Anda di halaman 1dari 17

IDENTIFIKASI DAMPAK KONSTRUKSI JALAN

PADA LINGKUNGAN

1. TAHAP PENGADAAN TANAH

pekerjaan Dampak yang Besaran Solusi/penanganan


terjadi dampak
a. Keresahan  Pengadaan tanah harus sesuai dengan
(-)
1. Pengadaan
masyarakat; peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Hilangnya aset;  Menerapkan hasil analisis dampak sosial
Tanah c. Hilangnya
(-) (ANDAS) dan rencana kerja pengadaan tanah
mata dan pemukiman kembali (LARAP).
pencaharian;  Proses pengadaan tanah mulai dari
d. Terganggunya perencanaan penetapan lokasi hingga tata
kegiatan sosial cara pengadaan tanah harus melalui
(-)
ekonomi
musyawarah dan prinsip penghormatan
budaya.
terhadap hak atas tanah.
 Proses pengadaan tanah sesuai dengan
Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor 3 tahun 2007.

2. TAHAP PERSIAPAN PEKERJAAN KONSTRUKSI

pekerjaan Dampak yang terjadi Besaran Solusi/penanganan


dampak
a. Kecemburuan
 Memberikan kesempatan yang sama kepada
sosial; (-)
masyarakat setempat untuk menjadi tenaga
1. Mobilisasi b. Peningka
kerja di proyek sesuai tingkat ketrampilan
tenaga kerja tan
dan pendidikannya.
kesempa
(+)  Mengoptimalkan pemanfaatan tenaga kerja
tan kerja
setempat dan bahan material setempat
(dampak
sesuai yang diperlukan untuk menunjang
positif);
pelaksanaan konstruksi jalan.
c. Potensi
penyebaran  Apabila melakukan penerimaan tenaga kerja,
(-)
penyakit antara lain perlu persyaratan mengenai
menular antara catatan kesehatan calon tenaga kerja. Hal ini
lain: HIV/AID, untuk menghindari potensi penyebaran
hepatitis, dan penyakit yang tergolong menular (penyakit
lain-lain. HIV/AIDS, kelamin, hepatitis, dan lain-lain)
karena adanya interaksi sosial masyarakat.
Di samping itu kontraktor perlu melakukan
kampanye pencegahan penyakit menular.
 Sebelum melakukan mobilisasi peralatan
a) Kerusakan jalan berat, maka perlu mengidentifikasi kondisi
2. Mobilisasi alat (-)
jalan dan kondisi lalu lintas, sehingga dapat
b) Terganngunya lalu
berat memilih rute jalan yang resiko kerusakan
lintas (-)
jalan dan gangguan lalu lintasnya minimal.
 Menugaskan pengatur lalu lintas pada lokasi
rawan kemacetan dan kecelakaan lalu lintas.

 Penyiraman secara berkala di lokasi


3. Pembuatan a) Pencemaran udara (-) pekerjaan untuk mencegah sebaran debu
jalan (debu) atau penyiraman saat kondisi berdebu.
masuk/akses b) Meningkatnya (-)
kebisingan  Dalam rangka meminimalkan kebisingan saat
c) Terganggunya lalu (-) pembuatan jalan masuk atau akses, upaya
lintas pengelolaannya antara lain:
1) Pengaturan pelaksanaan waktu bekerja (jam
kerja yaitu jam 07.00 – 17.00).
2) Perawatan peralatan dan kendaraan.

 Menugaskan petugas pengatur lalu lintas


pada lokasi rawan kemacetan dan rawan
kecelakaan lalu lintas.

 Dalam rangka mencegah dan mengurangi


a. Berubahnya (-) perubahan fungsi lahan akibat berubahnya
4. Pembangunan
penggunaan lahan penggunaan lahan dapat dikelola dengan
base camp
b. Pencemaran udara (-) cara:
c. Meningkatnya (1) Pemilihan lokasi base camp
kebisingan (-) harus dekat dengan lokasi
proyek dan diupayakan jauh dari
permukiman penduduk.
(2) Membatasi luas base camp sesuai
kebutuhan proyek.
(3) Lokasi base camp diupayakan
tidak dilokasi yang tergolong
daerah sensitif.
 Dalam rangka mengurangi pencemaran
udara khususnya parameter debu/partikulat
dapat dilakukan antara lain dengan cara
penyiraman permukaan tanah di lokasi
pembangunan base camp dan segera
membangun pagar pembatas base camp.
 Kebisingan dapat dikurangi antara lain dengan
cara:
(1) Perawatan berkala perawatan dan
kendaraan proyek.
(2) Pengaturan jam kerja yaitu jam 07.00
– 17.00 (jam kerja).

3. TAHAP PELAKSANAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI


a) Di lokasi proyek
pekerjaan Dampak yang Besaran Solusi/penanganan
terjadi dampak
a. Hilangnya (-)
 Apabila lokasi proyek yang akan dibersihkan
vegetasi
1. Pembersihan b. Pencemaran (-) merupakan daerah hutan produksi,
lahan udara (debu) perkebunan atau ladang yang relatif luas
c. Meningkatnya yang dikelola oleh instansi pemerintah atau
kebisingan (-) penduduk, maka pelaksanaannya harus
d. Terjadinya mengikuti prosedur yang berlaku pada
longsor dan instansi yang bersangkutan. Hal tersebut
erosi. (-) terkait dengan fungsi vegetasi yang
e. Kerusakan atau mempunyai nilai ekologis, ekonomis dan
terganggunya estetis.
utilitas umum
 Dalam rangka mengurangi pencemaran udara
jaringan listrik,
telekomunikasi, berupa debu atau partikel yang tersebar ke
air lingkungan, dapat dikelola dengan cara
minum/bersih, antara lain:
gas, BBM dan a. Pengaturan waktu pelaksanaan pekerjaan
BBG pada jam kerja yaitu jam 07.00 – 17.00.
Apabila akan melakukan kegiatan di luar
jam kerja, maka perlu diadakan
konsultasi/ musyawarah dengan
masyarakat dan aparat pemerintah
setempat.
b. Pengaturan kecepatan kendaraan proyek.
c. Penyiraman secara berkala, saat lokasi
kegiatan dalam kondisi berdebu.
 Untuk mengurangi tingkat kebisingan dan
mengurangi terganggunya kenyamanan
masyarakat akibat kebisingan dari suara
mesin peralatan dan kendaraan, maka perlu:
a. Perawatan berkala terhadap peralatan dan
kendaraan proyek.
b. Pengaturan jam kerja, yaitu jam 07.00 –
17.00. Apabila akan melakukan kegiatan di
luar jam kerja, maka perlu konsultasi atau
musyawarah dengan masyarakat.
 Mempertimbangkan kondisi musim yang ada
di lokasi proyek terhadap pekerjaan
pembersihan lahan dengan terutama pada
musim hujan dengan kecenderungan longsor,
erosi, sedimentasi dan pencemaran air.
 Dalam rangka mencegah dan mengurangi
kerusakan atau terganggunya fungsi utilitas
umum, yang ada di lokasi pekerjaan, antara
lain dapat dikelola dengan cara:
(1) Berkoordinasi dengan pengelola utilitas
yang akan terganggu atau rusak
sebelum melakukan pembersihan lahan
dan pada saat pembersihan lahan.
(2) Pada umumnya penanganan utilitas
umum baik pemindahan, penggantian
maupun perbaikan bagian-bagian utilitas
umum yang terganggu tersebut
dilakukan oleh pengelola utilitas yang
bersangkutan. Penanggung jawab
pembangunan jalan membiayai
pemindahan, perbaikan atau
penggantian utilitas tersebut kepada
pengelola sesuai dengan biaya yang
diajukan oleh pengelola utilitas umum
tersebut. Berita acara kesepakatan
penggantian biaya pemindahan,
perbaikan atau penggantian utilitas
harus dilakukan seusai aturan-aturan
yang ada pada instansi yang
bersangkutan dan penyelenggara jalan.
(3) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 38
tahun 2004 tentang Jalan dan
Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun
2006 tentang Jalan, para pengelola
utilitas harus minta ijin kepada pengelola
jalan kalau akan menempatkan utilitas di
RUMIJA. Pada umumnya, ijin akan
dikeluarkan oleh penyelenggara jalan
dengan beberapa persyaratan, antara
lain bersedia memindahkan utilitas
apabila jalan tersebut akan
ditingkatkan/dilebarkan dengan biaya
pengelola utilitas.

2. Pekerjaan a. pencemaran (-)  Dalam rangka mengurangi pencemaran udara


tanah udara (debu) berupa debu atau partikel yang tersebar ke
b. meningkatnya (-) lingkungan, dapat dikelola dengan cara
kebisingan antara lain:
c. terganggunya
stabilitas lereng, (-) a. Pengaturan waktu pelaksanaan pekerjaan
longsor dan pada jam kerja yaitu jam 07.00 – 17.00.
erosi Apabila akan melakukan kegiatan di luar
d. pencemaran air (-) jam kerja, maka perlu diadakan
permukaan dan konsultasi/ musyawarah dengan
air tanah masyarakat dan aparat pemerintah
e. terganngunya setempat.
pola aliran air (-) b. Pengaturan kecepatan kendaraan proyek.
tanah dan air c. Penyiraman secara berkala, saat lokasi
permukaan kegiatan dalam kondisi berdebu.
f. perubahan
bentang alam (-)  Untuk mengurangi tingkat kebisingan dan
atau lamsekap mengurangi terganggunya kenyamanan
masyarakat akibat kebisingan dari suara
mesin peralatan dan kendaraan, maka perlu:
a. Perawatan berkala terhadap peralatan dan
kendaraan proyek.
b. Pengaturan jam kerja, yaitu jam 07.00
– 17.00. Apabila akan melakukan
kegiatan di luar jam kerja, maka perlu
konsultasi atau musyawarah dengan
masyarakat.
 Dalam rangka mencegah dan mengurangi
terjadinya longsor dan erosi yang dapat
menimbulkan pencemaran air permukaan dan
air tanah, salah satunya :
(1) Mengendalikan air permukaan
Air permukaan merupakan salah satu
faktor penyebab ketidak mantapan
lereng, karena akan meninggikan
tekanan air pori. Aliran air permukaan
dapat juga menimbulkan erosi sehingga
akan mengganggu kemantapan lereng.
Oleh karena itu air permukaan perlu
dikendalikan untuk mencegah atau
mengurangi rembesan air permukaan ke
daerah longsoran. Caranya adalah
dengan menanam tanaman, menutup
rekahan, tata air dan perbaikan
permukaan lereng.
 Dalam rangka upaya mencegah dan
mengurangi terjadinya gangguan terhadap
aliran air tanah dan air permukaan yang
dapat menimbulkan longsor, genangan dan
kekeringan, maka dapat dilakukan upaya
sebagai berikut:
2. Mengendalikan air rembesan (drainase
bawah permukaan) dengan cara membuat
parit pencegah aliran air rembesan.
3. Membuat dan memeriksa bangunan
drainase antara lain saluran samping dan
saluran lainnya.
4. Membuat drainase temporer antara lain
berm-berm sepanjang sisi timbunan agar
air permukaan mengalir dan tidak
meresap ke dalam timbunan/galian tanah.
 Perubahan bentang alam terjadi akibat
pekerjaan tanah dan dampak ini tidak dapat
dicegah. Perubahan bentang alam akibat
penataan lereng, pekerjaan galian, pekerjaan
timbunan sehingga terbangunnya badan jalan
dan pelengkap jalan akan mengubah estetika
yang alami (panorama alami) menjadi
estetika buatan (panorama buatan). Dalam
rangka mengurangi dampak terhadap estetika
maka perlu lansekap yang
mempertimbangkan aspek estetis dan
ekologis serta keselamatan.

 Untuk mencegah terganggunya aliran air


3. Pekerjaan a. terganngunya permukaan atau aliran limpasan air sekaligus
drainase aliran air (-) mencegah pencemaran kualitas air
permukaan dan permukaan maka:
pencemaran
a. Pekerjaan drainase dilakukan sesuai
kualitas air
dengan disain yang telah
b. terganggunya lalu (-)
mempertimbangkan aspek lingkungan
lintas
c. terganggunya (-) terutama jenis saluran, dimensi
aksesibilitas saluran, kemiringan jumlah saluran
dan lokasi saluran yang tepat
sehingga air permukaan dapat
mengalir dengan cepat agar tidak
meresap ke badan jalan dan daerah
longsoran.
b. Pekerjaan drainase harus
mempertimbangkan waktu/musim
yang antara lain pekerjaan diupayakan
tidak dilakukan pada musim hujan.
 Dalam rangka mencegah atau mengurangi
terjadinya gangguan lalu lintas antara lain dapat
dikelola dengan cara:
(1) Pengaturan arus lalu lintas oleh petugas
pengatur lalu lintas.
(2) Pemasangan rambu lalu lintas sementara
sekitar lokasi pekerjaan.
 Untuk mencegah atau mengurangi gangguan
terhadap aksesibilitas penduduk antara lain:
(1) Tidak menimbun material hasil galian
atau material bangunan di sekitar
permukiman, pertokoan, dan fasilitas
umum yang lokasinya di tepi jalan yang
dapat mengganggu aksesibilitas dan
timbulnya genangan dan becek saat
hujan.
(2) Memasang atau membuat
jembatan/akses sementara dari papan
atau plat baja atau bahan lain untuk
menutup saluran drainase tepi jalan,
sehingga penduduk dapat melewatinya
sebelum bangunan penutup saluran
yang permanen selesai.
4. Pekerjaan a. pencemaran (-)
 Dalam rangka mengurangi pencemaran udara
badan jalan udara (debu)
b. meningkatnya (-) berupa debu atau partikel yang tersebar ke
kebisingan lingkungan, dapat dikelola dengan cara
c. terganngunya lalu (-) antara lain:
lintas a. Pengaturan waktu pelaksanaan pekerjaan
pada jam kerja yaitu jam 07.00 – 17.00.
Apabila akan melakukan kegiatan di luar
jam kerja, maka perlu diadakan
konsultasi/ musyawarah dengan
masyarakat dan aparat pemerintah
setempat.
b. Pengaturan kecepatan kendaraan proyek.
c. Penyiraman secara berkala, saat lokasi
kegiatan dalam kondisi berdebu.
 Untuk mengurangi tingkat kebisingan dan
mengurangi terganggunya kenyamanan
masyarakat akibat kebisingan dari suara
mesin peralatan dan kendaraan, maka perlu:
a. Perawatan berkala terhadap peralatan dan
kendaraan proyek.
B. Pengaturan jam kerja, yaitu jam 07.00
– 17.00. Apabila akan melakukan
kegiatan di luar jam kerja, maka perlu
konsultasi atau musyawarah dengan
masyarakat.
 Dalam rangka mencegah atau mengurangi
terjadinya gangguan lalu lintas antara lain dapat
dikelola dengan cara:
1. Pengaturan arus lalu lintas oleh
petugas pengatur lalu lintas.
2. Pemasangan rambu lalu lintas
sementara sekitar lokasi pekerjaan

 Untuk mengurangi tingkat kebisingan dan


5. Pekerjaan a. meningkatnya (-) mengurangi terganggunya kenyamanan
jembatan kebisingan masyarakat akibat kebisingan dari suara
b. meningkatnya (-) mesin peralatan dan kendaraan, maka perlu:
getaran
c. terganngunya lalu (-) a. Perawatan berkala terhadap peralatan dan
lintas kendaraan proyek.
d. pencemaran (-) b. Pengaturan jam kerja, yaitu jam 07.00
kualitas air – 17.00. Apabila akan melakukan
sungai kegiatan di luar jam kerja, maka perlu
konsultasi atau musyawarah dengan
masyarakat.
 Dalam rangka mencegah dan mengurangi
getaran mekanik yang potensial
mengganggu kerusakan bangunan dan
kenyamanan di lokasi pekerjaan,
dapat dikelola dengan cara:
1. Penggunaan jenis tiang pancang (bor pile
atau pile hummer) yang tepat dan sesuai
dengan kondisi tanah, daya dukung tanah
dan penggunaan lahan setempat untuk
mencegah gangguan pada bangunan lain
dan gangguan kenyamanan.
2. Apabila terjadi kerusakan pada bagian
bangunan atau fasilitas umum akibat
pekerjaan pemancangan tiang pancang,
maka penanggung jawab kegiatan harus
memberikan kompensasi pada penduduk
terkena proyek (PTP) yang sesuai.
 Dalam rangka mencegah atau mengurangi
terjadinya gangguan lalu lintas antara lain dapat
dikelola dengan cara:
1. Pengaturan arus lalu lintas oleh
petugas pengatur lalu lintas.
2. Pemasangan rambu lalu lintas
sementara sekitar lokasi pekerjaan
 Dalam rangka mengurangi pencemaran kualitas
air sungai terutama yaitu terjadinya kekeruhan
dan terganggunya biota air, maka pengelolaannya
antara lain:
- Perlu mempertimbangkan pengalihan aliran air
sungai dengan menggunakan peralatan atau
bangunan tanggul sementara, agar air sungai
tidak tercemar oleh material bangunan atau
material hasil galian pondasi yang masuk ke
perairan sungai.

6. Penghijauan a. mengurangi  Kegiatan ini dimaksudkan untuk mencegah


dan pertamanan longsor dan erosi longsor, erosi, mengurangi pencemaran udara
b. peningkatan (+) dan kebisingan serta meningkatkan estetika
estetika dankenyamanan para pengguna jalan, sehingga
c. menurunkan (+) mempunyai dampak yang positif dalam
pencemaran mengurangi pencemaran udara (debu, CO2, SO2,
udara (debu, CO, NO2, HC) dan kebisingan, serta mencegah erosi.
SO2, NO2, HC) (+) Untuk dapat meningkatkan dampak positif
tersebut, maka upaya pengelolaan lingkungan
hidup yang perlu dilakukan antara lain:
1. Penanaman pohon pelindung atau peneduh dan
tanaman hias pada lansekap jalan termasuk pada
median jalan dan tepi jalan, dengan jenis dan
karakteristik yang disesuaikan dengan kondisi
RUMIJA dan RUWASJA, dan tidak mengganggu
keselamatan dan kenyamanan pemakai jalan,
serta dapat memperindah estetika lingkungan.
2. Jenis tanaman yang ditanam sebaiknya jenis
tanaman setempat, dan mempunyai ciri khas
daerah, mudah ditanam dan dipelihara serta tidak
mengganggu bangunan jalan. Acuan yang dapat
digunakan dalam rangka pengelolaan
penghijauan dan pertamanan antara lain:
- Pedoman Mitigasi Dampak Standar Pekerjaan
Konstruksi Jalan Lampiran 2 mengenai
Prosedur Penanganan Vegetasi.
- Tata cara perencanaan teknik lansekap jalan
(033/T/BM/1996).
- Pedoman Pemilihan berbagai jenis tanaman
untuk jalan nomor:
034/T/BM/1999.
- Pedoman penataan tanaman untuk jalan
nomor: 035/T/BM/1999.
- Spesifikasi perencanaan lansekap jalan pada
persimpangan nomor: Pd-NN2

 Pemasangan perlengkapan jalan bertujuan untuk


7. Pemasangan - terganggunya lalu
mendukung kelancaran arus lalu lintas,
perlengkapan lintas dan
keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan
jalan kecelakaan lalu (-)
pada saat pengoperasian jalan. Dalam rangka
lintas
meningkatkan dampak positif maka pengelolaan
yang perlu dilakukan antara lain:
1. Pemasangan perlengkapan jalan harus sesuai
dengan disain yang telah memasukkan aspek
lingkungan hidup.
2. Penempatan jenis perlengkapan jalan dan lokasi
penempatannya disesuaikan dengan kondisi
RUMIJA dan RUWASJA, termasuk di antaranya
pada daerah yang berdekatan dengan daerah
sensitif.

8. Pembuangan a. terganggunya  Pengelolaan lingkungan antara lain dilakukan


sisa pembersihan aliran permukaan (-) dengan:
lahan dan sisa b. menurunnya 1. Pemanfaatan material sisa pembersihan lahan
pekerjaan estetika (-) secara maksimal oleh masyarakat yang terkena
konstruksi c. terganggunya proyek (PTP) atau pemrakarsa.
kenyamanan (-) 2. Apabila masih tedapat sisa material yang harus
masyarakat dibuang, maka harus menyediakan tempat
d. pencemaran tanah (-) penumpukan (disposal area). Pemilihan lokasi
disposal area yang tepat, pada areal yang tidak
subur, daerah cekungan dan tidak mengganggu
drainase alami.
3. Penanganan material sisa pekerjaan konstruksi
diantaranya dapat dilakukan dengan cara prinsip
reduce, reuse dan recycle (3 R).
- Reduce : memperhitungkan penyediaan (suplai)
material bangunan sesuai dengan keperluan
volume pekerjaan untuk mencegah pemborosan
material agar tidak bersisa.
- Reuse : memanfaatkan kembali material sisa
(bila ada) dan material penunjang setelah
digunakan pada pekerjaan utama konstruksi.
- Recycle : mengolah kembali material bekas
pakai dan material sisa (bila ada) untuk kegiatan
pembangunan jalan atau kegiatan lain.
b) Di lokasi quarry dan jalur pengangkutan material

pekerjaan Dampak yang Besaran Solusi/penanganan


terjadi dampak

1. Pengambilan
material
 Bila lokasi terpilih adalah daerah bukit atau
1.1. Pengambilan a. Pencemaran (-)
gunung, maka pelaksanaan pengelolaan
material di udara (debu)
lingkungan antara lain:
quarry (di b. Meningkatnya (-)
1. Mencegah dan mengurangi sebaran debu ke
darat/di kebisingan
lingkungan perlu dilakukan antara lain:
bukit atau c. Terjadinya (-)
- Penyiraman secara berkala pada saat musim
gunung) lubang dan
kemarau;
genangan
- Membatasi kecepatan kendaraan angkutan
d. Terganggunya (-)
aliran air material di lokasi quarry dan jalan angkutan
permukaan material.
e. Longsor dan (-) 2. Mengurangi tingkat kebisingan di lokasi quarry
erosi antara lain:
- Membatasi muatan angkutan material sesuai
kapasitas kendaraan angkutan material;
- Membatasi kecepatan kendaraan angkutan
material;
- Pemeliharaan rutin terhadap peralatan dan
kendaraan angkutan material.
3. Pada saat pembukaan lapisan tanah atas (top
soil) yang mengandung tanah humus, maka
harus dipindahkan ke lokasi sekitarnya yang
terlindung untuk mencegah terjadinya
pencemaran tanah dan mencegah terjadinya erosi
tanah humus;
4. Penambangan material harus sesuai dengan tata
cara penambangan yang ditetapkan instansi yang
bersangkutan dan jumlah pengambilan material di
quarry harus sesuai dengan ijin dan kebutuhan
untuk pembangunan jalan;
5. Untuk mencegah terjadinya erosi maka dibuat
saluran air sementara di sekitar lokasi quarry dan
dilengkapi bak penampungan sedimen untuk
menampung tanah yang terbawa aliran air
permukaan sehingga tidak masuk dan tidak
mencemari ke perairan umum (sungai, danau dan
lainlain);
6. Bila penambangan material telah selesai dan
kelerengan bukit menjadi terjal akibat dari
pengambilan material maka perlu dilakukan
pengamanan lereng antara lain:
- Membuat sudut lereng yang aman dengan
mempertimbangakan factor keamanan lereng
(safety factor) dan dibuat berteras/bertangga;
- Menutup lereng dengan tanah humus yang telah
disiapkan pada saat pembersihan tanah atas
dan menanam kembali (revegetasi) dengan
jenis tanaman pelindung tanah antara lain
lamtorogong, rumput, akasia dan jenis lainnya.

a. Degradasi sungai
1.2. Pengambilan yang dapat (-)  Apabila lokasi quarry terpilih adalah sungai, maka
material di menggangu pengelolaan lingkunganyang perlu dilaksanakan
quarry (di stabilitas antara lain:
sungai) bangunan sungai 1. Lokasi quarry di sungai harus sesuai dengan
b. Pencemaran air peruntukan penambangan berdasarkan
sungai (-) keputusan instansi pemerintah daerah yang
c. Terganggunya berwenang serta berjarak + (satu) kilometer
biota air. (-) kehulu dan 1 (satu) kilometer ke hilir dari
jembatan yang ada;
2. Perlu melakukan konsultasi masyarakat sebelum
dilakukan pengambilan material terutama bagi
penduduk yang mencari mata pencaharian
(perikanan) di sungai yang menjadi lokasi quarry;
3. Pengambilan material harus sesuai dengan tata
cara yang ditetapkan oleh instansi yang
berwenang untuk mencegah degradasi sungai,
pencemaran kualitas air, terganggunya biota air
yang memiliki nilai sosial ekonomi dan ekologi
penting.
- Upaya pencegahan dan penanggulangan
kerusakan tebing sungai antara lain dengan
cara pemasangan bronjong atau bangunan
penguat tebing
- Dalam rangka pencegahan dan penanggulangan
pencemaran kualitas air sungai terutama
kekeruhan dan meningkatnya kandungan
padatan terlarut/tersuspensi pada air sungai
antara lain dengan pemilihan teknik
penambangan yang tepat sesuai tata cara ijin
penambangan.
- Upaya pencegahan terganggunya keberadaan
biota air pada sungai antara lain adalah
pemilihan lokasi yang aman dan tidak terdapat
biota perairan yang tergolong endemik dan
a. pencemaran dilindungi.
udara (debu, CO,
SO2, NO2, HC)
2. Pengangkutan b. Meningkatnya  Pencemaran udara (debu/partikel, CO2, SO2,
material kebisingan (-) NO2, CO, HC) dapat dikelola dengan cara:
bangunan c. Kerusakan jalan 1. Diupayakan memilih jalur angkutan material yang
d. Terganggunya (-) tidak melalui daerah permukiman dan fasilitas
lalu lintas umum;
e. Terganggunya (-) 2. Penyiraman jalur angkutan di jalan umum yang
kenyamanan (-) dilalui kendaraan angkutan material secara
masyarakat berkala pada saat berdebu serta pembersihan
(-) terhadap ceceran tanah agar jalan tidak menjadi
licin saat hujan;
3. Membatasi kecepatan kendaraan proyek yang
menggunakan jalan umum yang dilintasi;
4. Menutup bak truk kendaraan pengangkut
material menggunakan terpal, bila perlu mencuci
ban sebelum keluar dari quarry (pada saat musim
hujan).
 Meningkatnya tingkat kebisingan dapat dikelola
antara lain dengan cara:
1. Memilih jalur angkutan material yang tidak
melalui daerah pemukiman dan fasilitas umum;
2. Mengatur jam kerja atau pengangkutan material
sesuai jam kerja yaitu jam 07.00 sampai jam
17.00;
3. Apabila akan dilakukan kegiatan di luar jam kerja,
maka kontraktor atau penanggung jawab perlu
berkonsultasi dengan aparat dan masyarakat
setempat;
4. Pemeliharaan kendaraan angkut material secara
berkala.
 Kerusakan jalan umum yang dilalui kendaraan
pengangkut material, dapat dikelola antara lain:
1. Membatasi muatan kendaraan/truk pengangkut
material sesuai dengan kapasitas jalan.
2. Apabila terjadi kerusakan jalan akibat kendaraan
proyek maka perlu segera memperbaiki kondisi
jalan yang rusak oleh penanggung jawab
pembangunan jalan.
 Terganggunya lalu lintas, Dalam rangka
mencegah terjadinya gangguan lalu lintas dan
kecelakaan lalu lintas karena kendaraan angkutan
material melalui jalan umum dapat dikelola
melalui:
1. Penyuluhan kepada pengemudi untuk mematuhi
peraturan lalu lintas dan menaati tata tertib yang
dikeluarkan oleh manajemen proyek;
2. Pengaturan arus lalu lintas antara lain dengan
cara menugaskan penjaga pengatur lalu lintas
pada lokasi rawan kemacetan dan kecelakaan;
3. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas pada jarak
+ 50-100 m sebelum lokasi proyek dan lokasi
quarry.

c) Di lokasi base camp

pekerjaan Dampak yang Besaran Solusi/penanganan


terjadi dampak
Pelaksanaan pengelolaan lingkungan akibat
1. Pengoperasian a. pencemaran (-) pengoperasian base camp dapat dilakukan sebagai
base camp udara (debu) berikut:
(barak pekerja, b. Meningkatnya (-)  Pencemaran udara (debu), Mencegah dan
kantor, kebisingan (-) mengurangi terjadinya pencemaran udara, antara
stockpile, c. Pencemaran air lain:
bengkel, permukaan (-) 1. Pemasangan alat pengumpul debu (dust
gudang, stone d. Pencemaran air collector) pada pengoperasian AMP untuk
crusher dan tanah (-) mencegah dan mengurangi penyebaran partikel
AMP) e. Terganggunya debu ke lingkungan;
lalu lintas (-) 2. Melakukan penyiraman lokasi base camp
f. Kondisi terutama pada jalan masuk dan keluar kendaraan
kamtibmas dan peralatan proyek;
3. Membatasi ketinggian penumpukan material
(pasir) dan penutupan (dengan terpal) untuk
mencegah sebaran debu oleh angin.
 Meningkatkan kebisingan, Mengurangi tingkat
kebisingan antara lain dengan cara:
1. Pemeliharaan peralatan dan kendaraan secara
berkala agar mesin-mesin terawat;
2. Menyimpan generator pada ruang yang tertutup
dan kedap suara serta diletakkan relatif jauh dari
barak, kantor base camp dan permukiman
penduduk;
 Pencemaran kualitas air permukaan, Mencegah
terjadinya pencemaran kualitas air permukaan
yang berakibat menurunnya sanitasi antara lain:
1. Menyediakan tempat mandi cuci dan kakus
(MCK) untuk keperluan karyawan dan pengunjung
base camp;
2. Lokasi MCK diupayakan relatif jauh dari sumber
air bersih (bila di dalam base camp dibangun
sumur untuk sumber air bersih) dan membuat
septic tank;
3. Menata jaringan drainase untuk mengalirkan air
buangan dari tempat mandi dan mencuci ke
tempat yang memadai dan tidak mencemari air
permukaan;
4. Menyediakan tempat sampah di dalam kantor,
barak dan halaman base camp;
5. Menyediakan tempat pembuangan sampah
sementara (TPS) secara tertutup di area base
camp;
6. Menyediakan air bersih antara lain sumur tanah
atau air bersih dan air minum dari perusahaan
pengolah air bersih (PAM/PDAM) dan disediakan
tangki penampungnya di area base camp;
7. Menugaskan petugas khusus untuk kebersihan
lingkungan base camp;
8. Memasang papan peringatan, himbauan yang
berlaku bagi karyawan dan pengunjung base
camp mengenai kebersihan lingkungan;
9. Bekerja sama dengan aparat setempat
(kecamatan, desa) dalam pembuangan sampah
dari base camp ke tempat pembuangan akhir
(TPA).
 Pencemaran tanah, Mencegah pencemaran tanah
dan air antara lain dengan cara berikut ini:
1. Limbah pelumas bekas dari peralatan dan
kendaraan proyek ditampung di dalam
penampung tertutup (drum). Selanjutanya
diserahkan pada perusahaan resmi pengumpul
limbah pelumas untuk didaur ulang;
2. Melengkapi saluran (selokan/parit) di base camp
termasuk lokasi AMP, bengkel serta tempat parkir
kendaraan dan peralatan proyek untuk mencegah
terjadinya genangan air saat hujan dan
pencemaran tanah;
3. Pembinaan pada karyawan di base camp untuk
mencegah terjadinya ceceran bahan bakar,
pelumas dan cat ke permukaan tanah atau tidak
dibuang ke lingkungan antara lain sungai, lahan
terbuka dan lingkungan lainnya.
 Terganggunya lalu lintas, Dalam rangka
mencegah terjadinya gangguan terhadap lalu
lintas akibat kegiatan di base camp, maka
penanganannya antara lain:
1. Memasang rambu lalu lintas di sekitar jalan
eksisting sebelum lokasi base camp dan
memasang lampu peringatan untuk dinyalakan
pada malam hari;
2. Menugaskan petugas pengatur lalu lintas pada
lokasi masuk atau keluar kendaraan atau
peralatan dari atau ke base camp;
3. Melakukan penyuluhan pada petugas/operator
peralatan berat dan kendaraan proyek dalam hal
ketertiban lalu lintas di sekitar base camp dan
lokasi proyek.
 Kondisi kamtibmas, Menjaga kondisi kamtibmas
di lingkungan base camp dan lingkungan
masyarakat antara lain dengan cara:
1. Melibatkan penduduk setempat dalam kegiatan
yang sesuai pada pengoperasian base camp;
2. Turut serta dalam kegiatan sosial yang dilakukan
oleh penduduk setempat antara lain peringatan
hari besar dan kegiatan sosial lainnya;
3. Membatasi base camp dengan pagar pembatas,
menggunakan ocia dan ketinggian pembatas
yang memadai untuk mengurangi sebaran debu,
kebisingan dan sebagai pengaman.

4. TAHAP PENGOPERASIAN DAN PEMELIHARAAN JALAN

pekerjaan Dampak yang Besaran Solusi/penanganan


terjadi dampak
Pengelolaan lingkungan yang perlu dilakukan dalam
1. Pengoperasian a. Pencemaran (-) rangka mengurangi dampak
jalan udara lingkungan antara lain:
(debu/partikel,C  Pencemaran kualitas udara (Nox, CO, SO2,
O2, SO2, NO2, debu/patikulat) Mengurangi pencemaran udara
CO, HC); dengan cara memelihara tanaman yang sudah
b. Meningkatnya (-) ditanam pada kegiatan penghijauan dan
kebisingan; pertamanan dan bila perlu menambah tanaman
c. Meningkatnya (-) sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan
getaran; kondisi lalu lintas. Jenis yang ditanam dan
d. Kecelakaan lalu (-) dipelihara mempunyai fungsi ekologis, estetis dan
lintas; kenyamanan (peneduh). Sebagai acuan
e. Perubahan (-) pemilihan tanaman untuk mengurangi
penggunaan pencemaran udara antara lain adalah penerapan
lahan yang tak Pedoman Pemilihan Tanaman Untuk Mengurangi
terkendali di Polusi Udara (Nox, CO, SO2) Nomor
RUMIJA (side 011/T/BM/1999 dan menerapkan Tata Cara
friction); Pemeliharaan Tanaman Lansekap Jalan nomor
f. Meningkatnya (+) 009/T/Bt/1995.
mobilitas  Meningkatnya kebisingan, Mengurangi tingkat
penduduk; kebisingan di antaranya memanfaatkan tanaman
g. Terganggunya (-) tepi jalan sebagai penyerap kebisingan dan bila
jalur perlu pada lokasi jalan yang berdekatan dengan
perlintasan/mob fasilitas umum (sekolah, rumah ibadah, rumah
ilitas satwa sakit, pasar, dan lain-lain) dipasang pagar
dilindungi; pembatas/penghalang suara (noise barrier) dari
h. Potensi (-) bahan yang sesuai. Acuan yang digunakan dalam
genangan atau mengurangi kebisingan antara lain Pedoman
banjir. Mitigasi Dampak Kebisingan Akibat Lalu Lintas
Nomor Pd-T-16-2005B.
 Meningkatnya getaran, Mengurangi tingkat
getaran di antaranya dengan cara pemeliharaan
kondisi selokan atau parit di tepi jalan yang
mempunyai fungsi utama mengalirkan air
permukaan, tetapi mempunyai fungsi lain sebagai
penghambat atau pemutus getaran akibat
kendaraan.
 Kecelakaan lalu lintas, Mencegah terjadinya
kecelakaan atau kemacetan lalu lintas antara lain:
1. Pemasangan dan pemeliharaan rambu lalu lintas
dan marka jalan pada lokasi yang tepat;
2. Penerapan sistem manajemen lalu lintas yang
tepat agar jalan dapat berfungsi sesuai
kapasitasnya;
3. Penertiban pedagang kaki lima (PKL) dan
kegiatan informal lainnya pada lokasi RUMIJA
yang mengganggu/mengurangi kapasitas jalan
(side friction);
4. Pembangunan prasarana atau perlengkapan jalan
pada lokasi yang tepat.
 Perubahan penggunaan lahan di RUMIJA
Mencegah terjadinya penggunaan lahan di
RUMIJA antara lain:
1. Memasang patok batas RUMIJA;
2. Memasang papan himbauan atau larangan tidak
melakukan kegiatan di RUMIJA;
3. Penatagunaan lahan sesuai fungsi jalan;
4. Penyuluhan/sosialisasi peraturan perundangan
jalan, termasuk fungsi dan sanksi.
 Meningkatnya mobilitas penduduk,
Pengoperasian jalan berdampak positif terhadap
mobilitas penduduk setempat maupun dari luar
daerah. Potensi dampak antara lain adalah
berubahnya penggunaan lahan sekitar tepi jalan
(di dalam atau di luar RUWASJA). Dalam rangka
pengendalian penggunaan lahan dan kegiatan
sekitar tepi jalan maka upaya yang perlu
dilakukan adalah:
- Pengawasan penggunaan lahan oleh pemerintah
setempat yang berwenang dalam penatagunaan
lahan, agar penggunaan lahan sesuai
peruntukannya, termasuk pencegahan kegiatan
perambahan danpembalakan hutan dan lahan.
 Terganggunya mobilitas satwa dilindungi, Lokasi
jalan yang berada atau memotong kawasan
hutan, perkebunan, rawa, pantai atau sabana
akan mengganggu jalur lintas untuk mobilitas
satwa liar. Hal ini akan mengganggu kehidupan
satwa karena adanya jalan dan lalu lintas
kendaraan. Dalam rangka mencegah dan
mengurangi terganggunya satwa liar, perlu upaya
pengelolaan lingkungan antara lain:
1. Berkoordinasi dan berkonsultasi dengan instansi
yang bertanggung jawab dalam konservasi
sumber daya alam setempat untuk bekerja sama
menangani keberadaan satwa liar;
2. Memasang rambu atau tanda lokasi tertentu yang
biasa dijadikan jalur lintas satwa liar yang
terpotong oleh jalan;
3. Memasang papan peringatan, himbauan atau
larangan adanya kegiatan yang mengganggu
kehidupan satwa liar di lokasi habitat satwa liar di
sekitar tepi jalan.
 Potensi genangan atau banjir, Dalam rangka
mencegah terjadinya genangan atau banjir
terutama pada lokasi jalan di daerah rata atau
daerah penggunaan lahan yang padat, antara lain
adalah:
- Pemeliharaan saluran drainase (saluran
samping, tengah dan saluran memotong jalan)
secara rutin dan berkala serta rehabilitasi.

2. Pemeliharaan  Terganggunya lalu  Pengelolaan lingkungan dalam rangka mencegah


jalan lintas dan terganggunya lalu lintas dan kecelakaan antara
kecelakaan lalu lain:
lintas 1. Pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan jalan harus
mempertimbangkan keselamatan dan
kenyamanan pengguna jalan;
2. Pengaturan waktu pelaksanaan kegiatan
pemeliharaan jalan yang tepat;
3. Pemasangan rambu lalu lintas sementara dan
menugaskan petugas pengatur lalu lintas selama
pekerjaan pemeliharaan jalan;
4. Melakukan pemeliharaan rutin, berkala dan
rehabilitasi jalan sesuai program yang telah
direncanakan.