerah itu tidak akan
jatuh.” Mungkin yang dimaksud al-Syadzili
dengan kejatuhan di situ adalah kejatuhan
Baghdad ke tangan Tartar.“Bila Hizib Bahar
dibaca di sebuah tempat, maka termpat itu akan
terhindar dari malapetaka,” ujar Syaikh Abu al-
Hasan, seperti ditulis Haji Khalifah dalam
Kasyf al-Zhunun.Haji Khalifah juga mengutip
komentar ulama-ulama lain tentang Hizib Bahar
ini. Ada yang mengatakan, bahwa orang yang
istiqamah membaca Hizib Bahar, ia tidak mati
terbakar atau tenggelam. Bila Hizib Bahar ditulis
di pintu gerbang atau tembok rumah, maka akan
terjaga dari maksud jelek orang dan
seterusnya.Banyak komentar-komentar, baik dari
Syaikh al-Syadzili maupun ulama lain tentang
keampuhan Hizib Bahar yang ditulis Haji Khalifah
dalam Kasyf al-Zhunun jilid 1 (pada entri kata
Hizb). Selain itu, Haji Khalifah juga menyatakan
bahwa Hizib Bahar telah disyarahi oleh banyak
ulama, diantaranya Syaikh Abu Sulayman al-
Syadzili, Syaikh Zarruq, dan Ibnu Sulthan al-
Harawi.
———————————

Perjalanan Sufi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a.

Suatu ketika saat berkelana beliau berkata dalam


hati, “Ya Allah, kapankah aku bisa menjadi
hamba-Mu yang bersyukur?” Kemudian
terdengarlah suara, “Kalau kamu sudah mengerti
dan merasa bahwa yang diberi nikmat hanya
kamu saja” Beliau berkata lagi, “Bagaimana saya
bisa begitu, padahal Engkau sudah memberi
nikmat kepada para Nabi, Ulama dan Raja?”
Kemudian terdengar suara lagi, “Jika tidak ada
Nabi, kamu tidak akan mendapat petunjuk, jika
tidak ada Ulama kamu tidak akan bisa ikut
bagaimana caranya beribadah, jika tidak ada Raja
kamu tidak akan merasa aman. Itu semua adalah
nikmat dari-Ku yang kuberikan hanya untukmu”.‫لل‬
Syadziliyah adalah nama suatu desa di benua
Afrika yang merupakan nisbat nama Syekh Abul
Hasan Asy-Syadzili r.a. Beliau pernah bermukim di
Iskandar sekitar tahun 656 H. Beliau wafat dalam
perjalanan haji dan dimakamkan di padang Idzaab
Mesir. Sebuah padang pasir yang tadinya airnya
asin menjadi tawar sebab keramat Syekh Abul
Hasan Asy-Syadzili r.a. Beliau belajar ilmu
thariqah dan hakikat setelah matang dalam ilmu
fiqihnya. Bahkan beliau tak pernah terkalahkan
setiap berdebat dengan ulama-ulama ahli fiqih
pada masa itu. Dalam mempelajari ilmu hakikat,
beliau berguru kepada wali quthub yang agung
dan masyhur yaitu Syekh Abdus Salam Ibnu
Masyisy, dan akhirnya beliau yang meneruskan
quthbiyahnya dan menjadi Imam Al-Auliya’.
Peninggalan ampuh sampai sekarang yang sering
diamalkan oleh umat Islam adalah Hizb Nashr dan
Hizb Bahr, di samping Thariqah Syadziliyah yang
banyak sekali pengikutnya. Hizb Bahr merupakan
Hizb yang diterima langsung dari Rasulullah saw.
yang dibacakan langsung satu persatu hurufnya
oleh beliau saw. Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili
r.a. pernah ber-riadhah selama 80 hari tidak
makan, dengan disertai dzikir dan membaca
shalawat yang tidak pernah berhenti. Pada saat
itu beliau merasa tujuannya untuk wushul
(sampai) kepada Allah swt. telah tercapai.
Kemudian datanglah seorang perempuan yang
keluar dari gua dengan wajah yang sangat
menawan dan bercahaya. Dia menghampiri beliau
dan berkata, ”Sunguh sangat sial, lapar selama
80 hari saja sudah merasa berhasil, sedangkan
aku sudah enam bulan lamanya belum pernah
merasakan makanan sedikitpun”. Suatu ketika
saat berkelana, beliau berkata dalam hati, “Ya
Allah, kapankah aku bisa menjadi hamba-Mu yang
bersyukur?”. Kemudian terdengarlah suara,
“Kalau kamu sudah mengerti dan merasa bahwa
yang diberi nikmat hanya kamu saja”. Beliau
berkata lagi, “Bagaimana saya bisa begitu,
padahal Engkau sudah memberi nikmat kepada
para Nabi, Ulama dan Raja?”. Kemudian
terdengarlah suara lagi, “Jika tidak ada Nabi,
kamu tidak akan mendapat petunjuk, jika tidak
ada Ulama kamu tidak akan bisa ikut bagaimana
caranya beribadah, jika tidak ada Raja kamu
tidak akan merasa aman. Itu semua adalah
nikmat dari-Ku yang kuberikan hanya untukmu”.
Beliau pernah khalwat (menyendiri) dalam sebuah
gua agar bisa wushul (sampai) kepada Allah swt.
Lalu beliau berkata dalam hatinya, bahwa besok
hatinya akan terbuka. Kemudian seorang
waliyullah mendatangi beliau dan berkata,
“Bagaimana mungkin orang yang berkata besok
hatinya akan terbuka bisa menjadi wali. Aduh hai
badan, kenapa kamu beribadah bukan karena
Allah (hanya ingin menuruti nafsu menjadi wali)”.
Setelah itu beliau sadar dan faham dari mana
datangnya orang tadi. Segera saja beliau
bertaubat dan minta ampun kepada Allah swt.
Tidak lama kemudian hati Syekh Abul Hasan Asy-
Syadzili r.a. sudah di buka oleh Allah swt.
Demikian di antara bidayah (permulaaan) Syekh
Abul Hasan As-Syadzili. Beliau pernah dimintai
penjelasan tentang siapa saja yang menjadi
gurunya? Sabdanya, “Guruku adalah Syekh Abdus
Salam Ibnu Masyisy, akan tetapi sekarang aku
sudah menyelami dan minum sepuluh lautan ilmu.
Lima dari bumi yaitu dari Rasululah saw, Abu
Bakar r.a, Umar bin Khattab r.a, Ustman bin ‘Affan
r.a dan Ali bin Abi Thalib r.a, dan lima dari langit
yaitu dari malaikat Jibril, Mika’il, Isrofil, Izro’il dan
ruh yang agung. Beliau pernah berkata, “Aku
diberi tahu catatan muridku dan muridnya
muridku, semua sampai hari kiamat, yang
lebarnya sejauh mata memandang, semua itu
mereka bebas dari neraka. Jikalau lisanku tak
terkendalikan oleh syariat, aku pasti bisa
memberi tahu tentang kejadian apa saja yang
akan terjadi besok sampai hari kiamat”. Syekh
Abu Abdillah Asy-Syathibi berkata, “Aku setiap
malam banyak membaca Radiya Allahu ‘An Asy-
Syekh Abil Hasan dan dengan ini aku berwasilah
meminta kepada Allah swt apa yang menjadi
hajatku, maka terkabulkanlah apa saja
permintaanku”. Lalu aku bermimpi bertemu
dengan Nabi Muhammad saw. dan aku bertanya,
“Ya Rasulallah, kalau seusai shalat lalu
berwasilah membaca Radiya Allahu ‘An Asy-Syekh
Abil Hasan dan aku meminta apa saja kepada
Allah swty. apa yang menjadi kebutuhanku lalu
dikabulkan, seperti hal tersebut apakah
diperbolehkan atau tidak?”. Lalu Nabi saw.
Menjawab, “Abul Hasan itu anakku lahir batin,
anak itu bagian yang tak terpisahkan dari orang
tuanya, maka barang siapa bertawashul kepada
Abul Hasan, maka berarti dia sama saja
bertawashul kepadaku”. Pada suatu hari dalam
sebuah pengajian Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili
r.a. menerangkan tentang zuhud, dan di dalam
majelis terdapat seorang faqir yang berpakaian
seadanya, sedang waktu itu Syekh Abul Hasan
Asy-Syadzili berpakaian serba bagus. Lalu dalam
hati orang faqir tadi berkata, “Bagaimana
mungkin Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a.
berbicara tentang zuhud sedang beliau sendiri
pakaiannya bagus-bagus. Yang bisa dikatakan
lebih zuhud adalah aku karena pakaianku jelek-
jelek”. Kemudian Syekh Abul Hasan menoleh
kepada orang itu dan berkata, “Pakaianmu yang
seperti itu adalah pakaian yang mengundang
senang dunia karena dengan pakaian itu kamu
merasa dipandang orang sebagai orang zuhud.
Kalau pakaianku ini mengundang orang
menamakanku orang kaya dan orang tidak
menganggap aku sebagai orang zuhud, karena
zuhud itu adalah makam dan kedudukan yang
tinggi”. Orang fakir tadi lalu berdiri dan berkata,
“Demi Allah, memang hatiku berkata aku adalah
orang yang zuhud. Aku sekarang minta ampun
kepada Allah dan bertaubat”.
Di antara Ungkapan Mutiara Syekh Abul Hasan
Asy-Syadili:
1. Tidak ada dosa yang lebih besar dari dua
perkara ini : pertama, senang dunia dan memilih
dunia mengalahkan akherat. Kedua, ridha
menetapi kebodohan tidak mau meningkatkan
ilmunya.
2. Sebab-sebab sempit dan susah fikiran itu ada
tiga : pertama, karena berbuat dosa dan untuk
mengatasinya dengan bertaubat dan beristiqhfar.
Kedua, karena kehilangan dunia, maka
kembalikanlah kepada Allah swt. sadarlah bahwa
itu bukan kepunyaanmu dan hanya titipan dan
akan ditarik kembali oleh Allah swt. Ketiga,
disakiti orang lain, kalau karena dianiaya oleh
orang lain maka bersabarlah dan sadarlah bahwa
semua itu yang membikin Allah swt.
untuk mengujimu.Kalau Allah swt. belum memberi
tahu apa sebabnya sempit atau susah, maka
tenanglah mengikuti jalannya taqdir ilahi.
Memang masih berada di bawah awan yang
sedang melintas berjalan (awan itu berguna dan
lama-lama akan hilang dengan sendirinya). Ada
satu perkara yang barang siapa bisa menjalankan
akan bisa menjadi pemimpin yaitu berpaling dari
dunia dan bertahan diri dari perbuatan dhalimnya
ahli dunia. Setiap keramat (kemuliaan) yang tidak
bersamaan dengan ridha Allah swt. dan tidak
bersamaan dengan senang kepada Allah dan
senangnya Allah, maka orang tersebut terbujuk
syetan dan menjadi orang yang rusak. Keramat
itu tidak diberikan kepada orang yang mencarinya
dan menuruti keinginan nafsunya dan tidak pula
diberikan kepada orang yang badannya digunakan
untuk mencari keramat. Yang diberi keramat
hanya orang yang tidak merasa diri dan amalnya,
akan tetapi dia selalu tersibukkan dengan
pekerjaan-pekerjaan yang disenangi Allah dan
merasa mendapat anugerah (fadhal) dari Allah
semata, tidak menaruh harapan dari kebiasaan
diri dan amalnya.
Di antara keramatnya para Shidiqin ialah :1.
Selalu taat dan ingat pada Allah swt. secara
istiqamah (kontineu).
2. Zuhud (meninggalkan hal-hal yang bersifat
duniawi).
3. Bisa menjalankan perkara yang luar bisa,
seperti melipat bumi, berjalan di atas air dan
sebagainya.
Diantara keramatnya Wali Qutub ialah :1. Mampu
memberi bantuan berupa rahmat dan
pemeliharaan yang khusus dari Allah swt.
2. Mampu menggantikan Wali Qutub yang lain.
3. Mampu membantu malaikat memikul Arsy.
4. Hatinya terbuka dari haqiqat dzatnya Allah swt.
dengan disertai sifat-sifat-Nya. Kamu jangan
menunda ta’at di satu waktu, pada waktu yang
lain, agar kamu tidak tersiksa dengan habisnya
waktu untuk berta’at (tidak bisa menjalankan)
sebagai balasan yang kamu sia-siakan. Karena
setiap waktu itu ada jatah ta’at pengabdian
tersendiri. Kamu jangan menyebarkan ilmu yang
bertujuan agar manusia membetulkanmu dan
menganggap baik kepadamu, akan tetapi
sebarkanlah ilmu dengan tujuan agar Allah swt.
membenarkanmu. Radiya allahu ‘anhu wa ‘aada
‘alaina min barakatihi wa anwarihi wa asrorihi wa
‘uluumihi wa ahlakihi, Allahumma Amiin. (Al-
Mihrab).
Doa sebelum membaca hizib bahar:
‫سلر نفلاان‬
‫سلر نونل بتنع ب‬ ‫ب ني ب‬ ‫ نولبله نحلول ن نوالقباوةب نر ب‬،‫ا الارلحنملن الارلحليلم نولبله ننلسنتلعليبن‬ ‫لبلسلم ل‬
‫ب نتبملم لبنخليبر لبنحبق ا ب ت ث ج ح خ د ذ ر ز س ش‬ ‫نتليلسلينر بكل ب نعلسليلر نعنلليننا نيلسليبر نر ب‬
‫سلول ب ا اناللبهام‬ ‫ نل إلننه إال ا بمنحامدد نر ب‬،‫ص ض ط ظ ع غ ف ق ك ل م ن و ه ل ء ي‬
‫سلانم‬ ‫سبيلدننا بمنحامبد نونعنلى االلله نو ن‬
‫صلحلبله نو ن‬ ‫صبلى نعنلى ن‬ ‫ن‬
Pondok Lubuk Tapah yang merupakan pondok tertua
di negeri Kelantan. Pondok tinggalan al-Marhum Tuan
Guru Hj. Abdullah bin Abdul Rahman itu merupakan
pondok kedua terbesar di negeri Kelantan selepas
pondok Pasir Tumbuh. Al-Marhum Tuan Guru Hj.
Abdullah bin Abdul Rahman Mudir Pondok Lubuk
Tapah, Kelantan. Beliau pernah mengijazahkan Syeikh
Muhammad Fuad al Maliki sanad yang diterimanya
daripada Syeikh Yasin ibn Isa al Fadani al Hasani,
Syeikh Abdul Qadir al Mandili, Sayyid Alawi ibn Abbas
al Maliki dan mengijazahkan Tariqat Ahmadiah
kepadanya.
Abdullah bin Abdul Rahman bin Hj. Che Wan bin Senik
bin Hj. Mamat bin Abdul Latif bin Abdullah. Lahir pada
11 hb.Februari 1933. Dikurniakan lima orang anak
iaitu dua lelaki dan tiga perempuan. Tok Guru Haji
Lah, Lubuk Tapah telah kembali kerahmatullah pada
19 Mac 2008. Beliau meninggal dunia sekitar pukul
7.30 pagi di rumah beliau. TUAN Guru Haji Abdullah
Lubuk Tapah telah kembali ke Rahmatullah pagi ini
dalam usia 74 tahun. Allahyarham adalah antara guru
Pondok yang masyhur dan juga bermulut masin yang
dikunjungi oleh segenap lapisan masyarakat bukan
saja dari Kelantan tetapi dari seluruh negara hingga
dari Pattani. Allahryarham meninggal jam 7:10 pagi
dikebumikan di perkuburan Lubuk Tapah jam 5:00
petang ini.
‫‪Terjemahan hizib ini ke dalam bahasa Melayu oleh‬‬
‫‪Muallij Mustaqim bin Mohd Najib Al-Kelantani untuk‬‬
‫‪tatapan umum tanpa pengijazahan. Hayatinya dan‬‬
‫‪amalkannya dengan istiqamah. Download di sini‬‬
‫‪untuk versi‬‬
‫‪ebook: http://www.ziddu.com/downloadlink/1031‬‬
‫‪6559/HizibBahar.pdf‬‬
‫ت نرببلي‪ .‬نولعللبمنك نحلسلبلي‪.‬‬ ‫ا االرلحنملن الارلحليلم‪ .‬نيانعلليي نيانعلظليبم‪ .‬نيانحللليبم نيانعللليبم‪ .‬انلن ن‬ ‫لبلسلم ل‬
‫ت‬‫شابء نوانلن ن‬ ‫صبر نملن نت ن‬ ‫ب نحلسلبلي‪ .‬نتلن ب‬ ‫ب نرببلي‪ .‬نولنلعنم لالنحلس ب‬ ‫نفلنلعنم الار ي‬
‫‪.‬لالنعلزليبز الارلحليبم‬
‫شبكلولك‬ ‫ت‪.‬لمنن ال ي‬ ‫ت نواللنخنطنرا ل‬ ‫ت نوالللنراندا ل‬ ‫ت‪ .‬نواللنكللنما ل‬ ‫سنكننا ل‬ ‫ت نوال ا‬ ‫صنمنة لفى اللنحنرنكا ل‬ ‫ننلسا نل بنك الللع ل‬
‫ب‪ .‬نفنقلد الببتللني اللبملؤلمبنلونن‬ ‫ب‪ .‬نعلن بمنطالننعلة اللبغبيلو ل‬ ‫سالتنرلة للللقبل بلو ل‬ ‫نواليظبنلولن‪ .‬نولالنلونهالم ال ا‬
‫ض نما نونعندننا ا ب‬ ‫شلدليددا‪) .‬نولالذ نيقبلول ب لالبمننافلقبلونن نوااللذلينن لفى قبل بلولبلهلم نمنر د‬ ‫نوبزلللزل بلوا لزللنزالد ن‬
‫سلول ببه لالابغبرلودرا(‬ ‫نونر ب‬
‫ت الانانر‬‫ساخلر ن‬ ‫سى‪ .‬نو ن‬ ‫ت لالنبلحنر للبملو ن‬ ‫ساخلر ن‬ ‫سبخلرنلننا نهنذا لالنبلحرن‪ .‬نكنما ن‬ ‫صلرننا نو ن‬ ‫نفنثببلتننا نوالن ب‬
‫سنللينمانن‪.‬‬ ‫شنيالطلينن نولاللجان لل ب‬ ‫ت البرلينح نوال ا‬ ‫ساخلر ن‬ ‫ت لاللجنبال ن نولالنحلدليند للندابوند‪ .‬نو ن‬ ‫ساخلر ن‬ ‫للللبنرالهلينم‪ .‬نو ن‬
‫ت نونبلحنر اليدلننيا نونبلحنر‬ ‫سنمالء‪ .‬نولالبملللك نو لالنملنبكلو ل‬ ‫ض نوال ا‬ ‫سبخلرلنننا بكل ن نبلحبربهنو لننك لفى لالنلر ل‬ ‫نو ن‬
‫شليبء‬ ‫ت بكل ي ن‬ ‫شليبء‪ .‬نيانملن لبنيلدله نملنبكلو ب‬ ‫ساخلرلنننا بكل ا ن‬ ‫‪.‬لالنلخنرلة‪ .‬نو ن‬
‫)كهيعص( )كهيعص( )كهيعص(‬
‫صلرلينن‪ .‬نوالفنتلح لنننا نفلااننك نخليبر اللنفالتلحلينن‪ .‬نوالغفللرلنننا نفلااننك نخليبر‬ ‫صلرننا نفلااننك نخليبر الانا ل‬ ‫ا بلن ب‬
‫لالنغافللرلينن‪ .‬نوالرنحلمننا نفلااننك نخليبر الارالحلملينن‪ .‬نوالربزلقننا نفلااننك نخليبر الارالزقللينن‪ .‬نوالهلدننا نوننبجننا لمنن‬
‫شلرنها نعنلليننا لملن نخنزلائلن‬ ‫لالنقلولم الاظلاللملينن‪ .‬نونهلب نلننا لرليدحا نطلينبدة نكنما لهني لفى لعلللمنك‪ .‬نوالن ب‬
‫سلننملة نو اللنعافلنيلة لفي البد ليلن نواليدلننيا نولاللخنرلة‪.‬‬ ‫نرلحنملتنك‪ .‬نوالحلمللننا لبنها نحلمل ن لالنكنرا نملة نمنع ال ا‬
‫شليبء نقلدليبر‬‫‪.‬لااننك نعنلى بكل ب ن‬
‫سلننملة نولالنعافلنيلة لفى بدلننياننا نو لدليلننن‪.‬ا‬ ‫سلرلنننا ا ببملونرننا‪ .‬نمنع الارانحلة للقبل بلولبننا نوانلبندالنننا نوال ا‬ ‫ناللابهام ني ب‬
‫سلخبهلم‬ ‫س نعنلى بوبجلوله انلعندالئننا‪ .‬نوالم ن‬ ‫سنفلرننا نونخلللينفدة لفى انلهللننا‪ ,‬نوالطلم ل‬ ‫صالحدبا لفى ن‬ ‫نوبكلن لنننا ن‬
‫ضاي نولنلالمنجلينء لالنليننا‬ ‫‪.‬نعنلى نمنكاننلتلهلم نفلن نيلسنتلطليبعلونن لالبم ل‬
‫صبرلونن* نولنلونن ن‬
‫شآبء(‬ ‫صنرانط نفاانى بيلب ل‬ ‫شابء لننطنملسننا نعنلى انلعبيلنلهلم نفالسنتنبقبلوا ال ب‬ ‫نولنلو نن ن‬
‫ض وديا نولننيلرلجبعلونن‬ ‫سلخننابهلم نعنلى نمنكاننلتلهلم نفنماالسنتنطابعلوا بم ل‬ ‫‪.‬لنم ن‬
‫صنرابط بملسنتقلليبم* نتلنلزليل ن لالنعلزليلز(‬ ‫سلللينن* نعنلى ل‬ ‫يس‪ .‬نولالقبلرآلن اللنحلكليلم* لااننك نللمنن لالبملر ن‬
‫الارلحليلم* للبتلنلذنر نقلودما نما ا بلنلذنر آنبابؤبهلم نفبهلم نغافلل بلونن* نلنقلدنحاق لالنقلول ب نعنلى انلكنثلرلهلم نفبهلم‬
‫لنبيلؤلمبنلونن* لاننانجنعللننا لفى انلعنناقللهلم انلغلنلد فلنهني لانلى لالنلذنقالن نفبهلم بملقنمبحلونن* نونجنعللننا لملن‬
‫صبرلونن‬ ‫شليننبهلم نفبهلم لنبيلب ل‬ ‫سدودا نفا نلغ ن‬
‫سدودا نولملن نخللفللهلم ن‬ ‫*نبليلن انليلدليلهلم ن‬
‫ت لالبوبجلوهب)نثلندثا(‬ ‫شانه ل‬ ‫ن‬
‫ب نملن نحنمل ن بظللدما‬ ‫ت لالبوبجلوهب للللنحبي لالنقييلولم‪ .‬نونقلد نخا ن‬ ‫نونعنن ل‬
‫)حم‪ .‬عسق()طس(‬
‫خ لننيلبلغنيالن(‬ ‫)نمنرنج لالنبلحنرليلن نيللنتقلنيالن* نبليننبهنما نبلرنز د‬
‫)حم( )حم( )حم( )حم( )حم( )حم( )حم(‬
‫صبرلونن‬ ‫صنر‪ ,‬نفنعنلليننا لن بيلن ن‬ ‫‪ .‬بحام لالنلمبر نونجانء الان ل‬
‫ب لذى(‬ ‫شلدليلد الللعنقا ل‬‫ب ن‬ ‫ب نونقالبلل الاتلو ل‬ ‫ا اللنعلزليلز اللنعللليلم* نغافللرالاذلن ل‬ ‫ب لمنن ل‬ ‫حم* نتلنلزليل ب الللكنتا ل‬
‫صليبر‬ ‫)الاطلولل ل لالننه لالابهنو‪ .‬لالنليله اللنم ل‬
‫ا(‬ ‫ص( لكنفانيبتننا)حم‪.‬عسق( لحنمانيبتننا)لبلسلم ل‬ ‫سلقفبننا)نكنهنينع ن‬ ‫با نببننا)نتنبانرنك( لحلينطابنننا)نيس( ن‬
‫سلمليبع اللنعللليبم(‬ ‫سنيلكفللينكبهبم ا ب نوبهنوال ا‬ ‫)نف ن‬
‫سلمليبع اللنعللليبم(‬ ‫سنيلكفللينكبهبم ا ب نوبهنوال ا‬ ‫)نف ن‬
‫سلمليبع اللنعللليبم(‬ ‫سنيلكفللينكبهبم ا ب نوبهنوال ا‬ ‫)نف ن‬
‫ا لنبيلقندبر نعنلليننا‪) .‬نوا ب لملن‬ ‫ا ننالظنرةد لانلليننا‪ .‬لبنحلولل ل‬ ‫ش نملسببلول د نعنلليننا‪ .‬نونعليبن ل‬ ‫لسلتبر اللنعلر ل‬
‫ح نملحفبلوبظ(‬ ‫نونرالئلهلم بمحليبط ‪ .‬نبلل بهنو قبلرآدن نملجليدد ‪ .‬لفى نللو ب‬
‫ل( )فال ب نخليدر نحافلدظا نوبهنو انلرنحبم الارالحلملينن( )فال ب نخليدر نحافلدظا نوبهنو انلرنحبم الارالحلملينن(‬ ‫فا ب‬
‫)نخليدر نحافلدظا نوبهنو انلرنحبم الارالحلملينن‬
‫صالللحلينن(‬ ‫ب ‪ .‬نوبهنو نينتنوالى ال ا‬ ‫)لاان نوللبيني ا ب االلذلي ننازل ن الللكنتا ن‬
‫صالللحلينن(‬ ‫ب ‪ .‬نوبهنو نينتنوالى ال ا‬ ‫)لاان نوللبيني ا ب االلذلي ننازل ن الللكنتا ن‬
‫صالللحلينن(‬ ‫ب ‪ .‬نوبهنو نينتنوالى ال ا‬ ‫)لاان نوللبيني ا ب االلذلي ننازل ن الللكنتا ن‬
‫ش اللنعلظليلم(‬ ‫ب اللنعلر ل‬‫ت نوبهنو‪ .‬نر ي‬ ‫نحلسلبني ا ب ل لانلنه( )نحلسلبني ا ب ل لانلنه لالابهنو نعنلليله نتنواكلل ب‬
‫ش اللنعلظليلم‬ ‫ب اللنعلر ل‬ ‫ت نوبهنو‪ .‬نر ي‬ ‫ت( )لالابهنو نعنلليله نتنواكلل ب‬ ‫نحلسلبني ا ب ل لانلنه لالابهنو نعنلليله نتنواكلل ب‬
‫ش اللنعلظليلم‬ ‫ب اللنعلر ل‬ ‫)نوبهنو‪ .‬نر ي‬
‫سلمليبع اللنعللليبم‬‫سنمآلء نوبهنو ال ا‬ ‫ض نولن لفى ال ا‬ ‫شليدء لفى لالنلر ل‬ ‫ضير نمنع السلمله ن‬ ‫ا االلذلي لن ني ب‬ ‫لبلسلم ل‬
‫سلمليبع اللنعللليبم‬ ‫سنمآلء نوبهنو ال ا‬ ‫ض نولن لفى ال ا‬ ‫شليدء لفى لالنلر ل‬ ‫ضير نمنع السلمله ن‬ ‫ا االلذلي لن ني ب‬ ‫لبلسلم ل‬
‫سلمليبع اللنعللليبم‬ ‫سنمآلء نوبهنو ال ا‬ ‫ض نولن لفى ال ا‬ ‫شليدء لفى لالنلر ل‬ ‫ضير نمنع السلمله ن‬ ‫ا االلذلي لن ني ب‬ ‫لبلسلم ل‬
‫شبر نما نخلننق‬ ‫ت لملن ن‬ ‫ا الاتااما ل‬ ‫ت ل‬ ‫انبعلوبذ لبنكللنما ل‬
‫شبر نما نخنلنق‬ ‫ت لملن ن‬ ‫ا الاتااما ل‬ ‫ت ل‬ ‫انبعلوبذ لبنكللنما ل‬
‫شبر نما نخنلنق‬ ‫ت لملن ن‬ ‫ا الاتااما ل‬ ‫ت ل‬ ‫انبعلوبذ لبنكللنما ل‬
‫ل اللنعللبي اللنعلظليلم‬ ‫نولننحلول ن نولنقباونة لالالبا ل‬
‫ل اللنعللبي اللنعلظليلم‬ ‫نولننحلول ن نولنقباونة لالالبا ل‬
‫ل اللنعللبي اللنعلظليلم‬ ‫نولننحلول ن نولنقباونة لالالبا ل‬
‫سلانم نتلسللليدما‬ ‫صلحلبله نو ن‬ ‫سبيدننا بماحنملد نونعنلى انللله نو ن‬ ‫صالى ا ب نعنلى ن‬ ‫نو ن‬
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang.
Wahai yang Maha Tinggi, wahai yang Maha Besar,
wahai yang Maha Santun, Engkaulah Tuhanku, dan
ilmuMu yang mencukupi akan diriku, dan sebaik-baik
Tuhan adalah Tuhanku, dan sebaik-baik Pencukup
adalah yang mencukupi diriku, Engkau adalah
Penolong kepada siapa yang Engkau kehendaki dan
Engkaulah yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana.
Kami mohon kepadamu Al-‘ishmah (tersuci daripada
kesalahan) dalam gerak dan diam, dan dalam
bertutur kata dan berkemahuan, dan dari lintasan hati
yang disebabkan wasangka, dan dari ragu dan waham
(khayalan) yang menjadikan hati tertutup daripada
mentelaah perkara-perkara yang ghaib. Di situlah
orang-orang Mukmin diuji, dan mereka digoncang
dengan goncangan yang keras.
‘Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafiq dan orang
yang dalam hatinya ada penyakit berkata: “Allah dan
Rasulnya tidak menjanjikan pada kita kecuali tipuan.”‘
(Al Ahzab 33: 11-12)
Maka teguhkan dan tolonglah kami dan tundukkan
samudera ini sebagaimana Engkau telah
menundukkan laut kepada Musa, dan sebagaimana
Engkau telah menundukkan api kepada Ibrahim, dan
Engkau menundukkan bukit-bukit dan besi kepada
Daud, dan Engkau tundukkan angin dan syaitan serta
jin kepada Sulaiman, dan tundukkan kami segala
samudera, yang mana kesemuanya itu adalah
milikMu baik yang ada di bumi mahupun di langit dan
segala kekuasaan di laut dunia mahupun laut akhirat,
dan tundukkan untuk kami segala sesuatu, wahai
yang di tanganNya kekuasaan segala sesuatu.
Kaaf, Haa, Yaa, ‘Ain, Sod (3x)
Tolonglah kami kerana Engkau sebaik-baik Penolong,
dan bukalah untuk kami, kerana Engkau adalah
sebaik-baik Pembuka, dan ampunilah kami, kerana
Engkau sebaik-baik Pemberi Ampunan, dan
kasihanilah kami, kerana Engkau sebaik-baik yang
mengasihi, dan berilah rezeki kepada kami, kerana
Engkau sebaik-baik Pemberi rezeki, dan berilah
petunjuk dan selamatkan kami dan anugerahilah kami
dengan hembusan angin yang baik sebagaimana
yang ada dalam ilmuMu, dan sebarkanlah atas kami
khazanah-khazanah rahmatMu dan angkatlah kami
dengan pengangkatan kemuliaan bersama
keselamatan dan afiat dalam agama, baik di dunia
mahupun di akhirat, sesungguhnya Engkau Maha
Berkuasa atas segala sesuatu.
Wahai Allah, mudahkanlah bagi kami segala urusan
kami hingga hati kami dapat beristirehat, begitu juga
halnya jasad kami dan kami mohon kemudahan
berkenaan dengan afiat di dalam dunia dan agama.
Berlakulah terhadap kami sebagai kawan dalam safar
(perkelanaan) dan sebagai khalifah dalam keluarga,
dan robahlah wajah musuh-musuh kami dan bekukan
mereka di tempatnya masing-masing agar tidak dapat
mendatangi tempat kami.
‘Dan kalau Kami menghendaki, nescaya Kami
hapuskan penglihatan mata mereka, lalu mereka
berlumba-lumba menuju ke jalan tapi bagaimana
mereka dapat melihat?
Dan kalau Kami menghendaki. Kami robah bentuk
mereka di tempat mereka berada, maka tiadalah
mereka maju dan tioada mereka dapat kembali.’
(Yasin 36: 66-67)
‘Yaa Siin. Demi Al-Quran yang penuh hikmah.
Sungguh engkau adalah seorang Rasul… Dari para
Rasul atas jalan yang lurus-lempang (sebagai wahyu).
Yang diturunkan oleh yang Maha Perkasa, yang Maha
Penyayang. Agar engkau peringatkan suatu kaum
yang bapak-bapak mereka belum mendapat
peringatan. Kerana itu mereka lalai, sungguh
ketentuan (Tuhan) telah berlaku atas kebanyakan
mereka kerana mereka tidak beriman. Sungguh telah
Kami pasang belenggu di lehernya sampai dagunya,
lalu mereka termengadah. Dan Kami adakan di antara
tangan-tangan mereka (di hadapan) bendungan dan
di belakang mereka bendungan (pula) dan Kami tutup
pandangan mereka sehingga tidak dapat melihat.’
(Yasin 36:1-9)
Seburuknya wajah-wajah (3 x)
‘Dan sekalian wajah tunduk merendah demi untuk
Tuhan yang Maha Hidup, yang Maha Berdiri sendiri,
sungguh tiada harapan bagi siapa yang memikul
kezaliman.’ (Thaha 20:111)
Thaa Siin. Haa Miim. ‘Ain, Siin, Qaaf
‘Ia alirkan kedua lautan itu, antara keduanya ada
sempadan, masing-masing tiada berlawanan’ (Ar-
Rahman 55: 19-20)
Haa Miim (7x)
Haa Miim. Persoalan itu sudah ditetapkan dan
kemenangan telah tiba, maka mereka atas kami
takkan dimenangkan.
‘Haa Miim. Turunnya kitab (Al-Quran ini) dari Allah
yang Maha Perkasa, yang Maha mengetahui. Yang
Maha Mengampuni dosa, dan Menerima Taubat lagi
amat keras hukumNya dan besar kekuasaanNya, tiada
Tuhan selain Dia, kepadaNya tujuan kembali.” (Al-
Mukmin 40: 1-3)
Bismillah pintu bagi kami;
Tabaroka dinding perisai kami;
Yaa Siin atap menaungi kami;
Kaaf Haa Yaa ‘Ain Sod pencukup keperluan kami;
Haa Miim, ‘Ain Siin Qaaf penjagaan diri kami.
Maka Allah akan memelihara engkau dari mereka, dan
Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (3x)
Tabir penutup Arash dilabuhkan atas kami;
Dan mata pengawasan Allah melihat pada kami;
Dengan daya Allah kami tak terkalahkan.
‘Dan Allah mengepung mereka dari belakang. Bahkan
itu adalah Al-Quran yang mulia… Yang termaktub
dalam Loh Mahfudz’ (Al-Buruj 85: 20-22)
‘Allah adalah sebaik-baik pemelihara. Dia Maha
Penyayang dari orang-orang yang paling penyayang.’
(3x) (Yusuf 12:64)
‘Sungguh pelindungku adalah Allah yang menurunkan
kitab (Al-Quran). Dia melindungi para orang salih.’
(3x) (Al-A’raf 7:196)
‘Allah cukup bagiku, tiada Tuhan selain Dia,
kepadaNya aku bertawakal. Dialah Tuhan pemilik
Arash yang Agung’ (3x) (Al-Bara’a 9:129)
Dengan nama Allah, yang bersama namaNya tiadalah
sesuatu akan membawa malapetaka baik di bumi
mahupun di langit dan Ia Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui… (3x)
Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan apa yang
Dia telah menjadikan (3 Kali)
Dan tiada daya dan tiada upaya melainkan dengan
Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung… (3x)
Sejahtera ke atas Nabi Muhammad dan sahabatnya
Doa selepas membaca hizib bahar:
‫ت نوألسنمالء نولبنبنركلة نقا إلللله‬ ‫ب نولبنبنركلة فلليله لملن آ نيا ل‬ ‫اناللبهام إلانلي أنلسأ نل بنك لبنبنر نكلة نهلذله اللحلز ل‬
‫سنر أ ببملونرننا نو‬ ‫صبدلونرننا نوأنلن بتني ب‬‫شنرلح ب‬ ‫شالذللى أنلن بتننبولر قبل بلونبننا نو أنلن نت ل‬
‫سلن ال ن‬ ‫سبيلدى أنلبلي النح ن‬ ‫ن‬
‫ضالءنك نوأنلن نتلرنحبمنن‬ ‫ف لبننا لفي نق ن‬ ‫ضلي نحنوالءلجننا نوإللن بتنعا فلنيننا لملن نبلنلءنك نولإن بقلبط ل‬ ‫إللن نتلق ل‬
‫ت النلحنيالء لملنبهلم نو‬ ‫نونتلعفللر لنننا نوللنو لللدليننا نوالبملسلللملينن نوالبملسللنمالت نو لللبملؤلنلينن نو اللبملؤلمننا ل‬
‫صلحلبله‬ ‫سبيلدننا بمنحامبد نونعنلى االلله نو ن‬ ‫صالى ا ب نعنلى ن‬ ‫ت لبنرلحنملتنك يا ن أنلرنحبم النرلحلمينن نو ن‬ ‫الدلمنوا ل‬
‫ب النعنللملينن‬‫سلانم انلجنملعلينن نوالنحلمبد ا نر ب‬ ‫نو ن‬
Boleh download terus
di http://www.ziddu.com/download/12981177/Hi
zibBahar.pdf.html
Hizib-hizib dalam Tareqat Syadzilliyah, juga digunakan
oleh anggota tareqat lain untuk memohon
perlindungan tambahan (Istighotsah), dan berbagai
kekuatan hikmah, seperti yang diamalkan oleh
pengikut-pengikut Tareqat Ahmadiah Idrisiah,
Rifai’yah dan Qadiriyah. Mereka yang ahli
mengatakan bahwa hizib, bukanlah doa yang
sederhana, ia secara kebaktian tidak begitu
mendalam; tapi lebih merupakan doa-doa
perlindungan mengandungi Nama-nama Allah Yang
Agung (Ism Allah A’zhim) serta ayat-ayat al-Quran
dan, apabila dilantunkan secara benar, akan
mengalirkan berkah dan menghasilkan tindakbalas
luar biasa. Mengenai penggunaan hizib, wirid, dan
doa, para syeikh tareqat biasanya tidak keberatan bila
doa-doa, hizib-hizib (Azhab), dan wirid-wirid dalam
tareqat dipelajari oleh setiap muslim untuk tujuan
peribadi. Akan tetapi mereka tidak bersetuju murid-
murid mereka mengamalkannya tanpa keizinan.

Tareqat ini mempunyai pengaruh yang besar di dunia


Islam. Sekarang tariqat ini terdapat di Afrika Utara,
Mesir, Kenya, dan Tanzania Tengah, India, Sri Lanka,
Indonesia, Malaysia dan beberapa tempat yang
lainnya termasuk di Amerika Barat dan Amerika
Utara. Di Mesir yang merupakan awal mula
penyebaran tareqat ini, tareqat ini mempunyai
beberapa cabang, yakitu: al-Qasimiyyah, al-
Madaniyyah, al-Idrisiyyah, as-Salamiyyah, al-
Handusiyyah, al-Qauqajiyyah, al-Faidiyyah, al-
Jauhariyyah, al-Wafaiyyah, al-Azmiyyah, al-
Hamidiyyah, al-Faisiyyah dan al- Hasyimiyyah.

Yang menarik dari falsafah tasawuf Asy-Syadzily,


kandungan makna hakiki dari Hizib-hizib itu,
memberikan penekanan simbolik mengenai ajaran
utama dari tasawuf atau Tarikat Syadziliyah. Jadi tidak
sekadar doa belaka, melainkan juga mengandung
doktrin sufistik yang sangat hebat.

Di antara Ucapan Syeikh Abul Hasan asy-


Syadzili:
1. Penglihatan akan yang Haqq telah mewujud atasku,
dan takkan meninggalkan aku, dan lebih kuat dari apa
yang dapat dipikul, sehingga aku bermohon kepada
Tuhan agar memasang sebuah tirai antara aku dan
Dia. Kemudian sebuah suara memanggilku, katanya ”
Jika kau memohon kepada-Nya yang tahu bagaimana
memohon kepada-Nya, maka Dia tidak akan
memasang tirai antara kau dan Dia. Namun
memohonlah kepada-Nya untuk membuat mu kuat
memiliki-Nya.”Maka akupun memohon kekuatan dari
Dia dan Dia pun membuatku kuat, segala puji bagi
Tuhan!

2. Aku dipesan oleh guruku (Abdus Salam ibn Masyisy


ra): “Jangan anda melangkahkan kaki kecuali untuk
sesuatu yang dapat mendatangkn keredhaan Allah,
dan jangan duduk dimajlis kecuali yang aman dari
murka Allah. Jangan bersahabat kecuali dengan orang
yang membantu berbuat taat kepada Allah. Jangan
memilih sahabat karib kecuali orang yang menambah
keyakinanmu terhadap Allah.”

3. Seorang wali tidak akan sampai kepada Allah


selama ia masih ada syahwat atau usaha ikhtiar
sendiri.

4. Janganlah yang menjadi tujuan doamu itu adalah


keinginan tercapainya hajat keperluanmu. Dengan
demikian engkau hanya terhijab dari Allah. Yang harus
menjadi tujuan dari doamu adalah untuk bermunajat
kepada Allah yang memeliharamu dari-Nya.

5. Seorang arif adalah orang yang megetahui rahsia-


rahsia kurniaan Allah di dalam berbagai-bagai macam
bala’ yang menimpanya sehari-hari, dan mengakui
kesalahan-kesalahannya didalam lingkungan belas
kasih Allah kepadanya.
6. Sedikit amal dengan mengakui kurnia Allah, lebih
baik dari banyak amal dengan terus merasa kurang
beramal.

7. Andaikan Allah membuka nur (cahaya) seorang


mukmin yang berbuat dosa, nescaya ini akan
memenuhi antara langit dan bumi, maka
bagaimanakah kiranya menjelaskan : “Andaikan Allah
membuka hakikat kewalian seorang wali, niscaya ia
akan disembah, sebab ia telah mengenangkan sifat-
sifat Allah SWT.