Anda di halaman 1dari 16

ANALISIS PENDIDIKAN INDONESIA DI

ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0


Eko Risdianto, M.Cs
Universitas Bengkulu
2019
BAB I PENDAHULUAN
1.1 latar Belakang
Seiring perkembangan dan perubahan jaman, terjadi perubahan tingkah laku dan perilaku
manusia berubah dari masa ke masa. Hal ini turut juga merubah perkembangan sistem
pendidikan di dunia dan di Indonesia pada khususnya. Sistem pendidikan adalah strategi
atau metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan agar
peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi di dalam dirinya (Andran, 2014).
Perubahan ini dapat dilihat dari perubahan sistem pendidikan yang terdiri dari
pembelajaran, pengajaran, kurikulum, perkembangan peserta didik, cara belajar, alat
belajar sarana dan prasarana dan kompetensi lulusan dari masa kemasa. Dalam teori belajar
behavioristik menjelaskan bahwa belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang dapat
diamati secara langsung, yang terjadi melalui hubungan stimulus-stimulus dan respon-
respon menurut prinsip-prinsip mekanistik (Izzatur Rusuli, 2014). Pendidikan merupakan
aktivitas manusia yang amat penting. Melalui pendidikan manusia dapat dididik menjadi
manusia yang berperilaku mulia (Sasongko & Sahono, 2016). Menurut (Bpkm.go.id, 2006)
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Perkembangan pendidikan di dunia tidak lepas dari adanya perkembangan dari revolusi
industri yang terjadi di dunia, karena secara tidak langsung perubahan tatanan ekonomi
turut merubah tatanan pendidikan di suatu negara. Revolusi industri dimulai dari 1)
Revolusi Industri 1.0 terjadi pada abad ke 18 melalui penemuan mesin uap, sehingga
memungkinkan barang dapat diproduksi secara masal, 2) Revolusi Industri 2.0 terjadi pada
abad ke 19-20 melalui penggunaan listrik yang membuat biaya produksi menjadi murah,
3) Revolusi Industri 3.0 terjadi pada sekitar tahun 1970an melalui penggunaan
komputerisasi, dan 4) Revolusi Industri 4.0 sendiri terjadi pada sekitar tahun 2010an
melalui rekayasa intelegensia dan internet of thing sebagai tulang
punggung pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin (Prasetyo & Trisyanti, 2018).
Kemunculan mesin uap pada abad ke-18 telah berhasil mengakselerasi perekonomian
secara drastis dimana dalam jangka waktu dua abad telah mempu meningkatkan
penghasilan perkapita negara-negara di dunia menjadi enam kali lipat. Revolusi industri
kedua dikenal sebagai Revolusi Teknologi. Revolusi ini ditandai dengan penggunaan dan
produksi besi dan baja dalam skala besar, meluasnya penggunaan tenaga uap, mesin
telegraf. Selain itu minyak bumi mulai ditemukan dan digunakan secara luas dan periode
awal digunakannya listrik. Pada revolusi industri ketiga, industri manufaktur telah beralih
menjadi bisnis digital. Teknologi digital telah menguasai industri media dan ritel. Revolusi

1
industri ketiga mengubah pola relasi dan komunikasi masyarakat kontemporer. Revolusi
ini telah mempersingkat jarak dan waktu, revolusi ini mengedepankan sisi real time.

Perubahan besar terjadi dalam sektor industri di era revolusi industri keempat, kita bisa
melihat saat ini di mana teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan sepenuhnya di
hampir lini kehidupan manusia. Pada era ini hampir seluruh model bisnis mengalami
perubahan besar, dari hulu sampai hilir.

Gambar 1 Pekembangan Revolusi Industri 4.0

Nama istilah industri 4.0 bermula dari sebuah proyek yang diprakarsai oleh pemerintah
Jerman untuk mempromosikan komputerisasi manufaktur (Yahya, 2018). Jerman
merupakan negara pertama yang membuat roadmap (grand design) tentang implementasi
ekonomi digital. Era revolusi industri ini juga dikenal dengan istilah Revolusi digital dan
era disrupsi. Istilah disrupsi dalam bahasa indonesia adalah tercabut dari akarnya. Menurut
(Kasali, 2018) Disrupsi diartikan juga sebagai inovasi. Dari istilah di atas maka disrupsi
bisa diartikan sebagai perubahan inovasi yang mendasar atau secara fundamental. Di era
disrupsi ini terjadi perubahan yang mendasar karena terjadi perubahan yang masif pada
masyarakat dibidang teknologi di setiap aspek kehidupan masyarakat.
Seperti dijelaskan dalam (RISTEKDIKTI, 2018) Ciri-ciri Era Disrupsi dapat dijelaskan
melalui (VUCA) yaitu Perubahan yang masif, cepat, dengan pola yang sulit ditebak
(Volatility), Perubahan yang cepat menyebabkan kitdak pastian (Uncertainty), Terjadinya
compleksitas hubungan antar faktor penyebab perubahan (Complexity), Kekurangjelasan
arah perubahan yang menyebabkan ambiguitas (Ambiguity). Pada Era ini teknologi
informasi telah menjadi basis atau dasar dalam kehidupan manusia termasuk dalam bidang
bidang pendidikan di Indonesia, bahkan di dunia saat ini tengah masuk ke era revolusi
sosial industri 5.0. Pada Era Revolusi industri 4.0 beberapa hal terjadi menjadi tanpa batas
melalui teknologi komputasi dan data yang tidak terbatas, hal ini terjadi karena
dipengaruhi oleh perkembangan internet dan teknologi digital yang masif sebagai tulang
punggung pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin. Era ini juga akan mendisrupsi
berbagai aktivitas manusia, termasuk di dalamnya bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
(iptek) serta pendidikan tinggi.

2
Bagaimana kebijakan Pemerintah dalam menyelenggarakan Pendidikan di Era Revolusi
Industri 4.0?.Pemerintah Indonesia saat ini tengah melaksanakan langkah langkah strategis
yang ditetapkan berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0. Upaya ini dilakukan untuk
mempercepat terwujudnya visi nasional yang telah ditetapkan untuk memanfaatkan
peluang di era revolusi industri keempat. Salah satu visi penyusunan Making Indonesia
4.0 adalah menjadikan Indonesia masuk dalam 10 besar negara yang memiliki
perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030 (Satya, 2018). Peningkatan kualitas SDM
merupakan salah satu bagian dari 10 prioritas dalam melaksanakan program making
indonesia 4.0. SDM adalah hal yang penting untuk mencapai kesuksesan pelaksanaan
Making Indonesia 4.0. Indonesia berencana untuk merombak kurikulum pendidikan
dengan lebih menekankan pada STEAM ( Science , Technology , Engineering , the Arts ,
dan Mathematics ), menyelaraskan kurikulum pendidikan nasional dengan kebutuhan
industri di masa mendatang. Indonesia akan bekerja sama dengan pelaku industri dan
pemerintah asing untuk meningkatkan kualitas sekolah kejuruan, sekaligus memperbaiki
program mobilitas tenaga kerja global untuk memanfaatkan ketersediaan SDM dalam
mempercepat transfer kemampuan.(Hartanto, 2018).
Diketahui bahwa Fokus keahlian bidang Pendidikan abad 21 saat ini meliputi cretivity,
critical thingking, communication dan collaboration atau yang dikenal dengan 4Cs.

Gambar 2 Ketrampilan Abad 21

Di era disrupsi seperti saat ini, dunia pendidikan dituntut mampu membekali para peserta
didik dengan ketrampilan abad 21 (21st Century Skills). Ketrampilan ini adalah
ketrampilan peserta didik yang mampu untuk bisa berfikir kritis dan memecahkan
masalah, kreatif dan inovatif serta ketrampilan komunikasi dan kolaborasi. Selain itu
ketrampilan mencari, mengelola dan menyampaikan informasi serta trampil menggunakan
informasi dan teknologi. Beberapa kemampuan yang harus dimiliki di di abad 21 ini
meliputi : Leadership, Digital Literacy, Communication, Emotional Intelligence,
Entrepreneurship,Global Citizenship , Problem Solving, Team-working. Tiga Isu
Pendidikan di indonesia saat ini Pendidikan karakter, pendidikan vokasi, inovasi.
(Wibawa, 2018).
Tidak hanya bagi peserta didik, Guru dan dosen pun harus harus siap menghadapi
ketrampilan ini. Bagaimana mungkin kita menuntut peserta didik untuk mampu memiliki
ketrampilan abad 21 jika guru atau pengajarnya belum siap. Lalu bagaimana peran guru
dan dosen di Era Revolusi Industri 4.0? Mau tidak mau guru dan dosen harus memiliki
core kompetensi yang kuat, memiliki softskil antar lain : Critikal Thingking, kreatif,
komunikatif dan koloberatif. Peran guru dan dosen sebagai teladan karakter, menebar
passion dan inspiratif. Inilah peran yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Memiliki
educational competence, kompetensi dalam penelitian, komptensi dalam dunia usaha

3
digital, komptensi dalam era globalisasi, Interkasi dalam pembelajaran. Dalam fungsinya
dalam interksi pembelajaran, guru dan dosen harus mampu membangun atmosphere yang
dapat memenuhi kebutuhan psikologis peserta didik, yang meliputi: Needs for competence
Setiap peserta didik butuh merasa bisa, innteraksi pembelajaran harus mampu membuat
mahasiswa merasa bisa. pengejar perlu memberikan penghargaan atas hasil belajar
mahasiswa. Needs for Autonomy, Setiap mahasiswa butuh merasa ‘otonom’ dengan
mendapatkan kebebasan (freedom) dan kepercayaan (trust). setiap pembelajar yang
otonom tidak akan selalu bergantung pada dosen dalam belajar. Needs for relatedness ,
Setiap mahasiswa membutuhkan merasa dirinya bagian dari suatu kelompok, dan
berinteraksi dalam kelompok. Proses pembelajaran harus mampu memupuk interaksi
kolegialitas dan saling support. Pembelajaran di era disrupsi harus mampu membekali
kemampuan ‘sustainable learning’, sehingga mahasiswa dapat melewati era disrupsi, dan
memasuki era baru yang disebut Abundant Era – Era yang serba melimpah, terutama
informasi, media dan sumber belajar.
Untuk mencapai ketrampilan abad 21, trend pembelajaran dan best practices juga harus
disesuikan, salah satunya adalah melalui pembelajaran terpadu atau secara blended
learning. Blended learning adalah cara mengintegrasikan penggunaan teknologi dalam
pembelajaran yang memungkinkan pembelajaran yang sesuai bagi masing-masing siswa
dalam kelas. "Blended learning memungkinkan terjadinya refleksi terhadap
pembelajaran”(Wibawa, 2018) .
Melihat hal di atas, maka Blended learning merupakan salah solusi pembelajaran di era
revolusi 4.0. Berikut beberapa istilah blended learning menurut para ahli Blended learning
merupakan kombinasi antara pembelajaran berbasis online dengan pembelajaran melalui
tatap muka di kelas (Fitzpatrick, 2011). Menurut (Wilson, 2018) blended learning adalah
metode yang menggabungkan pembelajaran tatap muka dikelas dengan pembelajaran
online. Menurut (Maarop & Embi, 2016) blended learning merupakan perpaduan antara
pembelajara fisik dikelas dengan lingkungan virtual. Hal ini menunjukkan bahwa
pembelajaran berbasis blended learning merupakan gabungan dari literasi lama dan literasi
baru (literasi manusia, literasi teknologi dan data). Saat ini terdapat 6 model blended
learning yaitu : face to face driver, rotation model, flex, online lab, self blend, online driver.
Manfaat blended learning menurut Ronsen, dkk (2015) dalam (Oktarina, Budiningsih, &
Risdianto, 2018) blended learning 1 lebih efektif daripada hanya belajar tatap muka atau
hanya belajar secara online. Blended learning2 dapat meningkatkan hasil belajar, Blended
learning3 dapat menjadi cara yang tepat untuk memperpanjang waktu belajar sehingga
mahasiswa dapat mencapai standar kesiapan di perguruan tinggi dan dunia kerja. Blended
learning4 dapat memungkinkan mahasiswa memperoleh literasi digital dan keterampilan
belajar online. Blended learning5 dapat dijadikan cara yang tepat untuk menutupi
pembelajaran yang tidak dapat dihadiri secara tatap muka. Blended learning6 dapat
membuat tugas menjadi lebih menarik dan fleksibel. Blended learning7 dapat
memungkinkan untuk dilakukan pemantauan kemajuan mahasiswa secara lebih mudah.

Pembelajaran di Era disrupsi : Self-directed (proses pembelajaran terjadi karena kebutuhan


yang dirasakan pembelajar), Multi-sources (menggunakan berbagai sumber, media, dan
chanel pembelajaran) , Life-long learning (pembelajaran sepanjanga hayat), ICT base (
pembelajaran menggunakan teknologi informasi), Motivasi, Attitude terhadap perubahan,

4
Adaptive, Memiliki Growth mindset bukan fixed mindset (Wibawa, 2018). Pemerintah juga
harus mengantisipasi dampak negatif dari Industri 4.0 seperti disruptive technology.
Kehadiran disruptive technology ini akan membuat perubahan besar dan secara bertahap
akan mematikan bisnis tradisional (Satya, 2018). Selain itu Industri 4.0 juga berdampak
negatif terhadap penciptaan lapangan pekerjaan. Di kawasan ASEAN, hanya Singapura
yang telah siap mengadapi era industri baru ini.

Berikut ini merupakan jenis profesi yang akan dibutuhkan.

Gambar 3 Future Profession (Irianto, 2017)

Berikut ini merupakan implementasi roadmap Industri 4.0 (Irianto, 2017).


i4.0 Implementation Roadmap: • GOALS: industry development, technology
innovation, productivity improvement, inclusion for SME • WHERE TO PLAY:
potential sector (automotive, ICT, etc.), technology choices (robotics, cloud,
AR, 3D printing, etc.), area of application choice (production, logistics, etc.),
geography domain (global, regional, local) • HOW TO WIN: execution focus
choice (government, corporation, SME, etc.), enabler choice (policy,
infrastructure, R&D, market, etc.)

Apakah kita pendidikan kita sudah siap menghadapi tantangan ini.? Oleh karena itu dalam
pembahasan ini kita akan menganalisis pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0.

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimanakan pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0
b. Bagaimanakah kebijakan Pemerintah dalam dalam bidang Pendidikan di Era Revolusi
Industri 4.0
c. Sudah Siapkah Pendidikan Kita?

5
1.3 Tujuan
a. Menganalisis pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0
b. Melihat kebijakan pemerintah dalam pendidikan dalam menyambut Era Revolusi
Industri 4.0
c. Melihat kesiapan dunia pendidikan kita di era revolusi 4.0

1.4 Manfaat
a. Menganalisis potensi tantangan dan peluang dunia pendidikan di Era Revolusi 4.0
b. Dapat melihat sejauh mana kesiapan pendidikan indonesia di Era Revolusi industri 4.0
c. Mencari peluang alternatif yang tepat untuk sistem pendidikan di Era Revoluasi 4.0

1.5 Metode Pembahasan


Studi Literatur

BAB II PEMBAHASAN
Revolusi Industri 4.0 atau biasa disebut era disrupsi yang terjadi saat ini tidak lepas dari adanya
produk inovasi. Oleh karena itu dalam buku yang berjudul Disruption (Kasali, 2018)
mengatakan bahwa Disrupsi diartikan sama dengan “inovasi” atau ancaman bagi incumbent.
Incumbent dalam konteks ini bisa berarti gejala yang selama ini telah ada. Mengapa disebut
sebagai ancaman? Karena biasanya incumbent tidak siap dengan adanya perubahan perubahan
yang akan terjadi. Sebenarnya terdapat beberapa definisi tentang inovasi antara lain, menurut
KBBI Inovasi adalah pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru. (Rogers, 2015)
menyatakan bahwa inovasi adalah “an idea, practice, or object perceived as new by the
individual.” (suatu gagasan, praktek, atau benda yang dianggap/dirasa baru oleh
individu). Dengan definisi ini maka kata perceived menjadi kata yang penting karena pada
mungkin suatu ide, praktek atau benda akan dianggap sebagai inovasi bagi sebagian orang
tetapi bagi sebagian lainnya tidak, tergantung apa yang dirasakan oleh individu terhadap
ide, praktek atau benda tersebut. Menurut (Sasongko & Sahono, 2016) inovasi dapat
didefinisikan sebagai suatu aktivitas kreatif yang dapat menghasilkan ide, gagasan, kegiatan,
objek atau benda yang baru sehingga bermanfaat bagi manusia. Dari definisi definisi diatas
dapat diambil kesimpulan bahwa inovasi adalah Usaha positif, kreatif untuk menghasilkan hal
yang baru dan berguna bagi kehidupan.

Ciri ciri Era Revolusi industri 4.0 adalah pertama robot outomation yaitu artinya proses
produksi tidak lagi mengandalkan massa (jumlah manusia) namun digantikan dengan sistem
robot. Hal ini dikarenakan dengan sistem robot dapat lebih bekerja efektif dan efisien
dibandingan jika diakukan oleh manusia. Ciri ke dua adalah 3D printer yang memungkin
mencetak tidak lagi hanya untuk object 2D namun sekarang rumah pun sudah dapat dicetak
menggunakan mesin 3D printer. Ciri ke tiga adalah internet of thing yaitu kecepatan yang
dikendalikan oleh internet. Saat ini semua pekerjaan hampir semua terhubung dengna koneksi
internet. Ciri ke empat adalah big data. Pernahkah kita disodori oleh iklan mengenai barang
barang kesukaan kita? Bagaimana sistem itu tahu karena terdapat sebuah data yang
mengkoleksi informasi kita.

Gejala gejala transformasi industri 4.0 yang dapat muncul saat ini dapat dilihat seperti sektor
retail sudah diganti dengan e-commerce, transportasi sekarang muncul adaya transportasi
online, pekerja pabrik sudah diganti dengan teknologi robot, surat sudah diganti dengan
message service seperti whatsapp, surat elektronik atau email, rumah produksi sekarang diganti

6
dengan muculnya pembuat konten elektronik di youtube. Nah di bidang pendidikan sendiri kita
sudah banyak melihat dimana sumber atau konten belajar bidang apapun sudah dapat dengan
mudah diakses, gratis melalui koneksi internet kapanpun dan dimanapun. Dari data
menunjukkan bahwa saat ini peralatan kita saat ini 30 persen dikendalikan oleh teknologi.. Data
menunjukkkan bahwa Jumlah penduduk kelompok umur 15-64 tahun (usia produktif)
mencapai 183,36 juta jiwa atau sebesar 68,7% dari total populasi. (sumber
:https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/01/04/jumlah-penduduk-indonesia-2019-
mencapai-267-juta-jiwa).

Menurut statistik lembaga riset pemasaran digital perkiraan e-marketer pada 2018 jumlah
pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang Dari data tersebut terlihat
bahwa pemanfaat teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat indonesia.
Beberapa start up di indonesia bidang pendidikan saat ini sudah melihat peluang bidang bidang
pendidikan ini contohnya : ruangguru.com, quiper.com dan di luar indonesia ada khan
akademy, byjus dan masih banyak lagi. Ruang guru pada tahun 2017 mencatatkan bahwa
pengguna sudah tercatat lebih dari 6 juta pengguna dan masih terus bertambah saat ini. Dari
data statistik jumlah pelajar di indonesia sd, smp dan smp kurang lebih sebanyak 25 juta siswa
(sumber : http://statistik.data.kemdikbud.go.id/). Berarti pengguna dari ruangguru ini hampir
disumbang oleh 25 persen dari total siswa di indonesia. Beberapa tahun kedepan sistem
pembelajaran ini akan menggantikan model bimbel bimbel konvensional. Mengapa startup
startup bidang pendidikan ini kini menjadi favorite? Hal ini tentunya tidak lepas dari adanya
kebutuhan siswa yang tidak terpenuhi di sekolah dan juga apa yang mereka tawarkan oleh
penyedia layanan itu yaitu kemudahan akses (bisa diakses kapan saja dan dimana saja), flexibel
(bisa menyesuaikan dengan materi), dan harga yang ditawarkan relatif lebih murah. Mereka
menginginkan model pembelajaran yang lain yang berbeda dengan model pembelajarn
konvensional yang masih terjadi saat ini. Kedepan model pembelajaran berbasis teknologi
akan lebih banyak muncul dengan variasi model yang lebih baik. Kuncinya adalah layanan
terbaik. Jadi disini kita bisa melihat adanya pergeseran model pembelajaran yang diinginkan
oleh pengguna (siswa). Disini berarti tantangan bagi para pengajar di era revolusi industri 4.0
untuk dapat merubah stategi dan model belajar yang sesuai dengan tuntutan perkembangan
jaman dan teknologi. Dari uraian di atas kita melihat bahwa teknologi bertranformasi demikian
pula dengan dunia pendidikan. Perubahan ini mengakibatkan banyak perubahan dan
pergeseran peran, termasuk dalam dunia pendidikan, khususnya bidang keguruan. Muncul
pertanyaan apakah para pengajar sudah siap menghadapi tantangan ini?.

“Jika guru atau pengajar hanya berperan dalam proses transfer ilmu
pengetahuan, maka peran guru dan pengajar akan digantikan oleh
teknologi “.

Lalu apakah peran guru,pengajar yang tidak dapat digantikan oleh teknologi? Jawabannya
adalah

Peran guru atau pengajar dalam memberikan pendidikan karakter, moral dan
keteladanan tidak bisa digantikan dengan alat dan teknologi secanggih apapun.

Berbicara tentang perkembangan teknologi itu seperti melihat dua belah mata pisau dimana
satu sisi memberikan sisi positif dan sisi yang lain dapat juga memberikan dampak negatif.
Oleh karena itu kit harus mampu menyikapi secara bijak perkembangan teknologi khususnya
di era Revolusi 4.0 di bidang pendidikan ini. Segala perubahan ini harusnya dapat menjadi
pendorong bagi dunia pendidikan untuk melahirkan kreativitas, sehingga dapat menciptakan

7
proses pendidikan yang menghasilkan (calon) guru yang berkualitas, profesional dan
berkarakter.

Sistem pendidikan membutuhkan gerakan kebaruan untuk merespon era industri 4.0. Salah satu
gerakan yang dicanangkan oleh pemerintah adalah gerakan literasi baru sebagai penguat
bahkan menggeser gerakan literasi lama. Gerakan literasi baru yang dimaksudkan terfokus
pada tiga literasi utama yaitu 1) literasi digital, 2) literasi teknologi, dan 3) literasi manusia
(Aoun, 2018). Tiga keterampilan ini diprediksi menjadi keterampilan yang sangat dibutuhkan
di masa depan atau di era industri 4.0. Literasi digital diarahkan pada tujuan peningkatan
kemampuan membaca, menganalisis, dan menggunakan informasi di dunia digital (Big Data),
literasi teknologi bertujuan untuk memberikan pemahaman pada cara kerja mesin dan aplikasi
teknologi, dan literasi manusia diarahkan pada peningkatan kemampuan berkomunikasi dan
penguasaan ilmu desain (Aoun, 2017). Literasi baru yang diberikan diharapkan menciptakan
lulusan yang kompetitif dengan menyempurnakan gerakan literasi lama yang hanya fokus pada
peningkatan kemampuan membaca, menulis, dan matematika. Adaptasi gerakan literasi baru
dapat diintegrasi dengan melakukan penyesuaian kurikulum dan sistem pembelajaran sebagai
respon terhadap era industri 4.0 (Yahya, 2018).

Apakah pendidikan kita sudah siap? Kita akan coba bahas satu persatu peluang dan tantangan
pendidikan kita di era revolusi industri 4.0 ini. Pertama kita akan membahas dari infrastruktur
terlebih dahulu. Karena pemanfaatan teknologi tidak lepas dari pembangunan infrastruktur
yang memadai. Berbicara tentang tantangan mengahadapi pendidikan di era revolusi industri
4.0 ini pasti banyak antara lain adalah Pemerataan pembangunan. Meskipun pemerintah telah
berusaha untuk menekan kesenjangan pembangunan di indonesia namun tidak dapat dipungkiri
bahwa kesenjangan pemerataan pembangunan di Indonesia masih terjadi. Salah satu ciri suatu
daerah sudah tersentuh pembangunan biasanya ditandai bahwa daerah tersebut sudah dialiri
oleh listrik. Menurut data, 42.352 Desa di Indonesia Belum Tersentuh Listrik dari total 82.190
desa diindonesia (Suliastini, 2016). Hal ini tentu berimplikasi pada pemerataan pendidikan di
indonesia. Listrik merupakan sebuah simbol dari kemajuan, sehingga bisa disebut daerah
tersebut tertinggal karena belum dialiri oleh listrik. Dari data ini saja menunjukkan bahwa tidak
semua daerah siap akan segala perubahan yang terjadi akibat revolusi industri 4.0 ini.
Konektivitas jaringan internet merupakan salah satu syarat jika kita ingin
mengimplementasikan pendidikan di era revolusi industri 4.0. Saat ini belum semua wilayah
indonesia dapat terhubung dengan koneksi internet, terutama sekolah sekolah. Namun
berdasarkan target pemerintah bahwa pada tahun 2019, Seluruh Wilayah Indonesia Sudah
Terhubung Internet (Rudiantara, 2018). Kita tunggu saja target ini apakah terwujud atau masih
akan tertunda lagi.

Tantangan lain yang harus dihadapi ketika pemerintah memutuskan untuk beradaptasi dengan
sistem Industri 4.0, adalah pemerintah juga harus memikirkan keberlangsungannya. Jangan
sampai penerapan sistem industri digital ini hanya menjadi beban karena tidak dapat
dimanfaatkan secara optimal. Banyak hal yang harus dipersiapkan seperti: peran para
pengambil keputusan, tata kelola, manajemen risiko implementasi sistem, akses publik pada
teknologi, dan faktor keamanan sistem yang diimplementasikan. Selain itu pemerintah juga
harus mempersiapkan sistem pendataan yang berintegritas, menetapkan total harga/biaya
kepemilikan sistem, mempersiapkan payung hukum dan mekanisme perlindungan terhadap
data pribadi, menetapkan standar tingkat pelayanan, menyusun peta jalan strategis yang bersifat
aplikatif dan antisipatif, serta memiliki design thinking untuk menjamin keberlangsungan
industri. Selain mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, revolusi ini juga memiliki
dampak negatif. Industri ini akan mengacaukan bisnis konvensional dan mengurangi

8
permintaan terhadap tenaga kerja. Untuk itu pemerintah harus mempersiapkan strategi
antisipatif terhadap berbagai kemungkinan yang akan berdampak negatif terhadap
perekonomian nasional.

Tantangan lain dalam penerpan kurikulum di indonesia. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya
bahwa peningkatan kualitas SDM termasuk dalam 10 point program making indoensia 4.0 yang
di canangkan oleh pemerintah. Salah satu programnya adalah menyelaraskan kurikulum
pendidikan nasional dengan kebutuhan industri di masa mendatang. Mengapa perlu
diselaraskan dengan kebutuhan industri? Dan apakah sudah sesuai dengan yang
diharapkan?Untuk menjawab itu sebelumnya kita akan bahas dulu tentang salah satu penerapan
kurikulum KKNI. Upaya upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam mengikuti kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi bidang kurikulum antara lain menerapkan perubahan
kurikulum Kurikulum KKNI. Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) adalah
kerangka penjenjangan kualifikasi sumber daya manusia Indonesia yang menyandingkan,
menyetarakan, dan mengintegrasikan sektor pendidikan dengan sektor pelatihan dan
pengalaman kerja dalam suatu skema pengakuan kemampuan kerja yang disesuaikan dengan
struktur di berbagai sektor pekerjaan. KKNI merupakan perwujudan mutu dan jati diri bangsa
Indonesia terkait dengan (berita hukum, 2012) sistem pendidikan nasional, sistem pelatihan
kerja nasional, dan sistem penilaian kesetaraan capaian pembelajaran (learning outcomes)
nasional, yang dimiliki Indonesia untuk menghasilkan sumber daya manusia nasional yang
bermutu dan produktif. Respon terhadap perubahan kurikulum ini dapat dilihat dari banyaknya
aturan yang memayungi penerapan kurikulum baru, misalnya UU No.14 Tahunn 2005 tentang
Guru dan Dosen, UU No.12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Peraturan Presiden No.8
tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, Peraturan Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan No. 49 tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, Perpres No.
08 tahun 2012 dan Pemendikbud No. 73 tahun 2013 tentang Capaian Pembelajaran Sesuai
dengan Level KKNI, UU PT No. 12 tahun 2012 pasal 29 tentang Kompetensi lulusan
ditetapkan dengan mengacu pada KKNI, Permenristek dan Dikti No. 44 tahun 2015 tentang
Standar Nasional Pendidikan Tinggi (sumber :https://geotimes.co.id/opini/penerapan-
kurikulum-berbasis-kkni-di-perguruan-tinggi). Dari penjabaran di atas saya sangat setuju
dalam proses dan kerangka KKNI ini. Namun dalam prosesnya masih banyak terdapat kendala
kendala. Jika dijabarkan tujuan KKNI adalah sebagai berikut :

Gambar 4 Kurikulum KKNI

Dari gambar di atas apakah sudah sesuai dengan yang diharapkan? Pada penerapannya saya
melihat penerapan KKNI di indonesia belum dapat sepenuhnya dijalankan. Masih terdapat Gap
yang jauh antara point pertama yaitu menyetarakan ilmu, keterampilan dengan kebutuhan
dunia kerja. Dengan semakin cepat pekembangan dunia khususnya teknologi saya melihat
semakin jauh nya Gap antara perguruan tinggi dengan dunia kerja khususnya di indonesia.
Tingginya pengganguran di Indonesia dan ketidak sesuaian antara pekerjaan yang ditekeni
sekarnag dengan baground keilmuan yang dimiliki saat ini menunjukkan apa yang dicita
citakan dalam KKNI ini belum dapat tercapai. Saya melihat ada yang salah dalam sistem
pendidikan saat ini. Dimana seakan antara perguruan tinggi dan industri seakan berjalan
sendiri sendiri. Saat ini terjadi fenomena jika ada mahasiswa magang di suatu perusahaan

9
malah dianggap sebagai beban bagi sebuah industri. Hal ini terjadi mungkin karena kopetensi
mahasiswa tidak sesuai yang diharapkan dengan yang diinginkan industri saat ini. Selain itu
setiap mahasiswa diperguruan tinggi untuk prasyarat kelulusan harus memiliki sesuatu yang
dikembangakan, diciptakan, baik itu berupa pemikiran maupun berupa prototype. Namun
seakan dari semua yang dihasilkan mungkin hanya sekian persen yang dapat dilanjutkan,
diterima ataupn dikembangkan lebih lanjut. Semua berjalan seakan hanya untuk formalitas
belaka, hanya untuk pemenuhan syarat saja. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah output
dari perguruan tinggi rendah, atau memang semakin tingginya kualifikasi yang diinginkan oleh
industri. Saya melihat dinegara maju sekecil apapun penemuan, karya dari mahasiswa akan di
kawal untuk terus dikembangkan sesuai dengan jalurnya. Seseorang yang memiliki keahlian
tertentu akan di salurkan ke tempat yang sesuai dengan bidangnya. Pemerinta selaku pemangku
kebijakan disana secara penuh memperhatikan hal ini. Karena disana industri tidak bisa lepas
dari perguruan tinggi yang memang mengeluarkan ilmuan ilmuan dibidang masing masing.
Saya tidak melihat itu ada di Negara Kita. Saya belum melihat pemerintah hadir disini.
Pemerintah jalan sendiri, perguruan tinggi jalan sendiri, industri jalan sendiri. Belum terjadi
sinkronisasi. Hal inilah yang menimbulkan banyak lulusan perguruan tinggi saat ini
menggangur atau bekerja yang diluar bidang keilmuannya. Sehingga saat dia bekerja tidak bisa
maksimal sesuai dengan kualitas dan keilmuan yang mereka miliki. Mereka tidak mampu
mengembangkan keilmuan mereka setelah lulus. Sehingga di indonesia saat ini banyak
pekerjaan yang di lakuan oleh orang yang bukan ahlinya. Saya khawatir jika ini terus berlanjut
bukan hanya pendidikan kita yang akan tertinggal namun. Bangsa ini akan hancur secara
perlahan.

Sesuai dengan Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah
disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana
maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya,
maka tunggulah kehancuran itu.” (BUKHARI – 6015)

Sehingga dibutuhkan usaha yang sungguh sungguh agar apa yang menjadi tujuan KKNI ini
terwujud. Dibawah ini merupakan ringkasan apa yang seharusnya diterapkan dalam KKNI.

10
Gambar 5 orientasi kurikulum KKNI

Dari pembahasan di atas, menunjukkan tujuan dari KKNI saat ini belum terlalu tercapai.
Mudah mudahan kedepan akan lebih baik sehingga apa yang menjadi cita cita mulai dari
pendidikan di indonesia ini dapat terpenuhi khususnya dalam menghadapi era revolusi 4.0.
Mudah mudahan apa yang menjadi cita cita ini tidak sebatas hanya formalitas belaka dan dapat
diwujudkan dalam ujud konkret. Insya allah Kita bisa.

Selanjutnya kita akan bahas bagaimana penerapan pembelajaran 4.0 di indonesia? Seperti telah
dijelaskkan pada latar belakang sebelumnya bahwa salah satu solusi pembelajaran di era
revolusi industri 4.0 adalah pembelajaran dengan menerapkan model hybrid/blended learning.
Bagaimana penerapan model blended learning? Dalam menerapkan pembelajaran blended
learning tentunya tidak terlepas dari ketersediaan infrastruktur yang memadai seperti
infrastruktur jaringan internet. Menurut (Intan, 2018) program pembelajaran telah dirancang
tergambar dalam gambar di bawah ini.

11
Gambar 6 Hybrid/Blended Learning

Gambar 7 Target Implementasi Blended Learning

12
Gambar 8 Target Program Kegiatan 2019

Gambar 9 Target Optimaliasasi dan Sinergi SPADA

Dari gambar di atas pemberintah telah memiliki target yang jelas tentang pembelajaran di era
revolusi industri 4.0. melalui sistem SPADA (Sistem Pembelajaran Daring Indonesia).
Terdapat empat prioritas yaitu pertama reorientasi kurikulum, pembelajaran Hybrid learning,
pembangunan unit khusus life long learning, dan pemberian hibah untuk reorientasi kurikulum.
Saat ini universitas universitas dan sekolah sudah mulai menerapkan pembelajaran secara
blended, meski belum semua. Hal ini seperti telah dijelaskan sebelumnya beberapa
infrastruktur belum merata di beberapa wilayah. Faktor lain yang menjadi tantangan juga
terjadi adalah faktor SDM, meski infrastruktur sudah siap SDMnya justru yang belum siap.
Masih banyak yang masih berpikir untuk melakukan di zona nyaman mereka masing masing.
Ada pula yang menganggap bahwa pembelajaran berbasis teknologi saat ini tidak cocok bagi

13
mereka dengan berbagai alasan saya sudah tidak muda lagi, teknologi ini rumit dan lain lain.
Seperti. Dalam setiap tahapan inovasi memang kita akan mengenal beberapa tahapan adopter
seperti yang telah di utarakan oleh Rogers.

Gambar 10 Tingkatan Adopter Inovasi

Pada gambar di atas bahwa orang yang ingin dalam zona zona aman itu berada pada tahap
laggard adopter atau yang cenderung terakhir untuk mengikuti perubahan atau mengikuti
sebuah inovasi. Laggart adopter ini bisa diartikan sebagai kaum incumbent. Yang berubah
setelah disruption adalah cara melayani dan akibatnya. Pelayanan menjadi serba self service
dan lebih efisien. Dunia baru tanpa perantara telah lahir dan sering kali tak terlihat
menhancurkan yang lama (Kasali, 2018)

BAB III PENUTUP


3.1 Simpulan
Revolusi industri saat ini memasuki fase keempat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang sangat pesat memberikan dampak yang besar terhadap kehidupan manusia.
Banyak kemudahan dan inovasi yang diperoleh dengan adanya dukungan teknologi digital.
Layanan menjadi lebih cepat dan efisien serta memiliki jangkauan koneksi yang lebih luas
dengan sistem online. Hidup menjadi lebih mudah dan murah. Namun demikian, digitalisasi
program juga membawa dampak negatif. Peran manusia setahap demi setahap diambil alih oleh
mesin otomatis. Akibatnya, jumlah pengangguran semakin meningkat. Hal ini tentu saja akan
menambah beban masalah lokal maupun nasional. Oleh karena itu, untuk memanfaatkan
peluang dan menjawab tantangan revolusi industri 4.0, para pemangku kepentingan (stake
holders) wajib memiliki kemampuan literasi data, teknologi dan manusia. Literasi data
dibutuhkan oleh pemangku kepentingan untuk meningkatkan skills dalam mengolah dan
menganalisis big data untuk kepentingan peningkatan layanan public dan bisnis. Literasi
teknologi menunjukkan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi digital guna mengolah
data dan informasi. Sedangkan literasi manusia wajib dikuasai karena menunjukan elemen
softskill atau pengembangan karakter individu untuk bisa berkolaborasi, adaptif dan menjadi
arif di era “banjir” informasi. Dalam penerapannya pemerintah indonesia telah memiliki
konsentrasi dan target dalam menyikapi pekembangan industri Revolusi industri 4.0 ini.
Khususnya bidang pendidikan, Namun dalam implementasinya pemerintah masih banyak
menemui hambatan dan masih perlu usaha keras dalam mewujudkan roadmap making
indonesia 4.0. Beberapa tantangan dalam implementasi Revolusi Industri bidang pendidikan di

14
indonesia adalah terdapat kendala antara lain belum meratanya infrastruktur, belum
berubahnya mindset para pelaku khususnya para incumbent. Sehingga perlunya dukungan
kaum regulator. Namun kaum regulator juga harus belajar mengikuti juga tentang perubahan
di era disrupsi ini yaitu tentang strategi disruption untuk menciptakan lapangan kerja baru dan
daya saing yang hanya bisa di bangun dengan cara cara baru juga. Untuk itu mari bersama kita
menghadapi era disrupsi ini dengan semangat dan niat yang positif bagi kemajuan pendidikan,
ekonomi dan bangsa ini.
3.2 Saran
Dalam mengahadapi Era Revolusi Industri 4.0 di bidang pendidikan, motivasi saja tidak cukup
dalam mewujudkan cita cita making indonesia 4.0, harus ada wujud konkret dan usaha yang
keras untuk pemerintah indonesia dan kita semua dalam menyongsong era digitalisasi.
Tantangan pasti akan dihadapi dalam setiap transisi inovasi dan teknologi. Kita harus berani
dan siap jika tidak maka kita akan tenggelam oleh era disrupsi ini.

DAFTAR PUSTAKA

Andran, C. (2014). Sistem Pendidikan. Retrieved February 4, 2019, from


https://www.kompasiana.com/andreancan/54f76a90a33311b0368b47ea/sistempendidika
n
Aoun, J. (2018). Robot-proof : higher education in the age of artificial intelligence.
https://doi.org/10.1080/02607476.2018.1500792
berita hukum. (2012). Dua Ahli Pendidikan Menentang Sistem RSBI/SBI Dalam Sidang Uji
Materi UU Pendidikan. Retrieved from
http://www.beritahukum.com/detail_berita.php?judul=Dua+Ahli+Pendidikan+Menentan
g+Sistem+RSBI%2FSBI+Dalam+Sidang+Uji+Materi+UU+Pendidikan&subjudul=RSB
I
Bpkm.go.id. (2006). NUNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20
TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL o Title. Retrieved
February 4, 2019, from
https://peraturan.bkpm.go.id/jdih/userfiles/batang/UU_20_2003.pdf
Fitzpatrick, J. (2011). Planning Guide for Creating new Models for Student SucceSS Online
and Blended Learning. Michigan Virtual University. Retrieved from
https://michiganvirtual.org/wp-content/uploads/2017/03/PlanningGuide-2012.pdf
Hartanto, A. (2018). Making Indonesia 4.0. Jakarta. Retrieved from
http://www.kemenperin.go.id/download/18384
Intan, A. (2018). Proses Pembelajaran Digital dalam Era Revolusi Industri 4.0. Retrieved
from http://belmawa.ristekdikti.go.id/wp-content/uploads/2018/08/Panduan-Program-
SAPDA-Revolusi-Industri-4.0.pdf
Irianto, D. (2017). Industry 4.0 The Challenges of Tomorrow. Batu malang. Retrieved from
http://k8bksti.ub.ac.id/wp-content/uploads/2017/10/Keynote-Speaker-Dradjad-
Irianto.pdf
Izzatur Rusuli. (2014). Refleksi Teori Belajar Behavioristik Dalam Perspektif Islam. Jurnal
Pencerahan. https://doi.org/10.13170/JP.8.1.2042

15
Kasali, R. (2018). Disruption (9th ed.). Jakarta: Gramedia.
Maarop, A. H., & Embi, M. A. (2016). Implementation of Blended Learning in Higher
Learning Institutions: A Review of Literature. International Education Studies.
https://doi.org/10.5539/ies.v9n3p41
Oktarina, sheren dwi, Budiningsih, A., & Risdianto, E. (2018). Model Blended Learning
Berbasis Moodle (1st ed.). Jakarta: Halaman Moeka.
Prasetyo, B., & Trisyanti, U. (2018). REVOLUSI INDUSTRI 4.0 DAN TANTANGAN
PERUBAHAN SOSIAL. In Prosiding SEMATEKSOS 3 “Strategi Pembangunan
Nasional MenghadapiRevolusiIndustri 4.0.”
RISTEKDIKTI. (2018). Pengembangan Iptek dan Pendidikan Tinggi di Era Revolusi Industri
4.0. Retrieved from https://www.ristekdikti.go.id/siaran-pers/pengembangan-iptek-dan-
pendidikan-tinggi-di-era-revolusi-industri-4-0/
Rogers, E. M. (2015). Evolution: Diffusion of Innovations. In International Encyclopedia of
the Social & Behavioral Sciences: Second Edition. https://doi.org/10.1016/B978-0-08-
097086-8.81064-8
Rudiantara. (2018). 2019, Seluruh Wilayah Indonesia Sudah Terhubung Internet. Retrieved
February 7, 2019, from
https://www.republika.co.id/berita/trendtek/internet/18/02/25/p4p6uu383-2019-seluruh-
wilayah-indonesia-sudah-terhubung-internet
Sasongko, R. N., & Sahono, B. (2016). Desain Inovasi Manajemen Sekolah (1st ed.). Jakarta
Pusat: Shany Publiser.
Satya, V. E. (2018). STRATEGI INDONESIA MENGHADAPI INDUSTRI 4.0. Jakarta.
Retrieved from https://bikinpabrik.id/wp-content/uploads/2019/01/Info-Singkat-X-9-I-
P3DI-Mei-2018-249.pdf
Suliastini, R. (2016). 42.352 Desa di Indonesia Belum Tersentuh Listrik. Retrieved February
6, 2019, from https://tirto.id/42352-desa-di-indonesia-belum-tersentuh-listrik-89i
Wibawa, S. (2018). Pendidikan dalam Era Revolusi Industri 4.0. Indonesia.
Wilson, C. (2018). 6 Blended Learning Models & Platforms. Retrieved from
https://www.teachthought.com/learning/6-blended-learning-models-platforms/
Yahya, M. (2018). ERA INDUSTRI 4.0: TANTANGAN DAN PELUANG PERKEMBANGAN
PENDIDIKAN KEJURUAN INDONESIA. Makasar.

16