Anda di halaman 1dari 3

Results

- Dari tahun 1992-2014, kami mengidentifikasi 204.582 data yang cocok pada persalinan
pertama dan kedua. Setelah mengekslusikan sekelompok wanita yang persalinan
pertamanya dengan persalinan prematur < 37 minggu (15101) dan ada data yang hilang,
total data yang akan dianalisa adalah 189.021
- Figure 1:
o Pada persalian pertama, 6346 (3,36%) persalinan SC dilakukan sebelum sampai saat
masa persalinan, 23072 (12,21%) pada kala 1, 8607 (4,55%) pada kala 2, 6049 (3,2%)
tidak diketahui kala berapa.
o Partus pervaginam/spontan sebanyak 99956 (52,88%) saat persalinan anak pertama,
sisanya persalinan dengan forcep/vakum sebnaya 44991 (23,8%)
- Tabel 1:
o Pada persalinan kedua, pada kelompok yang lakukan persalinan SC pada kala 2
sebelumnya, usia kehamilan <37 minggu ada 457 (5,3%), dan 80 (0.9%) UK < 32
minggu.
o Dibandingkan dengan kelompok yang yang partus pervaginam spontan, relative risk
(RR) dari persalinan prematur pada UK < 37 minggu jika dia sebelumnya pernah SC di
kala 2 adalah 1,57 (95% confidental interval, 1.43-1.73)
o Sedangkan RR perslinan prematur pada UK < 32 minggu adalah 2,12 (95% CI, 1.67-
2,68)
o Angka kematian janin (tidak termasuk kelainan kongenital) lebih tinggi pada
kelahiran bayi kedua dengan persalinan SC kala 2 pada kelahiran sebelumnya ( RR
1.44; 95% CI, 1,05-1,96), tapi tidak dengan persalinan pakai forcep/vakum (RR, 1.00;
95% CI, 0.83-1.20)
- Tabel 2:
o Jumlah persalinan prematur juga meningkat di persalinan kedua ketika sebelumnya
terjadi dilatasi 9-10 cm pada persalinan pertama dengan SC dibandingkan dengan
yang hanya dilatasi serviksnya 0-4 cm atau 5-8 cm
o RR dari persalinan prematur pada UK < 37 minggu di persalinan kedua yang
sebelumnya SC saat dilatasi seriks 9-10 cm dibanding 0-4 cm adalah 1.63% ((%% CI,
1.44-1.85)
o Rr yg UK < 32 minggu adalah 2.48 (95% CI, 1.77-3.49)
- Figure 2: menggambarkan survival curves dari UK persalinan kedua dengan membedakan
tipe perslainan pertamanya.
- Tabel 3:
o Untuk persalinan prematur dengan UK < 32 minggu perlu analisa tambahan untuk
mendapatkan hasilnya. Variabel seperti usia ibu hamil, merokok selama hamil, BB
selama hamil dimasukkan sesuai dengan studi sebelumnya yang menghubungkan
kedua hal tersebut dalam analisa univariat.
o Merokok selama hamil, usia ibu <20 tahun, dan BB> 91 kg sangat berhubugan
dengan hasil akhirnya.
o Setelah menambahkan faktor diatas, persalinan pertam dengan SC di kala 2
berhubungan dengan terjadinya presalinan prematur dengan UK < 32 minggu untuk
kelahiran bayi kedua (odd ratio 2,44; 95% CI, 1.91-3.10; P< 0.0001).
o Analisa kedua perlu direncanakan untuk menganalisa potensial efek dari durasi kala
2. Rerata durasi kala 2 pada persalinan pertama mirip antara persalinan prematur
UK < 32 minggu pada anak kedua dengan yang tindak (mean 1.58 vs 1.54 jam (P =
0,51).
o Pada analisa univariat, durasi kala 2 > 3 jam di persalinan pertama dihubungkan
dengan terjaadinya persalinan prematur dengan UK < 32 minggu pada bayi kedua
(OR 1.27; CI 1.02-1.7). Bagaimanapun, ketika rute perslainan pertama dimasukan ke
analisanya, persalinan dengan SC pada kala2 berhubungan dengan hasilnya (OR
2.03; 95% CI 1.53-2.69) tapi tidak dengan durasi dari kala 2 (OR 1.02; 95% CI, 0.79-
1.30)
- Tabel 4:
o Menggambarkan hubungan antara rute persalinan dan durasi kala 2 dengan
kejadian berulang persalinan prematur.
o Pada analisa sesebelumnya, juga memasukan faktor station penurunan kepala saat
persalinan dengan vakum/forcep.
o Angka kejadian berulang presalinan prematur UK < 32 minggu kietika pada
persalinan pertama pakai forcep/vakum dengan 0-2 station ialah 0.34% vs 0,45%
pada 3-4 station (P = .10).
o Analisa lebih lanjut tentang hubungan antara dilatasi serviks saat persalinan SC
dengan kejadian berulang persalinan prematur pada UK < 32 minggu sudah
dilakukan. Resiko kejadian aelanjutnya persalinan prematur meningkat setelah
sebelumnya SC saat dilatasi servviks mencapai ≥ 8 cm.

Comment

- Ini merupakan laporan pertama yang menunjukan kemungkinan hubungan antara persalinan
SC saat kala2 dengan persalinan prematur berulang. Namun, kelahiran prematur pada
subjek penelitian kebanyakan terjadi saat awal kehamilan dan dapat berkembang
kemungkinan meningkatnya angka kematian janin.
- Faktanya, tidak ada peningkatan resiko pada kelompok yang sebelumnya dilakukan
persalinan dengan forcep/vakum yang sebabkan kemungkinan ada faktor resiko lain yang
belum diketahui menjadi penyebab persalinan prematur.
- Sayangnya, sekarang dokter2 lebih banyak melakukan SC dibanding persalinan dengan
forcep/vakum saat persalinan kala 2. Hal ini sebenarnya belum jelas penyebabnya, tapi jika
dilihat trendnya karena takut terjadi taruma pada janin dan kemungkinan efek negative dari
persalinan forcep/vakum pada dasar pelvis.
- Bagimanapun, penelitian ini menemukan dampak potensial dari rute persalinan pada
kehamilan berikutnya juga mungkin harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.
- Di US tahun 2014, 26% atau kuranglebih 1,5 juta kelahiran pertama secara SC. Dari study
yang dilakukan oleh National Institutes of Health Consortium on Safe Labor, 23% persalinan
dengan SC dilakukan saat kala 2. Jika semua subjek penelitian memiliki kemungkinan hamil
lagi, maka hasilnya dapat ditambahkan 1700 persalinan prematur saat UK < 32 minggu dan
6555 saat UK < 37 minggu pertahunnya di US.
- Keterbatasan dari penelitian ini adalah data yang tersedia tidak dapat menentukan
mekanisme biologis hubungan antara persalinan SC kala 2 dengan kejadian presalinan
prematur berikutnya.
- Peneliti sebelumnya mencatat bahwa SC saat kala 2 berhubungan dengan resiko yang tak
terencana yaitu insisi uterus yang melebar.
- Ada kemungkinan bahwa banyak dari ekstensi ini dapat melibatkan bagian internal serviks.
Selain itu, seringkali sulit untuk menggambarkan serviks dengan jelas selama persalinan
sesar pada kala 1 atau kala 2 sehingga bahkan insisi uterus primer dapat melintang dengan
serviks.
- Penelitian ini tidak memiliki data tentang apakah dokter kandungan mengenali ini terjadi dan dalam
hal apa pun tidak jelas seberapa akurat penilaian ini. Sama membingungkannya dengan dokter
kandungan bahwa persalinan sesar kami dapat menyebabkan prematuritas, setidaknya ada peluang
untuk pencegahan.
-
- tidak memiliki data tentang apakah dokter kandungan tahu mengenai hal ini dan dalam
beberapa hal masih belum jelas seberapa akurat penilaian ini.
- Walaupun dari penelitian ini persalinan sesar dapat menyebabkan prematuritas, setidaknya
ada peluang untuk pencegahan.
- Telah ada minat dalam mengembangkan teknik atau peralatan bedah yang dapat
mengurangi risiko ekstensi rahim yang tidak direncanakan. Namun, teknik yang ditawarkan
belum mendapat evaluasi yang baik dalam percobaan secara klinis. Masih perlu beberapa
penelitian lagi untuk mengembangkan teknik ini.