Anda di halaman 1dari 6

Untuk memahami tabel jadwal imunisasi perlu membaca keterangan tabel

1. Vaksin hepatitis B (HB). Vaksin HB pertama (monovalent) paling baik diberikan dalam
waktu 12 jam setelah lahir dan didahului pemberian suntikan vitamin K1 minimal 30
menit sebelumnya. Jadwal pemberian vaksin HB monovalen adalah usia 0,1, dan 6
bulan. Bayi lahir dari ibu HBsAg positif, diberikan vaksin HB dan imunoglobin hepatitis B
(HBIg) pada ekstrimitas yang berbeda. Apabila diberikan HB kombinasi dengan DTPw,
maka jadwal pemberian pada usia 2,3, dan 4 bulan. Apabila vaksin HB kombinasi
dengan DTPa, maka jadwal pemberian pada usia 2,4, dan 6 bulan.

2. Vaksin polio. Apabila lahir di rumah segera berikan OPV-0. Apabila lahir di sarana
kesehatan, OPV-0 diberikan saat bayi dipulangkan. Selanjutnya, untuk polio-1, polio-2,
polio-3, dan polio booster diberikan OPV atau IPV. Paling sedikit harus mendapat satu
dosis vaksin IPV bersamaan dengan pemberian OPV-3.

3. Vaksin BCG. Pemberian vaksin BCG dianjurkan sebelum usia 3 bulan, optimal usia 2
bulan. Apabila diberikan pada usia 3 bulan atau lebih, perlu dilakukan uji tuberculin
terlebih dahulu.

4. Vaksin DTP. Vaksin DTP pertama diberikan paling cepat pada usia 6 minggu. Dapat
diberikan vaksin DTPw atau DTPa atau kombinasi dengan vaksin lain. Apabila diberikan
vaksin DTPa maka interval mengikuti rekomendasi vaksin tersebut yaitu usia 2,4, dan 6
bulan. Untuk usia lebih dari 7 bulan diberikan vaksin Td atau Tdap. Untuk DTP 6 dapat
diberikan Td/Tdap pada usia 10-12 tahun dan booster Td diberikan setiap 10 tahun.

5. Vaksin pneumokokus (PCV). Apabila diberikan pada usia 7-12 bulan, PCV diberikan 2
kali dengan interval 2 bulan; dan pada usia lebih dari 1 tahun diberikan 1 kali. Keduanya
perlu booster pada usia lebih dari 12 bulan atau minimal 2 bulan setelah dosis terakhir.
Pada anak usia di atas 2 tahun PCV diberikan cukup satu kali.

6. Vaksin rotavirus. Vaksin rotavirus monovalen diberikan 2 kali, dosis pertama diberikan
usia 6-14 minggu (dosis pertama tidak diberikan pada usia ≥ 15 minggu), dosis ke-2
diberikan dengan interval minimal 4 minggu. Batas akhir pemberian pada usia 24
minggu. Vaksin rotavirus pentavalen diberikan 3 kali, dosis pertama diberikan usia 6-14
minggu (dosis pertama tidak diberikan pada usia ≥ 15 minggu), dosis kedua dan ketiga
diberikan dengan interval 4-10 minggu. Batas akhir pemberian pada usia 32 minggu.

7. Vaksin influenza. Vaksin influenza diberikan pada usia lebih dari 6 bulan, diulang setiap
tahun. Untuk imunisasi pertama kali (primary immunization) pada anak usia kurang dari
9 tahun diberi dua kali dengan interval minimal 4 minggu. Untuk anak 6-36 bulan, dosis
0,25 mL. Untuk anak usia 36 bulan atau lebih, dosis 0,5 mL.

8. Vaksin campak. Vaksin campak kedua (18 bulan) tidak perlu diberikan apabila sudah
mendapatkan MMR.
9. Vaksin MMR/MR. Apabila sudah mendapatkan vaksin campak pada usia 9 bulan, maka
vaksin MMR/MR diberikan pada usia 15 bulan (minimal interval 6 bulan). Apabila pada
usia 12 bulan belum mendapatkan vaksin campak, maka dapat diberikan vaksin
MMR/MR.
10. Vaksin varisela. Vaksin varisela diberikan setelah usia 12 bulan, terbaik pada usia
sebelum masuk sekolah dasar. Apabila diberikan pada usia lebih dari 13 tahun, perlu 2
dosis dengan interval minimal 4 minggu.
11. Vaksin human papilloma virus (HPV). Vaksin HPV diberikan mulai usia 10 tahun.
Vaksin HPV bivalen diberikan tiga kali dengan jadwal 0, 1, 6 bulan; vaksin HPV
tetravalent dengan jadwal 0,2,6 bulan. Apabila diberikan pada remaja usia 10-13 tahun,
pemberian cukup 2 dosis dengan interval 6-12 bulan; respons antibodi setara dengan 3
dosis.

12. Vaksin Japanese encephalitis (JE). Vaksin JE diberikan mulai usia 12 bulan pada
daerah endemis atau turis yang akan bepergian ke daerah endemis tersebut. Untuk
perlindungan jangka panjang dapat diberikan booster 1-2 tahun berikutnya.
13. Vaksin dengue. Diberikan pada usia 9-16 tahun dengan jadwal 0,6, dan 12 bulan.
Berikut empat fase (kala) persalinan normal: *

1. Kala 1 Fase ini disebut juga kala pembukaan. Pada tahap ini terjadi pematangan dan
pembukaan mulut rahim hingga cukup untuk jalan keluar janin. Pada kala 1 terdapat dua fase
yaitu :
a. Fase laten: pembukaan sampai mencapai 3 cm, berlangsung sekitar delapan jam.
b. Fase aktif: pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm), berlangsung sekitar enam jam.

Pada tahap ini ibu akan merasakan kontraksi yang terjadi tiap 10 menit selama 20-30 detik.
Frekuensi kontraksi makin meningkat hingga 2-4 kali tiap 10 menit, dengan durasi 60-90 detik.
Kontraksi terjadi bersamaan dengan keluarnya darah, lendir, serta pecah ketuban secara
spontan. Cairan ketuban yang keluar sebelum pembukaan 5 cm kerap dikatakan sebagai
ketuban pecah dini.

2. Kala 2 Pada fase ini janin mulai keluar dari dalam kandungan yang membutuhkan waktu sekitar
dua jam. Fase dimulai saat serviks sudah membuka selebar 10cm hingga bayi lahir lengkap.
Pada kala 2, ketuban sudah pecah atau baru pecah spontan, dengan kontraksi yang lebih sering
terjadi yaitu 3-4 kali tiap 10 menit.

Refleks mengejan juga terjadi akibat rangsangan dari bagian terbawah janin yang menekan
anus dan rektum. Tambahan tenaga mengejan dan kontraksi otot-otot dinding abdomen serta
diafragma, membantu ibu mengeluarkan bayi dari dalam rahim.

3. Kala 3 Tahap ini disebut juga kala uri, yaitu saat plasenta ikut keluar dari dalam rahim. Fase ini
dimulai saat bayi lahir lengkap dan diakhiri keluarnya plasenta. Pada tahap ini biasanya
kontraksi bertambah kuat, namun frekuensi dan aktivitas rahim terus menurun. Plasenta bisa
lepas spontan atau tetap menempel dan membutuhkan bantuan tambahan.

4. Kala 4 Tahap ini merupakan masa satu jam usai persalinan yang bertujuan untuk
mengobservasi persalinan. Pada tahap ini plasenta telah berhasil dikeluarkan dan tidak boleh
ada pendarahan dari vagina atau organ. Luka-luka pada tubuh ibu harus dirawat dengan baik
dan tidak boleh ada gumpalan darah.
Heimlich maneuver adalah istilah pertolongan pertama dan darurat untuk membantu orang
yang tersedak dengan menekan perutnya kuat-kuat. Gerakan ini akan menghasilkan tekanan
besar pada perut dan dada orang tersebut sehingga objek yang tersangkut di saluran napas
dapat terlepas keluar.

Heimlich maneuver dapat Anda lakukan pada orang segala usia yang sedang tersedak,
termasuk bayi dan wanita hamil.

Lakukan pukulan pada punggungnya, disebut dengan “back blows”

PERTOLONGAN PERTAMA PADA KORBAN TERSEDAK

Tersedak merupakan salah satu kasus kegawatdaruratan yang sering kita jumpai di
masyarakat. Dalam istilah medis, tersedak merupakan suatu bentuk
obstruksi/sumbatan pada saluran napas. Jika ada benda asing yang masuk ke jalan
napas (kecuali gas), maka tubuh akan merespon dengan reflek batuk untuk
mengeluarkan benda asing tersebut. Tetapi jika benda asing yang masuk ke dalam
saluran napas tersebut ukurannya besar, maka dapat menyebabkan sumbatan total
pada jalan napas. Adapun beberapa benda yang bisa menyebabkan sumbatan pada
jalan napas diantaranya bakso, permen karet, permen, kolang-kaling, daging, dll. Ciri-
ciri seseorang yang tersedak diantaranya :

1. Korban biasanya tidak bersuara.


Korban tidak bisa bicara/tidak mengeluarkan suara karena jalan napas tertutup oleh benda
asing sehingga udara tidak bisa lewat ke pita suara.
2. Korban akan memegang leher.
Ciri khas orang yang tersedak adalah memegang leher. Kondisi tersebut untuk memberikan
isyarat kepada orang lain bahwa korban sebenarnya ada masalah pada leher dan butuh
pertolongan, tetapi korban tidak mampu bersuara.

Gambar 1 : Posisi korban tersedak (Sumber : http://websehat.net)

1. Jika anda menjumpai korban yang tersedak yang anda harus lakukan adalah :
Berteriak minta tolong pada orang lain Untuk bisa menolong orang dalam kondisi gawat
darurat, kita pasti nanti akan butuh pertolongan orang lain. Oleh karena itu, berteriak minta
tolong adalah merupakan salah satu bagian dari sistem program penanggulangan gawat
darurat terpadu.
2. Jika korban adalah dewasa atau anak-anak lakukan haemlich maneuver jika korban masih
dalam kondisi sadar.

Cara melakukan haemlich maneuver adalah :

a) Penolong berdiri di belakang korban, posisikan tangan penolong memeluk di atas perut
korban melalui ketiak korban.
b) Sisi genggaman tangan penolong diletakkan di atas perut korban tepat pada pertengahan
antara pusar dan batas pertemuan iga kiri dan kanan (tulang taju pedang).
c) Letakkan tangan lain penolong di atas genggaman pertama lalu hentakan tangan penolong
ke arah belakang dan atas (seperti mengulek) posisi kedua siku penolong ke arah luar,
kemudian lakukan hentakan sambil meminta pasien membantu memuntahkannya.
d) Lakukan berulang sampai berhasil, namun tetap harus berhati-hati.

Gambar 2 : Haemlich manuever pada korban dewasa

Gambar 3 : Posisi tangan saat melakukan haemlich manuever

Gambar 4 : Haemlich maneuver pada anak


e) Tetapi, jika anda sendiri yang mengalami tersedak dan tidak ada teman/orang lain
di sekitar anda, maka anda dapat melakukan haemlich maneuver sendiri. Caranya
adalah anda dapat mencari kursi yang tidak beroda. Anda berdiri dibelakang, lalu
bungkukkan tubuh anda dengan posisi perut menempel pada sandaran kursi. Lakukan
hentakan sendiri.

Gambar 5 : Posisi melakukan haemlich maneuver sendirian

Ketika kita sudah berusaha melakukan haemlich maneuver tetapi korban tiba-tiba
pingsan dan sumbatan belum juga keluar, segera lakukan abdominal thrust. Caranya
adalah tidurkan korban dengan posisi telentang, lalu penolong berlutut diantara dua
kaki korban. Letakkan punggung tangan penolong diantara tulang taju pedang dan
pusar korban, lalu kaitkan dengan tangan penolong satunya lalu lakukan gerakan
mendorong ke arah kepala korban.

Gambar 6 : Posisi melakukan abdominal thrust

Kontraindikasi Abdominal thrust adalah kehamilan tua dan bayi serta dewasa yang
gemuk. Dianjurkan lebih baik menggunakan chest thrust (kompresi dada) atau back
blows atau back slap yaitu dengan menepuk atau memukul punggung pada
pertengahan daerah diantara kedua scapula. Cara melakukan back blows adalah
bungkukkan atau doyongkan tubuh korban ke depan, lalu beri 5 kali dorongan/ tepukan
pada punggung (diantara tulang belikat) dengan menggunakan tumit salah satu
tangan. Kalau pada bayi, posisi bayi ditelungkupkan dan ditopang dangan salah satu
tangan, lalu tangan yang satu memberikan dorongan. Cara melakukan pada bayi
biasanya back blows dikombinasikan dengan chest thrust. Caranya adalah memberikan
5 kali dorongan pada punggung dikuti dengan pemberian 5 kali dorongan pada dada.
Gambar 7 : Teknik melakukan back blows pada bayi (Sumber : www.rezkypratama.com)

Gambar 8 : Teknik melakukan chest thrust pada bayi (sumber : http://www.health.detik.com)