Anda di halaman 1dari 10

FORMAT SAP / PRE PLANNING ROLEPLAY

Mata Kuliah : Konsep Dasar Keperawatan Anestesiologi


Topik : Roleplay Tindakan Pra Anestesi
Tanggal : Sabtu,25 Mei 2019
Waktu : 13.00-selesai
Tempat : Laboratorium Instalansi Bedah Sentral Universitas Harapan Bangsa

I. LATAR BELAKANG
Operasi atau pembedahan merupakan semua tindak pengobatan yang menggunakan
cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani.
Pembukaan bagian tubuh ini umumnya dilakukan dengan membuat sayatan, setelah bagian
yang akan ditangani ditampilkan, dilakukan tindak perbaikan yang diakhiri dengan
penutupan dan penjahitan luka. Perawatan selanjutnya akan termasuk dalam perawatan
pasca bedah. Tindakan pembedahan atau operasi dapat menimbulkan berbagai keluhan dan
gejala. Keluhan dan gejala yang sering adalah nyeri (Sjamsuhidajat, 1998).
Tindakan operasi atau pembedahan bisa jadi pengalaman yang sulit bagi hapir
semua pasien. Berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi yang akan membahayakan
bagi pasien. Maka tak heran jika seringkali pasien dan keluarganya menunjukkan sikap
yang agak berlebihan dengan kecemasan yang mereka alami. Kecemasan yang mereka
alami biasanya terkait dengan segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan
juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat segala macam prosedur pembedahan dan
tindakan pembiusan. Perawat dan bidan mempunyai peranan yang sangat penting dalam
setiap tindakan pembedahan baik pada masa sebelum, selama maupun setelah operasi.
Intervensi keperawatan yang tepat diperlukan untuk mempersiapkan klien baik secara fisik
maupun psikis. Tingkat keberhasilan pembedahan sangat tergantung pada setiap tahapan
yang dialami dan saling ketergantungan antara tim kesehatan yang terkait (dokter bedah,
dokter anestesi, perawat/bidan) di samping peranan pasien yang kooperatif selama proses
perioperatif.
Ada tiga faktor penting yang terkait dalam pembedahan, yaitu penyakit pasien, jenis
pembedahan yang dilakukan dan pasien sendiri. Dari ketiga faktor tersebut faktor pasien
merupakan hal yang paling penting, karena bagi penyakit tersebut tidakan pembedahan
adalah hal yang baik/benar. Tetapi bagi pasien sendiri pembedahan mungkin merupakan
hal yang paling mengerikan yang pernah mereka alami. Mengingat hal terebut diatas, maka
sangatlah pentig untuk melibatkan pasien dalam setiap langkah – langkah perioperatif.
Tindakan perioperatif yang berkesinambungan dan tepat akan sangat berpengaruh
terhadap suksesnya pembedahan dan kesembuhan pasien.
II. TUJUAN UMUM
Setelah klien mendapat tindakan preanestesi diharapakan stress atau cemas pada klien
berkurang dan lebih tenang unuk menjalani prosedur tindakan anestesi dan operasi.
III. TUJUAN KHUSUS
Setelah dilakukan tindakan selama 1x10 menit diharapkan klien :
1. Kecemasan menurun ditandai dengan klien mengatakan siap dan tidak takut operasi.
2. Vital signs dalam batas yang normal.
3. Klien kooperatif untuk menjalani rangkain prosedur tindakan.
IV. METODE
Roleplay
V. KEGIATAN
1. Identifikasi pasien (nama,umur,alamat,pekerjaan)
2. Pernyataan persetujuan untuk anestesi yang ditanda tangani oleh pasien atau wali.
3. Menanyakan riwayat yang pernah diderita atau sedang diderita
4. Menanyakan riawayat obat obatan yang sedang atau telah digunakan yang dapat
menimbulkan interaksi dengan obat anestesi.
5. Menanyakan riwayat operasi dan anestesi yang pernah dialami waktu lalu.
6. Menanyakan kebiasaan buruk (merokok,meminum minuman beralkohol,pemakai
narkoba).
7. Pemeriksaan fisik meliputi : keadaan umum,kesadaran,anemis,BB,suhu,Tekanan
darah,denyut nadi,frekuensi pernafasan,
8. Penilaian kondisi jalan nafas.
VI. SETTING TEMPAT
Laboratorium Instalansi Bedah Sentral Universitas Harapan Bangsa.
VII. PEMBAGIAN PERAN DAN PENUGASAN
1. Dwi Atika Safitri sebagai keluarga
2. Nanda Farah Feliska sebagai perawat rawat inap
3. Ratri Wulandari sebagai penata anestesi
4. Rumantika sebagai perawat kamar operasi
VIII. EVALUASI
1. Standar Persiapan : Alat, pengaturan tempat, kesiapan materi
2. Standar Proses : Strategi
3. Standar Hasil : Tolak Ukur Pencapaian roleplay (dalam %)
IX. DAFTAR PUSTAKA
http://fani-fawuz.blogspot.com/2014/02/makalah-asuhan-pada-pasien-pre-intra.html

http://theurbanmama.com/articles/5-hal-yang-perlu-dipersiapkan-sebelum-operasi-
elektif-M20914.html

https://desafir.wordpress.com/2013/05/17/persiapan-pre-operasi-perawatan-post-
operasi/
X. LAMPIRAN : Konsep Dialog

Di ruang Azzahra RS Harapan Bangsa ada seorang kilen yang menderita tumor mamae
dekstra rencana operasi excise biopsy dengan general anestesi. Tidak lama kemudian dokter
anestesi melakukan kunjungan pra anestesi. Tampak perawat nanda sedang memberikan support
mental kemudian dokter khaerul Sp.An memasuki ruang perawatan, pasien nn azzah.

Dokter : assalamu’alaikum

Pasien dan keluarga : waalaikum salam

Dokter : pagi mba azah? Betul ya dengan mba azah ya

Pasien : iya dok

Dokter : perkenalkan mba saya khaerul, dok anestesi yang nanti


rencananya mau mbius njenengan. Saya periksa dulu ya mba.

Pasien : baik dok

Dokter : waah keliatanya sudah siap sekali operasi nih, nggak cemas kan?
Perawat : awalnya saya cemas dok tapi kemudian mba suster ini
menjelaskan dan memberi semangat pada saya sehingga saya merasa tenang.

Dokter : tetap puasa ya mba, nanti sekitar jam 1 siang njenengan diantar
ke ruang persiapan IBS. Sebelumnya silahkan di ttd dulu surat persetujuan tindakan pembiusan.

Mba, bu apakah sudah siap untuk dilakukan pembiusan dengan segala resikonya? Setiap
tindakan di rumahsakit, sekecil apapun harus diawali dengan persetujuan ataupun penolakan
tindakan. Ini isinya mengenai tata cara dan kesediaan untuk menerima resiko mengenai
pembiusan.

Perawat : silahkan mba njenengan ttd disini, dan njenengan di sebelah sini
bu

Dokter : baik, jadi begini bu apakah ibu bersedia menandatangani inform


con ini , kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesuksesan operasi bu, selebihnya kita
serahkan sama Tuhan YME nggih bu, ibu banyak banyak berdoa saja bu semoga semuanya
berjalan dengan lancar.

Pasien : baik,dok saya bersedia.

Dokter : baik bu ini sudah tanda tangan yah mba,nanti mba Azaah akan
dipindahkan ke ruang operasi nggih oleh perawat. Kami mohon amit nggih mba,selebih nya mba
Azzah mempersiapkan diri untuk tindakan selanjutnya.

Pasien : iya dok,terimakasih.

Dokter dan Perawat : wassalamualaikum..

Pasien dan keluarga : wa’alaikumsalam.

Kemudian pasien dipindahkan keruang operasi oleh perawat rawat inap.

Di ruang persiapan operasi...

Perawat IBS: Selamat pagi, dengan mba azzah betul ?

Pasien: Betul, mba.

Perawat IBS: Mba azzah umurnya berapa dan pekerjaanya apa ya mba ?

Pasien: Saya 20 tahun, mba. Belum bekerja, masih mahasiswa.

Perawat IBS: Baik, dengan mba azzah, umur 20 tahun, mahasiswa. Untuk alamat dimana ya mba
?

Pasien: Alamat saya di Banjarnegara mba.


Perawat IBS: Kalau begitu saya cek tanda-tanda vital mba dulu, ya.

Pasien: Iya mba.

Perawat lalu mengecek tanda-tanda vital pasien. Mulai dari tensi, suhu, nadi, berat badan, dll.
Setelahnya perawat menulis pada cek list.

Perawat IBS: Saya tanya boleh ya mba ?

Pasien: Silahkan, mba.

Perawat IBS: Baik. Sebelumnya mba ada riwayat penyakit mba ?

Pasien: Tidak ada, mba.

Perawat IBS: Tidak ada ya... untuk perhiasan sudah dilepas semua ?

Pasien: Sudah mba.

Perawat: Mba, mungkin ada kebiasaan buruk atau tidak ya mba ? Seperti merokok atau yang
lainnya ?

Pasien: Tidak ada mba, saya tidak pernah merokok.

Perawat: Kalau gigi palsu bagaimana mba ?

Pasien: Kalau gigi palsu kebetulan saya tidak pakai loh mba.

Perawat: Oh begitu ya mba. Kalau riwayat penyakit ada tidak ya mba ? Atau riwayat pengobatan
jika ada ?

Pasien: Untuk riwayat penyakit saya tidak punya mba, riwayat pengobatan juga tidak ada.

Perawat: Baik, mba. Untuk bagian yang akan dioperasi sudah ditandai belum ya mba ?

Pasien: Sudah tadi, mba.

Selanjutnya setelah perawat IBS keluar penata anestesi datang untuk mengecek kembali riwayat
penyakit dan pengobatan, serta menjelaskan pre medikasi sesuai instruksi dari dokter anestesi.

Penata Anestesi: Selamat pagi mba azzah ? Bagaimana kabarnya hari ini ?

Pasien: Alhamdulillah mba, baik.

Penata Anestesi: Kalau baik berarti sudah siap dioperasi hari ini ya mba ?
Pasien: Ya kurang lebih seperti itu mba.

Penata Anestesi: Bagus sekali mba. Oh iya, menurut rekam medis untuk riwayat penyakit tidak
ada ya mba dan riwayat pengobatan juga tidak ada.

Pasien: Betul, mba.

Penata Anestesi: Baik, mba. Jadi hari ini kan mba mau dioperasi untuk mengangkat tumor yang
ada di payudara mba. Jadi saya harap mba banyak-banyak berdo’a dan meminta pada Tuhan agar
melancarkan segala prosesnya ya, mba. Dan kami juga akan berusaha semaksimal mungkin agar
operasi mba bisa lancar dan berhasil.

Pasien: Iya mba, mohon bantuannya ya agar saya bisa sembuh.

Penata Anestesi: Insyaallah mba, kami akan berusaha semaksimal mungkin.

Setelah memberi pre medikasi sesuai dengan instruksi dokter anestesi. Penata anestesi menyiapkan
obat-obat anestesi, dan alatnya seperti kanul dan juga suction, mengecek mesin, ketersediaan gas
dan mengecek kembali obat-obat anestesi.

Penata Anestesi: Obat dan alat sudah siap, dok. Operasi sudah bisa dimulai.

Dokter Anestesi: Baik, mba.


STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL
PENATALAKSANAAN ANESTESI UMUM

No. Dokumen No. Revisi Halaman

……………… 0/0 …/…

Ditetapkan

Direktur Utama

SPO
Tanggal Terbit

………………

_____________________________

PENGERTIAN Anestesi umum adalah merupakan tindakan medis dengan memberikan


obat-obatan yang mengakibatkan penderita tidak sadar yang bersifat
sementara.

TUJUAN Menghilangkan rasa nyeri yang diakibatkan oleh suatu tindakan


pembedahan

KEBIJAKAN 1. Melakukan tindakan anaesthesiologi pada pasien yang akan


dilakukan operasi di ruang instalasi bedah sentral baik elektif /
terencana maupun emergency.
2. Tindakan perawatan dari persiapan hingga melakukan pengawasan
selama pasien belum sadar secara penuh.
3. Memberikan obat-obatan anestesi bila diperlukan baik dalam
persiapan, selama maupun pasca pembedahan sesuai perintah dokter
anestesi.
PROSEDUR I. OPERASI ELEKTIF

PERSIAPAN OPERASI
A. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam anamnesa:
1. Identifikasi pasien, misal: nama,umur, alamat, pekerjaan dll.
2. Pernyataan persetujuan untuk anestesi yang ditandatangani
oleh pasien atau wali.
3. Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita yang
mungkin dapat menjadi penyulit dalam anestesi, antara lain :
penyakit alergi, penyakit paru-paru kronik (asma bronkial,
bronkitis), penyakit jantung, hipertensi, penyakit hati dan
penyakit ginjal.
4. Riwayat obat-obat yang sedang atau telah digunakan yang
mungkin menimbulkan interaksi dengan obat-obat anestesi.
5. Riwayat operasi dan anestesi yang pernah dialami pada waktu
yang lalu, berapa kali dan selang waktu. Apakah saat itu
mengalami komplikasi, seperti: lama pulih sadar,
memerlukan perawatan intensif pasca bedah, dll.
6. Kebiasaan buruk sehari-hari yang mungkin dapat
mempengaruhi jalannya anestesi, seperti : merokok, minum
minuman beralkohol, pemakai narkoba.

B. PEMERIKSAAN FISIK
1. Pemeriksaan fisik rutin meliputi: keadaan umum, kesadaran,
anemis / tidak, BB, TB, suhu, tekanan darah, denyut nadi,
pola dan frekuensi pernafasan.
2. Dilakukan penilaian kondisi jalan nafas yang dapat
menimbulkan kesulitan intubasi.

C. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1. Darah : Hb, Ht, hitung jenis lekosit, golongan darah, waktu
pembekuan dan perdarahan.
2. Urine : protein, reduksi, sedimen
3. Foto thorak : terutama untuk bedah mayor
4. EKG : rutin untuk umur > 40 tahun
5. Elekrolit (Natrium, Kalium, Chlorida)
6. Dilakukan pemeriksaan khusus bila ada indikasi,misal:
a. EKG : pada anak dan dewasa < 40tahun dengan tanda-
tanda penyakit kardiovaskuler.
b. Fungsi hati (bilirubin, urobilin, dsb.) bila dicurigai adanya
gangguan fungsi hati.
c. Fungsi ginjal (ureum, kreatinin) bila dicurigai adanya
gangguan fungsi ginjal.

PENATALAKSANAAN
D. PERSIAPAN DI HARI OPERASI
1. Pengosongan lambung, penting untuk mencegah aspirasi isi
lambung karena regurgitasi / muntah. Untuk dewasa
dipuasakan 6-8 jam sebelum operasi, sedang anak / bayi 4-5
jam.
2. Tentang pemberian cairan infus sebagai pengganti defisit
cairan selama puasa, paling lambat 1 jam sebelum operasi
(dewasa) atau 3 jam sebelum operasi , untuk bayi / anak
dengan rincian:
 1 jam I : 50%
 1 jam II : 25%
 1 jam III : 25%
3. Gigi palsu / protese lain harus ditanggalkan sebab dapat
menyumbat jalan nafas dan mengganggu.
4. Perhiasan dan kosmetik harus dilepas /dihapus sebab akan
mengganggu pemantauan selama operasi.
5. Pasien masuk kamar bedah memakai pakaian khusus, bersih
dan longgar dan mudah dilepas.
6. Mintakan ijin operasi dari pasien atau keluarganya.
7. Sudah terpasang jalur / akses intravena menggunakan iv
catheter ukuran minimal 18 atau menyesuaikan keadaan
pasien dimana dipilih ukuran yang paling maksimal bisa
dipasang.
8. Dilakukan pemasangan monitor tekanan darah, nadi dan
saturasi O2
9. Dilakukan pemeriksaan fisik ulang, jika ditemukan
perubahan dan tidak memungkinkan untuk dilakukan
pembedahan elektif maka pembedahan dapat ditunda untuk
dilakukan pengelolaan lebih lanjut.
10. Jika pasien gelisah/cemas diberikan premedikasi:
a. Midazolam dosis 0,07-0,1 mg/kgBB iv
b. Pada anak SA 0,0100-015 mg/kgBB + midazolam 0,1
mg/kgBB + ketamin 3-5mg/kgBB im atau secara intra
vena SA 0,01 mg/kgBB + midazolam 0,07 mg/kgBB
11. Sebelum dilakukan induksi diberikan oksigen 6 liter/menit
dengan masker (pre oksigenasi) selama 5 menit.
12. Obat induksi yang digunakan secara intravena:
a. Ketamin (dosis 1-2 mg/kgBB)
b. Penthotal (dosis 4-5 mg/kgBB)
c. Propofol (dosis 1-2 mg/kgBB)
13. Pada penderita bayi atau anak yang belum terpasang akses
intravena, induksi dilakukan dengan inhalasi memakai agent
inhalasi yang tidak iritasi atau merangsang jalan nafas seperti
halothane atau sevoflurane.
14. Selama induksi dilakukan monitor tanda vital (tekanan darah,
nadi maupun saturasi oksigen).
15. Pada kasus operasi yang memerlukan pemeliharan jalan
nafas, dilakukan intubasi endotracheal tube.
16. Pemeliharaan anestesi dilakukan dengan menggunakan asas
trias anestesia (balance anaesthesia) yaitu : sedasi, analgesi,
dan relaksasi.
17. Pemeliharaan anestesi dapat menggunakan agent volatile
(halothane, enflurane, maupun isoflurane) atau TIVA (Total
Intravena Anestesia) dengan menggunakan ketamin atau
propofol.
18. Pada pembedahan yang memerlukan relaksasi otot diberikan
pemeliharaan dengan obat pelumpuh otot non depolarisasi.
19. Ekstubasi dilakukan setelah penderita sadar.
20. Setelah operasi penderita dirawat dan dilakukan pengawasan
tanda vital secara ketat di ruang pemulihan.
21. Penderita dipindahkan dari ruang pemulihan ke bangsal
setelah memenuhi kriteria (Aldrete score > 8 untuk penderita
dewasa atau Stewart Score > 5 untuk penderita bayi / anak).
22. Apabila post-operasi diperlukan pengawasan hemodinamik
secara ketat maka dilakukan di ruang intensif (ICU).

II. OPERASI DARURAT (EMERGENCY)


1. Dilakukan perbaikan keadaan umum seoptimal mungkin
sepanjang tersedia waktu.
2. Dilakukan pemeriksaan laboratorium standard atau pemeriksaan
penunjang yang masih mungkin dapat dilakukan.
3. Pada operasi darurat, dimana tidak dimungkinkan untuk
menunggu sekian lama, maka pengosongan lambung dilakukan
lebih aktif dengan cara merangsang muntah dengan apomorfin
atau memasang pipa nasogastrik.
4. Dilakukan induksi dengan metode rapid squence induction
menggunakan suksinil kolin dengan dosis 1 2 mg /kgBB.
5. Pemeliharaan anestesi dan monitoring anestesi yang lainnya
sesuai dengan operasi elektif.

Anda mungkin juga menyukai