Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS FARMASI SEDIAAN SOLID DAN

KOSMETIKA
SEMESTER GENAP 2018 – 2019
ANALISIS BAHAN AKTIF HIDROKUINON DALAM SEDIAAN
KOSMETIK KRIM PEMUTIH DENGAN METODE STANDAR ADISI
MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV

Hari / Jam Praktikum : Jumat / 07.00-10.00 WIB


Tanggal Praktikum : 03 Mei 2019
Kelompok :3
Asisten : Ingka Tisya G
Shinta Lestari

NPM Nama Tugas


260110170012 Lisna Nur Imani Tujuan, Prinsip, dan
Perhitungan
260110170013 Alifia Syifa Teori Dasar dan Editor
260110170014 Arnita Annisanur Pembahasan
260110170015 Rika Rahmi K. Prosedur dan Pembahasan
260110170016 Geni Refsi Alat, Bahan, dan Data
Pengamatan

LABORATORIUM ANALISIS FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2019
I. Tujuan
Menentukan kadar hidrokuinon dalam sediaan kosmetik dengan
metode standar adisi menggunakan spektrofotometri UV.

II. Prinsip
2.1 Hukum Lambert-Beer
Absorbansi setara dengan konsentrasi dalam sampel,
sehingga semakin besar absorbansi maka semakin besar
konsentrasi atau kadar zat uji dalam sampel (Adeeniyo, 2013).
2.2 Standar Adisi
Sampel ditambahkan dengan larutan standar yang diketahui
konsentrasinya untuk meminimal-kan kesalahan yang disebabkan
oleh berbagai matriks (Selpiana, 2016).

III. Reaksi
-

IV. Teori Dasar


Hydroquinone adalah senyawa organik aromatik dari fenol,
turunan dari benzena yang memiliki rumus kimia C6H4(OH)2 dengan
struktur kimia sebagai berikut:

(Elferjani et al., 2017).


Pada sediaan krim yang mengandung Hidrokuinon, kadarnya tidak
kurang dari 94,0% dan tidak lebih dari 106,0%, C dari yang tertera
pada etiket (Depkes RI, 2014).
Hidrokuinon adalah senyawa yang sering digunakan sebagai
pemutih pada kosmetik. Pemakaian yang berlebih dapat
mengakibatkan efek berbahaya pada kulit karena dapat menyebabkan
kelainan kulit bahkan dapat mengakibatkan kanker kulit (Nurfitriani et
al., 2015).
Bila digunakan dengan kadar > 4% dapat menyebabkan iritasi,
eritema, dan rasa terbakar pada kulit dan bila digunakan dengan kadar
< 2% dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan leukoderma
kontak dan okronosis eksogen (BPOM RI, 2016).
Untuk uji identifikasi hidrokuinon digunakan pelarut metanol P
dan kloroform P masing-masing sebanyak 50 ml. Lalu yang digunakan
untuk pengujian adalah sebesar 5μL (Depkes RI, 2014).
Dengan menggunakan metode standar adisi, ke dalam sejumlah
sampel ditambahkan larutan standar (konsentrasi diketahui dengan
pasti) dengan volume yang bervariasi. Kemudian diencerkan hingga
volumenya sama. Dengan demikian, baik matrik sampel maupun
matrik standar adalah sama. Yang berbeda hanyalah konsentrasi
standar yang ditambahkan pada sampel (Roth et al, 1988).
Metode standar adisi digunakan untuk meminimalisir kesalahan
akibat yang dapat disebabkan oleh adanya efek matriks. Metode
standar adisi dapat meningkatkan sensitivitas metode pengujian serta
dapat digunakan untuk mengukur kadar analit yang sangat rendah
(Sulistyaningrum, et al, 2014).
Matriks adalah segala sesuatu dalam sampel selain analit dan
pengaruhnya terhadap respons disebut efek matriks. Masalah efek
matriks terjadi ketika sampel yang tidak diketahui mengandung banyak
kotoran.. Jika pengotor yang ada dalam interaksi yang tidak diketahui
dengan analit untuk mengubah respons instrumental atau dirinya
sendiri menghasilkan respons instrumental, maka kurva kalibrasi
berdasarkan sampel analit murni akan memberikan penentuan yang
salah (La Salle, 2016).
Dapat dianalisis dengan spektrofotometri ultraviolet pada panjang
gelombang 295 nm (dalam etanol) (Moffat, et al, 2011).
The European Economic Community (EEC) membatasi
penggunaan hidrokuinon dalam kosmetik kurang dari sama dengan
2%. Sedangkan di USA, Food and Drug Adminisstration (FDA)
mengusulkan bawah konsentrasi antara 1,5 dan 2% dalam pencerah
kulit. Konsentrasi dapat meningkat hingga 4% dalam obat resep
(WHO, 1996).
Namun, sejak tahun 2008, penggunaan hidrokinon di Indonesia
dalam sediaan pemutih wajah sudah dilarang, dan hanya dapat
digunakan sebagai zat pengoksidasi warna pada pewarna rambut
(0,3%) dan kuku artifisial (0,02%) (BPOM RI, 2011).

V. Alat dan Bahan


5.1 Alat
a. Erlenmeyer
b. Kuvet
c. Labu ukur
d. Pipet volume
e. Spektrofotometer UV
5.2 Bahan
a. Baku hidrokuinon
b. Metanol
c. Sampel yang mengandung hidrokuinon (vitaquin, hidrokuinon
5%)
d. Tissue

VI. Prosedur
6.1 Preparasi Sampel
Menimbang sejumlah krim putih setara dengan kurang
lebih 20 mg hidrokuinon ( 0,3 gram ) , kemudian menggerus krim
dengan 50 ml methanol P.lalu menyaring dan masukan ke dalam
Erlenmeyer. mensonifikasi sampel, kemudian menyaring kembali
larutan ke dalam labu ukur 100 ml ad, ad hingga tanda batas (200
ppm). memipet 5 ml dan encerkan dalam 10 ml methanol
(100ppm), memipet 1 ml dari larutan 100 ppm dan diencerkan
dalam labu ukuran 10 ml (10 ppm). Selanjutnya Analisis kualitatif
untuk memastikan sampel telah terlarut sepenuhnya (KLT).
6.2 Pembuatan Larutan Stok Hidrokuinon
Menimbang hidrokuinon murni sebanyak 5 mg dan
dilarutkan dalam 2 mL metanol, kemudian Larutan tersebut
dipindahkan ke dalam labu ukuran 100mL dan ditambahkan
metanol hingga 100 mL dan larutkan dikocok hingga homogen.
Kemudian didapatlah konsentrasi baku dan hidrokuinon 50 mikro
gram/ml dalam methanol (50 ppm).
6.3 Pengenceran Larutan Stok Hidrokuinon
Mengambil larutan stok hidrokuinon 50 ppm sebanyak 10
ml. kemudian Memindahkan larutan tersebut ke dalam labu ukur
100 ml dan menambahkan methanol hingga garis batas dan larutan
sto dikocok hingga homogen. Kemudian Didapatkan konsentrasi
baku hidrokuinon 5 mikrogram/ml dalam methanol (5ppm).
6.4 Pencampuran Sampel dengan Variasi Volume Larutan
Hidrokuinon Baku
Menyiapkan 5labu ukur 10, lalu meneteskan 5 ml sampel
kedalam tiap labu ukur. Kemudian mencampurkan dengan larutan
hidrokuinon baku dengan variasi volume 1 ml; 2ml; 3ml; 4ml ; 5
ml. selanjutnya ad etanol hingga 10 ml.
6.5 Optimasi dan Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
Mencuci kuvet dengan methanol lalu dibilas. Mengisi
kuvet blanko dengan methanol hingga memenuhi ¾ volume kuvet.
Lalu memasukkan setiap variasi konsentrasi ke dalam kuvet hingga
memenuhi ¾ volume kuvet. Kemudian menentukan absorbansi dan
mencari rentang yang dapat terbaca dengan baik (0,2-0,9).
Selanjutnya melihat lamda maksimum.
6.6 Analisis Sampel dan Standar dengan Metode Spektrofotometri UV
Mencuci kuvet dengan methanol lalu dibilas. Mengisi kuvet
blanko dengan methanol hingga memenuhi ¾ volume kuvet. Lalu
memasukkan setiap variasi konsentrasi kedalam kuvet hingga
memenuhi ¾ volume kuvet. Selanjutnya menentukan absorbansi
dan kurva, membentuk persamaan dari kurva yang dihasilkan.

VII. Data Pengamatan

No. Perlakuan Hasil Gambar

Preparasi Sampel

1. Ditimbang sejumlah krim Ditimbang krim


putih setara dengan vitaquin sebanyak
kurang lebih 20 mg 0,4450 gram
hidrokuinon

2. Digerus krim dengan 50 Didapatkan larutan


ml etanol krim di dalam etanol

3. Disaring dan dimasukan Larutan krim disaring,


ke dalam erlenmeyer dan dilakukan
sonifikasi
4. Digerus dan disaring Dilakukan penyaringan
kembali larutan ke dalam untuk kedua kalinya
labu ukur 100 ml, ad dan di ad dengan
hingga tanda batas (200 etanol sampai 100 ml.
ppm) didapatkan larutan
dengan konsentrasi 200
ppm

5. Dipipet 5 ml dan encerkan Didapatkan larutan


dalam 10 ml etanol (100 dengan konsentrasi 100
ppm) ppm

6. Pipet 1 ml dari larutan Didapatkan larutan


100 ppm dan diencerkan dengan konsentrasi 10
dalam labu ukuran 10 ml ppm
(10 ppm)

7. Piper 1 ml dari larutan 10 Didapatkan larutan


ppm dan diencerkan dengan konsentrasi 1
dalam labu ukuran 10 ml ppm
(1 ppm)

8. Analisis kualitatif untuk Dilakukan analisis


memastikan sampel telah kualitatif dari vitaquin
terlarut sepenuhnya menggunakan KLT
(KLT)
Pembuatan Larutan Stok Hidrokinn

1. Ditimbang hidrokuinon Terdapat 2 ml larutan


murni sebanyak 5 mg dan hidrokuinon
dilarutkan dalam 2 mL
etanol

2. Larutan tersebut Terdapat 100 ml


dipindahkan ke dalam larutan hidrokuinon
labu ukuran 100 mL dan
ditambahkan etanol
hingga 100 mL

3. Larutan dikocok hingga Didapatkan larutan


homogen hidrokunon yang
homogen

4. Didapatlah konsentrasi Terdapat larutan


baku dan hidrokuinon 50 hidrokuinon dengan
mikro gram/ml dalam konsentrasi 50 ppm
methanol (50 ppm)

Pengenceran larutan stok hidrokuinon

1. Diambil larutan stok Terdapat 10 ml larutan


hidrokuinon 50 ppm hidrokuinon 50 ppm
sebanyak 10 ml

2. Dipindahkan larutan 10 ml larutan


tersebut ke dalam labu hidrokuinon 50 ppm di
ukur 100 ml dan ad dengan 100 ml
menambahkan ethanol etanol
hingga garis batas

3. Larutan dikocok hingga Didapatkan larutan


homogen hidrokuinon yang
homogen

4. Didapatkan konsentrasi Terdapat larutan


baku hidrokuinon 5 hidrokuinon dengan
mikrogram/ml dalam konsentrasi 5 ppm
ethanol (5ppm)

Pencampuran sampel dengan variasi volume larutan hidrokuinon baku

1. Disiapkan 6 labu ukur 10 Terdapat 6 labu ukur


ml

2. Diteteskan 1 ml sampel Terdapat 1 ml sampel


kedalam tiap labu ukur di dalam tiap labu ukur

3. Dicampurkan dengan Di dalam 6 labu ukur


larutan hidrokuinon baku terdapat campuran 1
dengan variasi volume 0 ml sampel dengan
ml; 1 ml; 2ml; 3ml; 4ml; 5 variasi volume
ml hidrokuinon baku 0 ml;
1 ml; 2ml; 3ml; 4ml; 5
ml

4. Ad etanol dan Pada 6 labu ukur yang


dicampurkan hingga telah terisi sampel dan
homogen sehingga baku hidrokuinon
didapatkan variasi dilakukan penambahan
konsentrasi hidrokuinon etanol sampai 10 ml
baku 0 ppm; 0,5 ppm;
1ppm; 1,5ppm; 2ppm

Optimasi dan penentuan panjang gelombang maksimum

1. kuvet dicuci dengan Didapatkan kuvet yang


ethanol dan dibilas telah bersih

2. kuvet blanko diisi dengan kuvet blanko terisi


methanol hingga dengan ethanol
memenuhi ¾ volume
kuvet

3. Dimasukkan setiap variasi kuvet terisi dengan


konsentrasi ke dalam sampel yang akan diuji
kuvet hingga memenuhi ¾
volume kuvet

4. Ditentukan absorbansi dan Dilakukan pengukuran


mencari rentang yang dengan
dapat terbaca dengan baik spektrofotometer uv
(0,2-0,9)

5. Melihat lamda maksimum Didapatkan lamda


maksimum pada 295
nm

pencampuran sampel dengan variasi volume larutan hidrokuinon baku

1. Disiapkan 5 labu ukur 10 Terdapat 5 labu ukur


ml 10 ml

2. Diteteskan 1 ml sampel ke Terdapat 1 ml sampel


dalam tiap labu ukur pada 5 labu ukur 10 ml
3. Dcampurkan dengan Terdapat campuran 1
larutan hidrokuinon baku ml sampel dengan
dengan variasi volume variasi volume
dalam 5 variasi volume hidrokuinon baku
untuk mendapatkan
konsentrasi berdasarkan
hasil optimasi

4. ad ethanol dan campurkan Dilakukan


hingga homogen. Dan penambahan etanol
menentuan variasi sampai 10 ml dan
konsentrasi berdasarkan dilakukan penentuan
hasil optimasi variasi konsentrasi

Analisis sampel – standar dengan metode spektrofotometri uv

1. kuvet dicuci dengan Terdapat kuvet yang


methanol dan dibilas telah bersih

2. kuvet blanko diisi dengan kuvet blanko terisi


ethanol hingga memenuhi dengan etanol
¾ volume kuvet

3. Dimasukkan setiap variasi Ke dalam kuvet


konsentrasi kedalam kuvet dimasukan setiap
hingga memenuhi ¾ sampel yang akan diuji
volume kuvet

4. Ditentukan absorbansi dan Dapat ditentukan


kurva, membentuk absorbansi dari sampel
persamaan dari kurva yang diuji dan dibuat
yang dihasilkan kurva dan dihitung
kadar hidrokuinon
dalam sampel

VIII. Perhitungan
1. Pengenceran HQ standar 1000 ppm → 25 ppm, 100 ml

2. Pengenceran HQ standar 1000 ppm → 25 ppm, 25 ml (untuk


optimasi)

3. Penimbangan sampel setara 20 mg


Vitaquin 15 gram (hidroquinon 5%)

4. Pengenceran Sampel
 100 ppm

(ad etanol 10 ml)


 10 ppm

(ad etanol 10 ml)


5. Kurva Baku
Volume Absorbansi
1 0,256
2 0,277
3 0,377
4 0,422
5 0,442
Kurva Adisi Standar y = 0,0517x + 0,1997
R² = 0,9403
0,5
0,4

Absorbansi
0,3
0,2
0,1
0
0 1 2 3 4 5 6
Volume

6. Kadar sampel

 Pada 100 ppm

 Pada 200 ppm


IX. Pembahasan
Penentuan kadar hidrokuinon pada sediaan krim yaitu
menggunakan metode standar adisi UV. Metode standar adisi ini
merupakan suatu metode dimana sampel krim ditambahkan dengan
larutan baku standar hidrokuinon yang telah diketahui konsentrasinya
untuk meminimalkan kesalahan yang disebabkan oleh matriks.
Penggunaan metode ini karena zat yang akan dianalisis memiliki kadar
yang rendah pada sediaan, sehingga menggunakan metode kurva
standar. Selain itu sampel memiliki banyak kandungan lain selain yang
ingin dianalisis yang disebut dengan matriks yang di mana matriks
tersebut dapat menyebabkan terjadinya kesalahan pada hasil akhir
karena matriks sendiri dapat menimbulkan efek pada hasil ataupun
matriks dapat berinteraksi dengan sampel sehingga mengganggu hasil
analisis. Pada metode ini sampel yang ditambahkan larutan standar
dengan konsentrasi yang telah diketahui dan variasi volume,
selanjutnya diencerkan hingga memiliki volume yang sama.
Mula-mula dilakukan pembuatan baku sampel terlebih dahulu
yaitu hidrokuinon 0,1%. Baku sampel dibuat dari 1000 ppm menjadi
25 ppm dalam 25 ml. Setelah itu, diujikan ke dalam spektro untuk
mengetahui apakah baku yang akan ditambahkan ke larutan sampel
sudah sesuai atau belum. Hal ini dikarenakan jika absorbansi yang
diperoleh kurang dari rentang yang semestinya yaitu 0,2-0,8 maka
larutan baku tidak dapat digunakan karena akan menimbulkan
terjadinya kesalahan pembacaan hasil. Setelah larutan baku 25 ppm
tersedia lalu dimasukkan ke alat spektrofotometer UV-Vis dan hasil
yang didapat adalah larutan baku tersebut masih masuk ke dalam
rentang yang baik, yaitu 0,628 sehingga tidak perlu dilakukan
pengenceran kembali.
Dalam prakitkum ini sampel yang digunakan untuk pengujian
adalah vitaquin dengan bobot 15 gram yang mengandung hidrokuinon
5 %. Hal yang pertama dilakukan adalah menimbang sampel krim
sebanyak 0,39 gram yang setara dengan 20 mg hidrokuinon pada
etiket. Kemudian dilarutkan dengan etanol 96% sebanyak 50 ml, tetapi
seharusnya menggunakan methanol karena hidrokuinon merupakan
senyawa yang larut dalam air, etanol, dan eter. Jika menggunakan
etanol sebagai pelarut dikhawatirnyya matriks yang lan ikut larut, jika
menggunakan eter untuk melarutkan hidrokuinon dikhawatirkan fase
air yang terdapat dalam krim tidak dapat terambil, dan jika
menggunakan air untuk melarutkan hidrokuinon dikhawatirkan fase
minyak yang terdapat dalam krim tidak dapat terambil. Oleh karena itu
menggunakan methanol karena memiliki kepolaran dibawah air dan
diatas etanol, sehingga hidrokuinon yang terdapat di fase minyak
ataupun air tidak banyak menarik banyak matriks yang ikut dalam
pelarutnya. selanjutnya menggerus krim hidrokuinon yang telah
dilarutkan dengan etanol menggunakan stamper agar meningkatkan
sudut kontak antara krim dengan pelarutnya, sehingga pelarut yang
digunakan dapat menarik senyawa hidrokuinon dalam krim.
Selanjutnya melakukan penyaringan agar memisahkan senyawa
hidrokuinon yang larut dalam pelarutnya dengan zat lain yang berada
dalam krim yang tidak larut. Kemudian larutan yang telah disaring,
disonifikasi bertujuan untuk lebih memisahkan antara hidrokuinon dan
basis krim. Kemudian disaring kembali dan di ad dengan etanol hingga
tanda batas 100 ml dalam labu ukur (200 ppm).
Selanjutnya dibuat larutan baku hidrokuinon dengan volume 25
ml (25 ppm), kemudian menentukan lamda maksimal dari sampel yang
akan diuji atau hidrokuinon dan juga untuk meningkatkan absorbansi
hidrokuinon pada sampel yang akan dibaca absorbansinya. Kemudian
di buat variasi untuk analisis kurva adisi. Variasi dari adisi standar ini
terdapat dua macam pengujian, yaitu variasi volume standar dan
variasi konsentrasi standar, yang digunakan pada praktikum kali ini
menggunakan variasi larutan standar dengan volume larutan sampel
tetap kemudian di ad dengan pelarut hingga batas volume total.
Pembuatan larutan variasi ini menggunakan 5 variasi dalam labu ukur
10 ml (1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml, 5ml) lalu dikocok hingga homogen.
Pengujian kualitatif menggunakan kromatografi lapis tipis
menggunakan fase gerak methanol P : kloroform ( 50 : 50 ). Pengujian
ini bertujuan untuk memastikan sampel yang diuji mengandung
hidrokuionon atau tidak dengan menggunakan pembanding baku
hidrokuinon jika terdapat kesalahan pada analisis kualitatif. larutan uji
dan larutan baku ditotolkan pada silica gel P. Larutan sampel yang
digunakan adalah hidrokuinon di dalam sampek vitoquin 10 ppm. KLT
tersebut dimasukan ke dalam fase gerak yang telah dijenuhkan hingga
fase gerak mencapai tiga perempat dari panjang lempengnya. Setelah
itu plat KLT dimasukkan ke dalam alat spektro untuk dilihat hasil
bercaknya namun tidak terlihat sama sekali baik di 254 nm maupun
366 nm sehingga dilakukan penguapan. Hal ini dilakukan dengan
memanaskan plat KLT di atas penangas hingga bercak yang terdapat
pada silica gel terlihat, namun walaupun sudah dipanaskan, bercak
tetap tidak terlihat.
Sebelum melakukan perhitungan kadar hidrokuinon yang
terkandung dalam sampel, dilakukan pembacaan absorbansi dari
larutan baku 25 ppm terlebih dahulu agar diketahui lamda maksimal
dari senyawa hidrokuinon dengan menggunakan alat spektrofotometer
UV di panjang gelombang 200-400 nm. Hal ini karena senyawa
hidrokuinon yang diuji tidak memiliki gugus kromofor sehingga
pembacaan absorbansinya berada dalam range sinar UV. Penentuan
lamda maksimal dari senyawa hidrokuinon dilakukan dengan
menuangkan etanol pada kuvet blanko dan sampel sebagai reference.
Pembacaan absorbansi dari etanol ini diperlukan untuk mengetahui
absorbansi yang diberikan dari etanol di larutan tersebut sehingga
dapat dilanjutkan ke langkah berikutnya yaitu menuangkan larutan
baku hidrokuinon 25 ppm ke dalam kuvet sampel sebanyak ¾ dari
kuvet lalu dilihat panjang gelombang maksimum yang dimilikinya
pada alat spektrofotometer dan didapatkan hasil bahwa senyawa
hidrokuinon yang diuji mempunyai lamda maksimal pada panjang
gelombang 295 dengan absorbansi 0,628.
Setelah diketahui lamda maksimal dari senyawa hidrokuinon,
maka dapat diketahui absorbansi dari larutan variasi adiasi yang telah
dibuat sebelumnya. Saat dilakukan pembacaan absorbansi larutan
variasi adisi sebaiknya dimulai dari larutan yang mempunyai
konsentrasi terkecil terlebih dahulu agar dapat mengurangi terjadinya
kesalahan dalam pembacaan. Larutan variasi yang digunakan adalah 0
ppm, 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, 4 ppm, dan 5 ppm. Adapun larutan sampel
berisi larutan variasi sebanyak 1 ml dan larutan baku 25 ppm yang
kemudian diad 10 ml hingga tanda batas di dalam labu ukur. Volume
akhir disamakan seluruhnya menjadi 10 ml bertujuan agar konsentrasi
sampel tetap terjada hanya satu variabel. Larutan variasi dicek
absorbansinya pada panjang gelombang 295 nm dan didapatkan hasil
absorbansinya dimulai dari konsentrasi terkecil hingga terbesar yaitu:
0,415; 0,256; 0,277; 0,377; 0,422; 0,442. Setelah didaptkan absorbansi
dari masing-masing larutan variasi maka diketahui kurva yang
dimilikinya barulah ditentukan kadar dari hidrokuinon yang terdapat
dalam sampel.
Perhitungan untuk penentuan kadar hidrokuinon di dalam
sampel yaitu produk vitaquin menggunakan prinsip Hukum Lambert
Beer. Menurut hukum Lambert Beer, absorbansi setara dengan
konsentrasi yang terdapat di dalam sampel sehingga jika semakin besar
absorbansi maka akan semakin tinggi pula konsentrasi atau kadar zat
uji yang dimiliki sampel. Absorbansi yang didapat adalah jumlah
absorbansi dengan komponen-komponen yang lainnya sehingga
didaptkan persamaan A= Ax + As.
Dari persamaan di atas dapat ditentukan besarnya kadar
hidrokuinon di dalam sampel krim vitaquin yaitu sebesar 43,39% Hal
ini tidak sesuai dengan kadar hidroquinon yang tertera pada etiket,
yang di mana kadar seharusnya yang terdapat dalam vitaquin hanyalah
sebesar 5%. Diduga perbedaan kadar yang cukup besar ini dikarenakan
pelarut yang digunakannya bukanlah methanol, melainkan etanol
sehingga mungkin saja masih terdapat pengotor atau matriks lain yang
mengganggu pembacaan di spektro sehingga mempengaruhi
absorbansi sampel pula. Selain itu, dapat disebabkan pula sampel yang
tidak terlarut secara sempurna di dalam etanol karena kelarutan sampel
di dalam etanol akan menentukan seberapa banyak hidrokuinon yang
akan tertarik ke luar dari sampel sehingga akan didapatkan hasil
pembacaan yang tepat.

X. Simpulan
Pada praktikum ini kadar hidrokuinon di dalam sampel krim
“Vitoquin” dapat ditentukan dengan menggunakan metode standar
adisi spektrofotometer UV dan didapatkan kadar sebesar 43,39% yang
dimana tidak sesuai dengan yang tertera di etiket yaitu sebanyak 5%.
Hal ini dapat disebabkan karena masih terdapatnya pengotor maupun
matriks lain pada sampel atau proses pemisahan hidrokuinon dengan
bahan lain yang tidak sempurna.
Daftar Pustaka

Adreniyo, C. E. 2013. Basic Calibration of UV/Vis Spectrophotometer.


International Journal of Science and Technology, 2(3) : 247-251
BPOM RI (Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia). 2011.
Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia Nomor: HK.00.05.42.1018 Tentang Bahan Kosmetik. Jakarta:
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
BPOM RI (Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia). 2016.
Hidrokinon Dalam Kosmetik. Tersedia secara online di
http://ik.pom.go.id/v2016/artikel/artikel-Hidrokinon-dalam-Kosmetik.pdf.
[Diakses pada tanggal 23 April 2019].
Depkes RI. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta: Depkes RI.
Elferjani, H. S., Najw, H. S. A., Aziza, A. 2017. Determination of Hydroquinone
in Some Pharmaceutical and Cosmetic Preparations by
Spectrophotometric Method. International Journal of Science and
Research. Vol. 6 (7).
Nurfitriani, S., Ginayanti, H., Senadi, B. 2015.Analisis Penetapan Kadar
Hidrokuinon pada Kosmetik Krim Pemutih yang Beredar di Beberapa
Tempat di Kota Bandung. Jurnal Seminar Nasional Farmasi (SNIFA)
Unjani.
Roth, H. J., Blaaschke, G. 1988. Analisis Farmasi. Yogyakarta: Universitas
Gadjah Mada Press.
Selpiana, Eka. 2016. Perbandingan Metode Penentuan Pb(II) di Sungai Kapuas
secara Spektrofotometri UV-Vis Cara Kalibrasi Terpisah dan Adisi
Standar. JKK. Vol. 5(1), 17-23.
Sulistyaningrum, I., Melati P. G. U., dan Reni B. I. 2014. Perbandingan Metode
Kalibrasi dan Adisi Standar untuk Penentuan Timbal Terlarut dalam Bak
Kontrol Candi Borobudur Secara Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)-
Nyala. Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur. Vol. 8 (2): 62 – 67.
WHO. 1996. Hydroquinone Health and Safety Guide. Geneva: World Health
Organization.