Anda di halaman 1dari 3

SAMBUTAN DEKAN FIB UI

PADA KULIAH UMUM MENTERI AGAMA RI


Depok, 20 Februari 2019

Assalamualaikum Wr. Wb.

 Yang terhormat Menteri Agama RI Bapak Lukman Hakim Saifuddin beserta


jajarannya.
 Yang terhormat Rektor Universitas Indonesia Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis
 Yang kami hormati Kaprodi Arab FIB UI dan staf pengajar
 Mahasiswa Prodi Arab Fib UI

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha
Pengasih dan Penyayang, karena atas ijin-Nya, pada hari ini kita dapat berkumpul di sini
untuk bersama-sama mengikuti Kuliah Umum “Islam dan Kebudayaan Indonesia”
bersama Menteri Agama RI Bapak Lukman Hakim Saifuddin.

Para hadirin yang saya hormati,

Indonesia mempunyai banyak suku, budaya, dan berbagai macam adat istiadat. Semua ini
didukung oleh falsafah negara yang selama ini kita tanamkan, yakni Bhinneka Tunggal Ika.

Berbicara Islam dan kebudayaan, Indonesia tidak bisa melupakan dan meniadakan
keberagaman yang ada di nusantara. Dengan banyaknya warna-warni di Indonesia, Islam pun
sudah selayaknya dijalankan bukan pada tekstual saja namun secara kontesktual. Begitupun
dengan penerapan hukumnya, haruslah menimbang bahwa ada konstitusi atau hukum Negara
yang berjalan di Indonesia.

Para hadirin yang saya hormati,

Islam dan budaya mempunyai wilayah masing-masing serta aturannya masing masing. Jika
Islam itu satu sedangkan budaya beragam, maka peletakannya haruslah seimbang dan tidak
berselisih. Sebagaimana pernah disinggung Gusdur: “Agama Islam bersumberkan wahyu dan
memiliki norma-normanya sendiri. Karena bersifat normatif, maka ia cenderung menjadi
permanen. Sedangkan budaya adalah buatan manusia, karenanya ia berkembang sesuai
dengan keadaan zaman dan cenderung untuk selalu berubah”. Artinya dalam hal ini ada
pertimbangan antara tekstual dengan kontekstual, dimana pakem Islam disesuaikan dengan
budaya yang berjalan di Indonesia.

Pada zaman kerajaan dahulu, dimana para sunan walisongo dan ulama mensyiarkan Islam
tanpa melepaskan aspek budaya di tempat mereka berada. Banyak contohnya seperti Sunan
Kalijaga yang menggunakan pakaian daerah selama masa hidupnya, berdakwah dengan
media gamelan dan wayang kulit, atau Sunan yang berada di Jawa yang terkenal dengan
Gong nya dalam mensyiarkan Islam.

Para hadirin yang saya hormati,

Ada sebuah falsafah Jawa lama yang berbunyi : “Karyenak Tyasing Sesama” yakni suatu
sikap atau perilaku yang berusaha menyenangkan orang lain. Menyenangkan dalam hal ini
adalah sikap yang bijaksana, sikap menyenangkan dan menentramkan orang lain,
mendahulukan kepentingan bersama (kedamaian dan ketentraman), namun dilandasi sikap
tanpa pamrih (Sepi Ing Pamrih) dan sepenuh hati (memberi kemudahan bagi orang lain,
tidak menyakiti orang lain). Islam pun mengajarkan nilai-nilai moral yang demikian, maka
sudah jelas bahwa Islam dan budaya sama sama mengajarkan suatu hal kedamaian dan
ketentraman, Islam ke Budaya itu haruslah fleksibel dan menampung kebutuhan-kebutuhan
yang budaya perlukan. Hal ini agar tidak adanya kesenjangan dan konflik dikarenakan
keberagaman yang ada, padahal nilai-nilai Islami juga terdapat dalam nilai nilai kebudayaan.

Sosiolog Thomas Odea memaparkan beberapa fungsi agama, seperti : agama oleh para
pemeluknya dianggap memberikan dukungan moral sehingga ia menjadi “lampu penenang”
kala pemeluknya dilanda kegundahan hati; praktik ibadah dalam agama yang
menghubungkan pemeluk dengan sesuatu yang transenden diyakini memberikan perasaan
damai; dan agama yang tumbuh berkembang dalam masyarakat dapat menjaga stabilitas
masyarakat. Kalau kita sandingkan fungsi-fungsi tersebut dengan budaya dan Islam sebagai
pelakunya, maka Islam yang berada di nusantara pun juga harus bisa memberikan dukungan
moral ke berbagai kalangan masyarakat yang berbeda budayanya masing masing. Sehingga
Islam bisa merangkul budaya Indonesia dan kebudayaan di Indonesia tidak hilang oleh peran
Islam tersebut.
Soekarno pernah berkata : “Negara Republik Indonesia ini bukan milik suatu golongan,
bukan milik suatu agama, bukan milik suatu suku, bukan milik suatu golongan adat istiadat,
namun milik kita semua dari Sabang sampai Merauke”. Jika pernyataan ini kita runutkan
mengenai Islam dan budaya, maka dapat kita pahami bahwa keberadaan Islam tidak bisa
lepas dari kebudayaan dan ragam corak lainnya di Indonesia, sehingga positioning dan
tindaklanjutnya haruslah bisa merangkul budaya dimana Islam berada.

Para hadirin yang saya hormati,

Kuliah Umum ini, kami harapkan dapat menjadi upaya aktif perguruan tinggi untuk
mendukung Indonesia dalam menciptakan kedamaian dan kerukunan hidup beragama.

Akhir kata, selamat mengikuti Kuliah Umum ini. Semoga apa yang kita lakukan hari ini
bermanfaat bagi kemajuan Indonesia.

Wassalamualaikum Wr.Wb.