Anda di halaman 1dari 10

PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG

Gangguan skizoafektif adalah gangguan jiwa yang mempunyai gambaran baik


skizofrenia maupun gangguan afektif. Penyebab gangguan skizoafektif hingga sekarang
tidak diketahui meskipun beberapa data riset menunjukkan bahwa skizoafektif terkait dengan
faktor genetis. Gejala klinis yang timbul pada gangguan skizoafektif berupa gejala skizofrenik
maupun gejala mood yang menojol dalam episode penyakit yang sama, baik secara simultan
atau secara bergantian dalam beberapa hari (Craddock.2009).

Gejala yang khas pada pasien skizofrenik berupa waham, halusinasi, perubahan dalam
berpikir, perubahan dalam persepsi. Bila gejala skizofrenik dan gangguan perasaan manik
menonjol pada episode penyakit yang sama, gangguan disebut gangguan skizoafektif tipe
manik. Pada gangguan skizoafektif tipe depresif, gejala skizofrenik dan gangguan perasaan
depresif timbul bersamaan (Harold,2010).

Prevalensi seumur hidup gangguan skizoafektif kurang dari 1 persen yakni dalam
rentang 0,5-0,8%. Gangguan skizoaafektif lebih sering terjadi pada orang tua dibandingkan
orang muda, prevalensi gangguan tersebut dilaporkan lebih rendah pada pria dibandingkan
dengan wanita terutama yang sudah menikah. Meskipun demikian angka kesembuhan lebih
tinggi pada wanita dibandingkan pada pria (Iniesta R,2012).

Pasien yang menderita gangguan skizoafektif dilaporkan mengalami penurunan fungsi


kognitif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Studentkowski, dkk pada tahun 2010
di Euthyma, penurunan fungsi kognitif yang meliputi fungsi memori dan atensi lebih parah
terjadi pada skizoafektif dibandingkan dengan gangguan bipolar (Studentkowski G.2012)

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.DEFINISI

Gangguan Skizoafektif adalah gangguan jiwa yang mempunyai gambaran baik


skizofrenia maupun gangguan afektif.. Gejala klinisyang timbul pada gangguan skizoafektif
berupa gejala skizofrenik maupun gejala mood yang menojol dalam episode penyakit
yang sama mempunyai gambaran baik skizofrenia maupun gangguan afektif. Gangguan
skizoafektif terbagi dua yaitu, tipe manik dan tipe depresif.

B. EPIDEMIOLOGI

Prevalensi seumur hidup gangguan skizoafektif kurang dari 1%, mungkin berkisar
antara 0,5% – 0,8%. Tetapi gambaran tersebut masih merupakan perkiraan. Gangguan
skizoafektif tipe depresif mungkin lebih sering terjadi pada orang tua daripada orang muda,
prevalensi gangguan tersebut dilaporkan lebih rendah pada laki-laki dibanding perempuan,
terutama perempuan menikah. Usia awitan perempuan lebih lanjut daripada laki-laki,
seperti pada skizofrenia. Laki-laki dengan gangguan skizoafektif mungkin memperlihatkan
perilaku antisosial dan mempuinyai afek tumpul yang nyata atau tidak sesuai.

C.ETIOLOGI

Penyebab gangguan skizoafektif tidak diketahui, tetapi empat model konseptual


telah dikembangkan. Gangguan dapat berupa tipe skizofrenia atau tipe gangguan mood.
Gangguan skizoafektif mungkin merupakan tipe psikosis ketiga yang berbeda yang bukan
merupakan gangguan skizofrenia maupun gangguan mood. Keempat dan yang paling
mungkin, bahwa gangguan skizoafektif adalah kelompok heterogen gangguan yang
menetap ketiga kemungkinan pertama.

Meskipun banyak riset famili dan genetik mengenai gangguan skizoafektif didasarkan
pada alasan bahwa skizofrenia dan gangguan mood merupakan entitas terpisah,
beberapa data menunjukkan bahwa kedua gangguan tersebut terkait secara genetis.

2
D. GEJALA KLINIS

Pada gangguan Skizoafektif gejala klinis berupa gangguan episodik gejala gangguan
mood maupun gejala skizofreniknya menonjol dalam episode penyakit yang sama, baik secara
simultan atau secara bergantian dalam beberapa hari. Bila gejala skizofrenik dan manik
menonjol pada episode penyakit yang sama, gangguan disebut gangguan skizoafektif tipe
manik. Dan pada gangguan skizoafektif tipe depresif, gejala depresif yang menonjol.

Gejala yang khas pada pasien skizofrenik berupa waham, halusinasi, perubahan
dalam berpikir, perubahan dalam persepsi disertai dengan gejala gangguan suasana
perasaan baik itu manik maupun depresif.

Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih
bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas) menurut PPDGJ III:

a) - “thought echo” = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun
kualitasnya berbeda ; atau

- “thought insertion or withdrawal” = isi yang asing dan luar masuk ke


dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu
dari luar dirinya (withdrawal); dan

- “thought broadcasting”= isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum
mengetahuinya;

b) - “delusion of control” = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu

kekuatan tertentu dari luar; atau

- “delusion of passivitiy” = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah


terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang ”dirinya” = secara jelas merujuk kepergerakan
tubuh / anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus)

- “delusional perception” = pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang


bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat;

c) Halusinasi Auditorik:

3
- Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku
pasien, atau

- Mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka sendiri (diantara


berbagai suara yang berbicara), atau Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah
satu bagian tubuh.

d) Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat


dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan
agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia
biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk
asing dan dunia lain)

Atau paling sedikit dua gejala di bawah ini yang harus selalu ada secara jelas:

e.) Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh
waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan
afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas)
yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau berbulan-
bulan terus menerus;

f) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan


(interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan,
atau neologisme;

g) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh


tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor;

h) Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons
emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan
penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus
jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;

- Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan
atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal).

4
- Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan
(overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior),
bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu
sikap larut dalam diri sendiri ( self-absorbed attitude) dan penarikan diri secara sosial.

a. Gangguan skizoafektif tipe Manik

F25.0 Gangguan Skizoafektif Tipe Manik

Pedoman diagnostik

 Kategori ini digunakan baik untuk episode skizoafektif tipe manik yang tunggal
maupun untuk gangguan berulang dengan sebagian besar episode skizoafektif tipe
manic.
 Afek harus meningkat secara menonjol atau ada peningkatan afek yang tak begitu
menonjol dokombinasikan dengan iritabilitas atau kegelisahan yang memuncak
 Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu atau lebih baik lagi dua,
gejala skizofrenia yang khas (sebgaimana ditetapkan untuk skizofrenia, F20-
pedoman diagnostic (a) sampai dengan (d).

F25.1 Gangguan Skizoafektif Tipe Depresif

Pedoman diagnostik

 Kategori ini harus dipakai baik untuk episode skizoafektif tipe depresif yang
tunggal, dan untuk gangguan berulnag dimana sebagian besar episode didominasi
oleh skizoafektif tipe depresif
 Afek depresif harus menonjol, disertai oleh sedikitnya dua gejala khas, baik
depresif maupun kelainan prilaku terkait seperti tercantum dalam uraian untuk
episode depresif (F32)
 Dalam episode yang sama, sedikitnya harus jelas ada satu, dan sebaiknya ada dua,
gejala khas skizofrenia (sebagaimana ditetapkan dalam pedoman diagnostic
skizofrenia F20.

F25.2 Gangguan Skizoafektif Tipe Campuran

5
 Gangguan dengan gejala-gejla skizofrenia (F20) berada secara bersama-sama
dengan gejala gejala afektif bipolar campuran (F31.6)

E. DIAGNOSIS

Diagnosis berdasarkan pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa


(PPDGJ-III):

 Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitive adanya


skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan ,atau
dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain,dalam satu episode penyakit yang sama
,dan bilamana ,sebagai konsekuensi dari ini,episode penyakit tidak memenuhi kriteria baik
skizofrenia maupun episode manic atau depresif.
 Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia dan gangguan
afektif dalam episode penyakit yang berbeda.
 Bila seorang pasien skizofrenia menunjukan gejala depresif setelah suatu episode
psikotik, di beri kode diagnosis F20.4 (Depresi pasca skizofrenia).Beberapa pasien dapat
mengalami episode skizoafektif berulang,nbaik berjenis manic(F25.0), maupun
depresif(F25.1) , atau campuran dari keduanya (F25.2).Pasien lain mengalami satu atau dua
episode skizoafektif terselip di antara episode manik atau depresif

F. DIAGNOSIS BANDING

a. Gangguan afektif bipolar , episode kini manic dengan gejala psikotik


b. Gangguan afektif bipolar ,episode kini depresif berat dengan gejala psikotik

G. PERJALANAN GANGGUAN DAN PROGNOSIS

Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan skizoafektif mempunyai prognosis di


pertengahan antara prognosis pasien dengan skizofrenia dan prognosis pasien dengan
gangguan mood. Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan skizoafektif
memiliki prognosis yang lebih buruk daripada pasien dengan gangguan depresif

6
maupun gangguan bipolar, tetapi memiliki prognosis yang lebih baik daripada pasien
dengan skizofrenia.

Generalitas tersebut telah didukung oleh beberapa penelitian yang mengikuti


pasien selama dua sampai lima tahun setelah episode yang ditunjuk dan yang menilai fungsi
sosial dan pekerjaan, dan juga perjalanan gangguan itu sendiri.

H. TERAPI.

1. Pengobatan Psikososial

Pasien dapat terbantu dengan kombinasi terapi keluarga, latihan keterampilan


sosial, dan rehabilitasi kognitif. Oleh karena bidang psikiatri sulit memutuskan diagnosis dan
prognosis gangguan skizoafektif yang sebenarnya, ketidakpastian tersebut harus dijelaskan
kepada pasien. Kisaran gejala mungkin sangat luas, karena pasien mengalamaikeadaan
psikosis dan variasi kondisi mood yang terus berlangsung. Anggota keluarga dapat
mengalami kesulitan untuk menghadapi perubahan sifat dan kebutuhan pasien tersebut.

2. Pengobatan Farmakoterapi

Prinsip dasar yang mendasari farmakoterapi untuk gangguan skizoafektif adalah


dengan pemberian antipsikotik disertai dengan pemberian antimanik atau antidepresan.
Pemberian obat antipsikotik diberikan jika perlu dan untuk pengendalian jangka pendek.
Pasien dengan gangguan skizoafektif tipe manik dapat diberikan farmakoterapi berupa
lithium carbonate, carbamazepine (tegretol), valproate (Depakene), ataupun kombinasi
dari obat anti mania jika satu obat saja tidak efektif. Sedangkan pasien dengan
gannguan skizoafektif tipe depresif dapat diberikan antidepresan. Pemilihan obat
antidepresan memperhatikan kegagalan atau keberhasilan antidepresan sebelumnya. Inhibitor
reuptake serotonin selektif (SSRI) sering digunakan sebagai agen lini pertama, namun pasien
teragitasi atau insomnia dapat disembuhkan dengan antidepresan trisiklik. Apabila pengobatan
dengan antidepresan tidak efektif dapat dicoba dengan terapi elektrokonvulsif. Pemantauan
laboratorium terhadap konsentrasi obat dalam plasma dan tes fungsi ginjal, tiroid, dan fungsi
hematologik harus dilakukan secara berkala.

7
I. KESIMPULAN

Gangguan skizoafektif merupakan suatu gangguan jiwa yang memiliki gejala


skizofrenia dan gejala afektif yang terjadi bersamaan dan sama-sama menonjol.
Prevalensi gangguan telah dilaporkan lebih rendah pada laki-laki dibandingkan para
wanita, khususnya wanita yang menikah. Usia onset untuk wanita adalah lebih lanjut daripada
usia untuk laki-laki seperti juga pada skizofrenia.

Teori etiologi mengenai gangguan skizoafektif mencakup kausagenetik dan


lingkungan. Tanda dan gejala klinis gangguan skizoafektif adalahtermasuk semua
tanda dan gejala skizofrenia,episode manik, dan gangguan depresif. Diagnosis
gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejaladefinitif adanya skizofrenia
dan gangguan afektif bersama-sama menonjol pada saat yang bersamaan, atau dalam
beberapa hari sesudah yang lain , dalam episode yang sama. Sebagian diantara pasien
gangguan skizoafektif mengalami episode skizoafektif berulang, baik yang tipe manik,
depresif atau campuran keduanya. Terapi dilakukan dengan melibatkan keluarga,
pengembangan skill sosial dan berfokus pada rehabilitasi kognitif.

Pada farmakoterapi ,digunakan kombinasi anti psikotik dengan anti depresan bila
memenuhi kriteria diagnostik gangguan skizoafektif tipe depresif. Sedangkan apabila
gangguan skizoafektif tipe manik terapi kombinasi yang diberikan adalah antara anti
psokotik dengan mood stabilizer. Prognosis bisa diperkirakan dengan melihat seberapa
jauh menonjolnya gejala skizofrenianya, atau gejala gangguan afektifnya. Semakin
menonjol dan persisten gejala skizofrenianya maka pronosis nya buruk. Dan sebaliknya
semakin persisten gejala gangguan afektifnya, prognosis diperkirakan akan lebih baik.

Daftar Pustaka

8
1. Craddock N, Donovan MC, Owen MJ. Psychosis Genetics: Modeling the Relationship
Between Schizophrenia, Bipolar Disorder, and Mixed (or‘‘Schizoaffective’’)
Psychoses. Schizophr Bull PMC. 2009; 35:482–90.
2. Wilson JE, Nian H, Stephan H. The schizoaffective disorder diagnosis: A
conundrum in the clinical setting. Eur Arch Clin Neurosci. 2014; 264(1);1-9.
3. Harold IK, Sadock B. Sinopsis Psikiatri Ilmu Perilaku Psikiatri Klinis. Edisi ke-4.
Jakarta: Penerbit Binarupa Aksara; 2010. hlm. 759.
4. Iniesta R, Susana O, Judith U. Gender Differences in Service Use in a Sample of
People with Schizophrenia and Other Psychoses. Hindawi.2012; 1-6.
5. Daglas R, Yucel M, Allott K, Hetrick S,Berk M. Cognitive impairment in first-episode
mania: a systematic review of the evidence in the acute and remission phases of the
illness. Int J Bipolar Disorder. 2015; 3(6):2-18.
6. Studentkowski G, Scheele D, Calabrese P, Balkau F, Höffler J, Aubel T, Edel MA,
Juckel G, Assion HJ. CognItIve Impairment In Patients with Schizoaffctive
Disorder a Comparison with Bipolar Patients In Euthymia. Springer.2012;15(2):70–
8.
7. Kulkarni J, Sacha F, Lesley B, Kate F, Seetal Detal. Treatment and outcomes of
an Australian cohort of outpatients with bipolar I or schizoaffective disorder over
twenty-four months: implications fo clinical practice. BMC Psychiatric.
2012;12:228.
8. Rapoport SI, Basselin M, Kim HW, Rao JS..Bipolar Disorder and echanisms
of Gina| Tipe Mania pada Penyakit Skizoafektif J Medula Unila|Volume 4|Nomor
2|Desembe 2015|73 Action of Mood Stabilizers. Brain Res Rev.2009;61(2):185-
209.
9. Bola JR, Kao DT, Soydan H. Antipsychotic Medication for Early-Episode
Schizophrenia. Oxford Journals [internet]. 2014; 1-5 [disitasi pada 6 Mei 2015].
Tersedia
dari:http://schizophreniabulletin.oxfordjournals.org/content/early/2011/11/24/schbul.sbr1
67.
10. Zhang JP, Malhotra AK. Pharmacogenetics and Antipsychotics: Therapeutic
Efficacy and Side Effects Prediction. PMC Article.2011;7(1):9-37.

9
11. Leucht S, Corves C, Arbter D.Second-generation versus first-generation antipsychotic
drugs for schizophrenia: a meta-analysis. Lancet. 2009; 373:31–41.
12. Geddes JR andMiklowitz DJ. Treatment of bipolar disorder. PMC. 2013; 1-20.
13. Elvira S, Hadisukanto G.Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2013. hlm. 73-259.
14. Mathalon DH, Hoffman RE, Watson TD,Miller RM,Brian BJ, Ford JM.
Neurophysiological distinction between schizophrenia and schizoaffective disorder.
From Hum Neurosci. 2010;3(7):1-10.
15. Abrams DJ, Rojas DC, Arciniegas DB. Is schizoaffective disorder a distinct
Categorical diagnosis? A critical review Of the literature. PMC. 2008; (4):1089-109.
16. American Psychiatric Association. Diagnosis dan Statistical Manual of Mental
disorders (DSM V TM).Washington DC: APA; 2013.
17. Johnson SL, Edge MD, Holmes MK, Carver CS. The Behavioral
Activation System and Mania. Annu Rev Clin Psychol. 2012; 8:243-67.
18. Salvatore P, BaldessariniRJ, Khalsa MH, Vazquez G, Perez J, Faedda
GL, et al.Antecedents of Manic versus Other First Psychotic Episodes in 263 Bipolar-I
Disorder Patients. 2014; 1-20.
19. Tarbox SI, Brown LH, Haas GL. Diagnostic specificity ofpoor premorbid
adjustment: Comparison of schizophrenia, schizoaffective disorder, and mood
disorder with psychotic features. Acta Psychiatric Scand. PMC. 2012; 1-17.
20. Jakobsen CJ, Jane LH, Ole JS, Erik S,Christian, et al. The Effects of Cognitive
Therapy Versus ‘Treatment as Usual’ in Patients with Major Depressive Disorder.
2011; 6(8):1-11.
21. Amir N. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa/Psikiatri. Jakarta:
Perhimpunan Dokter Spesialis Kejiwaan Indonesia; 2012. hlm. 35-44.

10