Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Herpes labialis adalah bentuk sekunder atau kekambuhan infeksi herpes
simpleks primer yang disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe 1 (HSV) . HSV,
dikategorikan ke dalam keluarga Herpesviridae yang tidak dapat ditularkan oleh
vektor hewan, tetapi menyebar di antara individu, Virus diselimuti DNA beruntai
ganda. virus ini memiliki kemampuan untuk menjadi laten/dorman dalam sel-sel saraf
hostnya. Herpes labialis rekuren adalah infeksi pada bibir oleh virus herpes simplex
(HSV-1). Meskipun sebagian besar pasien dengan herpes labialis rekuren memiliki
kurang dari dua episode setiap tahun, sebagian kecil pasien (5% hingga 10%)
melaporkan sering kambuh enam atau lebih episode setiap tahun. Herpetic Whitlow
dapat terjadi juga pada kalangan dokter gigi yang terkontaminasi pasien dengan
herpes simpleks labialis pada saat pemeriksaan oral. (Herlambang,2016)(Jolcei,2011)
Selama fase laten, HSV tidak bereplikasi, dan antigen HSV tidak akan
terdeteksi. HSV akan diaktifkan kembali bila ada faktor-faktor pencetus, seperti
matahari, trauma, tekanan emosional, atau menstruasi, demam, dan imunosupresi.
HSV bereplikasi di ganglion, dan kemudian bergerak sentrifugal sepanjang akson ke
kulit atau mukosa mulut. HSV menginfeksi sel-sel epitel, kemudian secara klinis
memicu vesikula yang mudah pecah lalu menjadi ulkus.(Herlambang,2016)
Herpes labialis, terjadi pada 20-40% populasi di Amerika Serikat, hampir 100
juta kali per tahun. Sekitar sepertiga prevalensi menunjukkan adanya Predileksi
umumnya pada bibir bawah. Penderita herpes labialis dapat asimtomatik atau dengan
seperti sering mengeluh luka yang dingin atau lepuhan/blister yang teras panas.
Mereka juga mengeluhkan gejala-gejala prodromal, seperti kesemutan, gatal atau
sensasi terbakar diikuti dengan munculnya lesi dalam bentuk vesikula yang mudah
pecah menjadi ulkus disertai dengan krusta. 60% dari pasien yang mengalami gejala
prodromal cenderung memiliki lesi yang lebih besar. Secara klinis, pasien dengan
herpes labialis akan memiliki vesikel di bibir mereka, dan kemudian dalam hitungan

1
jam mereka akan berubah menjadi ulkus dan krusta. Dalam 24 jam pertama, pasien
dengan kultur HSV positif akan mengalami lesi, 80% di antaranya berupa vesikula
dan 34% di antaranya berupa ulkus atau krusta. Dalam kondisi yang lebih parah,
proses penyembuhan membutuhkan waktu yang lebih lama. Umumnya, lesi
disembuhkan dalam 1-2 minggu tanpa bekas luka dan infeksi sekunder bakteri.
(Herlambang,2016)
Lebih lanjut, pasien dengan gangguan imun yang menderita herpes labialis
biasanya diberikan terapi Acyclovir sistemik. Sementara itu, penggunaan obat
antiviral topikal bertujuan untuk mencegah replikasi, infektivitas, rasa sakit, serta
ukuran yang lebih luas dan durasi lesi yang lebih lama. Namun, mereka tidak dapat
mencegah kekambuhan yang berulang. Obat antiviral topikal, seperti krim Acyclovir
topikal 5%, krim penciclovir 3%, dan krim docosanol 10%, dapat secara efektif
diterapkan tiga hingga enam kali sehari pada lesi, dan tidak dipungkiri pasien yang
sudah menderita herpes labialis bisa mengalami kekambuhan lagi. (Herlambang,2016)
Herpes labialis merupakan infeksi sekunder dari infeksi herpes simpleks primer
yang disebabkan oleh HSV-1, kebanyakan penderita tidak memiliki gejala apapun dan
herpes labialispun dapat mengalami episode berulang apabila ada faktor pencetus
dengan gejala yang lebih parah, selain itu herpes labialis juga dapat menyebarkan
infeksi herpetic whitlow yang dapat terjadi pada tenaga medis pemeriksa penderita,
maka dari itu penulis mengangkat herpes labialis sebagai judul makalah ini yang
dapat dijadikan wawasan tambahan mengenai penyakit herpes labialis.

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Mengetahui , etiologi, gejala klinis dan penatalaksanaan dari herpes simpleks


labialis

2. Tujuan Khusus
Mengetahui etiologi, gejala klinis, penatalaksanaan dari herpes simpleks labialis

2
C. Manfaat Penulisan
Memberikan wawasan dan pengetahuan tentang penyakit yang melibatkan lesi
pada mukosa mulut yaitu herpes simpleks labialis ,bagaimana gejalanya, cara
menegakkan diagnosis dan penanganan yang tepat pada kasus seperti ini.

3
BAB II

TINAJUAN PUSTAKA

A. Definisi Herpes Simpleks Labialis


Herpes labialis adalah bentuk sekunder atau kekambuhan infeksi herpes simpleks
primer yang disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe 1 (HSV) . HSV,
dikategorikan ke dalam keluarga Herpesviridae yang tidak dapat ditularkan oleh
vektor hewan, tetapi menyebar di antara individu, Virus diselimuti DNA beruntai
ganda. virus ini memiliki kemampuan untuk menjadi laten dalam sel-sel saraf
hostnya. Infeksi pertama biasanya terjadi setelah kontak pertama dengan HSV yang
terkandung dalam sekresi cairan mukosa, kulit, dan mata pada pasien yang terinfeksi.
HSV juga dapat pindah ke akson saraf sensorik, kemudian menetap dan berubah
menjadi laten yang bersifat kronis di ganglion saraf trigeminal. HSV juga dapat
berpindah ke luar sel saraf dan menjadi laten, seperti pada epiteltium,dan apabila ada
faktor pencetus akan dapat mengalami kekambuhan. (Herlambang,2016)

B. Epidemiologi Herpes Simpleks Labialis


Insiden terjadinya infeksi primer meningkat setelah usia 6 bulan, ketika
antibodi HSV yang diperoleh dari ibu menghilang, dan mencapai puncak antara umur
2 dan 3 tahun. Namun demikian, kasus-kasus yang baru dapat saja muncul pada anak-
anak, remaja dan orang dewasa yang tidak terinfeksi sebelumnya.(Priscilia,2016)
Herpes labialis, terjadi pada 20-40% populasi di Amerika Serikat, hampir 100
juta kali per tahun. Sekitar sepertiga prevalensi menunjukkan adanya Predileksi
umumnya pada bibir bawah. Penderita herpes labialis sering mengeluh luka yang
dingin atau lepuhan/blister yang teras panas. Mereka juga mengeluhkan gejala-gejala
prodromal, seperti kesemutan, gatal atau sensasi terbakar diikuti dengan munculnya
lesi dalam bentuk vesikula yang mudah pecah menjadi ulkus disertai dengan krusta.
60% dari pasien yang mengalami gejala prodromal cenderung memiliki lesi yang
lebih besar. Secara klinis, pasien dengan herpes labialis akan memiliki vesikel di bibir
mereka, dan kemudian dalam hitungan jam mereka akan berubah menjadi ulkus dan

4
krusta. Dalam 24 jam pertama, pasien dengan kultur HSV positif akan mengalami
lesi, 80% di antaranya berupa vesikula dan 34% di antaranya berupa ulkus atau
krusta. Dalam kondisi yang lebih parah, proses penyembuhan membutuhkan waktu
yang lebih lama. Umumnya, lesi disembuhkan dalam 1-2 minggu tanpa bekas luka
dan infeksi sekunder bakteri. (Herlambang,2016)
C. Klasifikasi Herpes
1. HSV tipe 1, menyebabkan demam seperti pilek dengan menimbulkan luka di bibir
semacam sariawan. HSV jenis ini ditularkan melalui air liur penderita melalui
ciuman mulut atau bertukar alat makan seperti sendok – garpu (misalnya suap-
suapan dengan teman). Virus tipe 1 ini juga bisa menimbulkan luka di sekitar alat
kelamin. Penyakit yang dapat ditimbulkan oleh HSV tipe 1 adalah :
a. Gingivostomatitis herpetik akut
Penyakit ini sering terjadi pada anak-anak kecil (usia 1-3 tahun) dan terdiri
atas lesi-lesi vesikuloulseratif yang luas dari selaput lendir mulut, demam,
cepat marah dan limfadenopati lokal. Masa inkubasi pendek(sekitar 3-5 hari)
dan lesi-lesi menyembuh dalam 2-3 minggu.
b. Keratojungtivitis
Suatu infeksi awal HSV-1 yang menyerang kornea mata dan dapat
mengakibatkan kebutaan.
c. Herpes Labialis
Terjadi pengelompokan vesikel-vesikel lokal, biasanya pada perbatasan
mukokutan bibir. Vesikel pecah, meninggalkan tukak yang rasanya sakit dan
menyembuh tanpa jaringan parut. Lesi-lesi dapat kambuh kembali secara
berulang pada berbagai interval waktu.(Karen,2016)
2. HSV tipe 2, dapat menyebabkan luka di daerah alat vital sehingga suka disebut
genital herpes, yang muncul luka-luka di seputar penis atau vagina. HSV 2 ini
juga bisa menginfeksi bayi yang baru lahir jika dia dilahirkan secara normal dari
ibu penderita herpes. HSV-2 ini umumnya ditularkan melalui hubungan seksual.
Virus ini juga sesekali muncul di mulut. Dalam kasus yang langka, HSV dapat
menimbulkan infeksi di bagian tubuh lainnya seperti di mata dan otak. Penyakit
yang dapat ditimbukan oleh HSV tipe 2 adalah :

5
a. Herpes Genetalis
Herpes genetalis ditandai oleh lesi-lesi vesikuloulseratif pada penis pria atau
serviks, vulva, vagina, dan perineum wanita. Lesi terasa sangat nyeri dan
diikuti dengan demam, malaise, disuria, dan limfadenopati inguinal. Infeksi
herpes genetalis dapat mengalami kekambuhan dan beberapa kasus
kekambuhan bersifat asimtomatik. Bersifat simtomatik ataupun asimtomatik,
virus yang dikeluarkan dapat menularkan infeksi pada pasangan seksual
seseorang yang telah terinfeksi.
b. Herpes Neonatal
Herpes neonatal merupakan infeksi HSV-2 pada bayi yang baru lahir. Virus
HSV-2 ini ditularkan ke bayi baru lahir pada waktu kelahiran melalui kontak
dengan lesilesi herpetik pada jalan lahir. Untuk menghindari infeksi, dilakukan
persalinan melalui bedah caesar terhadap wanita hamil dengan lesi-lesi herpes
genetalis. Infeksi herpes neonatal hampir selalu simtomatik. Dari kasus yang
tidak diobati, angka kematian seluruhnya sebesar 50%.(Karen,2016)

D. Faktor Pencetus Herpes Simpleks Labialias


Timbulnya penyakit herpes bisa dipicu oleh:
1. Pemaparan cahaya matahari
2. Demam
3. Stres fisik/emosional
4. Penekanan sistem kekebalan
5. Obat-obatan atau makanan tertentu sepertii cotrimoxazole yang merupakan
penyebab paling umum,selain itu parasetamol ,fluconazole,asam mefenamat,
ibuprofen,dikofenak,tetrasiklin dan amoxicillin. (Karen,2016)(Amit dkk,2009)

6
E. Patofisilogi Herpes Simpleks Labialis
Infeksi HSV pada permukaan mukosa atau bagian kulit yang terkontaminasi
memungkinkan masuknya virus dan dimulainya replikasi HSV dalam sel-sel
epidermis dan dermisn hal ini akan menyebabkan lisisnya sel dan terjadi denaturasi
protein, hal ini akan menyebabkan terbentuknya vesikel-vesikel pada kulit ataupun
mukosa. Infeksi awal HSV sering subklinis, tanpa lesi yang terlihat. Dalam penelitian
binatang dan subyek manusia, baik saat gejala klinis dan gejala subklinis didapati
adanya replikasi virus yang cukup untuk memungkinkan infeksi pada saraf sensorik
atau ujung saraf otomom. Setelah virus HSV menembus neuroepithelial junction dan
memasuki sel saraf, nukleokapsid virus dibawa intra-aksonal ke badan sel saraf di
ganglia .Untuk infeksi HSV-1, ganglia trigeminal yang paling sering terinfeksi,
meskipun ekstensi ke ganglia cervical inferior dan superior juga dapat terjadi..
Replikasi virus terjadi di ganglia dan hanya menular ke jaringan saraf selama
infeksi primer saja. Setelah infeksi awal pada ganglion saraf, virus menyebar ke
permukaan kulit dan mukosa lainnya dengan migrasi secara sentrifugal melalui saraf
perifer sensorik. Cara penyebaran ini menjelaskan bagaimana karakteristik
perkembangan dari lesi baru yang berawal dari lesi vesikel primer sebelumnya pada
pasien infeksi orofasial HSV atau genital primer HSV. Penelitian terbaru
menunjukkan bahwa tingkat reaktivasi jauh lebih tinggi yaitu lebih sering terjadi dan
bersifat dinamis dari yang sebelumnya diakui Studi klinis menunjukkan bahwa faktor
host juga mempengaruhi reaktivasi. Pasien immunocompromised memiliki penyakit
yang lebih parah.
Antibodi yang berkembang setelah infeksi awal HSV mencegah infeksi ulang
dengan tipe virus yang sama. Penderita dengan riwayat infeksi orofasial yang
disebabkan oleh HSV-1 tidak dapat dipngkiri bisa terjadi herpes whitlow (herpes
disela-sela jari tangan) atau infeksi genital yang disebabkan oleh HSV-1. Pada
pasangan monogami, seorang wanita yang seronegatif HSV memiliki risiko tertular
infeksi HSV dari pasangannya yang seropostif dan hal ini memiliki resiko yang cukup
tinggi yaitu 30% per tahun. Jika infeksi HSV-1 orang terjadi, serokonversi akan
terjadi setelah 6 minggu untuk memberikan antibodi pelindung terhadap infeksi HSV-
1 di kemudian hari.(Priscila,2016)

7
F. Kriteria Diagnosis Herpes Simpleks Labialis
1. Anamnesis
Pasien mengeluh ada benjolan berisi cairan di bibir atas maupun bawah, yang
gatal dan terasa panas, bisa juga disertai adanya rasa nyeri. Lesi ini didahului oleh
demam intermiten ringan, kelemahan umum, dan malaise.. Riwayat kasus
kemudian diikuti dengan pemeriksaan klinis yang menyeluruh. Bisa juga pasien
datang dengan sudah ada luka pada bibirnya, gejala tergantung berapa lama pasien
sudah mengalami infeksi herpes simpleks labialis.(Tejavathi,2017)
Pasien juga ditemukan adanya riwayat keluhan seperti ini disekitar mulut atau
bibrinya sebelumnya. Riwayat minum obat tertentu
(Fluconazole,parasetamol,ibuprofen,amoxicillin) dapat menjadi penyebab timbul
kekambuhan herpes simpleks.(Amit,dkk,2009)
2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan ekstraoral maupun intraoral dapat ditemukan adanya vesikel
dengan berbagai ukuran, pada tahap lanjut dapat pula ditemukan erosi hemorargik,
dan krusta hemoragik dengan dasar eritematosa.
Pada pemeriksan leher maupun sekitar wajah dapat pula ditemukan adanya
limfadenitis yang merupakan komplikasi pada herpes simpleks labialis, dengan
ukuran yang bervariasi,mobile dan konsistensi lunak.

8
3. Pemeriksaan Penunjang
Apabila masih dicurigai adanya herpes simpleks labialis, dapat dilakukan
pemeriksaan Tzanck Test, pemeriksaan ini adalah pemeriksaan sitologi untuk
melihat morfologi sel yang di curigai adanya kelainan. Dengan cara di ambil
jaringan yang terdapat lesi lalu di buat hapusan dan dilihat dibawah mikroskop.
Hasil Tzanck test untuk herpes labialis simpleks ditemukan gambaran
histopatologi berupa giant cell/ ballooning cell. Adanya Replikasi berulang DNA
virus menyebabkan terjadinya ballooning degeneration dan degenerasi retikuler
dari sel epidermis yang terinfeksi. Ini diamati sebagai balooning cells yang
mengandung badan inklusi pada intranuklearnya dengan pengecetan pewarnaan
yang didapat dari isi blister/lepuhan. Selain itu dapat juga dengan pemeriksaan
serologis (igM anti HSV dan IgG anti HS) selain itu dapat juga dengan
imunoflouresensi.(Tejavathi,2017)(Sawangi,2017)

9
G. Diagnosis Banding Herpes Simpleks Labialis
Diagnosis herpes simpleks labialis biasanya dibuat atas dasar klinis yang
ditemukan saat pemeriksan dan riwayat klinis. Ditemukannya gejala klinis yang khas,
akan dapat mengarahkan ke diagnosis yang tepat. Namun, dalam kasus-kasus yang
meragukan, berbagai kondisi berulang dan akut yang menyebabkan ulserasi oral
seperti gingivitis ulseratif nekrotikan akut, herpangina, stomatitis aphthous, infeksi
varicella zoster, eritema multiform, stomatitis alergi harus dipertimbangkan sebagai
diagnosis banding. Infeksi varicella zoster dapat disingkirkan atas dasar tidak
ditemukannya penjalaran lesi unilateral. Tidak adanya lesi kulit yang khas dan tidak
adanya lesi pada bibir membantu menyingkirkan diagnosa eritema multiforme karena
eritema multiformis terjadi pada mukosa mulut. Ulkus aphthous biasanya ditemukan
pada mukosa non-keratinisasi tetapi ulkus pada herpes ditemukan pada mukosa
keratin seperti gingiva, dan palatum. Pada Herpangina, meskipun presentasi klinis
dari ulserasi mirip dengan ulkus pada herpes, herpangina predileksinya selalu pada
bagian posterior rongga mulut. Namun, dalam kasus yang mencurigakan diagnosis
dapat dikonfirmasi melalui tes laboratorium: Pemeriksaan serologis (IgM anti-HSV
dan IgG), tes Tzanck dan imunofluoresensi dapat dilakukan, tetapi isolasi kultur virus
masih dianggap sebagai gold standar.(Sawangi,2017)

10
H. Manajemen Herpes Simpleks Labialis
Acyclovir, valacyclovir hydrochloride, dan famciclovir adalah 3 obat antivirus
yang secara rutin digunakan untuk mengobati simptomatik dari infeksi virus herpes
simpleks (HSV ).
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) telah merekomendasikan
rejimen pengobatan untuk episode infeksi HSV-1:

1. Acyclovir 400 mg per oral tiga kali sehari selama 7-10 hari; atau
2. Acyclovir 200 mg per oral lima kali sehari selama 7-10 hari atau;
3. Famciclovir 250 mg per oral tiga kali sehari selama 7-10 hari; atau
4. Valacyclovir 1 g peroral dua kali sehari selama 7-10 hari.
Pengobatan mungkin diperpanjang jika penyembuhan tidak lengkap setelah 10
hari terapi. Terapi asiklovir intravena (IV) harus diberikan untuk pasien yang
memiliki penyakit HSV berat atau komplikasi yang memerlukan rawat inap
(misalnya, infeksi diseminata, pneumonitis, atau hepatitis) atau komplikasi CNS
(mis., meningoencephalitis). Rejimen yang dianjurkan adalah acyclovir 5–10 mg / kg
IV setiap 8 jam selama 2–7 hari atau sampai didapati adanya perbaikan klinis, diikuti
oleh terapi antivirus oral untuk setidaknya untuk 10 hari terapi total. Penyesuaian
dosis asiklovir dianjurkan untuk gangguan fungsi ginjal. Acyclovir salep 5% (atau
analog) biasanya diterapkan 5 kali per hari ketika gejala pertama muncul untuk
mengurangi durasi dan keparahan lesi. Selain itu pentingnya menhindari faktor
pemicu (paparan sinar matahari,demam,stress) herpes labialis juga dapat mengurangi
angka kekambuhan (3)(5)
Asiklovir adalah obat antiviral yang sangat efektif melawan HSV-1 dan HSV-2,
serta virus varicella zoster yang dimana acyclovir bertindak sebagai inhibitor
polimerase DNA dan mencegah sintesis DNA virus tanpa mempengaruhi proses
seluler normal.(Herlambang,2016)

11
I. Prognosis Herpes Simpleks Labialis
Herpes simpleks labialis merupakan infeksi berulang dari HSV-1, dan
merupakan self limiting disease. Penyakit ini dapat segera disembuhkan dengan obat
antivirus sejenis acyclovir yang dapat menurunkan replikasi DNA virus ini.
Penyembuhan sempurna tanpa adanya jaringan parut biasanya terjadi antara 7-10 hari.
Namun kekambuhan dapat saja terjadi apabila ditemukan adanya faktor pencetus yang
dapat menyebabkan kejadian berulang. Herpes simpleks labialis rekuren ditemukan
pada 16% hingga 38% populasi penderita herpes labialis sebelumnya. Komplikasi
seperti adanya limfadenitis regional jarang terjadi. Hal ini dapat disimpulkan bahwa
herpes labialis memiliki kemungkinan prognosis yang baik.(Sawangi,2017)

12
BAB III
PEMBAHASAN

.
A. Laporan Dua Kasus Pengobatan Herpes Simplex Labialis Dalam
Fase Makula Dan Vesikel Dengan Terapi Fotodinamik.
1. KASUS #1
Seorang pasien wanita berusia 28 tahun diagnosis denga herpe simplex
labialis berulang pada fase vesikuler di bibir bawahnya (Gambar 1A) . Interval
waktu antara fase gejala prodromal menjadi vesikel diperlukan waktu sekitar 7
jam. Pasien tidak merasakan sakit dan tidak melakukan pengobatan apapun
untuk lesi herpesnya sebelum tindakan aPDT dilakukan. HSV-1 berulang di
bibir bawah menunjukkan adanya edema ringan (Gambar 1A). Vesikula
ditusuk menggunakan jarum yang disterilkan (Gbr. 1B). Kandungan vesikel
diserap menggunakan kertas absorben dengan hati-hati untuk menghindari
penyebaran cairan yang terinfeksi ke
daerah yang berdekatan dari lesi. Larutan Metilen blue (MB) dioleskan secara
topikal di atas vesikel tanpa cairan yang kering sebagai fotosensitizer pada
konsentrasi 0,005% (mV) (Chimiolux®, DMC, Sao Carlos, SP. Brasil)
(Gambar 1C). Lima menit dianggap sebagai waktu pra-iradiasi dan satu titik
iradiasi dilakukan di atas lesi menggunakan panjang gelombang 660 nm laser
(AlGaInP) (MMOPTICS, Sao Carlos®, SP, Brazil) dengan parameter: 100
mW, 120 J / cm2; 4,8 J / poin; waktu penyinaran: 2 mnt / poin (Gbr. 1D).
Setelah tindakan aPDT pasien menyatakan tidak ada rasa sakit. Keesokan
harinya setelah aPDT, herpes labialis fase krusta ditemukan (Gambar 1E).

2. KASUS# 2
Seorang pasien wanita 30 tahun diagnosis herpes simplex labialis
rekuren dengan fase makula (Gbr. 2A) Gbr. 2. Interval waktu antara fase
gejala prodromal dan munculnya makula sekitar 2 jam. Pasien mengeluh
nyeri sedang sebelum pengobatan. Pasien sudah mendapatkan pengobatan

13
Acyclovir cream (5%) sejak awal fase prodromial. Pada fase makula yang
terletak pada kulit yang mengalami eritema, Metilen blue diolekan secara
topikal dan setelah 5 menit pra-iradiasi, satu titik iradiasi dilakukan dengan
parameter iradiasi yang sama seperti yang diterapkan dalam kasus # 1. Pasien
diinstruksikan untuk melanjutkan terapi acyclovir, mengoleskan krim di atas
lesi setiap 4 jam (dioleskan pada malam hari). Dua puluh empat jam setelah
PDT, fase macula eritema sudah tidak ada, dan tidak ditemukan adanya lesi
yang muncu (Gambar 2B).

3. Diskusi
Manuskrip ini melaporkan dua kasus HSV-1 berulang yang berhasil
diobati menggunakan aPDT yang diterapkan pada dua fase yang berbeda: vesikel
(Kasus 1) dan makula (Kasus 2). Metilena Biru yang merupakan fotosensitizer
dari dulu telah digunakan pada manusia sebagai terapi . Photoinactivation virus
menunjukkan hasil yang efektif untuk penanganan HSV-1 labialis berulang
karena teknologi aPDT tidak hanya menawarkan potensi yang signifikan dalam
menangani pasien HSV-1 labialis berulang tetapi dilihat dari sejarah penggunaan
Metilen blue yang aman dalam terapi manusia membuatnya juga menarik.
Perawatan gigi pasien dengan HSV-1 berulang adalah masalah untuk
dokter gigi dan juga untuk pasien karena adanya risiko penyebaran infeksi dan
kontaminasi dokter gigi. Saat terjadi kekambuhan, jumlah virus meningkat akan

14
menajdi resiko yang besar pada jaringan sekitar lesi ,terutama jika lesi dibuka
resiko akan lebih meningkat. Dokter gigi lebih rentan terhadap kontaminasi, dan
herpes whitlow (herpes pada jari tangan) telah ditemukan terjadi lebih sering di
dokter gigi dari pada di populasi umum. Gagasan efektif dan aman tentang
pengobatan lokal untuk herpes simplex labialis dapat dilakukan dokter gigi di
praktik dokter gigi dengan mempromosikan dekontaminasi, meningkatkan
penyembuhan dan mengurangi ketidaknyamanan pasien. Dalam kasus # 1, PDT
mempersingkat infeksi fase vesikula. Pengobatan aPDT,harus dilakukan dengan
hati-hati oleh dokter gigi, hal ini merupakan perawatan yang aman, sehingga
tidak akan muncul aerosol dan menurunkan peluang penyebaran infeksi. Dalam
kasus # 2, aPDT dilakukan pada fase macula. Dalam hal ini, kombinasi krim
acyclovir dan aPDT menghambat perkembangan infeksi. Pengobatan herpes
labialis fase makula dan vesikel dengan aPDT menggunakan Methylene Blue
sebagai photosensitizer efektif dan tidak menunjukkan adanya efek samping.

B. Laporan Kasus : Gingivostomatitis Herpetik Primer


1. Kasus
Seorang pasien wanita berusia 6 tahun melaporkan ke departemen kedokteran
gigi pediatrik dan preventif dari H.P.G.D.C, Shimla, dengan keluhan utama nyeri
dan mobilitas di wilayah gigi anterior bawahnya. Pasien menjalani ekstraksi gigi
anterior bagian bawah sebagai bagian dari perawatan. Para pasien kembali setelah
2 hari dengan ulserasi bibir bawah dan sisi perut seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 1 dan Gambar 2.

15
Gambar 1: Lesi gingiva Gambar 2: Lesi lidah
Riwayat medis menunjukkan bahwa dia menderita demam dan kelemahan yang
umum terjadi. Dia belum mengambil perawatan medis atau gigi untuk masalah
ini. Sejarah keluarga biasa saja pada umumnya. Pada pemeriksaan intraoral,
gingiva tampak berwarna merah menyala dan banyak vesikel hadir pada mukosa
yang menempel. Atas dasar sejarah klinis dan temuan, diagnosis akhir
gingivostomatitis herpes primer diberikan. Kami memulai perawatan segera dan
pasien merespon dengan baik menunjukkan penyembuhan lesi setelah 2 minggu.

Perbedaan Diagnosa
 Infeksi Herpes Simpleks Saat Ini
 Stomatitis apthous mayor
 Erytema multiformis

Pengobatan
Pasien diinstruksikan untuk makan makanan bergizi, lembut, campuran dan obat-
obatan berikut ini yang diresepkan :
 Acyclovir 200 mg lima kali sehari, harus diminum dan ditelan.
 Acetaminophen: 10-15 mg / kg / dosis setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan
(maksimum 90 mg / kg / 24 jam) diberikan untuk mengatasi rasa sakit dan
demam.
 Aplikasi anestesi ringan [dyclonine hydrochloride (0,5%)] sebelum waktu makan
2. Diskusi

Gingivostomatitis herpes akut (primer) biasanya menyerang anak-anak, tetapi jarang,


infeksi ini juga terjadi pada orang dewasa. Karena gejalanya yang terbatas, seorang dokter
gigi mungkin adalah praktisi kesehatan pertama yang dikonsultasikan. Tingkat keparahan
tanda dan gejala mungkin disebabkan oleh virulensi strain spesifik HSV dan respons imun
inang. Setelah HSV menembus sel epitel inang, replikasi virus terjadi. HSV yang baru
terbentuk bersentuhan dengan ujung saraf sensorik dan diangkut ke ganglion yang sesuai.

16
Pada herpes labial oral, tempat yang paling umum adalah ganglion trigeminal. Di sini DNA
virus memasuki ganglion, di mana ia menjadi tidak aktif atau laten. Itu adalah masa inkubasi
adalah periode di mana replikasi virus dan transportasi ke ganglion sensoris terjadi. Untuk
HSV, periode ini bervariasi dan dapat berkisar dari beberapa hari hingga 3 minggu, tetapi
dalam kebanyakan kasus itu sekitar 1 minggu. Dalam penelitian ini, kami mempresentasikan
laporan kasus pasien wanita berusia 6 tahun dengan kehadiran PHG (Gambar 1, Gambar 2).
Dari karakteristik klinis yang disajikan oleh lesi, kemungkinan lesi menjadi aphthous ini
dibuang.
Diagnosis banding meliputi infeksi oleh mikroorganisme lain, terutama dari kelompok
coxsackie; faringitis streptokokus; eritema multiformis; gingivitis ulserativa nekrotikans; dan
stomatitis aphthous. Gingivostomatitis herpes akut primer adalah pola paling umum dari
infeksi herpes primer simtomatik, dan pada sebagian besar kasus, ini berhubungan dengan
infeksi HSV-1. Ini lebih sering diamati pada anak-anak di kelompok usia dari 1 hingga 5
tahun, dan jarang pada remaja dan dewasa muda, seperti pasien yang dijelaskan dalam kasus
klinis saat ini. Menurut salah satu penulis sebelumnya, ada 1 puncak kejadian, dari 6 bulan
hingga 5 tahun. Ini jarang mempengaruhi anak-anak di bawah usia enam bulan, yang ternyata
hadir antibodi yang beredar ditularkan oleh ibu, dan orang dewasa. Kejadian yang lebih besar
pada anak-anak dapat dibenarkan oleh penyebaran luas virus dan karena paparan awal untuk
itu. Turton M melaporkan kasus Gingivostomatitis Herpetic Primer Gejala. Seorang wanita
berusia sembilan tahun, disajikan dengan keluhan utama kesulitan makan karena rasa sakit
yang terkait dengan beberapa ulkus oral oval dangkal. PHG harus dibedakan secara klinis
dari gingivitis ulseratif nekrosis yang akut, infeksi HSV berulang, herpangia, borok aphtous,
eritema multiforme, tumbuh gigi, stomatitis alergi, dan borok akibat kemoterapi.
Penatalaksanaan PHG bersifat paliatif dan suportif, dengan penghilangan gejala yang
terutama melibatkan penatalaksanaan nyeri dan cairan oral untuk mencegah dehidrasi sampai
infeksi virus mereda, pencegahan dehidrasi, dan memperpendek durasi lesi walaupun infeksi
herpes herpes orolabial biasanya sembuh sendiri. Tujuan dari studi kasus mereka adalah
untuk menyoroti kasus simptomatik dari PHG yang memerlukan diagnosis yang cerdas dan
rencana perawatan komprehensif dengan menekankan pada pentingnya bagi dokter kesehatan
mulut untuk memiliki holistic, pendekatan manajemen penyakit mulut. Infeksi herpes, baik
yang akut maupun yang berulang, adalah sembuh sendiri penyakit dengan masa

17
penyembuhan 1 hingga 2 minggu. Komplikasi jarang terjadi dan termasuk
keratoconjunctivitis, esofagitis, pneumonitis, meningitis dan ensefalitis. Cara penularan HSV
yang paling umum adalah taliva pembawa. Infeksi pada tangan petugas perawatan kesehatan
dari pasien yang menumpahkan HSV dapat menyebabkan herpetic whitlow.
Transmisi HSV-2 biasanya melalui kontak seksual. Kedua tipe 1 dan 2 dapat
ditransmisikan ke berbagai tempat melalui oral-genital, oral-anal atau anal-genital contact.
Infeksi primer terjadi pada masa kanak-kanak karena air liur atau lesi herpes yang terinfeksi.
Reaktivasi dapat terjadi kapan saja dan dapat dipicu oleh imunosupresi, stres, trauma, iradiasi
ultraviolet, atau demam. Kambuh umumnya kurang parah daripada infeksi primer dan tingkat
keparahan dan frekuensi cenderung berkurang seiring waktu. Kesimpulannya, dari kasus
yang dijelaskan, prospek kejadian PHG pada pasien anak menjadi jelas, dan pedodontis harus
waspada terhadap temuan klinis, mengingat bahwa tidak peduli seberapa tidak mungkin usia
hipotesis diagnostik, itu tidak bisa menjadi satu-satunya datum yang dipertimbangkan untuk
sampai pada diagnosis akhir.

C. Laporan Kasus Penggunaan 4% Fucoidan Cream untuk Herpes

Labialis Oral Berulang : Gejala Pasien Secara Nyata Ditingkatkan


dalam Kurun Waktu untuk Penyembuhan dan Ketidaknyamanan

1. Kasus #1
Seorang pria Jepang berusia 30 tahun mengalami ROHL yang menyakitkan
yang terdiri dari beberapa ulkus bulat, berbasis abu-abu dengan margin teratur dan
diameter > 1 cm pada permukaan bibir bawah yang bertahan selama 2 bulan
(Gambar 2A). Gaya hidupnya cukup normal, ia tidak pernah merokok atau
mengalami penyakit sistemik, dan ia tidak responsif terhadap antivirus oral atau
topikal (ZoviraxTM 400 mg tid selama 7 hari, dan krim ZoviraxTM 5% selama 7
hari 3 kali sehari) dan non- obat antiinflamasi steroid (NSAID). Kami meresepkan
PFC 3 kali sehari selama 1 minggu (Gambar 2B). Pasien mengambil foto daerah
yang terkena menggunakan ponselnya 2 hari (Gambar 2C), 3 hari (Gambar 2D), 4
hari (Gambar 2E), 5 hari (Gambar 2F), dan 6 hari setelah memulai PFC (Gambar

18
2G) . Kondisi setelah aplikasi juga diperiksa 1 minggu setelah memulai PFC
(Gambar 2H). Periode minimum adalah 1 minggu, dan telah ditindaklanjuti
selama 1 bulan (Gambar 2I), 1 tahun (Gambar 2J), dan 3 tahun setelah periode
minimum ini (Gambar 2K).

2. Kasus #2
Seorang wanita Jepang berusia 38 tahun mengalami ROHL yang
menyakitkan yang terdiri dari ulkus tunggal berwarna cokelat dengan margin
teratur, diameter> 1 cm, yang bertahan selama 1 bulan di commissura labiorum
(Gambar 3A). ROHL telah muncul sebentar-sebentar selama 5 tahun terakhir dan
telah menyebabkan rasa sakit di bibir, serta pada mukosa bukal dan alveolar.
Gejala sebagian besar tidak responsif terhadap vidarabine topikal (3% Arasena-A
CreamTM), gel anestesi (larutan kental lidokain 2%), suplemen vitamin B12, dan
NSAID. Namun, gejala membaik secara signifikan setelah menerapkan PFC 3 kali
per hari (Gambar 3B) selama 1 minggu setelah memulai PFC (Gambar 3C).
Pasien tetap bebas dari efek samping atau kekambuhan setelah periode minimum
selama lebih dari 3 bulan masa tindak lanjut (Gambar 3D).

Gambar 2A : Sebelum Terapi PFC. Gambar 2B : Dalam perawatan PFC..

19
Gambar 2C : Dua Hari Setelah Memulai PFC. Gambar 2E: Empat Hari Setelah Memulai PFC.

Gambar 2F : Lima Hari Setelah Memulai PFC.. Gambar 2G : Enam Hari Setelah Memulai PFC.

Gambar 2H : Satu Minggu Setelah Memulai PFC. Gambar 2I : Satu Bulan Setelah Menyelesaikan
Periode Minimum [apakah ini yang Anda maksud?]

20
Gambar 2J : Satu Tahun Setelah Menyelesaikan Periode Minimum.

Gambar 2K: Tiga Tahun Setelah Menyelesaikan Periode Minimum.

Gambar 3A : Sebelum Terapi PFC Gambar 3B : Selama Terapi PFC

Gambar 3C : Satu Minggu Setelah Memulai PFC. Gambar 3D : Tiga Bulan Setelah Menyelesaikan
Periode Minimum.

21
Gambar 3E : Satu Tahun Setelah Menyelesaikan Periode Minimum.

Kriteria Pasien
Semua pasien memenuhi kriteria berikut : 1) menjalani wawancara awal untuk
memperoleh riwayat medis penyakit umum, termasuk alergi makanan laut; 2) menerima
penyelidikan borok, seperti ukuran, lokasi, jenis, gejala, dan riwayat pengobatan; 3)
menerima konsultasi tentang cara menggunakan PFC; 4) menerapkan PFC untuk jangka
waktu minimum satu minggu; 5) tindak lanjut setelah periode minimal 1 bulan; 6)
melanjutkan tindak lanjut masing-masing tiga bulan; dan 7) menerima pengambilan foto pada
semua hari tindak lanjut.

Penerapan PFCTM Topikal


Area ROHL dihapus kering, kemudian pasien menggunakan sedikit PFC dengan jari
mereka sendiri, dan meninggalkan PFC selama 5 menit tanpa melepas. Pasien menggunakan
PFC dua kali sehari, dan diminta untuk tidak makan atau minum selama 30 menit setelah
aplikasi.

3. Diskusi

ROHL adalah salah satu penyakit radang lendir mulut yang paling luas, dengan
prevalensi yang dilaporkan pada 20-40% populasi Jepang. Namun, sedikit yang diketahui

22
tentang status ROHL di Jepang. Pica dan Volpi10 mengembangkan panduan praktis untuk
pengelolaan herpes labialis oral, termasuk terapi lokal dan sistemik, dan menyarankan bahwa
mekanisme kekebalan mungkin memainkan peran penting dalam etiologi herpes labialis oral.
Selanjutnya, mereka mengidentifikasi beberapa faktor non-imunologis yang terkait dengan
ROHL. Namun, bukti yang mendukung peran kausatif dari faktor-faktor ini langka.
Meskipun kedua kasus mengalami rasa sakit yang parah, perawatan tidak dievaluasi secara
ketat. Berbagai terapi telah dicoba, termasuk antivirus oral dan topikal, NSAID oral, gel
anestesi topikal dan suplemen vitamin B12, tetapi sedikit efek pada ROHL yang terlihat.
Dalam pertimbangan karakterisasi histologis ROHL dan terapi relevan terbaru, kami
memutuskan untuk menggunakan krim fucoidan. Setelah 1 minggu, borok membaik tanpa
efek samping dan tidak ada eksaserbasi yang ditemukan selama masa tindak lanjut. Dengan
demikian, PFC lebih efektif daripada obat komersial lainnya. Pasien kami tidak mengalami
efek samping apa pun setelah menggunakan PFC. Aplikasi topikal tidak menyebabkan
sengatan pada situs aplikasi dan penyembuhan dalam waktu kurang dari 1 minggu. Obat-
obatan konvensional memerlukan rata-rata setidaknya 1 minggu untuk mendapatkan efek,
sehingga PFC memiliki keuntungan bertindak cepat, membutuhkan rata-rata 5 hari untuk
menghilangkan gejala. Fucoidan menghasilkan remodeling jaringan awal dan proses
perbaikan yang mungkin tergantung pada sifat anti-inflamasi bersama dengan aktivitas
seperti enzim. Aktivitas tersebut menghambat berbagai enzim, termasuk matrix
metalloproteinases, hyaluronidases dan elastases.12 Sebuah studi klinis juga menunjukkan
bahwa PFC membantu memperbaiki penuaan kulit. Aktivitas klinis, nilai dan keamanan krim
fucoidan topikal sebagai pengobatan untuk ROHL masih harus ditentukan dalam uji klinis.

D. Virus Nongenital Herpes Simplex


Virus herpes simpleks nongenital tipe 1 adalah infeksi umum yang biasanya
ditularkan selama masa kanak-kanak melalui kontak nonseksual. Sebagian besar infeksi ini
melibatkan mukosa mulut atau bibir (herpes labialis). Diagnosis infeksi virus herpes simpleks
tipe 1 biasanya dibuat berdasarkan penampakan lesi (vesikel atau ulkus yang dikelompokkan
pada basis eritematosa) dan riwayat pasien. Namun, jika tidak pasti, diagnosis herpes labialis
dapat dibuat dengan kultur virus, reaksi berantai polimerase, serologi, pengujian antibodi
fluoresen langsung, atau tes Tzanck. Infeksi virus herpes simpleks nonoral tipe 1 lainnya

23
termasuk keratitis herpes, herpetic whitlow, herpes gladiatorum, dan sycosis herpes di daerah
janggut.
Diagnosis banding infeksi virus herpes simpleks nongenital meliputi ulkus aphthous,
paronychia akut, infeksi virus varicella-zoster, herpangina, herpes gestationis (pemfigoid
gestationis), pemfigus vulgaris, dan sindrom Behçet. Suspensi asiklovir oral adalah
pengobatan yang efektif untuk anak-anak dengan herpes gingivostomatitis primer. Asiklovir
oral, valasiklovir, dan famciclovir efektif dalam mengobati kekambuhan herpes labialis akut
(luka dingin). Kekambuhan herpes labialis dapat dikurangi dengan acyclovir oral harian atau
valacyclovir. Asiklovir topikal, penciclovir, dan docosanol adalah pengobatan pilihan untuk
herpes labialis berulang, tetapi mereka kurang efektif daripada pengobatan oral. (Am Fam
Physician. 2010; 82 (9): 1075-1082. Hak cipta © 2010 American Academy of Family
Physicians.)

Virus herpes simpleks nongenital tipe 1 (HSV-1) adalah infeksi umum yang paling
sering melibatkan mukosa mulut atau bibir (herpes labialis). Infeksi oral primer dapat
berkisar dari tanpa gejala hingga sangat menyakitkan, yang menyebabkan asupan oral yang
buruk dan dehidrasi. Infeksi berulang menyebabkan luka dingin yang dapat mempengaruhi
penampilan dan kualitas hidup. Meskipun HSV-2 juga dapat mempengaruhi mukosa mulut,
ini jauh lebih jarang terjadi dan cenderung tidak kambuh.

Epidemiologi

24
HSV-1 awalnya ditularkan di masa anak-anak melalui kontak nonseksual, tetapi dapat
diperoleh di usia dewasa muda melalui kontak seksual. Di Amerika Serikat, seroprevalensi
HSV-1 menurun dari 62,0 persen antara 1988 dan 1994 menjadi 57,7 persen antara 1999 dan
2004.1 Dalam survei cross-sectional mahasiswa AS, prevalensi antibodi HSV-1 adalah 37,2
persen pada segar. laki-laki dan 46,1 persen pada siswa tahun keempat. Sejarah luka dingin
dilaporkan pada 25,6 persen mahasiswa baru dan 28 persen siswa tahun keempat. Penentu
signifikan antibodi HSV-1 dalam populasi ini adalah jenis kelamin perempuan, hubungan
seksual sebelum usia 15 tahun, total tahun aktivitas seksual yang lebih besar, riwayat
pasangan dengan luka oral, dan riwayat pribadi non-HSV secara seksual penyakit menular.
Sekitar 90 persen infeksi HSV-1 berulang menyebabkan lesi orofasial yang dikenal sebagai
herpes labialis3 (Gambar 1).

Patofisiologi
HSV menyerang dan bereplikasi di neuron, serta di sel epidermis dan dermal. Virus
menyebar dari kulit selama kontak dengan ganglion akar dorsal sensorik, tempat latensi
terbentuk. Infeksi HSV-1 oral diaktifkan kembali dari ganglia sensorik trigeminal, yang
mengenai wajah, oral, labial, oropranngeal, dan mukosa okular.
Infeksi primer muncul dua hingga 20 hari setelah kontak dengan orang yang terinfeksi.
Virus dapat ditularkan dengan menghirup atau berbagi peralatan seperti handuk.
Penularannya melibatkan selaput lendir dan kulit terbuka atau terkelupas. Selama satu
penelitian herpes labialis, durasi rata-rata pelepasan HSV-1 adalah 60 jam bila diukur dengan
reaksi rantai polimerase (PCR) dan 48 jam bila diukur dengan kultur. Beban viral muatan
tertinggi terjadi pada 48 jam, tanpa ada virus yang terdeteksi di luar 96 jam timbulnya gejala.

Peringkat
Rekomendasi klinis Referensi
bukti
Suspensi asiklovir oral (Zovirax) adalah pengobatan yang efektif untuk anak-anak
B 12
dengan herpes gingivostomatitis primer.
Asiklovir oral, valasiklovir (Valtrex), dan famciclovir (Famvir) efektif untuk
A 13-15
pengobatan kekambuhan akut herpes labialis.
Kekambuhan herpes labialis ditekan dengan asiklovir oral harian atau
A 13, 19, 20
valasiklovir.
Asiklovir topikal, penciclovir (Denavir), dan docosanol (Abreva) adalah
A 16-18
pengobatan pilihan untuk herpes labialis berulang.

25
A = konsisten, bukti berorientasi pasien berkualitas baik; B = bukti yang berorientasi pada pasien yang tidak
konsisten atau terbatas kualitasnya; C = konsensus, bukti berorientasi penyakit, praktik biasa, pendapat ahli,
atau seri kasus.
Untuk informasi tentang sistem peringkat bukti SORT, kunjungi http://www.aafp.org/afpsort.xml.

Gambar 1. Gadis muda dengan virus herpes simplex tipe 1


Kambuh yang menunjukkan vesikel dengan dasar merah di perbatasan vermilion.

Infeksi berulang dapat dipicu oleh berbagai rangsangan, seperti stres, demam, paparan
sinar matahari, suhu ekstrem, radiasi ultraviolet, penekanan kekebalan, atau trauma. Virus
tetap tidak aktif untuk waktu yang bervariasi. HSV-1 oral biasanya berulang satu hingga
enam kali per tahun. Durasi gejala lebih pendek dan gejala-gejalanya tidak terlalu parah
selama rekurensi. Kemungkinan reaktivasi infeksi HSV berbeda antara HSV-1 dan HSV-2,
dan antara situs anatomi sakral dan trigeminal. Dalam satu penelitian, frekuensi kekambuhan
bulanan rata-rata adalah 0,33 infeksi HSV-2 genital, 0,12 infeksi HSV-1 orolabial, infeksi
HSV-1 genital 0,020, dan infeksi HSV-2 oral 0,001 oral. Ini menunjukkan bahwa
kekambuhan lebih mungkin terjadi. ketika HSV-1 oral dan HSV-2 genital.

Presentasi Klinis
Pada HSV-1 oral primer, gejala dapat termasuk prodrom demam, diikuti oleh lesi mulut
dengan limfadenopati submandibular dan serviks. Lesi mulut (herpetic gingivostomatitis)
terdiri dari vesikel yang nyeri pada basis bengkak merah yang terjadi pada bibir, gingiva,
langit-langit mulut, atau lidah. Lesi akan mengalami ulserasi (Gambar 2) dan rasa sakitnya
bisa parah. Penolakan untuk makan atau minum mungkin merupakan petunjuk keberadaan
HSV oral. Lesi biasanya sembuh dalam 10 hingga 14 hari. Pada herpes labialis berulang,
gejala kesemutan, nyeri, parestesia, gatal, dan terbakar mendahului lesi pada 60 persen

26
orang.5 Lesi kemudian muncul sebagai kelompok vesikel pada bibir atau perbatasan
vermilion (Gambar 1). Vesikula mungkin memiliki basis eritematosa. Lesi-lesi ini kemudian
mengalami ulserasi dan membentuk kerak (Gambar 3). Penyembuhan dimulai dalam tiga
hingga empat hari, dan reepithelization mungkin memakan waktu tujuh hingga delapan hari.
Namun, banyak orang yang terpapar HSV-1 menunjukkan serokonversi yang asimptomatik.

Gambar 2. Gingivostomatitis herpes primer yang disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe 1 ditunjukkan
pada (A) seorang anak perempuan berusia empat tahun dengan bisul bibir bawah dan pengerasan kulit pada
bibir atas, dan (B) seorang anak perempuan berusia dua tahun dengan bisul pada bibir bawah dan lidah. Kedua
pasien menunjukkan gingivitis yang terlihat dengan gusi yang memerah, meradang, dan bengkak.

Gambar 3. (A) Bisul yang terbentuk setelah vesikel pecah, seperti yang ditunjukkan pada wanita dewasa
dengan herpes labialis. (B) Virus herpes simpleks tipe 1 berulang pada tahap pengerasan terlihat di perbatasan
vermilion.

Keratitis herpetik adalah infeksi mata HSV. Gejala umum adalah nyeri mata,
sensitivitas cahaya, dan keluarnya dengan sensasi berpasir di mata. Pewarnaan fluorescein
dengan sinar ultraviolet dapat menunjukkan ulkus den¬dritik klasik pada kornea (Gambar
47). Tanpa pengobatan segera, jaringan parut kornea dapat terjadi (Gambar 5).
Cantengan Herpetic adalah lesi vesikular yang ditemukan pada tangan atau jari
(Gambar 68 dan 7). Ini terjadi pada anak-anak yang mengisap ibu jari mereka atau pekerja
medis dan gigi yang terpapar HSV-1 saat tidak mengenakan sarung tangan. Herpes senang-
iatorum sering terlihat pada atlet yang bergelut, yang dapat menempatkan mereka dalam

27
kontak fisik yang dekat dengan orang yang terinfeksi. Erupsi vesikular sering terlihat pada
batang tubuh, tetapi dapat terjadi di lokasi di mana terjadi kontak kulit dengan kulit. Sycosis
herpetic adalah infeksi folikel dengan HSV yang menyebabkan lesi vesiculopapu¬lar pada
area janggut. Ini sering disebabkan oleh autoinokulasi dari pencukuran. Infeksi HSV adalah
salah satu penyebab paling umum dari eritema multiforme (Gambar 8), yang dimiliki
beberapa pasien dengan infeksi HSV berulang. Diagnosis banding infeksi HSV-1 disajikan
pada Tabel 1. Herpes gestationis dapat muncul seperti infeksi HSV, tetapi ini adalah penyakit
autoimun yang mirip dengan pemfigoid bulosa (Gambar 9).

Gambar 4. Tampilan slit-lamp dari ulkus dendritik dengan penyerapan fluorescein dari keratitis herpes.

Gambar 5. Keratitis herpetik dengan kerutan kornea pada wanita 56 tahun.

28
Gambar 6. Cantengan Herpetic yang sangat menyakitkan dengan vesikel besar di ibu jari.

Gambar 7. Lesi cantengan herpetic pada jari telunjuk distal / didiagnosis dengan kultur virus herpes simpleks.

Gambar 8. Erythema multiforme pada wanita dengan infeksi virus herpes simpleks berulang.

Diagnosa
Diagnosis infeksi HSV-1 biasanya dibuat dengan melihat lesi dan riwayat pasien.
Namun, jika pola lesi tidak spesifik untuk HSV, diagnosisnya dapat dibuat dengan kultur
virus, PCR, serologi, tes antibodi fluoresen langsung, atau tes Tzanck. Kultur virus harus
diperoleh dari vesikel jika memungkinkan. Vesikel harus terbuka dengan pisau bedah atau
jarum steril, dan apusan harus digunakan untuk menyerap cairan dan untuk mengikis alas.
Usap harus dikirim dalam media transportasi virus khusus langsung ke laboratorium (atau
diletakkan di atas es jika transportasi akan ditunda). Vesikel mengandung titer virus tertinggi
dalam 24 hingga 48 jam pertama penampilannya (89 persen positif). Secara umum, kultur

29
virus untuk semua jenis HSV memiliki sensitivitas sekitar 50 persen. Isolat virus biasanya
tumbuh dalam kultur jaringan lima hari.

PCR adalah metode yang lebih sensitif dalam diagnosis laboratorium infeksi HSV.
Berguna untuk mendeteksi pelepasan virus tanpa gejala. Pengujian antibodi fluoresen
langsung dapat dilakukan dari spesimen yang dikeringkan di udara, dan dapat mendeteksi 80
persen dari kasus positif-HSV yang benar dibandingkan dengan hasil kultur. 10 Antibodi
imununoglobulin G yang khusus untuk HSV berkembang beberapa minggu pertama setelah
infeksi dan bertahan tanpa batas waktu. Tes Tzanck sulit dilakukan dengan benar tanpa
pelatihan khusus dalam penggunaannya, tetapi dapat dilakukan di kantor dengan mengikis
lantai partikel herpes, pewarnaan spesimen, dan mencari sel raksasa berinti banyak. Hasilnya
tidak menentukan jenis infeksi HSV, tetapi jika dilakukan dengan benar, sensitivitasnya
adalah 40 hingga 77 persen untuk herpes gingivostomatitis akut.
Tabel 1. Diagnosis Banding Infeksi Virus Herpes Simplex Tipe 1
Kondisi Mengidentifikasi fitur Diagnosa Pengobatan
Abses bakteri lokal dalam lipatan Penampilan klinis; dapat Sayatan dan drainase
kuku; memiliki nanah putih daripada dikonfirmasi dengan
cairan bening yang sering terlihat pewarnaan Gram atau kultur
Paronychia Akut dalam herpetic whitlow (Gambar 68), bakteri
meskipun cairan dalam herpetic
whitlow juga bisa menjadi putih
(Gambar 7)
Mirip dengan borok di mulut yang Penampilan klinis; kultur Cukup mandiri, biasanya
Ulkus Aphthous terjadi pada hering gingivostomatitis virus herpes simpleks akan tidak diperlukan perawatan;
primer; ulkus ini menyakitkan, tetapi menjadi negatif steroid topikal, jika perlu
pasien tidak demam dan tidak sakit
Penyebabnya masih belum diketahui,
tetapi ini bukan viral
Menghasilkan penyakit ulseratif di Konstelasi klinis ulkus jenis Tetrasiklin dan steroid
sekitar mulut dan alat kelamin aphthous oral dan genital topikal; mungkin
Sindrom Behçet
berulang; merujuk ke dokter membutuhkan prednison
mata untuk mencari temuan dan agen imunosupresif
mata yang khas
Infeksi oral dengan borok kecil yang Presentasi klinis Obati gejalanya saja
Herpangina disebabkan oleh virus Coxsackie;
bisul terlihat khas di langit-langit
lunak
Terlihat pada anak usia tiga hingga
10 tahun
Erupsi melepuh yang jarang terjadi Adanya distribusi Prednison
Herpes gestationis selama trimester kedua atau ketiga dermatomal dan prodrom
(pemphigoid kehamilan; bula dapat terlihat di yang menyakitkan;
gestationis) sekitar umbilikus, tetapi dapat terjadi pengujian antibodi fluoresen
di mana saja pada tubuh (Gambar 9) langsung dari pengikisan
kulit dapat dilakukan

30
Kelompok lepuh menyakitkan pada Biopsi kulit untuk Jika didiagnosis lebih awal,
basis merah dalam distribusi mengkonfirmasi kecurigaan dapat diobati dengan
Herpes zoster
dermatomal klinis asiklovir oral (Zovirax),
(shingles)
valasiklovir (Valtrex), atau
famciclovir (Famvir)

Penyakit bulosa yang jarang terjadi Prednison oral dan rujuk ke


Pemphigus vulgaris yang dapat timbul dengan bisul oral, dokter kulit segera
bula kulit, dan erosi
Disebabkan oleh virus dalam Penyebarannya yang luas Jika didiagnosis lebih awal,
keluarga herpes; lesi vesikulopustular membantu membedakannya dapat diobati dengan
luas lebih terkonsentrasi pada wajah, dari virus herpes simpleks; asiklovir oral
Varicella
kulit kepala, dan batang pengujian antibodi fluoresen
langsung dari pengikisan
kulit dapat dilakukan

Pengelolaan
Pengobatan Lisan Episodik Untuk Gingivostomatitis Utama Primer
Suspensi asiklovir oral (Zovirax; 15 mg per kg lima kali per hari selama tujuh hari)
dapat digunakan untuk mengobati herpes gingivostoma¬titis pada anak kecil. Dalam satu uji
coba terkontrol secara acak (RCT), anak-anak yang menerima asiklovir memiliki lesi oral
untuk waktu yang lebih singkat daripada anak-anak yang menerima plasebo (median empat
lawan 10 hari). Kelompok pengobatan juga memiliki resolusi sebelumnya dari tanda-tanda
dan gejala berikut: demam (satu banding tiga hari); kesulitan makan (empat lawan tujuh
hari); dan kesulitan minum (tiga banding enam hari). Penumpahan virus secara signifikan
lebih pendek pada kelompok yang diobati dengan asiklovir (satu banding lima hari). Anak-
anak harus diobati berdasarkan gejala dengan analgesik oral dan makanan dingin yang
menenangkan seperti es dan es krim. Berbagai ramuan anestesi topi dan obat-obatan lain
telah digunakan untuk mematikan rasa sakit yang parah sehingga anak-anak dapat tetap
terhidrasi dengan baik.

31
Gambar 9. Vesikel pada pangkal merah pergelangan tangan pada wanita dengan herpes gestationis setelah
kehilangan kehamilan. Meskipun istilah "herpes" digunakan karena lesi muncul herpetic, virus herpes simplex
tidak terlibat dalam proses dan nama yang lebih baik untuk kondisi ini adalah "pemphigoid gestationis."

Perlakuan Episodik Lisal Untuk Labialis Herpes Terkini


Dalam ulasan Cochrane tentang pengobatan herpes labialis pada pasien yang menerima
pengobatan kanker, asiklovir ditemukan efektif terkait dengan pelepasan virus (median 2,5
banding 17,0 hari); waktu untuk mengurangi nyeri pertama (median tiga banding 16 hari);
resolusi lengkap rasa sakit (9,9 berbanding 13,6 hari); dan penyembuhan total (median 13,9
banding 20,7 hari). Periode singkat replikasi virus dalam lesi herpes labialis berulang
menunjukkan bahwa rejimen terapi singkat harus menghasilkan hasil yang baik. Dalam satu
RCT, 701 pasien memulai terapi sendiri dengan famciclovir (Famvir; 1.500 mg sekali [dosis
tunggal] atau 750 mg dua kali sehari selama satu hari [satu hari]) atau plasebo dalam satu jam
onset gejala prodromal onset. waktu penyembuhan lesi vesikular primer (pertama yang
muncul) pada kelompok tunggal famciclovir dosis tunggal, famciclovir satu hari, dan plasebo
masing-masing adalah 4,4, 4,0, dan 6,2 hari. Famciclovir menunjukkan penurunan waktu
penyembuhan, tanpa perbedaan yang signifikan. antara kelompok pengobatan famciclovir
dosis tunggal atau tunggal.
Dalam satu RCT dari herpes labialis berulang, pengobatan dengan valacyclovir oral
(Valtrex) ditambah clobetasol topikal (Temovate) dibandingkan dengan plasebo. Pasien
menggunakan valacyclovir oral (2 g dua kali selama satu hari) dan menggunakan clobetasol
0,05% (dua kali lipat) per hari selama tiga hari) pada awal gejala. Ada lebih banyak lesi yang
dibatalkan pada kelompok valacyclovir-clobetasol dibandingkan dengan kelompok plasebo
(50 berbanding 15,8 persen). Terapi kombinasi mengurangi ukuran lesi maksimum rata-rata
(9,7 berbanding 54 mm) dan waktu penyembuhan rata-rata (5,8 berbanding 9,3 hari) dari lesi
klasik.

Pengobatan Topik Episodik Untuk Labialis Herpes Terkini


Pengobatan topikal untuk herpes labialis kurang efektif daripada pengobatan oral.
Sebuah RCT pengobatan dengan krim topikal penciclovir 1% (Denavir) menunjukkan
penyembuhan sedikit lebih cepat pada kelompok penciclovir dibandingkan dengan plasebo
(4,8 berbanding 5,5 hari). Para peserta adalah orang dewasa yang memiliki kesehatan yang

32
baik yang memiliki setidaknya tiga episode heresi pes labialis per tahun. Mereka
menggunakan krim atau plasebo penciclovir dalam satu jam setelah tanda pertama atau gejala
kekambuhan, dan kemudian setiap dua jam sambil terjaga selama empat hari. Penyelesaian
gejala terjadi lebih cepat pada kelompok penciclovir terlepas dari apakah obat itu diterapkan
pada tahap awal atau akhir. Krim penciclovir diterapkan setiap dua jam ketika terjaga
mengurangi durasi rata-rata nyeri dari 4,1 menjadi 3,5 hari, mempercepat penyembuhan lesi
klasik (mis. Vesikel, bisul, kerak) dari 5,5 menjadi 4,8 hari, dan tidak mengubah waktu rata-
rata pelepasan virus. (median tiga lawan tiga hari).
Krim Docosanol (Abreva) adalah alkohol alifatik jenuh, 22-karbon, dengan aktivitas
antivirus. Ini tersedia tanpa resep dokter. Satu RCT dari 743 pasien dengan herpes labia¬lis
menunjukkan waktu penyembuhan yang lebih cepat pada pasien yang diobati dengan krim
docosanol 10% dibandingkan dengan krim plasebo (4,1 berbanding 4,8 hari), serta
mengurangi durasi gejala nyeri (2,2 berbanding 2,7 hari) .17 Lebih dari 90 persen pasien di
kedua kelompok sembuh total dalam 10 hari.17 Pengobatan dengan krim docosanol, bila
diterapkan lima kali per hari dan dalam 12 jam setelah onset episode, aman dan agak efektif.

Tabel 2. Perawatan untuk Herpes Labialis


Tingkat Refere
Obat Dosis atau dosis Biaya generik (merek) *
bukti † nsi
Perawatan oral episodik untuk rekurensi ‡
Acyclovir (Zovirax) 200 mg 5 x sehari atau 400 mg 3 x sehari 200 mg: $23 ($154)§ A 12, 13
selama 5hari 400 mg: $13 ($87)
Famciclovir (Famvir) 1.500 mg 1 x sehari $173 ($158) B 14
Valacyclovir (Valtrex) 2 g dua kali selama 1 hari $56 ($74) B 15
Pengobatan topikal episodik untuk rekurensi ‡
Krim Acyclovir Terapkan 5 kali sehari selama 4 hari 2-g tube: NA ($69) B 18
Krim Docosanol (Abreva) Oleskan 5 kali sehari sampai sembuh 2-g tube: NA ($15)|| B 17
Krim Penciclovir (Denavir) Oleskan setiap 2 jam sambil bangun selama 4 1.5-g tube: NA ($54) B 16
hari
Perawatan untuk mencegah kekambuhan
Acyclovir 400 mg dua kali per hari (berkelanjutan) Pasokan 30 hari: $ 29 ($ 345) A 13, 19
Valacyclovir 500 mg sekali sehari (berkelanjutan) Pasokan 30 hari: $ 186 ($ 234) B 20
NA = tidak tersedia.
* —Perkiraan harga eceran perawatan berdasarkan informasi yang diperoleh di http://www.drugstore.com (diakses 9
September 2010). Harga umum tercantum pertama; harga merek tercantum dalam tanda kurung.
† —A = bukti konsisten yang berorientasi pada pasien, berkualitas baik; B = bukti berorientasi pasien kualitas tidak
konsisten atau terbatas; C = konsensus, bukti berorientasi penyakit, praktik biasa, pendapat ahli, atau seri kasus.
‡ - Paling efektif jika pengobatan dimulai pada permulaan gejala.
§ — Dalam program diskon ritel (hanya 200 mg): mungkin tersedia dengan harga diskon ($ 10 atau kurang) di satu atau
lebih rantai ritel nasional.
|| —Tersedia sebagai produk merek tanpa resep.

33
Sebuah RCT dari orang dewasa yang sehat dengan riwayat kekambuhan herpes labialis
yang sering dievaluasi pengobatan dengan krim asiklovir 5% versus kontrol kendaraan.
Peserta diminta untuk memulai pengobatan sendiri lima kali per hari selama empat hari,
dimulai dalam satu jam dari awal episode berulang. Dalam penelitian 1, durasi rata-rata
episode adalah 4,3 hari untuk pasien yang diobati dengan krim acyclovir dan 4,8 hari untuk
mereka yang diobati dengan kontrol kendaraan. Dalam penelitian 2, durasi rata-rata episode
adalah 4,6 hari untuk pasien yang diobati dengan asiklovir dan 5,2 hari untuk mereka yang
diobati dengan kontrol kendaraan.

Pengobatan Diminum Untuk Mencegah Rekamensi Labialis Herpes


Asiklovir oral efektif dalam menekan herpes labialis pada orang dewasa yang
imunokompeten dengan kekambuhan yang sering. Dalam satu RCT, pengobatan dengan
asiklovir oral (400 mg dua kali per hari) menghasilkan pengurangan 53 persen dalam jumlah
kekambuhan klinis dan pengurangan 71 persen pada kambuhan positif kultur virus
dibandingkan dengan plasebo. Waktu rata-rata untuk rekurensi pertama yang
didokumentasikan secara klinis adalah 46 hari untuk kursus plasebo dan 118 hari untuk
kursus asiklovir. Jumlah rata-rata rekurensi per periode pengobatan empat bulan adalah 1,80
episode per pasien selama pengobatan plasebo dan 0,85 episode per pasien selama
pengobatan asiklovir.
Pengobatan dengan valasiklovir oral (500 mg per hari) selama 16 minggu dibandingkan
dengan plasebo dalam penekanan herpes labia¬lis pada pasien dengan riwayat empat atau
lebih lesi berulang pada tahun sebelumnya.20 Hasil penelitian menunjukkan 60 persen orang
di kelompok valacyclovir bebas dari kekambuhan selama periode penelitian dibandingkan
dengan 38 persen pada kelompok plasebo. Waktu rata-rata untuk kekambuhan pertama lebih
lama dengan vala¬cyclovir (13,1 minggu) dibandingkan dengan plasebo (9,6 minggu). Dalam
ulasan Cochrane tentang pencegahan herpes labia¬lis pada pasien yang menerima
pengobatan untuk kanker, asiklovir ditemukan efektif dalam pencegahan infeksi HSV, yang
diukur dengan lesi oral atau isolat virus (risiko relatif = 0,16 dan 0,17, masing-masing) .13
Juga tidak ada bukti bahwa valasiklovir lebih efektif daripada asiklovir. Dalam penelitian
lain, valasiklovir harian (500 mg per hari) dan asiklovir (400 mg dua kali per hari) sama

34
efektifnya dalam pencegahan penyakit mata HSV yang kambuh. Gambaran umum
pengobatan untuk herpes labialis disediakan pada Tabel 2.

E. Laporan Kasus Gejala Gingivostomatitis Herpetic Primer


1. Kasus

Seorang wanita berusia sembilan tahun, disajikan dengan keluhan utama kesulitan
makan karena rasa sakit yang terkait dengan beberapa ulkus oral oval dangkal. Ibu pasien
mengatakan putrinya mengeluhkan rasa sakit 3 hari yang lalu dan dia mulai makan lebih
sedikit karena rasa sakit dan kurang nafsu makan. Dia mengalami rasa sakit terus-menerus di
seluruh mulut tanpa sensasi terbakar. Rasa sakit menjadi lebih jelas ketika dia makan dan
kesulitan menelan. Pada pemeriksaan ekstra oral pembesaran kelenjar getah bening
submandibular teraba baik di sisi kiri dan kanan yang mobile, lunak dan lembut dalam
konsistensi. Pasien tampak lemah dan dehidrasi dan mengalami demam. Bicaranya tidak jelas
dan dia tidak memiliki alergi yang diketahui dan dia HIV negatif. Pada pemeriksaan intra
oral, dia memiliki area eritematosa yang mengelilingi batas dalam mukosa labial atas dan
bawah (Gambar 1).
Gingiva marginal dan terpasang bengkak dan meradang, gingiva membentuk tag
jaringan di atas gigi taring primer bawah (73 dan 83) yang ditandai oleh eritema, edema,
proliferasi kapiler (Gambar 2). Beberapa ulkus dangkal berukuran kurang dari 0,5 cm hadir di
dasar mulut, batas lateral lidah, mukosa bukal, labial, dan gingiva yang dikelilingi oleh
daerah eritematosa (Gambar 3 & 4). Pasien tidak keluar dari ulkus apa pun, tetapi mereka
sangat sakit saat menelan atau berbicara. Pasien mengalami halitosis parah dan aliran saliva
tinggi dan giginya mengalami penumpukan plak dan kalkulus yang parah. Molar posterior
bagian bawah (74, 75, 84 dan 85) mengalami kerusakan gigi namun gigi tidak menunjukkan
gejala.

35
Gambar 1: Mukosa labial atas dikelilingi oleh area eritematosa.

Gambar 2 : Peradangan gingiva marginal dan melekat.

Gambar 3: Bisul pada mukosa bukal dan batas lateral lidah.

Gambar 4 : Ulkus multipel pada mukosa gingiva bawah dan dasar mulut.

Pengelolaan
Perawatan pasien pada awalnya membuatnya untuk berkumur dengan obat kumur oral
anti-inflamasi dan analgesik yang mengandung benzydamine hydrochloride (Andolex®)
untuk meredakan nyeri mulut topikal. Solusi rehidrasi oral diberikan sesuai pedoman WHO.
Bilas oral Andolex diberikan padanya untuk dibilas 10 menit sebelum makan karena efek
analgesik dan anti-inflamasi akan mengurangi rasa sakit mulut yang membantunya makan.
Suspensi parasetamol 5ml tiga kali sehari selama 5 hari dan suspensi Metronidazole 5ml
tiga kali sehari selama 5 hari diberikan untuk diminum setelah makan. Sang ibu disarankan

36
untuk memberikan diet lunak, asupan cairan berlebihan dan istirahat yang cukup. Janji temu
untuk waktu 1 minggu diberikan untuk penilaian dan perawatan lebih lanjut. Pada presentasi
untuk pengangkatan ingatannya, dia telah mendapatkan kembali kesehatannya, bisul-bisul
telah sembuh tanpa jaringan parut dan gingiva tidak terlalu meradang, rasa sakit dan
demamnya mereda dan dia makan dan berkomunikasi dengan baik.
Pengangkatan plak dan kalkulus serta restorasi gigi karies dilakukan dan diberi
instruksi kebersihan mulut yang komprehensif dan disarankan untuk hanya menggunakan
pembilasan oral sekali sehari penunjukan penilaian ulang lainnya diberikan selama
seminggu kemudian. Pada pertemuan ketiganya, dia benar-benar pulih dan terlihat sehat dan
penuh kehidupan. Pemeriksaan mulut menunjukkan kesehatan mulut yang baik. Sekali lagi
pasien diberikan instruksi kebersihan mulut yang komprehensif. Bilas natrium fluorida
0,05% bebas alkohol untuk penggunaan sehari-hari (ORO-NaF®) diberikan dan penunjukan
berikutnya dijadwalkan enam bulan kemudian.

2. Diskusi

Pada lebih dari 90% kasus PHG, organisme penyebabnya adalah virus herpes
simpleks tipe I dan kadang-kadang oleh virus herpes simpleks tipe II. Mayoritas infeksi
primer tidak menunjukkan gejala atau sangat ringan sehingga tidak teramati. Pada pasien
bergejala, masa inkubasi untuk PHG adalah 2-20 hari, setelah itu ada fase prodromal yang
ditandai dengan gejala yang meliputi demam, menggigil, malaise, lekas marah, sakit kepala,
dan anoreksia. Fase akut memiliki onset yang cepat dan biasanya ditandai dengan nyeri,
salivasi, fetor oris, dan limfadenopati servikal dan serviks. Pemeriksaan mengungkapkan
peradangan pada gingiva marginal dan melekat ditandai oleh eritema, edema, proliferasi
kapiler dan erupsi vesikuler luas yang mempengaruhi batas vermilion bibir dan mukosa
labial, lidah, mukosa bukal dan vestibular, palatum keras dan lunak, lantai mulut, tonsil dan
faringeal. mukosa.
Vesikel baru terus meletus, menyatu, pecah dalam waktu 24 hingga 48 jam, dan
menghasilkan erosi atau borok yang dangkal, menyakitkan, tidak teratur yang dibatasi oleh
lingkaran cahaya merah. Ini berlanjut selama 3 sampai 5 hari setelah penyembuhan tanpa
menakut-nakuti yang terjadi secara bertahap dalam 7 sampai 14 hari.

37
Perbedaan Diagnosa
PHG harus dibedakan secara klinis dari gingivitis ulseratif nekrosis yang akut, infeksi
HSV berulang, herpangia, borok aphtous, eritema multiforme, tumbuh gigi, stomatitis
alergi, dan borok akibat kemoterapi. ANUG hadir dengan bisul yang nekrotik dan tertekan
seperti terlihat pada gingiva marginal dan papilla interdental yang berhubungan dengan rasa
logam yang khas, rasa sakit, kelembutan, air liur yang banyak. Gigi memiliki sensasi kayu
atau sensitif terhadap tekanan. Infeksi herpes kambuhan biasanya dikaitkan dengan gejala
prodromal dari kesemutan dan sensasi terbakar dan berulang secara berkala biasanya di
perbatasan vermilion bibir, dengan lesi intraoral terlihat pada mukosa gingiva, palatum, dan
alveolar. Herpangia adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Coxsackie A yang juga
sering menyebabkan bisul di rongga mulut anak-anak. Di herpangina, bisul biasanya
diisolasi ke pilar anterior mulut dan langit-langit lunak, namun pada herpes
gingivostomatitis, lesi dapat ditemukan di lokasi-lokasi ini, dan juga pada gingiva, lidah,
mukosa labial dan bukal yang bebas dan melekat.
Ulkus apthous sering dikaitkan dengan gejala prodromal. Ulkus hadir pada mukosa
labil dan bulat simetris dan dangkal dikelilingi oleh halo eritematosa. Kehadiran lesi target
pada kulit sangat menunjukkan eritema multiforme. Lesi berukuran besar, tidak teratur,
lebih dalam dan sering berdarah, dalam 2-3 hari lesi mulai kerak dan jarang terjadi
keterlibatan gingiva. Gingivostomatitis juga harus dibedakan dari tumbuh gigi karena dapat
dikaitkan dengan gejala yang sama seperti PHG seperti sebagai demam dan kesulitan
makan. Anak-anak mulai kehilangan perlindungan antibodi ibu terhadap virus herpes pada
waktu yang hampir bersamaan dengan timbulnya tumbuh gigi sehingga dalam beberapa
kasus PHG dapat dikacaukan dengan tumbuh gigi.
Stomatitis alergi adalah reaksi yang hanya terjadi di tempat kontak dan termasuk
sensasi terbakar atau nyeri disertai dengan eritema dan kadang-kadang pembentukan vesikel
dan borok dan paling akurat didiagnosis dengan hasil uji tempel dari kontak dengan bahan
gigi, produk kesehatan mulut atau makanan. Ulkus karena kemoterapi dan infeksi HSV
berulang dapat dikesampingkan dengan mengambil riwayat yang sesuai dari pasien.
Diagnosis PHG dapat dengan mudah dikonfirmasikan ketika pasien datang dengan beberapa
titik ulkus dangkal hadir pada basis eritematosa yang melibatkan mukosa labial, mukosa

38
bukal, dasar mulut yang menyatu untuk membentuk ulkus tidak teratur besar dengan tag
jaringan, yang diikuti oleh erupsi vesikel oral, ulser mulut simetris dangkal, dan gingivitis
marginal akut. Tes laboratorium biasanya tidak diperlukan dalam kasus ini.
Pada beberapa kasus biasanya melibatkan orang dewasa PHG memiliki gambaran
klinis yang kurang khas, membuat diagnosis lebih sulit. Penatalaksanaan PHG bersifat
paliatif dan suportif, terdiri dari mengendalikan nyeri dan demam, mencegah dehidrasi, dan
memperpendek durasi lesi meskipun infeksi herpes herpes orolabial biasanya sembuh
sendiri. Kemoterapi antivirus tersedia untuk pengobatan pasien dengan peningkatan risiko
komplikasi dapat diobati dengan kemoterapi antivirus. Pasien harus disarankan untuk
beristirahat dan memakai suplemen makanan, makan diet seimbang lunak, dan memastikan
asupan cairan, vitamin, dan mineral yang memadai. Orang dewasa harus lebih lanjut
disarankan untuk menghindari merokok produk tembakau dan minum minuman beralkohol.
Penggunaan analgesik, antipiretik, anestesi topikal dan pembilasan dengan obat bius
yang mengandung obat kumur sebelum makan, secara efektif mengurangi rasa sakit saat
makan.

F. Virus Herpes Simpleks Parah Jenis-I Infeksi Setelah Prosedur Gigi


1. Kasus
Gambaran klinis yang menonjol dari pasien dirangkum dalam tabel 1. Tidak ada pasien
yang menunjukkan riwayat medis, alergi atau pembedahan yang luar biasa sebelumnya. Para
pasien tidak menggunakan obat imunosupresif. Semua pasien (3 pria / 4 wanita, usia rata-rata
: 37.2 tahun, minimum : 19 tahun, maksimum : 55 tahun) menderita RHL yang sudah
berlangsung lama, mengalami antara 3 dan 8 scrude scences per tahun. Stres adalah acara
awal yang paling sering. Dua pasien menderita kekambuhan akibat paparan sinar matahari.
Sebelumnya, tidak ada yang mengalami RHL setelah perawatan gigi. Lima pasien secara
sistematis mengenali tanda-tanda prodromal yang khas, termasuk menyengat, membakar,
disestesia, dan gatal-gatal, terjadi 1 hingga 2 hari sebelum kekambuhan. Sebelum episode
saat ini, tanda-tanda prodromal jauh lebih parah dari biasanya. Para pasien mencari nasihat
medis terutama karena tingkat keparahan erupsi yang tidak biasa. Lima pasien mengunjungi
bangsal darurat dan yang lainnya berkonsultasi dengan dokter umum atau dokter kulit
mereka. Salah satu pasien yang dirawat di ruang gawat darurat awalnya salah didiagnosis

39
sebagai erysipelas dan menerima antibiotik intravena (Amoxicilline / clavulinic acid,
Augmentin®, 3×l000mg / hari, Smith Kline Beecham). Dua pasien menunjukkan erupsi yang
menyakitkan meluas ke pipi kanan, hidung, dagu, rongga mulut dan bibir atas (Gambar 1,2).
Lesi eritematosa, vesikular, dan krusta hadir. Keduanya mengalami demam (39°C), adenopati
regional dan tidak bisa makan. Pemeriksaan fisik lebih lanjut biasa-biasa saja. Karena
keparahannya, dua pasien memerlukan rawat inap dan asiklovir intravena (5mg/kg/hari
selama 8 hari, Zovirax®, GSK.)

Gambar 1. Infeksi HSV-1 yang parah setelah ekstraksi, memengaruhi bibir, pipi, hidung, dan rongga mulut

Gambar 2. Infeksi HSV-1 yang parah dan ekstensif setelah ekstraksi molar.

40
Tabel 1. Karakteristik pasien yang menonjol.
Ekstraksi
Usia interval Tanda-
Kasus Prosedur Anestesi Situs Tes Serologi
Seks waktu- tanda
RHL
Ekstraksi Labial inf/sup
1 M 39 Lokal 2d Fe, Ad Tz IgG+, IgM-
Sup R 3m Pipi, dagu
Ekstraksi
Labial inf/sup
2 M 19 Inf R gigi Blok 2d Fe, Ad Tz IgG+, IgM-
Pipi, dagu
seri
Labial sup
Ekstraksi
3 F 55 Blok 2d - Chin CC NA
Inf R 2m
Nasolabial
Labial sup
Isian Sup
4 F 21 Lokal 3d - Chin ND NA
R 1m
Nasolabial
Ekstraksi
5 F 30 Blok 3d - Labial inf/sup Tz IgG+, IgM-
Inf L 3m
Ekstraksi
6 M 46 Blok 2d - Labial inf/sup Tz NA
Inf R 3m
Ekstraksi Labial inf
7 F 51 Blok 3d - Tz IgG+, IgM-
Inf R 2m Chin, Pipi
M Laki-laki, F: Perempuan, Fe: Demam. Iklan: Adenopati loco-regional, Tz: Tes smear Tzanck, CC: kultur sel,
Inf: inferior, Sup: superior, R: right. L kiri, m: molar, d hari. NA: tidak tersedia.

Kedua individu memiliki status masa lalu yang positif untuk HSV (IgG: +, IgM: -).
Disinfeksi topikal dan intraoral dengan povidone iodine (Isobetadinc®, MEDA Pharma)
diberikan tiga kali sehari. Skrining darah hanya menunjukkan sedikit peningkatan laju
sedimentasi. Pemeriksaan laboratorium lainnya, termasuk fungsi hati, ginjal, dan tiroid serta
jumlah sel darah merah dan putih berada dalam kisaran normal. Serologi negatif untuk HIV,
hepatitis A, dan B. Pada lima pasien lainnya, erupsi meluas melampaui tempat rekrudesensi
yang biasa terjadi pada lipatan nasolabial, dagu, dan pipi, sebagian besar memengaruhi situs
tempat prosedur tersebut dilakukan. Para pasien diobati dengan valasiklovir oral (Zelitrex®,
500mg b.i.d. selama 7 hari) atau asiklovir oral (5 x 200 mg selama 7 hari). Semua pasien
menunjukkan kekambuhan 2 sampai 3 hari setelah intervensi gigi. Semua prosedur (Tabel 1)
dilakukan dengan anestesi lokal menggunakan lidokain (baik anestesi blok saraf alveolar
inferior atau infiltrasi periodontal lokal untuk molar atas).
Prosedurnya adalah ekstraksi molar (5), ekstraksi gigi seri (I) dan pembaruan pengisian
(1). Apusan Tzanck dilakukan pada 6 pasien yang menunjukkan multinukleasi, sel raksasa
syncytial dan banyak neutrofil polinuklear, menunjukkan infeksi a-herpesvirus.
Imunohistokimia menggunakan anti-tubuh spesifik yang ditujukan terhadap HSV-I, HSV-II

41
dan Varicella Zoster Virus (VZV) (7) mengungkapkan sinyal positif untuk HSV-I, sedangkan
antibodi lain menunjukkan pewarnaan negatif. Pada satu pasien, swab dilakukan untuk viral
kultur sel, mengungkapkan HSV-I dengan imunofluoresensi setelah 48 jam.
Proses penyembuhan alveolar setelah ekstraksi tidak terganggu atau tertunda. Dua
pasien memerlukan ekstraksi molar dan valasiklovir oral profilaksis (500mg b.i.d., Zelitrex®,
Glaxo Smith K line) diberikan 48 jam sebelum sampai tiga hari setelah perawatan gigi. Tidak
ada kekambuhan herpes lebih lanjut yang diamati pada kedua pasien. Obat itu ditoleransi
dengan baik.

2. Diskusi
Tujuh kasus infeksi HSV terkait ekstraksi gigi yang parah disajikan. Imputabilitas
terhadap cedera penolakan harus dilakukan dengan hati-hati. Namun demikian, semua pasien
memiliki riwayat RHL sebelumnya, tidak ada riwayat RHL setelah penambalan gigi, tidak
ada RHL di waktu ekstraksi, erupsi yang jauh lebih parah daripada biasanya, anestesi lokal,
interval waktu 2-3 hari, dan peningkatan waktu penyembuhan erupsi yang sama. Alt
rekrudesensi dimulai di situs episode sebelumnya. Meskipun biasanya pencabutan gigi
dilakukan dan diindikasikan sebagai faktor inisialisasi, HSV juga dapat menyulitkan jaringan
prostodontik cekat. Tidak ada data mengenai prosedur gigi umum lainnya, seperti
penambalan atau pengangkatan plak gigi. Data tentang frekuensi RHL terkait ekstraksi jarang
dan kontradiktif. Dalam sebuah penelitian, 4/20 pasien dengan riwayat RHL sebelumnya
mengalami RHL setelah ekstraksi gigi sedangkan tidak ada kekambuhan tercatat pada 19
pasien tanpa riwayat RHL. Namun, dalam sebuah studi besar mengevaluasi komplikasi pasca
ekstraksi dari 3818 ekstraksi, tidak ada satu kasus HSV dibuktikan.
Dalam studi lain yang terdiri dari 48 pasien yang menjalani ekstraksi molar ketiga
menunjukkan bahwa frekuensi HSV-1 positif bersarang reaksi rantai polimerase (PCR)
rendah (4,2%) dan tidak signifikan secara statistik dengan kelompok kontrol yang sedang
menjalani prosedur konvensional. Pemicunya mungkin multi-faktorial. Pertama, telah
ditunjukkan bahwa ketakutan dan stres untuk prosedur gigi meningkatkan pelepasan
asimptomatik HSV. Ini dapat lebih ditingkatkan oleh cedera saraf selama ekstraksi. Bahkan,
selama prosedur bedah yang melibatkan akar saraf trigeminal, reaktivasi HSV terjadi hingga
50% dari pasien.

42
Namun, pelepasan HSV tampaknya terjadi secara independen dari rekurensi klinis.
Ketiga, iritasi saraf oleh blok anestesi juga dapat menyebabkan reaktivasi dan kambuh
kembali virus, karena saraf alveolar inferior adalah cabang dari saraf mandibula, yang
merupakan cabang ketiga dari saraf trigeminal, di mana latensi virus terbentuk. Tiga unsur ini
mungkin menyebabkan viral load yang lebih tinggi, menjelaskan tingkat keparahan erupsi
yang meningkat. Perpanjangan ekstensi kulit HSV sering difasilitasi oleh cedera keratinosit,
diamati selama pengelupasan kimia dalam, pelapisan ulang laser abrasif, dermabrasi dan
prosedur kosmetik lainnya. Prosedur ini secara sistematis membutuhkan pengobatan antivirus
profilaksis. Namun, tidak ada tanda-tanda cedera kulit sebelumnya pada pasien. Tidak jelas,
apakah manipulasi dan ekstensi bibir selama prosedur gigi merupakan faktor risiko.
Proses penyembuhan alveolar setelah ekstraksi tampaknya tidak tertunda atau
terganggu. Diagnosis klinis RHL terkait ekstraksi biasanya terbukti. Namun, konfirmasi
imunohistokimia pada smear Tzanck disarankan, khususnya seperti herpes zoster pasca-
ekstraksi telah dijelaskan. Karena sero-prevatence mencapai 90 hingga 95% pada populasi
orang dewasa, serologi bukanlah metode diagnostik yang direkomendasikan.
Pengobatan infeksi HSV terkait ekstraksi ini bergantung pada terapi antivirus oral atau
intravena, sesuai dengan tingkat keparahan klinis. Pada dua pasien, pengobatan antivirus
profilaksis efektif karena tidak ada RHL yang diamati setelah ekstraksi molar berikutnya
anestesi lokal. Namun lebih banyak data diperlukan untuk merekomendasikan terapi antivirus
profilaksis. Saat ini, hanya individu yang dipilih dengan riwayat RHL yang memenuhi syarat
untuk profilaksis antivirus. Dalam analogi dengan pengobatan antivirus profilaksis untuk
prosedur kosmetik abrasif, skema berikut dapat diusulkan; valasiklovir oral (500mg b.i.d.,
Zelitrex®, Glaxo Smith Kline). 48 jam sebelum hingga tiga hari setelah perawatan gigi.
Famciclovir atau acyclovir juga dapat dipertimbangkan. Kesimpulannya, kekambuhan HSV
dapat dipicu oleh pencabutan gigi. Infeksi ini tampaknya lebih parah daripada wabah biasa.
Data tentang insiden masih kurang. Pengobatan antivirus profilaksis dapat dipertimbangkan
untuk pasien RHL secara individual. Dokter gigi harus mewaspadai komplikasi ekstraksi gigi
yang berpotensi parah ini.

43
G. Terapi Topikal dan Sistemik untuk Infeksi Virus Herpes Simplex
Oral dan Perioral
Abstrak
Infeksi virus herpes simpleks oral dan perioral (HSV) pada orang sehat sering disertai dengan
tanda dan gejala yang jelas dikenali oleh penyedia layanan kesehatan mulut (OHCP).
Penatalaksanaan infeksi ini tergantung pada berbagai faktor dan beberapa agen dapat
digunakan untuk pengobatan untuk mempercepat penyembuhan dan mengurangi gejala yang
terkait dengan lesi. Artikel ini akan meninjau aspek terkait terapi topikal dan sistemik infeksi
HSV untuk OHCP. Infeksi Virus Herpes Simpleks Oral Dan Perioral (HSV) Secara Sehat.
Individu sering hadir dengan tanda dan gejala yang jelas dikenali oleh penyedia perawatan
kesehatan mulut (OHCP). Penatalaksanaan infeksi ini tergantung pada berbagai faktor dan
beberapa agen dapat digunakan untuk pengobatan untuk mempercepat penyembuhan dan
mengurangi gejala yang terkait dengan lesi. Artikel ini akan meninjau aspek terkait terapi
topikal dan sistemik infeksi HSV untuk OHCP.

Infeksi herpes simplex virus (HSV) oral dan perioral (yang secara kolektif disebut oral)
merupakan salah satu proses penyakit jaringan lunak mulut yang paling umum dijumpai pada
populasi umum. Serotipe HSV-1 adalah penyebab paling umum dari infeksi orofasial.
Namun, serotipe HSV-2 telah terlibat sebagai agen penyebab infeksi ini (dan HSV-1 sebagai
etiologi untuk infeksi genital) karena praktik seksual. Infeksi HSV oral primer biasanya
terjadi pada anak usia dini dan sementara sebagian besar adalah subklinis, infeksi klinis
awalnya hadir dengan gejala umum, seperti malaise, demam dan limfadenopati (disebut
sebagai prodrom) diikuti oleh vesikel dan / atau ulkus yang memengaruhi berbagai
permukaan intraoral. HSV oral paling utama infeksi mudah didiagnosis berdasarkan riwayat
klinis, tanda-tanda dan gejala dan penyelidikan laboratorium lebih lanjut umumnya tidak
dibenarkan. Mayoritas infeksi HSV oral adalah sembuh sendiri dengan resolusi biasanya
dalam waktu dua minggu, seringkali hanya memerlukan perawatan paliatif dan perawatan
suportif sesuai kebutuhan. Setelah infeksi primer, virus bermigrasi ke ganglion saraf
trigeminal di mana ia dapat tetap laten tanpa batas waktu tetapi dapat distimulasi untuk
diaktifkan kembali dalam berbagai keadaan (pemicu lingkungan, stres, penyakit, dll.) yang
mengakibatkan infeksi klinis. Penyebab Paling umum presentasi infeksi HSV berulang

44
(perkembangan lesi klinis) pada orang sehat adalah herpes labialis berulang (RHL), yang
diamati sebagai lesi yang terletak di persimpangan mukokutaneus dari bibir (dikenal sebagai
demam lepuh atau sakit dingin) (gambar 1). Mayoritas pasien mengalami gejala prodromal
sebelum episode RHL, yang sering terdiri dari rasa sakit, gatal dan / atau terbakar di lokasi
perkembangan lesi. Herpes intraoral berulang (RIH), yang diamati lebih sering pada pasien
immunocompromised, mungkin sulit dibedakan secara klinis dari gangguan mukosa mulut
lainnya, seperti stomatitis aphthous (gambar 2). Gejala prodromal sebelum episode RIH
adalah tidak umum diamati. Penatalaksanaan infeksi herpes rekuren tergantung pada
frekuensi, keparahan dan distribusi lesi dan mungkin termasuk agen terapeutik topikal dan /
atau sistemik.

Gambar 1. Presentasi khas herpes labialis berulang (RHL) (panah putih). (Atas perkenan Martin Greenberg,
DDS, dan Thamer Musbah, BDS, University of Pennsylvania.)

Gambar 2. Herpes intraoral berulang (RIH) dari mukosa palatal.


(Atas perkenan Martin Greenberg, DDS, University of Pennsylvania.)

45
Terapi Topikal
Terapi topikal untuk infeksi HSV oral dapat dibagi menjadi kategori paliatif, preventif,
dan antivirus. Agen topikal paliatif yang tersedia tanpa resep (OTC) biasanya mengandung
benzokain anestesi dan bermanfaat dalam mengurangi rasa sakit yang terkait dengan infeksi
HSV oral. Agen topikal paliatif tersedia dengan resep, seperti gel lidokain 2 persen, lidokain
kental 2 persen atau campuran anestesi topikal dengan agen pelapis +/- diphenhyrdamine
(mis., obat kumur manjur) dapat memberi pasien lebih lega dibandingkan dengan persiapan
anestesi topikal OTC. Agen-agen ini dapat digunakan untuk infeksi HSV oral primer dan
berulang pada orang dewasa untuk menghilangkan gejala dan sering digunakan dalam
kombinasi dengan agen antivirus sistemik untuk manajemen yang lebih efektif. Agen topikal
lain yang telah direkomendasikan untuk digunakan untuk mengobati RHL termasuk senyawa
es dan bibir mengandung lanolin, cocoa butter atau produk-produk berbasis petrolatum.
Penggunaan preparat anestesi topikal pada populasi pediatrik masih kontroversial karena
kemungkinan peningkatan risiko kejadian yang mengancam kehidupan. Aspirasi lidokain
topikal dalam populasi ini telah dikaitkan dengan neurologis dan reaksi kardiovaskular,
seperti kejang dan episode hipotensi, masing-masing sementara konsumsi benzokain topikal
telah dikaitkan dengan pengembangan methemoglobinemia.
Pada April 2011, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan
peringatan keamanan mengenai produk benzocaine topikal (semprotan, cairan, gel)
sehubungan dengan risiko methemoglobinemia dan merekomendasikan bahwa produk
benzocaine tidak digunakan pada anak-anak di bawah usia 2 tahun, kecuali berdasarkan saran
dan pengawasan seorang profesional perawatan kesehatan. Agen pencegahan terutama
digunakan untuk mengurangi risiko episode RHL, terutama jika pasien menyadari faktor
pencetus, seperti paparan sinar matahari.
Bukti mendukung penggunaan tabir surya pada bibir dengan faktor perlindungan
matahari (SPF) minimal 15 untuk mengurangi risiko mengembangkan episode RHL. Agen
antivirus topikal telah menunjukkan keampuhan dalam mempercepat waktu penyembuhan
lesi RHL, terutama jika diberikan selama prodromal. fase. Agen antivirus topikal yang paling
sering direkomendasikan untuk mengobati RHL termasuk krim Acyclovir 5 persen, krim
Penciclovir 1 persen dan krim Docosanol 10 persen. Asiklovir adalah analog nukleosida dari
guanosin dengan hubungan selektif untuk timidin kinase (TK), yang diperlukan untuk

46
aktivasi asiklovir, dalam sel yang terinfeksi virus. Asiklovir adalah inhibitor kuat sintesis
DNA virus dan dengan demikian pada akhirnya mencegah replikasi virus.
Penciclovir adalah turunan asiklik guanin dengan spektrum antivirus serupa dengan
asiklovir. Ini juga difosforilasi oleh virus TK dan menghambat viral DNA DNA polimerase.
Penciclovir memiliki sekitar 1/100 potensi asiklovir, tetapi merupakan agen antivirus yang
efektif karena waktu paruh yang panjang dan konsentrasi intraseluler yang tinggi.1
Docosanol adalah alkohol primer 22-karbon yang menghalangi virus untuk menempel pada
sel melalui gangguan reseptor permukaan sel epitel dan protein amplop virus.6 Krim
acyclovir 5 persen dan krim Penciclovir 1 persen tersedia dengan resep dokter, sementara
Docosanol adalah satu-satunya agen yang disetujui oleh FDA sebagai produk OTC untuk
pengobatan RHL. Formulasi topikal foscarnet, cidofi vir dan imiquimod umumnya
dicadangkan untuk pengobatan lesi RHL yang tidak responsif terhadap antivirus khas agen
dan jarang digunakan pada individu sehat.
Berbeda dengan agen antivirus lain yang tergantung pada virus TK, foscarnet dan cidofi
vir menghambat sintesis DNA virus secara independen dari mekanisme ini. Foscarnet telah
menunjukkan efektivitas dalam mengobati infeksi HSV yang resistan terhadap asiklovir,
sementara cidofovir umumnya dicadangkan untuk infeksi HSV yang resisten terhadap
asiklovir dan foskarnet. Imiquimod adalah agen baru yang meningkatkan tanggapan
imunologis bawaan terhadap virus dan formulasi topikal telah terbukti efektif dalam
mengobati infeksi HSV yang resistan dalam pengaturan HIV. Tabel 1 menguraikan indikasi
dan rekomendasi penggunaan untuk agen topikal yang digunakan untuk pengobatan infeksi
HSV oral.

TABEL 1 : Terapi Topikal untuk Pengobatan Infeksi HSV Oral


Kategori Agen Indikasi Rekomendasi
Paliatif Es, balsem bibir Obat bius Infeksi HSV primer, Sesuai kebutuhan atau sesuai instruksi
topikal yang dijual bebas Infeksi HSL berulang, pabrik.
persiapan (mis., Infeksi RIH
mengandung benzocaine) ‡
Persiapan lidocaine topikal * Infeksi HSV primer, Lidokain kental 2% - 10 ml desir dan
(Lidokain kental 2%, gel Infeksi HSL berulang, diludahkan sesuai kebutuhan untuk
lidokain 2%) Infeksi RIH menghilangkan rasa sakit.
Lidocaine gel 2% - oleskan lapisan ke
daerah yang terkena sesuai kebutuhan
untuk menghilangkan rasa sakit.
Pencuci Mulut Manjur *† Infeksi primer, 10 ml desir dan ludah sesuai kebutuhan
Infeksi RIH untuk menghilangkan rasa sakit.

47
Pelindung Tabir surya (SPF 15 atau Infeksi HSL berulang Sesuai instruksi pabrik.
lebih tinggi)
Antiviral Krim Acyclovir 5% Infeksi HSL berulang Oleskan setiap dua jam dari waktu
prodrome sampai lesi sembuh.
Krim Penciclovir 1% Infeksi HSL berulang Oleskan setiap dua jam dari waktu
prodrome sampai lesi sembuh.
Krim Docosanol 10% Infeksi HSL berulang Oleskan setiap dua jam dari waktu
prodrome sampai lesi sembuh.
Foscarnet topikal, cidofi vir Lesi HSV yang kuat Jarang digunakan pada orang sehat;
dan / atau imiquimod Rujuk ke penyedia layanan kesehatan
yang tepat untuk manajemen dengan
agen-agen ini.
‡ Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meluncurkan produk benzocaine (semprot, cairan, gel) tidak
boleh digunakan pada anak-anak di bawah 2 tahun, kecuali di bawah saran dan pengawasan profesional
perawatan kesehatan.
* Aspirasi topikal pada populasi anak yang dipertanyakan dengan efek samping neurologis dan / atau
kardiovaskular yang merugikan. † Berbagai kombinasi agen - Biasanya mengandung anestesi topikal (mis.,
Lidokain kental 2%) dengan agen pelapis (mis., Maalox) + / - diphenhydramine

48
Terapi Sistemik
Terapi sistemik mungkin diperlukan untuk pengobatan infeksi HSV oral primer dan
pengobatan atau profilaksis dari RHL dan RIH, terutama pada pasien dengan sistem imun
yang terkompromikan. Tidak seperti agen topikal, obat sistemik memungkinkan pajanan obat
yang lebih besar, akses cepat ke tempat replikasi virus, biokompatibilitas yang lebih baik,
dosis yang lebih jarang, dan peningkatan kepatuhan. Obat sistemik adalah agen antivirus
khusus dan dapat diberikan secara oral atau intravena.
Seperti disebutkan sebelumnya, pengobatan infeksi HSV oral primer biasanya
didasarkan pada suportif dan gejala intervensi. Namun, penggunaan obat antivirus sistemik
yang tidak berlabel dapat mempercepat waktu penyembuhan lesi HSV oral primer dengan
menghambat replikasi DNA sel yang terinfeksi jika dimulai saat gejala prodromal diakui atau
dalam satu hari erupsi vesikel. Asiklovir oral 200 mg lima kali sehari atau 400 mg tiga kali
sehari selama 10 hari dapat digunakan dalam kasus infeksi HSV oral primer yang parah pada
orang dewasa seperti yang diresepkan pada infeksi genital primer.
Pada pasien anak, pengobatan dengan asiklovir oral suspensi 15 mg / kg dalam waktu
tiga hari setelah onset gejala dan berlanjut lima kali sehari selama satu minggu terbukti
mempercepat penyembuhan, mengurangi penumpahan virus dan meningkatkan asupan oral.
Obat antivirus kontemporer seperti famciclovir dan valacyclovir juga dapat diresepkan
dengan dosis yang lebih nyaman dan peningkatan ketersediaan hayati. (Tabel 2) Famciclovir
(prodrug penciclovir) adalah analog diacetyl-6- deoxy yang cepat diserap dan mengalami
deasetilasi dalam saluran pencernaan, darah dan hati ke bentuk aktifnya. Valacyclovir
(prodrug dari asiklovir) adalah ester L-valin yang diserap dengan baik dan 99 persen
dikonversi menjadi bentuk aktif di saluran pencernaan dan hati. Hal ini menghasilkan
peningkatan bioavailabilitas tiga hingga tiga kali lipat.
Obat antivirus sistemik dapat digunakan sebagai profilaksis atau pengobatan pada
pasien dengan wabah yang parah, sering, persisten, dan tidak sedap dipandang. Valasiklovir
oral telah terbukti efektif dan disetujui oleh FDA untuk pengobatan RHL. Asiklovir oral dan
famiciclovir disetujui oleh FDA secara spesifik untuk pengobatan dan penekanan herpes
genital, tetapi juga telah digunakan untuk terapi RHL. Pada individu yang berkompromi
dengan sistem kekebalan, seperti selama kemoterapi atau selama penggunaan obat kekebalan

49
supresif, RIH dapat hadir sebagai wabah yang parah. Asiklovir oral atau intravena telah
terbukti efektif dalam pencegahan dan pengobatan RIH pada pasien ini.
Demikian pula, valacyclovir dan famciclovir juga dapat diresepkan untuk pencegahan
dan pengobatan RIH pada pasien yang mengalami gangguan sistem imun. Tabel 3
merangkum agen antivirus yang tersedia, dosis dan lamanya penggunaan berdasarkan
rekomendasi ahli dari Fourth World Workshop in Oral Medicine. Obat intravena yang lebih
baru seperti foskarnet dan cidofovir mungkin diperlukan pada pasien yang resistan terhadap
asiklovir, yang sangat terkompromikan dengan kekebalan. Obat-obatan ini sangat nefrotoksik
dan harus digunakan dengan hati-hati.

TABEL 2 : Obat antivirus sistemik untuk pengobatan herpes primer


Infeksi Virus Simplex
Acyclovir Valacyclovir Famciclovir
Dosis 200 mg * 400 mg + 1000 mg * 250 mg +
Frekuensi 5x/hari 3x/hari 2x/hari 3x/hari
Lamanya 7–10 hari 7–10 hari 7–10 hari 7–10 hari
* Rekomendasi perawatan Administrasi Obat dan Makanan untuk herpes genital
+ Rekomendasi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit untuk herpes genital

TABEL 3 : Terapi Sistemik untuk Pengobatan Infeksi HSV Oral


Indikasi Terapi
Pengobatan RHL di Asiklovir oral 400 mg tiga kali sehari selama lima hingga tujuh hari
host imunokompeten Valacyclovir oral 500 mg hingga 2000 mg dua kali sehari selama satu hari
Famciclovir oral 500 mg dua hingga tiga kali sehari selama tiga hari
Profilaksis RHL dalam Asiklovir oral 400 mg dua hingga tiga kali sehari
host imunokompeten * Valacyclovir oral 500 mg hingga 2000 mg dua kali sehari
Pengobatan berulang Asiklovir oral 400 mg tiga kali sehari selama 10 hari atau lebih lama jika diperlukan
Infeksi HSV pada Valacyclovir oral 500–1000 mg dua kali sehari selama 10 hari
host immunocompromised atau lebih lama jika diperlukan
Famciclovir oral 500 mg dua kali sehari selama satu tahun
Profilaksis berulang Asiklovir oral 400–800 mg tiga kali sehari
Infeksi HSV pada Valacyclovir oral 500–1000 mg dua kali sehari
host immunocompromised Famciclovir oral 500–1000 mg dua kali sehari
Diadaptasi dan dimodifikasi dari Woo SB, Challacombe SJ. "Penatalaksanaan infeksi herpes simpleks oral
berulang." Oral Surg Oral Med Oral Pathol Oral Radiol Endod 2007; 103 (suppl 1): S12.e1-S12.e18.
* Durasi profilaksis didasarkan pada luas dan frekuensi paparan terhadap pemicu episode RHL, seperti
sinar matahari, perawatan gigi, dll.

50
Kesimpulan
Ada berbagai modalitas pengobatan untuk infeksi HSV oral. OHCP harus menyadari
kelebihan dan keterbatasan terapi topikal dan sistemik untuk kondisi ini. Ini sangat penting
untuk OHCPs untuk menentukan agen yang tepat untuk perawatan dalam konteks presentasi
penyakit pasien dan status medis keseluruhan.

51
DAFTAR PUSTAKA

1. Karen,etc. Treatment of herpes simplex labialis in macule and vesicle phases


with photodynamic therapy. Report of two cases. 2015.
2. Amit,dang. Fluconazole induced herpes labialis-like lesions in an adult male.2009.
Australasian Medical Journal, 1, 14, 246-247
3. Joslei,dkk. MANAGEMENT OF RECURRENT HERPES LABIALIS IN
IMMUNOSUPPRESSED PATIENT – A CASE REPORT.2011. Journal of
International Dental and Medical Research ISSN 1309-100X
4. Tejavathi,dkk. Herpes labialis: A case series of 12 patients. 2017. Department of Oral
Medicine and Radiology, Sri Rajiv Gandhi College of Dental Sciences & Hospital,
Bengaluru, Karnataka, India. International Journal of Medical and Dental Case
Reports(2017), Article ID 080417
5. Heelambang,dkk. Management of herpes labialis triggered by emotional stress. 2016.
Department of Oral Medicine, Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga
6. Priscila,dkk. 2014. Recurrent Labial Herpes Simplex in Pediatric Dentistry: Low-level
Laser Therapy as a Treatment Option. International Journal of Clinical Pediatric
Dentistry, May-August 2014;7(2):140-143
7. Sawangi,dkk. Recurrent Herpes Labialis during Pregnancy: A Case Report.2017. Oral
health case Rep, an open access journal ISSN: 2471-8726 Volume 3
8. Rajesh,dkk. Case Report : Herpes Labialis in Patients with Russell’s Viper Bite
and
Acute Kidney Injury: A Single Center Experience. 2011. Am. J. Trop. Med.
Hyg.,84(6), , pp. 1016–1020.

52