Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

“OPEN DEGLOVING”
DI RUANG 14 RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners


Departemen Surgikal

Disusun Oleh :
Kenny Maharani
170070301111105

PROGRAM PROFESI NERS


ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

“OPEN DEGLOVING”

Untuk Memenuhi Tugas Individu Pendidikan Profesi Ners

Departemen Surgikal Ruang 14 RSSA Malang

Oleh :

Kenny Maharani

170070301111105

Telah diperiksa kelengkapannya pada :

Hari :

Tanggal :

Dan dinyatakan memenuhi kompetensi

Perseptor Klinik Perseptor Akademik

( ) ( )
NIP. NIP.
DEGLOVING

A. Definisi Degloving
Degloving merupakan gangguan pada kulit sedikit sampai luas dengan variasi
kedalaman jaringan yang disebabkan trauma ditandai dengan rusaknya struktur yang
menghubungkan kulit dengan jaringan dibawahnya, kadang masih ada kulit yang
melekat dan ada juga bagian yang terpisah dari jaringan dibawahnya. Degloving
dapat juga berhubungan dengan permukaan pada jaringan lunak, tulang, persarafan
ataupun vaskuler. Jika trauma menyebabkan kehilangan aliran darah pada kulit, maka
dapat terjadi nekrosis. Trauma degloving ini seringkali membutuhkan debridement
untuk menghilangkan jaringan yang nekrosis. Trauma degloving dalam jumlah besar
disertai dengan jaringan yang lebih profunda menyebabkan jaringan terkelupas atau
berupa sayatan.
Degloving paling sering terjadi pada daerah lengan maupun tungkai. Hal ini
biasanya disebabkan oleh trauma mekanis, biasanya oleh karena trauma pada
kendaraan bermotor, trauma akibat kipas angin. Namun juga bisa akibat trauma
tumpul.

B. Anatomi Kulit
Kulit merupakan bagian yang sering mengalami degloving , karena merupakan
bagian dari organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dengan
lingkungan hidup manusia. Kulit juga sangat kompleks, elastis dan sensitif , bervariasi
pada keadaan iklim , umur , seks, ras dan juga bergantung pada lokasi tubuh. Luas
kulit orang dewasa 1.5-2m2 , dengan berat kira-kira 15% berat badan. Tebalnya
antara 1.5-5 mm , bergantung pada letak kulit , umur , jenis kelamin , suhu dan
keadaan gizi. Kulit paling tipis di kelopak mata , penis , labium minor ,dan bagian
medial lengan atas. Sedangkan kulit yang tebal terdapat di telapak tangan dan kaki ,
punggung, bahu, bokong.
Kulit terdiri dari tiga lapisan, yaitu
1. Lapisan epidermis .
Lapisan epidermis merupakan epitel berlapis gepeng yang sel – selnya
menjadi pipih bila matang dan naik ke permukaan, yang terdiri dari stratum
korneum, stratum granulosum, stratum spinosum dan stratum basale dengan
melanosit, juga tidak terdapat pembuluh darah. Pada telapak tangan dan
kaki, epidermis sangat tebal untuk menahan robekan dan kerusakan yang
terjadi pada daerah ini. Pada bagian tubuh yang lainnya, misalnya pada
bagian medial lengan atas dan kelopak mata, kulit sangat tipis.
2. Lapisan dermis
Lapisan dermis ini lebih tebal dari pada epidermis. Lapisan ini terdiri atas
jaringan ikat padat yang banyak mengandung pembuluh darah, pembuluh
limfatik dan saraf. Dermis terdiri dari stratum papilare dan stratum retikulare.
Tebalnya dermis berbeda – beda pada berbagai bagian tubuh dan
cenderung menjadi lebih tipis pada permukaan anterior dibanding dengan
permukaan posterior. Dermis pada perempuan lebih tipis dibandingkan
pada laki – laki.
3. Lapisan subkutis
Lapisan ini merupakan kelanjutan dari dermis, terdiri atas jaringan ikat
longgar yang berisi sel – sel lemak. Berfungsi sebagai pengatur suhu dan
pelindung bagi lapisan kulit yang lebih superficial terhadap tonjolan –tonjolan
tulang.
Di dalam dermis, sebagian besar berkas serabut – serabut kolagen berjalan
sejajar. Insisi bedah pada kulit yang dilakukan disepanjang atau antara berkas –
berkas ini menimbulkan kerusakan minimal pada kolagen sehingga luka yang sembuh
dengan sedikit jaringan parut. Sebaliknya, insisi yang dibuat memotong berkas –
berkas kolagen akan merusaknya dan menyebabkan pembentukan kolagen baru yang
berlebihan sehingga terbentuk jaringan parut yang luas dan jelek. Arah berkas –
berkas kolagen ini dikenal sebagai garis insisi ( garis Langer ), dan garis – garis ini
cenderung berjalan longitudinal pada extremitas dan melingkar pada leher dan batang
badan.
Struktur lain yang ada pada kulit yaitu kuku , folikel rambut , kelenjar sebasea dan
kelenjar keringat.

C. Etiologi
Trauma degloving dapat disebabkan beberapa faktor, antara lain karena
kecelakaan lalu lintas seperti terlindas dari kendaraan atau kecelakaan akibat dari olah
raga seperti roller blade, sepeda gunung, acrobat dan skate board. Trauma degloving
ini mengakibatkan penurunan supplai darah ke kulit, yang pada akhirnya dapat terjadi
kerusakan kulit. Degloving yang luas dan berat biasanya diakibatkan oleh ikat
pinggang dan ketika tungkai masuk ke roda kendaraan. Adapun penyebab lainnya
bisa berupa kecelakaan pada escalator atau biasa juga disebabkan oleh trauma
tumpul.
Degloving minimal biasa terjadi pada pasien yang sudah tua, misalnya benturan
terhadap meja. Selain pada extremitas, degloving juga biasa terjadi pada mucosa
mandibula, yang diakibatkan oleh high jump pada acrobat biking atau kecelekaan lalu
lintas.

D. Klasifikasi
Trauma degloving dibagi 2 yaitu :
1. Trauma degloving dengan luka tertutup.
Trauma ini jarang terjadi tapi penting diperhatikan karena terjadi pada
pasien dengan multiple trauma, dimana jaringan subkutan terlepas dari
jaringan dibawahnya. Klinis awalnya dari jenis ini seringkali tampak normal pada
permukaan kulit, dapat disertai dengan echimosis. Dan jika tidak dikoreksi,
akan menyebabkan peningkatan dari morbiditas yaitu jaringan yang terkena
akan mengalami necrosis. Untuk itu dilakukan drainase dengan membuat
insisi kecil yang bertujuan untuk kompresi, karena terdapat ruangan yang terisi
oleh hematome dan cairan. Luka degloving yang tertutup terjadi jika ada
kekuatan shear dengan energi yang cukup dalam waktu yang singkat sehingga
kulit tidak terkelupas. Tapi didalamnya kadang dapat terjadi pemisahan antara
jaringan dengan pembuluh darah, hal ini menyebabkan bagian yang atas
dari jaringan yang terpisah menjadi nekrosis karena tidak mendapat aliran
darah. Komplikasi dari traksi dapat mengakibatkan trauma degloving luka
tertutup pada kulit sehingga dapat menyebabkan terjadinya lesi pada kulit. Hal ini
mungkin disebabkan oleh usia lanjut dan kulit yang lemah. Jadi pada trauma
degloving tertutup jaringan subkutan terlepas dari jaringan dibawahnya, sedang
bagian luar atau permukaan kulit tanpa luka atau ada luka dengan ukuran yang
kecil.

2. Trauma degloving dengan luka terbuka.


Trauma degloving ini terjadi akibat trauma pada tubuh yang menyebabkan
jaringan terpisah. Gambarannya berupa terangkatnya kulit dari jaringan
dibawahnya disertai dengan luka yang terbuka. Ini merupakan trauma degloving
dengan luka terbuka. (3)

Gambaran klinis
Terkelupasnya lapisan kutis dan subkutis dari jaringan dibawahnya, dapat juga
masih terdapat bagian dari kulit yang melekat, ini terjadi pada trauma degloving
terbuka. Gejala klinik yang lain dapat pula ditemukan gambaran permukaan kulit yang
normal atau dapat disertai dengan echimosis, ini terjadi pada trauma degloving
tertutup.

E. Patofisiologi
Jenis-jenis luka dapat dibedakan dua bagian, yaitu luka tertutup dan luka
terbuka, luka terbuka yaitu dimana terjadi hubungan dengan dunia luar, misalnya : luka
lecet ( vulnus excoratiol ), luka sayat ( vulnus invissum ), luka robek ( vulnus laceratum
), luka potong ( vulnus caesum ), luka tusuk ( vulnus iktum ), luka tembak ( vulnus
aclepetorum), luka gigit ( vulnus mossum ), luka tembus ( vulnus penetrosum ),
sedangkan luka tertutup yaitu luka tidak terjadi hubungan dengan dunia luar, misalnya
luka memar.
F. Tanda dan Gejala
Tanda-tanda umum adalah syok dan syndroma remuk ( cris syndroma ), dan
tanda-tanda lokal adalah biasanya terjadi nyeri dan pendarahan. Syok sering terjadi
akibat kegagalan sirkulasi perifer ditandai dengan tekanan darah menurun hingga
tidak teraba, keringat dingin dan lemah, kesadaran menurun hingga tidak sadar.
Syok dapat terjadi akibat adanya daerah yang hancur misalnya otot-otot pada
daerah yang luka, sehingga hemoglobin turut hancur dan menumpuk di ginjal yang
mengakibatkan kelainan yang disebut “lower Nepron / Neprosis”, tandanya urine
berwarna merah, disuria hingga anuria dan ureum darah meningkat.

G. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaaan fisik pada pasien dengan cedera Degloving terdiri dari beberapa
langkah berikut:
 Pemeriksaaan kondisi umum
 Pemeriksaan cedera yang mengancam jiwa
 Pemeriksaaan cedera mayor
 Pemeriksaan area degloving
 Sejauh mana kulit yang hilang
 Ekspos/cedera struktur vital
 Gerakan yang bisa dilakukan

H. Penatalaksanaan
Jika terjadi kehilangan jaringan yang luas dapat terjadi syok dilakukan
penanganan dari syok. Penanganan dari trauma degloving ini berupa kontrol
perdarahan dengan membungkusnya dengan kassa steril pada luka dan sekitar luka,
debridement luka dan dilakukan amputasi bila jaringan tersebut nekrosis. Trauma
degloving seharusnya di lakukan pencucian atau debridemen dari benda asing dan
jaringan nekrotik juga dilakukan penutupan dari luka. Bila lukanya kotor maka
dilakukan perawatan secara terbuka sehingga terjadi penyembuhan secara sekunder,
lukanya bersih dilakukan penutupan luka primer.
Pada trauma degloving tertutup sering tidak diketahui, dimana tidak terdapat
luka pada kulit, yang mana jaringan subkutan terlepas dari jaringan dibawahnya,
menimbulkan suatu rongga yang berisi hematoma dan cairan. Pada degloving tertutup
ini dapat dilakukan aspirasi dari hematome atau insisi kecil selanjutnya dilakukan
perban kompresi. Insisi dan aspirasi untuk mengeluarkan darah dan lemak nekrosis,
volume yang dievakuasi antara 15 -800 ml ( rata-rata 120 ml ).
Sedang pada trauma degloving dengan luka terbuka, yang mana terdapat avulsi
dari kulit, dilakukan pencucian dari jaringan tersebut yaitu debridement dari benda
asing dan jaringan nekrotik. Pada luka yang kotor atau infeksi dilakukan rawat terbuka
sehingga terjadi penyembuhan secara sekunder. Kulit dari degloving luka yang
terbuka dapat dikembalikan pada tempatnya seperti skin graft dan dinilai tiap hari
,keadaan dari kulit tersebut. Jika kulit menjadi nekrotik, maka dilakukan debridemen
dan luka ditutup secara split thickness skin graft.
Terapi degloving yang sekarang dipakai adalah Dermal Regeneration Template
(DRT), yaitu pembentukan neodermis dengan cara Graft Epidermal. Adapun tekniknya
berupa Full Thickness Skin Graft (FTSG), Split Thickness Skin Graft (STSG) , Pedical
Flap atau Mikrovascular Free Flap. Penggunaan DRT merupakan terapi terbaik untuk
trauma degloving dan juga dapat dipertimbangkan sebagai terapi, jika terdapat
kehilangan jaringan sekunder yang bisa menyebabkan avulsi.
Sebelum dilakukan FTSG dan STSG, diperlukan tindakan berupa
mempersiapkan daerah luka dengan Vacum Assisted Closure ( VAC ). Tiga minggu
setelah terapi VAC, maka pada daerah luka terjadi revascularisasi disertai dengan
terbentuknya jaringan granulasi sehingga siap untuk di graft. Biasanya pada degloving
yang luas, terjadi drainase yang berlebihan, resiko kontaminasi bakteri yang luas dan
cenderung menyebabkan luka yang avaskuler . Ketiga hal tersebut mengakibatkan
sukar sembuh pada luka yang telah dilakukan skin graft. Oleh karena itu dengan VAC
diharapkan drainase lebih terkontrol, kontaminasi bakteri menurun serta terjadi
stimulasi jaringan granulasi pada dasar luka.
VAC merupakan pengembangan teknologi canggih dari prosedur perawatan
luka. Penggunaan vakum drainase membantu untuk menghilangkan darah atau cairan
dari bagia luka (Muptadi, 2013). VAC digunakan untuk manajemen luka dengan
menggunakan tekanan negatif atau tekanan sub-atmosfer di tempat luka. VAC adalah
terapi adjuvant noninvasif yang menggunakan kontrol tekanan negatif menggunakan
vakum untuk membantu penyembuhan luka dengan menghilangkan cairan yang
dihasilkan dari luka terbuka melalui sealed dressing dan tube yang disambungkan
dengan kontainer penampung (Mubtadi, 2013).
VAC atau penutupan luka dengan vacuum menggunakan spons pada luka
ditutup dengan dressing ketat kedap udara, kemudian vakum dipasang. VAC bisa
digunakan untuk luka dengan kebocoran limfa yang besar dengan fistula. Mekanisme
utama VAC adalah untuk menghilangkan edema. VAC menghilangkan cairan darah
atau limfa yang berada di intertisiil sehingga meningkatkan difusi intertisiil oksigen ke
dalam sel. VAC juga menghilangkan enzim-enzim kolagenase dan MMP yang
kadarnya meningkat pada luka kronis (Suryadi, 2011). VAC memberikan tekanan sub
atmosfer secara intermiten atau terus-menerus dengan tekanan sebesar 50-175. VAC
paling bagus dilakukan pada luka granulasi yang buruk serta banyak terdapat eksudat.
Diantara berbagai cara 4 pengobatan tambahan yang tersedia untuk penanganan luka
kronis, terapi vacuum assited closure (VAC) menunjukan hasil menjanjikan
(Suryadi,2011).
Hal ini didukung oleh beberapa hasil penelitian yaitu hasil studi dilakukan di RS
Sarjito dimana tiga pasien dengan luka kronis datang ke divisi Bedah Plastik Rumah
Sakit dr Sarjito pada awal tahun 2010 dilakukan perawatan dengan menggunakan
simplest modified vacuum assisted closure (VAC) didapatkan hasil semua pasien
mengalami proses penyembuhan luka dengan baik dan dilaporkan puas terhadap
hasil yang didapatkan (Mahandaru, 2010). Demikian juga didukung oleh penelitian
yang dilakukan ASERNIPS (Australian Safety and Efficacy Register of New
Internasional Prosedur Surgical) dimana perawatan luka kronis dan kompleks dengan
VAC meningkat secara signifikan 28.4% dibandingan dengan menggunakan natrium
clorida (Nacl 0.9%) (Arsenip S, 2003).

ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
Ada dua kondisi yang perlu dikaji
 Luka baru
1. Kaji keadaan umum pasien
2. Kaji tempat kejadian ( emergensi atau stabil )
3. Kaji Tanda Vital ( Tensi, suhu, nadi, pernapasan )
4. Kaji keadaan luka ( luas, lokasi, jenis, )
5. Kaji adanya tanda – tanda infeksi luka
6. Kaji hal –hal yang berhubungan dengan luka, fraktur, perdarahan, injuri, dan
cedera kepala
7. Kaji perdarahan yang keluar ( ada atau tidak, Jumlah, warna , bau )
 Luka lama / sudah ada tindakan
1. Kaji penampilan luka ( tanda-tanda infeksi )
2. Kaji luas luka
3. Kaji Keluhan nyeri ( Lokasi, intensitas )
4. Kaji kondisi jahitan luka
5. Kaji drainage atau cairan yang keluar
2. Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan integritas kulit Berhubungan dengan
 Trauma tumpul / tajam
 Insisi operasi
 Penekanan yang lama
 Injury
 Imobilisasi
2. Nyeri berhubungan dengan
 Cedera Termal
 Insisi operasi
 Kerusakan jaringan
 Immobilisasi
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan
 Hilangnya sebagian jaringan
 Luka terbuka
 Malnutrisis
4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan
 Imobilisasi
 Kelemahan fisik

3. Intervensi
1. Kerusakan Integritas kult berhubungan dengan trauma tumpul/tajam, insisi operasi,
penekanan yang lama, injury, immobilisasi
Hasil yang diharapkan :
 Klien akan mempertahankan keutuhan kulit selama perawatanJ
 Jaringan tampak menyatu
 Kulit tidak lecet
 Integritas kult bebas dari luka tekan
Intervensi :
1. Kaji / catat keadaan luka ( ukuran, warna, kedalaman luka) perhatikan jaringan
nekrotik
R/ : Memberikan informasi dasar adanya kemungkinan kebutuhan tentang
sirkulasi
2. Kaji kulit luka terbuka, benda asing, kemerahan, perdarahan dan perubahan
warna
R/ : Sebagai data dasar untuk intervensi selanjutnay
3. Anjurkan pasien untuk merubah posisis miki / mika setiap 4 jam
R/ : Meningkatkan sirkulasi dan perfusi jaringan dengan mencegah tekanan yang
lama
4. Lakukan perawatan luka secara aseptik dan steril 2 kali sehari
R/ : Mencegah terjadinya kerusakan kulit lebih lanjut
5. Pertahankan tempat tidur dalam keadaan bersih dan kering
R/ : Menghindari kulit lecet dan terkontamionasi mikroorganisme
6. Tempatkan bantalan air / bantalan lain di bawah siku/ tumit sesuai dengan
indikasi
R/ : Menurunkan tekanan pada area yang peka dan beresiko terjadinya kersakan
kulit
7. Gunakan baby oil / krim kulit 2-3 kali dan setelah mandi

R/ : Melicinkan kulit dan menghindari gatal


8. Kolaborasi dengan dokter untuk therapi anti inflamasi
R/ : Menghindari infeksi

2. Nyeri berhubungan dengan cedera termal, insisi operasi, kerusakan jaringan,


immobilisasi
Hasil yang diharapkan :
 Klien akan bebas dari nyeri selama perawatan
 Klien mengatakan nyeri berangsur-angsur berkurang sampai dengan hilang
 Klien tampak rileks
 Kilen dapat beraktifitas tanpa nyeri
Rencana Tindakan :
1. Kaji keluhn nyeri ( lokasi, intrnsitas, lamanya serangan )
R/ : sebagai data daras untuk menentukn intervensi selanjutnya
2. Pertahankan tirah baring slama fase akut
R/ : Tirah baring dalam posisi yang nyaman memungkinkan pasien untuk
menurunkan spasem otot, penekanan pada bagian tubh tertentu dan
memfasilitasi terjadinya reduksi
3. Anjurkan pasien untuk melakukan gerqkan tubuh yang tepat dan batasi aktifitas
selama nyeri
R/ Menghlangkan / mengurangi sterss pada otot dan mencegah trauma lebih
lanjut
4. Anjurkan dan ajarkan klien untuk melakukan teknik visualisasi , relaksasi
R/ : mengalihkan perhatian dan membantu menghilangkan nyeri dan
meningkatkan proses penyembuhan
5. Tinggikan dan dukung ekstermitas yang terkena
R/ : meningkatkan aliran balik vena, meningkatkan edema dan menurunkan nyeri
6. Lakukan kompres dingin / es 24-48 jam pertama
R/ : Menurunkan edema / pemb4ntukan hematom, menurunkan sensasi nyeri
7. Letakan semua kebutuhan pasien dalam batas yang mudah di jangkau oleh
pasien
R/ : menurunkan resiko pregangan saat meraih
8. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian therapi analgetik
R/ : Analgetik dapat mengurangi nyeri

3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan hilangnya sebagian jaringan, lika terbuka,
malnutrisi
Hasil yang diharapkan :
 Kilen tidak menunjukan adanya tanda-tanda infeksi selama masa perawatan
 Luka tampak kering dan bersih
 Tidak ada cairan atau darah yang kelar atau merembes
 Penyembuhan luka rapat dan baik
Intervensi :
1. Kaji kulit terhadap adanya iritasi, lika terbuka atau robekan kulit
R/ : Mengidentfikasi adanya faktor pencetus masuknya kuman penybab infeksi
2. Kaji tanda-tnda vital ( suhu, nsdi )
R/ : Sebagai indikator untuk intervensi selanjutnay dari perubahan tanda-tanda
vital
3. Tekankanpentigya cuci tangan yang baik untuk semua individu yang datang
kontak dengan pasien
R/ : Mencegah kontaminasi silang, menekan resiko infeksi
4. Kalau perlu ajnurkan pasien untuk diisolasi sesuai dengan indikasi
R/ : Isolasi dapat dilihat dari luka sederhana/ terbuka sampai komlit untuk
menurnkan resiko kointaminasi silang
5. Lakukan perswtan luka secara aseptik dan steril 2 kali sehari
R/ : Menurnkan resiko infeksi dan mendukung proses openyembuhan
6. Tampung cairanb sisa yang terkontaminasi pada tempat tertentu dalam ruangan
kemudian di buang pada opembuangan yang sudah ditentukan oleh rumah sakit
R/ : Mencegah penyebatran infeksi di lingkungan rumah sakit
7. Kolaborasi dnegan dokter untuk pemberian antibiotik
R/ : Antibiotik dapa membunuh kuman oenyakit pemyebab infeksi dan
mengurangi penyebat\ran ifeksi

4. Intoleransi dalam beraktifitas berhubungan dengan nyeri, imobilisasi, kelemahan fisik


Hasil yang diharapkan :
 Klien dapat melakukan aktifitas mandiri selama masa perawatan
 Pasien tampak rileks
Intervensi :
1. Kaji respon terhadap aktifitas pasien
R/ : Sebagai parameter untuk menentukan tingkat kemampuan pasien dalam
beraktifitas
2. Kaji Tanda-tamnda vital
R/ : Sebagai indikator terhadap perubahan TTV akibat aktifitas
3. Observasi keluhan pasien selama beraktifitas
R/: Indikator untuk melakukan intervensi selanjutnya
4. Jelaskan pada pasien tentang teknik penghematan energi
R/ : mengurangi dan menghemat penggunaan energi, juga membantu
keseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2
5. Ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan napas dalam
R/ : Mengurangi tekanan pada salah satu area dengan meningkatkan sirkulasi
perifer
6. Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi
R/ Mengurangi kelelahan otot dapat membantu mengurangi nyeri, spame dan
kejang.

DAFTAR PUSTAKA
Sjamsuhidajat R. Luka, trauma, syok dan bencana. Dalam : Sjamsuhidajat R, Jong W, ed.
Buku Ajar ilmu Bedah. Edisi 1. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC 2007: 72-3.
Wasitaatmadja. SM. Anatomi Kulit . Ilmu Penyakit kulit dan kelamin , edisi ketiga , FKUI
,Jakarta , 2007, hal 3-8.
Yamada, N. Ui, K. Uchinuma, E. 2009. The use of a thin abdominal flap in degloving finger
injuries. British Journal of Plastic Surgery volume 54 pp: 434-438.
Chen, SL. Chou, GH. Chen, TM. Wang, HJ. 2008. Salvage of completely degloved finger
with a posterior interosseous free flap. British Journal of Plastic Surgery .The British
Association of Plastic Surgeons.
Van der Kolk, BM. Pickkers, P. 2007. Treatment of necrotizing soft tissue infections.
Netherlands Journal of Critical Care.
Karmiris, NA. Vourtsis, SA. Assimomitis, CM. Spyriounis, PK. 2008. The role of microsurgical
free flaps in distal tibia, ankle and foot reconstruction. A 6 year experience. EEXOT
Volume 59, (4):223-229.
E Segev, S Wientroub. Y Kollender, I Meller. A Amir, E Gur. 2007. A combined use of a free
vascularised flap and an external fixator for reconstruction of lower extremity defects
in children. Journal of Orthopaedic Surgery ;15(2):207-10
Chin-Ta Lin, Shyi-Gen Chen, Niann-Tzyy Dai, Tim-Mo Chen, Shun-Cheng Chang. 2013.
Free Sensate Anteromedial Thigh Fasciocutaneous Flap for Reconstruction of
Complete Circumferential Degloving Injury of the Digits: Case Report and Literature
Review. J Med Sci ;33(1):057-060
Pilancı, Özgür. Et al. 2013. Management of soft tissue extremity degloving injuries with full-
thickness grafts obtained from the avulsed flap. Ulus Travma Acil Cerr Derg Vol. 19,
No. 6.
Gitto, Lorenzo. Maiese, Aniello. Bolino, Giorgio. 2013. A traffic accident resulting in a
degloving injury of the passenger: Case report and biomechanical theory. Rom J Leg
Med [21] 165-168.