Anda di halaman 1dari 17

EKSPERTISE KASUS

Kasus
Sampel darah seorang bayi umur 1 hari, dari NICU RSUP M Djamil
Padang. Pemeriksaan hematologi lengkap dan kimia klinik di dilakukan di
laboratorium IGD tanggal 11 Januari 2016 . Data hasil pemeriksaan sebagai
berikut:
Hematologi Hasil Nilai normal
Hemoglobin 19,4 g/dL 16,5-21,5 g/dL
Hematokrit 60% 48 – 68 %
Eritrosit 5,2 juta/µL 4,1 – 6,1 juta/µL
Leukosit (hitung manual) 6.100 /µL 9000 – 37.000 /µL
Leukosit (alat hematologi) 96.000/ µL
Trombosit 152.000 /µL 150.000 – 450.000 /µL
Retikulosit 6,3 % 1,5 – 5,8 %
Eritrosit berinti (manual) 3/100 Leukosit 2-24/100 leukosit
Hitung jenis leukosit :
(manual)
Basofil 0% 0–2%
Eosinofil 0% 1–4%
Batang 1% 3 – 11 %
Segmen 65 % 37 – 67 %
Limfosit 32 % 18 – 38 %
Monosit 2% 3 – 14%

Gambaran darah tepi


Eritrosit : Anisositosis Normokrom, polikrom (+), ditemukan eritrosit berinti
3/100 leukosit
Leukosit : Jumlah kurang, distribusi dalam batas normal
Trombosit : Jumlah cukup dengan morfologi normal
Kesan : Leukopenia

Kimia klinik Hasil Nilai normal Bayi


Natrium 139 mmol/L 131 – 144 mmol/L
Kalium 4,6 mmol/L 3,2 – 5,5 mmol/L
Klorida 99 mmol/L 97 – 108 mmol/L
Kalsium 7,6 mg/dL 6,2 – 11 mg/dL
Kesan : Hasil dalam batas normal
Anjuran : Elektroforesis Hb
Tes Cryoglobulin

DATA TAMBAHAN

1
Alloanamnesis
Keluhan Utama: Muka kebiruan sejak lahir
Riwayat Penyakit Sekarang :
- Neonatus lahir dengan berat badan sangat rendah 1400 gram, panjang
badan lahir 35, lahir SC atas indikasi, gameli dari suspect twin to twin
transfusion syndrome, ibu baik, ketuban jernih, A/S 3/7
- Kebiruan sejak lahir, menangis tidak ada, nafas tidak adekuat
- Demam tidak ada, kejang tidak ada
- Kuning tidak ada
- Injeksi vitamin K belum diberikan
- BAK dan mekonium belum keluar
Riwayat Penyakit Dahulu : tidak ada
Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat ibu demam, keputihan dan nyeri buang
air kecil selama kehamilan tidak ada.
Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : sedang
Kesadaran : sadar
Nadi : 130 x/menit
Suhu : 36,6°C
Pernafasan : 68 x/menit
Berat badan : 1400 gram
Kulit : teraba hangat
Kelenjar getah bening : tidak membesar
Kepala : bulat, simetris, UUB 1x1cm, UUK 0,5x0,5,0,5 cm, lingkar
kepala 26 cm
Rambut : hitam, tidak mudah dicabut
Mata : konjungtiva anemis dan sklera tidak ikterik, pupil isokor, reflek
cahaya +/+
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, JVP sukar dinilai
Paru : normochest, suara nafas bronkovesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung : tidak ada kelainan
Abdomen : bising usus (+) normal, nyeri tekan (-), nyeri ketok (-), hepar
teraba 1/4 jari BAC - ¼ jari BPX dan lien tidak teraba

2
Ekstremitas : akral hangat, udem tungkai tidak ada, reflek fisiologis +/+, reflek
patologis -/-
Diagnosis Kerja :
- Respiratory Distress e.c Suspect HMD
- BBLSR 1400gram
- SuspectTwin to twin transfusion Syndrome
Diagnosis Banding :
- TTN (Transient Takipneu of the Newborn)
Tindakan / Pengobatan :
- NCPAP PEEP 6 FiO2 30%
- Sementara puasa
- IVFD PG1 80cc/kg/BB/hari, 112cc/hari, 4,6 cc/jam
- Ampicillin sulbactam 2x70mg IV
- Gentamicin 1x6 mg IV

TINJAUAN PUSTAKA

PSEUDOLEUKOSITOSIS
A. Definisi

3
Leukosit merupakan kelompok sel yang fungsi utamanya untuk pertahanan
terhadap bakteri, virus, jamur atau benda asing lainnya. Leukosit terdiri dari
beberapa jenis sel dengan gambaran sel yang berbeda. Perbedaan utama leukosit
adalah pada granul, sehingga dibedakan menjadi granulosit dan agranulosit.
Sebagian besar leukosit berupa sel bergranul dan granul tersebut mengandung
enzim yang berguna untuk mencerna dan menghancurkan organisme asing. 1
Peningkatan jumlah leukosit disebut leukositosis dan penurunannya
disebut leukopenia. Pseudoleukositosis merupakan kelainan hitung jumlah
leukosit pada alat hematologi yang biasanya disebabkan oleh berbagai keadaan,
tetapi tidak sesuai dengan pemeriksaan sediaan hapus darah tepi.2

B. Etiologi

1. Eritrosit resisten lisis


Alat hematologi otomatis menggunakan teknologi impedance dan light
scattered. Pada umumnya terdiri dari dua tabung, tabung pertama untuk
mendeteksi eritrosit dan trombosit berdasarkan ukuran. Tabung yang kedua adalah
untuk mendeteksi leukosit. Sebelum sel darah melewati tabung kedua, sel darah
dilisiskan terlebih dahulu oleh reagen. Fungsi reagen ini antara lain:
a.melisiskan eritrosit sehingga eritrosit tidak terhitung pada tabung.
b.reagen terdiri dari larutan drabkin yang bisa mendeteksi hemoglobin ketika
eritrosit melepaskan hemoglobin
c.reagen pelisis bisa membocorkan membran leukosit kemudian membran
leukosit kolaps dan alat membaca nukleus leukosit sehingga bisa membedakan
neutrofil, monosit dan limfosit berdasarkan ukuran inti.3,4,5
Eritrosit yang tidak dilisis oleh reagen secara fisiologis dapat terjadi pada
neonatus karena resistensi osmotik yang tinggi, hal ini dikaitkan dengan Hb-F
pada neonatus yang sukar larut dalam suasana asam sedangkan HbA dan Hb yang
lain mudah larut. Secara patologi eritrosit sulit lisis pada hemoglobin yang
abnormal, penyakit liver, uremia dan pasien dengan kemoterapi.6,7
Kelainan hemoglobin biasanya adanya hemoglobin-C didalam eritrosit dan
berhubungan dengan berkurangnya fragilitas osmotik sehingga membuat eritrosit
sulit lisis. Hubungan morfologi eritrosit dengan resisten lisis belum ditemukan

4
dan pada kasus hemoglobin-C terlihat sel target yang minimal bahkan sering tidak
ada. Hemoglobin-C adalah suatu kelainan genetik dimana adanya penggantian
lysin dengan asam glutamat di rantai β-globin, Hb-C cenderung berbentuk kristal
jajaran genjang dan homozigot.8

Gambar 2. Ditemukan kristal Hb-C pada sediaan hapus darah tepi.9

2. Cryoglobulin
Pengkristalan cryoglobulin terjadi ketika darah berada diluar suhu tubuh,
alat hematologi membaca sebagai leukosit. Hal ini terjadi hanya sementara, ketika
darah berada seperti pada suhu tubuh maka kristal cryoglobulin menghilang.10
Cryoglobulin adalah immunoglobulin (IgG, IgM, IgA) yang ada di dalam
sirkulasi darah dengan ciri-ciri bersifat reversibel, terjadi presipitat terinduksi
suhu dingin. Sediaan darah tepi yang dibuat pada suhu rendah dapat ditemukan
monosit dengan inklusi yang jernih, berwarna pink muda atau amorfik basophilik,
namun inklusi tersebut tidak ditemukan jika sediaan darah dibuat pada suhu 37°C
(gambar 3). Pemeriksaan laboratorium untuk melihat adanya cryoglobulin yaitu
dengan tes elektroforesis protein.10,11

5
Gambar 3. Terlihat presipitat yang jernih didalam eritrosit (kiri), dan presipitat
yang tidak tampak yang merubah bentuk eritrosit seperti bentuk tergigit (kanan).6
Kelainan laboratorium yang menyertai biasanya hipokomplementemia,
peningkatan Laju Endap Darah (LED), aktifitas faktor rheumatoid,
pseudoleukositosis dan pseudotrombositosis. Cryoglobulin mengaktifkan sistem
imun sehingga terjadi penimbunan kompleks imun dijaringan, menimbulkan
inflamasi, perdarahan, pembekuan darah yang berdampak buruk pada organ ginjal
dan hati. Penyakit-penyakit dengan cryoglobulin positif antara lain hepatitis C,
HIV/AIDS, penyakit ginjal, penyakit otoimun (Systemic Lupus Erythematosus,
Rheumatoid Arthritis, Sindrom Sjorgen), multipel mieloma, limfoma, leukemia
limfositik, dan vaskulitis.10,11
Pemeriksaan cryoglobulin yaitu dengan cara serum dimasukkan kedalam
tabung reaksi kemudian didinginkan pada suhu 2-8ºC selama 24 jam. Gel atau
kekeruhan yang terjadi dianggap positif.10

3. Eritrosit berinti
Eritrosit berinti ditemukan secara fisiologis pada bayi baru lahir dan pada
keadaan patologis pada usia setelah lahir beberapa hari hingga dewasa, bahkan
jumlah eritrosit berinti bisa lebih banyak dari pada jumlah leukosit. Alat
hematologi menghitung eritrosit berinti sebagai leukosit, karena ketika membran
eritrosit dilisiskan maka inti yang tertinggal dianggap sebagai leukosit. Ukuran
inti eritrosit biasanya <40-50fl dan hampir sama dengan ukuran agregasi
trombosit atau large platelet.6
Eritrosit berinti diproduksi di sumsum tulang sebagai respons eritropoietin,
perkursor retikulosit dan eritrosit matang. Pada neonatus yang normal atau sehat
biasanya dalam waktu 3-4 hari setelah lahir sudah tidak ada lagi eritrosit berinti

6
dalam sirkulasi darah dan satu minggu setelah lahir pada neonatus yang lahir
prematur. Peningkatan eritrosit berinti biasanya terjadi pada keadaan bayi lahir
prematur, hipoksia kronik, anemia, diabetes gravidarum.12,13
Sediaan hapus darah tepi berguna untuk mengkonfirmasi hasil yang
terbaca pada alat hematologi, jika ditemukan eritrosit berinti yang banyak maka
jumlah leukosit harus dikoreksi dengan rumus:
100
x jumlah leukosit
100  EB
Jumlah eritrosit berinti (EB) dihitung dalam 100 leukosit.14

4. Agregasi trombosit terinduksi EDTA (Ethylene Diamine Tetraacetic acid)


Agregasi trombosit bisa terjadi karena antikoagulan EDTA, sehingga alat
hematologi membacanya sebagai leukosit dan bersamaan dengan itu jumlah
trombosit terhitung sedikit. Antikoagulan EDTA menyebabkan agregasi trombosit
terjadi sekitar 1% yaitu pasien yang mempunyai antigen terhadap EDTA dan
hanya aktif secara in vitro, EDTA kadang menyebabkan adhesi trombosit pada
neutrofil.10,15

C. Hitung Leukosit Manual


Hitung leukosit secara manual dilakukan dengan pengenceran darah dalam
diluent yang melisis eritrosit dan mewarnai inti leukosit. Leukosit dihitung secara
mikroskopis dalam haemositometer dengan kamar yang diketahui volumenya.
Eritrosit berinti (Nucleated red blood cells/NRBC) tidak dapat dibedakan dari
leukosit dalam kamar hitung. Jika terdapat eritrosit berinti persentasenya dapat
dihitung pada sediaan hapus darah tepi dan hitung total sel berinti (total nucleated
cell count /TNCC)dapat dikoreksi.5,16

Prinsip Hitung Leukosit


Darah diencerkan dengan larutan Turk. Jumlah leukosit dalam volume
pengenceran tersebut dihitung dengan menggunakan kamar hitung.
Alat:
1. Pipet leukosit
2. Kamar hitung improved Neubauer dilengkapi kaca penutup

7
3. Mikroskop
Reagen:
Larutan Turk yaitu larutan Asam Asetat 2% ditambah Gentian Violet 1%
sebanyak 1 ml sehingga warnanya menjadi ungu. Penambahan Gentian Violet
bertujuan untuk memberi warna pada inti dan granul leukosit. Larutan ini melisis
eritrosit dan trombosit tetapi tidak melisis leukosit maupun eritrosit berinti.16,17
Bahan Pemeriksaan:
Darah EDTA dengan kadar 2 mg Na2EDTA/K2EDTA untuk 2 ml darah.

Prosedur kerja
A. Cara mengisi pipet leukosit
1. Darah dihisap sampai garis tanda 0,5. Kelebihan darah yang melekat pada
ujung pipet dihapus.
2. Ujung pipet dimasukkan dalam larutan Turk sambil menahan darah pada
garis tanda tadi. Pipet dipegang dengan sudut 45º dan larutan Turk diisap
perlahan-lahan sampai garis tanda 11.
3. Pipet diangkat dari cairan; pipet dikocok selama 15 – 30 detik. Jika tidak
segera akan dihitung, diletakkan dalam posisi horizontal.
B. Cara mengisi kamar hitung
1. Kamar hitung yang bersih dengan kaca penutup terpasang diletakkan
mendatar di atas meja.
2. Pipet yang sudah diisi tadi dikocok selama 3 menit terus-menerus; semua
cairan yang ada dalam batang kapiler pipet (3 – 4 tetes) dibuang dan ujung
pipet disentuhkan dengan sudut 30º pada permukaan kamar hitung dengan
menyinggung pinggir kaca penutup. Kamar hitung dibiarkan terisi cairan
perlahan-lahan dengan daya kapilaritasnya sendiri.
3. Kamar hitung dibiarkan selama 2 atau 3 menit supaya leukosit dapat
mengendap. Jika tidak dihitung segera, kamar hitung disimpan dalam
sebuah cawan petri tertutup yang berisi segumpal kapas basah.16
C. Cara menghitung jumlah sel
1. Dipakai lensa objektif kecil, yaitu dengan pembesaran 10×. Kamar hitung
dengan bidang bergarisnya diletakkan di bawah objektif dan fokus

8
mikroskop diarahkan kepada garis bagi. Dengan sendirinya leukosit jelas
terlihat.
2. Dihitung semua leukosit yang terdapat dalam keempat bidang besar pada
sudut seluruh permukaan yang dibagi.
a. Penghitungan dimulai dari sudut kiri atas, terus ke kanan; kemudian
turun ke bawah dan dari kanan ke kiri; lalu turun lagi ke bawah dan
dimulai lagi dari kiri ke kanan.
b. Sel yang letaknya menyinggung garis batas sebelah kiri dan atas
haruslah dihitung. Sebaliknya sel yang menyinggung garis batas
sebelah kanan dan bawah tidak boleh dihitung.16

Interpretasi Hasil
Pengenceran yang terjadi dalam pipet adalah 20 kali. Jumlah semua sel yang
dihitung dalam keempat bidang itu dibagi 4 menunjukkan jumlah leukosit dalam
0,1 µl. Dikalikan angka itu dengan 10 (untuk tinggi) dan 20 (untuk pengenceran)
untuk mendapat jumlah leukosit dalam 1 µl.16,17
20 × 10
Jumlah leukosit = × N / µl = 50 N / µl darah atau 0,05 N × 109/L
4

Gambar 4. Diagram Kamar Hitung Improved Neubauer. Kotak besar disudut (W),
digunakan untuk hitung Leukosit. Lima kotak di tengah digunakan untuk hitung eritrosit.
Tiap kotak dari 25 kotak di tengah mempunyai 16 kotak kecil untuk penghitungan yang
lebih tepat. Gambar bawah merupakan kamar hitung dengan kaca penutup tampak
samping.4,9
Sediaan Hapus Darah Tepi
Tujuan pemeriksaan

9
Untuk menilai kelainan morfologi eritrosit, leukosit, dan trombosit serta
memperkirakan jumlah leukosit, trombosit dan hitung jenis.17,19

Interpretasi Hasil

Sediaan hapus darah tepi dievaluasi distribusinya dan mencari daerah


hitung untuk hitung jenis leukosit pada pembesaran 100×, dan perkiraan kasar
jumlah leukosit dilihat pada pembesaran 400×. Sediaan dengan hitung leukosit
normal pada pembesaran 400× dapat dilihat rata-rata dua atau tiga leukosit
perlapangan pandang.Analisa lebih detail leukosit dilakukan pada pembesaran
1000× dengan minyak emersi yaitu hitung jenis leukosit dan deteksi morfologi
leukosit yang abnormal. Pada hitung jenis, seratus leukosit dihitung dan
persentase tiap jenisnya dicatat. Pada umumnya dihitung seratus leukosit tetapi
pada situasi tertentu perlu dilakukan penghitungan sampai dua ratus leukosit.20,21,22

Morfologi Leukosit
Leukosit yang dapat dievaluasi pada sediaan hapus darah tepi normal
adalah basofil, eosinofil, netrofil segmen, neutrofil batang, limfosit dan monosit.
Sebanyak 100 sel leukosit diidentifikasi untuk hitung jenis leukosit. Morfologi
sitoplasma dan inti leukosit dalam sediaan hapus darah juga dievaluasi.3,23
1. Basofil : ukuran 10-14 µm. Perbandingan inti dan sitoplasma sulit
dinilai. Kromatin inti padat berlobus dua. Sitoplasma mengandung
granul spesifik hitam keunguan tidak sama besar terlihat mengaburkan
anak inti. Granul yang kasar, dan tidak terdistribusi merata, bervariasi
dalam jumlah, bentuk, warna dan lebih sedikit dari granul eosinofil.
2. Eosinofil : ukuran 10-16 µm dengan perbandingan inti sitoplasma
hamper 1:1. Eosinofil biasanya mudah dikenali karena granul sekunder
yang besar, bulat dan memiliki afinitas terhadap keasaman eosin dan
pewarnaan. Granul eosinofil yang sferis, berukuran sama besar dengan
distribusi rata. Inti biasanya bilobus dan eksentrik. Sitoplasma banyak
dengan granul spesifik berwarna jingga kemerahan dan sitoplasma
berwarna merah muda serta jingga.
3. Neutrofil Batang : ditandai oleh inti yang berbentuk sepatu kuda atau
berlobus tetapi tidak bersegmen. Lobus yang belum sempurna

10
dihubungkan oleh batang tebal kromatin. Siptoplasma merah
kekuningan atau hamper tidak berwarna. Granul netrofilik halus
banyak ditemukan dalam sitoplasma. Kromatin inti tebal, tetapi lebih
sedikit dari granulosit segmen.
4. Neutrofil Segmen : neutrofil segmen dibedakan dari neutrofil batang
oleh sifat inti yang multilobus, dengan minimal dua lobus yang
terpisah yang ditandai oleh bentuk bulat yang lengkap dengan atau
tanpa filamen tipis penghubung yang dapat terlihat. Rerata neutrofil
mempunyai tiga atau empat lobus. Kromatin inti sangat tebal, terdapat
clumped, kasar, piknotik, dan berwarna merah keunguan. Warna
sitoplasma bervariasi, mulai dari tidak berwarna hingga merah muda
atau jingga.
5. Limfosit : Ukuran 7-10 µm, distribusi diameter limfosit tidak
menggambarkan ukuran limfosit kecil, sedang dan besar karena
dimensi sel bervariasi tergantung pembuatan sediaan. Limfosit
biasanya bulat dan sedikit berlekuk, sitoplasma sedikit dan terlihat
berupa lingkaran sempit pada limfosit kecil tetapi banyak pada limfosit
yang lebih besar. Sitoplasma biasanya bersifat basofilik sedang dan
biasanya tanpa granul.
6. Monosit : Ukuran 10-11 µm, umumnya lebih besar dari limfosit
matang lainnya. Inti besar dan oval atau berlekuk dan terletak sentral.
Kromatin inti halus dan membrane tipis. Sitoplasma banyak berwarna
abu-abu atau biru muda mengandung sejumlah vakuola halus, kosong
atau ungu, granul menyerupai debu halus dan dalam situasi tertentu
(misalnya bakterimia) atau pewarnaan yang pekat, granul tampak lebih
jelas.

D. Hitung Leukosit Otomatis


Prinsip Alat dengan Metode Impedance
Alat hematologi terdiri dari dua tabung, tabung pertama untuk mendeteksi
eritrosit dan trombosit berdasarkan ukuran. Tabung yang kedua adalah untuk
mendeteksi leukosit. Sebelum sel darah melewati tabung kedua, sel darah

11
dilisiskan terlebih dahulu oleh reagen. Ukuran dan jumlah sel ditentukan
berdasarkan perubahan hambatan listrik yang dihasilkan oleh sel non konduktif
yang tersuspensi dalam larutan elektrolit. Perubahan hambatan listrik terjadi saat
sel melewati celah kecil yang terdapat elektroda di kedua sisi. Setiap getaran yang
dihasilkan oleh sel yang melewati celah kecil ditangkap sebagai jumlah sel oleh
elektroda, sedangkan amplitudo getaran sel ditangkap sebagai volume.3,4

Prinsip Alat dengan Metode Light Scatter


Pengukuran leukosit dilakukan berdasarkan reaksi sitokimia yang
mewarnai enzim disitoplasma leukosit sebagai dasar perhitungan dan diferensiasi.
Sel dapat dibedakan berdasarkan intensitas warna yang dapat terdeteksi serta
ukuran sel maupun karakteristik lainnya. Sel darah dalam suatu suspensi diberi
penambahan substrat untuk enzim peroksidase (neutrofil, monosit dan eosinofil),
sel yang mempunyai granula yang mengandung peroksidase akan bereaksi positif,
akan mengabsorbsi sinar secara proporsional sesuai pewarnaan peroksidase yang
terjadi. Limfosit dan basofil akan bereaksi peroksidase negatif.24,25
Sel akan dibuat mengalir dalam barisan sel tunggal menggunakan sistem
hydrodynamic focusing melewati suatu flow cell yang akan dilalui oleh sinar laser.
Setiap sel yang lewat dan terkena sinar akan menyebabkan interupsi pada deteksi
sinar oleh detektor, akan dipendarkan (scattered) serta akan mengalami eksitasi,
baik secara endogen maupun akibat pewarnaan yang diberikan, sehingga derajat
fluoresensinya dapat dideteksi. Terdapat pengukuran mengunakan teknologi side
scatter pada beberapa sudut pengukuran, yaitu pada 10º menggambarkan struktur
dan kompleksitas, pada sudut 90º terpolarisasi menggambarkan lobularitas dan
pada depolarisasi menggambarkan eosinofil.25

12
ANALISIS KASUS

Pasien seorang bayi berumur 1 hari lahir prematur 29-30 minggu lahir
secara sectio caesaria atas indikasi gemeli dari suspek twin to twin transfusion
syndrome dengan keadaan membiru sejak lahir, menangis tidak adekuat. Hasil
pemeriksaan laboratorium hematologi dan kimia klinik pada hari pertama
didapatkan hasil leukopenia dan dan kimia kliniknya dalam batas normal.
Pemeriksaan leukosit menggunakan alat hematologi, hitung leukosit
manual dan sediaan hapus darah tepi terdapat perbedaan hasil yang sangat
bermakna. Pemeriksaan dilakukan dua kali (duplo) pada kedua alat hematologi
otomatis yang ada di Laboratorium Sentral RSUP DR. M. Djamil Padang (metode
impedance dan light scatter), namun hasil yang didapatkan tetap sama, leukosit
pasien sangat tinggi (leukositosis). Konfirmasi dengan sediaan hapus darah tepi
didapatkan hasil leukopenia. Banyak kemungkinan penyebab kesalahan alat
membaca sel darah sebagai leukosit, sehingga hasil yang didapatkan tinggi.4
Penyebab yang paling mungkin pada pasien ini adalah karena eritrosit
yang resisten lisis sehingga alat membaca eritrosit sebagai leukosit. Beberapa
sumber menyebutkan penyebab eritrosit yang resisten lisis pada neonatus bisa

13
fisiologis hal ini dikarenakan resistensi osmotik yang tinggi dan adanya HbF.
Pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui tingginya Hb F bisa dengan cara
modifikasi betke dengan prinsip hemoglobin diubah menjadi sianmethemoglobin
dengan larutan alkali kuat yaitu larutan sianida modifikasi drabkin. Denaturasi
hemoglobin mengalami presipitat, kemudian difiltrasi. Filtrat mengandung
hemoglobin hemoglobin tahan alkali seperti HbF dan diukur serapannya dengan
spektrofotometer pada panjang gelombang 540nm.6,7
Penyebab eritrosit resisten lisis lainnya bisa karena adanya Hb-C pada
eritrosit pasien. Pemeriksaan lanjutan untuk membuktikan penyebab bisa
dilakukan elektroforesis Hb.8
Kemungkinan lain bisa dikarenakan adanya cryoglobulin pada darah
pasien, ketika darah keluar dari tubuh pasien suhunya menjadi lebih rendah dari
suhu badan sehingga terbentuk presipitat pada eritrosit, maka presipitat itu terbaca
sebagai leukosit. Pemeriksaan lanjutan untuk melihat ada atau tidaknya
cryoglobulin adalah dengan tes cryoglobulin jika hasil tes positif maka
dilanjutkan dengan tes elektroforesis protein untuk melihat jenis cryoglobulin
yang ada. Pemeriksaan cryoglobulin yaitu dengan cara serum dimasukkan
kedalam tabung reaksi kemudian didinginkan pada suhu 2-8ºC selama 24 jam. Gel
atau kekeruhan yang terjadi dianggap positif.10
Penyebab ketiga karena adanya eritrosit berinti, namun pada pasien ini
ditemukan eritrosit berinti hanya 3/100 leukosit. Jika ditemukan eritrosit berinti
≥10/100 leukosit maka dilakukan koreksi penghitungan leukosit sesuai dengan
umus yang telah dibahas disubbab tinjauan pustaka.14
Agregasi trombosit atau platelet clump juga merupakan penyebab
kesalahan hitung leukosit pada alat hitung otomatis. Pada pasien ini tidak
ditemukan agregasi trombosit, jika ditemukan maka diminta pengulangan
pemeriksaan dengan sampel yang baru, dan jika masih terjadi agregasi trombosit
maka dilakukan pengambilan sampel ulang dengan antikoagulan natrium
sitras.10,15
Membaca hasil dari alat otomatis sebaiknya diperhatikan flag yang tertulis.
Pada pasien ini ditemukan beberapa flag diantaranya WBC abnormal Scattergram
yang artinya alat menemukan kelainan bentuk leukosit sehingga tidak bisa

14
didiferensiasi. Kelainan bentuk disebabkan oleh empat hal yang sudah dibahas di
tinjauan pustaka yang juga merupakan penyebab kesalahan hitung leukosit pada
alat. Flag selanjutnya basophilia yang tidak ditemukan pada slide darah tepi
karena tidak menggunakan pewarnaan wright. Kemudian leukositosis, eritrosit
berinti dan eritrosit sulit lisis merupakan flag selanjutnya pada pasien ini. 25
Konfirmasi sediaan darah tepi diperlukan untuk melihat kesesuaian alat,
karena banyak faktor yang memengaruhi hasil laboratorium yang terbaca oleh alat
hematologi otomatis. Adanya perbedaan yang sangat bermakna antara hasil yang
terbaca alat dengan sediaan darah tepi, maka dilakukan hitung leukosit manual
dengan menggunakan kamar hitung Improved Neubauer. Ditemukan perbedaan
hasil yang sangat bermakna, yang terbaca oleh alat terdapat leukositosis
sedangkan dengan hitung manual didapatkan leukopenia.7

DAFTAR PUSTAKA

1. Fischbach FT and Dunning MB, 2009. Blood Studies: Hematology and


Coagulation A Manual of Laboratory and Diagnostic Tests, 8 th Ed,
Lippincott Williams & Wilkins, p 58 – 183.
2. Robier C, Neubauer M, Stenard H dan Rainer F,2010, Target Cell
Formation Leading to Pseudoleukocytosis in Patient with Malignant
Disorders, Clin Chem Lab Med, 48(8); p: 1197-8.
3. Perkins SL, 2004,’Examination of The Blood and Bone Marrow’, In:
Wintrobe’s Clinical Hematology 11th ed, Lippincott Williams & Wilkins, pp
3-26.
4. Vajpayee N,Graham SS, and Bem S, 2006,’Basic Examination of Blood
and Bone Marrow’ In:Henry's Clinical Diagnosis and Management by
Laboratory Methods, 21st ed, McPherson & Pincus eds.W. B. Saunders
Company, pp 457-83.
5. Bain BJ, 2006a, Performing a Blood Count, In: Blood Cells A Practical
Guide 4th ed.Blackwell Publishing, Inc. Massachusetts, pp 20-60.
6. M.Zandeki, F. Genevieve, J. Gerard and A. Godon,2007, Spurious Count
and Spurious Result on Haematology Analyser: A review. Part II: White
Blood Cells, Red Blood Cells, Haemoglobin, Red Cells Indices and
Reticulocytes, Int. Jnl. Lab. Hem, 29; p: 21–41.
7. Wirawan, 1997, Pemeriksaan Laboratorium pada Thalasemia dan
Hemoglobin Varian, dalam: Pemeriksaan Laboratorium Hematologi
Sederhana, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta, hh 1-12.

15
8. Samantha J, Hippel, 2011, Genetic Disorders of Haemoglobin, In:
Essential Haematology, 6th Edition, A. V. Hoffbrand and P. A. H. Moss.
Published by Blackwell Publishing Ltd, p: 104
9. Karen S, Clark and Teresa G.Hippel, 2012, Routine and Point-of-Care
Testing in Hematology: Manual and Semiautomated Methods, In:
Hematology: Clinical Principles and Aplications, p: 173
10. J.Clin pathol,1983, Resistent to Lysis of Erythrocytes, Medline, 36; p: 816-
18.
11. Naciye et al, 1998 , Pseudoleokocytosis and Pseudotrombocytosis in
Cryoglobulinemia, Tr. J. of Medical Sciences, Tubitak, 28; p:299-302
12. Hermansen, 2001, Nucleated Red Blood Cells in the Fetus and Newborn,
Arch Dis Child Fetal Neonatal,84; p: F211–5.
13. Green DW, Hendon B, and Mimouni FB,1995, Nucleated Erythrocytes
and Intraventricular Hemorrhage in Preterm Neonates, Pediatrics, 96; p:
475–8.
14. Perkins SL, 2005, Basic Examination of Blood and Bone Marrow, . In:
Wintrobe’s clinical hematology. 11th ed. Philadel-phia: Lippincott,
Williams & Wilkins, p: 3–21.
15. BainBJ, 2006b,Blood Cell Morphology in Health and Disease,In: Dacie
and Lewis Practical Haematology, 10th ed., Churchill Livingstone, An
Imprint of Elsevier, pp 80-110
16. Gandasoebrata R. 2007 ‘Hematologi’ Penuntun Laboratorium Klinik, Dian
Rakyat cetakan ketigabelas, hh 1-51
17. Wirawan R and Silman E (editor), 1992,’Hitung Sel Darah’, dalam:
Pemeriksaan Laboratorium Hematologi Sederhana, Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, hh 12-20.
18. Glatzel JW and Hughes VC, 2002,’Routine Hematology Methodes’, In:
Clinical Hematology and Fundamentals of Hemostasis, 4 th ed, DM
Harmening ed. FA Davis Company Philadelphia, pp 563–93.
19. Henrika F, 2009,’Pemeriksaan Sediaan Hapus Darah Tepi’, dalam: PBPK
2009 Lokakarya A Pembuatan, Pewarnaan dan Penilaian Sediaan Darah.
Departemen Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta, hh 1-9.
20. Ochei J and Kolhatkar A, 2000,’Examination of Peripheral Blood Smear’,
In: Medical Laboratory science – Theory and Practice, Tata McGraw Hill
Publishing Company Limited. P 288 – 302.
21. Theml H, Diem H and Haferlach T, 2004. Physiology and
Pathophysiology of Blood Cells: Methods and Test Procedures. In: Color
Atlas of Hematology Practical Microscopic and Clinical
Diagnosis2ndrevised ed, Thieme, New York, pp 2–27.
22. Ciesla B, 2007, ‘Leukopoiesis and Leukopoietic Function’, In:
Hematology in Practice, F. A. Davis Company, pp 129 – 142.
23. Bell A, Harmeining DM, Hughes VC, 2009, Morfologi of Human Blood
and Marrow Cells, in : Clinical Hematology and Fundamentals of
Hemostasis, 5th ed, DM Harmening ed. FA Davis Company Philadelphia, p
1–35.

16
24. Davis BH, Barnes PW. Automated Cell Analysis. In Marchant KK, Davis
B. Editors. Laboratory Hematology Practice. West Sussex : Wiley
Blackwell; 2012.p. 26-32.
25. Inoue H. Overview of Automated Hematology Analyzer XE-2100. Sysmex
J Inter 1999;9:58-64.

17