Anda di halaman 1dari 6

CONJUGATE BEAM

A. PENDAHULUAN
Cara Claperon disebut juga cara putaran sudut, karena dihitung berdasarkan
besarnya putaran sudut. The Conjugate-beam Method, adalah salah metode untuk
menentukan besarnya putaran sudut dan lendutan pada balok dan portal. Prinsip-prinsip
metode ini adalah sebagai berikut.
”bidang momen yang terjadi pada real Beam (balok yang sebenarnya) dibagi
dengan faktor kekakuan dari balok (EI), diperlakukan sebagai beban pada
Conjugate Beam/balok fiktif”.
Untuk mengetahui besarnya deformasi yang terjadi pada Real beam, dapat diikuti
ketentuan sebagai berikut ini.
1. PUTARAN SUDUT yang dibentuk oleh garis singgung pada suatu titik dari Real
Beam yang berdeformasi terhadap sumbu balok semula, besarnya sama dengan
GAYA LINTANG yang terjadi pada titik/penampang yang sama dari Conjugate
Beam.
2. LENDUTAN/DISPLACEMENT yang terjadi pada suatu titik dari Real Beam
yang berdeformasi terhadap posisi semula, besarnya sama dengan MOMEN
LENTUR yang terjadi pada titik/penampang yang sama dari Conjugate Beam.
Dengan mengingat ketentuan (1) dan (2) tersebut diatas, maka di dalam
perhitungan besar dan arah deformasi yang terjadi pada Real beam, kita harus merubah
macam perletakan atau sambungan konstruksi Real Beam menjadi konstruksi Conjugate
Beam dengan memperhatikan sifat-sifat dari perletakannya (lihat Gambar 1.1).
* Perletakan JEPIT ................................... UJUNG BEBAS
* Perletakan SENDI .................................. SENDI/PIN

Gambar 1.1 Konstruksi Real Beam dan Conjugate Beam


Untuk lebih jelas akan diberikan beberapa modifikasi dari Real Beam menjadi Conjugate
Beam (lihat Gambar 1.2)
Gambar 1.2 Modifikasi dari Real Beam menjadi Conjugate Beam
B. PUTARAN SUDUT DAN LENDUTAN
Contoh perhitungan besarnya putaran sudut dengan cara Conjugate beam, untuk
balok di atas dua perletakan Sendi dan Sendi, dengan beban terbagi rata (Q),
bentang (L), dapat dijelaskan sebagai berikut ini.
1. Real Beam, adalah balok di atas dua perletakan sendi -sendi, beban terbagi
rata (Q), bentang (L), dengan reaksi perletakan Va dan Vb.
2. Conjugate Beam, adalah balok di atas dua perletakan Sendi-Sendi, dengan
luas bidang momen dibagi kekakuan diperlakukan sebagai beban (A/EI)
3. untuk lebih jelasnya perhatikan Gambar 1.3

Gambar 1.3. Real Beam dan Conjugate Beam

Berikut ini menunjukkan langkah-langkah perhitungan dengan cara Conjugate


Beam, antara lain sebagai berikut ini.
1. hitung luasan bidang momen dibagi kekakuan (A/EI) adalah : QL3/12 EI,
2. hitung besarnya putaran sudut θA = QL3/24EI,
3. hitung besarnya lendutang di titik C, δc = 5QL4/384 EI, dan
4. jarak titik berat ½ parabola ke titiik C adalah 3L/16 (lihat cara menentukan
titik berat).
Cara menghitung jarak titik berat ½ parabola, bisa dihitung dengan cara Statis
Momen, seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 1.4, dengan ketentuan-ketentuan sebagai
berikut.

dA

C Y

X
Gambar 1.4 Hitung Titik Berat dengan Statis Momen