Anda di halaman 1dari 32

“ AUDIT OF HIGH RISK ACCOUNTS ”

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 3

MIRA SANTIA C1C015002

VELEN VILIANY C1C015053

ELISABHET DEBORA S C1C015095

ROSA ADUMILIA MARPAUNG C1C015104

KONSENTRASI AUDITING

DOSEN PEMBIMBING :

DR. ENGGAR DIAH PUSPA ARUM S.E., AK., M.Si

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS JAMBI

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat-NyA sehingga tugas makalah yang diberikan oleh dosen pengampu kami,
Dr. Enggar Diah Puspa Arum S.E., AK., M.Si dapat tersusun hingga selesai.
Segala usaha dan kerja keras dari kelompok kami dalam tugas membuat makalah
mata kuliah Seminar Auditing telah diselesaikan dengan baik. Dari makalah
tersebut dapat disimpulkan bahwa Auditor akan selalu punya risiko audit karena
auditor tidak menguji semua transaksi. Oleh karenanya Auditor harus berusaha
untuk menurunkan atau mengurangi resiko audit sampai tahap cukup rendah
untuk diterima (biasanya 5%). Resiko inheren dan resiko pengendalian bersifat
independen (independently exist) tanpa bisa dipengaruhi oleh auditor.
Harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca. Untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi. Karena keterbatasan
pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan
dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Jambi, 17 April 2018

Tim Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................ i


DAFTAR ISI .............................................................................................................................. ii
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang ......................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan ...................................................................................................................3
1.4 Manfaat Penulisan .................................................................................................................4
BAB II Pembahasan
2.1 Pengertian Audit dan Risiko ..............................................................................................5
2.1.1 Pengertian Audit.................................................................................................................5
2.1.2 Pengertian Risiko ...............................................................................................................6
2.2 Risiko Audit .......................................................................................................................7
2.2.1 Jenis-jenis Risiko Audit .....................................................................................................7
2.2.2 Model Perhitungan Risiko Audit .....................................................................................12
2.2.3 Hubungan antar Unsur Risiko ..........................................................................................14
2.2.4 Hubungan antara Materialitas, Risiko Audit dan Bukti Audit .........................................15
2.3 Audit Berbasi ISA ............................................................................................................15
2.4 Pengertian Audit Berbasis Risiko ....................................................................................16
2.5 Langkah Audit Berbasis Risiko .......................................................................................20
2.6 Tujuan Audit Berbasis Risiko ..........................................................................................21
2.7 Manfaat Audit Berbasis Risiko ........................................................................................21
2.8 Ruang Lingkup Audit Berbasis Risiko ............................................................................22
2.9 Struktur Sistematika ISA .................................................................................................23
2.10 Pelaksanaan Audit Berbasis Risiko..................................................................................23
2.11 Pertimbangan Auditor ......................................................................................................24
2.12 Pengalaman Audit ............................................................................................................25
BAB III Penutup
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................................29
LAMPIRAN ..............................................................................................................................30

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu hal yang memegang peranan penting dalam meningkatkan kinerja
dari sebuah perusahaan adanya peranan efektif dan efisien dari satuan
pengendalian internal atau yang sering disebut dengan internal audit.
Pemahaman yang mendalam akan sebuah proses tehnik serta langkah –
langkah dalam melakukan proses audit akan memberi dampak yang fositip
bagi perusahan terutama dalam meminimalkan resiko suatu resiko yang akan
dihadapi oleh perusahaan saat ini indonesia mengadopsi audit berbasis ISA
dalam laporan keuangan untuk meningkatkan kepercayaan investor terhadap
kualitas informasi keuangan di indonesia.
ISA (International Standards on Auditing) merupakan standar audit terbaru
yang telah diadopsi di Indonesia. Per 1 Januari 2013, Akuntan Publik di
Indonesia wajib melakukan audit atas laporan keuangan berdasarkan standar
yang baru inISA (International Standards on Auditing) merupakan standar
audit terbaru yang telah diadopsi di Indonesia. Per 1 Januari 2013, Akuntan
Publik di Indonesia wajib melakukan audit atas laporan keuangan berdasarkan
standar yang baru ini.
ISA sepenuhnya mengadopsi pendekatan Audit Berbasis Resiko, sehingga
saat ini penerapan Audit Berbasis Resiko bagi auditor di Indonesia menjadi
hal wajib (mandatory). Audit Berbasis Resiko atau Risk Based Audit (RBA)
merupakan pendekatan audit yang berkembang pesat sejak tahun 2000an.
Pendekatan saat ini mendapatkan perhatian yang luas dan dianggap sebagai
pendekatan yang paling efektif karena terbukti paling cocok diterapkan untuk
kondisi lingkungan bisnis yang selalu berubah-ubah seperti sekarang ini.
Indonesia telah meratifikasi ketentuan untuk menerapkan International
Standards on Auditing (ISA) mulai awal tahun 2013.
Kenyataan bahwa auditor tidak dapat memberikan jaminan tentang
ketepatan informasi yang disajikan oleh klien dalam laporan keuangan
mengharuskan auditor mempertimbangkan baik materialitas maupun risiko

1
audit yang terjadi dalam hal auditor, tanpa disadari tidak memodifikasi
pendapatnya sebagaimana mestinya, atas suatu laporan keuangab yang
mengandung salah saji material.
Dalam sebuah perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan risiko
audit. Menurut SA Seksi 312 Risiko Audit dan Materialitas dalam
Pelaksanaan Audit, risiko audit adalah risiko yang terjadi dalam hal auditor,
tanpa disadari, tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya, atas
suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material. Semakin pasti
auditor dalam menyatakan pendapatnya, semakin rendah risiko audit yang
auditor bersedia untuk menanggungnya.
Auditor merumuskan suatu pendapat atas laporan keuangan sebagai
keseluruhan atas dasar bukti yang diperoleh dari verifikasi asersi yang
berkaitan dengan saldo akun secara individual atau golongan transaksi.
Tujuannya adalah untuk membatasi risiko audit pada tingkat saldo akun
sedemikian rupa sehingga pada akhir proses audit, risiko audit dalam
menyatakan pendapat atas laporan keuangan sebagai keseluruhan akan berada
pada tingkat yang rendah.
Berdasarkan pemaparan mengenai latar belakang permasalahan tersebut
maka tim penulis akan lebih menjelaskan mengenai Audit of High Risk
Accounts itu sendiri di makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang sudah dijelaskan di atas, maka dapat
dibuatkan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud dengan Audit ?
2. Apakah yang dimaksud dengan Risiko ?
3. Apakah yang dimaksud dengan Risiko Audit ?
4. Apakah Jenis –Jenis Risiko Audit ?
5. Bagaimanakah Model Perhitungan Risiko Audit ?
6. Apakah Hubungan Antar Unsur Risiko ?
7. Bagaimanakah Hubungan Antara Materialitas, Risiko Audit, dan Bukti
Audit ?

2
8. Apakah yang dimaksud dengan Audit Berbasis ISA ?
9. Apakah yang dimaksud dengan Audit Berbasis Risiko ?
10. Apakah Tujuan dari Audit Berbasis Risiko ?
11. Apakah Manfaat dari Audit Berbasis Risiko ?
12. Apakah Ruang Lingkup Audit Berbasis Risiko ?
13. Bagaimanakah Struktur dan Sistematika ISA ?
14. Bagaimanakah Pelaksanaan Audit Berbasis Risiko ?
15. Apakah Pertimbangan Auditor ?
16. Apakah Pengalaman Audit ?

1.3 Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penulisan makalah ini
adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui dan memahami mengenai Audit.
2. Untuk mengetahui dan memahami mengenai Risiko.
3. Untuk mengetahui dan memahami Risiko Audit.
4. Untuk mengetahui serta memahami Jenis –Jenis Risiko Audit.
5. Untuk mengetahui dan memahami Model Perhitungan Risiko Audit.
6. Untuk mengetahui dan memahami Hubungan Antar Unsur Risiko.
7. Untuk mengetahui dan memahami Hubungan Antara Materialitas, Risiko
Audit, dan Bukti Audit.
8. Untuk mengetahui serta memahami Audit Berbasis ISA.
9. Untuk mengetahui dan memahami Audit Berbasis Risiko.
10. Untuk mengetahui serta memahami Tujuan dari Audit Berbasis Risiko.
11. Untuk mengetahui dan memahami Manfaat dari Audit Berbasis Risiko.
12. Untuk mengetahui dan memahami Ruang Lingkup Audit Berbasis
Risiko.
13. Untuk mengetahui dan memahami Struktur dan Sistematika ISA.
14. Untuk mengetahui dan memahami Pelaksanaan Audit Berbasis Risiko.
15. Untuk mengetahui dan memahami Pertimbangan Auditor.
16. Untuk mengetahui dan memahami Pengalaman Audit.

3
1.4 Manfaat Penulisan
Sesuai dengan perumusan masalah di atas, maka tujuan dari makalah ini
adalah:
1. Sebagai pembelajaran yang terkait dengan Audit of High Risk Accounts
dalam seminar auditing.
2. Pemenuhan kebutuhan bagi pembaca maupun penulis makalah.
3. Sebagai wawasan bagi pembaca maupun penulis makalah.
4. Serta sebagai pembelajaran bagi penulis untuk memaparkan tentang
Audit of High Risk Accounts.

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN AUDIT DAN RISIKO


2.1.1 Pengertian Audit

Berikut ini beberapa pendapat para pakar mengenai definisi auditing yang
berkembang saat ini :
Pengertian Auditing Menurut Sukrisno Agoes (2011:1) adalah suatu
pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang
independen, terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh pihak manajemen
beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan
untuk dapat memberikan pedapat mengenai laporan kewajaran laporan keuangan
tersebut.
Menurut Arens and Loebbecke (Auditing: An Integrated Approach, eight
edition, 2000:9), Audit adalah kegiatan mengumpulkan dan mengevaluasi dari
bukti-bukti mengenai informasi untuk menentukan dan melaporkan tingkat
kesesuaian antara informasi dengan kriteria yang telah ditetapkan. Proses audit
harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan independent
Jadi audit itu sendiri artinya adalah suatu kegiatan yang dilakukan guna
memeriksa dan memastikan suatu informasi tentang laporan keuangan untuk
memastikan kewajaran dari laporan keuangan tersebut.
Tujuan audit secara umum dapat diklasifikasilkan sebagai berikut :
a. Kelengkapan (Completeness). Untuk meyakinkan bahwa seluruh transaksi
telah dicatat atau ada dalam jurnal secara aktual telah dimasukkan.
b. Eksistensi (Existence). Untuk memastikan bahwa semua harta dan
kewajiban yang tercatat memiliki eksistensi atau keterjadian pada tanggal
tertentu, jadi transaksi tercatat tersebut harus benar-benar telah terjadi dan
tidak fiktif.
c. Penilaian (Valuation). Untuk memastikan bahwa prinsip-prinsip akuntansi
yang berlaku umum telah diterapkan dengan benar.

5
d. Klasifikasi (Classification). Untuk memastikan bahwa transaksi yang
dicantumkan dalam jurnal diklasifikasikan dengan tepat. Jika terkait
dengan saldo maka angka-angka yang dimasukkan didaftar klien telah
diklasifikasikan dengan tepat.
e. Ketepatan (Accurancy). Untuk memastikan bahwa semua transaksi dicatat
pada tanggal yang benar, rincian dalam saldo akun sesuai dengan angka-
angka buku besar. Serta penjumlahan saldo sudah dilakukan dengan tepat.
f. Pisah Batas (Cut-Off). Untuk memastikan bahwa transaksi-transaksi yang
dekat tanggal neraca dicatat dalam periode yang tepat. Transaksi yang
mungkin sekali salah saji adalah transaksi yang dicatat mendekati akhir
suatu peride akuntansi.
g. Pengungkapan (Disclosure). Untuk meyakinkan bahwa saldo akun dan
persyaratan pengungkapan yang berkaitan telah disajikan dengan wajar
dalam laporan keuangan dan dijelaskan dengan wajar dalam isi dan catatan
kaki laporan tersebut.

2.1.2 Pengertian Risiko

Berikut beberapa pengertian risiko yang disampaikan oleh beberapa ahli:


a. Risiko adalah suatu variasi dari hasil-hasil yang dapat terjadi selama
periode tertentu (Arthur Williams dan Richard, MH).
b. Risiko adalah ketidaktentuan/uncertainty yang mungkin melahirkan
peristiwa kerugian/loss (A. Abas Salim).
c. Risiko adalah ketidak pastian atas terjadinya suatu peristiwa (Soekarta)
d. Risiko merupakan penyebaran/penyimpangan hasil aktual dari hasil yang
diharapkan (Herman Darmawi).
Jadi risiko adalah suatu ketidakpastian/konsekuensi yang dapat terjadi akibat
suatu peristiwa yang terjadi sekarang atau pada waktu yang akan datang.

6
2.2 RISIKO AUDIT (AUDIT RISK)

Menurut PSA No. 25 Seksi 312, Risiko audit dan materialitas


mempengaruhi penerapan standar auditing, khususnya standar pekerjaan
lapangan dan standar pelaporan, serta tercermin dalam laporan auditor bentuk
baku. Risiko audit dan materialitas, bersama dengan hal-hal lain, perlu
dipertimbangkan dalam menentukan sifat, saat, dan lingkup prosedur audit
serta dalam mengevaluasi hasil prosedur tersebut. Laporan keuangan
mengandung salah saji material apabila laporan keuangan tersebut
mengandung salah saji yang dampaknya, secara individual atau keseluruhan,
cukup signifikan sehingga dapat mengakibatkan laporan keuangan tidak
disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Salah saji dapat terjadi sebagai
akibat dari kekeliruan atau kecurangan. Istilah kekeliruan berarti salah saji atau
penghilangan yang tidak disengaja jumlah atau pengungkapan dalam laporan
keuangan.

Risiko Audit atau Audit Risk (AR) adalah kemungkinan risiko salahsaji
bersifat material dan/atau penggelapan (fraud) yang bisa lolos dari proses audit
jika auditor tidak melakukan tugasnya secara cermat.

Mengingat risiko itu maka, auditor harus melakuka pemeriksaan risiko


(risk assessment) sebelum menjalankan proses audit, tepatnya pada fase
perencanaan audit (audit planning). Tujuannya: Untuk mengukur dan
memetakan risiko audit yang mungkin timbul thus bisa menentukan dimana
proses pemeriksaan dilaksanakan secara ketat dan dimana agak longgar,
dimana audit penuh (full audit) dan dimana secara acak (random audit).

2.2.1 Jenis-Jenis Risiko Audit

Ada 3 jenis risiko audit yang wajib diuji dan dipertimbangkan oleh
seorang auditor sebelum menjalankan proses audit, yaitu: (1) risiko inherent

7
(inherent risk), (2) risiko pengendalian (control risk) dan (3) risiko deteksi
(detection risk).

1. Risiko Inherent – Atau ‘Inherent Risk’ (IR) adalah risiko yang mungkin
timbul akibat karakter bawaan dari suatu transaksi, entah karena: (a)
kompleksitas transaksi dan klas transaksi; atau (b) kompleksitas perhitungan;
atau (c) aset yg mudah tercuri/digelapkan; atau (d) ketiadaan informasi yang
sifatnya obyektif. Sudah menjadi pemahaman publik bahwa inherent risk
adalah diluar jangkauan auditor dalam melakukan pencegahan. Bahkan, juga
diluar kendali pihak auditee sendiri. Dengan kata lain, auditor hanya bisa
menemukan tetapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Beberapa ciri IR yg tinggi, antara lain:

1. Terjadi profitabilitas dan kinerja laporan keuangan yang terus menurun;


2. Terjadi kekurangan modal kerja; dan
3. Tingginya asset menganggur (tidak menghasilkan)

Contoh Pemeriksaan IR: Saat memeriksa “Pendapatan,” sebagai seorang


auditor anda melihat 4 faktor penting berikut ini dalam mengukur Risiko
Inherent (Inherent Risk):

1. Usaha Sejenis – Pertimbangkan persaingan di lingkungan usaha sejenis


yang mungkin mempengaruhi pendapatan dan aliran kas auditee. Misalnya:
faktor persaingan (mungkinkah auditee kalah dalam persaingan sehingga
revenue nya menurun?)
2. Kompleksitas Pengakuan Pendapatan – Periksa metode pengakuan
pendapatannya, apakah mengandung kompleksitas yang berpotensi menjadi
risiko? Contoh pengakuan pendapatan dengan perhitungan kompleks dan
berpotensi mengandung risiko bawaan adalah “metode persentase
penyelesaian” yang biasa digunakan oleh jenis usaha real estate atau developer
ATAU metode pengakuan pendapatan atas kontrak lainnya yang lamanya
melewati satu tahun buku.

8
3. Kesulitan dalam Menakar Akurasi Perhitungan Revenue – Periksa
besarnya nilai revenue dipengaruhi oleh perhitungan yang akurasinya sulit
diukur? Misal: menggunakan “Cadangan Bad Debt” dan yang angka
persentasenya menggunakan estimasi (termasuk write off nya).
4. Salah Saji Pada Audit Sebelumnya – Anda juga dapat menggunakan
laporan hasil audit priode sebelumnya sebagai tambahan bahan pertimbangan;
akun-akun yang kerap mengandung salah saji pada periode-periode
sebelumnya besar kemungkinannya mengandung risiko inherent.

Catatan Penting: 2 (dua) faktor berikut ikut menentukan tingginya


tingkat IR

1. Penugasan audit pertama kalinya untuk klien yang sama oleh auditor
dihitung sebagai faktor IR yang penting. Misalnya PT ABC baru IPO tanggal 1
Juni 2015, maka audit yang diselenggarakan pertama kali (untuk Laporan
Keuang Per 31 Desember 2015) diasumsikan mengandung IR yang tinggi,
sebab auditor tidak memiliki informasi valid mengenai kondisi keuangan PT
ABC yang bisa dipercaya.
2. Perusahaan yang memiliki anak/cabang dalam jumlah banyak dan
melibatkan banyak mata uang asing, diasumsikan mengandung IR yang tinggi.
Sebab model perusahaan seperti ini cenderung menghasilkan laporan keuangan
yang kompleks dan besar kemungkinan terjadi banyak kesalahan dalam proses
konsolidasi laporan yang disebabkan oleh kompleksitas data transaksi yang
terlibat di dalamnya.

2. Risiko Pengendalian – Atau ‘Control Risk’ (CR) adalah risiko yang bisa
timbul akibat kelemahan sistim pengendalian intern (SPI) auditee, entah karena
desainnya yang lemah atau pelaksanaanya yang tidak sesuai desain—thus tidak
mampu mencegah potensi salahsaji bersifat material dan/atau penggelapan
(fraud). CR tidak bisa dikendalikan oleh auditor akan tetapi bisa dikendalikan
oleh auditee jika mereka mau. Karakter perusahaan ber CR tinggi, antara lain:

1. Struktur Organisasi (SO), tidak jelas dengan pembagian tugas yang juga
tidak jelas. Jika ini terjadi maka bisa dipastikan CR nya tinggi;

9
2. Lemahnya pengawasan manajemen (para manager) terhadap operasional
perusahaan (ciri ini bisa dilihat dari beberapa hal, misal: tidak ada level
otorisasi transaksi yang jelas, semua orang bisa mengakses semua
data/informasi, tidak ada aktivitas supervisi, tidak pernah ada audit fisik, tidak
ada performance review, tidak ada budgeted financial statement). Kalau ini
yang terjadi maka angka persentase CR sudah pasti tinggi.
3. Tidak memiliki auditor internal dan komite audit. Jika ini yang tejadi maka
bisa dipastikan angka CR juga tinggi.
4. Sistim Pengendalian Internal lemah atau tidak efektif (semua aspek SPI
perlu diperiksa terlebih dahulu untuk menentukan faktor ini, perhatikan contoh
dibawah.

Contoh Pemeriksaan SPI: Yang paling klasik, anda memeriksa faktor


“Pemisahan Tugas” pada departemen-departemen yang berpotensi terjadi
“Asset Fraud.” Dua jenis asset dimana kerap terjadi fraud adalah wilayah
“Persediaan” dan “Kas.” Katakanlah anda sedang memeriksa Persediaan. Di
sini anda memeriksa apakah ada 2 pekerjaan terkait atau lebih dirangkap oleh
satu orang petugas? Misal:

1. Pegawai Purchasing merangkap sebagai petugas yang penerima barang


atau pekerjaan gudang persediaan lainnya (ini buruk); atau Pegawai Shipping
merangkap sebagai petugas gudang yang mengurus persediaan barang jadi (ini
juga buruk).
2. Foreman di bagian produksi (yang biasa request persediaan untuk
keperluan produksi) diijinkan bebas keluar-masuk gudang persediaan bahan
baku atau bahan penolong (ini buruk).
3. Pegawai admin yang input Receipt of Goods (ROG) memiliki kemampuan
akses ke dalam data-data accounting terkait seperti Accounts Payable (Utang)
4. Pegawai admin yang input picking sheet di Shipping memiliki
kemampuan akses ke dalam data-data accounting terkait seperti Accounts
Receivable (Piutang).

10
Selain aspek pemisahan tugas anda juga memeriksa akurasi saldo Persediaan
yang disajikan pada “Laporan Posisi Keuangan” (Neraca.) Ada 2 hal yang bisa
anda lakukan di sini, yaitu:

a. Menelusuri dokumen penerimaan barang ‘masuk-dan-keluar’ gudang


untuk tanggal-tanggal yang mendekati tanggal tutup buku (jika tutup buku
dilakukan tanggal 31 Desember misalnya, maka periksa dokumen barang
masuk-dan-keluar tanggal 30 hingga 31). Dari hasil pemeriksaan ini mungkin
anda menemukan barang persediaan yang harusnya tidak diperhitungkan
sebagai penambah saldo (atau pengurang saldo) akan tetapi diikutkan oleh
aduitee, atau sebaliknya.
b. Melakukan perhitungan fisik secara acak (random physical counts). Hasil
penghitungan ini kemudian dibandingkan dengan hasil perhitungan yang
dilakukan oleh auditee, apakah sama? Jika beda, maka uji dengan physical
count terus dilakukan.
c. Jika auditee menggunakan peralatan teknologi dalam mengelola
persediaan misalnya “Self-alarming antitheft tags” atau “Electronic Cash
Register” (ECR), maka anda perlu memeriksa apakah peralatan tersebut
berfungsi dengan baik atau rusak atau tidak konsisten?

3. Risiko Deteksi – Atau ‘Detection Risk’ (DR), adalah risiko yang bisa timbul
akibat kegagalan auditor dalam menedeteksi adanya salahsaji bersifat material
dan/atau penggelapan (fraud). DR ada dalam kendali auditor. Karena DR
sepenuhnya ada pada kendali auditor, maka sudah pasti mereka harus berupaya
untuk menekan risiko ini hingga ke tingkatakan yang paling minimal (tidak
mungkin menghilangkan risiko ini sepenuhnya). Ada 4 faktor yang
berpotensi menghasilkan DR yang tinggi, yaitu:

a. Salah Mengaplikasikan Prosedur Audit – Contoh kesalahan fatal,


misalnya: anda menggunakan rasio untuk mengukur tingkat akurasi angka
saldo, dan ternyata anda menggunakan rasio yang salah.
b. Salah Menginterpretasikan Hasil Audit – Contoh (lanjutan yang tadi):
mungkin sudah menggunakan rasio yang benar, namun anda salah dalam

11
menginterpretasikan hasil perhitungan (misal: anda menyatakan inventory
sudah disajikan dengan semestinya padahal sebenarnya mengandung salahsaji
bersifat material).
c. Salah Memilih Metod Uji – Setiap saldo akun yang disajikan pada Laporan
Keuangan seharusnya diuji dengan menggunakan metode yang paling sesuai
dengan nature nya masing-masing. Anda ingin memastikan apakah suatu
penjualan memang seharusnya diakui (atau tidak diakui), maka anda
mengujinya dengan melihat tanggal transaksi yang kemudian disandingkan
dengan periodisasi pelaporan (bukan dengan menguji hitungan matematisnya)
d. Pengujian CR Yang Kurang Intensive – DR juga meningkat bila pengujian
terhadap DR kurang intensif (beberapa wilayah pengendalian lemah namun
lolos dari pengujian karena anda tidak tahu wilayah tersebut ternyata lemah),
sehingga ada salahsaji atau fraud yang tidak terdeteksi selama proses pengujian
anda jalankan.

2.2.2 Model Perhitungan Risiko Audit

Model Risiko Audit (audit risk) yang paling lumrah digunakan (dan diajarkan)
adalah:
AR = IR x CR x DR
Dimana:
AR = Audit Risk
IR = Inherent Risk
CR = Control Risk
DR = Detection Risk
Model Risiko Audit ini bisa diterapkan dengan 3 langkah berikut ini:
Pertama, Kantor Akuntan Publik (KAP) biasanya sudah mematok besaran
angka persentase Audit Risk (AR) yang bisa diterima (biasanya tak boleh lebih
dari 10%).
Kedua, menentukan IR dan CR. Inherent risk (IR) diukur dengan
mempertimbangkan faktor eksternal dan internal seperti yang sudah saya
jelaskan di atas. Sedangkan CR diukur dengan menilai desain dan

12
implementasi sistim pengendalian internal yang dimiliki oleh auditee seperti
yang sudah saya jelaskan di atas.
Ketiga, menentukan DR dengan menggunakan persamaan di atas, sehingga
menjadi:
DR = AR/(IR x CR)
Nah, besaran DR inilah yang nantinya akan dijadikan sebagai bahan
pertimbangan dalam merancang prosedur audit, substantive test dan rencana
audit secara keseluruhan.

Contoh kasus terapan (sederhana):


Kantor Akuntan Publik “JAK dan Rekan” menerima penugasan untuk
mengaudit PT. ABC Tbk, untuk pertama kalinya sejak IPO. Engagement
Manager, pada fase persiapan audit, menyampaikan informasi berikut terkait
PT ABC Tbk:

1. Ini adalah sesi audit eksternal pertama kalinya untuk PT ABC Tbk
2. PT. ABC adalah perusahaan kontraktor yang memiliki banyak cabang di
Singapura, Malaysia, India, Dubai, Jepang dan Australia.
3. Tim internal Audit PT ABC baru dibentuk 2 bulan lalu;
4. Komite Audit PT ABC terdiri dari Board of Director member yang tidak
satupun memiliki latar belakang bidang akuntansi dan keuangan.

Sementara itu KAP JAK dan Rekan mematok angka 10% sebagai “accepted
audit risk level.”
Dari informasi tersebut, tim audit KAP “JAK & Rekan” menghitung besaran
angka DR yang harus diantisipasi dengan prosedur dan metode audit yang
paling efektif:
Inherent Risk (IR) diperkirakan mencapai 60%, mengingat: (a) klien
adalah usaha kontraktor yang besar kemungkinannya menerapkan metode
pengakuan pendapatan bertahap melalui beberapa periode akuntansi
(kompleksitas pengakuan transaksi); (b) ini adalah audit eksternal
pertamakalinya (minim informasi obyektif); dan (c) klien memiliki tingkat
kompleksitas pelporan yang tergolong tinggi dengan adanya banyak

13
perusahaan cabang di luar negeri dengan mata uang asing yang berbeda-beda
pula.
Control Risk (CR) juga diperkirakan mencapai 60%, mengingat: (a) tim
internal auditnya PT ABC Tbk tergolong baru; (b) anggota audit komite nya
terdiri dari orang-orang yang tidak berlatarbelakang akuntansi dan keuangan—
thus besar kemungkinanya tidak melakukan tugas pengawasan yang prudent
terhadap proses pencatatan dan pelaporan transkasi keuangan PT ABC Tbk.
Dari simpulan itu, maka sudah bisa ditentukan berapa besarnya angka
DR yang harus diantisipasi oleh auditor, dengan menggunakan
persamaan di atas:
AR = IR x CR x DR
10% = 60% x 60% x DR
0.10 = 0.60 x 0.60 x DR
0.10 = 0.36 x DR
DR = 0.10/0.36
DR = 0.278 (dibulatkan)
DR = 0.28 (pembulatan ke atas)
DR = 28%
DR = 28% inilah yang harus diantisipasi dengan prosedur pemeriksaan yang
dirancang sedemikian rupa oleh auditor, sehingga bisa ditekan ke tingkatan
yang paling minimal.

2.2.3 Hubungan antar Unsur Risiko


Risiko bawaan dan risiko pengendalian berbeda dengan risiko deteksi. Kedua
risiko yang disebut terdahulu ada, terlepas dari dilakukan atau tidaknya audit atas
laporan keuangan, sedangkan risiko deteksi berhubungan dengan prosedur audit
dan dan dapat diubah oleh keputusan auditor itu sendiri. Risiko deteksi
mempunyai hubungan yang terbalik dengan risiko bawaan dan risiko
pengendalian. Semakin kecil risiko bawaan dan risiko pengendalian yang diyakini
oleh auditor, semakin besar risiko audit yang diterima begitupula sebaliknya.
Komponen risiko audit ini dapat ditentukan secara kuantitatif, seperti dalam
bentuk presentase atau secara non kuantitatif yang berkisar, misalnya dari
minimum sampai dengan maksimum.

14
2.2.4 Hubungan antara Materialitas, Risiko Audit dan Bukti Audit
Terdapat hubungan berlawanan antara materialitas dan bukti audit. Jika
materialitas rendah, jumlah salah saji yang kecil saja dapat mempengaruhi
keputusan pemakai informasi keuangan. Auditor perlu mengumpulkan bukti audit
kompeten dalam jumlah banyak. Sebaliknya jika materialitas tinggi, jumlah salah
saji besar beru dapat mempengaruhi keputusan pemakai informasi keuangan,
auditor hanya perlu mengumpulkan bukti audit kompeten dalam jumlah sedikit.
Demikian pula hubungan antara risiko audit dengan bukti audit. Semakin rendah
risiko audit, auditor bersedia menanggung risiko audit rendah sehingga tingkat
kepastian yang diinginkan oleh auditor adalah tinggi, auditor perlu
mengumpulkan bukti audit kompeten dalam jumlah banyak. Sebaliknya, semakin
tinggi risiko audit, auditor bersedi menanggung risiko audit tinggi sehinggan
tingkat kepastian yang diinginkan auditor adalah rendah, auditor perlu
mengumpulkan bukti audit kompeten dalamjumlah kecil saja.
Berbagai kemungkinan antara materialitas, risiko audit dan bukti audit adalah
sebagai berikut:
a. Jika auditor mempertahankan risiko audit konstan dan tingkat materialitas
dikurangi, auditor harus menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan.
b. Jika auditor mempertahankan tingkat materialitas konstan dan mengurangi
jumlah bukti audit yang dikumpulkan, risiko audit menjadi meningkat.
c. Jika auditor menginginkan untuk mengurangi risiko audit, auditor
menempuh salah satu diantara dari tiga cara berikut ini:
1. Menambah tingkat materialitas, sementara itu mempertahankan jumlah
bukti audit yang dikumpulkan.
2. Menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan, sementara itu
tingkat materialitas tetap dipertahankan.
3. Menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan dan tingkat
materialitas secara bersama-sama.

2.3 AUDIT BERBASIS ISA


ISA (International Standards on Auditing) merupakan standar audit
terbaru yang telah diadopsi di Indonesia. Per 1 Januari 2013, Akuntan Publik

15
di Indonesia wajib melakukan audit atas laporan keuangan berdasarkan standar
yang baru inISA (International Standards on Auditing) merupakan standar
audit terbaru yang telah diadopsi di Indonesia. Per 1 Januari 2013, Akuntan
Publik di Indonesia wajib melakukan audit atas laporan keuangan berdasarkan
standar yang baru ini.
ISA adalah proses audit berbasis resiko. Artinya auditor harus menilai
kemampuan manajemen dalam mengukur, merespon dan melaporkan resiko.
Apabila manajemen memiliki pemahaman yang cukup mengenai resiko, maka
auditor tidak harus meningkatkan tingkat ketelitian yang akan menambah
prosedur atau waktu analisa.
ISA sepenuhnya mengadopsi pendekatan Audit Berbasis Resiko,
sehingga saat ini penerapan Audit Berbasis Resiko bagi auditor di Indonesia
menjadi hal wajib (mandatory). Audit Berbasis Resiko atau Risk Based Audit
(RBA) merupakan pendekatan audit yang berkembang pesat sejak tahun
2000an. Pendekatan saat ini mendapatkan perhatian yang luas dan dianggap
sebagai pendekatan yang paling efektif karena terbukti paling cocok diterapkan
untuk kondisi lingkungan bisnis yang selalu berubah-ubah seperti sekarang ini.
Indonesia telah meratifikasi ketentuan untuk menerapkan International
Standards on Auditing (ISA) mulai awal tahun 2013.

2.4 PENGERTIAN AUDIT BERBASIS RISIKO (AUDITING BERBASIS


ISA)
Proses audit ini didasarkan ISA atau International Standards on
Auditing. ISA menekankan berbagai kewajiban entitas dan manajemen,
berbagai kewajiban entitas dapat disebut pihak-pihak berkepentingan atau
TCWG “Those charged with governance”. Proses audit berbasis ISA
merupakan proses audit berbasis risiko yang mengandung tiga langkah kunci
yaitu Risk Assessment (Penilaian Risiko), Risk Response (Merespon Risiko)
dan Report (Pelaporan).
Audit Berbasis Risiko (Risk Based Audit) adalah metodologi
pemeriksaan yang dipergunakan untuk memberikan jaminan bahwa risiko telah
dikelola di dalam batasan risiko yang telah ditetapkan manajemen pada

16
tingkatan korporasi. Pendekatan audit ini berfokus dalam mengevaluasi risiko-
risiko baik strategis, finansial, operasional, regulasi dan lainnya yang dihadapi
oleh organisasi.
Dalam Audit berbasis risiko, risiko-risiko yang tinggi diaudit, sehingga
kemudian manajemen bisa mengetahui area baru mana yang berisiko dan area
mana yang kontrolnya harus diperbaiki. Risk-Based Audit memastikan bahwa
seluruh tanggung jawab manajemen telah dilakukan secara efektif. Tanggung
jawab manajemen yang utama termasuk memastikan internal control telah
memadai dan manajemen risiko telah dilakukan dengan tepat, diikuti oleh
berbagai fungsi dan unit kerja di perusahaan.
Peran Risk-Based Audit dalam peningkatan Internal Control dan Proses
Manajemen Risiko sangat menyeluruh dan strategis. Oleh karena itu
apabila Risk Based Auditdiimplementasikan dengan konsisten, maka
efektivitas Internal Control dan Proses Manajemen Risiko perusahaan akan
meningkat.
Pendekatan audit berpeduli risiko bukan berarti menggantikan
pendekatan audit konvensional yang dijalankan oleh lembaga audit intern yang
sudah berjalan selama ini. Pendekatan ini hanya membawa suatu metodologi
audit yang dapat dijalankan oleh auditor intern dalam pelaksanaanpenugasan
auditnya melalui pendekatan dan pemahaman atas risiko yang harus
diantisipasi, dihadapi, atau dialihkan oleh manajemen guna mencapai tujuan.
Perbedaan pendekatan audit berpeduli risiko dengan pendekatan audit
konvensional adalah pada metodologi yang digunakan dimana auditor
mengurangi perhatian pada pengujian transaksi individual dan lebih berfokus
pada pengujian atas sistem dan proses bagaimana manajemen mengatasi
hambatan pencapaian tujuan, serta berusaha untuk membantu manajemen
mengatasi (mengalihkan) hambatan yang dikarenakan faktor risiko dalam
pengambilan keputusan.
Audit Berbasis Resiko atau Risk Based Audit (RBA) merupakan
pendekatan audit yang berkembang pesat sejak tahun 2000an. Pendekatan ini
saat ini mendapatkan perhatian yang luas dan dianggap sebagai pendekatan
yang paling efektif karena terbukti paling cocok diterapkan untuk kondisi

17
lingkungan bisnis yang selalu berubah-ubah seperti sekarang ini. Indonesia
telah meratifikasi ketentuan untuk menerapkan International Standards on
Auditing (ISA) mulai awal tahun 2013. ISA sepenuhnya mengadopsi
pendekatan Audit Berbasis Resiko, sehingga saat ini penerapan Audit Berbasis
Resiko bagi auditor di Indonesia menjadi hal wajib (mandatory).
Based Internal Audit (RBIA) atau Audit Berbasis Risiko merupakan
metodologi yang memastikan bahwa manajemen risiko sudah dilakukan sesuai
dengan risk appetite yang dimiliki organisasi. Pendekatan audit ini berfokus
dalam mengevaluasi risiko-risiko baik strategis, finansial, operasional, regulasi
dan lainnya yang dihadapi oleh organisasi. Dalam RBIA, risiko-risiko yang
tinggi diaudit, sehingga kemudian manajemen bisa mengetahui area baru mana
yang berisiko dan area mana yang kontrolnya harus diperbaiki.
Tujuannya adalah memberikan keyakinan kepada komite Audit Dewan
Komisaris dan Direksi bahwa Perusahaan telah memiliki proses manajemen
risiko dan proses tersebut telah dirancang dengan baik. Proses manajemen
risiko telah diintegrasikan oleh manajemen ke dalam semua tingkatan
organisasi mulai tingkat korporasi divisi sampai unit kerja terkecil dan telah
berfungsi dengan baik. Kerangka kerja internal dan tata kelola yang baik telah
tersedia secara cukup dan berfungsi dengan baik guna mengendalikan risiko.
Audit berbasis resiko lebih berupa perubahan pola pandang dari pada
sebuah teknik. Memakai kacamata audit berbasis resiko auditor harus menilai
kemampuan manajemen dalam mengukur resiko, merespon resiko dan
melaporkan resiko. Apabila manajemen memiliki kemampuan yang cukup
dalam mengukur, merespon dan melaporkan resiko dalam suatu area atau
proses, maka resiko bawaan bisa diturunkan. Artinya auditor tidak harus
meningkatkan tingkat ketelitian, menambah prosedur atau menambahkan
waktu analisa. Sebaliknya kalau manajemen resiko klien buruk, maka auditor
harus meningkatkan keteliatian, menambah prosedur dan menambahkan waktu
analisa. Sehingga bobot atau score resiko di masing-masing area atau proses
tersebut bisa dijadikan sebagai salah satu dasar untuk penentuan prioritas audit
oleh auditor.

18
Penentuan prioritas berdasarkan analisa resiko ini dianggap paling tepat
dalam upaya mengalokasikan waktu dan staff auditor yang terbatas. Audit
menggunakan sampling, dan selama ini metodologi audit mengatur bagaimana
pengambilan sampling yang paling efektif dan efisien. Efektif dalam arti
sample yang diambil tersebut haruslah mampu mewakili populasi yang akan
diperiksa.
Audit Berbasis Risiko adalah metodologi pemeriksaan yang dipergunakan
untuk memberikan jaminan bahwa risiko telah dikelola di dalam batasan risiko
yang telah ditetapkan manajemen pada tingkatan korporasi.

Ada 2 hal utama yang harus dipahami oleh internal auditor:


a. Aspek pengendalian dari setiap proses bisnis yang terkait
b. Risiko dan faktor-faktor pengendalian guna mendukung pencapaian
sasaran perusahaan
Auditor sekarang dituntut tidak hanya memberikan keyakinan memadai
terkait kewajaran laporan keuangan, tetapi juga memberikan penilaian terhadap
keberlanjutan (going concern) perusahaan untuk paling tidak setahun kedepan.
Pendekatan lama auditor yang hanya berbasis transaksi ataupun siklus saat ini
dipandang tidak cukup untuk memberikan tingkat keyakinan memadai terhadap
kewajaran laporang keuangan.

Pada tahap ini, internal auditor juga perlu menetapkan criteria auditable
units antara lain:

1. Unit tersebut memberikan kontribusi yang berdampak cukup besar pada


tujuan perusahaan.
2. Justifikasi biaya pengendalian atas unit yang memiliki potensi kerugian
yang lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan untuk pengendalian termasuk
biaya uidit.

Berdasarkan hasil assesmen resiko, masing-masing auditable units


ditetapkan nilai akhirnya menggunakan factor resiko seperti:

19
1. Audit Assurance: melihat relevansi hasil kajian audit periode sebelumnya
atas area yang memiliki resiko dengan rating tinggi
2. Materialistis: mengkaji area yang memiliki dampak resiko tinggi dengan
menggunakan parameter keuangan maupun nonkeuangan
3. Residual Risk: nilai resiko yang telah memperhitungkan factor positif
yang dimiliki perusahaan seperti pengendalian internal.
4. Audit Judgement: pertimbangan auditor atas perubahan sistem dan
prosedur, restrukturisasi organisasi yang mempunyai dampak kepada area
tertentu.

2.5 LANGKAH – LANGKAH AUDIT BERBASIS RISIKO (AUDITING


BERBASIS ISA)

1. Tahap Penjelasan Risiko Assessment


Penilaian risiko untuk mengidentifikasi dan menilai risiko salah saji material
dalam laporan keuangan, merancang dan melaksanakan prosedur audit
selanjutnya untuk menanggapi risiko salah saji.
- Partner dan Tim inti audit terlibat aktif dalam audit plan.
- Skeptisisme Profesional dalam upaya mencapai asurans yang layak.
- Rencanakan auditnya mencakup waktu dalam audit plan akan memastikan
tujuan audit dipenuhi.
- Diskusi tim audit dan komunikasi berkelanjutan.
- Fokus identifikasi risiko yang relevan.
- Evaluasi cerdas tanggapan manajemen atas risiko.
- Profesional Judgment dalam penerimaan klien, develop audit strategy,
materiality, develop analytic procedure dan pertimbangan audit khusus
yang diperlukan
2. Risiko Response
Merancang dan melaksanakan prosedur audit selanjutnya untuk menanggapi
risiko salah saji material pada tingkat laporan keuangan dan asersi.
- Uji Pengendalian/ test of controls.
- Prosedur Analitikal Substantif.

20
- Pendadakan/ Upredictable examination.
- Management Override.
- Significant Risks.
3. Reporting
Merumuskan pendapat berdasarkan bukti yang diperoleh ; membuat dan
menerbitkan laporan yang tepat sesuai kesimpulan audit. Jika semua prosedur
sudah dilaksanakan dan kesimpulan dicapai, maka: Temuan audit dilaporkan
kepada manajemen dan TCWG Opini audit dirumuskan dan keputusan
mengenai redaksi yang tepat untuk laporan auditor dibuat.

2.6 TUJUAN AUDIT BERBASIS RISIKO


Tujuannya audit berbasis risiko adalah memberikan keyakinan kepada Komite
Audit, Dewan Komisaris dan Direksi bahwa:
- Perusahaan telah memiliki proses manajemen risiko, dan proses tersebut
telah dirancang dengan baik.
- Proses manajemen risiko telah diintegrasikan oleh manajemen ke dalam
semua tingkatan organisasi mulai tingkat korporasi, divisi sampai unit kerja
terkecil dan telah berfungsi dengan baik.
- Kerangka kerja internal dan tata kelola yang baik telah tersedia secara
cukup dan berfungsi dengan baik guna mengendalikan risiko.

2.7 MANFAAT AUDIT BERBASIS RISIKO


Adapun beberapa manfaat audit berbasis risiko antara lain :
- menjadi sistem check dan balance terhadap kontrol organisasi
- meningkatkan kemampuan dalam mengidentifikasi kesalahan dalam
laporan keuangan
- meningkatkan kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengukur risiko
- meningkatkan kemampuan dalam mengidentifikasi adanya fraud atau
masalah lainnya
- mengungkap temuan mengenai kelemahan yang dimiliki manajemen.
- Fleksibilitas waktu

21
Karena prosedur penilaian risiko tidak menguji transaksi dan saldo secar
rinci, prosedur itu dalam di laksankan jauh sebelum akhir tahun (dengan
asumsi , tidak ada perubahan operasinal yang besar).
- Upaya tim audit terfokus pada area kunci
Dengan memahami dimana risiko salah saji material bisa terjadi dalam
laporan keuangan, auditor dapat mengarahkan tim audit ke hal-hal dan
beresiko tinggi dan mengurangi pekerjaan pada lower risk areas. Dengan
demikian sumber daya atau staff audit di manfaatkan sebaik-baiknya.
- Prosedur audit terfokus pada risiko
Prosedur audit selanjutnya di rancang untuk menanggapi risiko yang di
nilai. Oleh karena itu, uji rincian yang hanya menanggapi risiko secara
umum akan dapat di kurangi secara signifikan atau bahkan sama sekali di
hilangkan.
- Pemahaman atas pengendalian internal
Pemahaman terhadap pengandalian intern (yang di wajibkan ISA)
memungkin auditor mengambil keputusan yang tepat, untuk menguji/tidak
menguji efektif nya pengendalian internal.

2.8 RUANG LINGKUP AUDIT BERBASIS RISIKO


Beberapa ruang lingkup audit berbasis risiko antara lain :
- Penilaian atas identifikasi risiko yang dilakukan oleh manajemen
termasuk risiko bisnis yang dapat menghalangi pencapaian tujuan
perusahaan.
- Mengetahui kadar dan dampak risiko yang menimpa perusahaan.
- Mempercepat eskalasi risiko tinggi kepada manajemen puncak.
- Kemampuan melakukan pemeriksaan manajemen risiko yang akan
ditularkan kepada seluruh anggota auditor maupun audit.

22
2.9 STRUKTUR DAN SISTEMATIKA ISA

Seksi-Seksi Penjelasan

Introduction Informasi tentang tujuan, lingkup dan pokok


(Pengantar) bahasan dari ISA tersebut, hal-hal yang
diharapkan dari auditor

Objective Pernyataan yang jelas mengenai tujuan


(Tujuan) auditor secara menyeluruh (overall
objectives) Untuk mencapai tujuan tersebut
harus memperhatikan ISA yang lain.

Definitions Mencantumkan istilah-istilah yang


(Definisi) berkenaan dengan hal-hal yang dibahas

Requirements Setiap tujuan didukung oleh penjelasan


(Persyaratan/Ketentuan) mengenai persyaratan yang diwajibkan.
Kewajiban dinyatakan dengan frasa “the
auditor shall” atau “auditor wajib”

Application and Other Petunjuk untuk melaksakanan persyaratan /


Explanatory Material kewajiban
1. Menjelaskan lebih tepat
2. Mencantumkan pertimbangan-
pertimbangan
3. Contoh prosedur

Appendices (Lampiran) Merupakan bagian tidak terpisahkan. Tujuan


dan maksud digunakannya suatu lampiran
dijelaskan dalam batang tubuh ISA

2.10 PELAKSANAAN AUDIT BERBASIS RISIKO


Pelaksanaan audit berbasis risiko, terdapat 4 pokok bahasan :

23
1. Skeptisisme professional
Auditor wajib merencanakan dan melaksanakan suatu audit dengan Skekeptisi
professional dengan menyadari bahwa mungkin ada situasi yang menyebabkan
laporan keuangan disalah sajikan secara material.
2. Kearifan professional
Auditor wajib melaksanakan kearifan professional dalam merencanakan dan
melaksanakan suatu audit atas laporan keuangan.
3. Asurans yang layak
Untuk memperoleh asurans yang layak auditor memperoleh bukti auditor yang
cukup dan tepat untuk menekan risiko audit ketingkat rendah yang dapat
diterima, dengan demikian memungkinkan auditor menarik kesimpulan yang
layak untuk digunakan sebagai dasar pemberian pendapat auditor.

4. Gunakan tujuan sesuai ISAs yang relevan


Untuk mencapai tujuan seluruhnya auditor wajib menggunakan tujuan yang
dinyatakan dalam ISAs yang relevan dalam merencanakan dan melaksanakan
audit tersebut dengan memperhatikan keterkaitan diantara berbagai ISAs.

2.11 PERTIMBANGAN AUDITOR

Hogart (1992) mengartikan Judgment auditor sebagai proses yang terus


menerus dalam perolehan informasi, pilihan untuk bertindak atau tidak bertindak,
dan penerimaan informasi lebih lanjut yang dilakukan oleh auditor.

Pentingnya pertimbangan dalam proses pengauditan telah berterima secara


umum sebagai sesuatu yang melekat hampir pada setiap tahap pengauditan.
Contoh penggunaan pertimbangan dalam pengambilan keputusan audit berkait
dengan penetapan materialitas, penilaian sistem pengendalian internal, penetapan
tingkat risiko, penentuan strategi audit yang digunakan, penentuan prosedur audit
yang dilaksanakan, evaluasi bukti yang diperoleh, penilaian going concern
perusahaan, dan sampai pada opini yang akan diberikan oleh auditor.

24
America Institute of Certified Public Accountant (AICPA) menyatakan
(AICPA, 1955, dalam Nasution dan Supriyadi: 2007) bahwa pertimbangan
merupakan faktor yang sangat penting dalam semua tahapan pengauditan, tetapi
dalam banyak situasi adalah tidak mungkin secara praktikal untuk menetapkan
standar mengenai bagaimana pertimbangan diterapkan oleh auditor. Hogarth
(1992) dalam Jamilah (2007) mengartikan pertimbangan sebagai proses
pemahaman yang merupakan perilaku pemilihan keputusan.

Proses pertimbangan tergantung pada kedatangan informasi yang terus-


menerus dapat mempengaruhi pilihan yang akan diambil auditor. Setiap
langkah dalam proses pertimbangan jika informasi terus-menerus datang, akan
muncul pertimbangan dan keputusan baru.

2.12 PENGALAMAN AUDIT

Pengalaman yang dimaksud ini adalah pengalaman auditor dalam melakukan


pemeriksaan laporan keuangan baik dari segi lamanya waktu, maupun banyaknya
penugasan yang pernah dilakukan. Butt (1998) memperlihatkan dalam
penelitiannya bahwa auditor yang berpengalaman akan membuat pertimbangan
yang relatif lebih baik dalam tugas-tugas profesionalnya, daripada auditor yang
kurang berpengalaman. Jadi seorang auditor yang lebih berpengalaman akan lebih
tinggi tingkat skeptisisme profesionalnya dibandingkan dengan auditor yang
kurang berpengalaman.

Penggunaan pengalaman didasarkan pada asumsi bahwa tugas yang


dilakukan secara berulang-ulang memberikan peluang untuk belajar
melakukannya dengan yang terbaik. Menurut Herliansyah (2006), seseorang
dengan lebih banyak pengalaman dalam suatu bidang memiliki lebih banyak
hal tersimpan dalam ingatannya dan dapat mengembangkan suatu pemahaman
yang baik mengenai peristiwa-peristiwa. Dan auditor yang berpengalaman
membuat pertimbangan lebih baik dalam tugas-tugas profesional ketimbang

25
auditor yang belum berpengalaman. Hal ini dipertegas oleh Haynes et al (1998)
yang menemukan bahwa pengalaman audit yang dipunyai auditor ikut berperan
dalam menentukan pertimbangan yang diambil.

26
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan atas topik “Audit of High Risk
Accounts” maka dapat disimpulkan bahwa Peranan Internal Auditor dengan fokus
utama pengendalian atau control pada perusahaan saat ini sudah tidak memadai
lagi. Kelemahan utama yang muncul adalah perencanaan audit yang tidak efektif
dikaitkan dengan pencapaian misi perusahaan.
Umumnya perencanaan audit disusun tidak melalui suatu basis yang
memadai, melainkan hanya berdasarkan penilaian subyektif belaka. Kerap terjadi
auditee yang berisiko tinggi justru tidak mendapatkan perhatian penuh dari
internal audit dan sebaliknya, audit justru dilakukan pada auditee yang relatif
kurang berisiko. Oleh karena itu, kegiatan operasional internal audit belum
memberikan nilai tambah yang diharapkan.
Auditor akan selalu punya resiko audit karena auditor tidak menguji semua
transaksi. Oleh karenanya Auditor harus berusaha untuk menurunkan atau
mengurangi resiko audit sampai tahap cukup rendah untuk diterima (biasanya
5%). Resiko inheren dan resiko pengendalian bersifat independen (independently
exist) tanpa bisa dipengaruhi oleh auditor.
Sedangkan Resiko deteksi terkait dengan prosedur audit yang auditor pilih.
Jika auditor mengubah rangkaian prosedur audit maka otomatis resiko deteksi
juga akan ikut berubah (bisa naik atau turun). Jadi auditor bisa menentukan resiko
deteksi dan selanjutnya resiko audit dengan memilih prosedur audit.
Internal auditor diharapkan mampu melaksanakan audit secara efektif dan
efisien. Sumber daya yang terbatas yang digunakan seharusnya mampu dikelola
sedemikian rupa sehingga tujuan audit yang telah ditetapkan.
Hal ini berarti internal auditor harus mendahulukan pengujian dan observasi
pada aktivitas yang dinilai berisiko tinggi, tidak ‘terjebak’ pada rutinitas dan
kegiatan yang kurang berisiko. Juga internal auditor harus mampu

27
mengidentifikasi risiko-risiko yang dihadapi perusahaan telah cukup diantisipasi
dan dimitigasi oleh perusahaan.
Dengan melakukan audit berbasis risiko, diharapkan para internal auditor
mampu mengatasi kelemahan-kelemahan yang dihadapi terkait dengan
perencanaan tahunan audit dan melaksanakan pengujian-pengujian audit secara
lebih efektif dan efsien.

28
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Sukrisno. (2012). Auditing Edisi 4. Jakarta: Salemba Empat.

Agoes, Sukrisno. (2012). Auditing: Petunjuk Praktis Pemeriksaan Akuntan Oleh


Akuntan Publik. Jakarta : Salemba Empat

Apriyanti, Mutia. Audit Berbasis Resiko. https://www.academia.edu/


23620597/_AUDIT_BERBASIS_RESIKO_. Diakses Pada Tanggal 16
April 2018.

Arens, Alvin. A., dkk. (2014). Auditing dan Jasa Assurance Pendekatan
Terintegrasi. Jakarta: Erlangga.

Rachmawati, Yuni., dkk. (2013). Pengaruh Resiko Audit, Pengalaman Audit dan
Kompleksitas Dokumen Audit Terhadap Pertimbangan Auditor ( Studi
Pada Audiot Kantor BPK-RI Perwakilan Aceh). Jurnal Akuntansi Pasca
Sarjana Universitas Syiah Kuala Volume 2, No.2, Mei 2013.

29