Anda di halaman 1dari 3

AKUNTANSI SYARIAH

BAB 10: AKAD SALAM


PERTANYAAN

1. Jelaskan tentang akad salam!


Salam berasal dari kata As salaf yang artinya pendahuluan karena pemesanan
barang menyerahkan uangnya dimuka. Salam dapat didefenisikan sebagai akad
jual beli barang pesanan (muslam fiih) dan pelunasannya dilakukan oleh pembeli
(al muslam) pada saat akad disepakati sesuai dengan syarat-syarat tertentu. (hal.
198)

2. Jelaskan perbedaan salam dengan system ijon!


Salam diperbolehkan dalam syariah karena walaupun barang baru diserahkan
kemudian hari namun harga, spesifikasi, karakteristik, kualitas, kuantitas dan
waktu penyerahannya sudah ditentukan ketika akad terjadi sehingga tidak ada
gharar dan pembayaran modal salam dilakukan di awal akad. (hal. 198)

3. Mengapa ijon dilarang oleh syariah?


Karena ada gharar (ketidakpastian) dalam jumlah dan kualitas dalam system ijon,
sehingga syarat saling rela tidak terpenuhi dan dapat merugikan salah satu pihak.
(hal. 198)

4. Jelaskan tentang akad salam parallel!


Salam parallel artinya melaksanakan dua transaksi salam yaitu antara pemesan
dan penjual dan antara penjual dengan pemasok (supplier) atau pihak ketiga
lainnya secara simultan. Salam parallel diperbolehkan apabila eksekusi kontrak
salam kedua tidak tergantung pada eksekusi kontrak yang pertama dan tidak
diperbolehkan dilakukan terus-menerus karena dapat menjurus kepada riba. (hal.
200)

5. Jelaskan rukun dan ketentuan syariah dari salam!


Rukun salam:
a. Pelaku, terdiri atas penjual dan pembeli
b. Objek akad, berupa barangg yang akan diserahkan dan modal salam
c. Ijab Kabul/serah terima

Ketentuan salam:

a. Pelaku adalah cakap hukum dan baligh


b. Objek akad
 Ketentuan syariah terkait modal salam
- Modal salam harus diketahui jenis dan jumlahnya
- Modal salam berbentuk uang tunai
- Modal salam diserahkan ketika akad berlangsung, tidak boleh utang
atau pelunasan utang

 Ketentuan syariah barang salam


- Barang tersebut harus dapat dibedakan/diidentifikasi mempunyai
spesifikasi dan karakteristik yang jelas
- Barang tersebut harus dapat dikuantifikasi/ditakar/ditimbang
- Waktu penyerahan barang harus jelas, tidak harus tanggal tertentu
boleh juga dalam kurun waktu tertentu
- Barang tidak harus da ditangan penjual tetapi harus ada pada waktu
yang ditentukan
- Apabila barang yang dipesan tidak ada pada waktu yang ditentukan,
akad menjadi fasakh/rusak dan pembeli dapat memilih untuk
menunggu atau memabatalkan akad
- Apabila barang yang dikirim cacat atau tidak sesuai dengan yang
disepakati dalam akad maka pembeli boleh mlakukan khiar
- Penjualan kembali barang yang dipesan sebelum diterima tidak
diperbolehkan secara syariah
- Apabila tempat penyerahan barang tidak disebutkan, akad tetap sah.
(hal. 202-203)

c. Ijab Kabul, pernyataan dan ekspresi saling rida/rela diantara pihak-pihak


pelaku akad yang dilakukan secara verbal, tertulis, melalui korespondensi atau
menggunakan cara-cra komunikaso modern.

6. Berdasarkan ilustrasi diatas, bagaimanakah transaksi Bapak C dan Bapak B


menurut syariah?
Transaksi tersebut sesuai dengan syariah apabila Bapak C menyerahkan uang
sebesar total nilai penjualan diawal dan dalam akad dijelaskan harga, spesifikasi,
karakteristik, kualitas, kuantitas dan waktu penyerahannya dengan tegas sehingga
tidak ada gharar.

7. Jelaskan manfaat akad salam bagi penjual dan pembeli!


Manfaat bagi pembeli adalah adanya jaminan memperoleh barang dalam jumlah
dan kualitas tertentu pada saat membutuhkan dengan harga yang disepakati
diawal.
Manfaat bagi penjual adalah diperolehna dana untuk melakukan aktivitas produksi
dan memenuhi sebagian kebutuhan hidupnya. (hal. 199)
LATIHAN

1. Pencatatan oleh Bapak C (pembeli)


Piutang Salam 500.000.000
Kas 500.000.000

Pencatatan oleh Bapak B (penjual)


Kas 500.000.000
Utang Salam 500.000.000

2. Membeli kekurangan dari Bapak A sebanyak 200 ton dengan harga Rp 450.000
per ton

Pencatatan oleh Bapak B


Persediaan 90.000.000
Kas 90.000.000

Utang Salam 500.000.000


Persediaan 90.000.000
Penjualan 410.000.000

Pencatatan oleh Bapak C


Aset Salam 500.000.000
Piutang Salam 500.000.000

Pencatatan oleh Bapak A (pemasok)


Kas 90.000.000
Penjualan 90.000.000

3. Pencatatan oleh Bapak B


Utang Salam 500.000.000
Penjualan 500.000.000

Pencatatan oleh Bapak C


Asset Salam 475.000.000
Kerugian Salam 25.000.000
Piutang Salam 500.000.000