Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, karena karunia dan berkat-Nya sehingga
Laporan Mini Project yang berjudul “GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN MENGENAI
DEMENSIA DI RW 11 KELURAHAN CIPINANG MELAYU JAKARTA TIMUR” ini dapat
diselesaikan. Laporan Mini Project ini diajukan sebagai bagian dari kegiatan Program Internsip
Dokter Indonesia di Puskesmas Cipinang Melayu. Pada kesempatan ini, tak lupa saya
mengucapkan terima kasih kepada:

1. dr. Beby Muhrisa selaku kepala Puskesmas Cipinang Melayu.


2. dr. Beby Muhrisa selaku pendamping selama menjalankan Program Internsip Dokter
Indonesia di Puskesmas Cipinang Melayu.
3. Seluruh karyawan Puskesmas Cipinang Melayu dan teman-teman yang telah
membantu selama pembuatan Laporan Mini Project ini.
4. Para kader dan masyarakat di kelurahan Cipinang Melayu

Akhir kata saya mengucapkan terima kasih kepada setiap pihak yang telah membantu
sampai selesainya Laporan Mini Project ini. Saya menyadari bahwa Laporan Mini Project ini
masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan laporan ini. Semoga Laporan Mini Project
ini berguna bagi kita semua.

Jakarta, Juli 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.….............................................................................................….... 1

DAFTAR ISI …….................................................................................................... ........... 2

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... ........... 4

1.1 Latar Belakang.................................................................................................... 4

1.2 Rumusan Masalah................................................................................................ 5

1.3 Tujuan.…………………………………………………………....................... 5

1.4 Manfaat................................................................................................................ 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................................................... 6

2.1 Definisi dan Etiologi............................................................................................ 6

2.2 Epidemiologi........................................................................................................ 6

2.3 Klasifikasi Penyakit Kusta................................................................................... 7

2.4 Cara Penularan Penyakit Kusta............................................................................ 9

2.5 Diagnosa Penyakit Kusta..................................................................................... 9

2.6 Pemeriksaan Penderita......................................................................................... 10

2.7 Pencegahan Penyakit Kusta................................................................................. 15

2.8 Pencegahan Kecacatan......................................................................................... 16

2.9 Penemuan dan Pengobatan Penyakit Kusta...................................................... 18

BAB III METODE............................................................................................................... 26

3.1 Jenis Metode ………………………………..............……………………....... 26

3.2 Sasaran .... ............................................................................................... ........... 27

3.3 Media ..................................................................................................... ........... 28

BAB IV ANALISIS PEMECAHAN MASALAH............................................................. 29


4.1 Analisis Penyebab Masalah ............................................................................... 29

4.2 Konfirmasi Kemungkinan Penyebab Masalah ................................................... 30

4.3 Penentuan Alternatif Pemecahan Masalah ......................................................... 31

BAB V HASIL.................................................................................................................... 32

5.1 Profil Komunitas Umum .................................................................................... 32

5.2 Data Geografis ................................................................................................... 33

5.3 Data Demografik ................................................................................................ 33

5.4 Sumber Daya Kesehatan Puskesmas Cipinang Melayu...................................... 34

5.5 Sarana Pelayanan Kesehatan Kelurahan Cipinang Melayu ................................ 35

5.6 Data Kesehatan Masyarakat ................................................................................ 35

5.7 Data Penderita Penyakit Kusta.............................................................................35

BAB VI PEMBAHASAN.................................................................................................... 38

BAB VI PENUTUP.............................................................................................................. 41

6.1 Kesimpulan ........................................................................................................ 41

6.2 Saran .................................................................................................................. 41

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 42

LAMPIRAN ........................................................................................................................ 44
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun 1998 tentang
Kesejahteraan Lanjut Usia, yang dimaksud dengan Lanjut Usia (Lansia) adalah seseorang yang
telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Menurut World Health Organisation (WHO), lansia adalah
seseorang yang telah memasuki usia 60 tahun keatas. Lansia merupakan kelompok umur pada
manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Kelompok yang
dikategorikan lansia ini akan terjadi suatu proses yang disebut Aging Process atau proses
penuaan.1
Berdasarkan data proyeksi penduduk, diperkirakan tahun 2017 terdapat 23,66 juta jiwa
penduduk lansia di Indonesia (9,03%). Diprediksi jumlah penduduk lansia tahun 2020 (27,08
juta), tahun 2025 (33,69 juta), tahun 2030 (40,95 juta) dan tahun 2035 (48,19 juta). Pada tahun
1996 pemerintah Republik Indonesia menetapkan tanggal 29 Mei untuk diperingati setiap tahun
sebagai Hari Lanjut Usia Nasional. Ditinjau dari aspek kesehatan, kelompok lansia akan
mengalami penurunan derajat kesehatan baik secara alamiah maupun akibat penyakit. Kelompok
lansia akan lebih rentan terhadap keluhan fisik, baik karena faktor alamiah maupun karena
penyakit. Masalah kesehatan jiwa pada lanjut usia juga termasuk masalah yang harus
diperhatikan. Salah satu masalah yang berhubungan dengan kesehatan jiwa adalah demensia.2
Menurut PPDGJ – III, Demensia merupakan suatu sindrom akibat penyakit / gangguan
otak yang biasanya bersifat kronik – progresif, dimana terdapat gangguan fungsi luhur kortikal
yang multiple ( multiple higher cortical function ), termasuk di dalamnya : daya ingat, daya pikir,
orientasi, daya tangkap ( comprehension ), berhitung, kemampuan belajar, berbahasa, dan daya
nilai ( judgement ). Umumnya disertai dan ada kalanya diawali dengan kemerosotan (
deterioration ) dalam pengendalian emosi, perilaku sosial, atau motivasi hidup.3

Berdasarkan data kunjungan pasien di Kelurahan Cipinang Melayu , angka kunjungan


pasien lansia yaitu di atas 60 tahun pada periode 2017 – 2018 sebanyak 540 pasien dengan
penyakit terbanyak di antaranya hipertensi, Diabetes Mellitus, Penyakit Jantung Koroner, stroke
dan Osteoporosis. Berdasarkan data puskesmas kelurahan cipinang melayu masalah kesehatan
jiwa yang sudah terdeteksi sebanyak 23 orang yaitu penyakit skizofrenia dan sedang menjalani
pengobatan di RSKD duren sawit. Namun masalah kesehatan jiwa yang lainnya khusunya
masalah kesehatan jiwa pada lansia belum berhasil terdeteksi. Selain itu angka capaian standar
pelayanan minimal di bidang kesehatan jiwa masih rendah.

Berdasarkan riset kesehatan dasar (riskesdas) tahun 2013, penyakit terbanyak pada lanjut
usia terutama adalah penyakit tidak menular antara lain hipertensi, osteo artritis, masalah gigi-
mulut, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dan Diabetes Mellitus (DM). Masalah utama
bagi para lanjut usia adalah pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan, oleh karena itu perlu
dikembangkan pelayanan kesehatan yang lebih mengutamakan upaya peningkatan, pencegahan,
dan pemeliharaan kesehatan di samping upaya penyembuhan dan pemulihan.4

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan tersebut, dirumuskan permasalahan


penelitian, yaitu:

Bagaimanakah gambaran tingkat pengetahuan mengenai demensia di RW 11 Kelurahan


Cipinang Melayu Jakarta Timur

1.3. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan mengenai demensia di RW 11 Kelurahan


Cipinang Melayu Jakarta Timur

2. Memberikan intervensi berupa penyuluhan mengenai demensia di RW 11 Kelurahan


Cipinang Melayu Jakarta Timur

1.4. Manfaat Penelitian


1. Bagi Penulis
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan penulis mengenai demensia
dan memberikan pengalaman berupa terjun langsung ke masyarakat untuk
memberikan intervensi berupa penyuluhan.
2. Bagi Puskesmas
Laporan ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan bagi program
terkait kesehatan jiwa khususnya pada lansia yang dilaksanakan di Puskesmas
Kelurahan Cipinang Melayu.
3. Bagi Masyarakat
Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai demensia sehingga
penyakit ini dapat ditangani lebih dini.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Demensia

2.1.1. Definisi Demensia

Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa edisi ke III (PPDGJ –III)
menyatakan bahwa demensia merupakan suatu sindrom yang diakibatkan oleh penyakit atau
gangguan otak yang biasanya bersifat kronikprogresif dimana terdapat gangguan fungsi
luhur kortikal yang multipel (multiple higher cortical function) termasuk di dalamnya daya
ingat, daya pikir, orientasi, daya tangkap (comprehension), berhitung, kemampuan belajar,
berbahasa, dan daya nilai (judgement). Demensia umumnya disertai dan ada kalanya diawali
dengan kemerosotan (deterioration) dalam pengendalian emosi, perilaku sosial, atau
motivasi hidup.3

2.1.2. Epidemiologi

Data WHO (2010) menunjukkan bahwa jumlah penduduk dunia yang menderita
demensia sebanyak 36 juta orang. Jumlah penderitanya diprediksi akan meningkat dua kali
lipat di tahun 2030 sebanyak 66 juta orang. Hasil perkiraan prevalensi demensia di
Indonesia menurut Laporan World Alzheimer 2015, memperkirakan bahwa pada tahun 2015
ada lebih dari 556.000 orang dengan demensia di Indonesia. Pada Tahun 2030 diperkirakan
jumlahnya akan meningkat menjadi hampir 2,3 juta. Kurang dari empat tahun Indonesia
akan memiliki struktur penduduk yang tua, yaitu 4 persentase penduduk yang berusia 60
tahun atau lebih paling tidak 10%.5

2.1.3. Faktor Risiko

 Usia: Demensia umumnya terjadi pada orang yang berusia di atas 65 tahun. Risiko
demensia meningkat secara signifikan seiring dengan bertambahnya usia.
 Riwayat kesehatan keluarga: Orang yang memiliki riwayat kesehatan keluarga yang
pernah menderita demensia memiliki faktor risiko yang lebih besar.

 Jenis kelamin: Demensia lebih sering terjadi pada wanita, sebagian besar terjadi
karena wanita hidup lebih lama daripada pria.

 Gaya hidup: Orang yang menderita tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang tinggi
atau diabetes, dll, memiliki faktor risiko yang lebih tinggi terkena demensia jika mereka
tidak mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan kondisi kesehatan mereka.

 Gangguan kognitif: Orang dengan gangguan kognitif karena berbagai macam


gangguan atau faktor lainnya memiliki faktor risiko yang lebih tinggi terkena demensia
di tahun-tahun selanjutnya.

 Tingkat pendidikan: Penelitian telah menunjukkan bahwa orang dengan tingkat


pendidikan yang lebih rendah memiliki faktor risiko yang lebih tinggi terkena
demensia. Mungkin saja orang yang berpendidikan tinggi melakukan lebih banyak
latihan mental, yang melindungi otak mereka dari proses degenerasi.

2.1.4. Klasifikasi

Demensia dapat diklasifikasikan berdasarkan umur, perjalanan penyakit, kerusakan


struktur otak,sifat klinisnya dan menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa di Indonesia III.3

Menurut Umur:
 Demensia senilis (>65th)
 Demensia prasenilis (<65th)

Menurut perjalanan penyakit:

 Reversibel
 Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma, Defisiensi vitamin
B, Hipotiroidism, intoksikasi Pb)
Menurut kerusakan struktur otak

 Tipe Alzheimer
 Tipe non-Alzheimer
o Demensia vaskular
o Demensia Jisim Lewy (Lewy Body dementia) o Demensia Lobus frontal-temporal
o Demensia terkait dengan HIV-AIDS o Morbus Parkinson
o Morbus Huntington
o Morbus Pick
o Morbus Jakob-Creutzfeldt
o Sindrom Gerstmann-Sträussler-Scheinker o Prion disease
o Palsi Supranuklear progresif o Multiple sklerosis
o Neurosifilis
Berdasarkan PPDGJ III demensia termasuk dalam F00-F03 yang merupakan gangguan
mental organik dengan klasifikasinya sebagai berikut ;

 F 00 Demensia pada penyakit Alzheimer


 F00.0 Demensia pada penyakit Alzheimer dengan onset dini
 F00.1 Demensia pada penyakit Alzheimer dengan Onset Lambat
 F00.2 Demensia pada penyakit Alzheimer dengan, tipe tidak khas atau tipe
campuran
 F00.9 Demensia pada penyakit Alzheimer YTT (Yang Tidak Tergolongkan)
 F 01 Demensia Vaskular
 F01.0 Demensia Vaskular Onset akut
 F01.1 Demensia Vaskular Multi-Infark
 F01.2 Demensia Vaskular Sub Kortikal
 F01.3 Demensia Vaskular campuran kortikal dan subkortikal
 F01.8 Demensia Vaskular lainnya
 F01.9 Demensia Vaskular YTT
 F02 Demensia pada penyakit lain
 F02.0 Demensia pada penyakit PICK
 F02.1 Demensia pada penyakit Creutzfeldt-Jakob
 F02.2 Demensia pada penyakit Huntington
 F02.3 Demensia pada penyakit parkinson
 F02.4 Demensia pada penyakit HIV
 F02.8 Demensia pada penyakit lain YDT –YDK (Yang Di -Tentukan-Yang Di-
Klasifikasikan ditempat lain)
 F03 Demensia YTT

Karakter kelima dapat digunakan untuk menentukan demensia pada F00-F03 sebagai
berikut :

1. .X0 Tanpa gejala tambahan


2. .X1 Gejala lain, terutama waham
3. X2 Halusinasi
4. .X3 Depresi
5. X4 Campuran lain

2.1.5. Patofisiologi

Pasien umumnya mengalami atrofi kortikal dan berkurangnya neuron secara


signifikan terutama saraf kolinergik. Kerusakan saraf kolinergik terjadi terutama pada
daerah limbik otak (terlibat dalam emosi) dan kortek (Memori dan pusat pikiran).
Terjadi penurunan jumlah enzim kolinesterasi di korteks serebral dan hippocampus
sehingga terjadi penurunan sintesis asetilkolin di otak.6

Di otaknya juga dijumpai lesi yang disebut senile (amyloid) plaques dan
neurofibrillary tangles, yang terpusat pada daerah yang sama di mana terjadi defisit
kolinergik sehingga plak tersebut berisi deposit protein yang disebut ß-amyloid.
Amyloid adalah istilah umum untuk fragment protein yang diproduksi tubuh secara
normal. Beta-amyloid adalah fragment protein yang terpotong dari suatu protein yang
disebut amyloid precursor protein (APP), yang dikatalisis oleh β-secretase. Pada otak
orang sehat, fragmen protein ini akan terdegradasi dan tereliminasi. 6

Sejumlah patogenesis penyakit alzheimer yaitu:6


1) Faktor genetik
Beberapa peneliti mengungkapkan 50% prevalensi kasus alzheimer ini
diturunkan melalui gen autosomal dominant. Individu keturunan garis pertama pada
keluarga penderita alzheimer mempunyai resiko menderita demensia 6 kali lebih
besar dibandingkan kelompok kontrol normal. Pemeriksaan genetika DNA pada
penderita alzheimer dengan familial early onset terdapat kelainan lokus pada
kromosom 21 diregio proximal log arm, sedangkan pada familial late onset
didapatkan kelainan lokus pada kromosom 19.
Begitu pula pada penderita down syndrome mempunyai kelainan gen
kromosom 21, setelah berumur 40 tahun terdapat neurofibrillary tangles (NFT),
ssenile plaque dan penurunan. Marker kolinergik pada jaringan otaknya yang
menggambarkan kelainan histopatolgi pada penderita alzheimer.
Hasil penelitian penyakit alzheimer terhadap anak kembar menunjukkan 40-
50% adalah monozygote dan 50% adalah dizygote. Keadaan ini mendukung bahwa
faktor genetik berperan dalam penyakit alzheimer. Pada sporadik non familial (50-
70%), beberapa penderitanya ditemukan kelainan lokus kromosom 6, keadaan ini
menunjukkan bahwa kemungkinan faktor lingkungan menentukan ekspresi genetika
pada alzheimer
2) Faktor infeksi
Ada hipotesa menunjukkan penyebab infeksi virus pada keluarga penderita
alzheimer yang dilakukan secara immuno blot analisis, ternyata diketemukan adanya
antibodi reaktif. Infeksi virus tersebut menyebabkan infeksi pada susunan saraf pusat
yang bersipat lambat, kronik dan remisi. Beberapa penyakit infeksi seperti
Creutzfeldt-Jacob disease dan kuru, diduga berhubungan dengan penyakit alzheimer.
Hipotesa tersebut mempunyai beberapa persamaan antara lain:
a. Manifestasi klinik yang sama
b. Tidak adanya respon imun yang spesifik
c. Adanya plak amyloid pada susunan saraf pusat
d. Timbulnya gejala mioklonus
e. Adanya gambaran spongioform
3) Faktor lingkungan
Ekmann (1988), mengatakan bahwa faktor lingkungan juga dapat berperan
dalam patogenesa penyakit alzheimer. Faktor lingkungan antara lain, aluminium,
silicon, mercury, zinc. Aluminium merupakan neurotoksik potensial pada susunan
saraf pusat yang ditemukan neurofibrillary tangles (NFT) dan senile plaque
(SPINALIS).
Hal tersebut diatas belum dapat dijelaskan secara pasti, apakah keberadaan
aluminum adalah penyebab degenerasi neurosal primer atau sesuatu hal yang
tumpang tindih. Pada penderita alzheimer, juga ditemukan keadan ketidakseimbangan
merkuri, nitrogen, fosfor, sodium, dengan patogenesa yang belum jelas.
Ada dugaan bahwa asam amino glutamat akan menyebabkan depolarisasi
melalui reseptor N-methy D-aspartat sehingga kalsium akan masuk ke intraseluler
(Cairan-influks) danmenyebabkan kerusakan metabolisma energi seluler dengan
akibat kerusakan dan kematian neuron.

4) Faktor imunologis
Behan dan Felman (1970) melaporkan 60% pasien yang menderita alzheimer
didapatkan kelainan serum protein seperti penurunan albumin dan peningkatan alpha
protein, anti trypsin alphamarcoglobuli dan haptoglobuli.
Heyman (1984), melaporkan terdapat hubungan bermakna dan meningkat dari
penderita alzheimer dengan penderita tiroid. Tiroid Hashimoto merupakan penyakit
inflamasi kronik yang sering didapatkan pada wanita muda karena peranan faktor
immunitas.
5) Faktor trauma
Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan penyakit alzheimer
dengan trauma kepala. Hal ini dihubungkan dengan petinju yang menderita demensia
pugilistik, dimana pada otopsinya ditemukan banyak neurofibrillary tangles.
6) Faktor neurotransmiter
Perubahan neurotransmitter pada jaringan otak penderita Alzheimer
mempunyai peranan yang sangat penting seperti:
a. Asetilkolin
Barties et al (1982) mengadakan penelitian terhadap aktivitas spesifik
neurotransmiter dgncara biopsi sterotaktik dan otopsi jaringan otak pada penderita
alzheimer didapatkan penurunan aktivitas kolinasetil transferase, asetikolinesterase
dan transport kolin serta penurunan biosintesa asetilkolin.
Adanya defisit presinaptik dan postsynaptic kolinergik ini bersifat simetris
pada korteks frontalis, temporallis superior, nukleus basalis, hipokampus. Kelainan
neurottansmiter asetilkoline merupakan kelainan yang selalu ada dibandingkan jenis
neurottansmiter lainnyapd penyakit alzheimer, dimana pada jaringan otak/biopsinya
selalu didapatkan kehilangan cholinergik Marker.
Pada penelitian dengan pemberian scopolamine pada orang normal, akan
menyebabkan berkurang atau hilangnya daya ingat. Hal ini sangat mendukung
hipotesa kolinergik sebagai patogenesa penyakit Alzheimer.
b. Noradrenalin
Kadar metabolisme norepinefrin dan dopimin didapatkan menurun pada
jaringan otak penderita alzheimer. Hilangnya neuron bagian dorsal lokus seruleus
yang merupakan tempat yang utama noradrenalin pada korteks serebri, berkorelasi
dengan defisit kortikal noradrenergik.
Bowen et al(1988), melaporkan hasil biopsi dan otopsi jaringan otak penderita
alzheimer menunjukkan adanya defisit noradrenalin pada presinaptik neokorteks.
Palmer et al(1987), Reinikanen (1988), melaporkan konsentrasi noradrenalin
menurun baik pada post dan ante-mortem penderita alzheimer.
c. Dopamin
Sparks et al (1988), melakukan pengukuran terhadap aktivitas neurottansmiter
region hipothalamus, dimana tidak adanya gangguan perubahan aktivitas dopamin
pada penderita alzheimer. Hasil ini masih kontroversial, kemungkinan disebabkan
karena potongan histopatologi regio hipothalamus setia penelitian berbeda-beda.
d. Serotonin
Didapatkan penurunan kadar serotonin dan hasil metabolisme 5 hidroxi-
indolacetil acid pada biopsi korteks serebri penderita alzheimer. Penurunan juga
didapatkan pada nukleus basalis dari meynert. Penurunan serotonin pada subregio
hipotalamus sangat bervariasi, pengurangan maksimal pada anterior hipotalamus
sedangkan pada posterior peraventrikuler hipotalamus berkurang sangat minimal.
Perubahan kortikal serotonergik ini berhubungan dengan hilangnya neuron-neuron
dan diisi oleh formasi NFT pada nukleus rephe dorsalis
e. MAO (Monoamine Oksidase)
Enzim mitokondria MAO akan mengoksidasi transmitter mono amine.
Aktivitas normal MAO terbagi 2 kelompok yaitu MAO A untuk deaminasi serotonin,
norepineprin dan sebagian kecil dopamin, sedangkan MAO B untuk deaminasi
terutama dopamin. Pada penderita alzheimer, didapatkan peningkatan MAO A pada
hipothalamus dan frontais sedangkan MAO B meningkat pada daerah temporal dan
menurun pada nukleus basalis dari meynert.

2.1.6. Diagnosis

a. Gejala klinis 7
o Kehilangan ingatan jangka pendek dan sering melupakan percakapan atau janji,
yang bisa memengaruhi aktivitas atau kemampuan kerja sehari-hari
o Kesulitan dalam melakukan tugas biasa sehari-hari
o Masalah berbahasa, kesulitan berkomunikasi dengan orang lain
o Penilaian yang buruk
o Disorientasi waktu dan tempat. Bingung tentang waktu, tanggal atau tempat
o Masalah dengan pemikiran dan perhitungan
o Perubahan suasana hati dan perilaku
o Kehilangan inisiatif
o Lupa tempat menaruh barang-barang
o Perubahan kepribadian

b. Pemeriksaan
- Pemeriksaan fisik dan neurologi 7
Pemeriksaan yang sering digunakan untuk evaluasi dan konfirmasi penurunan
fungsi kognitif adalah the mini mental status examination (MMSE), yang dapat pula
digunakan untuk memantau perjalanan penyakit. Pada penyakit Alzheimer defisit yang
terlibat berupa memori episodik,category generation (menyebutkan sebanyak-
banyaknya binatang dalam satu menit),dan kemampuan visuokonstruktif. Defisit pada
kemampuan verbal dan memori episodik visual sering merupakan abnormalitas
neuropsikologis awal yang terlihat pada penyakit Alzheimer,dan tugas yang
membutuhkan pasien untuk menyebutkan ulang daftar panjang kata atau gambar
setelah jeda waktu tertentu akan menunjukkan defisit pada sebagian pasien penyakit
Alzheimer.
Pengkajian status fungsional harus juga dilakukan. Dokter harus menentukan
dampak kelainan terhadap memori pasien,hubungan di komunitas,hobi,penilaian,
berpakaian,dan makan. Pengetahuan mengenai status fungsional pasien sehari-hari
akan membantu mengatur pendekatan terapi dengan keluarga.
Tabel. Pemeriksaan Status Mental Mini (MMSE)

NILAI
NO TES
MAKSIMAL
ORIENTASI
1 Sekarang (tahun), (musim), (Bulan), (tanggal), Hari apa ? 5
2 Kita berada dimana? (Negara), (propinsi), (kota), (rumah sakit), 5
(lantai/kamar)
REGISTRASI
3 Sebutkan 3 buah nama benda (apel, meja, atau koin), setiap benda 1 3
detik, pasien disuruh mengulangi ketiga nama benda tadi. Nilai 1 untuk
setiap nama benda yang benar. Ulangi sampai pasien dapat menyebut
dengan benar dan catat jumlah pengulangan.

ATENSI DAN KALKULUS


4 Kurangi 100 dengan 7. Nilai 1 untuk tiap jawaban yang benar. 5
Hentikan setelah 5 jawaban. Atau disuruh mengeja terbalik kata
“WAHYU” (Nilai diberi pada huruf yang benar sebelum kesalahan ;
misalnya uyahw = 2 nilai.
MENGINGAT KEMBALI (RECALL)
5 Pasien disuruh menyebut kembali 3 nama benda di atas 3
BAHASA
6 Pasien disuruh menyebut nama benda yang ditunjukkan (pensil, buku) 2
7 Pasien disuruh mengulangi kata-kata: “namun”, “tanpa”, “bila”. 1
8 Pasien disuruh melakukan perintah : “Ambil kertas ini dengan tangan 3
anda!, lipatlah menjadi dua dan letakkan di lantai!”.
9 Pasien disuruh membaca dan melakukan perintah “Pejamkanlah mata 1
anda”
10 Pasien disuruh menulis dengan spontan 1
11 Pasien disuruh menggambar bentuk di bawah ini 1

Total 30

Skor
 Nilai 24-30 : Normal
 Niali 17-23 : Gangguan kognitif Probable
 Nilai 0-16 : Gangguan kognitif definit

- Pemeriksaan penunjang 7

 MRI atau Ct-Scan otak alah pemeriksaan radiologi yang utama. Pada penderita
Alzheimer, MRI atau CT-scan akan menunjukkan atrofi serebral atau kortikal
yang difus.
 SPECT scan. Pemeriksaan ini akan menunjukkan penurunan perfusi jaringan di
daerah Temporoparietalis bilateral yang biasanya terjadi pada penderita
Alzheimer.
 PET Scan .Pemeriksaan ini menunjukkan penurunan aktivitas metabolic di daerah
temporoparietalis bilateral.
 Indikasi MRI/CT Scan pada penderita demensia
 Awitan terjadi pada usia < 65 tahun.
 Manifestasi Klinis timbul < 2 tahun
 Tanda atau gejala neurologi asimetris.
 Gambaran klinis Hidrosefalus tekanan normal {NPH (Normal pressure
hydrocephalus)}

 EEG : Pemeriksaan ini menunjukkan penurunan aktivitas alfa dan peningkatan


aktivitas teta yang menyeluruh.
 Laboratorium darah : pemeriksaan laboratorium ini hanya untuk menyingkirkan
penyebab penyakit demensia lainnya seperti pemeriksaan darah rutin, B12,
Calsium, Posfor, BSE, fungsi renal dan hepar, tiroid, asam folat, serologi sifilis,
skreening antibody yang dilakukan secara selektif.7

2.1.7. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan untuk penderita demensia mencakup terapi simtomatik dan


rehabilitatif. Sasaran terapi simtomatik adalah mengurangi gejala kognitif, perilaku dan
psikiatrik.7

Nama Obat Golongan Indikasi Dosis Efek


Samping
Donepezil Penghambat DA Dosis awal 5 mg/hr bila Mual,
Kolinesterase ringan perlu, setelah 4-6 muntah,
sedang minggu menjadi diare,
10mg/hr. insomnia
Galantamine Penghambat DA Dosis awal 8 mg/hr; Mual,
kolinesterase ringan setiap bulan dosis muntah,
sedang dinaikkan 8 mg/hr diare,
hingga dosis maksimal anoreksia
24 mg/hr.
Rivastigmine Penghambat DA Dosis awal 2x1,5mg/hr; Mual,
kolinesterase ringan setiap bulan dinaikkan muntah,
sedang 2x1,5mg/hr hingga pusing, diare,
dosis maksimal 2x6 anoreksia
mg/hr.
Memantine Penghambat DA Dosis awal 5mg/hr; Pusing, nyeri
reseptor sedang setelah 1 minggu , dosis kepala,
NMDA berat dinaikkan menjadi 2x5 konstipasi
mg/hr dan seterusnya
hingga dosis maksimal
2x10 mg/hr

Pasien penderita demensia membutuhkan dukungan dan perhatian dari anggota keluarga
mereka. Tim medis akan memandu anggota keluarga untuk merawat pasien. Ada kelompok
pasien dan organisasi amal yang menyediakan kursus pelatihan bagi anggota keluarga. Berikut
adalah beberapa kiat untuk merawat penderita demensia:

(A) Perawatan harian

 Menetapkan jadwal bagi pasien, agar pasien tidak bingung karena kehilangan daya
ingat. Misalnya, menetapkan waktu makan dan jadwal kegiatan. Cobalah untuk
menghindari kegiatan yang drastis di malam hari.
 Pilih hal-hal yang pasien sukai, seperti pakaian dan makanan.
 Bantu pasien untuk merawat kebersihan diri dan kerapiannya. Dorong pasien untuk
melakukan hal-hal sederhana seperti berpakaian dan menyikat gigi. Bantu pasien
hanya bila diperlukan.
 Pilih pakaian yang mudah dikenakan oleh pasien, seperti pakaian dengan jumlah
kancing yang sedikit. Tempatkan tanda di lemari atau laci sehingga pasien bisa
mengambil berbagai hal dengan mudah.

(B) Lingkungan

 Gunakan tanda yang berukuran besar dan jelas untuk membantu pasien mengenali
tempat dan waktu, seperti jam dan kalender yang berukuran besar.
 Tempatkan lampu di rumah atau di samping tempat tidur, sehingga pasien tidak
akan merasa cemas saat bangun di tengah malam. Lampu ini juga bias mencegah
pasien tersandung.
 Cobalah untuk tidak mengubah lingkungan sekitar rumah, terutama kamar mandi,
toilet, dan dapur.
 Jangan pindah rumah, karena lingkungan yang baru bisa menyebabkan rasa bingung
dan takut.

(C) Teknik komunikasi

 Berbicara secara perlahan kepada pasien. Gunakan kalimat pendek dan langsung.
Katakan satu titik kunci saja dalam satu kalimat. Jangan membuat hal-hal menjadi
rumit.
 Ajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana. Biarkan pasien menjawab ya atau tidak.
Beri cukup waktu bagi pasien untuk memikirkan jawabannya.
 Ulangi pertanyaan jika pasien lupa.
 Jika pasien tidak bisa langsung menjawab pertanyaan, bersabarlah dan dorong
pasien untuk mengekspresikan pendapat dan perasaannya. Jika pasien masih tidak
bisa menjawab, jangan memaksanya. Coba dan ulangi lagi.
 Gunakan bahasa tubuh. Lakukan kontak mata saat Anda berbicara atau
mendengarkan pasien. Berikan tanggapan seperti menganggukkan kepala.
 Jika pasien menolak untuk ikut serta dalam kegiatan, jangan memaksanya.
 Jika Anda ingin pasien melakukan hal-hal yang tidak dikenalnya atau pergi ke
tempat yang asing, berikan waktu yang cukup kepada pasien untuk beradaptasi
dengan lingkungan baru, atau tinggal bersama dengan dirinya hingga pasien merasa
tidak asing dengan lingkungan sekitarnya. Memberikan perawatan kepada penderita
demensia merupakan tugas yang menantang secara fisik dan emosional. Jika ada
anggota keluarga yang tidak lagi mengenal diri Anda dan tidak bisa mengingat
waktu yang kalian habiskan bersama, Anda tentu akan merasa tertekan. Saat Anda
belajar tentang bagaimana cara untuk merawatnya, Anda bisa bergabung dengan
kelompok pendukung, berbagi perasaan dan pengalaman Anda dengan orang lain,
serta mengatasi tantangan bersama-sama.7