Anda di halaman 1dari 20

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Peraturan Tentang UASBN

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN


K EBU D AYA A N REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 3 TAHUN 2 0 1 7

TENTANG
PENILAIAN HASIL BELAJAR OLEH PEMERINTAH DAN PENILAIAN HASIL
BELAJAR OLEH SATUAN PENDIDIKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERl PENDIDlKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 65 ayat (6)


dan Pasal 71A Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana
telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan
Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan, Pemerintah dan
Satuan Pendidikan, perlu melakukan penilaian hasil
belajar peserta didik;
b. bahwa dalam rangka meningkatkan mutu penilaian oleh
Pemerintah dan satuan pendidikan serta untuk
mendorong pencapaian standar kompetensi lulusan
secara nasional perlu menyelenggarakan ujian nasional,
ujian sekolah berstandar nasional, dan ujian;
c. bahwa Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Nomor 57 Tahun 2015 ten tang Penilaian Hasil Belajar
oleh Pemerintah melalui Ujian Nasional, dan Penilaian
Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan melalui Ujian
Sekolah/Madrasah/Pendidikan Kesetaraan pada
SMP/MTs atau yang Sederajat dan SMA/MA/SMK atau
yang sederajat hanya mengatur mengenai Ujian Nasional
dan ujian sekolah;
d. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagairnana
dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu
menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan tentang Penilaian Hasil Belajar oleh
Pemerintah dan Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan
Pendidikan;
M1. 7 4301);
8 2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun
Un , 2014 tentang Pemerintahan Daerah
dan T (Lembaran Negara Republik Indonesia
g- a Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan
Un m Lembaran Negara Republik Indonesia
dan b Nomor 5587) sebagaimana telah diubah
g a beberapa kali terakhir dengan Undang-
No h Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang
mor a Perubahan Kedua atas Undang-Undang
20 n Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Tah L Pemerintahan Daerah (Lembaran
un e Negara Republik Indonesia Tahun 2014
200 m Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara
3 b Republik Indonesia Nomor 5679);
tent a 3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
ang 2005 tentang
r
Sist Standar Nasional Pendidikan (Lembaran
a
em Negara Republik Indonesia Tahun 2005
n
Pen Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara
N
didi Republik Indonesia Nomor 4496)
e
kan sebagaimana telah diubah beberapa kali
g
terakhir dengan Peraturan Pemerintah
a
Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan
Nas r
Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor
ion a
19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
al R
Pendidikan (Lembaran Negara Republik
(Le e
Indonesia Tahun 2015 Nomor 45,
mb p
Tambahan Lembaran Negara Republik
ara u
Indonesia Nomor 5670);
n b
Neg li
ara k
Rep I
ubli n
k d
Ind o
one n
sia e
si
Tah
a
un
N
200
o
3
m
No
o
mor
r
4. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang
Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 23,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5105) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 tentang Perubahan
atas Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010
tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5157);
5. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23
Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 897);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan PERATURAN MENTERI PENDIDlKAN DAN KEBUDAYAAN
TENTANG PENILAIAN HASIL BELAJAR OLEH PEMERINTAH
DAN PENILAIAN HASIL BELAJAR OLEH SATUAN
PENDIDIKAN.

Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Satuan Pendidikan adalah satuan pendidikan dasar dan
menengah yang meliputi Sekolah Menengah
Pertama/ Madrasah Tsanawiyah (SMP / MTs) Sekolah
Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), Sekolah
Menengah Atas/ Madrasah Aliyah (SMA/ MA) atau
/ Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) / Sekolah
Menengah Teologi Kristen (SMTK)/yang sederajat,
Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), dan
Sekolah Menengah Kejuruan/ Madrasah Aliyah Kejuruan
(SMK/MAK) atau yang sederajat, dan Satuan Pendidikan
Kerjasama (SPK), serta lembaga pendidikan yang
menyelenggarakan Progra Paket B/Wustha dan
m
Program Paket C.
2. Pendidikan Kesetaraan yang selanjutnya disingkat PK
adalah pendidikan nonformal yang menyelenggarakan
pendidikan setara SMP, SMA atau yang sederajat, dan
SMK atau yang sederajat mencakup Program Paket
B/Wustha dan Program Paket C.
3. Jenjang Pendidikan adalah tahapan pendidikan yang
ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta
didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang
dikembangkan.
4. Ujian Nasional yang selanjutnya disebut UN adalah
kegiatan pengukuran capaian kompetensi lulusan pada
mata pelajaran tertentu secara nasional dengan mengacu
pada Standar Kompetensi Lulusan.
5. Ujian Sekolah Berstandar Nasional yang selanjutnya
disebut USBN adalah kegiatan pengukuran capaian
kompetensi peserta didik yang dilakukan satuan
pendidikan untuk mata pelajaran tertentu dengan
mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan untuk
memperoleh pengakuan atas prestasi belajar.
6. Ujian Sekolah/ Madrasah/ Pendidikan Kesetaraan
selanjutnya disebut Ujian Sekolah adalah kegiatan
pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik
terhadap standar kompetensi lulusan untuk mata
pelajaran yang tidak diujikan dalam USBN dilakukan
oleh Satuan Pendidikan.
7. Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan adalah kegiatan
pengukuran capaian kompetensi lulusan pada mata
pelajaran tertentu secara nasional dengan mengacu pad a
standar kompetensi lulu san pada Program Paket
B /Wustha setara SMP/ MTs atau yang sederajat dan
Program Paket C setara SMA/ MA atau yang sederajat.
8. Nilai Ujian Nasional yang selanjutnya disebut Nilai UN
adalah nilai yang diperoleh peserta didik melalui UN.
9. Badan Standar Nasional Pendidikan yang selanjutnya
disebut BSNP adalah badan mandiri dan profesional yang
bertugas menyelenggarakan UN.
10. Program Wustha adalah pendidikan dasar 3 (tiga) tahun
pada Pondok Pesantren Salafiyah setingkat Program
Paket B dengan kekhasan pendalaman pendidikan agama
Islam.
11. Kisi-Kisi Ujian adalah acuan untuk mengembangkan dan
merakit naskah soal UN, US, dan USBN yang disusun
berdasarkan kriteria pencapaian Standar Kornpetensi
Lulusan, standar isi, dan kurikulum yang berlaku.
12. Sertifikat Hasil Ujian Nasional yang selanjutnya disebut
SHUN adalah surat keterangan yang berisi Nilai UN serta
tingkat capaian Standar Kompetensi Lulusan yang
dinyatakan dalam kategori.
13. Prosedur Operasi Standar Ujian Nasional yang
selanjutnya disebut POS UN adalah ketentuan yang
mengatur penyelenggaraan dan teknis pelaksanaan UN.
14. Prosedur Operasi Standar Ujian Sekolah Berstandar
Nasional yang selanjutnya disebut POS USBN adalah
ketentuan yang mengatur penyelenggaraan dan teknis
pelaksanaan USBN.
15. Prosedur Operasi Standar Ujian Sekolah yang
selanjutnya disebut POS US adalah ketentuan yang
mengatur penyelenggaraan dan teknis pelaksanaan US.
16. Kementerian adalah Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan.
17. Menteri adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
18. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat.
19. Pemerintah Daerah adalah pemerintah provmsi atau
pemerintah kabupaten/kota.

Pasal 2
(1) Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah dilakukan melalui
UN.
(2) Penilaian hasil belajar oleh Satuan Pendidikan dilakukan
melalui US dan USBN.
(3) Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) untuk peserta didik pada
SMK/ MAK termasuk ujian kompetensi keahlian.
(4) Penilaian hasil belajar sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), ayat (2), dan ayat (3) dilakukan sesuai dengan
kurikulurn yang berlaku.

Pasal 3
(1) UN dan US sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)
dan ayat (2) diikuti oleh peserta didik pada SMP/MTs,
SMPLB, SMA/MA atau SMAK/SMTKjyang sederajat,
SMALB, SMK/SMAK atau yang sederajat, SPK, dan peserta
didik pada Program Paket BjWustha dan Program Paket
c.
(2) USBN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2)
diikuti oleh peserta didik pada SMPjMTs, SMAjMA atau
SMAKjSMTK, dan SMKjMAK.
(3) USBN tidak wajib diikuti oleh peserta didik pada SPK.

Pasal 4
(1) Peserta didik pada jalur formal yang mengikuti UN, US,
dan USBN harus memenuhi persyaratan:
a. terdaftar pada semester terakhir pada suatu Jenjang
Pendidikan di Satuan Pendidikan dan memiliki
laporan lengkap penilaian hasil belajar pada suatu
Jenjang Pendidikan di Satuan Pendidikan tertentu
mulai semester I sampai dengan semester V; atau
b. telah menyelesaikan seluruh be ban SKS yang
dipersyaratkanbagi peserta didik pada Satuan
Pendidikan berdasarkan Sistem Kredit Semester
(SKS) yang setara dengan semester V.
(2) Peserta didik pada Pendidikan Kesetaraan yang
mengikuti UN harus memiliki laporan lengkap penilaian
hasil belajar pada Pendidikan Kesetaraan.

Pasal 5
(1) Setiap peserta didik pada jalur formal wajib mengikuti
paling sedikit 1 (satu) kali UN, US, dan USBN.
(2) Setiap peserta didik pad a jalur nonformal wajib
mengikuti paling sedikit 1 (satu) kali UN dan US.
(3) Peserta didik pad a jalur formal dan pada jalur non formal
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berhak
mengulang UN untuk memenuhi kriteria pencapaian
standar kompetensi lulusan.

Pasal 6
(1) Setiap peserta didik yang berkebutuhan khusus tidak
wajib mengikuti UN dan USBN.
(2) Peserta didik yang berkebutuhan khusus yang mengikuti
UN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berhak
mengulang UN untuk memenuhi kriteria pencapaian
standar kompetensi lulusan.

Pasal 7
(1) Peserta didik yang berhak mengulang UN sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3) dan Pasal 6 ayat (2)
meliputi jenjang SMA/MA/SMALB, SMK/MAK atau yang
sederajat, dan Program Paket C.
(2) Peserta didik yang berhalangan karena alasan tertentu
dengan disertai bukti yang sah dapat mengikuti UN
susulan.

Pasal 8
(1) Setiap peserta didik yang telah mengikuti UN akan
mendapatkan SHUN.
(2) SHUN sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) paling sedikit
berisi:
a. biodata siswa; dan
b. nilai hasil UN untuk setiap mata pelajaran yang
diujikan, dan pencapaian kompetensi lulusan untuk
setiap mata pelajaran yang diujikan.
(3) Pencapaian kompetensi lulu san sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf b disusun dalam kategori sangat
baik, baik, cukup, dan kurang.
Pasal 9
(1) Pelaksanaan UN dilakukan melalui ujian
nasional berbasis komputer (UNBK).
(2) Dalam hal UNBK tidak dapat dilaksanakan maka ujian
nasional dilaksanakan berbasis kertas.

Pasal 10
Satuan Pendidikan wajib menyampaikan nilai rapor dan nilai
US dan USBN kepada Kementerian untuk kepentingan
peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan.

Pasal 11
(1) Kisi-Kisi Ujian merupakan acuan dalam pengembangan
dan perakitan naskah soal ujian yang disusun
berdasarkan kriteria pencapaian standar kompetensi
lulusan, standar isi, dan kurikulum yang berlaku.
(2) Kisi-kisi US disusun dan ditetapkan oleh masing-masing
Satuan Pendidikan berdasarkan kriteria pencapaian
standar kompetensi lulusan, standar isi, dan kurikulum
yang berlaku.
(3) Kisi-kisi UN dan USBN disusun dan ditetapkan oleh
BSNP berdasarkan kriteria pencapaian standar
kompetensi lulusan, standar isi, dan kurikulum yang
berlaku.

Pasal 12
(1) Satuan Pendidikan formal menyusun naskah soal US
berdasarkan kisi-kisi US sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 11 ayat (2).
(2) Satuan Pendidikan Kesetaraan menyusun naskah soal
ujian Pendidikan Kesetaraan berdasarkan Kisi-Kisi Ujian
Pendidikan Kesetaraan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 11 ayat (2) di bawah koordinasi dan pengawasan
dinas pendidikan kabupaten/ kota.
Pasal 13
Naskah USBN terdiri atas:
a. sejumlah 20% (dua puluh persen) sampai dengan 25%
(dua puluh lima persen) butir soal disiapkan oleh
Kernen terian;
b. sejumlah 75% (tujuh puluh lima persen) sampai dengan
80% (delapan puluh persen) butir soal disiapkan oleh
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk
SMP/MTs atau yang sederajat dan SMA/MA/SMK atau
yang sederajat di bawah koordinasi dinas pendidikan
sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 14
(1) Penyiapan dan penggandaan bah an US dan USBN
dilakukan oleh Satuan Pendidikan.
(2) Penyiapan dan penggandaan bah an Ujian PK dilakukan
oleh Satuan Pendidikan kesetaraan di bawah koordinasi
dinas pendidikan sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 15
(1) Penggandaan dan distribusi bah an UN berbasis kertas
dilakukan oleh Pemerintah.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penggandaan dan
pendistribusian bahan UN berbasis kertas sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan.

Pasal 16
(1) Biaya penyelenggaraan dan pelaksanaan UN menjadi
tanggungjawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
(2) Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan Zatau Satuan
Pendidikan dilarang memungut biaya pelaksanaan UN
dari peserta didik, orang tua/wali, dan/ atau pihak yang
membiayai peserta didik.
(3) Biaya pelaksanaan US dan USBN bersumber dari
Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara, Anggaran dan
Pendapatan BeJanja Daerah, anggaran Satuan
Pendidikan yang bersangkutan dan atau sumber lain
yang sah dan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang- undangan.

Pasal 17
Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan Satuan Pendidikan wajib
melakukan sosialisasi UN, US, dan USBN.

Pasal 18
(1) Peserta didik dinyatakan lulus dari Satuan
Pendidikan prograrn pendidikan setelah memenuhi
kriteria:
a. menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
b. memperoleh nilai sikap perilaku minimal baik; dan c.
lulus ujian Satuan Pendidikan/program pendidikan.
(2) Kelulusan peserta didik sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) ditetapkan oleh Satuan Pendidikan yang
bersangkutan.

Pasal 19
(1) Penyelesaian seluruh program pembelajaran
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 huruf a, untuk
peserta didik:
a. SMP / MTs dan SMPLB apabila telah menyelesaikan
pembelajaran dari kelas VII sampai dengan kelas IX;
b. SMA/MA atau yang sederajat, SMALB, dan
SMK/MAK apabila telah menyelesaikan
pembelajaran dari kelas X sampai dengan kelas XII;
c. SMP / MTs dan SMA/ MA atau yang sederajat yang
menerapkan SKS apabila telah menyelesaikan
seluruh mata pelajaran yang dipersyaratkan; atau
d. Program Paket B/Wustha dan Program Paket C,
apabila telah menyelesaikan keseluruhan
kompetensi masing-masing program.
(2) SMP/MTs dan SMA[MA atau yang sederajat yang
menerapkan SKS sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf c harus memiliki izm dari dinas pendidikan
provinsi, kabupaten, kota atau kantor wilayah
kemen terian agama provinsi / kantor kementerian agama
kabupaten/ kota sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 20
(1) Setiap orang, kelompok, dan/ atau lembaga yang terlibat
dalam pelaksanaan UN, US, dan USBN wajib menjaga
kejujuran, kerahasiaan, keamanan, dan kelancaran
pelaksanaan UN, US, dan USBN.
(2) Setiap orang, kelompok, danj atau lembaga yang terbukti
melakukan pelanggaran ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 21
(1) Ketentuan lebih lanjut mengenai UN diatur dalam POS
UN yang ditetapkan oleh BSNP.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai US diatur dalam POS
US yang ditetapkan oleh Satuan Pendidikan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai USBN diatur dalam POS
USBN yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal terkait.

Pasal 22
POS US sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2)
dilaporkan kepada dinas pendidikan provinsi j kabupaten j kota
at kementerian
au
agama
ka provinsijkantor
nt kabupaten j
or kota
w
sesuai
il
dengan
a
y
a
h
k
e
m
e
nt
er
ia
n

a
g
a
m
a
k
e
w
e
n
a
n
g
a
n
n
y
a.
Pasal 23
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 57 Tahun 2015
tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah Melalui Ujian
Nasional, dan Penilaian Hasil 8elajar oleh Satuan Pendidikan
Melalui Ujian Sekolah/ Madrasah/ Pendidikan Kesetaraan pada
SMP/MTs atau yang Sederajat dan SMA/MA/SMK atau yang
Sederajat (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015
Nomor 1878), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 24
Peraturan Menteri mi mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
2.2 Pengertian USBN dan UN

Pengertian UN

Ujian Nasional biasa disingkat UN / UNAS adalah sistem evaluasi standar pendidikan
dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang
dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan, Depdiknas di Indonesia berdasarkan Undang-Undang
Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu
pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara
pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Lebih lanjut dinyatakan bahwa evaluasi
dilakukan oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik
untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan dan proses pemantauan evaluasi tersebut
harus dilakukan secara berkesinambungan.
Proses pemantauan evaluasi tersebut dilakukan secara terus menerus dan
berkesinambungan pada akhirnya akan dapat membenahi mutu pendidikan. Pembenahan mutu
pendidikan dimulai dengan penentuan standar.
Penentuan standar yang terus meningkat diharapkan akan mendorong peningkatan mutu
pendidikan, yang dimaksud dengan penentuan standar pendidikan adalah penentuan nilai batas
(cut off score). Seseorang dikatakan sudah lulus/kompeten bila telah melewati nilai batas tersebut
berupa nilai batas antara peserta didik yang sudah menguasai kompetensi tertentu dengan peserta
didik yang belum menguasai kompetensi tertentu. Bila itu terjadi pada ujian nasional atau sekolah
maka nilai batas berfungsi untuk memisahkan antara peserta didik yang lulus dan tidak lulus
disebut batas kelulusan, kegiatan penentuan batas kelulusan disebut standard setting.

Pengertian USBN
USBN adalah Ujian Sekolah Berstandar Nasional. Materi pembuatan soal akan diserahkan
kepada pemerintah provinsi untuk jenjang SMA/SMK, dan pemerintah kota/kabupaten untuk
jenjang SMP, dimana Pemerintah Pusat akan berkontribusi beberapa pertanyaan pada soal-soal
tersebut yang akan dijadikan indikator standar nasional.
Untuk mata pelajaran yang diujikan juga tidak lagi mata pelajaran UN saja, namun semua
mata pelajaran dari masing-masing jurusan/jenjang sekolah. Pelaksanaan USBN juga dimaksudkan
sebagai upaya pemberdayaan guru melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru
Mata Pelajaran (MGMP) di daerah-daerah.
2.3 Latar Belakang Terbentuknya USBN
Berdasarkan pro dan kontra yang terjadi pada pelaksanaan ujian nasional membuat
pemerintah berencana untuk memperbaiki mutu pendidikan yaitu dengan menggantikan UN
menjadi USBN. Adapun rencana pemerintah yang akan dilaksanakan yaitu dengan
penyelenggaraan USBN oleh setiap satuan pendidikan/ sekolah dengan mengacu pada standar
nasional. Nantinya kelulusan siswa akan ditentukan oleh tiap- tiap sekolah dengan standar nasional
yang ditetapkan pemerintah pusat. Standar tersebut merupakan hasil kajian yang telah disesuaikan
dengan hasil pemetaan yang diperoleh dari UN di tahun- tahun sebelumnya. Melalui moratorium
UN dan mengalihkannya ke USBN, Kemendikbud berupaya membangun sebuah sistem dan
instrumen sertifikasi capaian pembelajaran yang kredibel dan reliabel.

Keputusan mengganti UN dengan USBN menurut mendikbud karena selama ini UN


cenderung membawa proses belajar ke orientasi yang tidak tepat. Mendikbud menilai, ada
kecenderungan sekolah mengesampingkan atau mereduksi hakekat pendidikan, yaitu membangun
karakter, perilaku dan kompetensi. Sekolah cenderung hanya terfokus pada mata pelajaran yang
diberikan pada UN, kurang memperhatikan mata pelajaran lainnya. Bahkan beberapa guru yang
mengampu mata pelajaran bukan mata pelajaran UN merasa tidak diapresiasi baik oleh sekolah
maupun peserta didik. Untuk itu, pada USBN juga akan diujikan mata pelajaran lain yang tidak
diujikan dalam UN. Ditambahkannya, fokus berlebihan pada UN akan menjauhkan dari proses
pembelajaran yang mendorong siswa berpikir kritis, analitis. Dicontohkannya, sebagai proses
evaluasi yang bersifat massal, sampai saat ini bentuk instrumen UN adalah pilihan ganda. Hal
tersebut kurang sesuai dengan upaya pemerintah untuk menghadirkan generasi yang memiliki
keterampilan abad 21. Oleh karenanya, soal dalam bentuk esay akan menjadi salah satu bentuk
soal USBN, selain pilihan ganda.

Tetapi keputusan meniadakan UN merupakan suatu kebijakan yang sangat berat.


Pemerintah harus memikirkan dampak – dampak buruk yang akan terjadi. Salah satunya
pemerintah tidak memiliki standar untuk menentukan apakah siswa tersebut telah berhak lulus dari
jenjang pendidikan yang sedang dijalani. Maka dari itu, wacana untuk penghapusan UN bukanlah
solusi yang terbaik. Hal yang perlu dilakukan pemerintah adalah mengevalusi pelaksanaan ujian
nasional, bukan menghapusnya.

Oleh karena itu, pemerintah telah memutuskan tetap menggelar Ujian Nasional (UN).
Selain itu, Ujian Sekolah Berbasis Nasional (USBN) juga tetap dilakukan bersamaan dengan UN.
Untuk UN, pemerintah mengatakan, akan dilaksanakan dengan mengujikan empat mata pelajaran
yang selama ini telah diujikan ditambahkan 1 mata pelajaran pilihan sesuai jurusan. Sedangkan
untuk USBN, mata pelajaran yang diujikan akan diberikan soal yang bertaraf nasional. USBN
merupakan gagasan yang diwacanakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebagai pengganti
UN apabila ada kebijakan moratorium. Namun, hasil rapat terbatas yang dipimpin Presiden di
Istana Negara, memutuskan UN tetap dilaksanakan dan ujian sekolah diganti menjadi ujian
sekolah berstandar nasional (USBN) untuk meningkatkan mutu pendidikan.
BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan

 Peraturan yang mengatur tentang pelaksanaan ujian disekolah tercantum dalam Peraturan
Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 3 tahun 2017 tentang
penilaian hasil belajar oleh pemerintah dan penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan.

 USBN adalah Ujian Sekolah Berstandar Nasional. Materi pembuatan soal akan diserahkan
kepada pemerintah provinsi untuk jenjang SMA/SMK, dan pemerintah kota/kabupaten
untuk jenjang SMP, dimana Pemerintah Pusat akan berkontribusi beberapa pertanyaan pada
soal-soal tersebut yang akan dijadikan indikator standar nasional.

 Pemerintah memutuskan bahwa memutuskan UN tetap dilaksanakan dan ujian sekolah


diganti menjadi ujian sekolah berstandar nasional (USBN) untuk meningkatkan mutu
pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA

http://jasmencomputer.blogspot.co.id/2016/02/makalah-tentang-ujian-nasional-un.html

http://www.websitependidikan.com/2016/12/perbedaan-un-dengan-usbn.html

http://nasional.news.viva.co.id/news/read/854832-mendikbud-ujian-nasional-akan-diganti-usbn