Anda di halaman 1dari 6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Sterilisasi


Sterilisasi merupakan suatu proses untuk membebaskan suatu benda dari semua
mikroorganisme, baik bentuk vegetatif maupun bentuk spora (Gupte,1990). Fungsi
sterilisasi di antaranya : pada bidang mikrobiologi untuk mencegah pencemaran
organisme luar, pada bidang bedah untuk mempertahankan keadaan asepsis, pada
pembuatan makanan dan obat-obatan untuk menjamin keamanan terhadap pencemaran
oleh mikroorganisme (Gupte, 1990). Salah satu cara yang digunakan adalah dengan
desinfeksi yaitu proses mematikan semua mikroorganisme patogen yang dapat
menyebabkan infeksi (Gupte, 1990). Di laboratorium mikro-biologi, sterilisasi
merupakan bagian yang sangat penting atau merupakan keharusan, baik pada alat
maupun media. Hal ini penting karena jika alat atau media tidak steril, kita akan sulit
menentukan apakah isolat kuman berasal dari spesimen pasien yang diperiksa atau
kontaminan. Bekerja di laboratorium mikrobiologi mengandung risiko yang tidak kecil.
Setiap saat harus selalu berasumsi bahwa setiap mikroorganisme adalah potensial
patogen dan kita harus berhati-hati agar tidak terinfeksi oleh kuman yang akan diperiksa.
Apabila suatu larutan tidak steril atau tanpa dikehendaki dicemari oleh mikroorganisme,
peristiwa ini disebut kontaminasi atau pencemaran (Wahab, 2009).

2.2. Metode Sterilisasi

a. Autoclave (Sterilisasi panas lembab/basah)


Autoklaf merupakan alat sterilisasi yang sering digunakan. Alat ini bekerja
dengan sistem sterilisasi basah. Secara prinsip, cara kerja alat ini adalah sterilsasi
dengan menggunakan uap air pada suhu 121oC selama 15 menit pada tekanan 1 atm.
Atau lebih tergantung ketinggian tempat terhadap permukaan air laut. Sterilisasi uap
ini tergantung pada; (1) sifat bahan atau alat, harus dapat ditembus atau terkena uap
secara merata tanpa mengalami kerusakan agar proses sterilisasi berlangsung efektif,
(2) kondisi sterilisasi harus bebas udara (vacuum), (3) suhu yang terukur harus
mencapai 121oC dan dipertahankan selama 15 menit (Suprapti, 2013).
b. Oven
Oven bersuhu tinggi (160-170oC) biasa digunakan untuk sterilisasi kering.
Karakteristik sterilisasi kering adalah suhu tinggi dan waktu sterilisasi yang lama (1-
3 jam). Bahan atau alat yang akan disterilisasi kering harus tahan panas dan tidak
mengalami kerusakan pada suhu yang digunakan dan disterilkan dengan cara
membungkus, menyumbat atau meletakkannya dalam wadah tertutup untuk
mencegah kontaminasi ketika dikeluarkan dari oven (Suprapti, 2013).
c. Kimiawi
Bahan yang tidak tahan panas seperti plastik dapat disterilsasi dengan
menggunakan gas etilen oksida atau bahan kimia asam perasetat, formaldehid, dan
glutaraldehid alkalin pada suhu kamar selama 2-18 jam. Beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam sterilisasi kimiawi ini adalah: (1) Bahan yang digunakan sebagai
sterilisator harus benar-benar dihilangkan sebelum alat digunakan dan biasanya
memerlukan waktu yang cukup lama, (2) daya bakar bahan kimia sterilisator, (3)
persyaratan peralatan dan biaya pelaksanaan (Suprapti, 2013).
d. Ultraviolet
Sinar ultraviolet umumnya digunakan untuk membantu mengurangi
kontaminasi di udara dan pemusnahan selama proses di lingkungan. Sinar yang
bersifat membunuh mikroorganisme (germisida) diproduksi oleh lampu kabut
merkuri yang dipancarkan secara eksklusif pada 253,7 nm . Sinar UV menembus
udara bersih dan air murni dengan baik, tetapi suatu penambahan garam atau bahan
tersuspensi dalam air atau udara menyebabakan penurunan derajat penetrasi dengan
cepat. Untuk kebanyakan pemakaian lama penetrasi dihindarkan dan setiap tindakan
membunuhmikroorganisme dibatasi pada permukaan yang dipaparkan (Leon et al.,
1998).
e. Pendidihan
Cara ini merupakan pilihan terakhir ketika tidak ada cara lain yang dapat
dilakukan. Gunakan panci pendidih khusus atau gunakan panci bergagang
(saucepan). Isi panci dengan air (lebih baik air demineralisasi) dan panaskan di atas
tungku. Peralatan gelas harus dimasukkan ke dalam panci sewaktu air masih dingin.
Peralatan logam (bevel yang dapat dipakai ulang, pinset) harus dimasukkan sewaktu
air mendidih. Rendam peralatan tersebut selama 30 menit (Chairlan, 2012).
2.3. Aspergillus niger
Aspergillus niger merupakan salah satu spesies yang paling umum dan mudah
diidentifikasi dari marga Aspergillus.
Gambar 2.1 Aspergillus niger secara makroskopis

Gambar 2.2 Aspergillus niger secara mikroskopis


Aspergillus niger memiliki bulu dasar berwarna putih atau kuning dengan lapisan
konidiospora tebal berwarna coklat gelap sampai hitam. Kepala konidia berwarna hitam,
bulat, cenderung memisah menjadi bagian – bagian yang lebih longgar dengan
bertambahnya umur. Konidiospora memiliki dinding yang halus, hialin tetapi juga
berwarna coklat (Chafida, dkk., 2013). Kondisi tumbuh Aspergillus niger yaitu sebagai
berikut;
 Temperatur
Aspergillus niger dapat tumbuh optimum pada suhu 35-37 °C, dengan
suhu minimum 6-8 °C, dan suhu maksimum 45-47 °C (Chafida, dkk., 2013).
 Medium
Aspergillus niger mempunyai koloni pada medium Cxapek’s Dox mencapai
diameter 4-5 cm dalam 7 hari dan dapat tumbuh pada kelembaban nisbi 80 (Chafida,
dkk., 2013).
 Faktor kimia
Aspergillus niger mempunyai enzim 4-hidroksibenzoat hidroksilase dan dapat
mengakumulasi asam sitrat (Chafida, dkk., 2013).
 pH
Aspergillus niger dapat tumbuh optimum pada pH 5 – 6 (Oyeleke, dkk., 2011).
 Aerob
Aspergillus niger termasuk mikroorganisme aerob (membutuhkan oksigen)
(Chafida, dkk., 2013).
Aspergillus niger memiliki kemampuan untuk memproduksi asam sitrat yang
dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan produksi verbenol. Verbenol adalah senyawa
makanan yang banyak digunakan pada minuman ringan, sup, daging, sosis, dan es krim.
Beberapa spesies digunakan untuk fermentasi produk-produk tradisional seperti kecap
asin, miso (tauco) dan untuk industri fermentasi seperti industry sake (Irma, 2015).
Aspergillus niger dapat menghasilkan enzim-enzim komersil diantaranya enzim amilase,
glukoamilase, selulase, pektinase, glukosa oksidase dan katalase. Enzim selullosa yang
dihasilkan oleh Aspergillus niger mampu mendegradasi selulosa dengan produk
utamanya yakni glukosa, selobiosa dan selooligosakarida.
Tabel 2.1 Produksi enzim dari A. niger dan aplikasinya
(Sumber: Arima1964)

Enzim Aplikasi
Amilase tahan asam Sirup, industri fermentasi alkohol,
produksi glukosa, membantu pencernaan,
industri tekstil
Glukoamilase Produksi glukosa
Protease Industri makanan, membantu pencernaan
Glukosa oksidase Untuk menghilagkan oksigen atau glukosa
dari berbagai makanan, industri telur
kering
Naringinase Menghilangakan rasa pahit dan getir
dalam industri sari buah jeruk
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1. Rancangan Praktikum
3.1.1. Skema Rancangan Percobaan

Sterilisasi Alat

Pembuatan PDA

Pemindahan Aspergillus niger ke PDA

Penyimpanan di Ruang Inkubasi

Pengamatan Pertumbuhan Aspergillus niger

Gambar 3.1 Skema Rancangan Praktikum

3.1.2. Variabel Operasi


Variable tetap :
 Jenis media (PDA)
Variable bebas
 Sterilisasi kawat osse menggunakan HCl
 Sterilisasi kawat osse tanpa menggunakan HCl
3.2. Bahan dan Alat yang digunakan
3.2.1. Bahan yang digunakan:
1) Aspergillus niger
2) PDA (Potato Dextrose Agar)
3) HCl
4) Aquadest
3.2.2. Alat yang digunakan:
1) Inokulum
2) Beaker glass
3) Pipet tetes
4) Gelas ukur
5) Kompor listrik
6) Pertidish
3.2.3. Gambar Alat

Gambar 3.2 Kawat Osse Gambar 3.3 Gelas Beaker Gambar 3.4 Pipet Tetes

Gambar 3.5 Gelas Ukur Gambar 3.6 Kompor Gambar 3.7 Petridish
Listrik
3.3. Prosedur Praktikum
Langkah-langkah percobaan Pemeriksaan secara Aseptis:
1. Biarkan media dalam tabung memadat. Apabila menggunakan petridish maka
masukkan media ke dalam petridish kemudian biarkan sampai menjadi padat.
2. Menyiapkan kawat osse, bunsen, dan HCl.
3. Mensterilkan kawat osse : panaskan kawat osse menggunakan bunsen kemudian
masukan ke dalam larutan HCl kemudian panaskan kawat osse lagi.
4. Memindahkan mikroorganisme dari biakan murni yang tersedia menggunakan kawat
osse yang sudah disterilisasi ke media baru dalam tabung/petridish.
5. Simpan dalam ruang inkubasi selama waktu yang telah ditentukan.
6. Mengamati kenampakan setelah waktu inkubasi.
Yg kamu copy bab 3 saja karena bab 2 blm dikoreksi mas iqbal. Terus ada tambahan
di daftar gambarnya