Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MENURUT KI HADJAR DEWANTARA

( PENDIDIKAN SEBAGAI PENGEMBANGAN KODRAT ALAM )

DOSEN PEMBIMBING

Dr.Agusmanto J.B. Hutauruk, S.Pd., M.Si

DISUSUN OLEH:

Kelompok 3:

1. Julio Elsandro Sinaga (18150071)


2. Vera Waty Sianipar (18150054)
3. Henni Tumanggor (18150067)
4. Sri Wahyuni Manurung (18150069)
5. Dian Nopitasari Purba (18150057 )
6. Jernita Hutapea (18150059)

UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN MEDAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PENDIDIKAN MATEMATIKA

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas semua
limpahan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang
berjudul Implementasi Pendidikan Menurut Ki Hadjar Dewantara ( Pendidikan Sebagai
Pengembangan Kodrat Alam ) ini meskipun dengan sangat sederhana.

Harapan kami semoga makalah yang telah tersusun ini dapat bermanfaat sebagai salah
satu rujukan maupun pedoman bagi para pembaca, menambah wawasan serta pengalaman,
sehingga nantinya kami dapat memperbaiki bentuk ataupun isi makalah ini menjadi lebih
baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Medan, November 2018

Penyusun
Daftar isi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang dibekali dengan kelebihan akal
yangmembedakannya dengan mahluk lainnya. Karena itu manusia harus dapat
mempergunakan akalnya dengan baik untuk dapat bertahan hidup. Akal akal pikiran manusia
terarah dengan baik maka ibarat mesin harus dapat diolah dan dipoles dengan baik agar dapat
berfungsi. Manusia terlahir ibarat kertas kosong yang tidak memahami apapun, yang perlu
mencatat segala hal yang dialaminya dalam kehidupannya semasa dia hidup. Manusia
bukanlah manusia seutuhnya bila tidak menghasilkan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan
orang lain. Untuk dapat memanusiakan manusia menjadi lebih baik maka perlu adanya
asupan pendidikan. Karena tujuan pendidikan itu sendiri adalah untuk memanusiakan
manusia, dengan menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, serta berwatak luhur.
Karena pendidikan diyakini dapat merubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik.

Pendidikan dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu pendidikan dalam bidang sains
dan pendidikan dalam bidang sosial. Namun setiap orang yang memiliki pendidikan tidak
akan menjadi seseorang yang lebih baik tanpa dibalut dengan pendidikan karakter dan moral.
Sebab pendidikan yang baik adalah pendidikan yang didukung dengan pendidikan karakter
untuk dapat membentuk watak dan pribadi manusia menjadi lebih baik, bijak dan bermartabat
dengan memegang teguh rasa cinta dan bangga atas bangsa dan negaranya, menghargai
sesama dan dapat membangun kesatuan hidup yang lebih baik dikalangan masyarakat.
Karena itu Ki Hadjar Dewantara sebagai salah satu tokoh pendidikan di Indonesia memiliki
pandangan khusus mengenai pendidikan itu sendiri.
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan ini
adalah:

1. Siapakah Ki Hadjar Dewantara?


2. Bagaimana konsep pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara?
3. Bagaimana implementasi konsep pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara?
4. Apa tantangan implementasinya dewasa ini dan bagaimana cara mengatasinya?

1.3 Tujuan Penulisan

Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui riwayat hidup Ki Hadjar Dewantara.


2. Untuk mengetahui konsep pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara
3. Untuk mengetahui bagaimana implementasi konsep pendidikan menurut Ki Hadjar
Dewantara
4. Agar kita mengetahui apa tantangan- tantangan implementasinya dewasa ini dan
mencari solusi alternatif masalah tersebut.

1.4 Manfaat

Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah:

1. Agar kita mengetahui sosok Ki Hadjar Dewantara.


2. Agar kita memhami konsep pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara
3. Agar kita memahami implementasi konsep pendidikan menurut Ki Hadjar
Dewantara sekarang ini.
4. Supaya kita memahami apa tantangan implementasinya dewasa ini dan bagaimana
cara mengatasinya masalah tersebut.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Biografi Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara merupakan tokoh pendidikan Indonesia dan juga seorang pahlawan
Indonesia. Beliau terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang kemudian
kita kenal sebagai Ki Hadjar Dewantara. Beliau lahir di Kota Yogyakarta, pada tanggal 2 Mei
1889, Hari kelahirannya kemudian diperingati setiap tahun oleh Bangsa Indonesia sebagai
Hari Pendidikan Nasional.

Beliau sendiri terlahir dari keluarga Bangsawan. Ia merupakan anak dari GPH
Soerjaningrat, yang merupakan cucu dari Pakualam III. Terlahir sebagai bangsawan maka
beliau berhak memperoleh pendidikan untuk para kaum bangsawan. Dalam banyak buku
mengenai Biografi Ki Hajar Dewantara, Ia pertama kali bersekolah di ELS yaitu Sekolah
Dasar untuk anak-anak Eropa/Belanda dan juga kaum bangsawan. Selepas dari ELS ia
kemudian melanjutkan pendidikannya di STOVIA yaitu sekolah yang dibuat untuk
pendidikan dokter pribumi di kota Batavia pada masa kolonial Hindia Belanda. Sekolah
STOVIA kini dikenal sebagai fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Meskipun
bersekolah di STOVIA, Ki Hadjar Dewantara tidak sampai tamat sebab ia menderita sakit
ketika itu.

Ki Hadjar Dewantara cenderung lebih tertarik dalam dunia jurnalistik atau tulis-menulis,
hal ini dibuktikan dengan bekerja sebagai wartawan dibeberapa surat kabar pada masa itu,
antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja
Timoer, dan Poesara. Gaya penulisan Ki Hadjar Dewantara pun cenderung tajam
mencerminkan semangat anti kolonial.

Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta


kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan
pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander
memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu
saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja
penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung
perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut
mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya – Ki Hadjar
Dewantara.

Tulisan tersebut kemudian menyulut kemarahan pemerintah Kolonial Hindia Belanda kala
itu yang mengakibatkan Ki Hadjar Dewantara ditangkap dan kemudian ia diasingkan ke
pulau Bangka dimana pengasingannya atas permintaannya sendiri. Pengasingan itu juga
mendapat protes dari rekan-rekan organisasinya yaitu Douwes Dekker dan Dr. Tjipto
Mangunkusumo yang kini ketiganya dikenal sebagai ‘Tiga Serangkai’. Ketiganya kemudian
diasingkan di Belanda oleh pemerintah Kolonial.

Berdirinya organisasi Budi Utomo sebagai organisasi sosial dan politik kemudian
mendorong Ki Hadjar Dewantara untuk bergabung didalamnya, Di Budi Utomo ia berperan
sebagai propaganda dalam menyadarkan masyarakat pribumi tentang pentingnya semangat
kebersamaan dan persatuan sebagai bangsa Indonesia. Munculnya Douwes Dekker yang
kemudian mengajak Ki Hadjar Dewantara untuk mendirikan organisasi yang bernama
Indische Partij yang terkenal.

Di pengasingannya di Belanda kemudian Ki Hadjar Dewantara mulai bercita-bercita untuk


memajukan kaumnya yaitu kaum pribumi. Ia berhasil mendapatkan ijazah pendidikan yang
dikenal dengan nama Europeesche Akte atau Ijazah pendidikan yang bergengsi di belanda.
Ijazah inilah yang membantu beliau untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang
akan ia buat di Indonesia.

Di Belanda pula ia memperoleh pengaruh dalam mengembangkan sistem pendidikannya


sendiri. Pada tahun 1913, Ki Hadjar Dewantara kemudian mempersunting seorang wanita
keturunan bangsawan yang bernama Raden Ajeng Sutartinah yang merupakan putri paku
alaman, Yogyakarta.

Mengenai Biografi Ki Hajar Dewantara, Dari pernikahannya dengan R.A Sutartinah,


beliau kemudian dikaruniai dua orang anak bernama Ni Sutapi Asti dan Ki Subroto
Haryomataram. Selama di pengasingannya, istrinya selalu mendampingi dan membantu
segala kegiatan suaminya terutama dalam hal pendidikan.

Kemudian pada tahun 1919, ia kembali ke Indonesia dan langsung bergabung sebagai
guru di sekolah yang didirikan oleh saudaranya. Pengalaman mengajar yang ia terima di
sekolah tersebut kemudian digunakannya untuk membuat sebuah konsep baru mengenai
metode pengajaran pada sekolah yang ia dirikan sendiri pada tanggal 3 Juli 1922, sekolah
tersebut bernama Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa yang kemudian kita kenal
sebagai Taman Siswa.

Di usianya yang menanjak umur 40 tahun, tokoh yang dikenal dengan nama asli Raden
Mas Soewardi Soerjaningrat resmi mengubah namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara, hal ini
ia maksudkan agar ia dapat dekat dengan rakyat pribumi ketika itu. Ia pun juga membuat
semboyan yang terkenal yang sampai sekarang dipakai dalam dunia pendidikan Indonesia
yaitu :

a) Ing ngarso sung tulodo (di depan memberi contoh).


b) Ing madyo mangun karso, (di tengah memberi semangat).
c) Tut Wuri Handayani, (di belakang memberi dorongan).

Selepas kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tahun 1945, Ki Hadjar Dewantara


kemudian diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri pengajaran Indonesia yang kini
dikenal dengan nama Menteri Pendidikan. Berkat jasa-jasanya, ia kemudian dianugerahi
Doktor Kehormatan dari Universitas Gadjah Mada.

Selain itu ia juga dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan juga sebagai
Pahlawan Nasional oleh presiden Soekarno ketika itu atas jasa-jasanya dalam merintis
pendidikan bangsa Indonesia. Selain itu, pemerintah juga menetapkan tanggal kelahiran
beliau yakni tanggal 2 Mei diperingati setiap tahun sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Ki Hadjar Dewantara Wafat pada tanggal 26 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan
di Taman Wijaya Brata. Wajah beliau diabadikan pemerintah kedalam uang pecahan sebesar
20.000 rupiah.

2.2 Konsep Pendidikan Menurut Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara, pendidik asli Indonesia, melihat manusia lebih pada sisi kehidupan
psikologiknya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya.
Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang.
Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan
ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia.
Tidak ada keabadian dalam kehidupan manusia dan lingkungannya. Pengaruh alam dan
zaman adalah penguasa kodrat yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Anak-anak adalah
sebuah kehidupan yang akan tumbuh menurut kodratnya sendiri, yaitu kekuatan hidup lahir
dan hidup batin mereka (Dewantara I,2004). Maka, Ki Hadjar menekankan arti penting
memperhatikan kodrat alam dalam diri anak semasa pendidikan. Artinya Pendidikan itu
sudah setua usia manusia ketika manusia mulai bertahan hidup dan mempertahankan hidup
dengan membangun peradabannya. Mendidik anak itu sama dengan mendidik masyarakat
karena anak itu bagian dari masyarakat. Mendidik anak berarti mempersiapkan masa depan
anak untuk berkehidupan lebih baik, demikian pula dengan mendidik masyarakat berarti
mendidik bangsa ( Dewantara I, 2004).

Menurut Ki Hadjar, Pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab
dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia
yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat (Dewantara II , 1994). Dengan demikian,
pendidikan itu sifatnya hakiki bagi manusia sepanjang peradabannya seiring perubahan
zaman dan berkaitan dengan usaha manusia untuk memerdekakan batin dan lahir sehingga
manusia tidak tergantung kepada orang lain akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.

Dalam hal ini, Ki Hadjar membedakan antara Pengajaran dan Pendidikan. Pendidikan
adalah tuntutan bagi seluruh kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai
manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya.

Ibarat bibit dan buah. Pendidik adalah petani yang akan merawat bibit dengan cara
menyiangi hulma disekitarnya, memberi air, memberi pupuk agar kelak berbuah lebih baik
dan lebih banyak, namun petani tidak mungkin mengubah bibit mangga menjadi berbuah
anggur. Itulah kodrat alam atau dasar yang harus diperhatikan dalam Pendidikan dan itu
diluar kecakapan dan kehendak kaum pendidik. Sedang Pengajaran adalah Pendidikan
dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan agar bermanfaat bagi kehidupan lahir dan batin
(Dewantara I, 2004).

Di samping itu, Pengajaran yang tidak berdasarkan semangat kebudayaan dan hanya
mengutamakan intelektualisme dan individualisme yang memisahkan satu orang dengan
orang lain hanya akan menghilangkan rasa keluarga dalam masyarakat di Seluruh Indonesia
yang sesungguhnya dan menjadi pertalian suci dan kuat serta menjadi dasar yang kokoh
untuk mengadakan hidup tertib dan damai (Dewantara I , 2004). Tiga butir penting
Pengajaran Rakyat menurut Ki Hadjar:

a) Pengajaran rakyat harus bersemangat keluhuran budi manusia, oleh karena itu harus
mementingkan segala nilai kebatinan dan menghidupkan semangat idealisme.
b) Pengajaran rakyat harus mendidik ke arah kecerdasan budi pekerti , yaitu masaknya jiwa
seutuhnya atau character building.
c) Pengajaran rakyat harus mendidik ke arah kekeluargaan , yaitu merasa bersama-sama
hidup, bersama-sama susah dan senang, bersama-sama tangung jawab mulai dari
lingkungan yang paling kecil, yaitu keluarga. Jangan sampai di sistem sekolah umum
sekolah menjauhkan anak dari alam keluarganya dan alam rakyatnya.

Ki Hadjar Dewantara mengajukan lima asas pendidikan yang dikenal dengan sebutan
pancadharma (kodrat alam, kemerdekaan, kebudayaan, kebangsaan, dan kemanusiaan).
Berikut adalah penalaran atas kelima asas tersebut:

1 Kemanusiaan, yaitu berupaya menghargai dan menghayati sesama manusia dan


makhluk Tuhan lainnya. Meningkatkan kesucian jiwa dan cinta kasih.
2 Kebangsaan, ialah bersatu dalam suka dan duka, dan tidak boleh bertentangan dengan
kemanusiaan.
3 Kebudayaan, yaitu kebudayaan nasional harus dilestarikan dan dikembangkan. Untuk
itu Dewantara mengemukakan konsep Tri Kon yaitu:
a) Kontinu, kebudayaan nasional harus dikembangkan secara terus menerus.
b) Konsentrasi, kebudayaan itu harus berpusat pada kebudayaan bangsa Indonesia.
Terhadap kebudayaan asing haruslah selektif.
c) Konvergensi, kebudayaan-kebudayaan asing yang sudah diseleksi diintegrasikan
ke dalam kebudayaan-kebudayaan asli bangsa Indonesia.
4 Kodrat alam, manusia adalah bagian dari alam, maka manusia harus dibina dan
berkembang sesuai dengan kodrat alam.
5 Kemerdekaan/kebebasan, setiap anak harus diberi kesempatan bebas mengembangkan
diri sendiri. Mereka perlu mendisiplinkan diri sendiri untuk mengejar nilai-nilai hidup
sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Pandangan Hidup Ki Hajar Dewantara Yang menjadi semboyan Taman siswa sangat
terkenal hingga sekarang yaitu : “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri
handayani” (“di depan menjadi teladan, di tengah membangkitkan semangat, dari belakang
mendukung”). semboyan ini juga memiliki pengetian sebagai berikut:

1. Ing Ngarso Sun Tulodo

Ing Ngarso Sun Tulodo artinya Ing ngarso itu didepan / dimuka, Sun berasal dari kata
Ingsunyang artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah
menjadiseorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang – orang
disekitarnya.Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah kata suri tauladan.

2. Ing Madyo Mbangun Karso


Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Membangun berartimembangkitan atau menggugah
dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadimakna dari kata itu adalah
seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampumembangkitkan atau menggugah
semangat . Karena itu seseorang juga harus mampumemberikan inovasi-inovasi
dilingkungannya dengan menciptakan suasana yang lebih kodusif untuk keamanan dan
kenyamanan
3. Tut Wuri Handayani
Tut Wuri Handayani artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati
memberikandorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani
ialahseseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang.
Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh orang – orang disekitar kita menumbuhkan
motivasi dansemangat.

Pendidikan Budi Pekerti atau Karakter, yaitu bulatnya jiwa manusia, bersatunya gerak
pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan yang akan menumbuhkan enerji jiwa manusia
sebagai makhluk individu dan sosial dan dapat memerintah atau menguasai dirinya sendiri ,
mulai dari gagasan, pikiran, atau angan-angan hingga menjadi tindakan. Ki Hadjar
menyebutnya sebagai manusia yang beradab dan itulah tujuan Pendidikan Indonesia secara
garis besar. Maka, Ki Hadjar membagi fasa pendidikan menjadi tiga perkembangan, yaitu :

1. Hamemayu Hayuning Sariro, yang berarti pendidikan berguna bagi yang


bersangkutan, keluarganya, sesamanya, dan lingkungannya. Disini sangat jelas apa arti
manusia sebagai makhluk individu dan sosial.
2. Hamemayu Hayuning Bongso, yang berarti pendidikan berguna bagi bangsa , negara,
dan tanah airnya. Butir ini juga ditekankan di panca darma Ki Hadjar dan 10 Pedoman
Guru.
3. Hamemayu Hayuning Bawono, yang berarti pendidikan berguna bagi masyarakat yang
lebih luas lagi yaitu dunia atau masyarakat global.

Pendidikan karakter untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa itu harus dimulai
sedini mungkin bagi seluruh anak bangsa. Pemikiran Ki Hadjar yang menarik bagi
Pendidikan untuk membangun bangsa Indonesia adalah Wirama yaitu sifat tertib serta
hidupnya laku yang indah sehingga dapat memberi rasa senang dan bahagia . Wirama itu
tidak lepas dari kodrat alam seperti keteraturan alam, keindahan alam, sifat alami alam yang
ritmik. Di samping itu, dengan mengutip seorang ahli psikologi dan ilmu pendidikan Dr
Rudolf Steiner, Ki Hadjar mengungkap bahwa Wirama, yaitu mempermudah pekerjaan,
mendukung gerak pikiran, mencerdaskan budi pekerti, dan menghidupkan kekuatan dalam
jiwa manusia.. Wirama akan membiasakan manusia menghargai harmomi dalam keragaman,
hal yang sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia yang memiliki keanekaragaman bawaan.
Dengan harmoni maka manusia akan selalu menyelaraskan hidupnya dengan lingkungannya
serta menjaga kemerdekaannya dengan menghargai kemerdekaan orang lain. Wirama itu ada
dalam adat-istiadat, tata-krama, kebiasaan setiap etnis suku bangsa.

Jadi, Pendidikan memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan guna membangun


bangsa secara sistematis dan sistemik ke arah yang lebih baik dengan cara melihat ke keadaan
yang tidak dikehendaki saat ini dan kemudian menentukan tujuan serta langkah yang
dibutuhkan untuk mewujudkan masyarakat yang dikehendaki di masa yang akan datang
sebagai koreksi terhadap kesalahan yang telah diperbuat di masa lalu dan harapan
digantungkan agar kehidupan yang akan datang lebih menyenangkan, lebih demokratis, lebih
merakyat, dan lebih manusiawi dibanding yang ada sekarang, sekaligus menjadi ultimate goal
pendidikan Ki Hadjar yaitu Hamemayu Hayuning Manungso.

2.3 Implementasi Konsep Pendidikan Menurut Ki Hadjar Dewantara di Masa


Sekarang

Sistem pendidikan Indonesia dari zaman kolonial hingga sekarang tetap saja
mengecewakan. Hampir tidak ada lagi nilai-nilai kebangsaan yang ditanamkan dalam proses
penyelenggaraan pendidikan nasional kita. Pendidikan kapitalistik, seperti di era reformasi
sekarang, hanya menciptakan pemisahan orang-orang terpelajar dengan rakyatnya,
menyebabkan munculnya Stratifikasi sosial ditengah kehidupan masyarakat. Kondisi
demikian tentu sangat jauh dari konsep pendidikan dan pengajaran yang dimaksudkan oleh
Ki Hajar Dewantara.

Perubahan sistem kekuasaan merupakan penyebab utama hancurnya karaktek pendidkan


nasional. Pada era kemerdekaan, pendidikan bertujuan melekatkan kemerdekaan pada
persatuan rakyat. Lalu, sekarang pendidikan hanya dijadikan sebagai komoditi. Pendidikan
nasional saat ini memiliki segudang persoalan, mulai dari wajah pendidikan yang berwatak
pasar yang menyebabkan hilangnya daya kritis tenaga didik terhadap persoalan bangsanya
hingga pemosisian lembaga pendidikan sebagai sarana menaikan starata sosial dan ajang
mencari ijazah belaka. Tujuan pendidikan kita dewasa ini tentulah sangat berbeda dengan
tujuan pendidikan ketika itu. Pendidikan saat ini, cenderung menghasilkan orang-orang
pandai dan cerdas, tetapi kurang pandai dan cerdas dalam perasaan. Sehingga terjadilah hal-
hal yang kerapkali menyimpang dari tujuan pendidikan semula, seperti pemalsuan ijazah atau
tawuran di antara sesama pelajar

Peranan pendidikan, yang sejatinya untuk pembangunan bangsa, telah didisorientasikan


oleh kekuasaan guna kepentingan kapital semata. Di sini, pendidikan tak lebih dari alat
akumulasi keuntungan. Disamping itu, kandungan pendidikan dan pengajaran sekarang ini
tidak memuat nilai-nilai kebangsaan. Pendidikan sekarang hanya melahirkan sikap
individualisme, hedonisme dan hilangnya jiwa merdeka. Hasil pendidikan seperti ini tidak
dapat diharapkan membangunan kehidupan bangsa dan negara bermartabat.

2.4 Tantangan-Tantangan Implementasi Konsep Pendidikan


Pergeseran pemaknaan konsep pendidikan dapat kita temukan dalam caraberpikir
setiap orang di Indonesia yang, misalnya kalau kita berbicara tentang pendidikan, pada
umumnya langsung terarah ke sekolah. Artinya, orang-orang di Indonesia pada umumnya
berpikir bahwa pendidikan itu terjadi di sekolah, dari yang terendah sampai yang tertinggi.
Meskipun demikian, Ki Hadjar sebagaimana juga pakar pendidikan J. Drost, SJ,istilah
pendidikan formal, yang ada adalah pengajaran formal. Tidak ada istilah pendidikan tinggi,
yang ada adalah pengajaran tinggi, Pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan kurikulum,
bagaimanapun pembelaan atasnya pada tataran teoretis, dalam praksisnya tetap merupakan
upaya teknis pengajaran formal.
2.4.1 Tataran Orientasi
Reduksi atas hakikat pendidikan dengan sendirinya menciptakan disorientasi pendidikan.
Pendidikan yang mestinya diarahkan untuk membentuk kepribadianmanusia yang dewasa,
pemanusiaan secara manusiawi lantas diarahkan pada hal-hal duniawi. Misalnya, pendidikan
lantas dipahami sebagai upaya menyiapkan generasi muda untuk memasuki dunia kerja
supaya mereka mampu memenuhi kebutuhan ekonomi secara layak. Dalam spirit itu pula
lembaga pendidikan lantas dikelola seperti lembaga bisnis. Maka dalam praksisnya, ideal
pendidikan dikorbankan demi mengejar target angka tinggi, bahkan hal itu dilakukan dengan
berbagai cara yang kurang terpuji sebab mengabaikan proses dan kualitas. Di sisi lain, ada
kecenderungan bahwa institusi-institusi pendidikan kini beralih kiblat dari visi ideal
kemanusiaan ke lembaga ekonomi yang menjual pengetahuan sebagai komoditas. Sebagai
demikian, ia mereduksi diri menjadi sekadar balai latihan “pertukangan” yang memang
melahirkan orang yang ahli dalam bidangnya, tetapi tanpa visi, terampil tetapi tanpa ruh dan
isi.

2.4.2 Tataran proses


Bila kita amati bagaimana praksis pendidikan di Indonesia berlangsung pada setiap hari, di
sana tampak bahwa ada aktivitas yang selalu berlangsung lama dan serius. Guru sibuk
menyajikan materi pelajarannya, sementara para murid diharapkan dapat mengikutinya.
Idealnya, murid memberikan perhatian serius, menyimak setiap penjelasan dan memahami
apa yang dipaparkan oleh gurunya. Tetapi, bagaimana hasilnya? Apakah para murid mampu
menyerap sedemikian banyak informasi ke dalam kesadaran budinya sehingga membentuk
pengetahuannya setelah berjam-jam mengikuti pelajaran yang melelahkan potensi
kognisinya? Apakah materi pelajaran yang diterima para murid di sekolah selama bertahun-
tahun itu secara signifikan mempengaruhi keterampilan mereka yang menjadi tuntutan dalam
dunia kerja? Atau, apakah proses pendidikan di sekolah membentuk para murid menjadi
orang yang memiliki kepribadian yang dewasa? Tampaknya, sejauh proses pendidikan di
sekolah terlalu dominan kognisi, sulit untuk melihat korelasi yang signifikan antara
penguasaan materi pembelajaran di sekolah dengan perilaku, perkataan dan keterampilan
bekerja para murid.
Selama menempuh pendidikan di sekolah tidak bisa disangkal bahwa para murid
mendapatkan hal-hal yang berguna. Mereka memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan
perilakunya mendapat orientasi, tetapi semuanya itu terasa belum mendalam, dan tidak
sebanding dengan waktu, tenaga, biaya, dan pikiran yang telah dicurahkan untuk itu. Hal ini
dapat dilacak dari perolehan nilai akademis setiap murid dan pengalaman para guru dalam
mengajar. Cukup banyak guru yang mengeluh atas hasil kerja para muridnya. Demikian pula
halnya dengan para orang tua murid. Banyak dari antara mereka yang merasa kecewa setelah
mengetahui perilaku anakanaknya, baik di sekolah maupun di masyarakat. Ketika di rumah,
anak-anaknya kelihatan sopan, penurut, tapi di sekolah menjadi anak yang bandel dan suka
membolos.
Hal ini membentuk kerangka berpikir para murid yang keliru tentang pendidikan, yakni
upacara formal saja. Akibatnya, mereka berprinsip yang penting hadir/datang, duduk, dengar,
catat, pulang. Buku pelajaran dibuka kembali kalau ada ulangan atau ujian kelas. Kecuali itu,
para murid tampak terbebani oleh banyaknya materi pengajaran. Guru mengajar terus,
sementara murid duduk, diam, dengar tapi tidak mengerti apa yang dijelaskan oleh gurunya.
Jangankan bertanya, selama di kelas dan mengikuti pelajaran para murid pada umumnya
enggan untuk berkomentar seputar materi. Mereka tampak pasrah mengikuti pelajaran.
Kondisi ini jauh berbeda ketika bel istirahat berbunyi. Mereka tampak girang dan gembira,
seakan-akan tidak mau kehilangan kesempatan mereka sibuk ngobrol apa saja dengan teman-
temannya yang pasti tidak berkaitan sama sekali dengan materi pelajaran yang baru saja
diajarkan oleh durunya. Fenomena ini menunjukkan bahwa para murid mengalami tekanan
materi pengajaran selama di kelas atau di sekolah. Lembaga sekolah yang seharusnya
menjadi tempat yang menyenangkan untuk mereka belajar, seringkali malahan dialami
mereka sebagai lembaga memenjarakan potensi lahir dan batin. Padahal, menurut Ki Hadjar
Dewantara, pendidikan di sekolah adalah upaya memerdekakan lahiriah dan batiniah.

2.4.3 Tataran Materi


Pada tataran materi pengajaran terjadi dominasi ke arah kognitif. Baik guru maupun murid
sama-sama tertimpa beban materi pengajaran dan pelajaran. Guru dan murid sama-sama
tersita waktu, pikiran dan tenaga untuk urusan kognitif. Akibatnya, sebagus apapun materi
dan pengajarannya, proses penyampaiannya terjebak dalam kerangka teoretis semata-mata.
Artinya, aktivitas pengajaran jatuh pada urusan teknismekanis, minim sekali upaya ke arah
internalisasi nilai, atau refleksi atas nilai-nilai.

2.4.4 Tataran Hasil


Akibat lanjut dari dominasi kognisi dalam materi pengajaran, output pendidikan pun tidak
utuh, tidak memiliki integritas, punya akal tapi tidak punya kepekaan hati, punya
pengetahuan (knowledge) tapi miskin nilai (value). Maka, tidak mengherankan bahwa dari
tahun ke tahun, kualitas hasil pendidikan tampak semakin jauh dari yang ideal. Artinya, jauh
dari harapan Ki Hadjar Dewantara, bahwa peserta didik itu diolah aspek lahiriah (pengajaran)
dan batiniahnya (pendidikan). Sehingga peserta didik berkepribadian 100% dan
berpengetahuan 100% (cerdas kognisi).

2.5 Solusi Alternatif Atas Tantangan-Tantangan


Berhadapan dengan tantangan-tantangan implementasi konsep, semboyan dan metode
pendidikan Ki Hadjar Dewantara, siapa pun juga termasuk para pakar, tidak luput dari
kesulitan dalam menemukan solusi. Dalam konteks penelitian ini, kami melihat empat pilar
penting yang menjadi kunci untuk mengatasi atau menanggapi tantangan-tantangan
implementasi yang dimaksudkan, yakni: Lembaga Pendidikan,Pendidik Sebagai Teladan,
Peserta Didik Sebagai Subyek.

2.5.1. Lembaga Pendidikan


Bila pendidikan dipahami sebagai proses pemanusiaan manusia agar ia dewasa dan
memiliki kepribadian yang utuh, perwujudannya semestinya tidak terlepas dari visi dan misi
lembaga pendidikan. Artinya, visi dan misi lembaga pendidikan yang proses perwujudannya
didukung oleh sarana dan prasarananya yang memadai berpengaruh signifikan terhadap
output pendidikan. Lembaga pendidikan yang cenderung menekankan kognisi dalam
praksisnya selain kurang relevan dengan konsep Ki Hadjar Dewantara, juga mereduksi
hakekat pendidikan sebagai proses pemanusiaan manusia secara utuh dan penuh. Dalam
rangka itu pula, lima poin berikut ini penting diperhatikan lembaga pendidikan dalam praksis
pendidikan:
1. Mengedepankan upaya pemanusiaan secara seutuhnya dalam seluruh praksis
pendidikan. Artinya, aktivitas pendidikan dimaksudkan pertama-tama untuk
mengembangkan kemanusiaan peserta didik secara utuh dan penuh. Dalam praksisnya
potensi-potensi peserta didik dikembangkan secara terintegrasi (kognitif, afektif,
psikomotor, konatif, sosial dan spiritual).
2. Senantiasa meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan. Artinya,
ketersediaan sarana (gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, komputer) dan
prasarana (kursi, meja, papan tulis, alat-alat peraga) merupakan prasyarat dasar bagi
pelaksanaan pendidikan yang memadai.
3. Lembaga pendidikan bertanggungjawab dalam menyiapkan pelaku pendidikan (guru-
guru) yang profesional dan memiliki integritas diri. Sementara itu, pelaku pendidikan
senantiasa juga meningkatkan kualitas materi pendidikan dan integritas diri dalam
khasanah moral.
4. Menghidupkan dan menerapkan konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara bahwa
pendidikan itu pada dasarnya dimaksudkan untuk membebaskan lahiriah dan batiniah.
5. Menjamin bahwa proses pendidikan tidak lagi dominasi kognitif, tapi membangun
sinergi pengembangan potensi-potensi (kognitif, afektif, psikomotor, sosial, dan
spriritual). Dengan demikian, output pendidikan tidak hanya berskal, tapi juga
bermoral

2.5.2 Pendidik Sebagai Teladan


Persoalan-persoalan pendidikan bisa jadi terkait erat juga dengan mentalitas pendidik.
Sesuai dengan visi pendidikan Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidik adalah seorang teladan
bagi peserta didiknya maka pendidik benar-benar orang yang pantas diteladani. Istilah
menjadi teladan menunjukkan bahwa seorang pendidik adalah model yang ideal untuk ditiru
oleh peserta didiknya dalam hal perkataan dan perbuatan sehari-hari. Ringkasnya, praksis
kehidupan pendidik memancarkan wibawa kejujuran, kesahajaan, kecerdasan, yang selalu
membangkitkan semangat dan kesadaran para muridnya untuk melakukan hal yang senada.
Sementara dalam aktivitas pengajarannya di sekolah, ia menciptakan dan memberikan
peluang seoptimal mungkin bagi pengembangan potensi-potensi peserta didiknya. Dengan
demikian, para murid yang berada di bawah asuhannya tidak menjadi robot-robot yang
pandai meniru saja, tapi sebaliknya mereka menjadi semakin kritis dalam menakar segala
fenomena kehidupan dan kreatif dalam mencari dan menyusun strategi untuk mengatasi
setiap persoalan yang mendera kemanusiaan. Ringkas kata, guru adalah, meminjam istilah Ki
Hadjar Dewantara, “pengasuh”, yang dalam praksisnya selalu menumbuhkan kesadaran
moral dalam diri peserta didiknya untuk mengusahakan dirinya tetap dalam pilihan menjadi
pribadi yang dewasa dalam setiap situasi kehidupan.

2.5.3. Peserta Didik Sebagai Subyek Pendidikan


Dalam proses pendidikan, peserta didik dipahami sebagai subyek pendidikan. Dalam
praksisnya guru hendaknya memandang murid sebagai seorang pribadi yang memiliki
potensi-potensi yang perlu dikembangkan. Dalam rangka mengembangkan potensipotensi itu,
guru menawarkan pengetahuan kepada para muridnya dalam suatu dialog. Sementara itu,
murid memikirkan dirinya dalam suatu dialog dan mengungkapkan gagasan-gagasannya
sehingga yang terjadi adalah pengetahuan tidak ditanamkan secara paksa tetapi ditemukan,
diolah dan dipilih oleh murid. Guru hadir dalam kelas dengan wawasan yang luas sehingga
diskusi tentang mata pelajaran terlaksana secara luas dan mendalam. Dalam konteks diskusi,
siswa memiliki hak untuk tidak setuju dengan interpretasi guru atas mata pelajaran.
Sementara itu, guru harus menghargai alasan-alasan penolakan atau ketidaksetujuan murid
atas interpretasinya. Terkait dengan peserta didik sebagai subjek ini, sekolah atau lembaga
pendidikan merupakan suatu forum di mana para peserta didik mampu berdialog dengan
teman-teman dan para gurunya. Dalam konteks itu, guru selain sebagai mitra dialog yang
setaraf, juga membantu peserta didik dalam membangun gagasan-gagasan baru untuk
menghadapi dan memecahkan persoalan-persoalan hidup nyata.

2.5.4. Menjunjung Tinggi Kesetaraan Peran


Istilah peserta didik sebagai subjek pendidikan, menunjukkan bahwa relasi antara murid
dan gurunya harus terjalin dalam nuansa kesetaraan peran. Artinya, hubungan keduanya
dapat diibaratkan dengan dua sisi mata uang yang harus ditempatkan dan disatukan secara
sejajar sehingga sungguh bermanfaat.
Dalam praksis pendidikan, guru menjamin rasa aman dan nyaman bagi peserta didiknya
selama pelajaran berlangsung. Kondisi ini penting diciptakan dalam seluruh proses
pendidikan selain untuk menumbuhkan perasaan kesetaraan peran antara pendidin dan
peserta didik, juga dapat menumbuhkan kecintaan peserta didik pada seluruh proses
pendidikan. Pada konteks yang terakhir itu, peserta didik dengan sendirinya terdorong untuk
rajin ke sekolah, giat belajar dan berperilaku baik di lingkungan sekolah dan masyarakat.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilam yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pandangan Hidup Ki
Hajar Dewantara Yang menjadi semboyan Taman siswa sangat terkenal hingga sekarang
yaitu : “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani” (“di depan
menjadi teladan, di tengah membangkitkan semangat, dari belakang mendukung”).
Jadi, Pendidikan memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan guna membangun bangsa
secara sistematis dan sistemik ke arah yang lebih baik dengan cara melihat ke keadaan yang
tidak dikehendaki saat ini dan kemudian menentukan tujuan serta langkah yang dibutuhkan
untuk mewujudkan masyarakat yang dikehendaki di masa yang akan datang sebagai koreksi
terhadap kesalahan yang telah diperbuat di masa lalu dan harapan digantungkan agar
kehidupan yang akan datang lebih menyenangkan, lebih demokratis, lebih merakyat, dan
lebih manusiawi dibanding yang ada sekarang, sekaligus menjadi ultimate goal pendidikan Ki
Hadjar Dewantara.

3.2 Saran
Setelah mengelaborasi konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan membahas tantangan-
tantangan implementasinya dalam praksis pendidikan, kami merumuskan lima rekomendasi
berikut ini, yang penting diperhatikan lembaga pendidikan dan praktisi pendidikan di
Indonesia dewasa ini, bahwa pendidikan hendaknya diarahkan untuk:
1. Memerdekaan lahiriah dan batiniah (sehingga menjadi pribadi yang memiliki otonomi
intelektual, otonomi eksistensial, otonomi sosial).
2. Membangun kesadaran peserta didik bahwa dirinya adalah bagian integral dari alam
semesta.
3. Membentuk perasaan peserta didik untuk mencintai ketertiban dan kedamaian.
4. Membentuk sikap tanggungjawab dalam diri peserta didik agar setia
danbertanggungjawab dalam memelihara nilai-nilai dan bentuk-bentuk kebudayaan
nasional.
5. Membangun rasa nasionalisme dalam diri peserta didik sehingga ia merasa satu dengan
bangsanya dan cinta akan bangsanya.
Daftar Pustaka

https://www.biografiku.com/biografi-ki-hajar-dewantara/

https://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hadjar_Dewantara

http://dewantara.id/home/id_ID/blog/...dan-kehidupan/

https://asiswanto.net/?page_id=305

Amoersetya, Rusdianto Alit. 2012. “Pemikiran Ki Hajar Dewantara Tentang Pendidikan


Nasional”. http://m.berdikarionline.com/opini/20120609/pemikiran-ki-hajar-dewantara-
tentang-pendidikan-nasional.html.

Azra, Azyumardin. 2012. “Pendidikan Karakter: Peran Sekolah dan Keluarga”.


http://www.erlangga.co.id/umum/7405-pendidikan-karakter-peran-sekolah-dan-keluarga-
.html. Diakses tanggal 13 Desember 2012.
http://www.berdikarionline.com/pemikiran-ki-hajar-dewantara-tentang-pendidikan-nasional/

Beri Nilai