Anda di halaman 1dari 17

A.

Skala Penskoring
1. Skala 0 – 10
Dalam penggunaan skala 10, skor aktual siswa ditransfer ke dalam 10 kelompok
nilai, yaitu: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10. Skala 10 ini dipakai di sekolah sesuai dengan
anjuran pada kurikulum 1975, bahwa seorang siswa yang sudah belajar tidak mungkin
pengetahuannya tidak bertambah, apalagi berkurang. Oleh karena itu, nilai 0 (nol)
ditiadakan. sehingga memungkinkan bagi guru untuk penilaian yang lebih halus. Dalam skala
1-10, guru jarang memberikan angka pecahan, misalnya 5,5. Angka 5,5 tersebut kemudian
dibulatkan menjadi 6. Dengan demikian maka rentangan angka 5,5 sampai dengan 6,4
(selisih hampir 1) akan keluar di rapor dalam satu wajah, yaitu angka 6.
2. Skala 0 – 100
Memang diseyogyakan bahwa angka itu merupakan bilangan bulat. Dengan
menggunakan skala 1-10 maka bilangan bulat yang ada masih menunjukkan penilaian yang
agak kasar. Untuk itulah maka dengan menggunakan skala 1-100, dimungkinkan melakukan
penilaian yang lebih halus karena terdapat 100 bilangan bulat. Nilai 5,5 dan 6,4 dalam skala
1-10 yang biasanya dibulatkan menjadi 6, dalam akala 1-100 ini boleh dituliskan dengan 55
dan 64. Nilai dengan menggunakan skala 100 disebut skor T yang bergerak pada interval 0
sampai dengan 100. Nilai dengan menggunakan skala 100 ini didasari oleh nilai z.
3. Skala Huruf (skala lima)
Skala lima disebut juga dengan skala huruf karena nilai akhir tidak dinyatakan dengan angka
(bilangan), malainkan dengan huruf A, B, C, D, dan E. Beberapa pakar evaluasi pendidikan
ada pula yang menggunakan huruf F (failure) atau huruf G (gagal) sebagai pengganti nilai E.

B. Teknik Pemberian Skor


Membuat pedoman penskoran sangat diperlukan, terutama untuk soal bentuk uraian
dalam tes domain kognitif supaya subjektivitas Anda dalam memberikan skor dapat
diperkecil. Pedoman menyusun skor juga akan sangat penting ketika Anda melakukan tes
domain afektif dan psikomotor peserta didik. Karena sejak tes belum dimulai, Anda harus
dapat menentukan ukuran-ukuran sikap dan pilihan tindakan dari peserta didik dalam
menguasai kompetensi yang dipersyaratkan.

1. Pemberian Skor Tes pada Domain Kognitif


a. Penskoran Soal Bentuk Pilihan Ganda
Cara penskoran tes bentuk pilihan ganda ada tiga macam, yaitu: pertama penskoran
tanpa ada koreksi jawaban, penskoran ada koreksi jawaban, dan penskoran dengan butir beda
bobot.
 Penskoran tanpa koreksi, yaitu penskoran dengan cara setiap butir soal yang dijawab
benar mendapat nilai satu (tergantung dari bobot butir soal), sehingga jumlah skor yang
diperoleh peserta didik adalah dengan menghitung banyaknya butir soal yang dijawab
benar. Rumusnya sebagai berikut.

𝐵
Skor = x 100 (skala 0-100)
𝑁
B = banyaknya butir yang dijawab benar
N = adalah banyaknya butir soal

Contohnya adalah sebagai berikut :


Pada suatu soal tes ada 50 butir, Budi menjawab benar 25 butir, maka skor yang dicapai Budi
adalah:
25
Skor = x 100
50
= 50

Contoh lain sebagai berikut:


Banyak soal tes ada 40 butir.
Banyaknya jawaban yang benar ada 20.
Jadi skor yang dicapai seseorang:
20
skor   100  50
40

 Penskoran ada koreksi terhadap jawaban tebakan yaitu pemberian skor dengan memberikan
pertimbangan pada butir soal yang dijawab salah dan tidak dijawab, adapun rumusnya
sebagai berikut:
 S  
skor   B   / N  100
 P  1  

B = banyaknya butir soal yang dijawab benar


S = banyaknya butir yang dijawab salah
P = banyaknya pilihan jawaban tiap butir
N = banyaknya butir soal
Butir soal yang tidak dijawab diberi skor 0

Contoh :
Pada soal bentuk pilihan ganda yang terdiri dari 40 butir soal dengan 4 pilihan tiap butir dan
banyaknya 40 butir, Amir dapat menjawab benar 20 butir, mejawab salah 12 butir, dan tidak
dijawab ada 8 butir, maka skor yang diperoleh Amir adalah:

 12  
skor   20   / 40  100  40
 4 1 

 Penskoran dengan butir beda bobot yaitu pemberian skor dengan memberikan bobot berbeda
pada sekelompok butir soal. Biasanya bobot butir soal menyesuaikan dengan tingkatan
kognitif (pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi) yang telah
dikontrak guru. Anda juga dapat membedakan bobot butir soal dengan cara lain, misalnya
ada sekelompok butir soal yang dikembangkan dari buku pegangan guru dan sekelompok
yang lain dari luar buku pegangan diberi bobot berbeda, yang pertama satu, yang lain dua.
Adapun rumusnya sebagai berikut.

Keterangan :

S : skor yang dicari


B: jumlah jawaban yang benar ( Bi )
Si : skor yang mungkin dicapai bila semua soal terjawab dengan benar ( St )
b : bobot setiap soal ( bi )

Contoh:
Pada suatu soal tes matapelajaran IPA berjumlah 40 butir yang terdiri dari enam tingkat domain
kognitif diberi bobot sebagai berikut: pengetahuan bobot 1, pemahaman 2, penerapan 3, analisis
4, sintesis 5, dan evaluasi 6.
Yoyok dapat menjawab benar 8 butir soal domain pengetahuan dari 12 butir, 12 butir dari 20
butir soal pehamanan, 2 butir soal penerapan dari 4 butir, 1 butir soal analisis dari 2 butir, dan 1
butir soal sintesis dan evaluasi masing-masing 1butir. Berapakah skor yang diperoleh Yoyok?

Untuk mempermudah memberi skor disusun Tabel 6.1. sebagai berikut.


Tabel 6.1. Contoh Pemberian Skor

Domain butir soal Jumlah butir bi Jumlah butir x bi Bi


Pengetahuan 12 1 12 8
Pemahaman 20 2 40 12
Penerapan 4 3 12 2
Analisis 2 4 8 1
Sintesis 1 5 5 1
Evaluasi 1 6 6 1
Jumlah = 40 - St = 83 25

(8𝑥1)+(12𝑥2)+(2𝑥3)+(1𝑥4)+(1𝑥5)_(1𝑥6)
Skor = 𝑥100
83
8+24+6+4+5+6
= 𝑥100
83
53
= 𝑥100 = 63,9
83

Jadi, skor yang diperoleh Yoyok adalah 63,9%, artinya Yoyok dapat menguasai tes
matapelajaran IPA sebesar 63,9%

b. Penskoran Soal Bentuk Uraian Objektif


Pada bentuk soal uraian objektif, biasanya langkah-langkah mengerjakan dianggap
sebagai indikator kompetensi para peserta didik. Oleh sebab itu, sebagai pedoman penskoran
dalam soal bentuk uraian objektif adalah bagaimana langkah – langkah mengerjakan dapat
dimunculkan atau dikuasai oleh peserta didik dalam lembar jawabannya. Untuk membuat
pedoman penskoran, sebaiknya Anda melihat kembali rencana kegiatan pembelajaran untuk
mengidentifikasi indikator-indikator tersebut.
Perhatikan contoh berikut.
Indikator : peserta didik dapat menghitung isi bangun ruang (balok) dan mengubah satuan
ukurannya.
Butir soal:
Sebuah bak mandi berbentuk balok berukuran panjang 150 cm, lebar 80 cm, dan tinggi 75 cm.
Berapa literkah isi bak mandi tersebut? (untuk menjawabnya tuliskan langkah-langkahnya!)

Tabel 6.2. Pedoman penskoran uraian objektif


Langkah Kunci jawaban Skor
1 Isi balok = panjang x lebar x tinggi 1
2 = 150cm x 80cm x 75cm 1
3 = 900.000 cm3 1
Isi bak mandi dalam liter
4 = liter 1
5 = 900 liter 1
Skor maksimum 5

c. Penskoran Soal Bentuk Uraian Non-Objektif


Prinsip penskoran soal bentuk uraian non-objektif sama dengan bentuk uraian objektif
yaitu menentukan indikator kompetensinya. Perhatikan contoh berikut.
Indikator: peserta didik dapat mendeskripsikan alasan Warga Negara Indonesia bangga
menjadi Bangsa Indonesia.
Butir soal: tuliskan alasan-alasan yang membuat Anda berbangga sebagai Bangsa Indonesia!
Pedoman penskoran:
Jawaban boleh bermacam-macam namun pada pokok jawaban tadi dapat dikelompokkan
sebagai berikut.
Tabel 6.3. Contoh Pedoman Penskoran
Kriteria jawaban Rentang skor
Kebanggaan yang berkaitan dengan kekayaan alam Indonesia 0-2
Kebanggaan yang berkaitan dengan keindahan tanah air Indonesia 0-2
(pemandangan alamnya, geografisnya, dll)
Kebanggaan yang berkaitan dengan keanekaragaman budaya, suku, adat, 0 - 2
istiadat tetapi tetap bersatu.
Kebanggaan yang berkaitan dengan keramahtamahan masyarakat 0 - 2
Indonesia
Skor tertinggi 8

d. Penskoran Bentuk Soal Benar-Salah


Pada tes dengan menggunakan instrumen soal benar-salah, testee (tercoba) hanya diminta
melingkari huruf B atau S, sehingga kunci jawaban yang disediakan hanya berbentuk urutan
nomor serta huruf dimana kita menghendaki untuk melingkari (atau dapat juga diberi tanda
X).
Contoh:
1. B 6. S
2. S 7. B
3. S 8. S
4. B 9. S
5. B 10. B (dan seterusnya)
Ada baiknya kunci jawaban ini ditentukan terlebih dahulu sebelum menyusun soalnya
dengan tujuan sebagai berikut:
- Dapat diketahui imbangan antara jawab B dan S
- Dapat diketahui letak atau pola jawaban B dan S
Bentuk betul-salah sebaiknya disusun sedemikian rupa sehingga jumlah jawaban B
hampir sama banyaknya dengan jawaban S, dan tidak dapat ditebak karena tidak diketahui
pola jawabannya. Dalam menentukan angka (skor) untuk tes bentuk B-S ini kita dapat
menggunakan 2 (dua) cara, yaitu tanpa hukuman atau tanpa denda adalah apabila banyaknya
angka yang diperoleh siswa sebanyak jawaban yang cocok dengan kunci dan dengan
hukuman atau dengan denda. Dengan hukuman yaitu apabila terdapat keraguan adanya unsur
tebakan.
Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
- Pertama dengan rumus,

S=R–W
dimana, S: Score R: Right W: Wrong
Skor yang diperoleh siswa sebanyak jumlah soal yang benar dikurangi dengan jumlah soal
yang salah.
Contoh:
Banyak soal = 10
Jawaban benar = 8
Jawaban salah = 2 buah
Angkanya adalah 8-2 = 6

- Kedua dengan rumus,

S =T– 2W

Dimana, T adalah singkatan dari Total, artinya jumlah soal dalam tes. W=Wrong
Contoh:
Banyaknya soal = 10 buah
Jawaban salah = 2 buah
Angkanya adalah 10 – 2(2) = 10 – 4 = 6

e. Pemberian Skor Bentuk Soal Menjodohkan (Matching)


Pada dasarnya tes bentuk menjodohkan adalah tes bentuk pilihan ganda, dimana
jawaban-jawaban dijadikan satu, demikian pula pertanyaan-pertanyaannya. Dengan
demikian, maka pilihan jawabannya akan lebih banyak. Satu kesulitan lagi adalah bahwa
jawaban yang dipilih dibuat sedemikian rupa sehingga jawaban yang satu tidak diperlukan
lagi untuk pertanyaan lain.
Kunci jawaban tes bentuk menjodohkan dapat berbentuk deretan jawaban yang
dikehendaki atau deretan nomor yang diikuti oleh huruf-huruf yang terdapat di depan
alternatif jawaban.
Contoh:
1. Tahun 1922 atau 1. F
2. Imam bonjol atau 2. C
3. Perang padri atau 3. H
4. Teuku umar atau 4. A
5. P. Diponegoro atau 5. B

Telah dijelaskan bahwa tes bentuk menjodohkan adalah tes bentuk pilihan ganda yang
lebih kompleks. Maka angka yang diberikan sebagai imbalan juga harus lebih banyak.
Sebagai acuan dapat ditentukan bahwa angka untuk tiap nomor adalah 2 (dua).
f. Pemberian Skor Pada Tugas
Kunci jawaban untuk memeriksa tugas merupakan pokok-pokok yang harus termuat
di dalam pekerjaan siswa. Hal ini menyangkut kriteria tentang isi tugas. Namun sebagai
kelengkapan dalam pemberian skor, digunakan suatu tolak ukur tertentu.
Tolak ukur yang disarankan ini digunakan sebagai ukuran keberhasilan tugas adalah
sebagai berikut:
1. Ketepatan waktu penyerahan tugas
2. Bentuk fisik pengerjaan tugas yang menandakan keseriusan siswa dalam mengerjakan
tugas
3. Sistematika yang menunjukkan alur keruntutan berfikir
4. Kelengkapan isi menyangkut ketuntasan penyelesaian dan kepadatan isi
5. Mutu hasil tugas, yaitu kesesuaian hasil dengan garis-garis yang sudah ditentukan oleh
guru
Dalam mempertimbangkan nilai akhir perlu dipikirkan peranan masing-masing aspek
kriteria tersebut, misalnya:
A1 - ketepatan waktu, diberikan bobot 2
A2 - bentuk fisik, diberi bobot 1
A3 - sistematika, diberi bobot 3
A4 - kelengkapan isi, diberi bobot 3
A5 - mutu hasil, diberi bobot 3
Maka nilai akhir untuk tugas tersebut diberikan dengan rumus:

g. Pemberian Skor Bentuk Soal Jawab Singkat (Short Answer Test)


Tes bentuk jawab singkat adalah bentuk tes yang menghendaki jawaban berbetuk kata
atau kalimat pendek. Melihat namanya, maka jawaban untuk tes tersebut tidak boleh
berbentuk kalimat-kalimat panjang, tetapi harus sesingkat mungkin dan mengandung satu
pengertian. Dengan persyaratan inilah maka bentuk tes ini dapat digolongkan ke dalam
bentuk tes objektif.
Tes bentuk isian, dianggap setaraf dengan tes jawab singkat ini, kunci jawaban tes bentuk ini
merupakan deretan jawaban sesuai dengan nomornya.
Contoh:
1. Berat jenis
2. Mengembun
3. Komunitas
4. Populasi
5. Energi

Pemberian skor pada bentuk tes ini adalah dengan mengingat jawaban yang hanya
satu pengertian saja, maka angka bagi tiap nomor soal mudah ditebak. Usaha yang
dikeluarkan oleh siswa sedikit, tetapi lebih sulit daripada tes bentuk benar-salah atau bentuk
pilihan ganda. Sebaiknya tiap soal diberi angka 2 (dua). Dapat juga angka itu kita samakan
dengan angka pada bentuk benar-salah atau bentuk pilihan ganda jika memang jawaban yang
diharapkannya ringan atau mudah. Tetapi sebaliknya apabila jawabannya bervariasi misalnya
lengkap sekali, lengkap dan kurang lengkap, maka angkanya dapat dibuat bervariasi pula
misalnya 2; 1,5; dan 1.

h. Pembobotan Soal Bentuk Campuran


Dalam beberapa situasi bisa digunakan soal bentuk campuran, yaitu bentuk pilihan dan
bentuk uraian. Pembobotan soal bagian soal bentuk pilihan ganda dan bentuk uraian ditentukan
oleh cakupan materi dan kompleksitas jawaban atau tingkat berpikir yang terlibat dalam
mengerjakan soal.
Pada umumnya cakupan materi soal bentuk pilihan ganda lebih banyak, sedang tingkat
berpikir yang terlibat dalam mengerjakan soal bentuk uraian biasanya lebih banyak dan lebih
tinggi.
Suatu ulangan terdiri dari N1 soal pilihan ganda dan N2 soal uraian. Bobot untuk soal
pilihan ganda adalah w1 dan bobot untuk soal uraian adalah w2. Jika seseorang siswa
menjawab benar n1 pilihan ganda, dan n2 soal uraian, maka siswa itu mendapat skor :

Skor = b1 + b2
b1 = bobot soal 1
b2 = bobot soal 2
Contoh:
Suatu ulangan terdiri dari 20 bentuk pilihan ganda dengan 4 pilihan, dan 4 buah soal bentuk
uraian. Titi dapat menjawab benar soal pilihan ganda 16 butir dan salah 4 butir, sedang
bentuk uraian bisa dijawab benar 20 dari skor maksimum 40. Apabila bobot pilihan ganda
adalah 0,40 dan bentuk uraian 0,60, maka skor yang diperoleh Titi dapat dihitung sebagai
berikut.
a. skor pilihan ganda tanpa koreksi jawaban dugaan : (16/20)x100 = 80
b. skor bentuk uraian adalah : (20/40)x100 = 50
c. skor akhir adalah : 0,4 x (80) + 0,6 x (50) = 62

2. Pemberian Skor Tes pada Domain Afektif


Domain afektif ikut menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Paling tidak ada
dua komponen dalam domain afektif yang penting untuk diukur, yaitu sikap dan minat
terhadap suatu pelajaran. Sikap peserta didik terhadap pelajaran bisa positif bisa negatif atau
netral. Tentu diharapkan sikap peserta didik terhadap semua mata pelajaran positif sehingga
akan timbul minat untuk belajar atau mempelajarinya. Peserta didik yang memiliki minat
pada pelajaran tertentu bisa diharapkan prestasi belajarnya akan meningkat secara optimal,
bagi yang tidak berminat sulit untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Oleh karena itu, Anda
memiliki tugas untuk membangkitkan minat kemudian meningkatkan minat peserta didik
terhadap mata pelajaran yang diampunya. Dengan demikian akan terjadi usaha yang sinergi
untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
Langkah pembuatan instrumen domain afektif termasuk sikap dan minat adalah
sebagai berikut:
a. Pilih ranah afektif yang akan dinilai, misalnya sikap atau minat.
b. Tentukan indikator minat: misalnya kehadiran di kelas, banyak bertanya, tepat waktu
mengumpulkan tugas, catatan di buku rapi, dan sebagainya. Hal ini selanjutnya
ditanyakan pada peserta didik.
c. Pilih tipe skala yang digunakan, misalnya Likert dengan 5 skala: sangat berminat,
berminat, sama saja, kurang berminat, dan tidak berminat.
d. Telaah instrumen oleh sejawat.
e. Perbaiki instrumen.
f. Siapkan kuesioner atau inventori laporan diri.
g. Skor inventori.
h. Analisis hasil inventori skala minat dan skala sikap.

Contoh:
Instrumen untuk mengukur minat peserta didik yang telah berhasil dibuat ada 10 butir. Jika
rentangan yang dipakai adalah 1 sampai 5, maka skor terendah seorang peserta didik adalah
10, yakni dari 10 x 1 dan skor tertinggi sebesar 50, yakni dari 10 x 5. Dengan demikian,
mediannya adalah (10 + 50)/2 atau sebesar 30. jika dibagi menjadi 4 kategori, maka skala 10-
20 termasuk tidak berminat, 21 sampai 30 kurang berminat, 31 – 40 berminat, dan skala 41 –
50 sangat berminat.

3. Pemberian Skor Tes pada Domain Psikomotor


a. Penyusunan Tes Psikomotor
Tes untuk mengukur ranah psikomotor adalah tes untuk mengukur penampilan atau
kinerja (performance) yang telah dikuasai peserta didik. Tes tersebut menurut Lunetta dkk.
(1981) dalam Majid (2007) dapat berupa tes paper and pencil, tes dentifikasi, tesimulasi, dan
tes unjuk kerja. Skala penilaian cocok untuk menghadapi subjek yang jumlahnya sedikit.
Perbuatan yang diukur menggunakan alat ukur berupa skala penilaian terentang dari
sangat tidak sempurna sampai sangat sempurna. Jika dibuat skala 5, maka skala 1 paling tidak
sempurna dan skala 5 paling sempurna. Misal dilakukan pengukuran terhadap keterampilan
peserta didik menggunakan thermometer badan. Untuk itu dicari indikator-indikator apa saja
yang menunjukkan peserta didik terampil menggunakan thermometer tersebut, misal
indikator-indikator sebagai berikut:
1. Cara mengeluarkan termometer dari tempatnya.
2. Cara menurunkan posisi air raksa serendah-rendahnya.
3. Cara memasang termometer pada tubuh orang yang diukur suhunya.
4. Lama waktu pemasangan termometer pada tubuh orang yang diukur suhunya.
5. Cara mengambil termometer dari tubuh orang yang diukur suhunya.
6. Cara membaca tinggi air raksa dalam pipa kapiler termometer.

Untuk mengukur keterampilan siswa menggunakan termometer badan disusun skala


penilaian berikut.

Lingkari angka 5 jika suatu indikator dikerjakan sangat tepat, 4 jika tepat, 3 jika agak tepat, 2
jika tidak tepat dan 1 sangat tidak tepat untuk setiap tindakan di bawah ini!
5 4 3 2 1 Cara mengeluarkan termometer dari temaptnya.

5 4 3 2 1 Cara menurunkan posisi air raksa serendah-rendahnya.

5 4 3 2 1 Cara memasang termometer pada tubuh orang yang diukur suhunya.

5 4 3 2 1 Lama waktu pemasangan termometer pada tubuh orang yang diukur suhunya.

5 4 3 2 1 Cara mengambil termometer dari tubuh orang yang diukur suhu tubuhnya.

5 4 3 2 1 Cara membaca tinggi air raksa dalam pipa kapiler termometer.

Dari contoh cara pengukuran suhu badan menggunakan skala penilaian, ada 6 butir
soal yang dipakai untuk mengukur kemampuan seorang peserta didik jika untuk butir 1
peserta didik yang bersangkutan memperoleh skor 5 berarti sempurna/benar, butir 2
memperoleh skor 4 berarti benar tetapi kurang sempurna, butir 3 memperoleh skor 4 berarti
juga benar tetapi kurang sempurna, butir 4 memperoleh skor 3 berarti kurang benar, butir 5
memperoleh skor 3 berarti kurang benar, dan butir 6 juga memperoleh skor 3 berarti kurang
benar, maka total skor yang dicapai peserta didik tersebut adalah (5 + 4 + 4 + 3 + 3 + 3) atau
22. Seorang peserta didik yang gagalakan memperoleh skor 6, dan yang berhasil melakukan
dengan sempurna memperoleh skor 30; maka median skornya adalah (6 + 30)/2 = 18.
Jika dibagi menjadi 4 kategori, maka yang memperoleh skor 6 – 12 dinyatakan gagal,
skor 13 – 18 berarti kurang berhasil, skor 19 – 24 dinyatakan berhasil, dan skor 25 – 30
dinyatakan sangat berhasil. Dengan demikian peserta didik dengan skor 21 dapat dinyatakan
sudah berhasil tetapi belum sempurna/belum sepenuhnya baik jika sifat keterampilannya
adalah absolut, maka setiap butir harus dicapai dengan sempurna (skala 5). Dengan demikian
hanya peserta didik yang memperoleh skor total 30 yang dinyatakan berhasil dan dengan
kategori sempurna.

C. Mengubah Skor dengan Penilaian Acuan Patokan


Penilaian Acuan Patokan (criterion referenced evaluation) yang dikenal juga dengan
standar mutlak berusaha menafsirkan hasil tes yang diperoleh siswa dengan
membandingkannya dengan patokan yang telah ditetapkan. Sebelum hasil tes diperoleh atau
bahkan sebelum kegiatan pengajaran dilakukan, patokan yang akan dipergunakan untuk
menentukan kelulusan harus sudah ditetapkan.
Standar atau patokan tersebut memuat ketentuan-ketentuan yang dipergunakan
sebagai batas-batas penentuan kelulusan testee atau batas pemberian nilai pada testee. Jika
skor yang diperoleh oleh testee memenuhi batas minimal maka testee dinyatakan telah
memenuhi tingkat penguasaan minimal terhadap materi yang disampaikan dan sebaliknya
jika testee belum bisa memenuhi batas minimal yang ditentukan maka testee dianggap belum
“lulus” atau belum menguasai materi. Karena batasan-batasan tersebut bersifat mutlak/ pasti
maka hasil yang diperoleh tidak dapat di tawar lagi.
Berhubung standar penilaian ditentukan secara mutlak, banyaknya test yang
memperoleh nilai tinggi atau jumlah kelulusan test banyak akan mencerminkan
penguasaannya terhadap materi yang disampaikan. Pengolahan skor mentah menjadi nilai
dilakukan dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut :
a) Menggabungkan skor dari berbagai sumber penilaian untuk memperolah skor akhir.
b) Menghitung skor minimum penguasaan tuntas dengan menerapkan prosentase Batas
Minimal Penguasaan (BMP).
c) Menentukan tabel konversi

D. Mengubah Skor dengan Penilaian Acuan Normatif


Penilaian Acuan Norma (Norm Referenced Evaluation) dikenal pula dengan Standar
Relatif atau Norma Kelompok. Pendekatan penilaian ini menafsirkan hasil tes yang diperoleh
testee dengan membandingkan dengan hasil tes dari testee lain dalam kelompoknya. Alat
pembanding tersebut yang menjadi dasar standar kelulusan dan pemberian nilai ditentukan
berdasarkan skor yang diperoleh testee dalam satu kelompok. Dengan demikian, standar
kelulusan baru daat ditentukan setelah diperoleh skor dari para peserta testee.
Hal ini berarti setiap kelompok mempunyai standar masing-masing dan standar satu
kelompok tidak dapat dipergunakan sebagai standar kelompok yang lain. Standar dari hasil
tes sebelumnya pun tidak dapat dipergunakan sebagai standar sehingga setiap memperoleh
hasil tes harus dibuat norma yang baru. Dasar pemikiran dari penggunaan standar PAN
adalah adanya asumsi bahwa di setiap populasi yang heterogen terdapat siswa dengan
kelompok baik, kelompok sedang dan kelompok kurang.
Pengolahan skor dengan Penilaian Acuan Norma (PAN) mengharuskan kita
menghitung dengan statistik. Perhitungan dilakukan atas skor akhir (penggabungan berbagai
sumber skor), Kelemahan sistem PAN adalah dengan tes apapun dalam kelompok apapun
dan dengan dasar prestasi yang bagaimanapun, pemberian nilai dengan sistem ini selalu dapat
dilakukan. Karena itu penggunaan sistem PAN dapat dilakukan dengan baik apabila
memenuhi syarat yang mendasari kurva normal, yaitu :
a) Skor nilai terpencar atau dapat dianggap terpencar sesuai dengan pencaran kurva
normal
b) Jumlah yang dinilai minimal 50 orang atau sebaiknya 100 orang ke atas.

E. Faktor-Faktor yang diperhitungkan dalam penilaian

Secara garis besar dapat ditentukan unsur umum dalam penilaian yang menyangkut
faktor-faktor yang harus dipertimbangkan . Unsur-unsur tersebut adalah :

1. Prestasi Kerja

Nilai prestasi harus mencerminkan sejauh mana siswa telah dapat mencapai tujuan
yang telah ditetapkan di setiap bidang studi. Simbol yang digunakan untuk menyatakan nilai
hanya merupakan gambaran tentang prestasi saja. Unsur pertimbangan atau kebijaksanaan
guru sebaiknya tidak dilibatkan dengan nilai tersebut.

2. Usaha Siswa

Usaha siswa dalam memenuhi tujuan pelajaran dapat dilaporkan kepada orang tua.
Usaha siswa harus dihargai dan tidak boleh dicampur dengan nilai prestasi. Ada
kecenderungan guru menilai usaha rendah karena prestasinya rendah. Beberapa siswa yang
telah berusaha mati-matian tetapi prestasinya tetap rendah ,dan yang belajar sedang-sedang
saja prestasinya bisa tinggi. Ini kemungkinan faktor intelegensi yang berbicara.

3. Aspek Pribadi dan Sosial

Aspek pribadi dan sosial juga perlu dilaporkan pada orang tua siswa ,misalnya menaati
peraturan sekolah ,disiplin dan sebagainya. Dalam memberikan nilai harus hati-hati.
Rentangan nilai sebaiknya antara 6 – 10 .

4. Kebiasaan Bekerja
Kebiasaan bekerja yang berhubungan dengan proses belajar mengajar seperti kebiasaan
melakukan tugas pada waktunya, keuletan dalam belajar ,bekerja dengan teliti,rajin,dan
sebagainya.

F. Analisis Butir – butir Instrumen Evaluasi


1. Menilai Tes yang Dibuat Sendiri
Tidak ada usaha guru yang lebih baik selain usaha untuk selalu meningkatkan mutu
tes yang disusunnya. Namun hal ini tidak dilaksanakan karena kecenderungan seseorang
untuk beranggapan bahwa yang menjadi hasil karyanya adalah yang terbaik atau setidak –
tidaknya sudah cukup baik.
Secara teoritis, siswa dalam satukelas yang merupakan populasi ataukelompok yang
keadaannya heterogen. Dengan demikian maka apabila dikenal sebuah tes akan tercermin
dalam suatu kurva normal.
Apabila keadaan setelah hasil tes dianalisis tidak seperti yang diharapkan dalam kurva
normal, maka tentu ada “apa-apa” dengan soal tesnya. Dengan demikian, apabila kita
memperoleh keterangan tentang hasil tes, akan membantu kita dalam mengadakan penilaian
secara objektif terhadap tes yang kita susun.
Ada 4 cara untuk menilai tes, yaitu :
1. Meneliti secara jujur soal – soal yang sudah disusun, kadang – kadang dapat
diperoleh jawaban tentang ketidakjelasan perintah atau bahasa, taraf kesukaran,
dan lain – lain.
2. Mengadakan analisis soal. Analisis soal adalah suatu prosedur yang sistematis,
yang akan memberikan informasi yang sangat khusus terhadap butir tes yang
kita susun. Dengan menganalisis soal kita dapat mengidentifikasi soal yang jelek
dan menyempurnakan soal – soal untuk kepentingan lebih lanjut
3. Mengadakan checking validitas. Dalam melakukan cara ini kita harus
merumuskan tujuan setiap bagian pelajaran secara khusus dan jelas sehingga
setiap soal dapat dijodohkan dengan setiap tujuan khusus tersebut
4. Checking reabilita. Salah satu indikator untuk tes yang mempunyai reliabilitas
yang tinggi adalah bahwa kebanyakan dari soal – soal tes itu mempunyai daya
pembeda yang tinggi.

2. Analisis Butir – butir soal


Analisis soal antara lain bertujuan untuk mengadakan identifikasi soal – soal yang
baik, kurang baik dan soal yang jelek. Kapan sebuah soal dikatakan baik? Untuk memberikan
jawaban terhadap pertanyaan ini perlu diterangkan tiga masalah yang berhubungan dengan
analisis soal yaitu:
a. Taraf Kesukaran
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Bilangan
yang menunjukan sukar dan mudahnya sesuatu soal disebut indeks kesukaran (
difficulty index ). Besarnya indeks kesukaran antara 0,00 sampai dengan 1,0. Indeks
kesukaran ini menunjukan taraf kesukara soal. Soal dengan indeks kesukaran 0,0
menunjukan bahwa soal ituterkaku sukar, sebaliknya indeks 1,0 menunjukan bahwa
soal terlalu mudah.
b. Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara
siswa yang pandai ( berkemampuan tinggi ) dengan siswa bodoh (
berkemampuan rendah ). Angka daya pembeda disebut dengan angka
diskriminasi yang dapat digambarkan seperti gambar berikut:

- 1,00 0,00 + 1,00

Daya pembeda Daya pembeda Daya pembeda


negatif rendah tinggi ( positif )

c. Pola jawaban soal


Adalah distribusi testee dalam hal menentukan pilihan jawaban pada soal bentuk
pilihan ganda. Pola jawaban diperoleh dengan menghitung banyaknya testee yang
memilih pilihan jawaban a, b, c, atau d yang tidak memilih pilihan manapun. Daripola
jawaban soal dapat ditentukan apakah pengecoh berfungsi sebagai pengecoh dengan
baik atau tidak.

G. Hambatan Dan Solusi Dalam Pemberian Skor


Adakalanya guru dituntut untuk memberikan nilai terhadap prestasi belajar siswa tanpa
memberikan skor terlebih dahulu. Misalnya, pada waktu ujian lisan. Apabila nilai ujian
diberikan terhadap setiap butir pertanyaan, maka akan cukup memadahi. Tetapi hal yang
perlu diperhatikan adalah munculnya unsur subjektifitas sehingga guru seringkali melakukan
hal-hal diluar keadilan.
Contohnya adalah guru yang berkali-kali menunjukkan kepuasannya terhadap hasil
belajar siswa dan bagaimana guru tersebut mempertahankan seorang siswa. Subjektifitas
tidak hanya berimplikasi pada kredibilitas nilai yang dihasilkan saja tetapi juga berdampak
pada kriteria dalam pengukuran tingkat pencapain hasil belajar yang dimaksud.
Dalam menentukan nilai terhadap tiap-tiap aspek ini pun kita dituntut untuk memberikan
pertimbangan yang didasari oleh kebijaksanaan. Sebenarnya guru dapat mengambil beberapa
langkah sebagai dasar untuk meminimalisir kesulitan objektifitas penilaian tersebut yaitu
dengan cara sebagai berikut:
1) Bertitik tolak dari batas bawah, yaitu berpikir pekerjaan yang jelek diberi nilai berapa,
kemudian membandingkan hasil pekerjaan yang kita hadapi dengan nilai batas bawah
tersebut. Dari batas bawah ini kita memberikan tambahn nilai sebanyak jarak antara nilai
batas bawah dengan pekerjaan siswa. Jadi, kita berangkar dari bawah, lalu naik ke atas.
Menurut pengalaman, pemberian nilai dengan cara ini cenderung menghasilkan nilai
rendah.
2) Bertitik tolak dari plafon atau batas atas. Dengan cara ini kita berpikir mengenai
kesempurnaan pekerjaan, tetapi diukur menurut ukuran siswa, bukan diukur dengan
kemampuan guru. Selanjutnya berangkat dari nilai batas atas tersebut kita kurangkan
sedikit-sedikit sejauh kesenjangan antara nilai batas dengan pekerjaan siswa yang
dihadapi. Jadi, kita berangkat dari atas kemudian turun ke bawah. Menurut pengalaman,
pemberian nilai dengan cara ini cenderung menghasilkan nilai yang tinggi.

Cara-cara seperti diatas dapat juga diterapkan untuk menilai tugas-tugas yang sifatnya
relatif dan cenderung menimbulkan subjektifitas.