Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
Vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere, yang berarti memutardan igo yang
berarti kondisi.Vertigo merupakan suatu perasaan gangguankeseimbangan yang
seringkali dinyatakansebagai rasa pusing, sempoyongan, rasamelayang, badan atau
dunia sekelilingnyaberputar-putar, dan berjungkir balik.Kelainanini disebabkan
karena adanya gangguan padaorgan yang mengatur keseimbangan tubuh.1 Vertigo
merupakan salah satu keluhan tersering pasien berobat ke dokter. Secara umum
insiden terjadinya vertigo beragam yaitu 5 sampai 30% dari populasi dan mencapai
40% pada orang yang berumur di atas 40 tahun. Di Indonesia angka kejadian vertigo
tertingi, pada tahun 2010 dari usia 40-50 tahun sekitar 50% yang merupakan keluhan
utama nomor tiga paling sering dikeluhkan oleh penderita yang dating ke praktek
umum setelah nyeri kepala dan stroke. Umumnya vertigo ditemukan sebesar 15%
dari keseluruhan populasi dan hanya 4%-7% yang diperiksakan ke dokter.
Keseimbangan tubuh diatur oleh tiga sistem organ yang berperan penting, yaitu:
sistem visual, sistem vestibular, dan sistem somatosensori. Masing-masing system
tersebut terdiri dari 3 tingkat, yaitu: resepsi,integrasi, dan persepsi.Etiologi vertigo
adalah abnormalitas dari organ-organ vestibuler, visual, ataupun sistem
propioseptif.Secara umum vertigo dibagi menjadi dua kategori yaitu vertigo
vestibular dan non vestibular.Vertigo nonvestibular mencakup vertigo karena
gangguan pada visual dan system propioseptif.Sementara vertigo vestibular dibagi
menjadi dua yaitu vertigo sentral dan perifer.Lesi vertigo sentral dapat terjadi pada
daerah pons, medulla maupun serebelum, kasus vertigo ini sekitar 20%-25% dari
seluruh vertigo. Sementara vertigo perifer gangguan dapat terjadi pada end-organ (
utrikulus maupun kanalis semisirkularis) maupun pada saraf perifer.1

1
BAB II
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS
1. Identitas penderita :
Nama penderita : NY. IL
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat dan tanggal lahir : Palangka Raya, 14 Februari 1964
Umur/BB : 58 tahun / 77 kg

II. ANAMNESIS
Kiriman dari : IGD
Dengan diagnosa : Vertigo Perifer
Aloanamnesa dengan : Pasien
Tanggal/jam : 21 Mei 2019 / 22.00
Tanggal pemeriksaan : 22 Mei 2019 / 13.00 WIB
1. Keluhan utama : Pusing berputar sejak 4 hari SMRS
2. Riwayat penyakit sekarang :
Pasien datang dengan keluhan pusing berputar sejak ± 4 hari SMRS.
Awalnya pasien masih dapat menahan keluhan tersebut, akan tetapi sejak ±
1 hari SMRS pasien mengeluh pusing bertambah berat. Pasien
mengeluhkan kepala berputar dipicu kelelahan. Pusing terjadi secara tiba-
tiba dan berlangsung singkat ± 3 menit dan setelah itu pasien merasakan
tubuhnya lemas. Pusing hilang timbul dan bertambah bila berjalan atau
merubah posisi kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Pasien mengeluhkan nyeri kepala berputar bertambah saat pasien
membuka matanya, terdapat keluhan pandangan hitam. Keluhan berkurang
ketika pasien tiduran dengan mata tertutup. Selain itu pasien juga mengeluh
mual, penglihatan kabur dan badan lemas. Muntah disangkal, demam

2
disangkal, nyeri dada disangkal, pendengaran berkurang disangkal, kejang
disangkal, rasa kesemutan disangkal, nafsu makan menurun, BAB dan
BAK tidak ada keluhan. Riwayat trauma disangkal.
3. Riwayat penyakit dahulu : Pasien mengaku memiliki riwayat Diabetes
Melitus tipe 2 sejak 6 tahun yang lalu. Tidak ada riwayat penyakit lainnya
serta keluhan pusing berputar pada pasien sebelumnya.
4. Riwayat pengobatan : Pasien mengonsumsi Glibenklamid 5 mg satu lali
sehari sejak 6 tahun yang lalu, pasien rutin kontrol mengenai penyakitnya
5. Riwayat penyakit keluarga : Di dalam keluarga tidak ada yang menderita
keluhan dan penyakit yang sama atau penyakit komorbid lainnya.

III. PEMERIKSAAN FISIK


1. Keadaan umum : Tampak nyeri
Kesadaran : Compos mentis
GCS : E4M6V5
2. Tanda Vital:
- Tekanan darah : 120/80 mmHg
- Frekuensi nadi : 84x/menit, regular, kuat angkat, isi cukup
- Frekuensi napas : 20x/menit, regular
- Temperatur : 36,80C
Berat badan : 77 kg
3. Kulit
a. Warna : sawo matang
b. Sianosis : (-)
c. Hemangiom : (-)
d. Turgor : cepat kembali (CRT <2”)
e. Kelembaban : (+)
f. Pucat : (-)

3
4. Kepala
a. Bentuk : normocephal
b. UUB : sudah menutup
c. UUK : sudah menutup
d. Rambut:
i. Warna : hitam
ii. Tebal/tipis: tebal
iii. Distribusi: merata
iv. Alopesia : (-)
e. Mata:
i. Palpebra : tidak edema
ii. Alis, bulumata : merata
iii. Konjungtiva : anemis
iv. Sklera : tidak ikterik
v. Produksi air mata: cukup
vi. Pupil : isokor, 3mm/3mm, refleks cahaya
(+/+)
vii. Kornea : jernih
viii. Mata cowong : (-)
f. Telinga:
i. Bentuk : kartilago keras, liang telinga (+)
ii. Sekret : (-)
iii. Serumen : (-)
iv. Nyeri : (-)
g. Mulut:
i. Bentuk : simetris
ii. Bibir : mukosa lembab
iii. Gusi : perdarahan (-) , bengkak (-)

4
iv. Gigi geligi : (+)

h. Lidah:
i. Bentuk : dalam batas normal
ii. Pucat : (-)
iii. Tremor : (-)
iv. Kotor : (-)
v. Warna : kemerahan
i. Faring:
i. Hiperemis : (+)
ii. Edema : (-)
iii. Membran/pseudomembran : (-)
j. Tonsil:
i. Warna : kemerahan
ii. Pembesaran : T3-T3
iii. Abses : (-)
iv. Membran/pseudomembran : (-)
5. Leher
a. Vena jugularis : teraba, 5+2 cmH2O
b. Pembesaran kelenjar getah bening: (-)
c. Kaku kuduk: (-)
d. Massa: (-)
e. Tortikalis: (-)

6. Thoraks
a. Dinding dada/paru:
Inspeksi : Bentuk : simetris
Retraksi : tidak ada
Dispnea : tidak ada

5
Pernafasan : thorakoabdominal
Palpasi : Fremitus fokal : simetris
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : Suara Napas Dasar : Suara napas vesikuler
Suara Napas Tambahan:Rhonki (-/-), Wheezing (-/-)

b. Jantung :
Inspeksi : Iktus : tidak terlihat
Palpasi : Apeks : tidak teraba
Thrill : tidak ada
Perkusi : Batas kanan: ICS II LPS Dex – ICS VI LPS Dex
Batas kiri : ICS II LPS Sin – ICS VI LMK Sin
Batas atas : ICS II LPS Dex – LCS II LPS Sin
Auskultasi : Frekuensi : 79x/menit, irama : reguler
Suara dasar: S1 dan S2 tunggal
Bising : tidak ada
7. Abdomen
Inspeksi : Bentuk : Datar
Lain-lain :-
Auskultasi : bising usus (+) 10x/menit
Palpasi : Supel, nyeri tekan (+) regio epigastrium, hepar, lien dan ginjal
tidak teraba.
Perkusi : Timpani, asites (-)

6
8. Ekstremitas : akral hangat, sianosis (-), CRT <2 detik, pitting edema (-)
Kekuatan otot 5/5/4/4, Rumplee leed test (+)
Lengan Tungkai
Kanan Kiri Kanan Kiri
Gerakan Bebas Bebas - -
Tonus + + + +
Trofi - - - -
Klonus - - - -
Refleks + + + +
fisiologi
Refleks - - - -
patologi
Sensibilitas + + + +
Tanda - - - -
meningeal
9. Genitalia : laki-laki, phymosis (-), benjolan di skrotum (-)
10. Anus : dalam batas normal

7
11. Status Neurologis

Status Present Temuan

Kesadaran Compos mentis

GCS E4V6M5

Tingkah laku Normal

Perasaan hati Sesuai dengan afek

Orientasi Orientasi waktu, tempat, personal baik

Jalan pikiran Normal

Kecerdasan Normal

Daya ingat kejadian Normal

Kemampuan bicara Baik

Cara berjalan Goyang dan tidak stabil

Gerakan abnormal Tidak ada

Pemeriksaan fungsi koordinasi dan keseimbangan

Temuan

Uji Rhomberg Bergoyang saat mata tertutup

Uji Tandem Gait Berjalan menyimpang

Past Pointing Test (+)

Dix-Hallpike Maneuver Nistagmus horizontal

Untenberger Manuver Berputar >30o

8
12. Pemeriksaan Nervus Cranialis

Status Temuan

N. I Tidak dilakukan
N. II Visus dbn, lapang pandang dbn
N. III, IV, VI Ptosis (-/-), gerakan bola mata baik ke segala arah, ukuran
N. V pupil 3mm/3mm, reflek cahaya langsung dan tidak
N. VII langsung normal, diplopia (-/-)
N. VIII Sensorik normal, motorik normal, refleks kornea (+/+),
N. IX, X refleks masseter (+/+)
N. XI Raut muka simetris, plika nasolabialis kanan lebih datar
N. XII Nistagmus (-/-), Vertigo (+/+), fungsi pendengaran baik
Deviasi uvula (-), disfagia(-)
Memalingkan kepala (+), mengangkat bahu (+)
Disatria (+), menjulurkan lidar, atrofi (-), lidah tremor
(mioklonus) (-)

9
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan saat di RSUD Dr. Doris Sylvanus:
1. Hasil Laboratorium tanggal 21/05/2019
Indikator Nilai Rujukan Hasil
Hb 11,0 - 16,0 g/dL 12,5 g/dL
Leukosit 4.000 - 10.000/µL 6.290/Μl
Hematokrit 37-54% 37,9%
Trombosit 150.000 – 400.000/µL 282.000/µL
GDS <200 mg/dL 307 mg/dL

Urid Acid <6,5 mg/dL 6,9 mg/dL


HbsAg - -
Malaria - -

V. DIAGNOSA
Diagnosa klinik : Nyeri kepala berputar
Nyeri epigastrik
Hiperglikemia
Hiperuricemia
Diagnosis topik : Cerebrovaskular kiri
Diagnosis kausal : Sefalgia e.c. Vertigo Perifer
Diabetes Melitus Tipe 2
Gout
Diagnosis banding : Benign Paroxysmal Positional Vertigo
Meniere’s disease
Vestibular neuritis

10
VI. PENATALAKSANAAN
• Medikamentosa
Saat di IGD dan Ruangan :
- IVFD NaCl 0,9% 20 tpm
- Lansoprazole 30 mg/12 jam IV
- Mecobalamin 500 mg/12 jam IV
- Betahistin 6 mg/12 jam PO
- Metformin 500 mg/8 jam PO
- Glibenclamide 6 mg/12 jam PO
- Allopurinol 300 mg/24 jam PO
Non-medikamentosa
o Disarankan tirah baring

VII. USULAN PEMERIKSAAN


1. CT scan
2. Tes kalori
3. Pemeriksaan elektronistagmografi
4. Pemeriksaan posturografi

VIII. PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam

11
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Vertigo adalah halusinasi gerakan lingkungan sekitar serasa berputar
mengelilingi pasien atau pasien serasa berputar mengelilingi lingkungan sekitar.
Vertigo tidak selalu sama dengan dizziness. Dizziness adalah sebuah istilah non
spesifik yang dapat dikategorikan ke dalan 4 subtipe tergantung gejala yang
digambarkan oleh pasien. Dizziness dapat berupa vertigo, presinkop (perasaan lemas
disebabkan oleh berkurangnya perfusi cerebral), light-headness, disequilibrium
(perasaan goyang atau tidak seimbang ketika berdiri).1 Vertigo - berasal dari bahasa
Latin vertere yang artinya memutar - merujuk pada sensasi berputar sehingga
mengganggu rasa keseimbangan seseorang, umumnya disebabkan oleh gangguan
pada sistim keseimbangan. 1
2.2 Klasifikasi
Vertigo dapat diklasifikasikan menjadi:4

a. Sentral diakibatkan oleh kelainan pada batang batang otak atau cerebellum
b. Perifer disebabkan oleh kelainan pada telinga dalam atau nervus cranialis
vestibulocochlear (N. VIII)
Vertigo yang berasal dari sentral adalah gejala atau tanda batang otak
lainnya atau tanda onset akut misalnya sakit kepala tuli dan temuan
neurologis lainnya misalnya trigeminal sensory loss pada infark arteri
cebellar postero inferior. Pada pasien seperti ini perlu cepat dirujuk dan
diinvestigasi. Red flag pada pasien dengan vertigo meliputi :7
• Sakit kepala
• Gejala neurologis
• Tanda neurologis

12
Tabel1. Perbedaan vertigo perifer dan sentral
Ciri- Vertigo perifer Vertigo sentral
ciri
Lesi Sistem vestibuler (telinga Sistem vertebrobasiler dan
dalam, saraf perifer) gangguan vaskular (otak, batang
otak, serebelum)
Penyebab Vertigo posisional iskemik batang otak,
paroksismal jinak (BPPV), vertebrobasiler insufisiensi,
penyakit maniere, neuronitis neoplasma, migren basiler
vestibuler, labirintis, neuroma
akustik, trauma
Gejala Tidak ada Diantaranya :diplopia, parestesi,
gangguan SSP gangguan sensibilitas dan fungsi
motorik, disartria, gangguan
serebelar
Masa laten 3-40 detik Tidak ada
Habituasi Ya Tidak
Mudah lelah Ya Tidak

Intensitas Berat Ringan


vertigo

Telinga Kadang-kadang Tidak ada


berdenging dan
atau tuli
Nistagmus + -
spontan

VERTIGO PERIFER

Lamanya vertigo berlangsung :1,4

a. Episode (serangan) vertigo yang berlangsung beberapa detik


Paling sering disebabkan oleh vertigo posisional benigna. Dapat dicetuskan
oleh perubahan posisi kepala. Berlangsung beberapa detik dan kemudian
mereda. Paling sering penyebabnya idiopatik (tidak diketahui), namun dapat

13
juga diakibatkan oleh trauma di kepala, pembedahan di telinga atau oleh
neuronitis vestibular. Prognosis umumnya baik, gejala menghilang secara
spontan.
b. Episode vertigo yang berlangsung beberapa menit atau jam
Dapat dijumpai pada penyakit meniere atau vestibulopati berulang. Penyakit
meniere mempunyai trias gejala yaitu ketajaman pendengaran menurun (tuli),
vertigo dan tinitus.
c. Serangan vertigo yang berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu
Neuronitis vestibular merupakan kelainan yang sering datang ke unit darurat.
Pada penyakit ini, mulainya vertigo dan nausea serta muntah yang
menyertainya ialah mendadak, dan gejala ini dapat berlangsung beberapa hari
sampai beberapa minggu. Fungsi pendengaran tidak terganggu pada
neuronitis vestibular. Pada pemeriksaan fisik mungkin dijumpai nistagmus.
Tabel 2. klinis vertigo vestibular, perifer dan sentral
Perifer Sentral
Bangkitan vertigo Mendadak Lambat
Derajat vertigo Berat Ringan
Pengaruh gerakan (+) (-)
kepala
Gejala otonom (++) (-)
Gangguan pendengaran (+) (-)

Selain itu kita bisa membedakan vertigo sentral dan perifer


berdasarkan nistagmus. Nistagmus adalah gerakan bola mata yang sifatnya
involunter, bolak balik, ritmis, dengan frekuensi tertentu. Nistagmus
merupakan bentuk reaksi dari refleks vestibulookuler terhadap aksi tertentu.
Nistagmus bisa bersifat fisiologis atau patologis dan manifes secara spontan
atau dengan rangsangan alat bantu seperti test kalori, tabung berputar, kursi
berputar, kedudukan bola mata posisi netral atau menyimpang atau test
posisional atau gerakan kepala.

14
Tabel 3. Membedakan nystagmus sentral dan perifer adalah sebagai berikut :
No. Nistagmus Vertigo Sentral Vertigo Perifer
1. Arah Berubah-ubah Horizontal /
horizontal rotatoar
2. Sifat Unilateral / bilateral Bilateral
3. Test Posisional
- Latensi Singkat Lebih lama
- Durasi Lama Singkat
- Intensitas Sedang Larut/sedang
- Sifat Susah ditimbulkan Mudah ditimbulkan
4. Test dengan rangsang (kursi Dominasi arah Sering ditemukan
putar, irigasi telinga) jarang ditemukan
5. Fiksasi mata Tidak terpengaruh Terhambat

2.3 Patofisiologi
Vertigo timbul jika terdapat gangguan alat keseimbangan tubuh yang
mengakibatkan ketidakcocokan antara posisi tubuh (informasi aferen) yang
sebenarnya dengan apa yang dipersepsi oleh susunan saraf pusat (pusat kesadaran).
Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau
keseimbangan, yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat
keseimbangan. Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan pro-prioseptik,
jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. III, IV dan VI,
susunan vestibuloretikularis, dan vestibulospinalis.8
Ada beberapa teori yang berusaha menerangkan kejadian ketidakseimbangan tubuh :8

1. Teori neurohumoral
Di antaranya teori histamin, dopamin, serotonin yang masing-masing menekankan
peranan neurotransmiter tertentu dalam mempengaruhi sistim saraf otonom yang
menyebabkan timbulnya gejala vertigo.
2. Teori sinap
Merupakan pengembangan teori sebelumnya yang meninjau peranan
neurotransmisi dan perubahan-perubahan biomolekuler yang terjadi pada proses
adaptasi, belajar dan daya ingat. Rangsang gerakan menimbulkan stres yang akan

15
memicu sekresi CRF (corticotropin releasing factor), peningkatan kadar CRF
selanjutnya akan mengaktifkan susunan saraf simpatik yang selanjutnya
mencetuskan mekanisme adaptasi berupa meningkatnya aktivitas sistim saraf
parasimpatik. Teori ini dapat menerangkan gejala penyerta yang sering timbul
berupa pucat, berkeringat di awal serangan vertigo akibat aktivitas simpatis, yang
berkembang menjadi gejala mual, muntah dan hipersalivasi setelah beberapa saat
akibat dominasi aktivitas susunan saraf parasimpatis.

2.6 Penyebab Vertigo Perifer


• Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)
Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) merupakan penyebab
utama vertigo. Onsetnya lebih serinng terjadi pada usia rata-rata 50 tahun. 4
Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) disebabkan oleh
pergerakan otolit dalan kanalis semisirkularis pada telinga dalam. Hal ini akan
mempengaruhi kanalis posterior dan menyebabkan gejala klasik tapi ini juga
dapat mengenai kanalis anterior dan horizontal.Otolit mengandung kristal-
kristal kecil kalsium karbonat yang berasal dari utrikulus telinga dalam .
Pergerakan dari otolit distimulasi oleh perubahan posisi dan menimbulkan
manifestasi klinik vertigo dan nistagmus. 9
Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) biasanya idiopatik tapi
dapat juga diikuti trauma kepala, infeksi kronik telinga, operasi dan neuritis
vestibular sebelumny, meskipun gejala Benign Paroxysmal Positional Vertigo
(BPPV) tidak terjadi bertahun-tahun setelah episode. 4
• Ménière’s disease
Ménière’s disease ditandai dengan vertigo yang intermiten diikuti dengan
keluhan pendengaran.11 Gangguan pendengaran berupa tinnitus (nada rendah),
dan tuli sensoris pada fluktuasi frekuensi yang rendah, dan sensasi penuh pada
telinga.10 Ménière’s disease terjadi pada sekitar 15% pada kasus vertigo
otologik.4

16
Ménière’s disease merupakan akibat dari hipertensi endolimfatik. Hal
ini terjadi karena dilatasi dari membrane labirin bersamaan dengan kanalis
semisirularis telinga dalam dengan peningkatan volume endolimfe. Hal ini
dapat terjadi idiopatik atau sekunder akibat infeksi virus atau bakteri telinga
atau gangguan metabolic. 4
• Vestibular Neuritis
Vestibular neuritis ditandai dengan vertigo, mual, ataxia, dan nistagmus.
Hal ini berhubungan dengan infeksi virus pada nervus vestibularis. Labirintis
terjadi dengan komplek gejala yang sama disertai dengan tinnitus atau
penurunan pendengaran. Keduanya terjadi pada sekitar 15% kasus vertigo
otologik.4
2.7 Penatalaksanaan
2.7.1 Prinsip umum terapi Vertigo13
• Medikasi
Karena penyebab vertigo beragam, seringkali menggunakan pengobatan
simptomatik. Beberapa golongan yang sering digunakan :
Ø Antihistamin
Antihistamin yang dapat meredakan vertigo seperti obat
dimenhidrinat, difenhidramin, meksilin, siklisin. Antihistamin yang
mempunyai anti vertigo juga memiliki aktivitas anti-kholinergik di susunan
saraf pusat. Efek samping yang umum dijumpai ialah sedasi (mengantuk).

Ø Betahistin
Senyawa Betahistin (suatu analog histamin) yang dapat meningkatkan
sirkulasi di telinga dalam. Efek samping Betahistin ialah gangguan di
lambung, mual, dan sesekali “rash” di kulit.
• Betahistin Mesylate (Merislon)
Dosis 6 mg (1 tablet) – 12 mg, 3 kali sehari per oral.
• Betahistin di Hcl (Betaserc)

17
Dosis 8 mg (1 tablet), 3 kali sehari. Maksimum 6 tablet dibagi
dalam beberapa dosis.

Ø Dimenhidrinat (Dramamine)
Lama kerja obat ini ialah 4 – 6 jam. Dapat diberi per oral atau suntikan
intramuscular dan intravena. Dapat diberikan dengan dosis 25 mg – 50
mg (1 tablet), 4 kali sehari. Efek samping: mengantuk.

Ø Difhenhidramin Hcl (Benadryl)


Lama aktivitas obat ini ialah 4 – 6 jam, diberikan dengan dosis 25 mg
(1 kapsul) – 50 mg, 4 kali sehari per oral. Obat ini dapat juga diberikan
parenteral. Efek samping: mengantuk.
Ø Antagonis Kalsium
Obat antagonis kalsium Cinnarizine (Stugeron) dan Flunarizine
(Sibelium) sering digunakan. Merupakan obat supresan vestibular karena sel
rambut vestibular mengandung banyak terowongan kalsium.
Ø Cinnarizine (Stugerone)
Mempunyai khasiat menekan fungsi vestibular. Dapat mengurangi respons
terhadap akselerasi angular dan linier. Dosis biasanya ialah 15 – 30 mg, 3
kali sehari atau 1 x 75 mg sehari. Efek samping ialah rasa mengantuk
(sedasi), rasa cape, diare atau konstipasi, mulut rasa kering dan “rash” di
kulit.
Ø Fenotiazine
Kelompok obat ini banyak mempunyai sifat anti emetik (anti muntah).
Namun tidak semua mempunyai sifat anti vertigo.
Ø Promethazine (Phenergan)
Merupakan golongan Fenotiazine yang paling efektif mengobati vertigo.
Lama aktivitas obat ini ialah 4 – 6 jam. Diberikan dengan dosis 12,5 mg –
25 mg (1 draze), 4 kali sehari per oral atau parenteral (suntikan

18
intramuscular atau intravena). Efek samping yang sering dijumpai ialah
sedasi, sedangkan efek samping ekstrapiramidal lebih sedikit dibanding
obat Fenotiazine lainnya.
Ø Khlorpromazine (Largactil)
Dapat diberikan pada penderita dengan serangan vertigo yang berat dan
akut. Obat ini dapat diberikan per oral atau parenteral (suntikan
intramuscular atau intravena). Dosis yang lazim ialah 25 mg (1 tablet) – 50
mg, 3 – 4 kali sehari. Efek samping ialah sedasi
Ø Obat Penenang Minor
Dapat diberikan kepada penderita vertigo untuk mengurangi kecemasan
yang diderita yang sering menyertai gejala vertigo. Efek samping seperti
mulut kering dan penglihatan menjadi kabur.
Ø Lorazepam
Dosis dapat diberikan 0,5 mg – 1 mg
Ø Diazepam
Dosis dapat diberikan 2 mg – 5 mg.
Ø Anti Kholinergik
Obat antikolinergik yang aktif di sentral dapat menekan aktivitas sistem
vestibular dan dapat mengurangi gejala vertigo.

Ø Skopolamin
Skopolamin dapatdikombinasi dengan fenotiazine atau efedrin dan
mempunyai khasiat sinergistik. Dosis skopolamin ialah 0,3 mg – 0,6 mg, 3
– 4 kali sehari.
• Terapi fisik
Susunan saraf pusat mempunyai kemampuan untuk mengkompensasi
gangguan keseimbangan. Latihan bertujuan untuk mengatasi gangguan

19
vestibular, membiasakan atau mengadaptasi diri terhadap gangguan
keseimbangan.

Contoh latihan :

1. Berdiri tegak dengan mata dibuka, kemudian dengan mata ditutup.


2. Olahraga yang menggerakkan kepala (gerakan rotasi, fleksi, ekstensi,
gerak miring).
3. Dari sikap duduk disuruh berdiri dengan mata terbuka, kemudian dengan
mata tertutup.
4. Jalan di kamar atau ruangan dengan mata terbuka kemudian dengan mata
tertutup.
5. Berjalan “tandem” (kaki dalam posisi garis lurus, tumit kaki yang satu
menyentuh jari kaki lainnya dalam melangkah).
6. Jalan menaiki dan menuruni lereng.
7. Melirikkan mata kearah horizontal dan vertikal.
8. Melatih gerakan mata dengan mengikuti objek yang bergerak dan juga
memfiksasi pada objek yang diam

Terapi Fisik Brand-Darrof

Ada berbagai macam latihan fisik, salah satunya adalah latihan Brand-Darrof.

20
Contoh latihan sesuai gambar :
a) Ambil posisi duduk.
b) Arahkan kepala ke kiri, jatuhkan badan ke posisi kanan, kemudian balik posisi
duduk.
c) Arahkan kepala ke kanan lalu jatuhkan badan ke sisi kiri. Masing-masing
gerakan lamanya sekitar satu menit, dapat dilakukan berulang kali.
d) Untuk awal cukup 1-2 kali kiri kanan, makin lama makin bertambah.

21
BAB IV
PEMBAHASAN

Dilaporkan wanita usia 58 tahun dengan berat badan 77 kg di rawat inap di


ruang Nusa Indah RSUD dr. Doris Sylvanus dengan diagnosis Vertigo dan Diabetes
Melitus tipe 2. Pada kesempatan ini akan dibahas penegakan diagnosis, patofisiologi,
serta tatalaksana dari penyakit yang diderita pasien.
1. Penegakan Diagnosis
Anamnesis yang dilakukan pada pasien, diketahui pasien datang dengan
keluhan pusing berputar sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Awalnya pasien
masih dapat menahan keluhan tersebut, akan tetapi sejak ± 1 hari SMRS pasien
mengeluh pusing bertambah berat. Pasien mengeluhkan kepala berputar dipicu
kelelahan setelah merawat suaminya yang sedang sakit. Pusing terjadi secara tiba-tiba
dan berlangsung singkat ± 3 menit dan setelah itu pasien merasakan tubuhnya lemas.
Pusing hilang timbul dan bertambah bila berjalan atau merubah posisi kepalanya ke
kiri dan ke kanan. Selain itu, pasien mengeluhkan mual yang timbul saat nyeri kepala
berputar berlangsung. Hal ini mendukung diagnosis vertigo. Sesuai teori, vertigo
menimbulkan keluhan nyeri kepala berputar yang dapat dicetus gerakan kepala atau
posisi serta suara. Selain itu dapat disertai gejala mual, muntah atau keringat dingin,
yang dialami pasien.
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan uji rhomberg positif, didapatkan pasien
bergoyang saat mata tertutup, uji tandem gait positif didapatkan pasien berjalan
menyimpang, past pointing tes positif, didapatkan pasien gagal untuk menyesuaikan
jarinya dengan jari pemeriksa, pada pemeriksaan dix-hallpike maneuver didapatkan
nystagmus horizontal. Hal ini mendukung diagnosa vertigo perifer pada pasien.
Selain itu didapatkan kelainan pada pemeriksaan status neurologis, didapatkan
ketidakstabilan pada cara berjalan pasien. Pada pemeriksaan Nervus VIII
Vestibulocochelaris didapatkan ketidaknormalan pada nervus vestibularis yang turut
mengurus keseimbangan, koordinasi dan orientasi terhadap tempat.

22
1. Pada pemeriksaan Nervus VIII Vestibulocochlearis pada pasien didapatkan
kelainan pada tes Romberg, didapatkan pasien bergoyang saat mata tertutup,
pasien seperti mau jatuh ke satu sisi.
2. Pada pemeriksaan past pointing, didapatkan pasien beberapa kali tidak
mampu untuk mengeksteksikan jarinya dengan jari pemeriksa dengan tepat,
baik dengan mata terbuka atau dengan mata tertutup.
3. Pada pemeriksaan uji Tandem Gait, didapatkan pasien berjalan menyimpang
dan dikatakan bahwa terdapat ketidakormalan pada uji nervus vestibular.
4. Pada pemeriksaan Dix-Hallpike maneuver, didapatkan nystagmus horizontal
oculi desxtra sekitar 10-15 detik, dinyatakan hasil positif.
5. Pada pemeriksaan utenberger maneuver atau fukuda stepping test didapatkan
pasien berputar sekitar 30 derajat ke arah kanan.
Setelah dilakukan beberapa pemeriksaan nervus vestibularis, disimpulkan
bahwa pasien mengalami gangguan nervus vestibular.
Maka pasien dapat didiagnosis vertigo disebabkan terdapat keluhan pusing
berputar yang disertai dengan gejala otonom, selain itu didapatkan kelainan pada
pemeriksaan nervus VIII vestibulocochlearis.
Vertigo dibagi menjadi vertigo sentral dan vertigo perifer. Pada pasien
ditegakkan vertigo perifer yang dicurigaiisebabkan Benign Paroxysmal Positional
Vertigo. Diagnosis BPPV ditegakkan berdasarkan anamnesis adanya keluhan rasa
pusing berputar sewaktu posisi kepala berubah, diikuti dengan gejala mual. Benign
Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) disebabkan oleh pergerakan otolit dalan
kanalis semisirkularis pada telinga dalam. Hal ini akan mempengaruhi kanalis
posterior dan menyebabkan gejala klasik tapi ini juga dapat mengenai kanalis anterior
dan horizontal.Otolit mengandung kristal-kristal kecil kalsium karbonat yang berasal
dari utrikulus telinga dalam . Pergerakan dari otolit distimulasi oleh perubahan posisi
dan menimbulkan manifestasi klinik vertigo dan nistagmus. Tes provokasi dengan
Dix-Hallpike maneuver menimbulkan vertigo hebat sewaktu kepala dimiringkan

23
kekiri dengan nistagmus apogeotropik yang muncul sesudah 10 detik dan mengalami
penurunan intensitas dengan pengulangan manuver

2. Patofisiologi
Terdapat banyak teori patofisiologi pada vertigo, salah satunya ialah teori sinaps.
Rangsang gerakan menimbulkan akan menimbulkan stres yang memicu sekresi CRF
(corticotropin releasing factor) lalu terjadi peningkatan kadar CRF yang
mengaktifkan susunan saraf simpatik, setelah itu terjadi mekanisme meningkatnya
aktivitas sistim saraf parasimpatik yang memicu mual, muntah dan hipersalivasi.

24
3. Tatalaksana
Medikasi umum terapi vertigo:
a. Antihistamin (Betahistin, Dimenhidrinat, Benadryl)
b. Antagonis Kalsium (Cinnarizine/Stugeron, Flunarizine/Sibelium)
c. Fenotiazine (Promethazine, Khlorpromazine)
d. Obat Simpatomimetik (Efedrin)
e. Obat Penenang Minor (Lorazepam, Diazepam)
f. Obat Anti Kholinergik (Skopolamin)

Pada pasien diberikan terapi IVFD NaCl 0,9% 20 tpm yang digunakan sebagai
akses pemberian obat serta memberikan nutrisi kepada pasien. Selain itu diberikan
Lansoprazole 30 mg intravena setiap 12 jam. Lansoprazole merupakan golongan
Proton pump inhibitor (PPI), obat ini diberikan sebagai antiemetic untuk pasien,
untuk mengobati keluhan mual pada saat pasien masuk untuk rawat inap dan selama
masa perawatan, obat ini menekan sekresi asam lambung dengan cara menghambat

25
secara spesifik dan irreversibel sistem pompa asam dalam mukosa lambung. Selain
itu diberikan mecobalamin 500 mg intravena yang diberikan setiap 12 jam sekali.
Mecobalamin merupakan suplemen vitamin B12. Senyawa ini merupakan kofaktor
dari enzim methionin sintase yang berfungsi mentransfer kelompok methyl yang
berfungsi dalam regenerasi metionin dari homosistein, selain itu injeksi mecobalamin
diberikan untuk mengobati keluhan neuropati perifer yang dikeluhkan pasien yaitu
nyeri pada kepala. Selain itu diberikan betahistin 6 mg per oral setiap 12 jam.
Betahistin merupakan antihistamin untuk meredakan keluhan vertigo perifer pada
pasien. Betahistin bekerja dengan merangsang reseptor histamin H1 di telinga bagian
dalam, yang akan membuat vasodilatasi local dan penningkatan permeabilitas dan
mengurangi tekanann edolimfatik. Selain itu betahistin akan meningkatkan kadar
neurotransmitter histamin asetilkolin, noreepinefrin, serotonin dan GABA yang
dilepaskan dari ujung saraf yang akan menyebabkan terjadinya vasodilatasi di telinga
bagian dalam.

26
BAB V
PENUTUP

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, pasien


An. MR (11 tahun) didiagnosa menderita Vertigo perifer. Dasar diagnosa vertigo
perifer ialah keluhan kepala berputar yang dikeluhkan pasien sejak 4 hari sebelum
masuk rumah sakit, lalu pasien mengeluhkan pandangan kabur serta gejala otonom
yaitu mual. Nyeri kepala berlangsung sekitar 3 menit, nyeri hilang timbul yang dipicu
oleh perubahan posisi kepala, saat keluhan nyeri datang, pasien tidak mampu
beraktivitas. Dilakukan pemeriksaan fisik, didapatkan kelainan pada pemeriksaan
nervus VIII vestibulocochelaris, pada pemeriksaan fisik dilakukan beberapa
maneuver didapatkan hasil positif pada maneuver rhomberg, uji tandem gait,
maneuver dix-hallpike, maneuver unterberger serta uji past-pointing. Dinyatakan
terdapat kelainan koordinasi pada nervus VIII vestibularis.
Tatalaksana pada pasien adalah pemberian antihistamin betahistin yang akan
merangsang reseptor histamin dan meningkatkan kadar neurotransmitter yang akan
mengurangi tekanan endolimfatik untuk mengurangi nyeri. Selain itu diberikan
lansoprazole intravena untuk mengurangi gejala otonom yaitu mual yang dikeluhkan
pasien. Selain itu diberikan mecobalamin sebagai vitamin B12 serta mengobati
neuropati perifer pada pasien.

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Ropper AH, Brown RH, editor. Adams And Victors Principles Of Neurology.
Edisi ke-10. New York:Mc Graw Hill; 2014.
2. Lempert, T, Neuhauser, H. 2015. Epidemiology of vertigo, migraine and
vestibular migraine in Journal Nerology 2015:25:333-338
3. Labuguen, RH. 2006. Initial Evaluation of Vertigo ini Journal American
Family Physician January 15, 2006. Volume 73, Number 2
4. Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat; 2008
5. Estiasari, Riwanti. Ramdinal Aviesena,dkk. Pemeriksaan Klinis Neurologi
Praktis. Edisi pertama. Kolegium Neurologi Indonesia, Perhimpunan Dokter
Spesialis Saraf Indonesia. 2018. Hal 78-79.
6. Snell. Neuroanatomi klinik. Edisi ke-7.Jakarta: EGC; 2013.
7. Turner, B, Lewis, NE. 2010. Symposium Neurology :Systematic Approach
that Needed for establish of Vetigo. The Practitioner September 2013 - 254
(1732): 19-23.
8. Mark, A. 2008. Symposium on Clinical Emergencies: Vertigo Clinical
Assesment and Diagnosis. British Journal of Hospital Medicine, June 2012,
Vol 69, No 6
9. Chain, TC. 2009. Practical Neurology 3rd edition: Approach to the Patient
with Dizziness and Vertigo. Illnois:wolter kluwerlippincot William and
wilkins)
10. Kovar, M, Jepson, T, Jones, S. 2016. Diagnosing and Treating: Benign
Paroxysmal Positional Vertigo in Journal Gerontological of Nursing.
December:2016
11. Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: PT. Dian Rakyat;
2008.
12. Marill KA. Central vertigo [internet]. USA: Medscape; 2014
13. Swartz, R, Longwell, P. 2005. Treatment of Vertigo in Journal of American
Family Physician March 15,2015:71:6.

28