Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGOLAHAN SINYAL DIGITAL


PERCOBAAN 8
“Operasi Konvolusi Sinyal Waktu Kontinyu”

ZENA VILLA NAZILA


3.33.17.1.23
KELAS TK-2B

PROGRAM STUDI DIII TEKNIK TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
2019
PERCOBAAN 8
OPERASI KONVOLUSI SINYAL WAKTU KONTINYU

A. Hasil Data Praktikum

No. Program Hasil


1. L=input('Banyaknya titik
sampel(>=20): ');
f1=input('Besarnya
frekuensi gel 1 adalah Hz: ');
f2=input('Besarnya
frekuensi gel 2 adalah Hz: ');
teta1=input('Besarnya fase
gel 1(dalam radiant): ');
teta2=input('Besarnya fase
gel 2(dalam radiant): ');
A1=input('Besarnya
amplitudo gel 1: ');
A2=input('Besarnya
amplitudo gel 2: '); %Sinus
pertama t=1:L; t=2*t/L;
y1=A1*sin(2*pi*f1*t +
teta1*pi); subplot(3,1,1)
stem(y1) %Sinus kedua
t=1:L; t=2*t/L;
y2=A2*sin(2*pi*f2*t +
teta2*pi); subplot(3,1,2)
stem(y2)

2. L=input('Banyaknya
titik sampel(>=20):
');
f1=input('Besarnya
frekuensi gel 1
adalah Hz: ');
f2=input('Besarnya
frekuensi gel 2
adalah Hz: ');
teta1=input('Besarnya
fase gel 1(dalam
radiant): ');
teta2=input('Besarnya
fase gel 2(dalam
radiant): ');
A1=input('Besarnya
amplitudo gel 1: ');
A2=input('Besarnya
amplitudo gel 2: ');
%Sinus pertama
t=1:L;
t=2*t/L;
y1=A1*sin(2*pi*f1*t +
teta1*pi);
subplot(3,1,1)
stem(y1)
%Sinus kedua
t=1:L;
t=2*t/L;
y2=A2*sin(2*pi*f2*t +
teta2*pi);
subplot(3,1,2)
stem(y2)
subplot(3,1,3)
stem(conv(y1,y2))

3. L=input('Banyaknya
titik sampel(>=20):
');
f1=input('Besarnya
frekuensi gel 1
adalah Hz: ');
f2=input('Besarnya
frekuensi gel 2
adalah Hz: ');
teta1=input('Besarnya
fase gel 1(dalam
radiant): ');
teta2=input('Besarnya
fase gel 2(dalam
radiant): ');
A1=input('Besarnya
amplitudo gel 1: ');
A2=input('Besarnya
amplitudo gel 2: ');
%Sinus pertama
t=1:L;
t=2*t/L;
y1=A1*sin(2*pi*f1*t +
teta1*pi);
subplot(3,1,1)
stem(y1)
%Sinus kedua
t=1:L;
t=2*t/L;
y2=A2*sin(2*pi*f2*t +
teta2*pi);
subplot(3,1,2)
stem(y2)
subplot(3,1,3)
stem(conv(y1,y2))

4. %File Name: Noisin.m


%convolusi sinyal
sinus bernoise dengan
raise cosine;
n=-7.9:.5:8.1;
y=sin(4*pi*n/8)./(4*p
i*n/8);
figure(1);
plot(y,'linewidth',2)
t=0.1:.1:8;
x=sin(2*pi*t/4);
figure(2);
plot(x,'linewidth',2)

5. %File Name: Noisin.m


%convolusi sinyal
sinus bernoise dengan
raise cosine;
n=-7.9:.5:8.1;
y=sin(4*pi*n/8)./(4*p
i*n/8);
figure(1);
plot(y,'linewidth',2)
t=0.1:.1:8;
x=sin(2*pi*t/4);
figure(2);
plot(x,'linewidth',2)
t=0.1:.1:8;
noise=0.5*randn*sin(2
*pi*10*t/4) ;
x_n=sin(2*pi*t/4)+noi
se;
figure(3);
plot(x_n,'linewidth',
2)
end
t=1:L;
subplot(3,1,2)
stem(t,v)
subplot(3,1,3)
stem(conv(x,v))

Panjang
gelombang(>=10) : 25

Lebar pulsa (lebih kecil


dari L): 10
6. %File Name: Noisin.m
%convolusi sinyal
sinus bernoise dengan
raise cosine;
n=-7.9:.5:8.1;
y=sin(4*pi*n/8)./(4*p
i*n/8);
figure(1);
plot(y,'linewidth',2)
t=0.1:.1:8;
x=sin(2*pi*t/4);
figure(2);
plot(x,'linewidth',2)
t=0.1:.1:8;
noise=0.5*randn*sin(2
*pi*10*t/4) ;
x_n=sin(2*pi*t/4)+noi
se;
figure(3);
plot(x_n,'linewidth',
2)
xy=conv(x_n,y);
figure(4);
plot(xy,'linewidth',2
)

B. Analisis dan Pembahasan


Tujuan dari percobaan mengenai operasi konvolusi ini adalah mahasiswa dapat
memahami proses operasi konvolusi dua sinyal sinus dan sinyal bernoise dengan raise
cosine.
Pada konvolusi dua sinyal sinus titik sampel dinyatakan dengan L(≥20) tidak
jauh berbeda dengan proses konvolusi sebelumnya, nilai L akan menjadi skala
maksimal untuk sumbu-x pada grafik pertama dan kedua. Pengamatan pertama dengan
L = 20, w1 = 1, w2 = 0.5, teta1 = 0, teta2 = 0.5, dan A1=A2=1. Sinyal sinus pertama
memiliki fase gelombang=0 sedangkan sinyal sinus kedua memiliki fase
gelombang=0,5. Pengaruhnya terlihat pada grafik dimana untuk sinyal sinus kedua
mengalami pergeseran ke kiri sejauh setengah gelombang. Grafik ketiga menunjukkan
hasil konvolusi dari sinyal sinus pertama dengan sinyal sinus kedua. Untuk L=50,
w1=w2=2, teta1=1.5, teta2=0.5, dan A1=A2=1, output yang didapat pada grafik
pertama dan kedua adalah frekuensi keduanya yang sama dengan fase yang berlawanan.
Mendekati ujung dari sinyal hasil konvolusi, amplitude gelombang akan semakin kecil.
Hal pertama yang yang dilakukan pada pengamatan untuk konvolusi sinyal
sinus dan raise cosine adalah dengan membangkitkan sinyal dasar yakni sinyal sinus
dan raise cosine. Sinyal sinus asli kemudian ditambahkan noise dan sinyal sinus
bernoise yang dihasilkan tersebutlah yang akan dikonvolusi dengan sinyal raise cosine
yang telah dibangkitkan sebelumnya. Untuk nilai n, semakin kecil rentang yang
diberikan rentang sinyal yang dihasilkan akan semakin lebar. Sedangkan hasil
konvolusi dari masing-masing tidak berbeda terlalu jauh. Sinyal hasil konvolusi akan
mulai menanjak semakian juah dari skala nol untuk nilai rentang n yang semakin lebar
pula.

C. Kesimpulan
Kesimpulan dari percobaan kali ini yaitu :
1. Semakin lebar rentang n pada konvolusi sinyal sinus bernoise dengan sinyal raise
cosine, sinyal hasil konvolusi akan mengalami penanjakan pada skala sumbu-x yang
semakin jauh dari skala nol.