Anda di halaman 1dari 49

KONSEP DAN TEORI MENUA YANG DIGUNAKAN DALAM

KEPERAWATAN GERONTIK

Dosen pengampu: Ns. Ritanti, M. Kep., Sp. Kom

Disusun guna untuk memenuhi tugas Keperawatan Gerontik (Tutor B)

Disusun Oleh :
Nada Saskia 1610711028
Tia Amelia Agustin 1610711031
Mei Diana Arminiati 1610711033
Hidayatun Nazza 1610711037
Berthalia Veronica A 1610711039
Selvy Juwita Sari 1610711042
Auliya Shobah 1610711044
Miftahul Jannah 1610711048
Dwi Shohibah 1610711049
Astri Indika Husna 1610711053
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAKARTA
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
kasih dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah kami tentang “Konsep Dan
Teori Menua Yang Digunakan Dalam Keperawatan Gerontik”. Kami menyelesaikan
makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Gerontik. Kami percaya
dibalik semua jerih lelah kami, ada upah yang sepadan. Dan tentu saja, upah itu adalah
pengetahuan.

Kami juga ingin mengucapkan terima kasih bagi seluruh pihak yang telah
membantu kami dalam pembuatan makalah ini dan berbagai sumber yang telah kami pakai
sebagai data dan juga informasi pada makalah ini. Dengan segala kelebihan dan
kekurangan dalam makalah ini kiranya pembaca dapat memahaminya. Dan saran-dan kritik
yang membangun sangat kami terima untuk perbaikan kedepannya.

Dengan menyelesaikan makalah ini,kami mengharapkan banyak maanfaat yang


dapat dipetik dari makalah ini. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, April 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..........................................................................................................i

KATA PENGANTAR .......................................................................................................ii

DAFTAR ISI ...................................................................................................................... iii

BAB IPENDAHULUAN ...................................................................................................1

1.1 Latar Belakang ............................................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan .........................................................................................................2
1.4 Metode Penulisan.........................................................................................................2
1.5 Sistematika Penulisan .................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................................3

2.1 Konsep Gerontologi dan Geriatrik .........................................................................3


2.1.1 Pengertian Geriatrik, Gerontologi, dan Gerontik ...........................................3
2.1.2 Sejarah Penamaan Istilah Keperawatan Lanjut Usia dari Geriatrik,
Gerontologi menjadi gerontik ........................................................................5
2.2 Gerontologi Keperawatan ....................................................................................... 5
2.2.1 Praktik dan Pendidikan keperawatan Gerontik ..............................................7
2.2.2 Peran Perawat Gerontologi.............................................................................9
2.2.3 Evidence Based Practice untuk Keperawatan Gerontik .................................14
2.3 Perkembangan Keperawatan Gerontik .................................................................18
2.4 Pengertian Lansia dan Batasan Usia dari Beberapa Ahli/Sumber ..................... 20
2.4.1 Pengertian .......................................................................................................20
2.4.2 Klasifikasi lansia ............................................................................................ 20
2.5 Berbagai Setting Perawatan Kesehatan Bagi Lansia ...........................................21
2.5.1 Acute Care Setting ......................................................................................... 21
2.5.2 Nursing Home Setting ....................................................................................26
2.5.3 Home Care Sevices ........................................................................................ 37

iii
BAB III PENUTUP ...........................................................................................................41

3.1 Kesimpulan ..................................................................................................................41


3.2 Saran ............................................................................................................................. 42

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................43

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada zaman dahulu ilmu keperawatan yang berfokus pada pelayanan kesehatan
terhadap lansia masih belum dikenal. Selama masa perkembangannya, ilmu keperawatan
ini memiliki nama yang berbeda-beda. Permasalahan pemilihan kata ini menjadi sebuah
perdebatan dikalangan para ahli. Awalnya ilmu keperawatan ini menggunakan kata
geriatrik dan gerontologi sebelum akhirnya berubah menjadi gerontik seperti sekarang ini.
Kata geriatrik, gerontologi, dan gerontik tentu memiliki makna yang berbeda satu sama
lain. Dalam dunia keperawatan sekarang ini, lebih dikenal dengan istilah keperawatan
gerontik daripada keperawatan geriatrik maupun gerontologi.
Geriatik lebih dikenal dengan suatu ilmu yang berhubungan dengan penyakit dan
kecacatan pada orang tua (Touhy & Jett, 2014). Sedangkan, gerontologi bersifat
multidisiplin yaitu berisi tentang ilmu keperawatan, psikologi, medis, dan lain-lain (Miller,
2012). Sehingga para ahli menyimpulkan kata gerontik adalah kata yang paling tepat untuk
digunakan dibidang ilmu keperawatan ini karena gerontik memiliki arti sebagai spesialisasi
keperawatan tentang praktik mengasuh, merawat, dan menghibur orang dewasa yang lebih
tua (Flaherty, n.d). Peran dari seorang perawat dalam keperawatan gerontik pun masih
kurang diketahui.
Bagaimana cara seorang perawat untuk melakukan intervensi dengan sasaran lansia
masih kurang diketahui karena peminat ilmu gerontik belum sebanyak bidang keperawatan
yang lain. Maka dari itu, dalam makalah ini akan dibahas mengenai “Konsep dasar
keperawatan gerontik” yaitu tentang konsep gerontologi dan geriatrik, gerontologi
keperawatan, perkembangankeperawatan gerontik, pengertian lansia dan batasan usia
lansia, dan berbagai setting perawatan kesehatan dalam ilmu keperawatan yang berfokus
pada sasaran lansia.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan penjelasan latar belakang, penulis dapat merumuskan beberapa masalah
yang meliputi:

1
1. Apa pengertian geriatrik, gerontologi, dan gerontik?
2. Bagaimana sejarah penamaan istilah keperawatan lanjut usia dari geriatrik,
gerontologi, menjadi gerontik?
3. Apa itu gerontologi keperawatan?
4. Bagaimana praktik dan pendidikan keperawatan gerontik?
5. Apa saja peran perawat gerontologi?
6. Apa yang dimaksud dengan evidence based practice untuk keperawatan gerontik?
7. Apa saja manfaat evidence based practice?
8. Bagaimana langkah evidence based practice?
9. Bagaimana perkembangan keperawatan gerontik?
10. Apa yang dimaksud dengan lansiadan batasan usianya?
11. Apa saja setting perawatan kesehatan bagi lansia?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskankonsep gerontologi dan
geriatrik, gerontologi keperawatan, perkembangankeperawatan gerontik, pengertian lansia
dan batasan usia lansia, dan berbagai setting perawatan kesehatan dalam ilmu keperawatan
yang berfokus pada sasaran lansia.

1.4 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan makalah ini yaitu pada BAB I, penulis memaparkan tentang
latar belakang, rumusan masalah, tujuan, sistematika, dan metode penulisan. Pada BAB II,
penulis menjelaskan mengenai tinjauan pustaka mengenai konsep gerontologi dan geriatrik,
gerontologi keperawatan, perkembangankeperawatan gerontik, pengertian lansia dan
batasan usia lansia, dan berbagai setting perawatan kesehatan dalam ilmu keperawatan yang
berfokus pada sasaran lansia.Bab III berisi kesimpulan dan saran penulis.

1.5 Metode Penulisan


Penulisan makalah ini berbasis PBL (Problem Based Learning). Mahasiswa
masing-masing mencari sumber literatur melalui buku, jurnal, maupun sumber dari internet
sesuai dengan bahasan yang diterima.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Gerontologi dan Geriatrik


2.1.1 Pengertian Geriatrik, Gerontologi, dan Gerontik
 Pengertian Geriatrik
Geriatrik berasal dari kata Yunani yaitu “geras” yang berarti usia tua. Hal ini
mengacu pada cabang kedokteran yang terdiri dari diagnosis, pengobatan
penyakit, dan sindrom yang terjadi terutama pada kalangan dewasa tua
(Flaherty, 2004). Menurut Miller (2012) geriatric sangat berakaitan dengan
penyakit dan kecacatan orang tua sehingga dapat dimaknai bahwa istilah
geriatric berfokus pada subspesisialisasi pengobatan penyakit dan praktik
keluarga. Seiring dengan berjalannya waktu, terdapat pergeseran orientasi yaitu
focus geriatric ini mencakup masalah kualitas hidup, intervensi
mempertahankan fungsi optimal dan promosi kesehatan.
 Pengertian Gerontologi
Gerontologi ialah studi tentang penuaan dan orang dewasa yang lebih tua, yang
bersifat multidisiplin berbagai bidang seperti keperawatan, psikologi, pekerjaan
social, dan profesi kesehatan tertentu (Miller, 2012). Sedangkan, menurut
Tabloski (2014) gerontology merupakan studi holistic tentang proses penuaan
dan individu sepanjang kehidupan mereka untuk mengetahui perubahan fisik,
mental, sosial, analisis perubahan masyarakat, dan penerapan pengetahuan ini
kebijakan, dan program pengembangan. Fokus dari keperawatan gerontology
adalah untuk mempelajari, mendiagnosis, dan mengobati penyakit (Tabloski,
2014).
 Pengertian Gerontik
Gerontik berasal dari bahasa Yunani, yaitu “geron” yang memiliki arti orang
tua atau usia tua. Gerontik didefinisikan sebagai spesialis keperawatan tentang
peraktik mengasuh, merawat, dan menghibur orang dewasa yang lebih tua.

3
Keperawatan gerontik memiliki tujuan, yaitu untuk memenuhi kenyamanan
lansia, mempertahankan fungsi tubuh, dan membantu lansia menghadapi
kematiannya dengan tenang, dan damai (Mauk, 2014).
2.1.2 Sejarah Penamaan Istilah Keperawatan Lanjut Usia dari Geriatrik, Gerontologi,
menjadi Gerontik.
Geriatrik merupakan istilah pertama dari kedokteran yang memiliki makna, yaitu
pengobatan penyakit pada lansia. Perawat geriatrik pertama kali disebut pada tahun
1925 dalam American Journal of Nursing. Lalu, pada tahun 1942 terbentuk The
American Geriatrics Society, dan penerbitan jurnal edisi pertama, yaitu Geriatrics
(Miller, 2012). Tahun 1953, masyarakat mengubah nama jurnal tersebut menjadi
Journal of the American Geriatrics Society, dan fokus dari geriatric menjadi
semakin luas, yakni tentang berbagai masalah kesehatan lansia, intervensi yang
dapat mempertahankan fungsi optimal, serta promosi kesehatan yang bertujuan
untuk menunda kecacatan pada lansia (Miller, 2012).Perawat geriatric sudah
terbentuk, dan diusulkan sejak 1925, namun baru pada tahun 1950 perawat geriatric
pertama kali disarankan sebagai “care of aged” dalam American Journal of Nursing.

Kelahiran perawat geriatric yang sebenarnya ialah pada tahun 1962 diawali oleh
American Nurses Association (ANA) yang membentuk kelompok Konferensi
Praktik Keperawatan Geriatrik. Kemudian, pada tahun 1966, ANA membentuk
divisi Perawatan Geriatrik (Flaherty, 2004; Mauk, 2014). Pada tahun 1968, ANA
menerbitkan standar geriatrik yang pertama, dan memberikan sertifikasi
keperawatan geriatrik. Dapat dikatakan bahwa keperawatan geriatrik adalah
spesialisasi pertama yang menetapkan standar praktik dalam ANA. Namun, istilah
penggunaan nama ”Keperawatan Geriatrik” tidak berlangsung lama karena dirasa
kurang dalam menggambarkan keperawatan.

Pada pertengahan tahun 1970-an, ANA menganjurkan untuk mengubah istilah


keperawatan geriatrik menjadi keperawatan gerontology (Miller, 2012). Perubahan
ini disebabkan oleh penekanan pada istilah geriatrik cenderung hanya pada masalah

4
kesehatan yang dihadapi seperti dalam bidang medis, dan tidak terdapat nilai-nilai
keperawatan. Sehingga, pada tahun 1976 nama geriatik resmi berubah menjadi
gerontology dan divisi perawatan geriatrik berubah menjadi divisi perawatan
gerontology (Tabloski, 2014). Proses perubahan nama ini diharapkan dapat
membuat istilah keperawatan spesialisasi yang lebih baik dari sebelumnya. Hal ini
dikarenakan keperawatan gerontology berperan erat dalam pengembangan
pengetahuan sebagai dasar praktik terbaik dalam merawat dewasa lanjut usia
(Touhy&Jett, 2014).

Keperawatan gerontology juga diakui oleh American Nurses Credentialing Center


(ANCC) sebagai spesialisasi dengan menawarkan sertifikasi sebagai perawat
gerontologi, spesialis klinis pada keperawatan gerontology atau praktisi perawat
gerontologi. Namun, perdebatan istilah untuk spesialisasi keperawatan dewasa usia
lanjut masih belum berakhir. Menurut beberapa pandangan, penggunaan kata
“ology” sangat tidak relevan dengan praktik keperawatan (klinik), karena makna
dari “ology” menunjuk ke arah ilmu pengetahuan, dan scientific (Flaherty, 2004).
Lalu, pada tahun 1979, Gunter dan Estes menyarankan istilah baru, yaitu gerontik
untuk menggantikan gerontology. Keperawatan gerontik lebih sesuai secara filosofi
dibandingkan dengan keperawatan geriatric, dan lebih bersifat linguistic daripada
keperawatan gerontology (Flaherty, 2004). Hal ini dikarenakan keperawatan
gerontik juga dapat mencakup seni, praktik mengasuh, merawat dan menghibur
dewasa lanjut. Sehingga, pada istilah gerontik ini sudah mencakup pengetahuan,
dan praktik keperawatan, dan dianggap mampu menggambarkan ilmu keperawatan
secara menyeluruh (Touhy&Jett, 2014).
2.2 Gerontologi Keperawatan
Meskipun perawat pertama kali mengakui pentingnya menangani kebutuhan perawatan
unik dari orang dewasa yang lebih tua di awal 1900-an, perawatan geriatri tidak dianggap
sebagai sub-spesialisasi hingga 1960-an. Pada pertengahan 1970-an, American Nurses
Association (ANA) menganjurkan penggunaan istilah gerontologis keperawatan, bukannya
keperawatan geriatri, untuk lebih banyak akurat mencerminkan ruang lingkup asuhan

5
keperawatan yang lebih luas dari fokus pada kondisi penyakit. Sejak awal 2000-an,
keperawatan gerontologis telah diakui sebagai spesialisasi dan sebagai komponen penting
dan integral dari orang dewasa perawatan. Kegiatan ANA yang mendukung pertumbuhan
gerontologis keperawatan sebagai spesialisasi meliputi pembentukan a Dewan Keperawatan
Gerontologis dan mengembangkan beberapa dokumen yang berhubungan dengan standar
dan ruang lingkup praktik. Perawat dapat menggunakan Standar Profesional ANA 2001
Kinerja Keperawatan Gerontological sebagai panduan untuk menyediakan merawat orang
dewasa yang lebih tua (Kotak 5-1).

Standar Gerontologis Profesional Kinerja Keperawatan

I. Kualitas Perawatan. Perawat gerontologis mengevaluasi secara sistematis kualitas


perawatan dan efektivitas praktik keperawatan.

II Penilaian Kinerja. Perawat gerontologis mengevaluasi praktik keperawatannya sendiri


terkait dengan professional mempraktikkan standar dan ketetapan dan peraturan yang
relevan.

III. Pendidikan. Perawat gerontologis memperoleh dan mempertahankan pengetahuan saat


ini berlaku untuk praktik keperawatan.

IV. Kolegialitas. Perawat gerontologis berkontribusi pada pengembangan profesional teman


sebaya, kolega, dan lainnya.

V. Etika. Keputusan dan tindakan perawat gerontologis tentang nama orang dewasa yang
lebih tua ditentukan secara etis.

VI. Kolaborasi. Perawat gerontologis bekerja sama dengan orang dewasa yang lebih tua,
pengasuh orang dewasa yang lebih tua, dan semua anggota dari tim multidisiplin untuk
memberikan perawatan yang komprehensif.

VII. Penelitian. Perawat gerontologis mengartikan, menerapkan, dan mengevaluasi temuan


penelitian untuk memberi informasi dan meningkatkan gerontologis praktik keperawatan.

6
VIII. Pemanfaatan sumber daya. Perawat gerontologis mempertimbangkan faktor-faktor
terkait dengan keselamatan, efektivitas, dan biaya dalam perencanaan dan memberikan
perawatan pasien.

Pusat Kredensial Perawat Amerika (AACN) adalah yang lain organisasi keperawatan yang
mengakui gerontologis keperawatan sebagai spesialisasi dengan menawarkan sertifikasi
sebagai perawat gerontologis, seorang spesialis klinis dalam gerontologis menyusui, atau
seorang praktisi perawat gerontologis. Meskipun sertifikasi keperawatan gerontologis telah
tersedia sejak saat itu 1974, kurang dari 1% perawat terdaftar memiliki sertifikasi
gerontologis keperawatan (National Academy of Sciences, 2008). Tiga jurnal keperawatan
dikhususkan untuk keperawatan gerontologis, dengan yang pertama diterbitkan pada tahun
1979 dan yang terbaru dimulai pada 2008, mencerminkan meningkatnya dukungan untuk
ini bidang praktik khusus.

2.2.1 Praktik dan Pendidikan keperawatan Gerontik


Karena perkembangan dan pertumbuhan gerontologis keperawatan sebagai
spesialisasi, sekarang diakui secara luas bahwa semua perawat yang bekerja dengan
orang dewasa harus kompeten dalam menangani masalah kesehatan unik orang
dewasa yang lebih tua. Sebagai contoh, selama 1990-an, Asosiasi Gerontologi di
Tinggi Pendidikan, Liga Nasional untuk Keperawatan, dan Biro Profesi Kesehatan
mengidentifikasi kurikulum inti dan terminal tujuan untuk perawat profesional
tingkat pemula di bidang keperawatan gerontologis. Kompetensi ini, Dewasa Tua:
Kompetensi dan Kurikulum Baccalaureate yang Direkomendasikan Pedoman untuk
Perawatan Perawat Geriatrik, pertama kali diterbitkan pada tahun 2000 dan
diperbarui secara berkala.

The Comprehensive Geriatric Education Program (Program Pendidikan Geriatrik


Komprehensif) (CGEP) disahkan melalui Nurse Reinvestment Act of 2002 untuk
meningkatkan pendidikan profesional kesehatan yang peduli orang tua. Selama 5
tahun pertama program ini, hampir 20.000 perawat, mahasiswa keperawatan, dan
profesional perawatan kesehatan lainnya menerima pelatihan dan pendidikan dalam

7
perawatan yang lebih tua orang dewasa (Douglas-Kersellius, 2009). Meskipun
upaya meningkat untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan yang unik dari
orang dewasa yang lebih tua, Institute of Medicine menerbitkan laporan pada tahun
2008 yang menekankan masih banyak yang harus dilakukan untuk memastikan
bahwa semua professional kompeten untuk merawat orang dewasa yang lebih tua
(Akademi Nasional Ilmu, 2008).

Salah satu cara meningkatkan kompetensi perawat dalam merawat lansia orang
dewasa melalui program pendidikan berkelanjutan. Artikel keperawatan oleh Barba
and Fay (2009); Kowlowitz, Davenport, dan Palmer (2009); dan McConnell et al.
(2009) menggambarkan model untuk melanjutkan pendidikan keperawatan
gerontologis. Sebagai tambahan, Palmer dkk. (2008) menggambarkan simulasi
klinis itu dapat digunakan untuk melanjutkan pendidikan keperawatan geriatri. Ini
simulasi peer-review, dikembangkan sebagai bagian dari Kesehatan Layanan dan
Administrasi Sumber Daya hibah, fokus pada kepedulian untuk orang dewasa yang
tiba-tiba mengalami perubahan kesehatan status, eksaserbasi kondisi kronis, atau
sentinel acara seperti jatuh. Evaluasi menemukan bahwa perawat menikmati
menggunakan simulasi, melaporkan peningkatan kompetensi klinis, dan secara
signifikan meningkatkan pengetahuan mereka (Kowlowitz et al., 2009).

Sejak awal 1990-an, Yayasan John A. Hartford telah menunjukkan komitmen utama
untuk meningkatkan keperawatan merawat orang dewasa yang lebih tua melalui
banyak inisiatif yang diarahkan peningkatan pengetahuan keperawatan dan klinis
berbasis bukti praktek. Pada tahun 1992, yayasan ini mendanai inisiatif besar
disebut Nurses Improving Care to the Hospitalized Elderly (NICHE).. Program
NICHE sedang berlangsung dan mencakup lebih banyak dari 225 rumah sakit
nasional. Itu telah terbukti membaik kualitas perawatan untuk orang dewasa yang
lebih tua serta kepuasan kerja untuk perawat. Studi hasil di rumah sakit NICHE
telah menunjukkan perbaikan dalam perawatan klinis, efektivitas biaya,
keperawatan pengetahuan, dan persepsi perawat tentang keperawatan geriatric

8
mempraktikkan lingkungan dan kualitas perawatan geriatri (Boltz et al.,2008). Pada
2007, Yayasan Hartford bekerja sama dengan American Journal of Nursing untuk
mengembangkan dan menyebarluaskan serangkaian 28 artikel berbasis web gratis
dan sesuai video yang dapat digunakan perawat dan mahasiswa keperawatan untuk
ditingkatkan perawatan mereka terhadap orang dewasa yang lebih tua. Rekaman
video dan artikel terkait tercantum di bagian Alat Klinis bab dalam buku ini.
Gambar 5-1 daftar tonggak dalam pengembangan keperawatan gerontologis dan
inisiatif utama yang diarahkan untuk meningkatkan keperawatan pengetahuan
dalam merawat orang tua.
2.2.2 Peran Perawat Gerontologi
 Standar profesional kinerja perawat gerontology
1. Quality of Care
Perawat gerontologi secara sistematis mengevaluasi kualitas perawatan dan
efektivitas praktik keperawatan.
2. Performance Appraisal
Perawat gerontological mengevaluasi atau praktik keperawatan sendiri
dalam hubungannya dengan standar praktek profesional dan undang-
undang dan peraturan yang relevan.
3. Education
Perawat gerontological mengakuisisi dan mempertahankan pengetahuan
saat ini berlaku untuk praktek keperawatan.
4. Collegiality
Perawat gerontologi berkontribusi dalam pengembangan profesional dari
rekan-rekan, kolega, dan lain-lain.
5. Ethics
Keputusan dan tindakan perawat gerontologi pada orang dewasa yang lebih
tua ditentukan dengan cara yang etis.
6. Collaboration

9
Perawat gerontological bekerja sama dengan orang yang lebih tua,
pengasuh yang berpengalaman, dan semua anggota tim multidisiplin untuk
memberikan perawatan yang komprehensif.
7. Research
Perawat gerontological menafsirkan, mengaplikasikan, dan mengevaluasi
temuan penelitian untuk menginformasikan dan meningkatkan praktek
keperawatan gerontologi.
8. Resource Utilization
Perawat gerontologi mempertimbangkan faktor-faktor yang berhubungan
dengan keamanan, efektivitas, dan biaya dalam perencanaan dan
memberikan perawatan pasien
 Peran Perawat dalam Ranah Keperawatan Gerontik
1. Perawat sebagai Direct Care Giver
Peran perawat dalam hal ini memberikan perawatan langsung kepada lansia
diberbagai situasi kondisi. Umumnya, lansia sering menunjukkan gejala
khas namun terasa sulit dimengerti ucapannya yang menjadi tantangan bagi
perawat dalam menentukan diagnosis dan penangan yang tepat. Oleh
karenanya, perawat sebagai penyedia perawatan harus mengatahui segala
proses penyakit dan gejala yang biasa terlihat pada lansia mencakup
pengetahuan tentang faktor risiko, tanda dan gejala, penangan medis yang
biasa dilakukan, rehabilitasi, serta perawatan yang dibutuhkan pada akhir
usia (Hindle & Coates, 2011).
2. Perawat sebagai Advokator
Perawat dalam hal ini bertindak memihak atau memastikan lansia untuk
mendapatkan haknya, pelayanan yang layak, memperkuat otonomi klien
dalam pengambilan keputusan, dan mendidik orang lain mengenai stereotip
negative dari penuaan (Miller, 2012). Contoh kecilnya seperti menjelaskan
prosedur medis atau perawatan kepada anggota keluarga pada tingkat unit.
Selain itu, perawat juga dapat membantu anggota keluarga untuk memilih
panti werdha terbaik bagi anggota keluarga yang dicintainya atau

10
mendukung anggota keluarga yang berada dalam peran pengasuhan. Hal
yang perlu diingat, apapun situasinya peran advokator tidak berarti
membuat keputusan untuk lansia, tetapi memberdayakan mereka untuk
tetap independen dan bermartabat bahkan dalam situasi sulit sekalipun
(Stanley & Beare, 2006).
3. Perawat sebagai Edukator
Perawat yang berperan sebagai edukator memiliki kewajiban untuk
memberi informasi mengenai status kesehatan klien kepada klien serta
keluarga klien dan membantu klien mencapai perawatan diri sesuai
kemampuannya (Potter, Perry, Stockert & Hall, 2013). Hal ini dapat
dilakukan dengan cara menunjukkan prinsip, prosedur, dan teknik dalam
pemeliharaan kesehatan kepada lansia. Menurut Tabloski (2014), perawat
dapat melakukan edukasi mengenai beberapa hal kepada lansia seperti
deteksi penyakit, memberikan edukasi tentang penuaan yang sehat,
pengobatan terhadap penyakit, dan rehabilitasi kepada lansia serta
keluarganya. Selain itu, perawat edukator dapat juga berpartisipasi dalam
ranah pendidikan hingga memberikan pelatihan untuk perawat.

Memberikan edukasi kepada lansia menjadi tantangan tersendiri bagi


perawat. Hal ini dikarenakan lansia mengalami cognitive aging yang
mempengaruhi proses belajar (Miller, 2012). Sehingga, perawat perlu
menyesuaikan metode dan bahan edukasi agar edukasi yang diberikan
dapat dimengerti dengan baik oleh lansia. Apabila lansia tidak dapat di
berikan edukasi, maka edukasi diberikan kepada keluarganya. Namun, jika
lansia masih memiliki kognitif yang baik, terdapat lima hal yang perlu
dilakukan agar edukasi yang diberikan dapat dipahami dengan baik
menurut Miller (2012), antara lain:
1) Memberikan waktu yang cukup untuk lansia menyerap informasi,
artinya pemberian informasi dilakukan dengan tidak terburu-buru

11
2) Memberikan sejumlah kecil informasi dalam beberapa sesi, artinya tidak
diberikan banyak informasi pada satu pertemuan
3) Membuat rujukan kepada perawat untuk melakukan perawatan di rumah
dengan salah satunya follow up pengajaran yang diberikan
4) Membuat lingkungan pembelajaran nyaman dengan menghilangkan
berbagai hal yang dapat menjadi distraksi.
5) Mengaitkan informasi yang diberikan dengan pengalaman masa lalu
klien agar mudah diserap klien.
4. Perawat sebagai Manajer
Perawat sebagai manajer bertanggung jawab dalam memberikan
lingkungan yang positif serta profesional di rumah sakit atau komunitas
agar terwujudnya pelayanan yang berkualitas. Selain itu, perawat sebagai
manajer juga harus mampu memimpin dan mengelola tim klinis yang
dibentuk. Mauk (2014), mengemukakan bahwa perawat manajer dalam
keperawatan gerontik perlu memiliki kemampuan dalam beberapa hal
antara lain:
1) Membangun dan meningkatkan kemampuan serta keterampilan anggota
tim keperawatan gerontik. Dalam hal ini, seorang perawat gerontik
harus memiliki standar dalam memberikan asuhan keperawatan kepada
lansia. Standar tersebut antara lain, pengetahuan dan keterampilan untuk
menjaga kesehatan lansia, mencegah penyakit, mengelola penyakit
kronis yang kompleks, penurunan fungsi fisik dan mental, hingga
perawatan paliatif (ANA, 2010 dalam Touhy & Jett, 2014). Sehingga,
manajer perlu memfasilitasi pelatihan atau workshop agar kemamuan
anggota tim dapat meningkat
2) Menentukan prioritas dan tujuan yang realistis, dapat terukur serta
memiliki batasan waktu.
3) Membuat keputusan dalam menyelesaikan masalah baik masalah
internal antar anggota tim dan masalah klien.

12
4) Mendelegasikan tugas kepada seseorang yang dianggap dapat
menjalankan tugas dengan baik.
5) Mampu memberikan dorongan, arahan yang jelas, dan harapan terhadap
stafnya

5. Perawat sebagai Praktisi Independen


Praktisi independen artinya perawat melakukan praktik keperawatan secara
mandiri. Menurut Tabloski (2014), parameter praktik keperawatan dapat
berbeda di setiap negara namun perawat harus memiliki kode etik profesi
dan standar praktik keperawatan yang berlaku untuk menunjukkan
kompetensi perawat. Menurut Undang-Undang No. 38 tahun 2014, untuk
membuka praktik keperawatan mandiri, perawat harus memiliki Surat Izin
Praktik Perawat (SIPP) yang berlaku selama STR masih berlaku. Contoh
praktik mandiri dalam keperawatan gerontik ialah membuka praktik
perawatan luka, menerima kontrol perawatan untuk lansia, dan lain-lain.
6. Perawat sebagai Konselor
Perawat gerontik sebagai konselor bertugas membantu pasien
mengidentifikasi dan mengklarifikasi masalah kesehatan dan memilik
tindakan-tindakan yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut
(Potter, Perry, Stockert, & Hall, 2013). Contoh peran ini, yaitu perawat
membantu mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah kesehatan lansia
melalui konsultasi kesehatan berkelanjutan, membantu keluarga pasien
memutuskan apakah perlu lansia dimasukkan ke panti, memberikan arahan
terkait biaya perawatan lansia yang sesuai dengan kebutuhan dan lain-lain.
Seperti halnya pada peran sebagai advokator, seorang perawat konselor
tidak membuat keputusan untuk klien namun membiarkan klien memilih
keputusan terbaiknya.
7. Perawat sebagai Kolabolator

13
Kolaborasi atau bekerja dalam upaya gabungan dengan semua pihak yang
terlibat dalam perawatan perlu mengembangkan rencana yang dapat
diterima bersama demi tercapainya tujuan bersama (Potter, Perry, Stockert,
& Hall, 2013). Contoh peran ini, seperti praktisi perawat berada pada tim
perawatan berbasis rumah yang berkolaborasi dengan dokter untuk
memberikan layanan perawatan primer kepada pasien lansia yang berisiko
tinggi (Touhy & Jett, 2014).
8. Perawat sebagai Peneliti
Perawat peneliti adalah pemimpin dalam memperluas pengetahuan dalam
bidang keperawatan dan disiplin perawatan kesehatan lainnya. Tugas
mereka adalah memberikan bukti praktik untuk memastikan perawat
memiliki bukti terbaik untuk mendukung praktik mereka. Selain itu
perawat peneliti juga menyelidiki masalah untuk memperluas asuhan
keperawatan, mengurangi atau memperluas cakupan praktik keperawatan
(Potter, Perry, Stockert, & Hall, 2013). Contoh peran ini, yaitu perawat
mengembangkan penelitian mengenai metode perawatan yang cocok untuk
pasien lansia dengan penyakit kronik tertentu, membantu mengembangkan
teori keperawatan modern yang sesuai dengan kondisi saat ini, dan lain-
lain. Evidence Based Practice untuk Keperawatan Gerontik
2.2.3 Definisi evidence based practice
Menurut Greenberg & Pyle (2006) dalam Keele (2011), “Evidence-Based Practice
adalah penggunaan bukti untuk mendukung pengambilan keputusan di pelayanan
kesehatan”. Menurut Melnyk & Fineout-Overholt (2011) Evidence-Based Practice
in Nursing adalah penggunaan bukti ekternal, bukti internal (clinical expertise),
serta manfaat dan keinginan pasien untuk mendukung pengambilan keputusan di
pelayanan kesehatan.

Standar VII dari ANA Standar Kinerja Profesional Perawatan Keperawatan mandat
yang gerontologis perawat meningkatkan praktik keperawatan saat ini dan
kesehatan masa depan merawat orang dewasa yang lebih tua dengan berpartisipasi

14
dalam generasi, pengujian, pemanfaatan, dan evaluasi temuan penelitian
(ANA,2001). Standar ini mengharuskan perawat di tingkat praktik dasar untuk
mengajukan pertanyaan tentang perawatan orang dewasa yang lebih tua, untuk
berpartisipasi dalam studi untuk menjawab pertanyaan ini, dan menerapkan temuan
penelitian untuk meningkatkan perawatan klinis orang dewasa yang lebih tua.
Penting peran bagi perawat gerontologis adalah untuk memeriksa bukti dari tinjauan
literatur sistematis sehingga pendekatan terbaik untuk perawatan orang dewasa yang
lebih tua dapat dikembangkan (Houde, 2009).

Dalam beberapa tahun terakhir, sumber daya untuk pedoman berbasis bukti telah
meningkat secara eksponensial dan tersedia secara luas melalui situs internet yang
andal. Beberapa sumber daya luar biasa, seperti sebagai Cochrane Review dan
Joanna Briggs Institute, adalahtersedia hanya melalui organisasi keanggotaan, tetapi
banyak pedoman yang dapat dipercaya tersedia melalui agen nirlaba, lembaga
pendidikan, dan lembaga publik (mis., theNational Guideline Clearinghouse).
Yayasan Hartford untuk Geriatric Nursing menawarkan banyak sumber daya gratis
yang khusus menangani asuhan keperawatan berbasis bukti yang lebih tua orang
dewasa (tersedia di http://consultgerirn.org/resources). Bab-bab yang berorientasi
klinis dalam teks ini termasuk berbasis bukti praktik meringkas protokol berbasis
bukti terkait. Di Selain itu, bagian "Sumber" di bab akhir menyediakan informasi
tentang situs internet untuk pedoman berbasis bukti dan alat praktik klinis.

Peristiwa signifikan dalam pertumbuhan keperawatan gerontologis sebagai


spesialisasi:
1966 ANA membentuk Divisi Praktik Keperawatan Geriatri.
1974 Keperawatan Gerontologis adalah spesialisasi sertifikasi yang disetujui.
1975 Edisi pertama Journal of Gerontological Nursing menerbitkan.
1976 ANA mengubah nama Divisi Praktik Perawatan Geriatrik menjadi Divisi
Gerontologis Praktik Keperawatan dan menerbitkan Standar Praktik Keperawatan
Gerontologis pertama.

15
1980 Edisi pertama Geriatric Nursing menerbitkan.
1981 ANA menerbitkan Pernyataan tentang Ruang Lingkup Praktik Perawatan
Gerontologis.
1981 Yayasan Robert Wood Johnson mendirikan proyek Rumah Perawatan
Mengajar.
1983 Kursi Perawatan Gerontologis Florence Cellar Diberkahi didirikan di Case
Universitas Cadangan Barat.
1984 Asosiasi Perawat Gerontologi Nasional (NGNA) didirikan.
1987 isu-isu ANA menggabungkan Ruang Lingkup dan Standar Praktik
Keperawatan Gerontologis.
1992 John A Hartford Foundation mendanai inisiatif utama, Perawat Meningkatkan
Perawatan untuk Sistem Kesehatan Lansia (NICHE).
1996 Yayasan John A. Hartford mendirikan Institut Hartford untuk Kemajuan
Geriatrik Praktik Keperawatan (Hartford Institute) di New York University.
1997 Para pemimpin yang diakui secara nasional menerbitkan Agenda Nasional
untuk Pendidikan Geriatri yang merekomendasikan pendidikan wajib dalam
keperawatan gerontologis.
2001 ANA memperbarui Lingkup dan Standar Praktik Keperawatan Gerontologis.
2000 American Association of Colleges of Nursing (AACN) dan Institut Hartford
mempublikasikan kompetensi sarjana muda yang direkomendasikan.
2001 Yayasan John A. Hartford memberikan dana kepada AACN untuk
memperkuat konten gerontology di sekolah keperawatan.
2002 Nurse Reinvestment Act menyediakan dana federal untuk pendidikan
keperawatan gerontologis.
2002 Nurse Competence in Aging, sebuah inisiatif 5 tahun, didirikan melalui aliansi
ANA, Pusat Kredensial Perawat Amerika, dan Institut Hartford.
2004 AACN menerbitkan kompetensi untuk praktik lanjutan keperawatan
gerontologis.
2007 Yayasan John A. Hartford mendanai enam sesi pendidikan regional, yang
dilatih lebih dari 800 anggota fakultas keperawatan pada tahun 2009.

16
2007 Hartford Institute dan American Journal of Nursing berkolaborasi pada
serangkaian 28 artikel dan video tentang topik yang berkaitan dengan perawatan
berbasis bukti dari orang dewasa yang lebih tua.
2009 Lima puluh lima asosiasi keperawatan khusus bekerja sama dengan Hartford
Institute untuk mempromosikan perawatan optimal untuk orang dewasa yang lebih
tua.
2008 Institute of Medicine menerbitkan Retooling for a Aging America yang
menyerukan peningkatan kompetensi geriatrik dari seluruh tenaga kesehatan. Pada
tahun 1993, Pusat Penelitian Keperawatan berusia 7 tahun diangkat menjadi status
lembaga nasional dalam Institut Kesehatan Nasional (NIH). Institut Nasional of
Nursing Research (NINR) mendukung penelitian multidisiplin tentang pendekatan
inovatif untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit, meminimalkan
efek akut dan kronis penyakit dan kecacatan, dan mempercepat pemulihan dari
penyakit. Sejak tahun 2000, NINR telah mendanai penelitian keperawatan di topik
yang berkaitan dengan orang dewasa yang lebih tua, termasuk masalah pemberian
perawatan, fungsi independen, kualitas hidup, manajemen penyakit kronis, dan
perawatan di rumah dan panti jompo. Nursing Knowledge International, anak
perusahaan nirlaba dari Sigma Theta Tau International (masyarakat kehormatan
keperawatan), adalah organisasi keperawatan lain yang didedikasikan untuk
mendukung pengetahuan berbasis bukti yang terkait dengan asuhan keperawatan.

 Manfaat evidence based practice


1. Menjadi jembatan antara penelitian dan praktik
2. Mengeliminasi penelitian dengan kualitas penelitian yang buruk
3. Mencegah terjadinya informasi yang overload terkait hasilhasil penelitian
4. Mengeliminasi budaya “practice which is not evidence based”

 Tujuh Langkah dalam evidence based practice


1. Menumbuhkan semangat menyelidiki
2. Menanyakan pertanyaan klinik dengan menggunakan PICO/PICOT format

17
3. Mencari dan mengumpulkan bukti-bukti (artikel penelititan) yang paling
relevan dengan PICO/PICOT
4. Melakukan penilaian critis terhadap bukti-bukti (artikel penelititan)
5. Mengintegrasikan bukti-bukti (artikel penelititan) terbaik dengan salah satu
ahli di klinik serta memperhatikan keinginan dan manfaatnya bagi pasien
dalam membuat keputusan atau perubahan
6. Mengevaluasi outcome dari perubahan yang telah diputuskan berdasarkan
bukti-bukti
7. Menyebarluaskan hasil dari EBP

2.3 Perkembangan Keperawatan Gerontik


Sejarah dan perkembangan keperawatan gerontologis kaya akan keanekaragaman dan
pengalaman, seperti halnya populasi yang dilayaninya. Tidak pernah ada waktu yang lebih
tepat daripada sekarang untuk menjadi perawat gerontologis .Tidak peduli di mana perawat
berlatih, mereka pada suatu waktu akan menjalani perawatan karier untuk orang dewasa
yang lebih tua. Perawat harus mengakui keperawatan gerontologis sebagai spesialisasi dan
menggunakan ilmu dalam spesialisasi ini untuk memandu praktik mereka.

Berikut perkembangan keperawatan gerontologi:

Asosiasi Perawat Gerontologi Nasional (NGNA), Jurnal Keperawatan Amerika, Asosiasi


Perawat Amerika (ANA), Sigma eta Tau International (STTI), dan Institut Yayasan John A.
Hartford untuk Perawatan Geriatri di New York University berkontribusi secara signifikan
terhadap pengembangan spesialisasi keperawatan gerogikal. Spesialisasi secara resmi
diakui pada awal 1960-an ketika ANA merekomendasikan kelompok khusus untuk perawat
geriatri dan pembentukan divisi keperawatan geriatri, dan mengadakan pertemuan
keperawatan nasional pertama tentang praktik keperawatan geriatri.

Pada awal 1970-an, Standar ANA untuk Praktik Geriatri dan Jurnal Keperawatan
Gerontologis pertama kali diterbitkan.

18
Pada tahun 1976, Divisi Keperawatan Geriatri ANA mengubah namanya menjadi Divisi
Keperawatan Gerontologis dan menerbitkan Standar Keperawatan Organik (Ebersole &
Touhy, 2006; Meiner, 2011).Dekade 1980-an menyaksikan pertumbuhan substansial dalam
keperawatan gerontologis ketika NGNA didirikan, bersamaan dengan dikeluarkannya
pernyataan ANA yan g direvisi tentang Ruang Lingkup dan Standar Praktik Keperawatan
Gerontologis.

Pada tahun 2003, upaya kolaboratif dari John A. Hartford Institute for Geriatric Nursing,
American Academy of Nursing, dan American Association of Colleges of Nursing (AACN)
mengarah pada pengembangan Hartford Geriatric Nursing Initiative (HGNI). adalah
inisiatif yang secara substansial meningkatkan jumlah ilmuwan perawat gerontologis dan
pengembangan praktik keperawatan gerontologis berbasis bukti.

Pada 2008, Masyarakat Kehormatan Keperawatan, Sigma eta Tau International (STTI),
mengakui kemampuan perawat untuk memengaruhi praktik dan hasil pasien dalam
perawatan kesehatan geriatik dan mengembangkan Akademi Keperawatan Kepemimpinan
Geriatrik (GNLA).

Pada tahun 2009, Konsorsium Pendidikan Keperawatan Geriatrik (GNEC) didirikan oleh
AACN dan didanai oleh John A. Hartford Foundation untuk meningkatkan konten
keperawatan gerontologis dalam kursus keperawatan sarjana tingkat senior. Agar berhasil
memasukkan konten ke dalam kurikulum, fakultas harus dididik dan memiliki konten
gerontologis berbasis bukti yang dapat diakses, akses ke sumber daya, dan dukungan dari
rekan keperawatan gerontologis profesional.

Advance Care Excellence for Lansia (ACES) didirikan pada 2010 dan dikembangkan
melalui kemitraan antara National League for Nursing (NLN) dan Community College of
Philadelphia

Diterapkan melalui NLN, program pengembangan fakultas keperawatan ini telah


meningkatkan dan memberdayakan fakultas untuk mengajarkan konten keperawatan
gerontologis untuk mahasiswa keperawatan sarjana

19
Pengembangan keperawatan gerontologis sebagai spesialisasi dikaitkan dengan sejumlah
perintis keperawatan. Sebagian besar perawat ini berasal dari Amerika Serikat; namun, dua
pelopor utama berasal dari Inggris. Florence Nightingale dan Doreen Norton.

2.4 Pengertian Lansia dan Batasan Usia dari Beberapa Ahli/Sumber


2.4.1 Pengertian
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan
manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 Tahun 1998
tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah
mencapai usia lebih dari 60 tahun (Maryam dkk, 2008)

Berdasarkan defenisi secara umum, seseorang dikatakan lanjut usia (lansia) apabila
usianya 65 tahun ke atas. Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap
lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan
tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan. Lansia adalah keadaan yang
ditandai oleh kegagalan seseorang untuk mempertahankan keseimbangan terhadap
kondisi stres fisiologis. Kegagalan ini berkaitan dengan penurunan daya
kemampuan untuk hidup serta peningkatan kepekaan secara individual (Efendi,
2009)

Penetapan usia 65 tahun ke atas sebagai awal masa lanjut usia (lansia) dimulai pada
abad ke-19 di negara Jerman. Usia 65 tahun merupakan batas minimal untuk
kategori lansia. Namun, banyak lansia yang masih menganggap dirinya berada pada
masa usia pertengahan. Usia kronologis biasanya tidak memiliki banyak keterkaitan
dengan kenyataan penuaan lansia. Setiap orang menua dengan cara yang berbeda-
beda, berdasarkan waktu dan riwayat hidupnya. Setiap lansia adalah unik, oleh
karena itu perawat harus memberikan pendekatan yang berbeda antara satu lansia
dengan lansia lainnya (Potter & Perry, 2009).

20
Lansia dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia.
Menurut UU No. 13/Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia disebutkan bahwa
lansia adalah seorang yang telah mencapai lebih dari 60 tahun.
2.4.2 Klasifikasi lansia
 Depkes RI mengklasifikasikan lansia dalam kategori berikut :
1. Paralansia (prasenilis) seseorang yang berusia 45-95th
2. Lansia, seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih
3. Lansia berisiko tinggi,seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih /seseorang
yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.
4. Lansia potensial,lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/atau
kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa.
5. Lansia tidak potensial, lansia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga
hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.
 Klasifikasi lansia menurut WHO :
1. Elderly : 60-74 tahun
2. Old : 75-89 tahun
3. Very old : >90 tahun
2.5 Berbagai Setting Perawatan Kesehatan Bagi Lansia
2.5.1 Acute Care Setting
 Pengaturan Perawatan Akut ( Acute Care Setting )
Pengaturan perawatan akut adalah bagian penting dari rangkaian perawatan
karena kompleksitas perawatan yang terkait dengan kebutuhan pada orang
dewasa yang lebih tua (seperti dibahas secara rinci dalam Bab 27). Menanggapi
meningkatnya pengakuan akan kebutuhan untuk layanan geriatri khusus,
banyak pengaturan perawatan akut telah menerapkan model perawatan inovatif,
seperti dibahas dalam bagian berikut.

Unit Perawatan Akut Geriatrik Khusus Sejak awal 1980-an, rumah sakit di
Amerika Serikat telah membangun unit penilaian geriatri yang komprehensif
untuk memberikan penilaian multidisiplin dan perencanaan perawatan untuk

21
orang dewasa lanjut usia yang lemah. Program-program ini menjadi lebih luas
selama awal 2000-an dan ditetapkan sebagai unit perawatan akut untuk orang
tua (ACE). Dasar yang mendasari untuk unit ini adalah bahwa orang dewasa
yang lebih tua memiliki kebutuhan yang kompleks dan unik yang dapat
ditangani oleh tim multidisiplin terlatih khusus untuk mencegah definisi
fungsional selama rawat inap. Sebuah meta-analisis dari 11 studi unit ACE
menunjukkan bahwa dibandingkan dengan pasien yang menerima perawatan
rumah sakit biasa, mereka yang menerima perawatan di unit ACE memiliki
penurunan 18% dalam penurunan fungsional dan kesempatan yang lebih baik
untuk tinggal di rumah setelah pulang (Baztan, Suarez -Garcia, Lopez-Arrieta,
Rodrigues-Manas, &Rodrigues-Artalejo, 2009). Selain manfaat ini, penelitian
menemukan bahwa unit ACE dapat mengurangi lama tinggal di rumah sakit
(Zelada, Salinas, &Baztan, 2009).
Elemen kunci dari unit ACE adalah manajemen tim interdisipliner, asuhan
keperawatan yang berpusat pada pasien, perencanaan kepulangan awal,
lingkungan fisik yang disesuaikan secara khusus, dan penilaian dan intervensi
untuk sindrom geriatri umum (misalnya, mobilitas, risiko jatuh, perawatan diri,
integritas kulit , kelanjutan, kebingungan, depresi, kecemasan). Selain perawat
gerontologis, tim perawatan kesehatan di unit ACE biasanya termasuk ahli
geriatrik, apoteker, pekerja sosial, berbagai terapis rehabilitasi (misalnya, ahli
terapi bicara, fisik, atau pekerjaan), dan profesional kesehatan mental
(misalnya, psikolog atau psikiater). Beberapa tim juga termasuk manajer
perawatan geriatrik dan musik, aktivitas, atau terapis hortikultura.
Meskipun kurang dari 10% rumah sakit telah menerapkan strategi untuk
mengatasi masalah kualitas perawatan untuk pasien yang lebih tua sebelum
2008, dukungan untuk program khusus adalah melalui program seperti Perawat
Meningkatkan Perawatan untuk Penatua Sistem Kesehatan (NICHE), seperti
dijelaskan dalam Bab 5 (Capezuti , 2008). Sejak Oktober 2008, Pusat Layanan
Medicare&Medicaid (CMS) telah memberikan insentif keuangan untuk
meningkatkan kualitas perawatan di rumah sakit karena mereka menolak

22
pembayaran untuk kondisi tertentu yang diperoleh di rumah sakit yang
dianggap dapat dicegah. Tiga kondisi yang termasuk dalam kategori ini adalah
cedera akibat jatuh, tahap ulkus tekan III dan IV dan infeksi saluran kemih
terkait kateter. Kondisi ini secara tidak proporsional mempengaruhi orang
dewasa yang lebih tua. Perawat dalam pengaturan perawatan akut dapat
mengidentifikasi faktor risiko untuk penurunan fungsional dengan
menggunakan alat klinis Profil Risiko Penerimaan Rumah Sakit (HARP),
terdaftar sebagai alat klinis diakhir bab ini. Selain unit ACE dan inisiatif
NICHE, Capezuti dan Brush (2009)/mengidentifikasi model inovatif berikut
yang terbukti meningkatkan perawatan orang dewasa yang dirawat di rumah
sakit:
1. Hospital Elder Life Program (HELP): berfokus pada identifikasi dan
pengelolaan delirium di orang dewasa yang lebih tua dirawat di rumah
sakit
2. Unit fungsi ganda yang memberikan perawatan paliatif dalam unit ACE e
3. Geriatri dan ortopedi co-manajemen pasien dengan pinggul retak
4. Program yang meminimalkan waktu pasien yang lebih tua dalam operasi
melalui protokol standar
5. Tim trauma khusus yang terdiri dari ahli geriatri dan praktik lanjut
gerontologis perawat atau tim konsultasi unit Geriatri-onkologi.
 Unit Perawatan Subakut
Unit perawatan subakut adalah perkembangan lain baru-baru ini dalam
pengaturan perawatan akut yang menangani kebutuhan medis yang kompleks
dari orang dewasa yang dirawat di rumah sakit. Program-program ini
menyediakan perawatan yang terampil dan layanan perawatan terampil lainnya
untuk pasien yang membutuhkan rehabilitasi menyeluruh setelah episode
perubahan kesehatan utama, seperti stroke atau bedah ortopedi. Layanan dalam
program perawatan subakut meliputi kemoterapi; terapi intravena; perawatan
luka yang kompleks; nutrisi enteral dan parenteral; terapi bicara, fisik, dan

23
pekerjaan; dan manajemen perawatan pernapasan kompleks (mis., ventilator,
trakeostomi).
Model Rumah Sakit di Rumah Model rumah sakit di rumah adalah di tahun
1990-an sebagai langkah pemotongan biaya dalam menanggapi meningkatnya
permintaan untuk penerimaan rumah sakit. Program multidisiplin ini
memberikan layanan khusus yang membutuhkan partisipasi aktif oleh para
profesional perawatan kesehatan untuk waktu yang terbatas. Jenis model rumah
sakit di rumah termasuk yang memfasilitasi pemulangan dini dari pengaturan
perawatan akut dan yang menggantikan seluruhnya untuk rawat inap. Kondisi
yang ditangani melalui model-model ini termasuk selulitis, pneumonia, terapi
infus, perawatan jantung kronis pasca bedah, dan penyakit paru obstruktif
kronik. Sebuah analisis dari 10 uji acak menemukan bahwa pada 3 bulan tidak
ada perbedaan yang signifikan dalam kematian untuk pasien yang menerima
perawatan di rumah tetapi pada 6 bulan tingkat kematian secara signifikan lebih
rendah untuk pasien tersebut (Shepperdetal., 2009). Temuan tambahan
Shepperd dan rekan adalah bahwa program ini lebih murah daripada masuk dan
pasien melaporkan lebih banyak kepuasan. Sebuah studi lain dari empat
program rumah sakit di rumah menemukan bahwa peserta mengalami
peningkatan sederhana dalam kegiatan sehari-hari (ADL), sedangkan pasien
yang menerima perawatan rumah sakit untuk masalah yang sama mengalami
penurunan ADL (Leff, 2009). Meskipun studi telah mengidentifikasi
keuntungan yang jelas untuk model ini, ia telah menerima sedikit dukungan
dari program asuransi kesehatan di Amerika Serikat dan telah berada di Eropa
selamahanya diadopsi oleh sistem kesehatan Urusan Veteran dan beberapa
sistem perawatan terkelola (Cheng, Mantalto, & Leff, 2009).
 Model Perawatan Peralihan
Konsep perawatan peralihan diperkenalkan selama 1990-an dengan mengacu
pada unit khusus di rumah sakit yang sekarang disebut unit perawatan subakut.
Istilah ini sekarang diterapkan pada berbagai layanan dan pengaturan yang
dirancang untuk mempromosikan pergerakan pasien yang aman dan tepat

24
waktu melalui berbagai pengaturan perawatan (Naylor&Keating, 2008). Tujuan
utama perawatan transisi adalah untuk menyediakan koordinasi dan kontinuitas
perawatan kesehatan di berbagai pengaturan (Graham, Ivey, &Neuhauser,
2009) Perawatan transisi dari pengaturan perawatan akut telah mendapatkan
banyak perhatian dalam beberapa tahun terakhir karena meningkatnya
kekhawatiran tentang seringnya kunjungan kembali ke rumah sakit segera
setelah keluar di antara penerima Medicare. Sebuah survei sistem perawatan
kesehatan di Amerika Serikat dan tujuh negara maju lainnya menemukan
bahwa tingkat penerimaan kembali rumah sakit dalam waktu singkat setelah
pemutusan masalah di semua negara dan ini ditafsirkan sebagai risiko
kesehatan terkait dengan perawatan yang tidak memadai selama perawatan di
rumah sakit dan transisi ke rumah. (Schoen, Osborn, How, Doty, &Peugh,
2009). Studi telah mengkonfirmasi bahwa banyak dari rawat inap ini dapat
dicegah jika ada sistem untuk mengatasi masalah mendasar yang berkontribusi
pada readmissions (Greenwald& Jack, 2009). Studi juga telah menemukan
bahwa dua masalah yang paling sering terjadi selama transisi adalah gangguan
pengobatan dan kurangnya kesinambungan perawatan (Boling, 2009).
 Program Debit Rumah Sakit Rekayasa Ulang (RED)
adalah model berbasis bukti yang telah digunakan rumah sakit dengan sukses
untuk mengatasi masalah yang terkait dengan perawatan transisi. Pasien yang
tergabung dalam kelompok intervensi RED adalah 30% lebih kecil
kemungkinannya untuk diterima kembali atau menggunakan ruang gawat
darurat dalam waktu 30 hari setelah pulang, dan biaya perawatan mereka adalah
34% lebih rendah daripada pasien yang menerima perawatan biasa (Jack etal. .,
2009). Tiga komponen utama dari model ini adalah sebagai berikut:
1. advokat kepulangan perawat yang tanggung jawab utamanya adalah
mengoordinasikan rencana pemulangan dan berkomunikasi dengan pasien /
keluarga dan semua penyedia perawatan;

25
2. dokumen rencana perawatan setelah rumah sakit yang berpusat pada
pasien, tingkat melek huruf yang rendah, dan sangat bergambar yang
mencakup semua informasi terkait; dan
3. tindak lanjut melalui telepon oleh seorang apoteker klinis 3 hari pasca-
pengucilan untuk pengajaran dan tindak lanjut. Perawat telah
mengembangkan alat skrining yang mudah digunakan dan berbasis bukti
yang disebut Kriteria Penyaringan Pemulangan Rumah Sakit Model
Perawatan Transisi (TCM) untuk Orang Dewasa Lansia Berisiko Tinggi
untuk mengidentifikasi orang dewasa yang lebih tua yang berisiko untuk
transisi yang tidak dikelola dengan baik. Studi menunjukkan bahwa
penggunaan alat ini perawat menghasilkan peningkatan hasil pasien dan
penurunan substansial dalam biaya perawatan kesehatan (Bixby&Naylor,
2009) Alat ini tersedia sebagai bagian dari seri Try This dari Hart-
fordInstituteforGeriatricNursing. dan terdaftar sebagai alat klinis pada akhir
bab ini. Perawat didorong untuk menggunakan alat ini untuk
mengidentifikasi orang dewasa yang membutuhkan perhatian khusus untuk
intervensi perawatan transisi. Perawat dapat memastikan bahwa pasien /
keluarga memiliki informasi tentang semua masalah yang muncul berikut
dan diagnosis akhir; debit medica-tions, termasuk jadwal, tujuan dan
peringatan untuk masing-masing, dan perubahan dari penerimaan; janji
tindak lanjut; masalah yang diantisipasi dan intervensi yang disarankan;
Panggilan balik 24/7, dan semua penyedia perawatan (Podrazik&Whelan,
2008).
 Peran untuk Perawat Gerontologis dalam Pengaturan Perawatan Akut
Karena pengaturan perawatan akut telah mengembangkan program untuk
mengatasi kebutuhan unik pasien yang lebih tua yang dirawat di rumah sakit,
peran baru telah muncul untuk perawat gerontologis. Perawat gerontologis
cenderung berfungsi sebagai konsultan dan panutan bagi perawat staf dan
sering membantu dalam mengembangkan dan menerapkan program perawatan
khusus dan protokol untuk orang dewasa yang dirawat di rumah sakit. Institut

26
Keperawatan Geriatrik Hartford telah mendukung dan mempromosikan model
Geriatric Resource Nurse (GRN) sebagai landasan untuk meningkatkan
perawatan geriatri di rumah sakit. Model berbasis unit ini mempersiapkan
perawat staf sebagai sumber daya klinis gerontologis untuk perawat lain
sehingga mereka dapat mengidentifikasi dan mengatasi sindrom geriatri
spesifik, seperti jatuh dan kebingungan, dan menerapkan intervensi yang
mencegah menggunakan perangkat restriktif dan meningkatkan mobilitas
pasien (Capezuti, 2008) . Rujuk ke www.nicheprogram.org untuk informasi
tentang model GRN.
2.5.2 Nursing Home Setting
 Pengaturan rumah keperawatan
Istilah panti jompo, atau fasilitas keperawatan, mengacu pada pengaturan
kelembagaan perumahan bagi orang-orang yang membutuhkan bantuan dengan
beberapa ADL. Rumah jompo dilisensikan oleh negara bagian atau badan
federal dan harus disertifikasi sebagai fasilitas Medicare atau Medicaid jika
mereka menerima dana dari program ini. Rumah jompo diharuskan untuk
memiliki pengawasan terus menerus di tempat oleh perawat terdaftar atau
perawat praktis berlisensi. Selain perawatan medis dan layanan keperawatan,
panti jompo harus menyediakan perawatan gigi, podiatri, konsultasi khusus
medis, dan terapi rehabilitasi (mis., Terapi fisik dan pekerjaan). Panti jompo
menyediakan banyak layanan perawatan kesehatan yang sama yang disediakan
di tempat perawatan akut; namun, penerima perawatan disebut penghuni
daripada pasien karena ini adalah fasilitas tempat tinggal. Tingkat Perawatan di
Rumah Perawatan
Perawatan di rumah jompo pada umumnya dikategorikan sebagai keterampilan
(biasanya jangka pendek) atau perawatan menengah (biasanya jangka panjang).
Agar memenuhi syarat untuk perawatan di rumah jompo yang terampil
(kadang-kadang disebut perawatan rehabilitasi terampil), orang harus
memenuhi kriteria Medicare berikut:

27
1. Memiliki rawat inap setidaknya 3 hari berturut-turut dalam 30 hari
sebelumnya untuk kondisi medis yang terkait dengan kebutuhan perawatan
terampil
2. Minta rujukan dokter untuk layanan yang harus disediakan oleh profesional
berlisensi, seperti perawat atau terapis
3. Memerlukan perawatan terampil setiap hari yang dapat diberikan secara
tepat di fasilitas perawatan terampil bersertifikasi Medicare Untuk orang
yang memenuhi kriteria untuk perawatan di fasilitas perawatan terampil,
Medicare akan mencakup semua atau sebagian dari perawatan hingga 100
hari perawatan, tetapi hanya jika orang tersebut terus membutuhkan tingkat
layanan terampil.
Meskipun banyak orang dewasa yang lebih tua memerlukan perawatan terampil
ketika mereka dikeluarkan dari pengaturan perawatan akut, mereka hanya
menerima rata-rata sekitar 23 hari layanan yang tercakup dalam Medicare
karena mereka tidak memenuhi kriteria untuk 100 hari penuh yang mungkin
tercakup. Diagnosis khas yang terkait dengan perawatan di rumah jompo yang
terampil adalah stroke, patah tulang pinggul, gagal jantung kongestif, dan
rehabilitasi setelah penyakit akut (mis., Pneumonia, infark miokard).
Harapannya adalah bahwa orang tersebut akan dapat maju ke tingkat fungsi
yang lebih tinggi dan menunjukkan beberapa pemulihan dari episode akut.
Perawatan rumah jompo menengah mengacu pada layanan keperawatan yang
disediakan untuk orang sakit kronis yang membutuhkan bantuan dengan
kegiatan sehari-hari. Dalam beberapa tahun terakhir, ada peningkatan fokus
pada rehabilitasi, atau perawatan restoratif, untuk orang yang sakit kronis yang
menerima perawatan di rumah jangka panjang. Sebagai contoh, perawat telah
mengembangkan program rehabilitasi keperawatan yang komprehensif sebagai
model untuk mempromosikan fungsi fisik penghuni panti jompo yang cukup
lemah pasca perawatan di rumah sakit (Grando et al., 2009). Sejak akhir 1980-
an, pemerintah federal telah mengamanatkan bahwa fasilitas keperawatan
memberikan perawatan restoratif, yang merupakan pendekatan yang membantu

28
penduduk mengkompensasi gangguan fungsional sehingga kemampuan mereka
tidak menurun. Masuk ke Perawatan Jangka Panjang Gerontolog telah
mengidentifikasi alasan orang tua dirawat di panti jompo untuk perawatan
jangka panjang. Berbeda dengan penerimaan untuk asuhan keperawatan
terampil yang berhubungan dengan rawat inap, penerimaan ini biasanya terjadi
setelah periode penurunan bertahap dalam fungsi karena kondisi kronis, seperti
demensia. Studi menunjukkan bahwa keterbatasan fungsional yang lebih parah,
gangguan kognitif, dan perilaku bermasalah pada orang dengan demensia
adalah prediktor masuk ke fasilitas keperawatan untuk perawatan jangka
panjang (Cho, Zarit, & Chiriboga, 2009). Faktor-faktor tambahan yang
meningkatkan kemungkinan dirawat di panti jompo termasuk ras kulit putih,
jenis kelamin perempuan, hidup sendiri, usia lanjut, dan status sosial ekonomi
rendah (Martikainen et al., 2009). Sejak 1970-an, gerontologis telah mengakui
bahwa masuk ke panti jompo untuk perawatan jangka panjang ditentukan tidak
hanya oleh tingkat fungsi seseorang tetapi juga oleh ketersediaan pengasuh
yang mampu dan mau. Dengan demikian, banyak orang tua pindah ke panti
jompo bukan karena kondisinya telah berubah secara signifikan, tetapi karena
telah terjadi perubahan dalam ketersediaan atau kemampuan pengasuh.
 Tren Perawatan di Rumah Perawatan
Dalam beberapa dekade terakhir, perubahan layanan perawatan kesehatan
untuk orang dewasa yang lebih tua telah secara signifikan memengaruhi jangka
panjang dan pendekistilah panti jompo. Pada hari tertentu, sekitar 5% orang
dewasa yang lebih tua tinggal di fasilitas perawatan; namun, hampir setengah
dari orang yang berusia lebih dari 65 tahun cenderung menghabiskan beberapa
waktu di panti jompo. Statistik ini mencerminkan tren utama berikut dalam
perawatan kesehatan untuk orang dewasa yang lebih tua di Amerika Serikat:
1. Masa rawat inap yang lebih pendek dan meningkatnya penggunaan
perawatan terampil dan rehabilitasi di rumah jompo
2. Persentase lebih tinggi dari penghuni panti jompo yang kembali ke
pengaturan komunitas

29
3. Meningkatnya penggunaan layanan perawatan di rumah yang terampil
4. Meningkatnya ketersediaan fasilitas hidup berbantuan dan layanan
perawatan jangka panjang berbasis masyarakat yang menggantikan
perawatan di rumah jompo
Karena tren ini, sebagian besar panti jompo menyediakan kombinasi layanan
perawatan terampil untuk penghuni jangka pendek dan layanan perawatan
lanjutan untuk penghuni jangka panjang. Karena perawatan terampil yang
disediakan di panti jompo saat ini mirip dengan perawatan yang dulu diberikan
kepada pasien di rumah sakit, penghuni sering dapat tinggal di fasilitas
keperawatan selama penyakit akut daripada dirawat di rumah sakit. Hasil lain
dari tren ini adalah bahwa persentase penduduk jangka panjang yang lebih
tergantung pada bantuan dengan ADL secara bertahap meningkat dalam
beberapa tahun terakhir, karena orang-orang yang kurang tergantung sekarang
menerima perawatan di pengaturan lain, seperti fasilitas hidup berbantuan.
Perkembangan terakhir dalam pengaturan perawatan jangka panjang adalah
pembentukan unit perawatan khusus (SCU), yang merupakan unit terpisah yang
dirancang untuk memenuhi kebutuhan kelompok penduduk tertentu yang
memenuhi kriteria penerimaan eksplisit. Lebih dari 3000 panti jompo memiliki
SCU, yang menyumbang sekitar 7% dari semua tempat tidur (Burger et al.,
2009). Unit perawatan demensia, atau unit Alzheimer, adalah jenis SCU yang
umum; jenis lain adalah AIDS, perawatan subakut, onkologi, tergantung
ventilator, ulkus tekan, dan unit cedera otak traumatis. Staf SCU menerima
pelatihan khusus, dan rencana perawatan memenuhi kebutuhan unik penghuni.
Program dukungan dan pendidikan sering disediakan untuk penduduk dan
keluarga. Unit atau program perawatan demensia semakin banyak tersedia di
panti jompo dan fasilitas hidup berbantuan.
 Peran untuk Perawat Gerontologis dalam Pengaturan Rumah Jompo
Perawat selalu mengasumsikan peran kepemimpinan yang kuat di panti jompo
dan pengaturan perawatan jangka panjang lainnya, dan peluang untuk perluasan
peran terkait dengan meningkatnya kompleksitas perawatan. Juga, karena fokus

30
pada peningkatan kualitas perawatan di pengaturan panti jompo, perawat
memiliki banyak peluang untuk menerapkan perubahan inovatif dalam
pemberian perawatan. Rata-rata, perawat terdaftar menyediakan 6 jam sehari
perawatan langsung untuk setiap rumah panti jompo, tetapi mereka
bertanggung jawab untuk semua komponen perawatan keperawatan (Burger et
al., 2009). Beberapa peran paling umum untuk perawat terdaftar dalam
pengaturan perawatan jangka panjang termasuk pemimpin tim, supervisor
keperawatan, perawat kesehatan, direktur keperawatan, dan asisten direktur
keperawatan. Perawat juga memiliki peran yang sangat kuat dalam mengajar
asisten perawat tentang perawatan terbaik bagi penghuni panti jompo. Perawat
telah mengembangkan model untuk mengajar asisten perawat bagaimana
menerapkan pendekatan restoratif untuk mengubah cara perawatan disediakan
di panti jompo (Resnick et al., 2009). Inisiatif yang dipimpin oleh perawat di
seluruh negara bagian untuk meningkatkan perawatan di fasilitas keperawatan
menghasilkan peningkatan dalam semua indikator kualitas berikut: jatuh,
penurunan berat badan, borok tekanan, dan status sulit tidur (Rantz et al.,
2009).
Pada akhir 1990-an, banyak peluang terbuka bagi praktik perawat gerontologis
tingkat lanjut ketika Medicare dan Medicaid mulai mengganti biaya untuk
layanan praktisi perawat. Selain merawat langsung penghuni, perawat praktik
lanjutan dapat memberikan pendidikan staf, membantu pengembangan
program, bertindak sebagai konsultan dalam perencanaan dan menerapkan
perawatan, membentuk kelompok pendukung untuk klien dan keluarga, dan
bertindak sebagai advokat untuk klien dan keluarga mereka.
Selama dua dekade terakhir, konsumen perawatan kesehatan, penyedia, dan
organisasi semakin berfokus pada kekhawatiran tentang kualitas perawatan dan
kualitas hidup bagi orang-orang yang membutuhkan perawatan jangka panjang.
Fokus ini sebagian berasal dari tekanan konsumen yang dimulai selama tahun
1970-an melalui Koalisi Warga Nasional untuk Reformasi Rumah Perawatan
dan, sebagian, dari Undang-Undang Reformasi Rumah Perawatan tahun 1987

31
(dibahas dalam Bab 9). Pada saat yang sama, ada kekhawatiran yang meningkat
tentang biaya perawatan di rumah perawatan tradisional dan minat terkait
dalam mengembangkan alternatif yang lebih murah dan berkualitas lebih baik.
Karena kekhawatiran ini, era baru dalam perawatan di rumah jompo telah
berkembang. Ini disebut sebagai gerakan perubahan budaya.
Gerakan Perubahan Budaya Istilah perubahan budaya, yang diciptakan pada
tahun 1997, sekarang banyak digunakan untuk menggambarkan gerakan besar
menuju serangkaian reformasi fundamental yang lambat dan komprehensif
dalam cara rumah perawatan memberikan perawatan (Rahman & Schnelle,
2008). Tujuan utama dari perubahan budaya adalah untuk mengubah filosofi
dan praktik di panti jompo dari penekanan berlebihan pada keselamatan,
keseragaman, dan perawatan medis menjadi fokus yang diarahkan konsumen
pada promosi kesehatan, kualitas hidup, dan perawatan individual (Robinson
&Reinhard, 2009 ; White-Chou, Graves, Godfrey, Bonner, & Sloane, 2009).
Istilah perawatan yang berpusat pada penduduk sering digunakan dengan
pendekatan ini untuk menekankan pilihan pribadi, perawatan individual, dan
kualitas hidup bagi penghuni fasilitas perawatan jangka panjang.
Gerakan perubahan budaya telah mendapatkan momentum, tidak hanya di
sektor swasta tetapi juga di sektor publik. Sebagai contoh, CMS menerbitkan
alat belajar mandiri, yang disebut Artifacts of Culture Change Tool, untuk
membantu panti jompo menilai kemajuan mereka menuju peningkatan kualitas
perawatan. Selain itu, CMS membantu meluncurkan koalisi publik-swasta
sukarela pada tahun 2006, yang disebut Advancing Excellence di Nursing
Homes Amerika, untuk mengatasi masalah kualitas perawatan. Koalisi ini telah
melaporkan kemajuan besar dalam mengurangi penggunaan pengekangan,
mengurangi risiko borok tekan, dan meningkatkan manajemen nyeri untuk
penghuni panti jompo.
Pada tahun 2009, CMS mengeluarkan pedoman untuk surveyor panti jompo
yang mempertajam fokus pada hak-hak warga di bidang-bidang utama
termasuk memastikan martabat, menawarkan pilihan dalam perawatan dan

32
layanan, mengakomodasi lingkungan untuk kebutuhan dan preferensi individu,
dan menciptakan lingkungan seperti rumah bagi penduduk dan pengunjung.
Untuk laporan dan sumber daya dari Advancing Excellence in America's
Nursing Home, lihat bagian Sumber Daya Pendidikan Kesehatan di akhir bab
ini. Bukti untuk Hasil Positif Dengan Perubahan Budaya Karena gerakan
perubahan budaya adalah perkembangan yang relatif baru, para peneliti belum
membangun basis bukti yang kuat terkait dengan biaya dan kualitas perawatan.
Satu review penelitian mengidentifikasi 16 studi deskriptif yang mengevaluasi
model perubahan budaya dan mencatat bahwa 3 studi dengan sampel yang
lebih besar dan desain quasi-eksperimental menemukan perbaikan positif dalam
resident, staf, dan hasil organisasi (Burger et al., 2009). Dengan meningkatnya
minat dalam perubahan budaya, ada peningkatan yang bersamaan dalam
mengidentifikasi hasil intervensi spesifik. Gerontologis telah menyarankan
bahwa para peneliti mulai dengan mempelajari efek intervensi yang
meningkatkan pilihan penduduk dari kegiatan sehari-hari karena ini adalah nilai
inti dari perubahan budaya (Rahman & Schnelle, 2008). Pada tahun 2007,
Commonwealth Fund, pendukung utama gerakan perubahan budaya, mensurvei
direksi keperawatan di 1435 panti jompo untuk mengidentifikasi tingkat
implementasi tentang tiga aspek perubahan budaya: perawatan penduduk,
lingkungan fisik, dan budaya staf dan lingkungan kerja. Sorotan survei seperti
yang dilaporkan oleh Doty, Koren, dan Sturla (2008) adalah sebagai berikut:
1. Ada korelasi positif antara implementasi inisiatif perubahan budaya dan
manfaat yang lebih besar dalam hal retensi staf, tingkat hunian yang lebih
tinggi, posisi kompetitif yang lebih baik, dan peningkatan biaya
operasional.
2. Antara 30% dan 40% dari semua panti jompo melaporkan mereka
menerapkan beberapa prinsip perubahan budaya yang mendorong
perawatan yang diarahkan oleh residen.

33
3. Dari panti jompo yang mengadopsi perubahan budaya, 58%
memungkinkan penghuni menentukan jadwal harian mereka sendiri versus
22% panti jompo tradisional.
4. Di antara pengadopsi perubahan budaya, 64% menerapkan teknik mandi
terpusat, berbeda dengan hanya 37% dari panti jompo tradisional.
5. Sekitar 70% pengadopsi perubahan budaya melaporkan bahwa penghuni
secara aktif terlibat dalam pengambilan keputusan tentang fasilitas mereka,
tetapi hanya 27% rumah jompo tradisional yang melakukannya.
6. Sekitar 86% pengadopsi perubahan budaya secara konsisten menetapkan
pembantu yang sama untuk penghuni, dibandingkan 74% dari panti jompo
tradisional. Bagian selanjutnya menjelaskan model asuhan keperawatan di
rumah yang merupakan bagian dari gerakan perubahan budaya dan
memberikan informasi tentang hasil berbasis bukti dari model ini.
 Jaringan Perintis
Jaringan Perintis dalam Perawatan Jangka Panjang — yang dianggap sebagai
organisasi payung dari gerakan perubahan budaya — telah berkembang sejak
1997 dari pertemuan penting para perintis di seluruh Amerika Serikat dengan
tujuan mengubah filosofi perawatan di panti jompo (Putih). Chou et al., 2009).
Jaringan Pionir mengidentifikasi 13 nilai inti yang berfokus pada perawatan
individual dan holistik; penggunaan optimal semua aspek lingkungan fisik,
organisasi, dan psiko / sosial / spiritual; dan pertumbuhan yang berkelanjutan
dan peningkatan kualitas yang berkelanjutan. Dua model perawatan yang paling
banyak diterapkan yang merupakan bagian dari Jaringan Perintis adalah Eden
Alternatif dan Proyek Rumah Kaca. The Eden Alternative adalah sebuah model
yang dikembangkan pada pertengahan tahun 1990-an oleh William Thomas,
MD, dengan tujuan menciptakan kelompok-kelompok kecil penghuni untuk
memerangi kebosanan, kesepian, ketidakberdayaan, dan kurangnya makna yang
biasa terjadi di panti jompo tradisional. The Eden Alternative adalah program
komprehensif untuk mengubah budaya organisasi serta lingkungan fisik,
spiritual, psikososial, dan antarpribadi dari suatu fasilitas. Komponen penting

34
adalah pengenalan sistematis hewan peliharaan, tanaman, dan anak-anak untuk
menciptakan suasana seperti rumah dan meningkatkan kualitas hidup
penduduk. Selain itu, Alternatif Eden menggabungkan strategi untuk
melibatkan dan memberdayakan staf dalam membawa perubahan lingkungan.
Rumah jompo yang mengadopsi model komprehensif ini dan berjanji untuk
mematuhi Eden Principles tercantum dalam Eden Registry. Hasil dari model ini
yang telah diidentifikasi dalam studi termasuk peningkatan retensi staf,
peningkatan kepuasan staf dan penduduk, dan pengurangan jumlah obat dan
infeksi (Bowers, Nolet, Roberts, & E dmond, 2009).
Proyek Rumah Kaca, digambarkan sebagai panti jompo kecil, juga telah
dipromosikan oleh William Thomas, MD, yang merupakan pendiri Eden
Alternatif dan pemimpin utama dalam Jaringan Perintis. Proyek pertama dibuka
pada tahun 2003 dan terdiri dari empat Rumah Kaca mandiri yang beroperasi di
bawah lisensi rumah perawatan sponsor di Tupelo, Missouri. Rumah Hijau
biasanya menampung 7 hingga 12 penduduk di sebuah rumah yang menyatu
dengan rumah tetangga. Rumah jompo kecil ini menyediakan berbagai layanan
rumah jompo berlisensi dan bersertifikat untuk orang lanjut usia dengan
disabilitas tingkat tinggi, termasuk yang terkait dengan demensia, dalam
lingkungan rumah tangga normal. Pendekatan Green House menekankan
hubungan dan pembuatan makna dalam intervensi untuk gangguan perilaku
terkait demensia. Sebuah studi dari 2 tahun pertama model ini menemukan
bahwa penghuni mengalami hasil yang lebih baik pada banyak dimensi kualitas
hidup dan tidak mengalami penurunan dalam hasil kesehatan (Kane & Cutler,
2008). Para peneliti juga telah menemukan bahwa keluarga lebih puas dengan
perawatan dan pengalaman mereka sendiri, menghargai peningkatan otonomi
dan peningkatan privasi bagi penghuni, dan tidak memiliki beban keluarga
yang lebih besar (Lum, Kane, Cutler, & Yu, 2008-2009). Secara keseluruhan,
studi awal dari model rumah kecil mengidentifikasi banyak manfaat untuk
orang dewasa yang memiliki gangguan kognitif serta meningkatkan kepuasan

35
kerja bagi perawat yang bekerja di lingkungan yang mempromosikan
perawatan yang holistik dan berpusat pada orang (Rabig, 2009).
 Fasilitas Bantuan-Hidup
Selain model-model yang diuraikan dalam bab ini, banyak orang dewasa yang
lebih tua menerima berbagai layanan perawatan kesehatan di fasilitas-fasilitas
yang dibantu hidup dan komunitas pensiun perawatan-berkelanjutan. Karena
model-model ini adalah opsi perumahan berbasis masyarakat yang independen,
detail dibahas dalam Bab 1 dalam konteks pengaturan hidup untuk orang
dewasa yang lebih tua. Meskipun fasilitas hidup berbantuan dikembangkan
pada 1980-an sebagai pengaturan untuk kehidupan mandiri, beberapa dari
fasilitas ini telah berkembang untuk memberikan tingkat perawatan yang serupa
dengan yang disediakan di panti jompo. Studi baru-baru ini mengkonfirmasi
bahwa residen yang tinggal dengan bantuan lebih tua dan lebih fungsional
terganggu dan membutuhkan perawatan lebih dari penduduk yang dijelaskan
dalam studi awal (Cartwright, Miller, & Volpin, 2009). Karena tren ini,
beberapa fasilitas hidup berbantuan secara integral terkait dengan dan secara
fisik terhubung ke panti jompo dan memberikan tingkat perawatan yang tinggi
bagi penduduk yang tidak lagi memenuhi kualifikasi untuk layanan yang
dicakup oleh Medicare. Perkembangan lain baru-baru ini adalah bahwa
beberapa fasilitas hidup berbantuan menyediakan perawatan demensia khusus,
dan di beberapa fasilitas perawatan demensia ini, tingkat perawatan telah
berkembang menjadi serupa dengan yang disediakan di panti jompo. Data
terbaru menunjukkan bahwa lebih dari setengah penduduk yang hidup dengan
bantuan demensia dan lebih banyak memerlukan bantuan memori harian. Selain
itu, penghuni yang dibantu kehidupan sering menunjukkan gejala kecemasan,
depresi, dan agitasi, dan dua pertiga dari penduduk dengan gangguan kognitif
menunjukkan masalah perilaku (Kang, Smith, Buckwalter, Ellingrod, &
Schultz, 2010; Teri et al., 2009 ). Perawatan di akhir kehidupan adalah masalah
lain yang ditangani di fasilitas hidup yang dibantu karena penghuni menyatakan
keinginan untuk mati di rumah. Karena hal ini, banyak fasilitas tempat tinggal

36
yang dibantu sekarang bekerja erat dengan organisasi rumah sakit untuk
memberikan perawatan di akhir hayat.
 Peran untuk Perawat dalam Model Perawatan yang Lebih Baru
Model perawatan yang lebih baru menghadirkan banyak tantangan, serta
peluang, bagi perawat karena perubahan budaya melibatkan perubahan filosofis
dan organisasional yang memengaruhi semua staf. Misalnya, model Green
House mengkonseptualisasikan perawat dan profesional lainnya sebagai
anggota tim dukungan klinis kunjungan yang memesan dan mengawasi
perawatan dalam bidang praktik profesional mereka. Perawat tidak mengawasi
staf perawatan langsung, tetapi mereka sering mengambil peran administrasi
dan konsultan. Pada tahun 2009, Institut Hartford untuk Perawatan Geriatri dan
Jaringan Perintis menerbitkan sebuah makalah tentang Keterlibatan Perawat
dalam Perubahan Budaya Rumah Perawatan: Mengatasi Hambatan,
Memajukan Peluang (Burger et al., 2009). Sorotan dari makalah ini yang
berkaitan dengan peran perawat adalah sebagai berikut:
1. Sasaran dan filosofi perubahan budaya sangat sesuai dengan tujuan
keperawatan karena keduanya mendukung dan menggabungkan perawatan
yang diarahkan oleh penduduk.
2. Partisipasi keperawatan yang intensif sangat penting untuk menyediakan
perawatan keperawatan klinis yang terkoordinasi dan berbasis bukti dalam
konteks filosofi perawatan yang berpusat pada penduduk.
3. Perawat perlu menjadi pemimpin tim perawatan dan panutan sehingga
mereka dapat membina dan mempromosikan pendekatan tim di mana staf
perawatan langsung terlibat dalam pengambilan keputusan.
4. Pengecualian perawat dari pengambilan keputusan tentang perubahan
budaya telah menjadi penghalang terbesar untuk menerapkan perubahan
budaya.
5. Manajer perawat perlu memiliki keterampilan klinis dan manajemen dalam
model desentralisasi dan mereka mungkin tidak siap untuk peran ini.
Karena gerakan perubahan budaya menimbulkan banyak dilema dan

37
tantangan bagi perawat, upaya sedang dilakukan untuk menerapkan
rekomendasi yang mengatasi masalah utama.
2.5.3 Home Care Sevices
Bentuk pelayanan Pendampingan dan Perawatan Lanjut Usia di rumah (Home Care)
sangat tepat untuk diterapkan dalam masyarakat Indonesia yang masih berpegang
pada nilai-nilai budaya timur, sebagai wujud perhatian terhadap lanjut usia dengan
mengutamakan peran masyarakat berbasis keluarga. Pelayanan lanjut usia di rumah
(home care) sangat membantu lanjut usia yang mempunyai hambatan fisik, mental
dan sosial, termasuk memberikan dukungan dan pelayanan untuk hidup mandiri,
sehingga mengurangi beban baik dari anggota keluarga, teman, kerabat maupun
tetangga yang membantu memenuhi kebutuhan lanjut usia.
Menurut Warhola (1980, dalam Smith & Maurer, 2000) perawatan kesehatan
trumah adalah suatu pelayanan kesehatan secara komprehensif yang diberikan
kepada klien/individu atau keluarga di temapat tinggal mereka (di rumah), bertujuan
untuk memandirikan klien dalam pemeliharaan kesehatan, peningkatan derajat
kesehtan, upaya pencegahan penyakit, dan risiko kekambuhan serta rehabilitasi
kesehatan.Perawatan kesehatan rumah (home care) juga dapat diartikan sebagai
kesatuan yang memungkinkan pelayanan kesehatan dilakukan secara bersamaan
ataupun kombinasi dari berbagai profesi kesehatan sebagai satu kesatuan tim untuk
mencapai dan mempertahankan status kesehatan klien secara optimal (Smith &
Maurer, 2000).
Home care bagi lansia merupakan salah satu unsur pelayanan kesehatan secara luas
yang ditujukan untuk kesehatan perorangan atau kesehatan keluarga di tempat
tinggal mereka untuk tujuan promotif, rehabilitatif, kuratif, asesmen dan
mempertahankan kemampuan individu untuk mandiri secara optimal selama
mungkin. Sedikitnya terdapat empat kelompok penderita yang dapat secara efektif
dan efisien dilakukannya home care yaitu penyakit kronik multisistem, kondisi
terminal pada keganasan, kondisi kronik pada lansia dan demensia. Tentunya
potensi-potensi setempat perlu dilibatkan seperti pihak keluarga, masyarakat, dokter
keluarga, perawat keluarga, asuransi kesehatan, dan yayasan atau lembaga swadaya

38
masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan untuk diajak menjalin kerjasama
dalam berbagai beban seefektif mungkin (Walsh & Wieck, 1987).
Pendirian home care secara umum bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup
usia lanjut, sedang rehabilitatif yaitu pencegahan sekunder dan tertier yaitu
pengobatan kronik penderita keganasan/penyakit lainnya serta menghambat laju
penyakit dan menghambat timbulnya keterbatasan-keterbatasan (disability)
sehingga penderita dapat mempertahankan otonominya selama mungkin. Secara
khusus, tujuan yang diharapkan dari Pendampingan dan Perawatan lanjut usia di
rumah (Stanhope & Lancaster, 1996) adalah:
1. Meningkatnya kemampuan lanjut usia untuk menyesuaikan diri terhadap proses
perubahan dirinya secara fisik, mental dan sosial.
2. Terpenuhinya kebutuhan dan hak lanjut usia agar mampu berperan dan
berfungsi di masyarakat secara wajar.
3. Meningkatnya kemampuan keluarga dan masyarakat dalam pendampingan dan
perawatan lanjut usia di rumah.
4. Terciptanya rasa aman, nyaman dan tentram bagi lanjut usia baik di rumah
maupun di lingkungan sekitarnya.
5. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa perawatan kesehatan dirumah
(home care) diberikan kepada individu dan keluarga baik keluarga dengan
lansia di rumah tinggal mereka yang melibatkan berbagai disiplin ilmu atau
profesi dalam suatu tim kesehatan untuk melakukan perawatan kesehatan di
rumah dengan tujuan untuk memberikan kondisi yang sehat secara optimal dan
terbebasnya klien dari penyakit yang diderita.
Adapun sasaran dari home care bagi lansia ini (Nugroho, 2008), antara lain
1. Lanjut usia 60 tahun ke atas
2. Lanjut usia yang tinggal sendiri dan lanjut usia yang tinggal bersama keluarga
baik keluarganya sendiri maupun keluarga pengganti.
3. Lanjut usia yang mengalami hambatan, seperti lanjut usia yang sakit, lanjut usia
penyandang cacat, lanjut usia uzur dan lain-lain.
4. Lanjut usia yang terlantar atau miskin.

39
Home care merupakan pelayanan kesehatan di rumah. Pelayanan kesehatan
diberikan secara komprehensif (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) dengan
menggunakan teknologi yang sederhana maupun teknologi tinggi tetapi tepat guna.
Bentuk pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di rumah klien yang merupakan
pelayanan professional, menggunakan metode sistematik dalam manajemen kasus.
Lingkup pelayanan meliputi :
1. Pelayanan asuhan keperawatan
2. Konsultasi medik
3. Pelayanan sosial dan upaya menciptakan lingkungan terapeutik
4. Pelayanan informasi & rujukan
5. Pendidikan, pelatihan dan penyuluhan kesehatan dalam rangka memandirikan
klien dan keluarga
6. Hygiene dan sanitasi perorangan serta lingkungan
7. Pelayanan perbantuan untuk kegiatan sosial

Adapun program/kegiatan home care (perawatan kesehatan rumah) pada lansia yang
dapat dilaksanakan, antara lain:
1. Manajemen kasus home care
a) Melakukan seleksi kasus
Melakukan spesifikasi pasien lansia dengan perawatan khusus (usia lanjut
pasca rawat inap dan risiko tinggi) seperti cidera, diabetes mellitus, gagal
jantung, asma berat, stroke, amputasi, luka kronis, nutrisi melalui infus, dll.
Disamping itu, pelayanan perawatan rumah dilakukan juga bagi lansia
mandiri meliputi upaya promotif dan preventif.
b) Melakukan pengkajian kebutuhan pasien
Perawat melakukan pengkajian pada kebutuhan pasien sepert kondisi fisik,
kondisi psikologis, status sosial ekonomi, pola perilaku pasien, sumber-
sumber yang tersedia di keluarga pasien.
c) Membuat perencanaan pelayanan
1) Membuat rencana kunjungan

40
2) Membuat rencana tindakan
3) Menyeleksi sumber-sumber yang tersedia di keluarga/masyarakat
d) Melakukan koordinasi pelayanan
1) Memberi informasi berbagai macam pelayanan yang tersedia
2) Membuat perjanjian kepada pasien dan keluarga/pendamping pasien
tentang pelayanan
3) Menkoordinasikan kegiatan tim sesuai jadwal
4) Melakukan rujukan pasien
e) Melakukan pemantauan dan evaluasi pelayanan
1) Memonitor tindakan yang dilakukan oleh tim
2) Menilai hasil akhir pelayanan (sembuh, rujuk, meninggal, menolak)
3) Mengevaluasi proses manajemen kasus
4) Monitoring dan evaluasi kepuasan pasien secara teratur

BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Geriatrik, gerontologi, dan gerontik merupakan bukti adanya sejarah lahirnya
keperawatan untuk lanjut usia. Perjalanan penamaan istilah keperawatan dari geriatrik, lalu
diubah menjadi gerontologi, dan terakhir menjadi gerontik memakan waktu kurang lebih 54
tahun dari tahun 1925 sampai 1979. Geriatrik dianggap cenderung lebih tepat untuk
menggambarkan istilah kedokteran sehingga kata tersebut diganti menjadi gerontologi pada
tahun 1976. Namun, seiring berjalannya waktu, para peneliti menyadari bahwa istilah
gerontologi dimana terdapat kata ”logy” hanya menggambarkan sebuah “ilmu
pengetahuan”. Sedangkan, keperawatan bukan hanya tentang pengetahuan, namun juga
berfokus pada praktik dalam pemberian asuhan keperawatan. Sehingga, istilah ini diubah

41
kembali berdasarkan saran dari Gunter dan Estes pada tahun 1979 yang menyarankan
istilah baru yaitu gerontik untuk menggantikan gerontologi. Kata “gerontik” dianggap
sebagai kata yang paling tepat untuk menggambarkan ilmu keperawatan yang mengandung
ilmu dan seni atau praktik dalam keperawatan itu sendiri.
Perdebatan yang terjadi antar peneliti untuk memberikan nama terbaik bagi ranah
keperawatan lanjut usia ini membuktikan bahwa pemilihan kata yang tepat untuk dapat
memaknai sesuatu merupakan hal yang tidak mudah. Namun, terdapat hal yang lebih tidak
mudah lagi yaitu bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dimaknai dari kata
”gerontik”. Hal ini berarti bahwa seorang perawat dalam menjalankan tugas harus dapat
mengetahui dan memahami ilmu mengenai keperawatan gerontik dan menjalankan praktik
keperawatan sesuai standar asuhan yang berlaku.Tugas sebagai seorang perawat gerontik
tidak hanya sebagai pemberi asuhan kepada lansia namun juga dapat berperan sebagai
advokator, edukator, manajer, konselor, kolaborator, praktisi independen, hingga peneliti
keperawatan.
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan
manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 Tahun 1998 tentang
kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari
60 tahun (Maryam dkk, 2008). Berbagai setting perawatan kesehatan bagi lansia yaitu acute
care setting, nursing home setting dan home care setting.

3.2 Saran
Perawat perlu memahami makna dari gerontik. Perawat harus memberikan pelayanan
secara holistik sesuai kebutuhan lansia dan mempersiapkannya menghadapi kematian
dengan baik. Perawat pun perlu meyakinkan keluarga untuk ikut berpartisipasi selama
perawatan tersebut. Lalu, lansia sebagai klien juga diharapkan untuk dapat bekerja sama
demi tercapainya tujuan perawatan. Kemudian, masyarakat perlu memahami permasalahan
yang sering terjadi pada lansia, khususnya bagi keluarga dengan lansia. Dengan begitu
lansia dapat menjalani masa tuanya dengan baik, nyaman, dan damai.
Walaupun peran perawat sangat banyak, perawat merupakan profesi yang ideal untuk
menjalankan semua peran tersebut karena perawat memandang klien secara holistik.

42
Namun, hal yang paling penting ialah perawat harus menyadari tujuan utama sebagai
perawat gerontik adalah untuk membuat klien mencapai tingkat optimal secara fisik,
mental, dan psikososial. Sehingga, dapat tercapai kesejahteraan dan peningkatan derajat
kesehatan untuk klien secara optimal

43
Daftar Pustaka

Flaherty, E. (2004). Geriatric. Ensyclopedia of Nursing Research, 230–232.

Mauk, K, L. (2014). Gerontological nursing competencies for care, 3 rd edition. USA:


Jones & Bartlett.

Miller, C. A. (2012). Nursing for Wellnes in Older Adults, 6 th edition. Philadelphia:


Lippincott Williams & Wilkins.

Miller, C.A. (2012). Nursing Wellness in Older Adults. sixth ed.Wolter Kluwer.

Nursing For Wellness In Older Aldults Sixth Edition.

Stanley, M & Beare, PG. (2009). Gerontological Nursing: A Health Promotion/Protection


Approach, 2 nd edition. Philadelphia: Davis Company.

Tabloski, P. A. (2014). Gerontological Nursing, 3 rd edition. New Jersey: Pearso

44
45