Anda di halaman 1dari 17

BAB II

DASAR TEORI

2.1.1. Pengertian Peta


Peta adalah gambaran permukaan bumi pada bidang datar dengan
skala tertentu melalui suatu sistem proyeksi atau gambaran konvensional
dari permukaan bumi yang diperkecil dengan bidang datar,sebagaimana
kenampakannya dari atas udara yang dilengkapi skala, mata angin, dan
simbol-simbol. Dengan kata lain,peta adalah gambaran permukaan bumi
yang diperkecil dengan skala. Agar dapat dipahami oleh
pengguna/pembaca,maka peta harus diberi tulisan dan simbol-simbol.
2.1 Peta Geologi
Peta geologi pada dasarnya merupakan suatu sarana untuk
menggambarkan tubuh batuan, penyebaran batuan, kedudukan unsur
struktur geologi dan hubungan antar satuan batuan serta merangkum
berbagai data lainnya. Peta geologi juga merupakan gambaran teknis dari
permukaan bumi dan sebagian bawah permukaan yang mempunyai arah,
unsur-unsurnya yang merupakan gambaran geologi, dinyatakan sebagai
garis yang mempunyai kedudukan yang pasti.
Peta geologi dibuat berdasarkan suatu peta dasar (peta
topografi/rupabumi) dengan cara memplot singkapan-singkapan batuan
beserta unsur struktur geologinya diatas peta dasar tersebut. Pengukuran
kedudukan batuan dan struktur di lapangan dilakukan dengan
menggunakan kompas geologi. Kemudian dengan menerapkan hukum-
hukum geologi dapat ditarik batas dan sebaran batuan atau satuan batuan
serta unsur unsur strukturnya sehingga menghasilkan suatu peta geologi
yang lengkap.

3
2.2 Jenis Jenis Peta Geologi
1. Peta geologi permukaan (surface geological map), adalah peta yang
memberikan berbagai formasi geologi yang langsung terletak di bawah
permukaan. Skala peta ini bervariasi antara 1 : 50.000 dan lebih besar,
berguna untuk menentukan lokasi bahan bangunan, drainase, pencarian
air, pembuatan lapangan terbang, maupun pembuatan jalan.
2. Peta singkapan (outcrop map), adalah peta yang umumnya berskala
besar, mencantumkan lokasi ditemukannya batuan padat, yang dapat
memberikan sejumlah keterangan dari pemboran beserta sifat batuan
dan kondisi strukturalnya.Peta ini digunakan untuk menentukan lokasi,
misalnya material yang berupa pecahan batu, dapat ditemukan
langsung di bawah permukaan.
3. Peta ikhtisar geologis, adalah peta yang memberikan informasi
langsung berupa formasi-formasi yang telah tersingkap, mapun
ekstrapolasi terhadap beberapa lokasi yang formasinya masih tertutup
oleh lapisan Holosen. Peta ini kadang agak skematis, umumnya
berskala sedang atau kecil, dengan skala 1 : 100.000 atau lebih kecil.
4. Peta struktur, adalah peta dengan garis-garis kedalaman yang
dikonstruksikan pada permukaan sebuah lapisan tertentu yang berada
di bawah permukaan. Peta ini memiliki skala sedang hingga besar.
5. Peta geologi sistematik adalah peta yang menyajikan data geologi pada
peta dasar topografi atau batimetri dengan nama dan nomor lembar
peta yang mengacu pada SK Ketua Bakosurtanal No. 019.2.2/1/1975
atau SK penggantinya
6. Peta geologi tematik adalah peta yang menyajikan informasi geologi
dan/atau potensi sumber daya mineral dan/atau energi untuk tujuan
tertentu
7. Peta topografi adalah peta ketinggian titik atau kawasan yang
dinyatakan dalam bentuk angka ketinggian atau kontur ketinggian
yang diukur terhadap permukaan laut rata-rata.

4
8. Peta isopach, yaitu peta yang menggambarkan garis-garis yang
menghubungkan titik-titik suatu formasi atau lapisan dengan ketebalan
yang sama. Dalam peta ini tidak ditemukan konfigurasi struktural. Peta
ini berskala sedang hingga besar.
9. Peta fotogeologi, adalah peta yang dibuat berdasarkan interpretasi foto
udara. Peta fotogeologi harus selalu disesuaikan dengan keadaan yang
sesungguhnya di lapangan.
10. Peta hidrogeologi, adalah peta yang menunjukkan kondisi airtanah
pada daerah yang dipetakan. Pada peta ini umumnya ditunjukkan
formasi yang permeabel dan impermeabel.

2.3.1 Perlengkapan umum


1. Buku catatan lapangan | Berfungsi sebagai diary akademik. Semua data-
data hasil observasi dan pengukuran, - maupun pemikiran, interpretasi
awal, dan pertanyaan-pertanyaan direkam dalam buku catatan lapangan.
2. Pensil | Ada 2 jenis pensil yang umum digunakan. Pensil mekanik dan
pensil biasa. Pensil mekanik baik untuk pencatatan data dan label dalam
sketsa, sedangkan pensil biasa cenderung lebih baik digunakan sebagai
penanda beda ketebalan dan untuk pengarsiran dalam mensketsa
singkapan.
3. Pulpen | Kebanyakan ahli geologi jarang menggunakan pulpen di
lapangan. Pulpen sulit untuk dihapus, kalaupun kita menggunakan
penghapus tinta, itu dapat mengotori buku catatan kita. Pulpen tidak selalu
dapat diandalkan dalam kondisi luar ruangan.
4. Rautan | Pensil harus diraut agar tulisan kita terlihat rapi. Tapi jika pensil
digunakan untuk mengarsir sketsa, sebaiknya gunakan yang sedikit
tumpul.
5. Pensil warna | Berfungsi sebagai penanda item tertentu (misalnya sampel).
Bisa juga digunakan untuk menambah informasi yang lebih detil dalam
sketsa singkapan.

5
6. Penghapus | Digunakan untuk mengoreksi kesalahan dalam mencatat /
mensketsa singkapan.
7. Pita ukur | Dalam survey geologi, ada berbagai macam pita ukur yang
disesuaikan dengan kebutuhan penyurvey. Pita ukur 30-50m untuk
pengukuran skala besar, dan 2/5/10m untuk pengukuran skala kecil.
Disarankan menggunakan pita ukur yang terbuat dari logam (retracting
metal).
8. Loupe | Berfungsi untuk melakukan pengamatan rinci untuk setiap jenis
batuan dan fosil. Umumnya loupe hanya memiliki lensa 10x perbesaran,
ada juga beberapa tipe yang memiliki lensa 10x dan 15x atau 20x
pembesaran dalam satu loupe.
9. Kompas-Klinometer | Alat ini digunakan untuk mengukur orientasi
struktur geologi batuan (strike/dip, lineasi, plunge, rake, dll) di lapangan.
Kompas-klinometer juga dapat digunakan bersamaan dengan peta
topografi untuk menentukan lokasi yang akurat.
10. Chart pembanding | Alat ini digunakan untuk mendapatkan data deskripsi
semi-kuantitatif dari batuan di lapangan. Seperti; diagram klasifikasi
batuan, ukuran butir, dan diagram warna.
11. Peta | Berfungsi untuk penentuan atau plotting lokasi. Jenis-jenis peta
yang relevan, seperti; peta geologi regional, peta topografi, peta lapangan,
dan citra satelit.
12. P3K | Berfungsi untuk memberikan pertolongan pertama saat terjadi
kecelakaan di lapangan.
13. Backpack | Berfungsi sebagai tempat penyimpanan segala peralatan
lapangan. Disarankan memilih backpack yang berkapasitas besar dan
memiliki cover bag anti air.
14. Bekal makanan dan minuman | Bekal yang dibawa haruslah disesuaikan
dengan kebutuhan selama di lapangan.
15. Suitable clothing | Disarankan menggunakan perlengkapan pakaian dan
alas kaki yang dikhususkan untuk lapangan. Topi dan kaus tangan juga
penting di saat-saat tertentu.

6
16. Handphone, radio, atau telepon satelit | Sebagai alat komunikasi.

3.3.2 Perlengkapan sampling

1. Palu geologi | Alat yang sangat penting saat melakukan kerja lapangan,
baik untuk sampling dan, jika perlu, untuk membuat fresh surface dari
batuan sehingga tekstur dan struktur mineral di dalamnya dapat dideskripsi
dengan baik.
2. Sample bag | Untuk menyimpan sampel batuan di lapangan.
3. Chisel (pemahat) | Berfungsi untuk pengambilan sampel pada batuan yang
tidak memiliki rekahan. Untuk sampling spesimen fosil atau mineral pada
batuan kita bisa menggunakan chisel yang berukuran lebih kecil. Dan jika
kita perlu melakukan pemahatan yang banyak, disarankan untuk
menggunakan crack hammer (palu godam).

3.3.3 Perlengkapan tambahan

1. GPS | Global positioning systems menggunakan ultra high - frekuensi


sinyal gelombang radio dari satelit, dan secara trigonometri menghasilkan
kedudukan latitude dan longitude posisi kita di lapangan. GPS dapat diatur
untuk sistem grid tertentu. Referensi global World Geodetic System 1984
(WGS84) adalah yang paling umum digunakan.
2. Kamera | Berfungsi untuk mendokumentasikan singkapan, bentang
geomorfologi, ataupun kondisi geologi tertentu yang dirasa penting dalam
penelitian lapangan kita.
3. Jacob Staff | Terkadang sulit untuk mengukur ketebalan lapisan batuan
yang miring dan terekspos di lereng bukit jika lereng bukit tidak
memotong lapisan pada sudut 90°. Jacob Staff dan kompas - klinometer
jenis Brunton dapat digunakan untuk mengukur bagian tersebut dengan
cepat dan mudah. Juga dapat digunakan bersamaan untuk mendapatkan
ukuran jarak vertikal yang akurat.
4. HCl (Asam Klorida) | Dapat digunakan untuk menguji batuan karbonat.

7
5. Clipboard | Membantu kita dalam menulis, sebagai bidang bantu dalam
mengukur struktur batuan, dll.
6. Teropong | Digunakan untuk mendapatkan pandangan yang lebih baik
terhadap singkapan yang tidak mungin untuk dicapai. Hal-hal yang dapat
dilihat dari teropong adalah geometri patahan dan kontak batuan.
7. Scratch/Streak Kit | Alat yang berguna dalam observasi mineral pada
batuan. Menentukan skala kekerasan, warna cerat, dll.
8. Poket Stereonet | Berfungsi untuk menganalisis langsung data struktur di
lapangan.

8
3.1 GEOLOGI REGIONAL

Cekungan kutai merupakan cekungan tersier tertua yang dan terdalam di


Indonesia bagian barat. Cekungan kutai terdapat di timur kalimantan. Luasnya
mencapai 165.000 km persegi dan kedalamannya 12.000-14.000 meter. Cekungan
Kutai di batasi oleh Mangkalihat High di bagian utara,di sebelah selatan oleh
Adang-Paternosfer fault, Kuching High di barat dan terbuka pada bagian timur
yaitu Selat Makasar.

Gambar 1. Posisi Geografi Cekungan Kutai. Upper kutai Basin (biru),

Lower kutai basin (kuning)

9
3.2 STRATIGRAFI DAN EVOLUSI

3.2.1 TEKTONIK CEKUNGAN KUTAI

Stratigrafi cekungan kutai dimulai dari zaman Tersier, yaitu diendapkan


sedimen alluvial sebagai Formasi Kiham Haloq pada dasar cekungan yang
merupakan batuan beku dan metamorf, dekat dengan batas barat cekungan.
Kemudian cekungan mengalami subsiden selama Paleosen akhir – Miosen tengah
hingga Oligosen, kemudian terangkat dan menjadi tempat pengendapan
Mangkupan Shale pada lingkungan marginal hingga laut terbuka (open marine).
Terdapat beberapa siliclastic yang lebih kasar yaitu Beriun Sands yang secara
lokal berasosiasi dengan sikuen shale, mencirikan gangguan subsiden karena
adanya pengangkatan. Setelah pengendapan formasi Beriun, cekungan mengalami
subsiden dengan cepat, kebanyakan terjadi karena sagging cekungan yang
menyebabkan pengendapan marine shale pada Formasi Atan dan karbonat pada
Formasi Kedango. Pada masa Oligosen terjadi tektonik yang menyebabkan
naiknya batas cekungan. Pengangkatan tersebut berkaitan dengan pengedapan
Vulkanik Sembulu di bagian timur cekungan.

Gambar 2. Penampang regional baratlaut – tenggara cekungan kutai


(borneo).

10
Fasa stratigrafi tahap dua terjadi pada Miosen Awal, yaitu terjadi
pengangkatan dan pembalikan cekungan. Pada masa itu, endapan alluvial dan
delta banyak terdapat di dalam cekungan. Endapan tersebut terdiri dari fomasi
Pamaluan, Pulubalang, Balikpapan dan Kampung Baru, yang melampar kearah
timur, dengan kirasan umur Miosen Awal hingga Pleistosen. Pengendapan deltaic
terus berlanjut hingga saat ini dan berkembang hingga lepas pantai di sebelah
timur cekungan Kutai.

Saat ini pola struktur yang ada di cekungan Kutai didominasi oleh
lipatan-lipatan rapat berarah NNE – SSW yang paralel dengan garis pantai dan
dikenal sebagai Samarinda Antiklinorium – Sabuk Lipatan Mahakan. Lipatan ini
dicirikan oleh antiklin asymetric yang rapat, yang dipisahkan oleh siklin yang
lebar, dan mengandung silickastik berusia Miosen. Kenampakan ini dominan
terdapat di bagian timur cekungan dan beberapa juga terdapat di lepas pantai.
Pada daerah pantai, deformasinya terlihat sangat komplek. Pada bagian barat
cekungan telah terangkat, paling tidak 1500-3500 m sedimen telah hilang karena
mekanisme pembalikan. Pada bagian ini, tektonik yang ada mungkin mencapai
basement.

3.2.2 Stratigrafi Cekungan Kutai


Basement, hanya diketahui dari batas cekungan, terdiri dari bataan mafik
dan batuan sedimen yang menunjukkan variasi metamorfisma. Dari data
pemboran, terdapat basement vulkanik berusia sekitar Kapur.

Boh Beds. Merupakan endapan tertua, terdiri dari shale, silt, dan batupasir
halus. Singkapan in hanya ditemui pada upper Mahakam dan sungai Boh dan
lokasinya dekat dengan semenanjung Mangkalihat dan juga merupakan bata utara
cekungan. Secara lokal kadang ditemui konglomerat basaltik dan vulkanoklastik.

Formasi Keham Halo. Berusia Eosen Tengah hingga Eosen Akhir. Terdiri
dari batupasir dan konglomerat. Formasi ini mempunyai ketebalan 1400 – 2000

11
m. horizon tufaan juga terlihat pada formasi ini. Formasi Keham Halo berpotensi
menjadi reservoir karena penyebarannya meluas hingga batas cekungan.

Formasi Atan. Berusia Oligosen Awal hingga Oligosen Akhir.


Mengandung shale dan mudstone, kadang gampingan. Ketebalan diperkirakan
200-400m. Terdapat interkalasi batugamping di upper sungai Mahakam,
interkalasi batupasir halus juga terdapat dalam formasi Atan. Pengendapan
formasi Atan terputus karena fase regresif, ditandai dengan klastik kasar berusia
Oligosen Akhir (formasi Marah).

Formasi Marah. Secara tidak selaras menutup formasi yang lebih tua,
akibat proses tektonik yang menyebabkan terjadinya struktur tersebut. Terdiri dari
batupasir, konglomerat dan vulkaniklastik. Kadang muncul perselingan shale dan
batubara. Endapan ini berasal dari arah barat, kemunculan endapan ini tidak
diketahui di bagian timur, tapi diyakini endapan ini mencapai daerah sungai
Mahakam saat ini.

Formasi Pamaluan. Secara selaras diendapkan di atas formasi Atan.


Didominasi sikuen shale - siltstone dan mencapai ketebalan hingga 1000m.
Terdapatfosil yang berusia N3 sampai N5.

Formasi Pamaluan. Terdiri dari batu gamping yang mencapai ketebalan


100-200m . Umurnya sekitar N6–N7. Batu gamping yang ada kebanyakan berasal
dari reefal build up.

Formasi Pulaubalang. Mengandung batu gamping Bebulu, unit mudstone-


shale yang berselingan dengan batu gamping dan batu pasir. Mencapai ketebalan
1500m. Umur formasi berdasar fosil sekitar N8 – N9.

Formasi Mentawir. Terdiri dari batu pasir masiv, berbutir halus hingga
sedang, berselingan dengan lapisan shale, silt dan batubara. Tebalnya 540m di
Balikpapan dan menipis kearah laut.

Formasi Klandasan. Berada di barat formasi Mentawir, terdiri dari


batupasir basal yang bertahap berubah menjadi silt dan akhirnya hilang.

12
Formasi Kampung Baru. Berusia Miosen Tengah hingga Miosen Akhir.
Terdiri dari batupasir, silt, dan shle dan kaya akan batubara. Kalstik kasar
dimonan terdapt di dasar formasi. Data sumur menunjukkan bagian tengah
formasi terdapat fasies delta plein – delta front dan prodelta.

Formasi Sepingan. Merupakan fasies karbonat. Berisi batugamping yang


menjemari dengan formasi kampung baru.

Gambar 3. Kolom stratigrafi Kutai basin

Tektonik Cekungan Kutai

3.3 Evolusi Tektonik


Menurut Asikin (Petroleum Geology of Indonesia Basin,1985), evolusi
tektonik Kutai Basin terdiri dari beberapa taha, yakni :

13
1. Pecahnya Benua Australia dari Antartika pada jaman Jura hingga Kapur
Awal, yang ditandai dengan pergerakan lempeng Indo-Australia ke arah
utara. Pada masa ini, Kalimantan (cekungan kutai) masih berada pada
lempeng Aurasia, terpisah dengan Gonddwana oleh laut Thethyan.
2. Rifting laut Cina Selatan pada jaman Kapur Akhir yang diikuti spreading
pada jaman Eosen Tengah. Pada masa ini, Kalimantan tertelak di sebelah
pualu Hainan, terpisah dari daratan cina dan bergerak ke arah selatan
sekaligus membentuk cekungan laut cina salatan tua. Batas timur
kalimantan terjadi patahan ekstensional, menyebabkan seri patahan
berarah timurlaut. Rifting ini diduga berpengaruh dengan pembentukan
awal Sundaland.

Gambar 4. Crosssection tektonik lempeng pada Kutai basin.

Pada Oligosen – Miosen, Middle Eosen – resen.

14
3. subduksi lempeng samudra Indo-Australia ke lempeng benua Sundaland
dan menghasilkan komplek subduksi Meratus pada Kapur Akhir hingga
Paleosen Awal. Pada masa ini, Kutai Ridge, yang terletak di barat danau
Kutai terbentuk sebagai kemenerusan zona subduksi Meratus. Upper Kutai
Basin yang terletak pada Kutai Ridge terbentuk sebagai cekungan muka
busur (fore-arc basin) dan busur magamatik. Akibat pemodelan ini,
sekarang lower kutai basin berlaku sebagai cekungan laut (oceanic) yang
tanpa pengendapan yang berarti pada periode ini. Akhir periode ini, bagian
dari Gondwana yaitu blok Kangean-Pasternoster bertumbukan dengan
subduksi Meratus. Pertemuannya mengakibatkan aktifitas magmatik
berhenti.
4. Subduksi Lupar selama Peleosen Akhir hingga Eosen Tengah, sebagai
hasil kemenerusan proses rifting Laut Cina Selatan yang terus melebar.
Pada masa ini kemungkian Upper Kutai Basin merupakan busur magmatik
(magmatic arc), dan lower kutai basin merupakan sedimen belakang busur
(back arc), ditandai dengan pengendapan formasi Mangkupa dan formasi
Marah/Beriun. Bagian barat cekungan terbentuk pada puncak kerak
transisonal, yang terdiri dari potongan akresi dan busur magmatik, dimana
lower kutai basin berada pada dasar kerak benua, yang merupakan bagian
dari tumbukan fragmen benua Kangean-Peternoster.
5. Tumbukan India dengan Asia pada Eosen Tengah yang di picu oleh rotasi
Kalimantan. Kejadian ini adalah hasil pengaturan ulang lempeng mayor
Asia. Pergerakan muncul searah patahan strike-slip, menyebabkan putaran
Kalimantan berlawanan arah jarum jam dengan dasar laut Sulawasi dan
pembukaan dan spreading pada Laut Cina Selatan. Pergerakan strike-slip
En-echelon berasosiasi dengan pemindahan sebagian besar fragmen
selatan Asia searah patahan Red River di Indo China menuju zona Lupar
di Kalimantan, yang menyebabkan cekungan trans tension (wrench) di
Laut Cina Selatan (Cekungan Natuna) dan di Kalimantan Barat-Tengah.

15
Rifting Selat Makasar yang dimulai Eosen Tengah hingga Olegosen Awal.
Tekanan berarah selatan menyebabkan ekstrusi fragmen benua selama kolisi
India dengan Asia, menyebabkan rifting tensional pada Selat Makasar sejajar
dengan patahan strike-slip paralel, dimana pengaktifan kembali struktur lama
(Patahan Adang, Patahan Mangkalihat, Baram Barat, dll). Pada periode ini
cekungan Kutai adalah cekungan rift (rift basin). Pengangkatan dan
deformasisubsequentrantensional pada robekan besar paralel di
basementbenuahasilrifting. Rezimrobekan (shear) terbentukakibat gaya
tekanuntukformasicekungan, dimana
butirpecahanlempengmempengaruhiarahcekungan (CekunganMelawi,
Ketungau, dan Kutai). Rifting dan pemisahan Sulawesi selatan dari
Kalimantan menjadikan posisi tektonik “calon selat Makasar” sebagai
cekungan belakang busur.

Gambar 5. Crosssection tektonik lempeng pada Kutai basin.

Pada Paleocene – Eocene Tengah.

16
6. Rifting kedua dan pembukaan laut cina sealtan pada Oligosen akhir hingga
Miosen Akhir, diikuti oleh kolisi Palawan-Reed Bank (Miosen Awal) yang
mengakhiri pemekaran/spreading (akhir Miosen Awal), menghentikan
rotasi Kalimantan (Miosen Tengah), menimbulkan subduksi Mersing
(Miosen Awal) dan pengangkatan Tinggian Kuching (Miosen Tengah).
Tahap kedua dari pemekaran Laut Cina Selatan menciptakan cekungan
dengan patahan dominan berarah barat-timur. Pemekaran merupakan
sebagian hasil dari pemisahan sepanjang Red River dan pathan transform
Vietnam. Pemisahan sepanjang patahan strike-slip menciptakan cekungan
pull apart atau rift (pull-apart or rift basin) di Laut Cina Selatan dan
Kalimanta Tengah. Upper Kutai Basin kemungkinan
Pada fase pemekaran, pada awal Miosen seluruh kerak samudra Laut
Cina Selatan telah mengalami subduksi ke arah utara Kalimantan dan
membuat subduksi baru, subduksi Mersing. Subduksi ini diyakini telah
mengalami pergeseran ke arah utara, dari zona Lupar ke garis Mersing.
Dari posisi geografis jarak busur palung (trench-arc), dapat dilihat bahwa
sudut penghujaman subduksi telah berkurang drastis. Terbentuk
lingkungan busur ekstensional. Cekungan kutai kemudian berkembang
menjadi cekungan belakang busur sebagai kaibat rezim tektonik tensional.
Mungkin ini yang menandakan awal cekungan kutai yang sebenarnya.

Pada akhir pemekaran, Palawan-Reed Bank bertumbukan dengan kipas akresi dan
menyebabkan penghentian subduksi ke arah selatan dan berkaitan dengan
vulkanisma. Perhentian subduksi di sepanjang utara Kalimantan adalah hasil dari
sesar naik kipas akresi dan pengangkatan regional (Tinggian Kuching).
Pengangkatan Tinggian Kuching ditandai dengan dimulainya endapan delta di
cekungan Kutai berarah timur dan erosi sedimen pra miosen tengah yang
tersedimentasi ulang di cekungan.

17
Gambar 6. Arah Trend dari struktur pada kutai basin.

7. Tumbukan fragmen benua Banggai-Sula ke Sulawesi dan pengangkatan


Meratus pada Miosen Awal. Pergerakan searaha zona lemah menyebabkan
teraktivkannya kembali sesar wrench sinistral. Kolisi tersebut dapat
dihubungan dengan sumber kompresi tektonik yang menyebabkan
pengangkatan Meratus Suture, menerus ke barat datas sedimen tersier pada
Cekungan Barito.

Tektonik Plio-plisto di wilayah cekungan Kutai – selat makasar yang dibatasi


patahan Adang di selatan dan Patahan Mangkalihat di utara, terlihat sebagai hasil
kontrol pergerakan wrench berarah baratlaut-tenggara pada basement akibat
patahan strik-slip, yang kebanyakan mengaktifkan kembai patahan pra-tersier.

18
Rezim tektonik di cekungan dapat diklasifikasikan sebagai tektonik transtension
dan transpression antara dua patahan stike-slip utama.

19