Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mencuci pakaian merupakan rutinitas yang dilakukan oleh setiap
rumah tangga, sehingga kebutuhan akan produk deterjen menjadi lahan
bisnis bagi para produsen untuk menciptakan berbagai produk deterjen. Hal
ini karena deterjen merupakan produk utama yang dibutuhkan untuk
mencuci pakaian. Saat ini, banyak deterjen muncul dengan menambahkan
variasi-variasi serta keunggulannya masing-masing.
Kondisi di industri produk deterjen kini terlihat sanngat bersaing
dengan gencar melakukan inovasi produk, promosi iklan bahkan sampai
brand yang mencirikan produk seperti “berani kotor itu baik” dan
memunculkan inovasi deterjen baru yaitu deterjen cair. Beberapa produsen
juga mencoba dengan membagikan hadiah pada masyarakat yang memakai
deterjen tersebut. Dengan teknik seperti itu diharapkan konsumen
berkeinginan memperoleh hadiah dengan memakai produk deterjen tersebut
terus menerus. Beberapa deterjen lain juga menawarkan hadiah, baik yang
diletakkan pada kemasan maupun yang di undi melalui kupon berhadiah.
Perubahan pola pemasaran tersebut dapat berakibat pada perubahan
perilaku konsumen. Merebaknya produk deterjen yang sama tetapi berbeda
merek membuat konsumen untuk mencoba produk sampai ditemukan
produk yang sesuia dengan keinginannya. Pergantian produk produk
deterjen merupakan realitas yang ada di masyarakat. Dalam hal ini sehingga
produsen berusaha menciptakan kesan di benak konsumen bahwa
produknya lah yang terbaik.
Berdasarkan uraian di atas memperlihatkan bahwa ketatnya
persaingan industri deterjen saat ini, mulai dari persaingan atribut-atribut
utama produk, harga, varians produk hingga hadiah-hadiah untuk
mengambil hati konsumen. Hal ini yang meletarbelakagi dilakukan
penelitian mengenai analisis produk deterjen. Analisis yang dilakukan
adalah melihat posisi (positioning) dari merek deterjen yang diambil yaitu

1
Daia., oleh karena itu dilakukan positioning. Selain itu analisis yang
digunakan adalah menganalisis kepuasan merek produk deterjen daia,
sehingga dapat mengetahui atribut apakah yang paling berperan dan dapat
menonjol bagi konsumen mengenai produk deterjen tersebut.
Salahsatu merek deterjen tersebut selayaknya menjadi obyek pilihan
konsumen pengguna deterjen, karena masing-masing produk memiliki ciri
atau karakteristik tertentu sehingga konsumen cenderung lebih selektif
dalam memilih dan menggunakan sesuai kebutuhan. Pentingnya mengetahui
posisi produk menurut konsumen maka pengambilan obyek penelitian
diambil konsumen pengguna deterjen dari masyarakat Kp. Bojong reungas
Rt.03 Rw.06 Desa Majasetra sebagai wilayah penelitian.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah pada penelitian ini
adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana karakteristik konsumen dan perilaku konsumen pengguna
deterjen Daia?
2. Bagaimana positioning atribut – atribut produk deterjen Daia?
3. Bagaimana tingkat kepuasan konsumen terhadap produk deterjen pada
merek Daia?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui karakteristik konsumen dan perilaku konsumen pengguna
deterjen Daia
2. Menganalisis positioning pada atribut – atribut produk deterjen Daia
3. Mengukur tingkat kepuasan konsumen terhadap produk deterjen pada
merek Daia.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dari riset ini adalah sebagai informasi
mengenai penentuan posisi produk deterjen melalui pengelolaan presepsi
konsumen yang di tinjau dari beberapa atribut produk. selain itu juga
sebagai pengembangan ilmu pengetahuan implementasi mengenai riset
pemasaran pada analisis kepuasan dan positioning. Penelitian ini juga

2
bermanfaat untuk produsen deterjen khususnya pemasar karena dapat
mengetahui perilaku konsumen dalam melakukan pembelian deterjen yang
dapat membantu menyusun program pemasaran yang lebih efektif.

1.5 Batasan Masalah


Batasan masalah pada riset pemasaran ini yaitu tentang produk deterjen
Daia Target populasinya adalah Kp. Bojong reungas Rt.03 Rw.06 Desa
Majasetra dimana langsung melakukan survei pada warga wanita di Bojong
reungas.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Manajemen Pemasaran


Definisi manajemen pemasaran yang disetujui oleh Asosiasi
Pemasaran Amerika (Kotler, 2001) sebagai berikut, “…Manajemen
pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran,
penetapan harga, promosi, serta penyaluran gagasan, barang dan jasa untuk
menciptakan pertukaran yang memuaskan tujuan-tujuan individu dan
organisasi.” Definisi tersebut menjelaskan bahwa manajemen pemasaran
adalah proses yang melibatkan analisis, perencanaan, pelaksanaan, dan
pengendalian, yang mencakup barang, jasa dan gagasan dalam pertukaran
yang diiginkan dengan pasar sasaran dengan tujuan menghasilkan keputusan
bagi pihak-pihak yang terlibat.

2.2 Positioning
Positioning adalah tindakan merancang penawaran dan citra perusahaan
sehingga menempati suatu posisi kompetitif yang berarti dan berada dalam
benak pelanggan sasarannya (Kotler, 1997). Positioning merupakan elemen
yang sangat utama dalam suatu strategi pemasaran.
Sebuah perusahaan dapat menentukan posisinya melalui persepsi
pelanggan terhadap produknya dan produk pesaingnya sehingga akan
dihasilkan peta persepsi. Dengan menggunakan informasi dari peta persepsi
itu, dapat dikenali berbagai strategi penentuan posisi antara lain.
a. Positioning menurut atribut produk : usaha memposisikan diri
menurut atribut produknya.
b. Positioning menurut manfaat : produk di posisikan sebagai pemimpin
dalam suatu manfaat tertentu.
c. Positioning menurut harga/ kualitas : produk diposisikan sebagai nilai
(harga dan kualitas) terbaik.
d. Positioning menurut pengguna/ penerapan : usaha memposisikan
produk sebagai yang terbaik untuk sejumlah penggunaan/ penerapan

4
e. Positioning menurut pemakai : usaha memposisikan produk sebagai
yang terbaik untuk sejumlah kelompok pemakai.
f. Positioning menurut pesaing : produk memposisikan diri sebagai lebih
baik daripada pesaing utamanya.
g. Positioning menurut kategori produk : produk di posisikan sebagai
pemimpin dalam suatu kategori produk.
2.3 Kepuasan Pelanggan
Menurut Kotler & Amrstrong,“kepuasan pelanggan (customer
sactisfaction) yaitu tingkatan dimana kinerja anggapan produk sesuaidengan
ekspektasi pembeli”. Sedangkan menurut Fandy Tjiptono, dkk“Kepuasan
pelanggan merupakan konsep sentral dalam wacana bisnisdan
manajemen”(2008:37). Konsekuensi kepuasan dan ketidakpuasanpelanggan
sangat krusial bagi kalangan bisnis, pemerintah dankonsumen. Bagi bisnis
kepuasan dipandang sebagai salah satu dimensikinerja pasar. Peningkatan
kepuasan pelanggan berpotensi mengarahpada pertumbuhan penjualan jangka
panjang dan jangka pendek, sertapangsa pasar sebagai hasil pembelian
ulang.Bagi pemerintah, konsep kepuasan/ketidakpuasan pelanggan
dapatmembantu mereka dalam mengidentifikasi dan mengisolasi produk
danindustri yang membutuhkan tindakan pemerintah dalam
rangkameningkatkan kesejahteraan konsumen. Bagi konsumen,
konsepkepuasan pelanggan bermanfaat dalam memberikan informasi
lebihlanjut tentang seberapa puas atau tidak konsumen lain terhadap
produkatau jasa tertentu.menurut Kotler (1997),” kepuasan merupakan
tingkatperasaan di mana seseorang menyatakan hasil perbandingan atas
kinerjaproduk/jasa yang diterima dan yang diharapkan”.
2.3.1 Faktor Pendorong Terhadap Kepuasan Pelanggan
Faktor-faktor pendorong kepuasan kepada pelanggan dalam
Handi Irawan (2007:37) adalah sebagai berikut.
a. Kualitas Produk
Pelanggan akan merasa puas setelah membeli dan menggunakan
produk tersebut yang memiliki kualitas produk baik.
b. Harga

5
Biasanya harga murah adalah kepuasan yang penting. Akan
tetapi biasanya faktor harga bukan menjadi jaminan suatu
produk memiliki kualitas yang baik.
c. Kualitas jasa
Pelanggan merasa puas apabila mereka memperoleh jasa yang
baik atau sesuai dengan yang diharapkan dari pegawai mauoun
karyawan perusahaan.
d. Emotional factor
Kepuasan bukan karena kualitas produk, tetapi harga diri atau
nilai sosial yang menjadikan pelanggan puas terhadap merek
produk tertentu.
e. Biaya atau kemudahan untuk mendapatkan produk atau jasa
Kenyamanan dan efisien dalam mendapatkan suatu produk atau
jasa serta mudah mendapatkan jasa produk memberikan nilai
tersendiri bagi kepuasan pelanggan.
2.3.2 Pengukuran Kepuasan Pelanggan
Menurut Kotler (1996) ada empat metode untuk mengukur
kepuasanpelanggan antara lain:
a. Sistem keseluruhan dan saran.
Perusahaan yang berorientasi kepada pelanggan akan selalu
memberikan kesempatan kepada para pelanggan
untukmenyampaikan saran, pendapat dan keluhan. Informasi
yangdiperoleh dari pelanggan ini dapat dijadikan sebagai masukan
bagiperusahaan, sehingga perusahaan dapat bereaksi dengan cepat
dantanggap.
b. Ghost Shopping
Salah satu cara unik yang dilakukan oleh perusahaan
untukmengetahui kepuasan pelanggan dengan memperkerjakan
beberapaorang untuk berperan atau bersikap sbagai pelanggan atau
pembelipotensial produk perusahaan dan pesaing, kemudian
merekamelaporkan kepada perusahaan tentang kekuatan dan
kelemahan parapesaing.

6
c. Analysis Lost Customer
Perusahaan menghubungi para pelanggan yang telah terhenti
dan parapemasok yang dulu pernah diajak kerja sama untuk
mengetahui darimereka kenapa mereka berhenti atau pindah
perusahaan, dan evaluasisemacam itu bagi perusahaan dapat
dijadikan sebagai masukan danperbaikan.
d. Survey Kepuasan pelanggan
Survey secara langsung pada konsumen diharapkan
dapatmemberikan tanggapan dan umpan balik yang positif
bagiperusahaan, karena dengan survey secara langsung ini bagi
pelangganakan memberikan nilai tersendiri bahwasanya
perusahaan senantiasamemperhatikan kepentingan dari
mereka.Metode survey kepuasan pelanggan dapat menggunakan
beberapa.
cara pengukuran antara lain:
1. Pengukuran dapat dilakukan secara langsung
denganpertanyaan.
2. Responden juga dapat diberi pertanyaan mengenai seberapa
besar mereka mengharapkan suatu atribut tertentu dan
seberapabesar yang mereka rasakan.
3. Responden diminta untuk menuliskan masalah-masalah
yangmereka miliki dengan penawaran dari perusahaan dan
untukmenuliskan perbaikan-perbaikan yang mereka sarankan.
4. Responden diminta untuk merangking berbagai elemen
daripenawaran berdasarkan derajat pentingnya setiap elemen
danseberapa baik kinerja perusahaan dalam masing-masing
elemen.
Dalam hal ini penelitian menggunakan metode pengukuran
dilakukan langsung dengan pertanyaan dalam bentuk
angket,sehingga responden tinggal menjawab pertanyaan yang
sudah disediakan oleh peneliti. Cara ini lebih efektif karena peneliti
dapat membuat pertanyaan yang hanya dibutuhkan untuk

7
mendapatkan data-data yang akan dijadikan objek penelitian.
Sehingga pertanyaan dan hasil yang didapat lebih spesifik dengan
apa yangpeneliti butuhkan.
2.4 Analisis Deskriptif
Statistika deskriptif merupakan metode yang digunakan untuk
mengorganisasi, menampilkan dan menggambarkan data melalui tabel,
grafik dan ringkasan ukuran,
2.4.1 Diagram Batang
Diagram batang (histogram) adalah gambaran mengenai
suatu distribusi frekuensi, dimana untuk setiap kelas dinyatakan
dalam skala horizontal (datar) dan frekuensinya dalam skala vertikal
(tegak); atau sebaliknya. Penyajian dalam bentuk gambar berupa
grafik atau diagram dapat lebih menjelaskan persoalan lebih mudah
secara visual. Data berbentuk kategori atau atribut sangat tepat
disajikan dengan diagram batang. Jika diagram dibuat tegak, maka
sumbu datar dipakai untuk menyatakan atribut.
25. Deterjen
Deterjen adalah campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk membantu
pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Dibanding
dengan sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya
cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air. Detergen
merupakan garam Natrium dari asam sulfonat (Ratna dkk,2010).

8
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Sumber Data
Sumber data untuk penelitian ini merupakan data primer dan data
sekunder. Data Primer yang digunakan adalah data dasar masing-masing
Warga, Data sekunder tersebut digunakan untuk menghitung jumlah
sampel dari proporsi masing-masing jumlah penduduk perempuan
ditingkat rt.
Populasi penelitian ini adalah penduduk wanita di Bojong reungas
Perincian jumlah penduduk masing-masing Bojong reungas.
Tabel 3.1 Jumlah penduduk wanita di masing masing rt di bojong reungas
Bojong reungas Wanita
Rt.01 100
Rt. 02 95
Rt.03 107
Jumlah 302
Adapun data primer yang digunakan diperoleh dengan melakukan
survei melalui wawancara pada warga perempuan dengan menggunakan
kuesioner. Survey dilakukan dua tahap yaitu survei pendahuluan dan
survei akhir yang dilakukan pada bulan Maret 2019 sampai April 2019

3.2 Metode Pengambilan Sampel


Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini
menggunakan kuesioner dengan jumlah populasi penduduk wanita di
Bojong reungas yang telah diketahui.
3.3 Metode Analisis
Langkah awal sebelum dilakukan analisis dalam menjawab
permasalah yang ada, data hasil survei dilakukan uji validitas dan uji
realibilitas. Uji validitas menunjukkan sejauh mana skor atau nilai atau
ukuran yang diperoleh benar-benar menyatakan hasil pengukuran atau
pengamatan yang ingin di ukur. Semakin tinggi suatu validitas variabel,
maka uji itu akan semakin valid.

9
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh
dari hasil survey pada warga perempuan di Bojong reungas sebagai pengguna
produk deterjen Daia. Analisis dilakukan dengan analisis Biplot untuk positioning
produk dan Analisis GAP kepuasan produk deterjen. Sebelum melakukan analisis
biplot dan GAP maka dilakukan uji validitas dan reliabilitas.
Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan diketahui bahwa
masing-masing atribut untuk dimensi kepentingan kepuasan dan atribut
positioning produk telah valid dan reliabel. uji reliabitas diketahui nilai alpha
Cronbach’s yang dihasilkan untuk masing-masing atribut lebih dari 0,7 sehingga
alat ukur atau kuisioner yang digunakan pada penelitian ini reliabel. Karena
instrumen sudah valid dan reliabel, maka analisis dapat dilakukan. Berikut akan
diuraikan hasil analisis pada penelitian Identifikasi Pengguna Produk Deterjen
Daia.

4.1 Karakteristik Pengguna Produk Deterjen Daia Bojong reungas


Pada karakteristik responden ini akan digambarkan menggunakan
diagram batang. Adapun variabel yang digambarkan adalah variabel
demografi dan variabel perilaku pengguna produk deterjen.
4.1.1 Karakteristik Responden yang Menggunakan Produk Deterjen
Daia
Karakteristik responden yang menggunakan produk deterjen
Daia berjumlah sebanyak 48 responden dapat terdefinisi mengenai
variabel demografi berdasarkan usia responden sebagai berikut.

10
33%
Ibu Rumah
Tangga
67%
Anak

Gambar 4.1 Status dalam Keluarga


Berdasarkan Gambar 4.1diatas dapat dilihat bahwa mayoritas dari
responden adalah ibu rumah tangga yaitu 67% atau 32 responden.
Sedangkan untuk anak 33% atau 16 responden.
Tabel 4.1 Statistika Deskriptif Usia Responden Pengguna Produk Deterjen Daia

Variabel Min Max


Usia(th) 19 45

Berdasarkan Tabel 4.1 diketahui bahwa responden terdiri dari


berbagai macam usia dari remaja sampai orang tua. Dari 48 responden
yang disurvei diketahui bahwa pengguna produk deterjen daia berusia
minimum 19 tahun dan usia maksimum 45 tahun.

Tidak Sekolah SD SLTP SLTA Perguruan Tinggi

33

7
3 4
1

Gambar 4.2 Pendidikan Terakhir

Berdasarkan Gambar 4.2 diatas dapat diketahui bahwa mayoritas


dari responden adalah dengan pendidikan tarakhir SLTA yaitu sebanyak
33 responden, dan yang paling sedikit tidak sekolah dengan 1 responden.
Sedangkan untuk pendidikan terakhir SD sebanyak 3 responden dan

11
pendidikan terakhir SLTP sebanyak 4 responden. Sementara itu responden
dengan pendidikan terakhir perguruan tinggi sebanyak 7 responden.
Tabel 4.2 Statistika Deskriptif Pengeluaran Perbulan dari Responden

Variabel Mean Min Max


Pengeluaran (Rp) 1.076.190 150.000 2.000.000
Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa dari 48 responden
yang disurvei, pengeluaran perbulan dari responden rata-rata Rp
1.076.190. Sedangkan mayoritas pengeluaran perbulan dari responden
adalah Rp 2.000.000 dan yang paling sedikit yaitu Rp 150.000.
Perkembangan dunia perdagangan kini juga telah mempengaruhi
perilaku pembelian konsumen. Ketersediaannya produk deterjen di pasar
tradisional maupun modern sudah hampir merata dan banyak ditemui oleh
konsumen. Berdasarkan Gambar 4.2 akan menggambarkan perilaku
konsumen dalam memilih tempat membeli deterjen.

toko kelontong supermarket/minimarket


pasar tradisional lainnya

31

16

2 1

Gambar 4.3 Tempat pembelian produk deterjen


Berdasarkan Gambar 4.3 dapat diketahui bahwa sebagian besar
responden membeli produk deterjen di supermarket/minimarket, yakni
sebanyak 31 orang, Jumlah responden yang membeli di supermarket
tersebut lebih tinggi daripada membeli deterjen di toko kelontong, yakni
sebanyak 16 orang, di pasar tradisional sebanyak 2 orang dan membeli di
tempat lainnya yaitu sebanyak 1 orang. Sehingga produsen dapat
menggunakan supermarket sebagai tempat distribusi penjualan yang
sangat baik.

12
Selain itu, para produsen berusaha menyampaikan keunggulan
produknya yang diharapkan sesuai dengan keinginan konsumen dan yang
mudah di dijumpai oleh konsumen. Hal ini dapat dilihat dari sumber
informasi yang diperoleh konsumen mengenai produk deterjen.

Media elektronik media cetak baleho lainnya

2% 4%
0%

94%

Gambar 4.4 Sumber Informasi produk Deterjen


Berdasarkan Gambar 4.4 dapat diketahui bahwa responden
mengetahui informasi tentang produk deterjen sebagian besar melalui
media elektronik yakni sebesar 94%, sedangkan untuk informasi melalui
media cetak tidak ada yang mengetahui. Untuk informasi melalui baleho
hanya 2% serta mengetahui produk deterjen dari mungkin teman, tetangga
dan lainnya sebesar 4%. Perbedaan atau selisih dengan jumlah responden
yang mendapatkan informasi dari media cetak sangat besar, hal ini dapat
dilihat dari tidak adanya responden yang mengetahui informasi berasal dari
media cetak, sehingga pengaruh dari media cetak dapat dikurangi untuk
melakukan promosi iklan karena jumlahnya relative kecil. Hal tersebut
dapat di maksimalkan terhadap media elektronik seperti Televisi melihat
dari mayoritas responden yang mengetahui sumber informasi dari media
elektronik.

13
harga varians produk coba-coba
kualitas lainnya
19
15
5 7
2

Gambar 4.5 Faktor yang Mempengaruhi untuk Berganti Merek Deterjen


Berdasarakn Gambar 4.5 dapat diketahui bahwa faktor yang
mempengaruhi responden berganti produk deterjen sebagian besar disebabkan
karena factor dari kualitas deterjen, yakni sebanyak 19 responden. Alasan berganti
merek karena melihat dari faktor dari harga, yakni sebanyak 15 orang. Dan
karena variasi produk sebanyak 6 orang, karena ingin mencoba-coba berbagai
merek deterjen sebanyak 8 orang, serta karena disebabkan factor lain sebanyak 2
orang. Sehingga dapat di simpulkan bahwa pengguna produk deterjen sebagian
besar cenderung berganti ganti merek deterjen tertentu karena berdasarkan
kualitas dari deterjen tersebut.

23

6
3 4
2

satu dua tiga empat lebih


dari
empat
kali

Gambar 4.6 Frekuensi pembelian deterjen selama 1 bulan


Berdasarakan Gambar 4.6 dapat diketahui bahwa sebagian besar
responden membeli deterjen satu kali dalam sebulan sebanyak 24 orang,
2 kali dalam sebulan sebanyak 3 orang, 3 kali sebulan sebanyak 4 orang
dan membeli deterjen 4 kali perbulan sebanyak 6 orang serta membeli
lebih dari 4 kali sebanyak 2 orang. Jadi dapat di simpulkan bahwa

14
sebagian besar pola konsumsi pembelian deterjen pada responden bojong
reungas hanya perbulan sekali.

13% 8% 30-50 gram


12%
51-100 gram
500 gram
19% 1 kg
48%
> 1kg

Gambar 4.7 Ukuran deterjen yang biasa dibeli


Berdasarkan Gambat 4.7 dapat diketahui bahwa sebagian besar
responden lebih sering membeli deterjen berukuran 1 kg, dengan
prosentase paling besar yaitu 48% yakni sebanyak 23 orang. Prosentase
13% membeli deterjen berukuran >1 kg sebanyak 6 orang, dengan ukuran
500 gram sebesar 19% yakni 8 orang, dengan ukuran 51-100 gram sebesar
12% yakni 6 orang serta membeli dengan ukuran paling kecil dengan
presentase 8% yaitu ukuran 30-50 gram sebanyak 4 orang. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa responden bojong reungas sebagian besar lebih sering
membeli deterjen yang berukuran 1 kg.
4.1.2 Karakteristik Urutan Prioritas Konsumen dalam Memilih Produk
Deterjen
Analisis trustone case V yang digunakan adalah sebanyak 8 atribut
sebagai alat ukur. Hal tersebut mendeskripsikan urutan preferensi
pertimbangan responden dalam membeli dan menggunakan produk
deterjen. Hasil dari analisis thurstone case V adalah sebagai berikut.
Tabel 4.3 Urutan Prirotas Pemilihan Deterjen
No Atribut Urutan
1 Manfaat 3
2 Harga 1
3 Kualitas 2
4 Higienis 4
5 Isi 5
6 Kemasan 6
7 Iklan 8
8 Kemudahan 7

15
Berdasarkan Tabel 4.3 menunjukkan bahwa yang menjadi prioritas utama
responden dalam memilih dan menggunakan produk deterjen adalah harga. Dua
selanjutnya adalah kualitas produk deterjen dan manfaatnya. Pilihan yang berada
pada urutan ke empat adalah mengenai tingkat kehigienisan produk deterjen.
Pilihan berat (isi) berada pada urutan ke lima yaitu urutan yang sedang-sedang
saja, sehingga dipertimbangkan namun tidak begitu membebani. Kemudahan
memperoleh produk merupakan prioritas ke tujuh sebagai atribut yang
dipertimbangkan oleh konsumen. Dan prioritas yang terakhir, yang dianggap
paling kecil dalam mempengaruhi konsumen dalam memilih produk deterjen
adalah iklan. Hal ini yang perlu mendapat evaluasi lebih lanjut dari produsen
deterjen sebab iklan tidak terlalu berpengaruhi menurut konsumen.

4.3 Analisis Kepuasan pada Produk Deterjen Daia


Pada analisis ini terdapat satu deterjen yang digunakan untuk
mengukur kepuasan konsumen pada masing-masing merek deterjen yaitu
Daia berdasarkan variabel-variabel yang digunakan. Berikut merupakan
hasil dari analisis GAP untuk kepuasan konsumen deterjen Daia

Deterjen DAIA
3.785
4.7
Harga
4.6
Kelembutan di tangan Keharuman / wangi
Daya membersihkan
4.5
Isi (berat / netto)
Kemudahan memperoleh produk
4.4
Kepentingan

4.3
4.246
Varians produk
4.2

4.1

4.0 Kemasan

Pemberian hadiah
3.9
Banyaknya busa Promosi produk melalui Iklan
3.8
3.4 3.5 3.6 3.7 3.8 3.9 4.0 4.1
Kepuasan

Analisis GAP Kepuasan Konsumen Produk Deterjen Daia


Berdasarkan Gambar 4.11 dapat diketahui bahwa pada kuadran I
menunjukkan adanya kepentingan yang tinggi mengenai kelembutan produk di
tangan , tingkat keharuman dan daya bersih. Tetapi kepuasan yang diperoleh
konsumen masih rendah. Sehingga produsen deterjen Daia perlu meningkatkan

16
mengenai efek kelembutan produk, daya bersih dan kerahuman deterjen yang
diharapkan oleh konsumen sehingga konsumen merasa puas.
Pada kuadran II menunjukkan bahwa adanya kepentingan yang tinggi
mengenai harga, berat produk dan kemudahan memperoleh produk yang memiliki
tingkat kepuasan yang diterima oleh konsumen juga tinggi. Sehingga produsen
dalam hal ini perlu mempertahankan atribut tersebut.
Pada kuadran III menunjukkan bahwa produsen Daia perlu
mempertimbangkan lagi mengenai banyaknya busa dan variasi produk karena hal
tersebut merupakan unsur yang memiliki kepentingan rendah bagi konsumen dan
kepuasan yang diterima juga rendah oleh konsumen.
Sedangkan untuk kuadran IV merupakan atribut yang dianggap kurang
penting menurut konsumen tetapi dalam kenyatannya konsumen sudah merasa
puas, atribut tersebut yaitu pemberian hadiah, kemasan dan promosi iklan.
Sehingga hal tersebut menggambarkan bahwa kinerja untuk memberikan hadiah
dan melakukan promosi iklan serta melakukan perbaikan kemasan tidak terlalu
penting.

17
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis di Bab IV, maka kesimpulan yang dapat diperoleh
mengenai analisis produk deterjen di warga Bojong reungas adalah sebagai
berikut.
1. Karakteristik demografi untuk responden yang menggunakan produk
deterjen Daia mayoritas adalah ibu rumah tangga dengan 32 responden,
dengan usia maksimum 45 tahun dan minimum 19 tahun. Sedangkan
pendidikan trtakhir paling banyak yaitu SLTA dengan 33 responden dan
yang paling sedikit yaitu tidak sekolah dengan 1 responden. Sementara
itu pengeluaran perbulan responden paling banyak yaitu Rp 2.000.000
dan yang paling sedikit yaitu Rp 150.000.
.Pada responden yang menggunakan produk deterjen mayoritas
melakukan pembelian deterjen di supermarket atau minimarket sebanyak
31 responden dengan frekuensi pembelian mayoritas selama sebulan
sekali dan membeli yang ukuran produk deterjen 1kg. Dimana sumber
informasi yang didapatkan mengenai produk deterjen sebagian besar
berasal dari media elektronik yaitu sebanyak 43 responden dan
responden mengatakan bahwa sebagian besar alasan untuk berganti-
ganti merek pemakaian deterjen adalah kualitas deterjennya.
Karakteristik prioritas responden dalam memilih produk deterjen
pertama kali adalah dari harganya, kedua kualitas, kemudian dari segi
manfaat, tingkat kehigienisan, berat, kemasan, kemudahan mendapatkan
produk dan yang terakhir adalah factor iklan. oleh karena itu produsen
produk detrejen perlu memperhatikan harga yang ekonomis dan
mengurangi kegiatan promosi yang berlebihan.
2. Pada analisis GAP diperoleh kesimpulan bahwa produk Daia sebagian
besar memiliki tingkat kepuasan yang tinggi mengenai daya kebersihan
dan kemudahan mendapatkan produk, sehingga perlu dipertahankan
pada atribut tersebut dan memiliki tingkat kepuasan yang rendah akan
tetapi kepentingan tinggi menurut konsumen yaitu kelembutan di

18
tangan, keharuman dan harga. Tetapi konsumen mendapatkan kepuasan
yang tinggi mengenai harga dari produk Daia.

5.2 Saran
Berdasarkan analisis penelitian yang telah dilakukan, saran yang dapat
diberikan adalah sebagai berikut.
1. Berdasarkan faktor pembeli, konsumen pengguna deterjen lebih memilih
faktor harga sebagai prioritas utama dalam hal menggunakan deterjen.
Dan yang kedua adalah faktor dari kualitas deterjennya. Oleh karena itu,
sebaiknya produsen memberikan harga yang ekonomis tetapi kualitas
dari deterjen yang baik sehingga konsumen akan merasa tertarik untuk
membeli produknya.
2. Produsen produk deterjen harus mempertahankan keunggulan
produknya dan meningkatkan segi atribut yang di unggulkan oleh merek
produk lain. produk Daia harus mempertahankan keekonomisan harga.
Produsen deterjen-deterjen tersebut juga harus meningkatkan atribut-
atribut yang di unggulkan produk lain yang belum dimiliki sendiri.
3. Produsen harus memperbaiki atribut-atribut yang di nilai kurang oleh
konsumennya, seperti halnya produk Daia harus memperbaiki mutu
atribut kehalusan di tangan, keharuman dan harga yang lebih ekonomis.
Konsumen produk Daia adalah konsumen yang memperhatikan daya
kebersihan dan menurut konsumen, kualitas Daia dalam hal
membersihkan sudah baik, antara kepentingan tinggi dan kepuasan yang
diperoleh juga tinggi. Pada konsumen Daia, harus memperhatikan dan
memperbaiki tingkat daya bersih, keharuman dan kelembutan ditangan.
Karena hal tersebut di nilai masih kurang puas bagi konsumen. Namun
produsen Daia tetap mempertahankan keekonomisan harga sebagai
atribut yang di nilai paling memuaskan bagi konsumen.

19