Anda di halaman 1dari 18

PEMINDANGAN IKAN CAKALANG

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Tekhnologi Pengolahan Hasil Perikanan

Disusun oleh:

Kelompok 7 / Perikanan B

Alvin Turangga L 230110110128


Reno Dwi Putro 230110120089
Firdausi Nurfalah 230110120100
Nadia Sekar A 230110120106
M. Salman A 230110120118
Hanan Hanifah 230110120139
Alsyafi Alwy 230110120144

PROGRAM STUDI PERIKANAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR

2015
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan
karunia-Nya penulis diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah yang berjudul
“Pemindangan Ikan Cakalang” pada mata kuliah Tekhnologi Pengolahan Hasil
Perikanan. Makalah ini berisikan mengenai metode dalam pemindangan ikan cakalang,
seperti alat dan bahan yang digunakan, serta prosedur yang dilakukan dalam
pemindangan ikan cakalang.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, Untuk itu
pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak
yang telah membantu dalam proses pembelajaran maupun dalam penyusunan
laporan ini.
Akhir kata semoga apa yang telah dilaksanakan oleh kami dapat
memberikan manfaat khususnya bagi pengembangan pengetahuan di bidang
perikanan dan umumnya bagi semua pihak.

Jatinangor, Maret 2015

Penulis

i
DAFTAR ISI

Bab Halaman
DAFTAR GAMBAR.................................................................................. iii

DAFTAR TABEL....................................................................................... iv

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................ 1
1.2 Tujuan.......................................................................................... 2
1.3 Tempat dan waktu....................................................................... 2

II. ISI
2.1 Definisi Pemindangan................................................................. 3
2.2 Prinsip Pemindangan................................................................... 4
2.3 Jenis Pemindangan...................................................................... 4
2.4 Karakteristik Ikan yang Dapat Dipindang................................... 5
2.5 Pemindangan Ikan Cakalang....................................................... 6
2.5.1 Karakteristik Ikan Cakalang........................................................ 6
2.5.2 Metode Pemindangan Ikan Cakalng........................................... 7
2.5.3 Alat dan Bahan Pemindangan..................................................... 8
2.5.4 Prosedur Pemindangan................................................................ 9
2.6 Faktor yang Mempengaruhi Mutu Hasil Pemmindangan........... 11

III. KESIMPULAN DAN SARAN


3.1 Kesimpulan................................................................................. 13
3.2 Saran............................................................................................ 13

DAFTAR PUSTAKA................................................................................ 14

ii
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
1. Produk Ikan Pindang.................................................................... 3
2. Ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis)......................................... 6
3. Pindang Ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis)........................... 8
4. Penyusunan Ikan di Dalam Badeng Berisi Palang Kayu............. 10
5. Ikan Pindang yang Siap Dipasarkan............................................ 11

iii
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
1. Jenis-jenis Ikan Pindang di Indonesia.......................................... 4
2. Parameter dalam Pengujian Sensori Ikan Pindang...................... 5
3. Komposisi Kimia dalam 100 gram Ikan Cakalang...................... 7

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ikan merupakan produk pangan yang memiliki kandungan protein yang
tinggi, dengan harga yang relatif murah jika dibandingkan dengan daging ayam
dan sapi. Hal tersebut seharusnya membuat ikan populer di mata masyarakat
sebagai bahan makanan. Namun, salah satu kelemahan ikan yang kerap kali
menjadi kendala dalam pengolahan produk perikanan adalah sifatnya yang cepat
membusuk. Keberadaan bakteri dan proses kimiawi yang terjadi setelah ikan mati
dapat menyebabkan kerusakan dan bau tengik pada ikan. Oleh karena itu, perlu
adanya penanganan dan pengolahan lebih lanjut untuk mempertahankan daya
simpan ikan hingga sampai ke konsumen.
Salah satu cara tradisional yang masih populer dilakukan untuk
mempertahankan mutu ikan adalah pemindangan. Menurut Afrianto dan
Liviawaty (1989), pemindangan adalah proses pengawetan ikan dengan cara
mengukus ikan dalam lingkungan bergaram dengan tujuan untuk menghambat
aktivitas enzim. Pada prinsipnya, teknik pemindangan adalah teknik pengawetan
ikan dengan penggaraman dan perebusan yang cukup mudah dilakukan oleh
industri skala kecil sekalipun, karena tidak memerlukan alat maupun metode yang
rumit. Produk hasil pemindangan pun cukup populer di mata masyarakat karena
memiliki rasa yang spesifik. Pindang mempunyai penampakan, citarasa, tekstur
dan keawetan yang khas dan bervariasi sesuai dengan jenis ikan, kadar garam, dan
lama perebusan. Jenis-jenis ikan yang umum diolah dengan cara pemindangan
mencakup ikan laut dan ikan air tawar, yaitu ikan cakalang, tongkol, kembung,
bandeng, cucut, bawal, layang, tanjan, tawes, gurami, dan lain-lain. Pada makalah
ini dibahas mengenai proses pemindangan salah satu jenis ikan laut yang banyak
ditemukan di Indonesia, yaitu ikan cakalang.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini yaitu:
1. Mengetahui definisi dan prinsip pemindangan.

1
2. Mengetahui karakteristik ikan-ikan yang dapat dipindang
3. Mengetahui proses pemindangan ikan cakalang mulai dari alat, bahan,
hingga metode yang digunakan.

1.3 Manfaat
Manfaat yang didapat dari makalah pemindangan ini yaitu mahasiswa
dapat menambah wawasan dan pengetahuannya mengenai proses pemindangan
ikan, khususnya ikan cakalang.

BAB II
ISI

2.1. Definisi Pemindangan

2
Proses dan teknik mempertahankan kesegaran ikan yang banyak dikenal di
kalangan masyarakat secara tradisional adalah pemindangan. Teknik ini biasanya
dipergunakan bagi kebutuhan ikan segar untuk pasar lokal.
Pemindangan adalah salah satu cara pengolahan ikan segar dengan
kombinasi perlakuan antara penggaraman dan perebusan. Garam yang digunakan
berperan sebagai pengawet sekaligus memberikan cita rasa pada ikan, sedangkan
perebusan mematikan sebagian besar bakteri pada ikan terutama bakteri
pembusuk. Proses ini dimaksudkan agar produk bisa tahan lebih lama sehingga
dapat dipasarkan ke daerah yang cukup jauh, karena ketahananan produk ikan
dengan teknik pemindangan ini mencapai 3-4 hari, dan lebih dari masa itu ikan
akan mengalami proses pembusukan. Proses ini banyak dilakukan oleh
masyarakat dengan skala usaha rumah tangga kecil sampai dengan sedang yang
melibatkan tenaga kerja diluar rumah tangga dengan teknologi yang sederhana,
tetapi proses ini juga tetap memiliki nilai tambah yang akan dinikmati oleh
masyarakat.

Gambar 1. Produk Ikan Pindang

2.2. Prinsip Pemindangan


Pada dasarnya pemindangan ikan merupakan upaya pengawetan sekaligus
pengolahan ikan yang menggunakan teknik penggaraman dan pengasapan.
Pengolahan tersebut dilakukan dengan merebus atau dengan memanaskan ikan
dalam suasana bergaram dalam waktu tertentu di dalam suatu wadah. Wadah ini

3
digunakan sebagai tempat ikan selama perebusan atau pemanasan dan sekaligus
digunakan sebagai kemasan selama transportasi dan pemasaran.
Garam yang digunakan berperan sebagai pengawet sekaligus memperbaiki
cita rasa ikan, sedangkan pemanasan mematikan sebagian besar bakteri pada ikan,
terutama pada bakteri pembusuk dan pathogen. Selain itu pemanasan dengan
kadar garam tinggi menyebabkan tektur daging ikan berubah menjadi lebih
kompak..Ikan pindang pun menjadi lezat dan lebih awet ketimbang masih segar.

2.3. Jenis-Jenis Pemindangan


Pemindangan dapat dikelompokkan bedasarkan proses, wadah yang
digunakan, jenis ikan, perlakuan atau bumbu yang di tambahkan, dan daerah asal
(Adawyah 2007). Pembagian jenis ikan pindang dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Jenis-Jenis Ikan Pindang di Indonesia

Dasar
Nama dalam Perdagangan
Pengelompokan

Pindang cue (perebusan di dalam air garam), pindang


garam (pemanasan dengan garam dan sedikit air), pindang
Proses
presto (pemindangan dengan tekanan tinggi, pindang duri
lunak).

Pindang naya (pindang cue dengan wadah naya), pindang


besak (pindang cue dengan wadah besak), pindang badeng
Wadah (pindang garam dalam wadah badeng), pindang paso
(pindang garam dalam paso), pindang kendil (pindang
garam dalam kendil)

Pindang bandeng, pindang tongkol, pindang layang,


Jenis Ikan pindang cakalang, pindang tawes, pindang gurami dan
sebagainya.

Pindang bumbu (memakai bumbu tambahan, misalnya


Bumbu
kunyit)

4
Pindang pekalongan, pindang kudus, pindang juwono,
Asal
pindang tuban, pindang muncar, dan sebagainya

Sumber: Adawyah, 2007

2.4. Karakteristik Ikan yang Dapat Dipindang


Ikan pindang yang baik harus memenuhi kriteria tertentu. Cara paling
mudah untuk menilai mutu ikan pindang dengan menilai mutu sensorinya. Selain
itu, pengujian secara kimia dan mikrobiologi digunakan untuk melengkapi
pengujian mutu sensori. Parameter dalam pengujian sensori ikan pindang dapat
dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Parameter dalam Pengujian Sensori Ikan Pindang

Parameter Deskripsi
Ikan utuh tidak patah, mucus tidak terluka atau lecet, bersih,
tidak terdapat benda asing, tidak ada endapan lemak, garam
Rupa dan warna
atau kotoran lain. Warna spisifik untuk tiap jenis, cemerlang,
tidak berjamur, dan tidak berlendir.
Bau spesifik ikan pindang atau seperti bau ikan rebus, gurih,
Bau
segar, tanpa bau tengik, masam, basi, atau busuk.
Gurih spesifik ikan pindang, enak tidak terlalu asin, rasa asin
Rasa
merata, dan tidak ada rasa asin.
Daging pindang kompak, padat, cukup kering dan tidak berair
Tekstur
atau tidak basah (kesat).
Sumber: Saleh, 2002

Jenis ikan yang biasa digunakan cukup beragam, mulai dari ikan kecil
hingga ikan besar dan dari ikan air tawar sampai ikan laut. Ikan air tawar yang
sering dipindang adalah nilem, tawes, gurami, mujair, sepat siam, tambakan dan
ikan mas. Untuk ikan laut, jenis yang biasa dipindang adalah ikan layang,
kembung, tongkol, bawal, cakalang, selar, kuro, banding, lemuru, petek, japu,
tembang, ekor kuning, dan hiu.

5
2.5. Pemindangan Ikan Cakalang
2.5.1 Karakteristik Ikan Cakalang
Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) atau skipjack tuna menurut
taksonominya diklasifikasikan sebagai berikut (Saanin 1984) :

Phylum :Chordata
Kelas :Pisces
Ordo :Perciformes
Sub Ordo :Scombroidea
Famili :Scombroidae
Sub Famili :Thunninae
Genus :Katsuwonus
Species :Katsuwonus
pelamis
Gambar 2. Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis)

Ikan cakalang memiliki tubuh yang membulat atau memanjang dan garis
lateral. Ciri khas dari ikan cakalang memiliki 4-6 garis berwarna hitam yang
memanjang di samping bagian tubuh. Ikan cakalang pada umumnya mempunyai
berat sekitar 0,5 – 11,5 kg serta panjang sekitar 30-80 cm. Ikan cakalang
mempunyai ciri-ciri khusus yaitu tubuhnya mempunyai bentuk menyerupai
torpedo (fusiform), bulat dan memanjang, serta mempunyai gill rakers (tapis
insang) sekitar 53-63 buah. Ikan cakalang memiliki dua sirip. Karakteristik ikan
cakalang berdasarkan komposisi kimianya adalah sebagai berikut:

Tabel 3. Komposisi Kimia dalam 100 gram Ikan Cakalang

Komponen Komposisi Kimia (%)

Air 69,9 ± 0,71

Protein 26,0 ± 0,28

Lemak 22,0 ± 0,07

6
Karbohidrat 40,7 ± 0,42

Abu 91,4 ± 0,07

Sumber : Departement of Health, Education and Walfare (1972)

2.5.2. Metode Pemindangan Ikan Cakalang


Berdasarkan prosesnya, kebanyakan pemindangan cakalang dilakukan
dengan pemindangan garam. Pemindangan garam adalah proses pemindangan
dimana ikan dan garam disusun dalam wadah kedap air dan ditambahkan sedikit
air kemudian dipanaskan bersama-sama. Perubahan berlangsung agak lama
sampai beberapa jam. Cairan perebus kemudian dibuang melalui lubang kecil di
bagian bawah wadah. Selanjutnya permukaan lapisan ikan paling atas ditutup
dengan kertas dan di atas permukaan kertas ini disebarkan merata selapis garam.
Kemudian pemasakan dilanjutkan lagi untuk menguapkan sisa air di sekitar ikan
dan dasar wadah. Setelah selesai proses pemasakan kemudian wadah diberi
penutup, diikat dan siap dipasarkan. Wadah perebus yang digunakan biasanya
terbuat dari tanah (paso), logam (badeng), anyaman kayu (besak), dan lain-lain.

Gambar 3. Pindang Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis)

2.5.3 Alat dan Bahan Pemindangan

Jenis-jenis alat dan bahan yang digunakan untu pemindangan cakalang


adalah:
1. Ikan Segar

7
Penggunakan ikan segar dilakukan agar mendapatkan hasil dengan mutu
yang baik dan harga jual yang tinggi.
2. Garam
Garam berfungsi dalam pemindangan adalah sebagai pengawet dan
pemberi rasa pada ikan yang dipindang.
3. Air
Air untuk pengolahan ikan pindang yang digunakan adalah air bersih. Air
digunakan untuk pencucian ikan dan perebusan saat memasak ikan pindang.
4. Badeng
Badeng adalah wadah yang digunakan dalam proses pemindangan. Badeng
ini digunakan dari awal proses pemasakan, sampai proses pemasaran.
5. Kayu Bakar
Penggunaan kayu bakar pada ikan pindang akan memberikan rasa yang
khs dibandingkan memasak menggunakan kompor.

2.5.4 Prosedur Pemindangan

a. Pemilihan dan Pencucian ikan


Ikan yang akan diproses sebagai bahan baku pindang sebaiknya
dikelompokan terlebih dahulu menurut ukuran dan kesegaran ikan. Setelah itu
ikan dicuci bersih untuk menghilangkan lendirnya. Pada ikan yang berukuran
besar (lebih dari 1 kilogram) pencucian sekaligus dilakukan penyiangan dengan
membuang isi perut, pembuangan isi perut dilakukan dengan cara menariknya dari
lubang operkulum agar perut ikan tidak rusak sedangkan pada ikan kecil hanya
dilakukan pencucian saja pada tubuh ikan. Bagian dalam perut ikan dibersihkan
dengan air mengalir dengan cara menggosok-gosok perlahan dengan jari tangan
sampai semua lender dan darah terbuang. Dalam melakukan proses ini harus hati-
hati agar daging ikan tidak sampai rusak dan hancur.
b. Penyiapan Wadah

8
Wadah yang digunakan untuk membuat ikan pindang adalah badeng yang
terbuat dari almunium atau besi/seng. Sebelum digunakan wadah badeng dicuci
supaya tidak ada kotoran yang menempel dibagian dalam wadahnya, setelah
wadah dicuci dibagian dasar wadah diletakkan palang bambu dan anyaman bambu
yang berguna untuk memberi ruang air saat perebusan.
c. Penyusunan dan Penggaraman
Ikan yang telah dibersihkan disusun di dalam wadah badeng secara
berlapis-lapis dengan cara tubuh ikan disimpan secara vertikal jadi perut ikan
membawahi punggung ikan yang ada dibawahnya, sedangkan kepala ikan
menghadap ekor ikan lainnya, setiap lapisan ditaburi garam sampai lapisan ikan
paling atas. Garam yang digunakan sebanyak 1/5 dari berat ikan. Setelah
penyusunan dan penggaraman selesai tambahkan air bersih ke dalam wadah
sampai seluruh lapisan ikan terendam.

Gambar 4. Penyusunan Ikan di Dalam Badeng Berisi Palang Kayu

d. Perebusan
Setelah ikan disusun, digarami dan di isi air di dalam wadah selesai,
wadah badeng di tutup menggunakan kertas semen yang telah dicuci. Kemudian
di panaskan di atas tungku, dengan bahan bakar yang digunakan adalah kayu
bakar, hal ini dikarenakan pemanasan dengan menggunakan kayu bakar akan
memberikan rasa ikan pindang yang khas dibandingkan dengan menggunakan
kompor, proses perebusan berlangsung selama 6-8 jam. Lama perebusan ini

9
tergantung pada ukuran ikan yang di pindang. Tanda ikan telah masak pada proses
perebusan adalah terdapat retakan-retakan pada tubuh ikan terutama pada bagian
punggung dan kepala ikan. Selama proses perebusan dilakukan pengecekan secara
berkala untuk melihat kematangan ikan, apabila ikan sudah matang air perebusan
dibuang dengan membuka penutup lubang didinding bagian bawah wadah. Air
sisa dari perebusan ikan pindang ini biasanya oleh warga sekitar di tampung untuk
dibuat sebagai bahan pembuatan baku petis ikan.
e. Penyimpanan
Dalam proses pengemasan dan penyimpanan ikan pindang dibiarkan tetap
berada dalam wadah pemindangan yang ditutup rapat, penutupan ini harus benar-
benar di perhatikan agar mutu ikan pindang tidak menurun. Wadah ikan harus
tertutup rapat dan sebaik mungkin agar tidak terkontaminasi kotoran dari luar
karena pada saat dipasarkan ikan pindang masih tetap berada di dalam badeng.
Untuk mendapatkan daya awet yang tinggi, sebaiknya ikan pindang diletakan di
dalam ruangan yang kering dan bertemperatur lingkungan cukup rendah. Setelah
itu ikan pindang siap untuk dipasarkan.

Gambar 5. Ikan Pindang yang Siap Dipasarkan

2.6 Faktor yang Mempengaruhi Mutu Hasil Proses Pemindangan


Keberhasilan proses pemindangan, sangat dipengaruhi oleh beberapa
sebagai berikut :
a) Kesegaran ikan

10
. Semua ikan dari berbagai jenis dan berbagai tingkat kesegaran bisa
digunakan sebagai bahan baku pemindangan. Akan tetapi, ini akan sangat
berpengaruh terhadap mutu dan harga jual ikan pindang yang dihasilkan.
Penggunaan ikan dengan kesegaran rendah akan menghasilkan produk akhir yang
kurang baik (hancur), sehingga harga jual rendah. Selain itu penggunaan ikan
dengan tingkat kesegaran rendah akan menghasilkan ikan pindang yang terlalu
asin. Hal ini terjadi karena proses penetrasi garam ke dalam daging ikan yang
kurang segar berlangsung terlalu cepat.
Sebelum dimulai proses pemindangan, sebaiknya sisik, insang dan perut
ikan dibersihkan agar jumlah bakteri yang terdapat di dalam tubuh ikan
berkurang. Setelah dibersihkan, ikan dicuci dengan air bersih yang mengalir agar
semua kotoran yang melekat dapat dihilangkan. Ikan yang telah bersih dapat
segera diolah menjadi ikan pindang. Bila tidak segera diolah, ikan harus ditaburi
es batu agar tetap segar.

b) Garam
Kualitas garam yang digunakan untuk proses pemindangan berpengaruh
terhadap kualitas dan daya awet ikan pindang yang dihasilkan. Mutu garam akan
mempengaruhi kecepatan penetrasi garam ke dalam tubuh ikan. Kecepatan
penetrasi garam ke dalam tubuh ikan sangat bergantung pada kadar NaCl yang
dikandung, makin tinggi kadar NaCl, semakin cepat pula penetrasi berlangsung.
Selain ditentukan oleh kadar NaCl, kecepatan penetrasi garam ke dalam
tubuh juga dipengaruhi oleh ukuran partikel (butiran) garam. Semakin kecil
butiran garam yang digunakan, semakin cepat pula penetrasi. Bila digunakan
garam berukuran besar, proses penetrasi garam ke dalam tubuh ikan menjadi
lambat sehingga sering timbul kerusakan pada tubuh ikan yang dipindang. Garam
yang baik mengandung >96 % NaCl.
c) Sanitasi dan higienitas
Konsidi peralatan dan lingkungan tempat proses pemindangan harus bersih
dan sehat agar ikan pindang yang dihasilkan bermutu baik.
d) Pengemasan dan penyimpanan

11
. Ikan pindang harus disimpan ditempat yang bersih, sejuk dan tertutup agar
kualitasnya tidak menurun selama proses penyimpanan dan pendistribusian

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

1. Pemindangan adalah salah satu cara pengolahan ikan segar dengan


kombinasi perlakuan antara penggaraman dan perebusan.
2. Pada dasarnya pemindangan ikan merupakan upaya pengawetan sekaligus
pengolahan ikan yang menggunakan teknik penggaraman dan pengasapan.
3. Parameter dalam pengujian sensori ikan pindang antara lain rupa, warna,
bau, rasa, tekstur.
4. Berdasarkan prosesnya, kebanyakan pemindangan cakalang dilakukan
dengan pemindangan garam.
5. Alat dan bahan yang digunakan untuk pemindangan cakalang antara lain
ikan cakalang segar, garam, air, badeng, dan kayu bakar.
6. Prosedur pemindangan cakalang yaitu pemilihan dan pencucian ikan,
penyiapan wadah, penyusunan dan penggaraman, perebusan, dan
penyimpanan.

12
7. Faktor yang mempengaruhi mutu hasil proses pemindangan yaitu
kesegaran ikan, garam, sanitasi dan higienitas, pengemasan dan
penyimpanan.

3.2 Saran
Pemindangan ikan selain sebagai bentuk olahan hasil perikanan,
pemindangan juga merupakan cara untuk mengawetkan ikan. Agar mendapat hasil
terbaik dalam pemindangan, sebaiknya pilihlah ikan yang masih segar agar
kualiatas dan nilai jualnya tetap tinggi. Selain itu, selama proses pemindangan,
sebaiknya diperhatikan kebersihan alat dan tempat pemindangan agar tak
terkontaminasi oleh bakteri, sehingga pindang cakalang dapat lebih tahan lama.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1990. Ikan Pindang. Tekno Pangan dan Agroindustri. Volume I, Nomor
8. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Fakultas Teknologi Pertanian,
Bogor. Hal 116-119

Anonim. 2012. Pemindangan Ikan. Seputar Perikanan


https://seputarperikanan.wordpress.com/2012/05/10/pemindangan-ikan/
(diakses pada tanggal 7 Maret 2015 pukul 10.31 WIB)

Budiman, Muhammad Syarif. 2004. Teknik Pemindangan Departemen Pendidikan


Nasional. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Dan Menengah.
Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan

Dotulong, Verly. 2010. Pengaruh Pemindangan Terhadap Konsentrasi Asam Urat


Pada Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis L). Seminar Nasional Pangan:
Universitas Sam Ratulangi, Manado.

Siswoyo, Panji Anom. 2013. Analisis Pengembangan Usaha Pemindangan Ikan


di Gebyar Cakalang, Palabuhan Ratu, Sukabumi. Skripsi. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Padjadjaran.

13