Anda di halaman 1dari 10

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

1. Conditional Sentences

Conditional sentences adalah salah satu bentuk tata bahasa yang harus

dipelajari siswa. Menurut Davitiis dkk (1989:161) conditional sentences berkaitan

dengan peristiwa atau situasi yang bergantung pada pemenuhan sebuah kondisi.

Cowan (2008:449) juga menyebutkan bahwa conditional sentence adalah sebuah

kalimat yang menggambarkan kondisi dan hasil dari kondisi tersebut. Dari kedua

pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa conditional sentence adalah kalimat

yang menggambarkan hasil sebuah situasi atau kondisi, dimana situasi atau

kondisi tersebut tersebut bergantung pada pemenuhan kondisi yang lain.

Ada tiga jenis conditional sentence berdasarkan penggunaannya, yaitu

conditional sentence type 1, conditional sentence type 2, dan conditional sentence

type 3. Masing- masing jenis conditional sentence ini memiliki bentuk dasar,

yaitu klausa utama dan klausa if. Ketika klausa utama dan klausa if dijadikan

dalam satu kalimat, maka akan terdapat beberapa variasi conditional sentence.

a. Conditional sentence type 1

Conditional sentence type 1 menggambarkan peristiwa yang akan datang

(future) atau yang akan terjadi. Peristiwa ini dalam pikiran pembicara

kemungkinan akan terjadi dan bukan hanya hayalan. Ini berarti ketika

6
seseorag menggunakan bentuk conditional type 1, dia menggambarkan

kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang, meskipun dia tidak

tahu apakah peristiwa itu akan terjadi atau tidak. Berikut adalah beberapa

bentuk conditional sentence type 1 beserta contoh:

1) If clause (simple present), main clause (will/shall)

Contoh:

 If you are not careful, you will break the plate.

 If I run, I shall get there in time.

2) If clause (present continuous), main clause (will/shall)

Contoh:

 If you are looking for Peter, you will find him upstair.

 If he is working, I shall not disturb him.

3) If clause (present perfect), main clause (will/shall)

Contoh:

 If he has written the letter, I will post it.

 If you have finished dinner, I shall ask for the bill.

4) If clause (present perfect continuous), main clause (will/shall)

Contoh:

 If he has been studying, I will not disturb him.

 If we have been standing here, we shall see the accident.

7
5) If clause (modal), main clause (will/shall)

Contoh:

 If I may see him today, I will tell him to call you.

 If I can study, I shall pass the test.

Dari variasi bentuk conditional sentence di atas dapat disimpulkan bahwa

tenses yang digunakan dalam if clause adalah simple present, present

continuous, present perfect, present perfect continuous, dan modals,

sedangkan tenses yang digunakan dalam main clause adalah simple future.

b. Conditional sentence type 2

Conditional sentence type 2 digunakan untuk membicarakan situasi yang tidak

nyata atau mustahil terjadi dimasa yang akan datang. Ini berarti conditional

sentence type 2 digunakan ketika seseorang membayangkan situasi yang

bertolak belakang dengan situasi nyata. Adapun variasi bentuk conditional

sentence type 2 adalah sebagai berikut:

1) If clause (simple past), main clause (would/should)

Contoh:

 If I worked harder, I should make much money (but I don’t

work harder)

 If I had a map, I will lend it to you (but I don’t have a map)

8
2) If clause (past continuous), main clause (would/should)

3) If clause (modal), main clause (would/should)

Dari penjelasan diatas maka peneliti menyimpulkan bahwa tenses yang

digunakan dalam if clause adalah simple past tense dan past continuous tense,

sedangkan klausa utama menggunakan beberapa bentuk lampau dari modal.

c. Conditional sentence type 3

Conditional sentence type 3 biasanya digunakan untuk membicarakan situasi

lampau khayalan. Hal ini berarti conditional sentence type 3 digunakan ketika

pembicara membayangkan situasi yang bertentangan dengan kebenaran

diwaktu lampau. Berikut merupakan beberapa bentuk dari conditional

sentence type 3:

1) If clause (past perfect), main clause (would/should + have + past

participle)

2) If clause (past perfect continuous), main clause (would/should + have

+ past participle)

3) If clause (past perfect passive), main clause ( would/should + have +

past participle)

Di dalam conditional sentence type 3, would have or should have digunakan

dalam klausa utama, namun ada juga variasi lainnya seperti contoh berikut:

9
1) Could or might

Contoh:

 If we have found him earlier, we could have saved his life.

 If we have found him earlier, we might have saved his life.

2) Had ditempatkan diawal kalimat dan if dihilangkan

Contoh:

 If you had obeyed others, this disaster would not have

happened =

had you obeyed others, this disaster would not have happened

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tenses yang digunakan

dalam if clause adalah past perfect, past perfect continuous, dan past perfect

passive. Klausa utama menggunakan modal yang ditambahkan denga have

dan past participle. If juga bias dihilangkan dengan meletakan had di depan

kalimat. Walaupun tenses yang digunakan dalam klausa if adalah past perfect,

namun keterangan waktu yang dimaksud adalah simple past.

2. Manfaat Mempelajari Conditional Sentences

Pollock dalam Dewi Yusuf (2013:13) menyebutan penggunaan dari

conditional sentences untuk mengungkapkan berbagai macam gagasan. Dari

pengunaan conditional sentence tersebut siswa dapat memperoleh manfaatnya,

yaitu:

10
a. Siswa dapat membuat prediksi

b. Siswa dapat mendiskusikan kesalahan dimasa lalu

c. Siswa dapat mengungkapkan impian-impian mereka

d. Siswa dapat memberikan saran-saran

e. Siswa dapat meminta maaf

3. Manfaat Permainan dalam Pembelajaran Bahasa

Permainan dalam pembelajaran bahasa bukanlah sekedar pencair suasana

antara siswa atau untuk membunuh waktu. Byne dalam Mania Moayad Mubaslat

(2012:5) menyebutkan bahwa permainan adalah bentuk permainan yang diatur

oleh beberapa peraturan. Jill Hadfield dalam Mania Moayad Mubaslat (2012: 5)

mendefinisikan permainan sebagai aktifitas dengan beberapa peraturan, tujuan

dan elemen kesenangan. Dari dua pengertian ini maka dapat disimpulkan bahwa

permainan adalah aktifitas terencana dengan peraturan dan tujuan tertentu.

Permainan juga harus menyenangkan, namun tidak sekedar pengalihan saja.

Permainan dalam pembelajaran bahasa kemudian dilihat sebagai sebuah cara

agar para siswa menggunakan bahasa dengan cara yang menyenangkan.

Penggunaan permainan dalam pembelajaran bahasa dinilai efektif karena

dapat memberikan motivasi, menurunkan tingkat stress siswa, dan memberikan

kesempatan untuk berkomunikasi secara nyata. Selain dinilai efektif karena

mampu menambah motivasi siswa, permainan juga membuat siswa menjadi lebih

kompetitif sehingga mereka mencoba lebih giat terlibat didalam permainan

11
daripada mata pelajaran lainnya (Avedon dalam Mania Moayad Mubaslat, 2012:

5). Keuntungan lainnya dari penggunaan permainan dalam pembelajaran bahasa

adalah dapat meningkatkan kecakapan siswa karena pada saat bermain mereka

memiliki kesempatan untuk menggunakan bahasa.

4. Permainan Matching Flashcard

John Haycraft dalam Yosephus Setyo Nugroho dkk (2012:5) menyatakan

bahwa flashcards adalah kartu-kartu yang didalamnya kata-kata atau gambar

dicetak atau digambar. Flashcards digunakan di dalam kelas oleh guru dan siswa

untuk membantu belajar dan mengingat kata-kata baru. Haycarf membagi

flashcards menjadi dua jenis, yaitu flashcard kata dan flashcard gambar. Flashcard

kata merupakan flashcard yang didalamnya kata-kata dicetak. Flashcard kata ini

dapat digunakan untuk berlatih susunan kata atau untuk berlatih struktur kalimat.

Flashcard bergambar dapat digunakan untuk menunjukkan melatih atau merevisi

kosakata. Selain itu flashcard bergambar dapat digunakan dalam mengidenfisikasi

kata kerja.

Menurut Haycraft (1978:102) dan Cross (1991:120) ada beberapa manfaat

menggunakan flashcard dalam pembelajaran bahasa, yaitu:

a. Flashcard dapat digunakan sebagai untuk menggabungkan kosakata

b. Flashcard lebih memotivasi dan mudah dilihat

c. Flashcard lebih efektif karena dapat digunakan untuk berbagai tingkatan

siswa

12
d. Flashcard bisa dibawa kemana saja dan dipelajari ketika ada waktu luang

e. Flashcard bias disusun untuk menciptakan pengelompokan logis kata-kata

f. Flashcard harganya murah

g. Flashcard memberikan hubungan gambaran antara bahasa pertama dan

bahasa target

h. Flashcard juga bisa digunakan untuk mempelajari struktur dan susunan

kata

B. Penelitian yang Relevan

1. Penelitian yang dilakukan oleh Anita Jayanti (2011) mengenai “ Improving

students’ understanding of conditional sentence type 1 by using substitution

drills (a classroom action research in the first year of SMK Islamiyah

Ciputat)” menunjukan bahwa pemahaman siwa terhadap materi conditional

sentence type 1 lebih eningkat daripada sebelumnya. Motivasi siswa juga

meningkat setelah menggunakan teknik substitution drills di dalam kelas.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Dewi Yusuf (2013) mengenai “Improving

students’ understanding of if conditional type 2 by using problem solving

activity (a classroom action research at the eleventh grade of SMAN 2

Jakarta)” menunjukan bahwa ada peningkatan pemahaman siswa terhadap if

conditional type 2. Kebanyakan siswa memperoleh nilai yang baik pada

akhir siklus. Kondisi kelas selama pembelajaran juga baik. Siswa lebih

antusias dan lebih berpartisipasi di dalam kelas. Guru juga menjadi lebih

13
kreatif dalam merancang tugas-tugas untuk aktifitas siswa dan memberi

semangat kepada siswa untuk lebih aktif di dalam kelas.

C. Kerangka Pikir

Belajar merupakan perubahan tingkah laku pada seseorang. Belajar

berbahasa Inggris berarti belajar untuk bisa memahami dan menggunakan bahasa

Inggris. Untuk dapat memahami dan menggunakan bahasa Inggris Bahasa

Inggris tersebut maka guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk

menggunakan bahasa sehingga tujuan pembelajaran bahasa Inggris di SMK

dapat dicapai, yaitu agar siswa memiliki kemampuan: (1) Menguasai

pengetahuan dan keterampilan dasar Bahasa Inggris untuk mendukung

pencapaian kompetensi program keahlian; dan (2) Menerapkan penguasaan

kemampuan dan keterampilan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi baik lisan

maupun tertulis pada level intermediate. Untuk mencapai tujuan tersebut maka

guru yang professional hendaknya membuat pembelajaran yang bermakna bagi

siswa.

Di SMKN 1 Daha Selatan siswa kelas XII BB masih memiliki kesulitan

dalam memahami conditional sentence, padahal di dalam silabus conditional

sentence merupakan materi yang harus dikuasai siswa. Dampak dari

ketidakpahaman siswa terhadap materi conditional sentence menyebabkan nilai

siswa masih rendah.

14
Berdasarkan kajian teori dan hasil-hasil penelitian yang telah dibahas

sebelumnya, maka penggunaan permainan matching flashcard pada materi

conditional sentence diperlukan agar pembelajaran lebih mudah dipahami dan

lebih menyenangkan. Untuk membuat permainan matching flashcard dengan

materi conditional sentence, maka ada beberapa tahapan dalam penyusunannya,

yaitu: (1) menganalisis silabus untuk menetapkan standar kompetensi,

kompetensi dasar, dan indikator pembelajaran; (2) merumuskan tujuan

pembelajaran; (3) mendesain materi pembelajaran bahasa; dan (4) mendesain

flashcard.

Setelah desain materi selesai maka akan dilakukan perencanaan

pelaksanaan PTK. Setelah semua perencanaan siap, maka PTK siap untuk

dilakukan. Hasil dari pelaksanaan PTK ini jika berhasil maka keterlaksanaan

peningkatan pemahaman pada materi conditional sentence untuk siswa kelas XII

BB SMKN 1 Daha Selatan berada pada kualifikasi baik. Namun jika penelitian

ini belum berhasil maka akan diulang kembali pada siklus berikutnya dengan

memperbaiki prosesnya.

D. Hipotesis Tindakan

Berdasar kerangka berpikir diatas maka hipotesis penelitian tindakan kelas

ini adalah” Jika permainan matching flashcard diterapkan pada materi

conditional sentence untuk siswa XII BB SMKN1 Daha Selatan maka

pemahaman siswa akan meningkat.”

15