Anda di halaman 1dari 19

PENGERTIAN BELAJAR DAN MACAM-MACAM TEORI BELAJAR

Dalam kegiatan belajar dan mengajar di sekolah terjadi sebuah proses yaitu
interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa jika terjadi kegiatan belajar
kelompok. Dalam interaksi tersebut akan terjadi sebuah proses pembelajaran,
pembelajaran secara umum didefinisikan sebagai suatu proses yang menyatukan
kognitif, emosional, dan lingkungan pengaruh dan pengalaman untuk memperoleh,
meningkatkan, atau membuat perubahan’s pengetahuan satu, keterampilan, nilai,
dan pandangan dunia (Illeris, 2000; Ormorod, 1995).

Belajar sebagai suatu proses berfokus pada apa yang terjadi ketika belajar
berlangsung. Penjelasan tentang apa yang terjadi merupakan teori-teori belajar.
Teori belajar adalah upaya untuk menggambarkan bagaimana orang dan hewan
belajar, sehingga membantu kita memahami proses kompleks inheren
pembelajaran. (Wikipedia)

Bertolak dari perubahan yang ditimbulkan oleh perbuatan belajar, para ahli teori
belajar berusaha merumuskan pengertian belajar. Di bawah ini dikutip beberapa
batasan belajar, agar dapat menjadi bahan pemikiran dan renungan mengenai
pengertian belajar yang berlangsung di kelas.

Belajar proses perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu
yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, di
mana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecendrungan
respon pembawaan, pemaksaan, atau kondisi sementara (seperti lelah, mabuk,
perangsang dan sebagainya).

Menurut Morgan (Gino, 1988: 5) menyatakan bahwa belajar adalah merupakan


salah satu yang relatif tetap dari tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa belajar adalah usaha sadar yang
dilakukan manusia melalui pengalaman dan latihan untuk memperoleh
kemampuan baru dan merupakan perubahan tingkah laku yang relatif tetap,
sebagai akibat dari latihan. Menurut Hilgard (Suryabrata, 2001:232) menyatakan
belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang
kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perbuatan yang
ditimbulkan oleh lainnya.
Selanjutnya menurut Gerow (1989:168) mengemukakan bahwa “Learning is
demonstrated by a relatively permanent change in behavior that occurs as the result
of practice or experience”.

Belajar adalah ditunjukkan oleh perubahan yang relatif tetap dalam perilaku yang
terjadi karena adanya latihan dan pengalaman-pengalaman.Kemudian menurut
Bower (1987: 150) “Learning is a cognitive process”. Belajar adalah suatu proses
kognitif.

Dalam pengertian ini, tidak berarti semua perubahan berarti belajar, tetapi dapat
dimasukan dalam pengertian belajar yaitu, perubahan yang mengandung suatu
usaha secara sadar, untuk mencapai tujuan tertentu.

Berdasarkan pengertian belajar yang dikemukakan di atas dapat diidentifikasi


beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian belajar yaitu :

Belajar adalah merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan
itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang baik, tetapi juga ada kemungkinan
mengarah kepada tingkah laku yang buruk. Perubahan itu tidak harus segera
nampak setelah proses belajar tetapi dapat nampak di kesempatan yang akan
datang.
Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman.
Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu pada pokoknya adalah
didapatkannya kecakapan baru, yang berlaku dalam waktu yang relatif lama.
Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai
aspek kepribadian baik fisik maupun phisikis.

Teori manapun pada prinsifnya, belajar meliputi segala perubahan baik berpikir,
pengetahuan, informasi, kebiasaan, sikap apresiasi maupun pengertian. Ini berarti
kegiatan belajar ditunjukan oleh adanya perubahan tingkah laku sebagai hasil
pengalaman. Perubahan akibat proses belajar adalah karena adanya usaha dari
individu dan perubahan tersebut berlangsung lama. Belajar merupakan kegiatan
yang aktif, karena kegiatan belajar dilakukan dengan sengaja, sadar dan bertujuan.

Agar kegiatan belajar mencapai hasil yang optimal, maka diusahakan faktor
penunjang seperti kondisi peserta didik yang baik, fasilitas dan lingkungan yang
mendukung serta proses belajar mengajar yang tepat.
Macam-macam Teori Belajar

Ada tiga kategori utama atau kerangka filosofis mengenai teori-teori belajar, yaitu:
teori belajar behaviorisme, teori belajar kognitivisme, dan teori belajar
konstruktivisme. Teori belajar behaviorisme hanya berfokus pada aspek objektif
diamati pembelajaran. Teori kognitif melihat melampaui perilaku untuk
menjelaskan pembelajaran berbasis otak. Dan pandangan konstruktivisme belajar
sebagai sebuah proses di mana pelajar aktif membangun atau membangun ide-ide
baru atau konsep.

1. Teori belajar Behaviorisme

Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner
tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu
berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah
pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal
sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku
yang tampak sebagai hasil belajar.

Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan


orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu
dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya
perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila
dikenai hukuman.

2. Teori Belajar kognitivisme

Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes
terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif
ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan
pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian
menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang
telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.

Peneliti yang mengembangkan teori kognitif ini adalah Ausubel, Bruner, dan
Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda.
Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh
utama terhadap belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan
bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh
informasi dari lingkungan.

3. Teori Belajar Konstruktivisme

Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat


diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang
berbudaya modern.

Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual


yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang
hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.

Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap


untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan
memberi makna melalui pengalaman nyata.

Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah,


mencari idea dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka
terlibat langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih pahamdan
mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara
langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep.
Sumber : http://visiuniversal.blogspot.co.id/2014/03/pengertian-belajar-dan-
macam-macam.html

http://ridalatifah.blogs.uny.ac.id/2015/11/18/pengertian-belajar-dan-macam-
macam-teori-belajar/
KONSEP BELAJAR DAN MENGAJAR
Bila terjadi proses belajar, maka bersama itu pula terjadi proses mengajar.
Hal itu kiranya mudah dipahami, karena bila ada yang belajar. Hal ini kiranya
mudah dipahami, karena bila ada yang belajar sudah barang tentu ada yang
mengajarnya , dan begitu pula sebaliknya kalau ada yang mengajarnya, dan begitu
pula sebaliknya kalau ada yang mengajar tentu ada yang belajar . kalau sudah
terjadi suatu proses/saling berintraksi, antara yang mengajar dengan yang belajar,
sebenarnya berada pada suatu kondisi yang unik, sebab secara sengaja atau tidak
sengaja , masing-masing pihak berada dalam suasana belajar . Jadi guru walaupun
dikatakan sebagai pengajar, sebenarnya secara tidak langsung juga melakukan
belajar.
Perlu ditegaskan bahwa setiap saat dalam kehidupan terjadi suatu proses
belajar – mengajar, baik sengaja maupun tidak sengaja, disadari atau tidak disadari.
Dari proses belajar – mengajar ini akan diproleh suatu hasil, yang pada umumnya
disebut hasil pengajaran, atau dengan istilah tujuan pembelajaran atau hasil belajar.
Tetapi agar memproleh hasil yang optimal, proses belajar – mengajar harus
dilakukan dengan sadar dan sengaja serta terorganisasi secara baik.[1]
Didalam proses belajar – mengajar, guru sebagai pengajar dan siswa sebagai
subjek belajar, dituntut adanya propil kualifikasi tentu dalam hal pengetahuan,
kemampuan, sikap dan tatanilai serta sifat – sifat pribadi, agar proses itu dapat
berlangsung dengan efektif dan efisien. Untuk itu, orang kemudian
mengembangkan berbagai pengetahauan, misalnya psikologi pendidikan
medel mengajar, pengelolaan pengajaran dan ilmu – ilmu lain yang dapat
menunjang proses belajar-mengajar itu.
1. Makna belajar
Usaha pemahaman mengenai makna belajar ini akan diawali dengan
mengemukakan beberapa difenisi tentang belajar. Ada beberapa difinisi tentang
belajar. Dan beberapa difinisi tentang belajar, antara lain dapat diuraikan sebagai
berikut.
a. Cronbach memberikan defenisi : learning is show by a change in behavior as a
result of experience(:belajar adalah pertunjukan oleh perubahan perilaku sebagai
hasil dari pengalaman
b. Harold Spears memberikan batasan: learning is shown by observe, to read, to
imitate, to try something themseleves, to listen , to follow direction. (pembelajaran
ditunjukkan dengan mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu diri mereka,
mendengarkan, mengikuti arah.)
c. Geoch, mengatakan : learning is a change in performance as a result of
practice. Ini berarti bahwa belajar membawa perubahan dalam performance, dan
perubahan itu sebagai akibat dari latihan ( practice ).
Dari ketiga definisi di atas, maka dapat diterangkan bahwa belajar itu
senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan,
dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca,mengamati,
mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik, kalau
si subjek belajar itu mengalami atau melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik.
Selanjutnya ada, yang mendefinisikan: “ belajar adalah berubah”. Dalam
hal ini yang dimaksudkan belajar berarti usaha merubah tingkah laku. Jadi belajar
akan membawa suatu perubahan pada individu – individu yang belajar . perubahan
tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan,tetapi juga berbentuk
kecakapan, keterampilan , sikap, pengertian harga diri, minat , watak , penyesuaian
diri. Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa belajar itu sebagai rangkaian
kegiatan jiwa raga, pisko-fisik untuk menuju keperkembangan pribadi manusia
seutuhnya, yang berarti menyangkut unsur cipta, rasa dan karsa, ranah
kognitif,afektif, dan psikomotor.[2]
Menurut Benyamin. S. Bloom, meliputi tiga ranah /matra, yaitu : matra
kognitif, afektif dan psikomotorik. Masing – masing matra atau domain ini dirinci
lagi menjadi beberapa jangkauan kemampuan ( level of competence) rincian ini
dapat disebut sebagai berikut:
a. Kognitif domain :
1) Knowledge (pengetahuan, ingatan )
2) Camprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas , contoh )
3) Analysis ( menguraikan, menentukan hubungan ) .
4) Synthesis ( mengorganisasikan, merencanakan , membentuk bangunan baru )
5) Evaluation (manilai)
6) Application (menerapkan)
Contohnya siswa dapat menjelaskan tentang masalah-masalah penjaabaran
,contohnya dalam bidang mata pelajaran tertentu dan mereka da[at menjelaskan
tentang suatu topik beserta pengembangannya.
b. Affective Domain:( sikap moral dan tingkah laku )
1) Recieving (sikap menerima)
2) Responding (memberikan respons )
3) Valuing (nilai )
4) Organization (organisasi )
5) Characterization (karakteristik)
Contoh siswa dating tepat waktu ,siswa dapat bekerjasama melakuakan
,melakukan sesuatu dengan benar dan rasa kesadaran.
c. Psychomotor Domain :( keterampilan)
1) Intiatory level.
2) Pre-rotine level.
3) Rountinized level
Contoh siswa dapat melakukan dengan benar karena keterampilan,sesuai dengan
yang di contohkan .[3]
Target jangkauan mengenai pencapaian level sebagaimana dijajarkan di
tiap – tiap domain/matra, sudah barang tentu sesuai dengan tujuan belajarnya,
tidak mesti harus mencapai yang tertinggi.:
Untuk melengkapi pengertian mengenai makna belajar, perlu kiranya
dikemukakan prinsip – prinsip yang berkaitan dengan belajar.dalam hal ini ada
beberapa prinsip yang penting untuk diketahui, antara lain :
a. Belajar pada hakikatnya menyangkut potensi manusiawi dan kelakuannya.
b. Belajar memerlukan proses dan penahapan serta kematanagn dari para siswa.
c. Belajar akan lebih mantap dan efektif, bila didorong dengan motivasi dari
dalam/ dasar kebutuhan /kesadaran atau intrinsic motivation, lain halnya belejar
dengan rasa takut atau dibarengi dengan rasa tertekan dan menderita.
d. Dalam banyak hal, belajar merupakan proses percobaan (dengan kemungkinan
berbuat keliru )dan conditioning atau pembiasaan.
e. Kemampuan belajar seorang siswa harus di perhitungkan dalam rangka
menentukan isi pelajaran.
f. Belajar dapat melakukan tiga cara
1) Diajarkan secara langsung ;
2) Kontrol, kontak, penghayatan, pengalaman langsung ( seperti anak belajar
bicara, sopan santun, dan lain – lain );
3) Pengenalan dan /atau peniruan
g. Belajar melalui praktik atau mengalami secara langsung akan lebih efektif
mampu membina sikap, keterampilan, cara berpikir kritis dan lain – lain, bila
dibandingkan dengan belajar hafalan saja.
h. Perkembangan pengalaman siswa akan banyak mempengaruhui kemampuan
belajar yang bersangkutan.
i. Bahan pelajaran yang bermakna/berarti, lebih mudah dan menarik untuk
dipelajari, daripada bahan yang kurang bermakna.
j. Informasi tentang kelakuan baik, pengetahuan, kesalahan serta keberhasilan
siswa, banyak membantu kelancaran dan gairah belajar.
k. Belajar sedapat mungkin diubah kedalam bentuk aneka ragam tugas, sehingga
anak – anak melakukan dialog dalam dirinya atau mengalaminya sendiri.[4]
2. Tujuan belajar
Dalam mencapai tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem
lingkungan (kondisi ) belajar yang lebih kodusif. Hal ini akan berkaitan dengan
mengajar. Mengajar diartikan sebgai suatau usaha penciptaan sistem lingkunag
yang memungkinkan terjadinya proses belajar.
Kalau di tinjau secara umum, maka tujuan belajar itu ada tiga jenis.
1. Untuk mendapat kan pengetahuan
2. Penenaman konsep dan keterampilan
3. Pembentukan sikap
B. PENGERTIAN MENGAJAR
Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi
atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk
berlangsungnya proses belajar. Kalau belajar dikatakan milik siswa, maka
mengajar sebagai kegiatan guru. Disamping itu ada beberapa difinisi lain, yang
dirumuskan secara rinci dan tampak bertingkat.
Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada siswa. Menurut
pengertian ini berarti tujuan belajar dari siswa itu hanya sekedar ingin
mendapatkan atau menguasai pengetahuan.[5]
Dalam pengertian yang luas, mengajar diartiakn sebagai suatau aktivitas
mengorganisasikan atau mengatur lingkunagn sebaik – baiknya dan
menghubungkan dengan anak, sehingga terjadi proses belajar. Atau dikatakan,
mengajar sebagai upaya menciptakan kondisi ynag kondusif untuk berlangsungnya
kegiatan belajar bagi para siswa. Kondisi itu diciptakan sedemikian rupa sehingga
membantu perkembangan anak secara optimal baik jasmani maupun rohani, baik
fisik maupun mental.
Ada pun hasil pengajaran itu dikatakan betul betul baik, apabila memiliki
ciri –ciri sebagai berikut:
1. Hasil itu tahan lama dan dapat digunakan dalam kehidupan oleh siswa. Dalam
hal ini guru akan senantiasa menjadi pembimbing dan pelati yang baik bagi para
siswa yang akan menghadapi ujian.
2. Hasil itu merupakan pengetahuan “asli” atau “otentik.” Pengetahuan hasil proses
belajarmengajar itu bagi siswa seolah – olah telah merupakan bagian kpribadian
bagi diri setiap siswa, sehingga akan mendapat mempengaruhi pandanagn dan
caranya mendekati suatu permasalahan. Sebab pengetahuan itu dinyatakan dan
penuh makana bagi dirinya.
Dalam hubungan itu ada rumusan lain mengenai pengertian mengajar
diartiakn sebagai kegiatan mengorganisasi proses belajar. Dengan demikian,
permasalahan yang dihadapi oleh pengajaran yang dipandang baik untuk
menghasilkan produk yang baik, adalah bagaimana mengorganisasikan proses
belajar untuk mencapai pengetahuan otentik dan tahan lama. Karena mengajar
merupakan kegiatan mengorganisasikan proes belajar secara baik, maka guru
sebagai pengajar harus berperan sebagai organisator yang baik pula. Secara makro
guru dituntut untuk dapat mengorganisasikan komponen – komponen yang terlibat
di dalam proses belajar - mengajar, sehingga di harapkan terjadi proses pengajaran
yang optimal.
Perlu ditambahkan, bagi seorang guru/ pengajar harus menyadari bahwa
belajar adalah ingin “mengerti”. Belajar adalah mencari, menemukan dan melihat
pokok permasalahan nya belajar juga dikatakan sebagai upaya memecahkan
persoaalan yang dihadapi. Hal ini membawa konsekuensi bahwa kegiatan
mengajar dalam proses pengajarannya juga harus menyediakan kondisi yang
problematik dan guru membimbingnya.[6]
Menurut penelitian psikologis, mengungkapkan adanya sejumlah aspek yang
khas sifatnya dari yang dikatakan belajar penuh makna. Belajar yang penuh makna
itu adalah sebagai berikut :
1. Belajar menurut esensinya memiliki tujuan , belajar memiliki makna yang
penuh, dalam arti siswa/subjek belajar, memperhatikan makna tersebut.
2. Dasar proses belajar adalahsesuatu yang bersifat eksplorasi serta menemukan
dan bukan merupakan pengulanagn rutin.
3. Hal belajar yang dicapai itu selalu memunculkan pemahaman atau pengertian
atau menimbulkan reaksi atau jawaban yang dapat dipahami dan diterima oleh
akal.
4. Hasil belajar itu tidak terkait pada situasi di tempat mencapai, tetapi dapat juga
digunakan dalam situasi lain.
1. Antara “mengajar “ dan “mendidik “
Bicara tentang pengertian mengajar kalau dilihat esensinya dalam proses
belajar – mengajar, sudah menyangkut kegiatan mendidik, dalam arti untuk
mengantarkan siswa kepada tingkat kedewasaanya , baik secara fisik maupun
mental. Tetapi dalam uraian berikut ini mencoba membedakan, dengan suatu
maksud memberikan suatu penamaan terhadap kenyataan yang kini sedang
berkembang . kenyataan yang dimaksud adalah keadaan proses dan hasil
pengajaran di sekolah – sekolah. Sehingga pembedaan ini tidak ensensial dan
konseptual. Oleh karena itu mengajar dan mendidik akan ditempatkan di antara
tanda petik (“.....”).
Memang kalau dilihat dari segi asal katanya, keduanya memiliki arti yang
sedikit beda .” mengajar “.memberi pelajaran misalnya memberi pelajaran
matematika, memberi pelajaran bahasa, sejarah, agar siswa di ajari mengetahui dan
paham tentang bahan yang diajarkan tadi.” MENDIDIK “ : memelihara dan
memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pemikiran. Menurut umum
mengajar diartiakn sebagai usaha guru untuk menyampaikan dan menanamkan
pengetahuan kepada siswa/anak didik .
Mendidik dapat di artiakan sebagai suatu usaha untuk mengantarkan anak
didik kearah kedewasaannya baik secara jasmanai maupun rohani . Oleh karena itu
mendidik dikatakan sebagai upaya pembinaan pribadi, sikap mental dan akhlak
anak didik . dibandingkan dengan pengertian “mengajar “, maka pengertian
“mendidik “ lebih mendasar . “ mendidik “ tidak sekedar transfer of knowledge ,
tetapi juga transfer of values “ mendidik “ diartikan lebih komprehensif, yakin
usaha membina diri anak didik secara utuh baik matra kognitif, psikomotorik
maupun efektif, agar tumbuh sebagai manusia – manusia yang berkepribadian.
Berkait dengan soal pembentukan kepribadian siswa(anak didik) “mendidik”
juga harus merupakan usaha memberikan tuntutan kepada siswa untuk dapat
berdiri sendiri dengan norma – norma kemnusiaan yang sesuai dengan kepribadian
bangsa, yakni pancasila. Untuk mengantarkan anak didik ketingkat itu memerlukan
berbagai komponen dan proses, sepertian kegiatan penyampaian materi pelajaran,
kegiatan motivasi, penenaman nilai – nilai yang sesuai dengan materi yang
diberikan. Itulah maka “mendidik “ harus merupakan usaha untuk memberikan
motivasi kepada siswa agar terjadi proses internalisasi nilai – nilai pada dirinya
sehingga akan lahir suatu sikap yang baik.
Sehubung dengan urayan dan kenyataan diatas,”mengajar” dalam kegiatan
belajar – mengajar harus diterjemahkan secara konseptual, disikroniskan dengan
pengertian “mendidik “ oleh karena itu , “Raka Joni” memberikan batasan
mengajar adalah menyediakan kondisi optimal yang merangsang serta
mengarahkan kegiatan belajar anak didik untuk memproleh pengetahuan,
keterampilan dan nilai atau sikap yang dapat membawa perubahan tingkah laku
maupun pertumbuhan sebagai pribadi. [7]
C. Pengertian konsep pembelajaran
1. Pembelajaran
Reigeluth, Bunderson dan Meril (1977) menyatakan strategi mengorganisasi
isi pelajaran disebut sebagai struktural strategi, yang mengacu pada cara untuk
membuat urutan dan mensintesis fakta, konsep prosedur dan prinsip yang
berkaitan.[8]
Secara umum istilah belajar dimaknai sebagai suatu kegiatan yang
mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku. Dengan pengertian demikian,
maka pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh
guru atau seorang pendidik sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah
ke arah yang lebih baik . Adapun yang dimaksud dengan
proses pembelajaran adalah sarana dan cara bagaimana suatu generasi belajar, atau
dengan kata lain bagaimana sarana belajar itu secara efektif digunakan. Hal ini
tentu berbeda dengan proses belajar yang diartikan sebagai cara bagaimana para
pembelajar itu memiliki dan mengakses isi pelajaran itu sendiri .(MAKALAH
MADI)
Dari pengertian tersebut, maka dapat dipahami bahwa pembelajaran
membutuhkan hubungan dialogis yang sungguh-sungguh antara guru dan peserta
didik, dimana penekanannya adalah pada proses pembelajaran oleh peserta
didik(student of learning), dan bukan pengajaran oleh guru(teacher of teaching) .
Konsep seperti ini membawa konsekuensi kepada fokus pembelajaran yang lebih
ditekankan pada keaktifan peserta didik sehingga proses yang terjadi dapat
menjelaskan sejauh mana tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat
dicapai oleh siswa.
2. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran adalah salah satu aspek yang perlu
dipertimbangkan dalam merencanakan pembelajaran. Segala kegiatan
pembelajaran muaranya pada tercapainya tujuan tersebut.
Dilihat dari sejarahnya, tujuan pembelajaran pertama kali diperkenalkan
oleh B. F Skinner pada tahun 1950 yang diterapkannya dalam ilmu perilaku
(Behavioural science) dengan maksud untuk meningkatkan mutu pembelajaran.
Kemudian diikuti oleh Robert Mager yang menulis buku yang berjudul: “Preparing
Instructional Objective” padatahun 1970 diseluruh lembaga pendidikan termasuk
di Indonesia. Tujuan pembelajaran ini bukan saja memperjelas arah yang ingin
dicapai dalam suatu kegiatan belajar, tetapi dari segi efisiensi diperoleh hasil
belajar yang maksimal.[9]
Pengertian yang diberikan para ahli pembelajaran tentang tujuan
pembelajaran, yang satu sama lain memiliki kesamaan disamping ada perbedaan
sesuai dengan sudut pandang garapannya. Robert F. Mager (1962) misalnya
memberikan pengertian tujuan pembelajaran sebagai tujuan perilaku yang hendak
dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa ataupesertadidik pada kondisi dan
tingkat kompetensi tertentu. Pengertian kedua dikemukakan oleh Edwar L.
Dejnozka dan David E. Kapel (1981), juga Kemp (1977) yang memandang bahwa
tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam
perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisna untuk
menggambrkan hasil belajar yang diharapakan. Perilaku ini dapat berupa fakta
yang samar. Definisi ke tiga dikemukakan oleh Fred Percival dan Henry Ellington
(1984) yakni tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan yang jelas dan
menunjukan penampilan atau keterampilan siswa tertentu yang diharapkan dapat
dicapai sebagai hasil belajar
Peserta didik ini dituntut keaktifannya bukan hanya dituntut secara fisik saja,
tetapi juga dari segi kejiwaan. Apabila hanya fisik peserta didik saja yang aktif,
tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan
pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya dengan peserta didik tidak belajar,
karena peserta didik tidak merasakan perubahan di dalam dirinya .
Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan
lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dan tugas
guruataupendidikadalah mengkoordinasikan lingkungan agar menunjang terjadinya
perubahan perilaku bagi peserta didik. Pembelajaran juga dapat diartikan sebagai
usaha sadar pendidik untuk membantu peserta didik agar mereka dapat belajar
sesuai dengan kebutuhan dan
minatnya. Pentingnyaperananseorangpendidik sebagai fasilitator yang
menyediakan fasilitas dan menciptakan situasi yang mendukung peningkatan
kemampuan belajar siswa .[10]
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pembelajaran
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran adalah sebagai berikut :
1. Faktor Kecerdasan
Kecerdasan ialah kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan berfikir
yang bersifatnya rumit dan abstrak. Tingkat kecerdasan dari masing-masing tidak
sama. Ada yang tinggi, ada yang sedang dan ada pula yang rendah. Orang yang
tingkat kecerdasannya tinggi dapat mengolah gagasan yang abstrak, rumit dan sulit
dilakukan dengan cepat tanpa banyak kesulitan-kesulitan dibandingkan dengan
orang yang kurang cerdas. Orang yang cerdas itu dapat memikirkan dan
mengerjakan lebih banyak, lebih cepat dengan tenaga yang relatif sedikit.
Kecerdasan adalah suatu kemapuan yang dibawa dari lahir sedangkan pendidikan
tidak dapat meningkatkannya, tetapi hanya dapat mengembangkannya. Namun hal
ini tingginya kecerdasan seseorang bukanlah suatu jaminan bahwa ia akan berhasil
menyelesaikan pendidikan dengan baik, karena keberhasilan dalam belajar bukan
hanya ditentukan oleh kecerdasan saja tetapi juga oleh faktor-faktor lainnya.
2. Faktor Belajar
Faktor belajar disini adalah semua segi kegiatan belajar, misalnya kurang
dapat memusatkan perhatian kepada pelajaran yang sedang dihadapi, tidak dapat
menguasai kaidah yang berkaitan sehingga tidak dapat membaca seluruh bahan
yang seharusnya dibaca. Termasuk di sini kurang menguasai cara-cara belajar
efektif dan efisien.

3. Faktor Sikap
Banyak pengaruh faktor sikap terhadap kegiatan dan keberhasilan siswa
dalam belajar. Sikap dapat menentukan apakah seseorang akan dapat belajar
dengan lancar atau tidak, tahan lama belajar atau tidak, senang pelajaran yang di
hadapinya atau tidak dan banyak lagi yang lain. Diantara sikap yang dimaksud di
sini adalah minat, keterbukaan pikiran, prasangka atau kesetiaan. Sikap yang
positif terhadap pelajaran merangsang cepatnya kegiatan belajar.
4. Faktor Kegiatan
Faktor kegiatan ialah faktor yang ada kaitannya dengan kesehatan,
kesegaran jasmani dan keadaan fisik seseorang. Sebagaimana telah diketahui,
badan yang tidak sehat membuat konsentrasi pikiran terganggu sehingga
menganggu kegiatan belajar.
5. Faktor Emosi dan Sosial
Faktor emosi seperti tidak senang dan rasa suka dan faktor sosial seperti
persaingan dan kerja sama sangat besar pengaruhnya dalam proses belajar. Ada
diantara faktor ini yang sifatnya mendorong terjadinya belajar tetapi ada juga yang
menjadi hambatan terhadap belajar efektif.
6. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan ialah keadaan dan suasana tempat seseorang belajar.
Suasana dan keadaan tempat belajar itu turut juga menentukan berhasil atau
tidaknya kegiatan belajar. Kebisingan, bau busuk dan nyamuk yang menganggu
pada waktu belajar dan keadaan yang serba kacau di tempat belajar sangat besar
pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar. Hubungan yang kurang serasi dengan
teman dapat menganggu kosentrasi dalam belajar.
7. Faktor Guru
kemampuan guru mengajar, hubungan guru dengansiswasertakepribadian
guru dan perhatian guru terhadap kemampuan siswanya turut mempengaruhi
keberhasilan belajar. Guru yang kurang mampu dengan baik dalam mengajar dan
yang kurang menguasai bahan yang diajarkan dapat menimbulkan rasa tidak suka
kepada yang diajarkan dan kurangnya dorongan untuk menguasainya dipihak
siswa. Sebaliknya guru yang pandai mengajar yang dapat menimbulkan pada diri
siswa rasa menggemari bahan yang diajarkannya sehingga tanpa disuruh pun siswa
banyak menambah pengetahuannya dibidang itu dengan membaca buku-buku,
majalah dan bahan cetak lainnya. Guru dapat juga menimbulkan semangat belajar
yang tinggi dan dapat juga mengendorkan keinginan belajar yang sungguh-
sungguh. Siswa yang baik berusaha mengatasi kesulitan ini dengan memusatkan
perhatian kepada bahan pelajaran, bukan kepada kepribadian gurunya.[11]

D. Istilah – istilah dalam proses pembelajaran


1. Konsep yang terdapat dalam Pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki
kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa binggung untuk
membedakannya.istilah –istilah tersebut adalah :
1. Teori pembelajaran
Teori adalah prinsip/kaedah /dalil tentang suatu fenomena alam atau
sosial yang telah di uji kemebanarannya oleh banyak pihak dan dapat di gunakan
untuk merumuskan serta meramalkan fenomena yang sejenis di tempat dan waktu
yang berbeda .Contoh : teori pythagoreas, teori gravitasi newton, teori evolusi
Darwin, dan sebagainya. Sedangkan teori pembelajaran adalah seperangkap prinsip
/ kaidah tentang fenomena belajar dan mengajar yang telah diuji kebenarannya
oleh banyak pihak yang dapat digunakan untuk memformulasikan dan meramalkan
kegiatan pembelajaran ditempat dan waktu yang terkenal adalah teori pembelajaran
bahaviorisme, teori pembelajaran kognitivisme, teori pembelajaran
konstruktivisme, dll.

2. Pendekatan ( paradigma )
Adalah titik tolak atau sudut pandang (world view ) seseorang terhadap
suatu objek atau permasalahan. Pendekatan juga dapat di artikan sebagai cara
umum dalam memandang permasalahan atau objek kajian; laksana pakaian
kacamata merah – semua tampak kemerah – merahan .
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak sudut
pandang pendidik terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan
tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamanya
mewadahi,menginspirasi, menguatkan dan melatari metode pembelajaran dengan
cukup teoritis tertentu. Dilihat dari pendekatanya, pembelajaran dengan cakupan
teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat beberapa jenis
pendekatan, antara lain : (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau
berpusat pada peserta didik (student centered apaproach ); (2) pendekatan
pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered
approach) ; (3) pendekatan ekonomi pendidikan yang memandang anak sekolah
sebagai investasi masa depan sehingga kegiatan pembelajaran harus dirancang
sesuai dengan kebutuhan pasar kerja yang dapat mengembalikan investasi yang
dibutuhkan selama sekolah baik kepada diripeserta didik, keluarga maupun kepada
negara ; (4) pendekatan agama memandang pendidikan dan pembelajaran sebagai
bagian dari nilai ibadah sehingga nilai – nilai agama sangat mempengaruhi
terhadap seluruh proses pendidikan dan pembelajaran seperti konsep pembelajaran
yang dicetuskan oleh ulama imam Zarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’allim yang
banyak dijadikan rujukan pesantren di indonesia, dan lain-lain.
3. Strategi pembelajaran
Adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus di kerjakan guru dan
peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
4. Metode pembelajaran
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk
mengimplementasikannya digunakan sebagai metode pembelajaran tertentu.
Metode adalah “ a way in achieving something” (wina sanjaya (2008). Jadi metode
pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yanag sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata
dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode
pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi
pembelajaran, di antaranya : (1) ceramah (2) demonstrasi, (3) diskusi, (4) simulasi,
(5) laboratorium, (6) pengalaman lapangan, (7) brainstroming, (8) debat, (9)
simposium, dan sebagainya.
5. Teknik pembelajaran
Ialah cara yang dilakukan seorang dalam mengimpelmentasikan suatu
metode secara spesifiki.
6. Taktik pembelajaran
merupakan gaya seorang dalam melaksanakan metode atau teknik
pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang
sama – sama menggunakan metode ceramah tetapi mungkin akan sangat berbeda
dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya , yang satu cenderung
banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang
tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor , tetapi lebih
banyak menggunakan alat bantu elektronik karena memang sangat menguasai
bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari
masing – masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe
kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan
menjadi sebuah ilmu sekaligus seni (teaching is science and art ).
7. Tips atau trik pembelajaran
Tips atau trik adalah kiat –kiat khusus yang bersifat unik untuk dapat
diterapkan secara khusus dan tepat guna untuk mencapai suatu sasaran. Tip atau
trik pembelajaran adalah kiat – kiat khusus yang bersifat unik untuk dapat
diterapkan secara khusus dan tepat dalam kegaiatan belajar dan mengaja untuk
mencapai tujuan pembelajaran secara efektif. Contoh : tips guru pada saat
menghadapi siswa sedang mengantuk dikelas, dll.
8. Tips atau trik pembelajaran
Keywords adalah kata – kata kunci yang memiliki makna dan hubungan
yang amat penting terkait dengan tema, topik, dan judul yang sedang di bahas
dalam kegiatan pembelajaran
9. Password atau klik
Adalah suatu tindakan dan atau satu ungkapan yang sangat menarik,
unik, dan tepat sasaran sebagai kunci pembuka untuk membangkitkan gairah
pembelajaran sehingga sejak awal hingga akhir kegiatan belajar mengajar tampak
menarik, menantang, dialogis, dan penuh bermakna bagi peserta didik.
10. Prosedur pembelajaran
Prosedur adalah urutan – urutan mengerjakan sesuatu , misalnya prosedur
masak nasi, prosedur membuat KTP, prosedur pembelajaran adalah urutan – urutan
pembelajaran mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksananaan, dan
evaluasi hingga feedback/umpan balik untuk perbaikan pembelajaran selanjutnya.
Prosedur umumnya disusun melalui bagian yang menunjukkan langkah – langkah
atau urutan – urutan dari awal hingga akhir kegiatan pembelajaran.
11. Model pembelajaran
Adalah kerangka konseptual yang melukis kan prosedur yang sistematik
dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar
tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru
dalam merancangkan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar (udin S.
Winataputra, 1994 ).[12]
2. Hubungan Pembelajaran dan belajar
Pembelajaran dan belajar merupakan dua kegiatan yang tidak dapat
dipisahkan dan saling mempengaruhi karena belajar merupakan salah satu bagian
dari kegiatan pembelajaran, sedangkan pembelajaran itu sendiri merupakan usaha
untuk menciptakan pengalaman belajar pada siswa karena pembelajaran pada
hakekatnya adalah proses interaksi antara siswa dengan lingkungan, sehingga
terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dan tugas guru adalah
mengkoordinasikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku
pada siswa dan menciptakan situasi yang mendukung peningkatan kemampuan
belajar siswa.
Jadi belajar dan pembelajaran memiliki hubungan yang sangat erat dan
keduanya tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Balajar merupakan proses
yang dilakukan manusia untuk mendapatkan aneka ragam kemampuan
(competencies), keterampilan (skills), dan sikap (attitudes).
Sedangkan pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memfalitasi
dan mendukung guna meningkatkan intensitas dan kualitas belajar peserta didik.
Dengan kata lain, kegiatan pembelajaran bertujuan untuk mengoptimalkan potensi
pada siswa. Dan belajar merupakan proses yang dilakukan untuk mengoptimalkan
potensi tersebut.

http://klik-sini-sob.blogspot.com/2013/10/konsep-belajar-mengajar-
pembelajaran.html