Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN

MATA KULIAH SURVEY KONSUMSI PANGAN

(FOOD WEIGHING)

KELOMPOK 8

OLEH :

EPI (PO.62.31.3.15.091)

SINDI (PO.62.31.3.15.104)

THEANA PRISCILLA (PO.62.31.3.15.109)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN PALANGKA RAYA

JURUSAN D – III GIZI

TAHUN AJARAN 2016/2017


PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Konsumsi makanan dipengaruhi oleh kebiasaan makan dan ketersediaan pangan.
Kebiasaan makan yaitu kegiatan yang berkaitan dengan makanan menurut tradisi
setempat, meliputi hal-hal bagaimana pangan diperoleh, apa yang dipilih, bagaimana
menyiapkan, siapa yang memakan dan berapa banyak yang dimakan. Konsumsi pangan
merupakan banyaknya atau jumlah pangan, secara tunggal maupun beragam, yang
dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang yang bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan fisiologis, psikologis dan sosiologis. Tujuan fisiologis adalah upaya untuk
memenuhi keinginan makan (rasa lapar) atau untuk memperoleh zat-zat gizi yang
diperlukan tubuh. Tujuan psikologis adalah untuk memenuhi kepuasan emosional atau
selera, sedangkan tujuan sosiologis adalah untuk memelihara hubungan manusia dalam
keluarga dan masyarakat (Anonim 2010).
Konsumsi pangan merupakan faktor utama untuk memenuhi kebutuhan gizi yang
selanjutnya bertindak menyediakan energi bagi tubuh, mengatur proses metabolisme,
memperbaiki jaringan tubuh serta untuk pertumbuhan. Konsumsi, jumlah dan jenis
pangan dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor yang sangat mempengaruhi
konsumsi pangan adalah jenis, jumlah produksi dan ketersediaan pangan.
Penilaian konsumsi pangan dilakukan dengan cara survei. Survei konsumsi
pangan bertujuan untuk mengetahui konsumsi pangan seseorang, keluarga atau
kelompok orang baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Survei secara
kuantitatif adalah untuk mengetahui jumlah bahan makanan yang dikonsumsi sedangkan
secara kualitatif adalah untuk mengetahui frekuensi makan, kebiasaan makan (food
habit), jenis pangan, dan cara memperolehnya. Salah satu metode yang digunakan pada
praktikum kali ini adalah metode inventaris.
Metode inventaris disebut juga log book method. Prinsipnya dengan menghitung
atau mengukur semua persediaan makanan di rumah tangga (berat dan jenisnya) mulai
dari awal sampai akhir survei. Semua makanan yang diterima, dibeli dan produksi sendiri
dicatat dan dihitung atau ditimbang setiap hari selama periode pengumpulan data
(biasanya sekitar satu minggu). Semua makanan yang terbuang, tersisa dan busuk selama
penyimpanan dan diberikan pada orang lain atau binatang peliharaan juga
diperhitungkan. Pencatatan dapat dilakukan oleh petugas atau responden yang sudah
mampu atau telah dilatih dan tidak buta huruf (Anonim 2009).
Sebuah penelitian menunjukkan adanya tanggapan korektif manusia terhadap
penyimpangan dari rata-rata asupan energi dan zat gizi makro dengan selang waktu
selama 3 sampai 4 hari. Tetapi tidak terdeteksi ketika asupan makanan diteliti untuk
periode 1 sampai 2 hari. Bahkan tanggapan korektif dianggap berperan penting dalam
mengimbangi variasi besar energi dan zat gizi makro yang sangat penting bagi stabilitas
berat badan.
Survei diet atau penilaian konsumsi makanan adalah salah satu metode yang
digunakan dalam penentuan status gizi perorangan atau kelompok. Banyak pengalaman
membuktikan bahwa dalam melakukan penilaian konsumsi makanan banyak terjadi bias
tentang hasil yang diperoleh. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
ketidaksesuaian dalam menggunakan alat ukur, waktu pengumpulan data yang tidak
tepat, instrumen tidak sesuai dengan tujuan, ketelitian alat timbang makanan,
kemampuan petugas pengumpulan data, daya ingat responden, daftar komposisi
makanan yang tidak sesuai dengan makanan yang dikonsumsi responden dan interpretasi
hasil yang kurang tepat.

B. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk menghitung kecukupan pangan dan mengetahui kebutuhan
gizi pada tiap-tiap makanan.
TINJAUAN PUSTAKA

A. Food Weighing
Status nutrisi (nutritional status) adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi
makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi merupakan gambaran keseimbangan
antara kebutuhan tubuh akan zat gizi untuk pemeliharaan kehidupan, pertumbuhan,
pemeliharaan fungsi normal tubuh, dan untuk produksi energi dan intake zat gizi lainnya.
Ada berbagai cara untuk mengukur status nutrisi, salah satu diantaranya yaitu food
weighing (Metode penimbangan) (Anindya 2010).
Food weighing adalah salah satu metode penimbangan makanan. Pada metode
penimbangan makanan ini responden atau petugas menimbang dan mencatat seluruh
makanan yang dikonsumsi responden selama satu hari. Food weighing mempunyai
ketelitian yang lebih tinggi dibanding metode-metode lain karena banyaknya makanan
yang dikonsumsi sehari-hari diketahui dengan cara menimbang (Mey 2010).
Proses food weighing ini, semua makanan yang akan dikonsumsi pada waktu
makan pagi, siang, dan malam serta makanan selingan antara dua waktu makan
ditimbang dalam keadaan mentah (AP). Juga ditimbang dan dicatat makanan segar yang
siap santap serta makanan pemberian. Selain itu dilakukan inventory terhadap pangan
yang tahan lama seperti gula, garam, merica, kopi, dan sebagainya pada waktu sebelum
masak pagi dan setelah makan malam atau keesokan harinya. Setiap selesai makan
ditimbang semua makanan yang tidak dimakan, yang meliputi makanan sisa dalam
piring, sisa makanan yang masih dapat dilakukan untuk waktu makan selanjutnya, yang
diberikan pada ternak dan yang diberikan pada orang lain. Makanan yang dibawa ke luar
rumah oleh anggota keluarga misalnya untuk bekal sekolah dan yang dimakan oleh tamu
juga ditimbang dan dicatat untuk menghitung konsumsi aktual (Kusharto & Sa’diyah
2008).

B. Penilaian Konsumsi Pangan


Pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok hidup manusia. Rendahnya
jumlah makanan dan mutu bahan makanan yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan
konsumsi makanan sehari-hari dapat menyebabkan berbagai masalah dalam kehidupan,
antara lain menimbulkan gangguan pada perkembangan mental dan kecerdasan,
terganggunya pertumbuhan fisik, timbulnya berbagai macam penyakit, tingginya angka
kematian bayi dan anak, serta menurunnya daya kerja (Suhardjo & Riyadi 1990).
Konsumsi pangan merupakan faktor utama untuk memenuhi kebutuhan gizi yang
selanjutnya bertindak menyediakan energi bagi tubuh, mengatur proses metabolisme,
memperbaiki jaringan tubuh serta untuk pertumbuhan (Supariasa 2001).
Konsumsi jumlah dan jenis pangan dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut
Supariasa et. al. (2001), faktor-faktor yang sangat mempengaruhi konsumsi pangan
adalah jenis, jumlah produksi, dan ketersediaan pangan, sedangkan tingkat konsumsi
pangan lebih banyak ditentukan oleh kualitas dan kuantitas pangan yang dikonsumsi.
Penilaian konsumsi pangan digunakan untuk menentukan jumlah dan sumber zat gizi
yang dimakan serta dapat membantu menunjukkan persediaan zat gizi dalam tubuh
cukup atau kurang. Penilaian konsumsi pangan dapat dilakukan dengan cara survei
terhadap konsumsi pangan suatu individu atau suatu keluarga. Survei konsumsi pangan
termasuk salah satu metode tidak langsung dalam penilaian status gizi. Survei konsumsi
pangan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui konsumsi pangan seseorang, keluarga
atau kelompok orang, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.
Survei konsumsi pangan secara kuantitatif bertujuan untuk mengetahui jumlah
bahan makanan yang dikonsumsi sedangkan survei secara kualitatif bertujuan untuk
mengetahui frekuensi makan, kebiasaan makan (food habit), jenis pangan, serta cara
memperolehnya.
Data-data yang perlu dikumpulkan dalam melakukan survei konsumsi pangan
secara kualitatif meliputi: jenis pangan yang dikonsumsi, frekuensi konsumsi masing-
masing jenis pangan, tempat asal pangan, cara penyimpanan, penyiapan dan pemasakan
makanan (Suhardjo & Riyadi 1990).

C. Kecukupan Gizi
Kecukupan gizi adalah rata-rata asupan gizi harian yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan gizi bagi hampir semua (97,5%) orang sehat dalam kelompok umur, jenis
kelamin, dan fisiologis tertentu. Nilai asupan zat gizi harian yang diperkirakan dapat
memenuhi kebutuhan gizi mencakup 50% orang sehat dalam kelompok umur, jenis
kelamin, dan fisiologis tertentu disebut dengan kebutuhan gizi (Muchtadi 1989).
Standar kecukupan gizi di Indonesia pada umumnya masih menggunakan standar
makro, yaitu kecukupan kalori (energi) dan kecukupan protein, sedangkan standar
kecukupan gizi secara mikro seperti kecukupan vitamin dan mineral belum banyak
diterapkan di Indonesia. Kecukupan energi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu umur,
jenis kelamin, ukuran tubuh, status fisiologis, kegiatan, efek termik, iklim, dan adaptasi.
Untuk kecukupan protein dipengaruhi oleh faktor-faktor umur, jenis kelamin, ukuran
tubuh, status fisiologi, kualitas protein, tingkat konsumsi energi dan adaptasi (Muchtadi
1989).
Angka kecukupan gizi rata-rata yang dianjurkan pada masing-masing orang per
hari bervariasi tergantung pada umur, jenis kelamin, dan keadaan fisiologis individu
tersebut. Pada anak usia 0-6 bulan, kecukupan energi dan proteinnya masing-masing
sebesar 550 Kalori dan 10 gram. Semakin bertambah umur, kecukupan gizi makro
berupa energi dan protein serta zat gizi mikro juga bertambah. Pada anak usia 7-9 tahun,
kecukupan energinya meningkat menjadi 1800 Kalori dan kecukupan proteinnya sebesar
45 gram. Remaja dan dewasa pria memiliki angka kecukupan gizi yang lebih besar
dibandingkan dengan wanita. Selain itu, keadaan fisologis juga sangat berpengaruh
terhadap angka kecukupan gizi individu. Pada wanita hamil, kecukupan energinya
bertambah 180 Kalori pada saat trimester 1, dan pada trimester 2 serta 3 bertambah 300
Kalori dari kecukupan energi wanita yang tidak hamil pada usia yang sama. Kecukupan
protein pada wanita hamil juga mengalami kenaikan, yakni sebesar 17 gram dari
kecukupan protein wanita normal (Atmarita & Tatang 2004).
Perencanaan pemenuhan kebutuhan dan kecukupan zat gizi perlu untuk dilakukan
agar kecukupan dan kebutuhan zat gizi dapat terpenuhi secara optimal. Perencanaan
pemenuhan kecukupan zat gizi dapat dilakukan melalui beberapa langkah, di antaranya
adalah dengan menentukan kebutuhan zat-zat gizi masing-masing individu,
memperhatikan zat gizi pada bahan pangan yang akan dikonsumsi, serta upaya
pemenuhan menu sesuai dengan pedoman umum gizi seimbang (Azwar 2004).

D. Pola Konsumsi
Pola konsumsi merupakan hasil dari proses pembentukan sikap dan perilaku
konsumsi bahan makanan yang tersedia. Pola konsumsi dapat terlihat dari distribusi
pangan yang merupakan indikator dari seberapa besar atau presentase pengeluaran
keluarga dari pendapatan yang diperoleh yang digunakan untuk bahan makanan
(Sumarwan 1993). Faktor-faktor yang ikut menentukan pola konsumsi keluarga antara
lain tingkat pendapatan keluarga, ukuran keluarga, pendidikan kepala keluarga dan status
kerja wanita. Teori Engel’s yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan
keluarga semakin rendah persentasi pengeluaran untuk konsumsi makanan (Sumarwan
1993).
Berdasarkan teori klasik ini, maka keluarga bisa dikatakan lebih sejahtera bila
persentasi pengeluaran untuk makanan jauh lebih kecil dari persentasi pengeluaran untuk
bukan makanan. Artinya proporsi alokasi pengeluaran untuk pangan akan semakin kecil
dengan bertambahnya pendapatan keluarga, karena sebagian besar dari pendapatan
tersebut dialokasikan pada kebutuhan non pangan. Selain jumlah anggota keluarga,
tingkat pendidikan formal kepala keluarga juga berpengaruh terhadap pola konsumsi
keluarga. Pendidikan dapat merubah sikap dan prilaku seseorang dalam memenuhi
kebutuhannya. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka makin mudah ia dapat
menerima informasi dan inovasi baru yang dapat merubah pola konsumsinya. Disamping
itu makin tinggi tingkat pendidikan formal maka kemungkinannya akan mempunyai
tingkat pendapatan yang
relatif lebih tinggi (Sumarwan 1993).

E. Perubahan Pola Konsumsi


Dalam ilmu ekonomi dijelaskan bahwa ekonomi merupakan asumsi dalam teori
ekonomi seseorang bertindak secara rasional dalam mencapai tujuannya dan kemudian
mengambil keputusan yang konsisten dengan tujuan tersebut. Haris dan Andika (2002)
mengemukakan beberapa macam kebutuhan pokok manusia untuk bisa hidup secara
wajar, yaitu :
1. Kebutuhan pangan atau kebutuhan akan makanan.
2. Kebutuhan sandang atau pakaian.
3. Kebutuhan papan atau tempat berteduh.
4. Kebutuhan pendidikan untuk menjadi manusia bermoral dan berbudaya.
Kebutuhan tersebut di atas merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi
untuk dapat hidup wajar. Bila kebutuhan itu kurang dapat dipenuhi secara memuaskan
maka hal itu merupakan suatu indikasi bahwa kita masih hidup di bawah garis
kemiskinan. Kebutuhan lain seperti kebutuhan akan perabot rumah tangga, meja, kursi,
lemari, alat-alat dapur, radio, televisi dan aneka kebutuhan lainnya, disebut sebagai
kebutuhan sekunder atau kebutuhan pelengkap yang ditambahkan sesuai dengan
peningkatan pendapatan. Dalam menghadapi perubahan ini maka keluarga harus
mempunyai beberapa strategi untuk mengatasi kendala waktu yang dihadapinya. Dua
strategi pokok yang dapat dilakukan keluarga yang bekerja agar kesejahteraan keluarga
dapat tercapai adalah membeli waktu dan menghemat waktu. Membeli waktu merupakan
usaha yang dilakukan keluarga untuk membeli alat-alat rumah tangga, (household
appliances) seperti mesin cuci, kulkas, alat-alat dapur dan lain sebagainya, serta
menggunakan jasa-jasa pelayanan. Strategi semacam ini membuat keluarga lebih
mengandalkan alat-alat listrik dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Selain itu,
keluarga dapat menggunakan jasa orang lain untuk memenuhi kebutuhannya, misalnya
menggunakan jasa binatu, jasa penitipan dan pengasuhan anak, membayar pembantu
rumah tangga, sering makan di rumah makan atau membeli makanan yang siap
dihidangkan.
Strategi menghemat waktu, merupakan usaha yang dilakukan oleh keluarga untuk
mengalokasikan pekerjaan rumah tangga yang biasa dilakukan oleh isteri/ibu kepada
suami/ayah atau anak-anak. Strategi menghemat waktu termasuk pula pengurangan
kuantitas dan kualitas pekerjaan rumah tangga yang harus dilakukan, misalnya
mengurangi waktu santai dan kegiatan sosial. Kendala waktu yang dihadapi keluarga
masa depan dan strategi untuk mengatasinya akan mempengaruhi pola konsumsi
keluarga tersebut, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Hal ini didukung oleh
industri makanan yang memproduksi berbagai jenis makanan jadi, industri restoran dan
fast food yang tumbuh pesat (Wilopo 1998).
METODE

A. Waktu dan Tempat


Praktikum survei konsumsi pangan metode penimbangan makanan (food weighing)
dilaksanakan pada hari Kamis, 30 Maret 2017. Praktikum dilaksanakan di Laboratorium
Kuliner, Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Palangka Raya.

B. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat-alat masak seperti panci, pisau,
telenan, wajan, sodet, gelas, piring, mangkuk, sendok dan garpu. Bahan yang digunakan
pada praktikum kali ini adalah kentang, telur, buncis, bayam.
1. Alat
- Timbangan
- Panci
- Pisau
- Talenan
- Wajan
- Piring
- Mangkok
- Sendok dan garpu
- Kompor

2. Bahan
- Kentang
- Telur
- Buncis
- Bayam
C. Prosedur
1. Siapkan masing-masing bahan makanan untuk setiap menu.
2. Timbang masing-masing bahan (berat bersih)
3. Catat hasil bahan yang telah ditimbang tadi untuk mengetahui berat bersihnya
4. Setelah itu kupas bahan makanan.
5. Setelah itu, cuci masing-masing bahan tadi untuk dimasak
6. Masak masing-masing bahan, angkat
7. Timbang berat bahan yang sudah matang
8. Catat hasil penimbangan berat matangnya

D. Diagram Alir

Siapkan masing-masing bahan makanan untuk setiap menu

Timbang masing-masing bahan (berat bersih)

Catat hasil bahan yang telah ditimbang tadi untuk mengetahui berat bersihnya

Setelah itu, cuci masing-masing bahan tadi untuk dimasak

Masak masing-masing bahan, angkat

Timbang berat bahan yang sudah matang

Catat hasil penimbangan berat matangnya


HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

- Hasil Penimbangan

Nama Makanan Berat Mentah (gr) Berat Masak (gr)


Kentang goreng 54 30
Kentang kukus 48 44
Telur dadar sedikit minyak 49 43
Telur ceplok air 50 47
Buncis rebus 22 32
Buncis tumis 32 28
Bayam tumis 57 68
Bayam rebus 63 91
Bayam rebus bersantan 61 87

Minyak Berat sebelum Berat sesudah


digunakan (gr) digunakan (gr)
Minyak untuk menggoreng kentang 80 60
- Hasil Perhitungan

Nilai
Berat Nilai Gizi
Nama Berat BMM Gizi
URT Kotor PM (gram) DKBM
Makanan (gram) (gram) Jajanan
(gram) (Energi)
(Energi)
Kentang ½ 30 2,9 x 30 - - 87
19,9 𝑥 87 𝑥 83
goreng buah = 87 =17,3 100
100 = 72,21 𝑘𝑘𝑎𝑙
Kentang ½ 44 1,0 x 44 - - - 44
𝑥 83
kukus buah = 44 100
= 36,52 𝑘𝑘𝑎𝑙
Telur 1 43 0,9 x 43 - 9,0 𝑥 38,7 - 38,7
𝑥 162
dadar butir = 38,7 100 100
sedikit = 3,48 = 62,69 𝑘𝑘𝑎𝑙
minyak
Telur 1 47 0,9 x 47 - - - 42,3
𝑥 162
ceplok air butir = 42,3 100
= 68,52 𝑘𝑘𝑎𝑙
Buncis ¼ 43 1,0 x 43 - 19,3 𝑥 43 43
= 8,29 𝑥 42
tumis gls = 43 100 100
= 18,06 𝑘𝑘𝑎𝑙
Buncis ¼ 89 0,9 x 89 - - - 97,9
𝑥 42
rebus gls = 97,9 100
= 41,11 𝑘𝑘𝑎𝑙
Bayam ½ 68 0,9 x 68 - 13,2 𝑥 61,2 - 61,2
𝑥 36
tumis gls = 61,2 100 100
= 8,07 = 22,03 𝑘𝑘𝑎𝑙
Bayam ½ gls 91 1,1 x 91 - - - 100,1
𝑥 36
rebus = 100,1 100
= 36,03 𝑘𝑘𝑎𝑙
Bayam ½ 87 1,0 x 87 - - - 87
𝑥 36
rebus btr = 87 100
bersantan = 31,32 𝑘𝑘𝑎𝑙

B. Pembahasan
Pada tabel diatas terlihat hasil masing-masing bahwa terdapat perubahan berat
bahan antara berat mentah dan berat masak bahan. Terlihat bahwa ada beberapa bahan
makanan yang beratnya lebih rendah dan ada beberapa bahan makanan juga yang terlihat
beratnya lebih tinggi.
KESIMPULAN DAN SARAN

 Kesimpulan
Pola konsumsi pangan dapat dilihat dari distribusi pangan melalui food weighing.
Hal yang dilakukan adalah menimbang bahan-bahan yang dikonsumsi dan dihitung
kandungan gizinya serta tingkat kecukupan. Selain itu, pemilihan bahan pangan untuk
menu yang diolah juga belum sesuai dengan pedoman bahan makanan beragam dan
berimbang. Oleh karena itu, perlu diperhatikan dan diatur ketersediaan zat-zat gizi
tersebut dalam menu untuk waktu makan yang lain dalam satu hari itu sehingga
keseimbangan asupannya dalam menu makan sehari dapat tercapai. Hal ini terjadi karena
angka kecukupan zat gizi yang bervariasi tergantung pada umur, jenis kelamin, dan
keadaan fisiologis individu tersebut. Sehingga perlu dilakukan perencanaan pemenuhan
kebutuhan agar bahan pangan yang dikonsumsi dapat memenuhi angka kecukupan yang
dianjurkan.

 Saran
Penilaian konsumsi pangan dengan metode food weighing sangat memerlukan
ketelitian dalam penimbangan makanan. Pemilihan bahan pangan untuk suatu menu
sebaiknya berpedoman kepada bahan makanan beragam dan berimbang. Selain itu,
metode ini cukup rumit, tidak praktis, dan membutuhkan waktu yang lama sehingga
perlu kesabaran dalam proses pengambilan data.
DAFTAR PUSTAKA

Anindya. 2009. Mengukur status nutrisi dewasa. www.mengukur-status-nutrisi-dewasa. html


[25 November 2010].
Atmarita, Tatang SF. 2004. Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Makalah pada
Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII, Jakarta 17-19 Mei 2004
Azwar. 2004. Kecenderungan Masalah Gizi Dan Tantangan Di Masa Datang ; Makalah pada
Pertemuan Advokasi Program Perbaikan Gizi Menuju Keluarga Sadar Gizi, di Hotel
Sahid Jaya, Jakarta, 27 September 2004.
Haris, A dan Adika, N. 2002. Dinamika Penduduk dan Pembangunan di Indonesia
Peningkatan Angka Harapan Hidup di Indonesia. Populasi. Volume 9 Nomor 1. PPK
UGM. Yogyakarta.
Kusharto CM, Sa’diyah NY. 2008. Diktat Penilaian Konsumsi pangan. Bogor: Departemen
Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor.
Mey. 2008. Antropometri. www.mey_PH’s.htm [25 November 2010].
Muchtadi D. 1989. Evaluasi Nilai Gizi Pangan. Departemen P&K DIKTI PAU Pangan dan
Gizi IPB, Bogor.
Suhardjo & Hadi Riyadi . 1990 . Penilaian Keadaan Gizi Masyarakat PAU – P & G. IPB .
Bogor Wilson . E . P . Fisher . K . H . & Garcia . P . 1979 .
Sumarwan. 1993. Keluarga Masa Depan dan Perubahan Pola Konsumsi. Warta dari
Perspektif Makro ke realitas Mikro. Lesfi. Yokyakarta.
Supariasa et.al. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC.
Wilopo, A. Siswanto. 1998. Dampak Resesi Ekonomi pada Penurunan Kematian dan
Demografi. Tahun ke-23 No.5. LD.FEUI. Jakarta.
LAMPIRAN

Gambar bahan berat mentah


Gambar bahan berat masak