Anda di halaman 1dari 12

Naskah Role Play

Komunukasi Terapeutik pada Perawat IGD

Naskah Role Play

Aktris : Khairunnisa tanjung as Pasien

Sondang MS as Perawat 1

Denny Pratama as Perawat 2

Henni Yuliatma as Ibu Pasien

Okta Viana Sari as Dokter

Anton Riyadi as Penolong

Adam Bayu S as Security

Backsound kecelakaan

Narasi

Pada suatu hari terjadi sebuah kecelakaan tunggal yang mengakibatkan


seorang remaja perempuan mengalami cidera dan kemudian dilarikan ke
rumah sakit Mitra Sehat oleh dua pengendara lain yang menolongnya.

Backsound bunyi ambulance

Pasien (Setengah sadar dengan merintih kesakitan)

Penolong : “Sus tolong sus ada pasien kecelakaan, tolong segera

ditangani”
Narasi

Perawat IGD dan security segera mengambil brankar, dan memindahkan


pasien pasien diatas bed.

Security : “Maaf pak anda siapanya ?”

Penolong : “Saya hanya menolong mas dia tadi sudah tergeletak di

jalan tidak ada yang menolong jadi saya bawa saja ke

sini yang dekat ”

Security : “Anda tahu identitas pasien nya ?”

Penolong : “Tidak pak tapi saya coba tanya ke pasiennya dulu.”

(si penolong menghampiri korban)

Penolong : “dek kamu sudah punya KTP belum?, kl ada boleh saya
pinjam dulu untuk administrasi? Kamu bawa hp atau tidak
? Nanti saya akan mengabari keluargamu”

Pasien : “Di tas pak” (dengan suara lemas).

Narasi

Kemudian si penolong mengurusi registrasi si korban dan menghubungi


keluarga klien. Sementara itu, si perawat sedang menangani korban
kecelakaan tadi.

Perawat 1 : “mbk, mbk bisa dengar saya ?”

Pasien : “aduh sakit sus”

Perawat 1 : “yang sakit sebelah mana mbk ?”

Pasien menggerakkan bagian yang sakit (kaki).


Perawat 1 : “ kaki yang bagian ini sakit ? coba gerakkan mbk, sakit
tidak mbk ?”

Pasien : “sakit sus kalau digerakkan”

Perawat 1 : “ada keluhan lain ga mbk? Seperti pusing, merasa mual


atau ingin muntah?”

Pasien : “pusing saja sus”

Di depan IGD

Keluarga : “pak anak saya tadi kecelakaan dan dibawa ke rumah


sakit. Namanya Andriana pak ?” (dengan ekspresi yang
panik)

Security : “disebelah sana buk, mari saya antarkan”

Narasi

Petugas Security pun mengantarkan Ibu pasien menuju bed tempat anaknya

dirawat

Security : “ Ini bu, anak ibu ada di dalam”


Ibu : “ Oh iya, makasih sus”
Security : “ Iya bu, sama-sama”

Narasi

Sang Ibu pun segera membuka sampiran dan menjumpai anaknya


terbaring tak berdaya di atas tempat tidur
Ibu : “ Ya Allah nak...... kok bisa sampek kayak gini to?,
apanya yang sakit nak?”
Pasien : “ Kaki bu, sama pusing”
Ibu : “ Lha ini tadi kamu sudah diperiksa sama dokter belum
nak?”
Pasien : “ Sudah bu”
Ibu : “ Terus apa katanya dokter?”
Pasien : “ Gak tau bu”

Narasi
Ditengah perbincangan ini perawat datang ke ruangan pasien
Perawat 1 : “ Permisi bu, saya izin mau menanyai mbaknya sebentar
ya bu”
Ibu ; “ Iya sus, silahkan”
Perawat 1 : “Gimana mbk ada yang dikeluhkan lagi ?”
Pasien : “ Masih sus, dada saya terasa sesak ”
Ibu : “ Lho nak dadamu sesak juga to?” (Sang ibu kaget)
Pasien ( Menganggukkan kepala)
Ibu : “ Ini kenapa ya sus, kok dada anak saya sesak? Padahal
kan anak saya tidak punya riwayat sakit asma”
Perawat 1 : “ Mungkin anak Ibu mengalami syok, sehingga dadanya
terasa sesak. Kalau begitu saya pasangkan oksigen dulu ya,
biar sesak nafasnya berkurang.”
Pasien ( Menganggukan kepala)

Narasi
Perawat memulai tindakan pemberian oksigen pada pasien
Ibu : “ Lha ini tadi katanya anak saya sudah diperiksa sama
Dokter, hasilnya gimana ya sus?”
Perawat 1 : “ Oh itu, nanti Ibu akan dijelaskan secara langsung oleh
dokter bu”
Ibu : “ O begitu ya sus”
Perawat 1 : “ Iya bu, kalau begitu saya permisi dulu ya bu, kalu butuh
sesuatu bisa panggil kita di ruang perawat ya bu”
Ibu : “ Baik sus”
Perawat 1 : “ Mari bu, permisi”
Ibu : “ Oh iya, monggo”

Narasi
Perawat kembali ke ruang perawat dan Ibu pasien tetap menunggu pasien
di samping tempat tidur pasien. Setelah beberapa menit kemudian, seorang
perawat datang kembali.
Perawat 2 : “ Permisi bu, Ibu diminta untuk menemui dokter sekarang
bu”
Ibu : “ Iya sus, lha terus anak saya sama siapa
sus?”
Perawat 2 : “ Ibu silahkan temui dokter dulu, anaknya biar saya yang
menjaga”

Narasi
Di ruang jaga Ibu pasien bertemu dengan Dokter yang berjaga di IGD
Dokter : “ Keluarga dari Saudari Andriana ya bu.Maaf ibu siapanya
andriana?”
Ibu : “ Iya dok,saya ibunya. bagaimana dengan anak saya dok?”
Dokter : “ Silahkan duduk dulu bu, saya akan menjelaskan tentang
keadaan anak ibu”
Ibu : ” Iya dok” (sambil duduk)
Dokter : “ Ini sepertinya ada gangguan pada tulang di bagian kaki
Saudari Andriana, dan sejak tadi dia mengeluhkan pusing,
jadi untuk mengetahui keadaan tulang di bagian kakinya
kita sebaiknya melakukan rogten terlebih dahulu dan juga
sebaiknya kita melakukan CT Scan untuk mengetahui
keadaan dari bagian dalam kepala anak Ibu”
Ibu : “ Memangnya kalau tidak dilakukan itu kenapa ya dok?”
Dokter : “ Jika tidak dilakukan rogten dan CT scan, kita tidak
mengetahui keadaan pastinya, jadi kita tidak bisa
mengambil tindakan selanjutnya”
Ibu : “ Kalau saya pikirkan terlebih dahulu bagaimana dok?”
Dokter : “ Iya bu silakan, tetapi saya mohon Ibu segera
memberikan keputusan agar kita bisa melakukan tindakan
selanjutnya”
Ibu : “ Baik dok, kalau begitu saya permisi dulu”
Dokter : “ Oh iya bu, silahkan”

Narasi
Sang ibupun kembali menuju ruangan pasien, namun di tengah perjalanan
Ibu bertemu dengan perawat yang menangani anaknya tadi
Perawat 1 : “ Ibu sudah bertemu dengan dokter dan sudah dijelaskan
tentang kondisi Andriana kan bu?”
Ibu : “ iya suster, tadi kata dokter sebaiknya dilakukan rogten
dan CT scan pada anak saya, tapi kok saya nggak yakin ya
sus?”
Perawat 1 : “ Memang sebaiknya dilakukan itu bu, agar bila terjadi
sesuatu bisa segera diketahui dan ditangani, bagaimana bu
apa ada yang kurang jelas?”

Ibu : “ Tapi itu nanti beresiko atau tidak ya sus?”

Perawat 1 : “ InsyaAllah tidak apa-apa bu”

Ibu : “ Oh ya ya ya, makasih ya sus informasinya”

Perawat 1 : “ Iya, bu sama-sama, mari bu”

Ibu : “ Iya sus”

Narasi

Setelah mendapat informasi dari perawat, Ibupun yakin dengan keputusan


yang akan diambilnya, dan menuju ruang dokter untuk konfirmasi
Dokter : “ Bagaimana bu?”

Ibu : “ Setelah saya pikir-pikir saya setuju bila anak saya

dirongten dan di CT scan”

Dokter : “ Baiklah kalau begitu ibu bisa menandatangani surat

persetujuan tindakan”

Ibu : “ Iya dok, saya tanda tangan dimana?”

Dokter : “ Ini silahkan Ibu baca terlebih dahulu , kemudian tanda

tangan di sebelah sini”

Narasi

Kemudian Sang Ibu kembali ke kamar pasien , setelah beberapa saat


kemudian datanglah seorang perawat.

Perawat 2 : “ Permisi bu, mbk Andriana ini mau dilakukan rongten,


mbk mau saya antarkan ke ruang radiologi, sebelumnya
perhiasannya dan jamnya dilepas dulu ya, biar dibawa
ibunya dulu”

Pasien (menganggukan kepala)

Perawat 2 : “ Mari mbk saya antarkan”

Pasien : “ Saya maunya diantar mbak perawat yang baik hati dan
mirip ibu saya tadi saja sus”

Perawat 2 : “ Perawat yang tadi sudah pulang mbk, biar saya antar
saja ya, Ibunya juga boleh ikut nganter kok

Pasien : “Iya sus” (terdiam sejenak)


Narasi

Dan akhirnya Andriana pun dibawa ke ruang radiologi untuk diakukan


rongten. Dari hasil rongten diketahui bahwa pasien mengalami patah
tulang, dan harus di rawat inap untuk segera dilakukan operasi.
A. Teknik komunikasi Terapeutik yang digunakan dalam role play “
Komunikasi Terapeutik pada Pasien di IGD” adalah :
1. Observasi : kegiatan mengamati kondisi klien/orang lain. Observasi
dilakukan apabila terdapat konflik antara verbal dan non verbal yang
butuh pengamatan lebih mendalam.
Contoh pada dialog

Pasien : “aduh sakit sus”

Perawat 1 : “yang sakit sebelah mana mbk ?”

Pasien menggerakkan bagian yang sakit (kaki).

Perawat 1 : “ kaki yang bagian ini sakit ? coba gerakkan mbk, sakit
tidak mbk ?”

Pasien : “sakit sus kalau digerakkan”

Perawat 1 : “ada keluhan lain ga mbk? Seperti pusing, merasa mual


atau ingin muntah?”

Pasien : “pusing saja sus”

2. Klarifikasi: menanyakan kepada klien apa yang tidak dimengerti


perawat terhadap situasi yang ada. Klarifikasi dilakukan apabila pesan
yang disampaikan oleh klien belum jelas bagi perawat dan perawat
mencoba memahami situasi yang digambarkan oleh klien.
Contoh dialog

Pasien : “aduh sakit sus”

Perawat 1 : “yang sakit sebelah mana mbk ?”

Pasien menggerakkan bagian yang sakit (kaki).


Perawat 1 : “ kaki yang bagian ini sakit ? coba gerakkan mbk, sakit
tidak mbk ?”

Pasien : “sakit sus kalau digerakkan”

3. Offering Sel (menawarakan diri): perawat menawarkan diri adalah


menyediakan diri untuk membantu kebutuhan klien.
Contoh dialog:
Perawat 2 : “ Permisi bu, Ibu diminta untuk menemui dokter sekarang
bu”
Ibu : “ Iya sus, lha terus anak saya sama siapa
sus?”
Perawat 2 : “ Ibu silahkan temui dokter dulu, anaknya biar saya yang
menjaga”

4. Ekplorasi : mendalami masalah yang dihadapi klien.


Contoh dialog
Perawat 1 : “Gimana mbk ada yang dikeluhkan lagi ?”
Pasien : “ Masih sus, dada saya terasa sesak ”

5. Menawarkan informasi: Menyediakan tambahan informasi dengan


tujuan untuk mendapatkan respon lebih lanjut.
Ibu : “ Lho nak dadamu sesak juga to?” (Sang ibu kaget)
Pasien ( Menganggukkan kepala)
Ibu : “ Ini kenapa ya sus, kok dada anak saya sesak? Padahal
kan anak saya tidak punya riwayat sakit asma”
Perawat 1 : “ Mungkin anak Ibu mengalami syok, sehingga dadanya
terasa sesak. Kalau begitu saya pasangkan oksigen dulu ya,
biar sesak nafasnya berkurang.”
Pasien ( Menganggukan kepala)

6. Assertive: kemampuan dengan secara meyakinkan dan nyaman


mengekspresikan pikiran dan perasaan diri dengan tetap menghargai
hak orang lain.
Ibu : “ iya suster, tadi kata dokter sebaiknya dilakukan rogten
dan CT scan pada anak saya, tapi kok saya nggak yakin ya
sus?”
Perawat 1 : “ Memang sebaiknya dilakukan itu bu, agar bila terjadi
sesuatu bisa segera diketahui dan ditangani, bagaimana bu
apa ada yang kurang jelas?”

Ibu : “ Tapi itu nanti beresiko atau tidak ya sus?”

Perawat 1 : “ InsyaAllah tidak apa-apa bu”

Ibu : “ Oh ya ya ya, makasih ya sus informasinya”

Perawat 1 : “ Iya, bu sama-sama, mari bu”

Ibu : “ Iya sus


B. Hambatan yang terjadi pada kasus komunikasi terapeutik pada
pasien di IGD adalah
1. Tranference : respon tak sadar berupa perasaan atau perilaku klien
terhadap perawat yang didasarkan pengalaman pribadi klien.
Contoh dialog
Pasien : “ Saya maunya diantar mbak perawat yang baik hati dan
mirip ibu saya tadi saja sus”
Perawat : “ Perawat yang tadi sudah pulang dek, biar saya antar saja
ya dek, Ibunya juga boleh ikut nganter kok.
Pasien : “tidak mau sus, pokoknya saya maunya sama suster yang
tadi”
Perawat : “nanti kalo tidak segera di rotgen adek gak bisa segera
sembuh dan tidak bisa segera pulang kerumah hlo”
Pasien : “ (terdiam sejenak) Iya udah sus, ayo kita ke ruang
rotgen”