Anda di halaman 1dari 23

SPESIFIKASI TEKNIS

SESUAI YANG DIPERSYARATKAN

BAB 1

PENJELASAN UMUM

Pasal 1

PENJELASAN (URAIAN) UMUM TENTANG TATA TERTIB

1. Pelaksanaan pekerjaan harus berpedoman kepada Penyusunan Redesain Rencana Teknis Unit Permukiman
Transmigrasi/Rencana Teknis Satuan Permukiman Transmigrasi (RTUPT/RTSP), Rencana Teknis Jalan (RTJ) tahap
III.A, dan Gambar-gambar Rencana, serta Gambar Desain Standar pekerjaan bidang PLP.

2. Daerah kerja (site) akan diserahkan bersama RTUPT/RTSP dan Rencana Teknis Jalan (RTJ) tahap III.A, dengan
Berita Acara Penyerahan Lapangan kepada Pelaksana Fisik dalam keadaan seperti waktu peninjauan lapangan.
Pelaksana Fisik bertanggung jwab untuk mengetahui benar-benar letak, batas-batas maupun keadaan lapangan.

3. Dalam setiap pekerjaan, baik yang akan dimulai maupun yang sedang dilaksanakan, Pelaksana Fisik diwajibkan
berkoordinasi dengan Pengawas Teknik dan Pengawas Lapangan atau staf kegiatan yang ditunjuk oleh Pemimpin
Kegiatan untuk ikut menyaksikan pelaksanaan pekerjaan.

4. Sebelum pekerjaan dimulai Pelaksana Fisik harus mengajukan jadwal pelaksanaan secara rinci sesuai dengan
formulir yang telah ditentukan.

5. Setiap permohonan dari Pelaksana Fisik ataupun persetujuan/pengesahan dari Pengawas Teknik dianggap berlaku
sah dan mengikat, jika dilakukan secara tertulis.

6. Semua bahan yang akan dipergunakan untuk pekerjaan ini harus benar-benar diteliti mengenai mutu, ukuran
maupun jumlahnya. Bahan-bahan yang tidak memenuhi syarat/tidak diterima harus disingkirkan dari tempat
pekerjaan oleh Pelaksana Fisik.

7. Tempat penyimpanan bahan bangunan di lapangan harus memenuhi syarat-syarat teknis dan dapat dipertanggung
jawabkan.
Pasal 2
SPESIFIKASI TEKNIS 1
PENJELASAN UMUM TENTANG PELAKSANAAN

1. Semua uraian yang disebut dalam persyaratan pelaksanaan ini adalah mengikat dan akan dinyatakan lebih lanjut
mengenai masing-masing bagian dalam pasal-pasal selanjutnya dan digunakan sebagai dasar/pedoman guna
pelaksanaan.

2. Dalam hal terdapat bagian-bagian pekerjaan yang tidak disebut dalam uraian ini, maka perlu diterbitkan Spesifikasi
Khusus yang dikeluarkan oleh Kegiatan dengan persetujuan Direktorat Teknis.

3. Jika terdapat perbedaan-perbedaan antara gambar rencana dengan uraian dalam buku ini, Pelaksana Fisik
diwajibkan menghubungi dan mengklarifikasikannya kepada Pengawas Teknis guna mendapatkan penyesuaiannya.

4. Jika terdapat ketidaksesuaian antara gambar rencana/batas peruntukan lahan dengan kriteria penyiapan lahan,
Pelaksana Fisik diwajibkan menghubungi Pengawas Teknik guna mendapatkan penyesuaiannya.

5. Bahan/material yang akan dipergunakan dalam pembangunan permukiman seperti kayu untuk gorong-gorong dan
jembatan, bahan timbunan tanah (borrow pit) untuk perkerasan jalan dan lain-lainnya, harus mendapat
persetujuan/pengesahan dari Pengawas Teknik.

Pasal 3

LAPORAN KEMAJUAN PEKERJAAN

1. Pelaksana Fisik diwajibkan membuat suatu catatan harian (buku harian), dimana tercatan semua peristiwa-
peristiwa, cuaca, pemberitahuan-pemberitahuan, peringatan-peringatan, perubahan-perubahan, bahan-bahan dan
keadaan/kemajuan pekerjaan, jumlah pekerjaan dan komposisi alat. Setiap hari buku harian tersebut harus diperiksa
oleh Pengawas Teknis untuk diketahui/disahkan. Setelah pekerjaan selesai seluruhnya buku harian tersebut
diserahkan kepada Kegiatan dan menjadi milik Kegiatan.
2. Di samping itu Pelaksana Fisik diwajibkan membuat laporan mingguan di atas formulir yang contohnya disediakan
oleh Pengawas Teknik. Laporan tersebut merupakan kumpulan dari catatan harian yang disahkan oleh Pengawas
Teknik. Laporan ini harus dibuat dalam rangkap 3 (tiga), diketik dengan jelas, kemudian dikirim kepada Pengawas
Teknik setiap minggu, untuk selanjutnya dilaporkan kepada Pemimpin Kegiatan.

3. Pada setiap akhir bulan takwin Pelaksana Fisik harus menyiapkan peta pemantauan/monitoring. Peta
pemantauan/monitoring merupakan gambar/peta/sketsa yang menggambarkan letak dan kemajuan fisik pekerjaan
untuk setiap jenis pekerjaan. Peta pemantauan/monitoring harus diperiksa dan disetujui oleh Pengawas Teknik.

4. Pekerjaan tambah/kurang harus diperhitungkan dengan teliti dan segera sehingga laporan mingguan berikutnya
secara komulatif dapat dinyatakan keadaan dan jumlah perhitungannya.
5. Penyerahan laporan mingguan harus dilaksanakan pada setiap hari Senin.

SPESIFIKASI TEKNIS 2
6. Jika dalam laporan mingguan ternyata bahwa pekerjaan kurang lancar/tidak sesuai dengan rencana waktu
pelaksanaan atau pekerjaan kurang memuaskan, maka Pelaksana Fisik setelah diberi peringatan secara tertulis oleh
Pengawas Teknik sebanyak 3 (tiga) kali tetapi belum terlihat adanya kelancaran pekerjaan, dapat dikenakan sanksi
menurut syarat-syarat umum. Dalam hal ini, Pelaksana Fisik tidak dapat mempersoalkan ganti rugi apapun kecuali
untuk pekerjaan yang telah diselesaikan pada saat jatuhnya hari/tanggal pemutusan kontrak.

Pasal 4

RENCANA KERJA

1. Dalam waktu selambat-lambatnya 1 (satu) minggu setelah pelulusan pekerjaan, Pelaksana Fisik harus mengajukan
kepada Pemimpin Kegiatan, Rencana Kerja Induk tertulis sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan dimana
tertuang dengan jelas waktu datanya bahan-bahan dan alat-alat utama, sesuai dengan yang disebutkan dalam
dokumen pelelangan.

2. Setelah disetujui, maka dua eksemplar cetakan Rencana Kerja Induk harus diserahkan kepada Pengawas Teknik dan
satu eksemplar lagi harus selalu berada di tempat pekerjaan.

3. Di samping Rencana Kerja Induk yang dibuat untuk selama jangka waktu kontrak, Pelaksana Fisik juga diharuskan
membuat Rencana Kerja Harian, Rencana Kerja Mingguan, dan Rencana Kerja Bulanan. Dalam menyusun
Rencana Kerja Induk tersebut masa pemeliharaannya harus sudah diperhitungkan batas waktu berlakunya tahun
anggaran.

4. Pelaksana Fisik harus melaksanakan pekerjaan dan mendatangkan alat-alat/bahan-bahan, sesuai dengan rencana
kerja, kecuali jika ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan maka perubahannya di sesuaikan dengan kebutuhan di
lapangan.

Pasal 5

PENYEDIAAN MESIN-MESIN DAN ALAT-ALAT UKUR

SERTA TENAGA KERJA

1. Guna lancarnya pekerjaan, Pelaksana Fisik diwajibkan untuk menyediakan mesin-mesin yang memadai, peralatan
utama dan alat-alat bantu lainnya yang perlu untuk melancarkan pelaksanaan pekerjaan, dan semua dalam keadaan
baik, serta siap untuk dipakai pada saat yang telah ditentukan sesuai jadwal.

2. Pelaksana Fisik wajib mendatangkan peralatan sesuai dengan jumlah yang ditawarkan dalam pelelangan dan
menambah jumlahnya pada saat diperlukan untuk percepatan penyelesaian proyek.

SPESIFIKASI TEKNIS 3
3. Di samping alat-alat yang telah ditentukan, Pelaksana Fisik harus juga menyediakan alat-alat ukur theodolite (T0
atau T2) dan Water Pass untuk keperluan/pemeriksaan letak dan tinggi bangunan/jalan dan bangunan pelengkap
lainnya yang sedang dan akan dilaksanakan.

4. Pelaksana Fisik juga diwajibkan menyediakan tenaga kerja yang sesuai dan cakap menurut jumlah yang
dibutuhkan.

5. Untuk mendukung pengendalian pekerjaan Pelaksana Fisik harus menyediakan Single Side Band (SSB) dengan
segala perlengkapannya (untuk paket pekerjaan ≥200 KK).

Pasal 6

DOKUMENTASI

1. Guna kelengkapan laporan, Pelaksana Fisik diwajibkan membuat foto berwarna dengan ukuran kartu pos (post
card). Pemotretan/foto-foto paling sedikit untuk 3 (tiga) kejadian, yaitu pada tahap permulaan pekerjaan, tahap-
tahap pelaksanaan, dan terakhir setelah selesai dikerjakan. Foto-foto diambil dari titik dan arah yang sama.
Gambar diserahkan masing-masing rangkap 3 (tiga) dimuat dalam album dan diserahkan kepada Pengawas Teknik
untuk menjadi milik Kegiatan.

2. Pengukuran
a. Awal Pekerjaan
Pelaksana Fisik diwajibkan untuk melakukan pengukuran (Poligon tertutup) untuk pengecekan dan penataan
batas-batas pembukaan lahan, sekaligus untuk pemasangan ulang (bila diperlukan) dan atau pemasangan
koreksi titik Batas Pembukaan Lahan (BPL).

b. Pelaksana Fisik diwajibkan untuk melakukan pengukuran terhadap hasil pelaksanaan pekerjaan yang dicapai
secara berkala (akhir bulan takwin).
c. Hasil pengukuran Peta Pemantauan / Monitoring digambar pada kertas A3 dan diserahkan kepada Pengawas
Teknik untuk mendapat persetujuan.
d. Setiap pelaksanaan pengukuran harus disaksikan oleh Pengawas Teknik.

Pasal 7

LINGKUP PEKERJAAN

1. Pekerjaan yang akan dilaksanakan adalah pekerjaan Penyiapan Lahan, Pembangunan Rumah Transmigrasi dan
Fasilitas Umum serta Pembangunan Jalan dan Jembatan.

SPESIFIKASI TEKNIS 4
2. Jenis-jenis pekerjaan yang termasuk ayat 1 (satu) di atas antara lain:
a. Persiapan:
i. Pembuatan Base Camp dan Direksi Keet
ii. Perkuatan konstruksi dan mobilisasi
iii. Perintisan dan pengukuran
b. Pembukaan Lahan:
i. Tebas, Tebang, Potong (TTP)
ii. Pilah, Kumpul, Bersih (PKB)
c. Pembangunan Rumah dan Fasilitas Umum Transmigrasi
i. Pembuatan Jalan Poros
ii. Pembuatan Jalan Desa

iii. Pembuatan Jembatan Kayu


d. Rumah Transmigran dan Jamban Keluarga ( RTJK )

3. Tipe dan macam konstruksi pekerjaan yang tercantum pada gambar rencana dan jumlahnya yang tercantum dalam
kontrak tidak bersifat suatu kepastian. Jumlah akhir, tipe dan macam konstruksi akan ditentukan oleh Pemimpin
Kegiatan yang diberikan kepada Pelaksana Fisik secara tertulis, bila ternyata dalam pelaksanaan diperlukan
perubahan atau berbeda dengan yang tercantum dalam kontrak.

Pasal 8

LOKASI PEKERJAAN

Pekerjaan penyiapan lahan bangunan dan prasarana Permukiman Transmigrasi terletak di:

Lokasi : Tanjung Buka SP.5A

Kecamatan : Tanjung Palas Tengah

Kabupaten : Bulungan

Propinsi : Kalimantan Timur

SPESIFIKASI TEKNIS 5
BAB 2

Pasal 9

PEKERJAAN PERINTISAN DAN PENGUKURAN

1. Perintisan
Pelaksanaan Fisik diharuskan terlebih dahulu membuat rintisan selebar 2 m’ pada batas pembukaan lahan (BPL)
sebelum melaksanakan penebangan hutan untuk pembukaan lahan dan rintisan selebar 2 m’ pada garis “As Jalan”
sebelum pembuatan jalan sesuai desain RTUPT/RTSP dan RTJ dari Direktoran Bina Program atau Kantor Dinas
Daerah yang bersangkutan.

2. Lingkup Pengukuran
a. Pekerjaan pengukuran meliputi pekerjaan pemetaan situasi batas areal pekerjaan pembukaanlahan (land
clearing), pengukuran dilakukan untuk seluruh areal. Pekerjaan ini wajib dilakukan meskipun patok-patok
batas pembukaan lahan lengkap tersedia di lokasi. Pelaksanaan pengukuran dilakukan dengan berpedoman
pada Bench Mark Utama dan Patok Batas Pembukaan Lahan (BPL) hasil desain RTUPT/RTSP yang dibuat
untuk lokasi tersebut.
b. Pekerjaan pengukuran merupakan kewajiban Pelaksana Fisik. Dalam hal ini pelaksanaannya dilakukan oleh
tenaga Pengawas Teknik, maka biaya pengukuran dibebankan kepada Pelaksana Fisik.
c. Hasil pengukuran dan penggambaran tersebut merupakan control atas gambar peta situasi yang diperoleh dari
kegiatan Desain RTUPT/RTSP. Segala perbedaan yang mungkin timbul harus segera diinformasikan kepada
Pengawas Teknik atau Kegiatan.
d. Siapapun pelaksana pengukuran, hasil pengukurannya harus diarsipkan sedemikian rupa sehingga dapat
diperiksa ulang oleh pihak Pengawas Teknik maupun Kegiatan jika dipandang perlu. Setelah pemeriksaan
tersebut, pihak Kegiatan, Pelaksana Fisik dan Pengawas Teknik menandatangani gambar peta situasi yang
dihasilkan. Gambar peta yang telah disahkan tersebut menjad iacuan bagi Kegiatan, Pelaksanan Fisik dan
Pengawas Teknik dalam pelaksanaan dan pengendalian pekerjaan.
3. Alat Ukur
Alat ukur yang digunakan adalah alat-ala tstandar untuk keperluan pemetaan situasi; roll meter dan seperangkat
Theodolite (sekurang-kurangnya T0).

4. JuruUkur
Tenaga pelaksanan pengukuran adalah tenaga yang mampu untuk mengkoordinir pelaksanaan pengukuran di
lapangan, mengolah data dan melakukan penggambaran hasil pengukuran dalam bentuk peta situasi berskala.
Kapasitas kerja juru ukur disesuaikan dengan luas areal yang akan dibuka dengan sekurang-kurangnya 1 juru ukur
dibantu oleh pembantu juru ukur.

5. Persyaratan Teknis Pengukuran


Pengukuran batas-batas pembukaan lahan merupakan pengukuran pengikatan posisi horisontal yang dapat
dilakukan dengan metode poligonter control pada sudut maupun jaraknya. Persyaratan teknis yang diterapkan
adalah sebagai berikut:

a. Pengukuran polygon terkontrol dilakukan dari titik datum tersebut ketitik awal pengukuran. Sebagai titik
pengukuran ini dipilih dari Bench Mark Utama desain RTUPT/RTSP atau dari patok batas pembukaan lahan
yang terdekat dengan BM. Jalur pengukuran ini harus berupa kring tertutup.
b. Sudut-sudut polygon diukur dengan alat ukurs udut dengan ketelitian 30 detik, masing-masing sebanyak satu
seriganda (B-B-LB-LB). Selisih bacaaan sudut biasa dan luar biasa tidak boleh lebih dari 10 detik.

SPESIFIKASI TEKNIS 6
c. Sisi-sisi polygon diukur dengan menggunakan pita ukur, masing-masing sebanyak satu seri (pergi-pulang) dan
dikontrol dengan hasil ukuran jarak secara optis.
d. Kontrol sudut didapatkan dengan melakukan pengukuran azimuth matahari pada awal dan akhir pengukuran
dan pada setiap selang maksimum 50 stasiun. Pengamatan dilakukan sebanyak masing-masing dua seri pada
pagi dan sore hari. Ketelitian pengukuran azimuth matahari tidak kurang dari 30 detik.
e. Persyaratan teknis lain yang harus dipenuhi adalah
 Alat ukur sudut yang dipakai Theodolite T0 (ketelitian 30 detik) atau setara.
 Alat ukur jarak yang digunakan adalah pita ukur stylonatau yang setara.
 Kesalahan penutup sudut tidak melebihi 4 menitn eksponen ½, dimana n = jumlah titik poligon.
 Kesalahan penutup linier tidak melebihi 1/2500.
 Kesalahan penutup beda tinggi tidak boleh lebih dari 60 D (Km) eksponen ½ (mm) dimana D adalah
jumlah jarak pengukuran dalam Km.

6. Penggambaran Pengukuran
Penggambaran hasil pengukuran dilakukan oleh tenaga ahli geodesiatau surveyor yang mengkoordinir pelaksanaan
pengukuran tersebut. Gambar ini dibuat dengan skala 1:500, dengan system proyeksi peta UTM (Universal
Transverse Merchator) dan selanjutnya dapat digunakan sebagai pedoman dalam pengelolaan pelaksanaan lebih
lanjut. Diakhi rmasa pelaksanaan, apabila tidak ada perubahan pada pelaksanaan, setelah gambar tersebut
ditandatangani oleh pihak Pengawas Teknik dan wakil Kegiatan dapat digunakan sebagai peta pemantauan dan
gambar hasil pelaksanaan (as built drawing/ ABD).

7. Pelaksana Fisik diharuskan mengadakan pengukuran pada jalur jalan (lokasi jalan) sesuai dengan gambar atau
petunjuk Pengawas Teknis.
Pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan antara lain:

a. Pengukuran arah memanjang, dengan membuat patok-patok yang kuat dan diberi nomor yang jelas, tidak
terkena badan jalan serta mudah dilihat/diketahui dengan jelas jarak dari patok kepatok, dibuat 3 (tiga) jenis
yaitu untuk jarak 50 meter diberi cat warna kuning, 100 meter cat warna merah dan untuk jarak 1.000 meter cat
warna putih.
b. Pengukuran harus menghasilkan penampang memanjang, lantai sumbu jalan dan penampang melintang
lengkap dengan profil badan jalan yang sudah ada.
c. Untuk pengukuran profil melintang jalan yang sudah ada paling sedikit diadakan pengukuran tinggi pada 3
(tiga) titik.
d. Semua tanda-tanda/patok-patok di lapangan harus tetap dipelihara dan dijaga dengan baik oleh pelaksana fisik.
Apabila ada tanda-tanda/patok-patok yang rusak harus segera diganti dengan yang baru dan telah disetujui
pemasangannya kembali oleh Pengawas Teknik.
e. Hasil-hasil pengukuran harus digambarkan dan dapat diperbanyak setelah mendapat persetujuan kembali oleh
Pengawas Teknik.

8. Pelaksana Fisik harus melakukan pengukuran-pengukuran untuk menetapkan titik ketinggian (peil) dan ukuran-
ukuran lainnya pada pekerjaan pembuatan jembatan dan gorong-gorong.

9. Pekerjaan tersebut di dalam ayat 6 dan ayat 7 butir a, b, c harus seluruhnya telah mendapat persetujuan dari
Pengawas Teknik sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan selanjutnya, sehingga Pengawas Teknik dapat
melakukan revisi apabila dianggap perlu dan Pelaksana Fisik harus mengerjakan revisi tersebut sesuai dengan
petunjuk Pengawas Teknik tanpa memungut biaya tambahan.
SPESIFIKASI TEKNIS 7
10. Sebelum memulai pekerjaan pemasangan patok tersebut, Pelaksana Fisik harus memberitahukan kepada Pengawas
Teknik dalam waktu kurang dari 48 jam, sehingga Pengawas Teknik dapat mempersiapkan segala sesuatu yang
perlu untuk melakukan pengawasan.

Pasal 10

PERKUATAN KONSTRUKSI DAN MOBILISASI

1. Perkuatan Konstruksi
a. Yang dimaksud perkuatan konstruksi adalah usaha memberikan konstruksi tambahan pada konstruksi yang
telah ada agar dalam rangka mobilisasi alat-alat berat, perlengkapan, material untuk keperluan kegiatan,
konstruksi yang sudah ada tersebut tetap dalam keadaan semula dan tetap berfungsi sebagaimana mestinya.
b. Pelaksana Fisik bertanggung jawab untuk selama masa pelaksanaan kegiatan atas segala kerusakan dan
kerugian pada pemasangan perkuatan konstruksi serta kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan oleh pihak
ketiga.
c. Dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari setelah penandatanganan Surat Perintah Kerja,
rencana gambar kerja dan pengaturan kerja untuk pelaksanaan perkuatan konstruksi itu sudah harus diserahkan
kepada Pengawas Teknik.
d. Apabila dipandang perlu, maka Pengawas Teknik dapat mengadakan perbaikan-perbaikan atas rencana
tersebut. Pengawas Teknik selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari setelah pengajuan rencana akan memberikan
ijin kepada Pelaksana Fisik untuk memulai pekerjaan perkuatan konstruksi.

2. Mobilisasi
Guna kelancaran pelaksanaan pekerjaan, maka ditetapkan batas waktu mobilisasi alat dan tenaga sampai kelokasi
kegiatan sesuai dengan Rencana Kerja Induk seperti ditentukan pada Bab 1 Pasal 4 spesifikasi ini. Apabila terjadi
kelambatan dalam pelaksanaan mobilisasi, akan dikenakan sanksi berupa peninjauan kembali pemberian pekerjaan.

BAB 3

PEMBUKAAN LAHAN TANPA BAKAR

SPESIFIKASI TEKNIS 8
Pasal 11

PENGERTIAN ISTILAH DAN TERMINOLOGI

8. Maksud
Daftar istilah atau terminologi ini adalah penafsiran baku/interpretasi terhadap istilah teknis yang digunakan dalam
spesifikasi ini.Interpretasi ini bersifat tunggal dan dianggap telah disepakati oleh pihak-pihak yang terkait dalam
pelaksanaan Kegiatan.

9. Tujuan
Tujuan dari pencantuman daftar istilah atau terminologi ini adalah untuk memberikan acuan tunggal atas penafsiran
istilah atau ungkapan yang digunakan dalam spesifikasi ini, yang bersifat mengikat bagi pihak-pihak yang terkait
dalam pelaksanaan kegiatan dimana spesifikasi ini digunakan.

10. Lingkup Kegiatan


Pembukaan lahan untuk permukiman transmigrasi meliputi penyediaan lahan untuk keperluan-keperluan sebagai
berikut:

a. Lahan untuk pekarangan dan rumah transmigran.


b. Lahan untuk sarana fasilitas umum, seperti tempat ibadah, sekolah, pasar, pusat desa, kantor desa, puskesmas
dan lain-lain.
c. Lahan untuk lahan usaha pada transmigrasi
d. Lahan untuk prasarana jalan.

11. Pembukaan Lahan


Selama tidak ada peraturan-peraturan/ketetapan-ketetapan baru, berlaku ketetapan sebagai berikut:

a. Lahan untuk keperluan rumah dan pekarangan diperkirakan 0,50 Ha/KK.


b. Lahan untuk keperluan infrastruktur dan bangunan fasilitas umum diperkirakan 0,15 Ha/KK
c. Lahan untuk Lahan Usaha I diperkirakan 0,5 Ha/KK.
d. Lahan untuk Lahan Usaha II diperkirakan 1 Ha/KK

12. Metode Pelaksanaan


Metode pelaksanaan dilakukan dengan cara Pembukaan Lahan Tanpa Bakar. Pembukaan Lahan Tanpa Bakar
(PLTB) adalah kegiatan-kegiatan dalam proses pembangunan permukiman menjadi layak huni, layak usaha dan
layak berkembang tanpa mempergunakan kegiatan pembakaran untuk membersihkan biomassa/limbah dari lahan.
Pelaksana Fisik diwajibkan untuk memanfaatkan limbah yang ada untuk tujuan pembangunan lainnya.

Pembukaan lahan tanpa bakar dapat dilaksanakan dengan cara:

a. Semi Mekanis
Pada pembukaan lahan dengan metode semi mekanis, alat berat hanya digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan
pengumpulan khususnya pada lahan pekarangan. Alat mekanis lain yang digunakan dalam metode ini adalah
chain saw, yang digunakan untuk membantu pekerjaan penebangan dan pemotongan. Selain pekerjaan
pengumpulan, seluruh pekerjaan lain dilakukan secara manual.

b. Mekanis
SPESIFIKASI TEKNIS 9
Pada pembukaan lahan dengan metode mekanis, alat berat digunakanpada seluruh pelaksanaan pekerjaan.
Pekerjaan pembukaan yang dilakukan dengan alat berat adalah pekerjaan penumbangan dan pengumpulan
pohon. Sedangkan untuk pekerjaan untuk penebangan dan pemotongan di laksanakan oleh chain saw.

c. Manual
Pembukaan lahan dengan metode manual dilakukan hanya dengan alat-alat bantu sederhana seperti kampak,
parang, linggis, dan gergaji. Satu-satunya alat mekanis adalah chain saw. Metode ini hanya layak dilakukan di
hutan-hutan tersier dengan diameter pohon maksimum 30 cm, dimana proses penebangan dan pengumpulan
dapat dilakukan secara manual. Jenis-jenis tegakan lahan yang dapat dibuka dengan metode manual ini adalah
semak belukar dan hutan alang-alang.

13. Tahapan pekerjaan penyiapan lahan terdiri dari:


a. Semak belukar
i. Tebas (diikuti dengan Rencek)
ii. Pengumpulan
iii. Pembersihan akhir
b. Hutan
i. Tebas (diikuti dengan Rencek)
ii. Tebang (diikuti dengan Rencek)
iii. Potong
iv. Pilah
v. Kumpul
vi. Pembersihan akhir

14. Kayu Komersil


Kayu komersil adalah jenis-jenis kayu yang dapat diperdagangkan.Kayu komersil terdiri dari berbagai kelas kayu
dengan acuan PPKI, sebagian besar kelompok kayu komersil di sini adalah kayu-kayu yang dapat diolah dalam
penampang segi empat untuk keperluan konstruksi kayu.

15. Semak Belukar


Areal didominasi belukar/perdu dengan diameter < 7cm.

16. RTUPT/RTSP
Rencana Teknik Unit Permukiman Transmigrasi/Rencana Teknis Satuan Permukiman Transmigrasi, merupakan
kumpulan dokumen studi perencanaan areal satuan permukiman yang dapat dijadikan sebagai salah satu acuan
dalam pelaksanaan fisik pekerjaan penyiapan lahan dan bangunan permukiman.

17. RTJ
Rencana Teknis Jalan, merupakan kumpulan dokumen studi perencanaan areal satuan permukiman yang dapat
dijadikan sebagai salah satu acuan dalam pelaksanaan fisik pekerjaan prasarana jalan.

Pasal 12

SPESIFIKASI TEKNIS 10
PERSYARATAN TEKNIS PEMBUKAAN LAHAN

11. Pembukaan lahan (pada lahan basah) hanya dapat dilakukan setelah saluran drainase primer dibuat oleh instansi
terkait (Departemen Pekerjaan Umum).

12. Pelaksana Fisik dilarang melakukan pembakaran dalam pekerjaan pembukaan lahan untuk membersihkan lahan
dari biomasa/limbah hasil pembukaan hutan/semak belukar/alang-alang atau jenis vegetasi lainnya.

13. Apabila terjadi kebakaran dalam lokasi permukiman, Pelaksana Fisik wajib untuk memadamkannya.

14. Bila tanah dalam keadaan basah/tergenang air maka tidak diperkenankan adanya kegiatan yang menggunakan alat-
alat berat.

15. Semua pohon (vegetasi) yang berdiameter lebih kecil dari 15 cm ditebas/ditebang hingga tunggul-tunggulnya,
kecuali pohon-pohon pelindung sebagai pengendali kelestarian lingkungan pengaman daerah aliran sungai dan
pohon-pohon lainnya sesuai petunjuk Pengawas Teknik.

16. Dalam rangka konservasi tanah, air dan lingkungan, sesuai dengan ketentuan yang berlaku perlu dipertahankan
keadaan vegetasi aslinya dan harus dihindarkan pembukaan hutan (vegetasi) pada areal sekurang-kurangnya
selebar:
a. 100 m di kiri - kanan tepi sungai
b. 50 m di kiri - kanan tepi anak sungai
c. 200 m di sekeliling mata air
d. 200 m di sepanjang tepi pantai
e. 500 m di sepanjang tepi waduk
f. Dua kali dalamnya jurang, di tepi jurang.

17. Pohon-pohon yang berdaun rindang dan bermanfaat tidak perlu ditebang habis, dan dapat dibiarkan tetap hidup
untuk berfungsi sebagai pohon peneduh.

18. Arah rebahan pohon hasil penebangan dan/atau penumbangan harus satu arah atau sama dan tidak dibenarkan
saling tindih secara menyilang.

19. Semua kayu yang produktif atau komersil harus diamankan dengan jalan memotong batang/kayu sepanjang  4 m
(ukuran yang sesuai) dan kemudian dikumpulkan di tempat (jalur kayu komersil) yang akan ditentukan oleh
Pengawas Teknik. Untuk kayu-kayu non-komersil diharapkan dapat dimanfaatkan untuk dibuat chip sebagai bahan
baku kertas.

20. Batang-batang pohon yang ditumbangkan tidak diperbolehkan merintangi jalan air, jalan rintisan atau jalan setapak.

21. Pohon-pohon yang ditebang/tebas segera diikuti dengan merencek pohon tersebut hingga cabang-cabang/dahan-
dahan terpisah dari batang induknya.
SPESIFIKASI TEKNIS 11
22. Pada tempat-tempat yang tidak rata (rolling), penumpukan (pilling) dibuat sejajar garis kontur untuk mengurangi
bahaya erosi.

23. Pelaksana Fisik diwajibkan untuk melakukan penelitian letak-letak pohon-pohon komersil.

24. Pelaksana Fisik diwajibkan untuk menyiapkan 1 (satu) kapling lahan pekarangan sebagai percontohan dalam setiap
25 kapling lahan pekarangan yang dibuka. Kapling lahan pekarangan percontohan dimaksud dianjurkan pada
kapling yang sama dengan “Rumah Transmigrasi Percontohan”.

25. Pelaksana Fisik harus menghentikan operasi pembukaan lahan, dan harus memberitahukan hal itu kepada Pengawas
Teknik/Direksi, dan tidak boleh memulai tanpa ijin tertulis dari Pengawas Teknik/Direksi, kalau dijumpai keadaan
sebagai berikut:
a. Areal berbatu-batu besar, yang menurut pendapat Pengawas Teknik/Direksi tidak cocok untuk budi daya
tanaman.
b. Areal berpasir kwarsa, berawa, rolling dengan kemiringan lebih dari 15% yang menurut pendapat Pengawas
Teknik/Direksi tidak layak untuk usaha tani.
c. Areal bergambut ketebalan > 0,5 meter bila diperuntukkan bagi pola pertanian lahan usaha.
i. Ketebalan > 3 meter bila diperuntukkan bagi pola tanam holtikultura dan palawija.
ii. Ketebalan > 6 meter bila diperuntukkan bagi pola tanam keras/perkebunan.

26. Apabila Pelaksana Fisik ragu-ragu untuk melanjutkan pembukaan lahan, Pelaksana Fisik harus meminta pendapat
Pengawas Teknik/Direksi dan selanjutnya Pengawas Teknik/Direksi akan memberitahukan kepada Pelaksana Fisik
tentang keputusannya untuk meneruskan proses pembukaan lahan atau tidak.

27. Kayu-kayu hasil hutan yang terdapat pada areal hutan tetap dikuasai oleh negara dan pemanfaatannya diatur oleh
Departemen Kehutanan c.q. Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehutanan setempat sesuai ketentuan yang
berlaku.

Pasal 13

TEKNIS PELAKSANAAN

3. Pembukaan Lahan Pekarangan Rumah Transmigran


a. Pertapakan rumah transmigran
Dalam pembukaan pertapakan rumah transmigran, perlu diperhatikan:

i. Pembukaan lahan dilakukan setelah ada pembentukan jalan desa untuk lebih menjamin kelancaran
mobilisasi tenaga, alat dan pengawasan.
ii. Lahan pertapakan rumah dengan ukuran 10 x 10 meter 2 harus dapat memenuhi kriteria layak huni. Lahan
tersebut harus bersih dari semua jenis vegetasi yang ada dan tidak dijadikan tempat penumpukan.
iii. Bila lahan pertapakan rumah (10 x 10 m2) ada tunggul > 30 cm yang tertinggal, maka tunggul tersebut
harus dibongkar dan diratakan kembali.
b. Lahan Kaplingan Pekarangan

SPESIFIKASI TEKNIS 12
Lahan kaplingan pekarangan di luar lahan pertapakan 10 x 10 meter 2 dibuka sesuai dengan spesifikasi teknis
sebagaimana disebut pada pasal 17, 18, 19 dan 20.

i. Penebasan
 Penebasan terhadap semak dan pohon-pohon yang berdiameter 10 cm, hingga ada ruang untuk melihat
keadaan sekitarnya.
 Penebasan selanjutnya terhadap pohon-pohon berdiameter 10 - 30 cm. Pohon yang rebah diikuti dengan
perencekan sehingga cabang dan ranting pohon terpisah dari batang induknya.
ii. Penebangan
Untuk pohon-pohon berdiameter > 30 cm, ditebang setinggi dada ( 1 meter) dari permukaan
tanah.Penebangan harus dilakukan secara hati-hati agar rebah pohon sesuai dengan arah yang diinginkan
yaitu mengikuti atau sejajar garis kontur.Setelah penebangan diikuti dengan perencekan ranting dan
cabang pohon.

iii. Pemotongan
Pemotongan bertujuan untuk memudahkan pengumpulan yang panjang pemotongannya dibedakan
sebagai berikut:

 Kayu komersil = 4 - 5 meter.


 Kayu yang masih dapat digunakan untuk komersil = 4.5 meter.
 Kayu non-komersil = 1 - 4 meter.
iv. Pohon Rindang
Pohon yang rindang, pohon-pohon yang bermanfaat tidak perlu ditebang, tebas atau dapat dibiarkan tetap
hidup.Pohon-pohon tersebut dapat berfungsi sebagai pelindung dan sangat berguna untuk usaha tani.

v. Pemilahan
Pekerjaan pemilahan bertujuan untuk memisahkan kayu limbah, kayu yang dapat dimanfaatkan dan kayu
komersil.

vi. Pengumpulan
 Perhatikan keadaan sekitarnya dan tentukan letak jalur penumpukan sesuai petunjuk Pengawas Teknik
atau Direksi. Jalur penumpukan harus sejajar dengan garis kontur dan jarak antar tumpukan 10-30
meter.
 Jalur penumpukan

Lebar Jalur Penumpukan Jarak antar Tumpukan


Kualifikasi Vegetasi
(M) (M)

Hutan Primer 3.5 - 5 10 - 15

Hutan Sekunder 2 - 3.5 15 - 20

Hutan Tersier 1-2 20 - 25

Hutan Semak Belukar <1 25 - 50

 Potongan kayu atau batang kayu dikumpulkan pada jalur penumpukan dengan cara menggeser,
menggulingkan atau mengangkut ke jalur penumpukan.
Cara kerja

 Tentukan batas-batas jalur penumpukan secara memanjang (sejajar garis kontur).


 Tentukan as di tengah-tengah 2 jalur penumpukan

SPESIFIKASI TEKNIS 13
 Angkut, geser, atau gulingkan kayu yang terdekat dengan tumpukan ke bagian luar batas penumpukan,
kayu yang berada di tengah ke bagian tengah tumpukan dan seterusnya, sehingga bagian kanan dari as
potongan kayu sudah terkumpulkan.

4. Lahan Usaha I
Dalam pembukaan Lahan Usaha I perlu diperhatikan:

a. Penebasan
 Penebasan terhadap semak dan pohon-pohon yang berdiameter 10 cm, hingga ada ruang untuk melihat
keadaan sekitarnya.
 Penebasan selanjutnya terhadap pohon berdiameter 10-30 cm. Pohon yang rebah diikuti dengan
perencekan sehingga cabang dan ranting pohon terpisah dari batang induknya.

b. Penebangan
Untuk pohon-pohon berdiameter > 30 cm, ditebang setinggi dada (1 meter) dari permukaan tanah.Penebangan
harus dilakukan secara hati-hati agar rebah pohon sesuai dengan arah yang diinginkan yaitu mengikuti atau
sejajar garis kontur.Setelah penebangan diikuti dengan perencekan ranting, dan cabang pohon terpisah dari
batang induknya.

c. Pemotongan
Pemotongan bertujuan untuk memudahkan pengumpulan yang panjang pemotongannya dibedakan sebagai
berikut:

 Kayu komersil = 4 - 5 meter


 Kayu yang masih dapat digunakan untuk komersil = 4.5 meter
 Kayu non-komersil = 1 - 4 meter
d. Pohon Rindang
Pohon yang rindang, pohon-pohon yang bermanfaat tidak perlu ditebang, tebas atau dapat dibiarkan
hidup.Pohon-pohon tersebut dapat berfungsi sebagai pelindung dan sangat berguna untuk usaha tani.

e. Pemilahan
Pekerjaan pemilahan bertujuan untuk memisahkan kayu limbah, kayu yang dapat dimanfaatkan dan kayu
komersil.

f. Pengumpulan
 Perhatikan keadaan sekitarnya dan tentukan letak jalur penumpukan sesuai petunjuk Pengawas Teknik
atau Direksi. Jalur penumpukan harus sejajar garis kontur dan jarak antar tumpukan 10 - 30 meter.
 Jalur penumpukan
Kualifikasi Lebar Jalur Penumpukan Jarak antar Tumpukan
(M) (M)
Vegetasi

Hutan Primer 3.5 - 5 10 - 15

Hutan Sekunder 2 - 3.5 15 - 20

Hutan Tersier 1-2 20 - 25

Hutan Semak Belukar <1 25 - 50

SPESIFIKASI TEKNIS 14
 Potongan kayu atau batang kayu dikumpulkan pada jalur penumpukan dengan cara menggeser,
menggulingkan atau mengangkut ke jalur penumpukan.

Cara kerja

 Tentukan batas-batas jalur penumpukan secara memanjang (sejajar garis kontur).


 Tentukan as di tengah-tengah 2 jalur penumpukan.
 Angkut, geser, atau gulingkan kayu yang terdekat dengan tumpukan ke bagian luar batas penumpukan,
kayu yang berada di tengah ke bagian tengah tumpukan dan seterusnya, sehingga bagian kanan dari as
potongan kayu sudah terkumpulkan.

Pasal 14

KLASIFIKASI HUTAN

1. Kelas Hutan
Hutan dibagi dalam 10 kelas dengan dasar pembagian jumlah pohon ekuivalen per hektar. Dengan menggunakan
sistem pengkelasan yang bersifat standar dan terukur ini maka akan didapat kemudahan dalam melakukan rujukan
ulang ke TSP dan koordinasi dengan instansi Departemen Kehutanan.

Tabel Kelas Hutan

Kelas Hutan Jumlah Pohon Ekuivalen per Ha

1 0 - 300

2 301 - 1500

3 1501 - 2700

4 2701 - 3900

5 3901 - 5100

6 5101 - 6300

7 6301 - 7500

8 7501 - 8700

9 8701 - 9900

10 > 9901

Sumber : DITADA 1981, Departemen Kehutanan

2. Perhitungan Kelas Hutan

SPESIFIKASI TEKNIS 15
Cara perhitungan jumlah pohon ekuivalen tersebut di atas dilakukan dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut:

PE = A + ( B x 28.33 ) + ( C x 68.39 ) + ( D x 183.33 )

Dimana PE = jumlah pohon ekuivalen per hektar

A = jumlah pohon per hektar diameter 10 - 29 cm

B = jumlah pohon per hektar diameter 30 - 59 cm

C = jumlah pohon per hektar diameter 60 - 89 cm

D = jumlah pohon per hektar diameter 90 - 120 cm

A, B, C dan D diperoleh daeri petak contoh yang dibuat di lokasi yang akan dibuka. Petak contoh ini dibuat hingga
1,0 % dari seluruh luasan yang akan dibuka. Dengan pedoman penentuan luasan petak contoh sebagai berikut:
(luasan yang akan dibuka vs persentase luasan petak contoh).

3. Klasifikasi
Dalam hal sistem pengkelasan hutan yang digunakan dalam kontrak berbeda dengan sistem pengkelasan hutan baku
di atas, maka pengelompokan kelas tersebut dapat dilakukan dengan acuan tabel berikut:

No Kelas Hutan Keterangan

1. Hutan Primer Kelompok kelas hutan VII s/d X dengan jumlah tegakan
pohon ekuivalen 6300 - 9901, didominasi oleh tumbuhan
dengan diameter tegakan > 60 cm.

2. Hutan Sekunder Kelompok kelas hutan III s/d VI dengan jumlah tegakan
pohon ekuivalen 1500 - 6300, didominasi oleh tumbuhan
dengan diameter tegakan < 60 cm.

3. Hutan Tersier Kelompok kelas hutan I dan II dengan jumlah tegakan


pohon ekuivalen 1500, didominasi oleh tumbuhan dengan
diameter tegakan < 30 cm.

4. Semak Belukar Didominasi oleh belukar / perdu dengan diameter < 7 cm.

5. Alang-alang Didominasi oleh alang-alang, tegakan pohon jarang.

Penelitian ulang kelas hutan ini dilakukan oleh Pelaksana Fisik di bawah pengawasan dari supervisi / Pengawas
Teknik dan proyek, dan biayanya dibebankan kepada Pelaksana Fisik.

Hasil penetapan kelas hutan ini ditandatangani oleh pihak Pelaksana Fisik, Supervisi / Pengawas Teknik - wakil
Kegiatan dan digunakan sebagai dasar pengajuan amandemen, apabila kelas hutan yang ada ternyata tidak sesuai
dengan informasi yang diberikan pada saat penjelasan pekerjaan (aanwijzing).
SPESIFIKASI TEKNIS 16
Pasal 15

METODE PEMBUKAAN LAHAN

1. Metode pelaksanaan dilakukan dengan cara Pembukaan Lahan Tanpa Bakar. Semua bentuk kegiatan pembakaran
dilarang, baik pembakaran biomasa/limbah hasil penebasan/penebangan/pemotongan untuk membersihkan
permukaan lahan maupun pembakaran lainnya yang dapat menimbulkan kerusakan dan/atau pencemaran
lingkungan hidup.

2. Dilarang melakukan pembakaran dalam pelaksanaan pembukaan lahan.

3. Cara Pembukaan Lahan Tanpa Bakar


Yang lazim digunakan pada pekerjaan penyiapan lahan transmigrasi adalah:

a. Mekanis

b. Semi Mekanis

c. Manual

4. Pembukaan lahan untuk kelas hutan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
a. Tebas Tebang Potong (TTP)

b. Pilah Kumpul (PKB)

Pasal 16

TEBAS, TEBANG, POTONG (TTP)

1. Tebas
Yaitu menebas bersih semak belukar dan pohon-pohon yang berdiameter < 10 cm. Tunggul hasil penebasan
kemudian dipotong rata permukaan tanah.Segera setelah penebasan pohon-pohon kemudian direncek hingga
cabang-cabang, dahan-dahan pohon terpisah dari batang induknya dan dengan demikian hasil rencek dapat dengan
mudah diangkut ke jalur-jalur penumpukan agar tidak tertindih dengan tumbangan pohon besar berikutnya.

2. Tebang
Yaitu menebang pohon-pohon yang berdiameter > 10 cm, dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Menebang pohon-pohon yang berdiameter 10 - 30 cm, dengan ketentuan penebangan kemudian dipotong rata
dengan permukaan tanah.
b. Pohon-pohon yang berdiameter > 30 cm ditebang setinggi  1 m.

SPESIFIKASI TEKNIS 17
c. Segera setelah penebangan, pohon-pohon yang ditumbang kemudian direncek hingga cabang-cabang, dahan-
dahan, ranting-ranting pohon terpisah dari batang induknya hingga tidak mempersulit pelaksanaan pekerjaan
berikutnya.
3. Pemotongan
Yaitu memotong-motong batang kayu yang sudah direncek dan memotong-motong hasil rencekan agar lebih mudah
untuk diangkut ke jalur-jalur penumpukan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Kayu-kayu yang tidak dapat dimanfaatkan dipotong-potong dengan ukuran 1 4 m (tergantung diameter kayu)
dengan tujuan agar dapat diangkut dengan mudah ke tempat penumpukan.
b. Kayu-kayu komersil dipotong-potong dengan ukuran  4,5 m atau ukuran yang sesuai.
c. Kayu-kayu yang potensial dapat dimanfaatkan untuk bahan konstruksi dipotong dengan ukuran  4.5 m.
d. Kayu-kayu untuk kayu bakar keperluan transmigrasi dipotong-potong dengan ukuran kecil ( 2 m) dengan
tujuan agar dapat diangkut atau dipindahkan dengan mudah ke tempat pengumpulan di batas kapling lahan
usaha I.
e. Kayu limbah berupa cabang, dahan hasil rencekan harus dipotong-potong dengan ukuran 1 - 4 m.

4. Penilaian Hasil
Hasil pelaksanaan Tebas Tebang Potong diukur untuk mendapatkan luas yang dinyatakan selesai dikerjakan dan
disetujui oleh Pengawas Teknik. Tebas Tebang Potong dinyatakan selesai dalam satuan luas (hektar atau kapling)
dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Rebahan tebas tebang dalam arah yang sama


b. Pohon yang ditebas dan/atau ditebang sudah direncek cabang dan dahan pohon sudah terpotong/terpisah dari
batang induknya.
c. Batang-batang pohon sudah dalam keadaan terpotong dengan ukuran sebagai berikut:
 Kayu komersil :  4.5 meter
 Kayu yang dapat dimanfaatkan : 2 - 4.5 meter
 Kayu non-komersil (limbah) : 1 - 4 meter
Dari hasil pengukuran terhadap luasan yang dinyatakan selesai digambar pada peta monitoring pembukaan
lahan sebagai data pendukung untuk pembayaran.

5. Pembayaran
Pembayaran hasil pelaksanaan akan dilakukan sesuai dengan luasan yang dinyatakan selesai dari hasil pengukuran
yang tergambar pada peta monitoring pembukaan lahan, menurut mata pembayaran sebagai berikut:

No. Mata Pembayaran Satuan

1. Tebas Tebang Potong Ha

Pasal 17

PILAH KUMPUL ( PK )

SPESIFIKASI TEKNIS 18
1. Pilah
Memilih dan memilah hasil perencekan dan pemotongan uantuk memisahkan kayu limbah, kayu yang dapat
dimanfaatkan, dan kayu komersil untuk memudahkan pengumpulan ke jalur-jalur penumpukan.

2. Kumpul
a. Mengumpulkan dan menumpuk kayu limbah secara memanjang dan sejajar garis kontur pada bagian belakang
rumah transmigran. Tumpukan kayu limbah diharapkan dapat segera dimanfaatkan oleh swasta untuk diolah
menjadi chips (serpihan kayu) dan keperluan lainnya atau sebagian dimanfaatkan oleh transmigran sebagai
bahan bakar kayu.
b. Mengumpulkan dan menumpuk kayu-kayu yang masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi,
pertukangan dan lain-lain serta kayu-kayu komersil. Penumpukan dilakukan memanjang sejajar dengan
tumpukan kayu limbah.
c. Semua jenis potongan batang, cabang, dahan dan ranting yang masih berada di antara jalur tumpukan kayu,
harus dipindahkan dan ditumpuk ke dalam tumpukan, sehingga areal antara jalur tumpukan bersih dari sisa-
sisa potongan.
d. Penumpukan potongan kayu besar dapat dilakukan dengan menggulingkannya ke jalur tumpukan. Pada daerah
yang miring, penumpukan dilakukan ke bagian bawah. Jalur tumpukan harus sejajar garis kontur untuk
berfungsi sebagai penahan tanah (terasering / teras kontur).

3. Bersih
a. Pembersihan areal di antara jalur tumpukan
Yaitu mengumpulkan sisa potongan-potongan kayu dan cabang, serta menumpukkannya kembali ke jalur
tumpukan kayu sehingga areal di antara jalur tumpukan yang satu dengan jalur tumpukan lainnya bebasa dari
sisa potongan-potongan kayu.

b. Pembersihan akhir
Yaitu mengumpulkan sisa dahan, ranting dan pelepah daun, serta menumpukkannya di samping jalur-jalur
tumpukan yang ada sehingga tersedia lahan yang bersih untuk dimanfaatkan menjadi lahan usaha tani oleh
transmigran.

Pasal 18

PENILAIAN HASIL

Hasil pelaksanaan Pilah Kumpul diukur untuk mendapatkan luas yang dinyatakan selesai dikerjakan dan disetujui oleh
Pengawas Teknik. Pilah Kumpul dinyatakan selesai dalam satuan luas (hektar atau kapling) dengan ketentuan sebagai
berikut:

a. Potongan-potongan kayu sudah tertumpuk pada jalur-jalur tumpukan.


b. Jarak antar tumpukan kayu 15 - 30 meter.
c. Areal antara tumpukan harus bebas dari potongan-potongan kayu.

SPESIFIKASI TEKNIS 19
d. Areal antara tumpukan kayu terdapat areal yang cukup bersih untuk digunakan sebagai lahan usaha tani dan harus
memenuhi persyaratan persentase luas lahan yang dapat diolah sebagai berikut:

Persyaratan
No Vegetasi Asal Keterangan
Persentase

1. Hutan Primer 60 % Persentase luas lahan yang dapat


diolah adalah persentase luas lahan
2. Hutan Sekunder 70 %
yang dapat diolah (pada saat

3. Hutan Tersier 80 % penempatan) dalam setiap 1 Ha.

Dari hasil pengukuran terhadap luasan yang dinyatakan selesai digambar pada peta monitoring pembukaan lahan
sebagai data pendukung untuk pembayaran.

Pasal 19

PEMBAYARAN

Pembayaran hasil pelaksanaan akan dilakukan sesuai dengan luasan yang dinyatakan selesai dari hasil pengukuran yang
tergambar pada peta monitoring pembukaan lahan, menurut mata pembayaran sebagai berikut:

No. Mata Pembayaran Satuan

1. Pilah Kumpul Ha

BAB 4

BANGUNAN RUMAH TRANSMIGRAN

Pasal 30

URAIAN UMUM

18. Penentuan Letak Bangunan


Perletakan rumah transmigran disesuaikan dengan Tata Letak Bangunan yang telah ditetapkan.

19. Peletakan rumah contoh harus tersebar dengan ketentuan 1 (satu) rumah contoh setiap 50 rumah Transmigran.
Dengan demikian diharapkan agar supaya para Kontraktor Pelaksana Pekerjaan Fisik di lapangan dapat
menyediakan Shaw Mill untuk kegiatan Pembuatan Papan Balok untuk kepentingan pembangunan Rumah
Transmigran.
20. Sebelum melaksanakan kegiatan di lapangan, pemborong diwajibkan meminta persetujuan terlebih dahulu kepada
Direksi/Supervisi di lapangan, mengenai letak dari setiap bangunan fasilitas umum dan rumah petugas.
21. Umum
SPESIFIKASI TEKNIS 20
a. Bahan bangunan pokok untuk bangunan rumah Transmigran harus kayu Kayu Kelas II.
b. Semua jenis kayu baik balok maupun papan yang akan digunakan untuk bangunan rumah Transmigran harus
kering, bebas cacat, tidak retak, tidak berlubang, tidak lapuk dan lurus.
c. Ukuran penampang balok maupun papan yang digunakan harus sama dari ujung yang satu sampai ujung yang
lain.
d. Semua ukuran kayu balok dan papan yang tercantum di dalam gambar adalah ukuran jadi.
e. Sambungan-sambungan / pertemuan balok satu sama lain harus benar-benar rapat dan apabila harus dipaku,
paku yang digunakan adalah paku yang ukurannya sesuai dengan ukuran penampang kayu yang akan dipaku
supaya jangan sampai terdapat tonjolan-tonjolan ujung paku atau paku kurang panjang sehingga kurang dapat
berfungsi sebagaimana mestinya.
f. Bagian-bagian konstruksi yang ditanam dalam tanah atau yang langsung harus menggunakan kayu Kayu Kelas
I sesuai dengan gambar.
g. Panjang paku minimal adalah sama dengan tebal papan/kayu balok lapisan pertama ditambah ¾ tebal
papan/kayu balok lapis kedua.

Pasal 31

JENIS DAN PENYELENGGARAAN PEKERJAAN

1. Pekerjaan Persiapan dan Pembersihan


a. Sebelum pekerjaan konstruksi dimulai, tapak tempat bangunan akan didirikan harus dibersihkan terlebih
dahulu dari tunggul-tunggul kayu, semak-semak, alang-alang dan tumbuhan-tumbuhan lainnya dan diratakan.
b. Daerah yang harus dibersihkan dan diratakan minimal sampai mencapai 2 m keliling batas tapak bagian luar
bangunan yang akan dibangun.
c. Kotoran dari hasil pembersihan dibakar atau ditimbun sesuai dengan petunjuk dari Direksi/Supervisi.
2. Pekerjaan Pondasi.
a. Jenis kayu pondasi adalah kayu Kayu Kelas I dengan penampang persegi panjang dengan ukuran 10 x 10 cm.
Setiap sudut sebanyak 4 buah dan 5/10 untuk tongkat lainnya sebanyak 26 buah.
b. Tiang pondasi diperkuat dengan menggunakan gapit ukuran 2 x 5/10 panjang 50 cm dan laci 5/10 cm dengan
panjang 50 cm menggunakan kayu Kayu Kelas I .
3. Pekerjaan Rangka Bangunan.
a. Tiang/kolom kayu dibuat dari balok minimal kayu Kayu Kelas II dengan ukuran 10/10 cm (5 sudut).
b. Kerangka/dinding/tiang pembantu dibuat dari kayu persegi dari jenis Kayu Kelas II dengan ukuran 5/10.
c. Setiap sambungan/pertemuan agar dipaku dengan jumlah paku minimal 4 buah paku untuk sebuah sambungan
pertemuan.
d. Pada setiap sambungan antara tiang tegak dengan balok lantai/ring atas diberi skur dengan ukuran penampang
5/10 cm Kayu Kelas II.
4. Pekerjaan Lantai
a. Peil tinggi lantai dari permukaan tanah minimal 50 cm, dan harus lebih tinggi dari pada tinggi air maksimum.
b. Lantai papan dipasang di atas balok-balok lantai yang terbuat dari balok kayu Kayu Kelas II yang masing-
masing terdiri dari:
1. Balok utama/induk ukuran 5/10 (Kayu Kelas I )
2. Balok anak ukuran 5/10 (Kayu Kelas II)
3. Papan lantai ukuran 2/20 cm (Kayu Kelas II)
4. Papan lantai ukuran 2/20 cm untuk kamar mandi/WC (Kayu Kelas I )

SPESIFIKASI TEKNIS 21
c. Hubungan papan lantai satu sama lain harus rapat dan sambungan-sambungan memanjang harus benar-benar
lurus, pemakuan dilakukan pada setiap penindihan dengan balok anak, jumlah paku minimal 2 buah paku pada
setiap penindihan.
d. Sambungan-sambungan melintang papan lantai harus diusahakan persis di atas balok anak agar tidak
mempengaruhi kekuatan yang direncanakan.
5. Pekerjaan Dinding
a. Dinding dari kayu Kayu Kelas II dengan ukuran penampang 2/20 cm.
b. Pemasangan papan dengan sistem susun sirih, dipasang dengan pertindihan antara papan 2 cm agar jangan
sampai renggang pada saat papan mengalami penyusutan.
c. Pemakuan papan dilakukan pada setiap tiang/rangka dinding dengan menggunakan paku yang sesuai dengan
ukuran tebal papan, dengan ketentuan minimal 2 buah paku pada setiap pertemuan (panjang paku minimal 6
cm).
6. Pekerjaan Pintu dan Jendela
a. Sebagai kusen pintu dan jendela adalah tiang utama atau tiang pembantu/kerangka dinding yang dipasang
sponeng tempel sehingga berbentuk seperti kusen biasa.
b. Daun pintu jendela dibuat dengan sistem papan klam dari kayu Kayu Kelas II tebal 2 cm, pemakuan pada
papan paling sedikit 2 buah paku pada setiap pertemuan dengan papan klam.
c. Pemasangan daun pintu/jendela agar diperhatikan bahwa bagian dari daun pintu/jendela yang ada klamnya
dipasang di sebelah dalam, pemasangan papan pintu dan jendela harus rapat, kedua sisinya harus diketam.
d. Pemasangan engsel pintu/jendela harus menggunakan paku minimal 5 buah dan dipasang pada papan klam.
Ukuran paku disesuaikan dengan ukuran lubang engsel.
e. Semua pintu dan jendela harus dipasang grendel dengan ketentuan 1 buah setiap pintu/jendela.
f. Gembok dipasang pada pintu depan (pintu yang langsung berhubungan dengan luar).
g. Pada setiap daun jendela dipasang kait angin masing-masing satu buah.
h. Pemasangan daun pintu dan daun jendela harus betul-betul dapat berfungsi dengan baik sehingga dapat dibuka
dan ditutup dengan sempurna.
i. Daun pintu/jendela harus selalu tegak lurus baik dalam posisi terbuka maupun tertutup.
j. Untuk papan jalusi harus menggunakan papan yang digergaji lurus dengan ukuran penampang 2/20 dipasang
dan dipaku pada kusen.
7. Pekerjaan Rangka Atap
a. Rangka atap dibuat dari balok kayu Kayu Kelas I dengan ukuran:
- Balok penyangga gording 5 / 10 cm

- Gording 5 / 10 cm

- Balok Ring 5 / 10 cm

- Sekur 5 / 10 cm

- Balok Nok 5 / 10 cm

b. Balok penyangga gording dipasang di atas balok ring, dan balok nok serta tempat bertumpu di atas tiang utama
diperkuat dengan dipaku dengan memakai paku yang ukurannya sesuai dengan ukuran penampang balok
(sistem penyambung lihat gambar).
c. Balok Gording dipasang berdiri dan dipaku dengan jumlah paku paling sedikit 2 buah pada setiap pertemuan
dengan balok penyangga gording.
d. Untuk setiap sambungan dari balok mendatar agar diperhitungkan supaya letak dari sambuangan diusahakan
berada di atas tumpuan balok dengan yang berada di bawahnya supaya balok yang disambung tetap mampu
berfungsi sebagai mana mestinya.

SPESIFIKASI TEKNIS 22
e. List plank dibuat dari papan kayu Kayu Kelas II dengan ukuran penampang 2/20 cm. Pemasangan list plank
harus benar-benar lurus dan menutupi gording serta ujung balok penyangga gording. Pemakuan dilakukan
pada setiap jarak 1 m panjang dengan jumlah paku minimal 2 buah pada setiap tempat pemakuan.
f. Semua jenis kayu yang akan digunakan pada Bangunan Rumah Transmigrasi harus menggunakan papan Kayu
Kelas II yang dibuat dengan menggunakan semi saw mill yang harus dimiliki oleh pelaksana dan tidak
diperkenankan pekerjaan pembuatan papan dan balok ini menggunakan Cahin saw terkecuali pada jenis kayu
Kayu Kelas I untuk bangunan bawah.
8. Penutup Atap dan Talang.
a. Bahan penutup atap adalah seng gelombang dengan ukuran 0.8 m x 1.8 m harus seragam untuk seluruh
bangunan Rumah Transmigran.
b. Pertindihan ke samping kiri dan kanan minimal 1.5 gelombang, sedangkan pertindihan ke atas dan ke bawah
minimal 15 cm.
c. Pemakuan harus menggunakan paku seng yang dipakukan pada gording, jumlah paku sebanyak 6 buah untuk
setiap lembar seng.
d. Bubungan seng menggunakan Nok Bubungan Seng, dipasang dengan diperkuat memakai paku seng, dan harus
dapat menjamin tidak akan terjadi kebocoran-kebocoran melalui sela-sela gelombang seng yang ada di
bawahnya.
e. Talang dibuat dari talang plastik tebal 2 mm dengan penampang U 12 cm x 12 cm atau setengah lingkaran
diameter minimal 12 cm dipasang dengan gantungan dari besi pada bagian luar list plank. Setiap ujung talang
tetap terbuka (untuk membuang air ke kiri dan ke kanan bangunan).
f. Semua pemasangan dari bahan seng seperti tersebut di atas agar diperhatikan supaya alur-alur sambungan satu
sama lain lurus sehingga benar-benar rapih.

9. KM/WC
a. Lubang Septic tank dibuat dan disetujui oleh Direksi/Supervisi (ukurannya 130 cm x 130 cm dengan
kedalaman 140 cm dan pada sisi lubang dipasang dinding penahan dari papan 2/20 cm papan Kayu Kelas I
dan sejenisnya dengan kerangka 5/10 cm dan lantai ukuran 2/20 cm.
b. Bila ternyata lubang galian tidak dapat bertahan karena selalu tertutup kembali oleh reruntuhan tanah, maka
dapat diatasi dengan cara memasang dinding penahan yang dibuat dari papan yang dipasang rapih dapat
berfungsi sebagaimana mestinya.
10. Pengapuran
Seluruh dinding rumah transmigran baik dinding bagian luar maupun bagian dalam list plank dikapur dengan kapur
sirih minimal 2x pengapuran sampai putih rata.

11. Pekerjaan Halaman


Halaman sekitar bangunan diatur sedemikian rupa sehingga bersih dan rapi serta bebas dari sisa-sisa bahan
bangunan dan bekas-bekas galian.

12. Lain-lain
a. Apabila terdapat perbedaan ukuran atau keterangan antara gambar bestek dengan dokumen ini, maka yang
mengikat adalah gambar bestek, namun demikian perbedaan ini harus disampaikan kepada Direksi/Supervisi.
b. Hal-hal yang belum tercantum dalam syarat-syarat umum/teknis ini, akan ditentukan oleh Direksi/Supervisi.

SPESIFIKASI TEKNIS 23