Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH

DESENTRALISASI DI NEGARA
BERKEMBANG

BAB I
Pendahuluan

Konsep desentralisasi seringkali dianggap sebagai suatu formulasi yang


mengandung suatu nilai dogmatis untuk memecahkan permasalahan hubungan
antara pemerintah pusat dengan daerah. Hal ini disebabkan karena sistem
pemerintahan yang terdesentralisasi dipandang sebagai suatu cara atau sistem
yang dapat mengembalikan kekuasaan pada bagian terbawah dari suatu sistem
kemasyarakatan. Dengan demikian desentralisasi sebagai suatu sistem
pemerintahan mengandung makna demokratisasi pemerintahan. Walaupun
demikian pengertian desentralisasi sendiri hingga kini masih sering diperdebatkan
baik secara konsepsional, kebijakan, maupun implementasinya dalam
penyelenggaraan pemerintahan. Perdebatan tentang makna desentralisasi tersebut
tidak hanya terbatas pada tataran terminologinya saja, tetapi juga pada pengertian
desentralisasi itu sendiri.

Secara etimologi desentralisasi berasal dari bahasa latin, yaitu “de” yang
berarti lepas, dan “centrum” yang berarti pusat. Decentrum berarti melepas dari
pusat. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang dari pusat kepada daerah
untuk mengatur rumah tangganya sendiri, namun tidak untuk semua hal,
kemananan, hukum dan kebijakan fiskal adalah beberapa hal yang masih terpusat,
namun ada pendelegasian kepada daerah. Menurut Chema dan Rondinelli (1983),
desentralisasi “is the transfer or delegating of planning, decision making or
management authority from the central government and its agencies to field
organizations, subbordinate units of government, semi-autonomous public
coorporations, area wide or regional authorities, functional authorities, or non
governmental organizations“. Tipe desentralisasi ditentukan oleh sejauh mana
otoritas atau kekuasaan ditransfer dari pusat dan aransemen institusional
(institutional arrangement) atau pengaturan kelembagaan apa yang digunakan
untuk melakukan transfer tersebut. Dalam hal ini desentralisasi dapat berupa yang
paling sederhana yakni penyerahan tugas-tugas rutin pemerintahan hingga ke
pelimpahan kekuasaan (devolusi) untuk melaksanakan fungsi-fungsi tertentu yang
sebelumnya dipegang oleh pemerintah pusat.

Negara-negara berkembang pada umumnya menganggap bahwa kepaduan


dan sentralisasi regulasi pemerintah adalah hal yang sangat dibutuhkan.
Sentralisasi cenderung menjadi norma dan gagasan yang meliputi konsep politik,
ekonomi, dan administrasi organisasi di negara dunia ketiga. Tidak sulit untuk
memahami mengapa hal ini terjadi. Di sebagian besar negara yang sebelumnya
pernah dijajah, institusi politik dan administratif yang tersentralisasi adalah
warisan dari penguasa kolonial, dan sistem tersebut sebagian besar masih
bertahan, atau bahkan semakin tersentralisasi.

Perencanaan ekonomi, intervensi, serta kontrol yang tersentralisasi telah


dipandang oleh otoritas pemerintah pusat sebagai jalur yang benar untuk diikuti,
meskipun hal tersebut kerap menimbulkan efek yang buruk. Kecurigaan yang
diadakan secara luas di negara dunia ketiga adalah bahwa mekanisme utama dari
desentralisasi ekonomi, yaitu pasar, kerap tidak bermoral dan anarkis, dan bahwa
operasi impersonal menguntungkan sebagian kelompok dengan mengorbankan
banyak orang. Banyak ekonom neoklasik akan setuju bahwa pasar di negara-
negara berkembang bekerja tidak sempurna. Tetapi sebagian besar dari mereka
akan menyimpulkan bahwa solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini adalah
dengan menemukan cara untuk menghilangkan hambatan yang memungkinkan
pasar untuk beroperasi lebih bebas.

1
Banyak ilmuwan dan para pembuat kebijakan dari negara dunia ketiga
memiliki interpretasi yang berbeda: mereka percaya bahwa ketidaksempurnaan
pasar membenarkan dilakukannya kontrol dan intervensi oleh pusat. Ini bukan
hanya sebuah debat ekonomi; ada alasan politik yang kuat untuk mempertahankan
kontrol dan intervensi pusat. Banyak pemimpin politik menekankan keutamaan
sektor publik, yang menyediakan posisi dalam pelayanan sipil dan lembaga
parastatal dengan maksud untuk menghargai para pengikut politiknya yang setia.
Mereka tetap berada di bawah kendali pemerintah pusat, seperti regulasi mengenai
pengupahan, biaya, tarif, subsidi pangan, dan peraturan impor dan ekspor, yang
dianggap paling penting untuk menjaga stabilitas politik. Jelas, kebijakan
mempromosikan sentralisasi biasanya memberikan hasil, setidaknya dalam jangka
pendek, untuk para elit dominan. Selama sentralisasi ekonomi memperkuat
kontrol politik yang terpusat, hal tersebut akan memiliki pendukung yang kuat,
yang biasanya menarik bagi perlunya persatuan nasional, meskipun terdapat
kritikan ekonomi yang sangat persuasif rasionalistik. Dengan demikian, seluruh
pembahasan reorganisasi administratif berikut harus diingat bahwa upaya untuk
melawan sentralisasi adalah kegiatan yang sangat politis; mereka pasti
menghasilkan konsekuensi politik.

Meskipun terdapat tekanan untuk meningkatkan sentralisasi, sejumlah


besar negara-negara berkembang yang secara politik, ekonomi, dan ideologi
beragam mulai mendesentralisasi beberapa perencanaan pembangunan dan fungsi
manajemen selama tahun 1970 dan awal 1980-an. Mereka melakukannya karena
ketidakpuasan dengan hasil perencanaan dan administrasi nasional, dan karena
alasan yang mendasari strategi pembangunan internasional berubah selama tahun
1970-an. Tujuan dari kebijakan pembangunan di sebagian besar negara itu untuk
mendistribusikan manfaat pertumbuhan ekonomi yang lebih adil untuk
meningkatkan produktivitas dan pendapatan semua segmen masyarakat, dan
untuk meningkatkan standar hidup masyarakat miskin. Tetapi karena pembuat
kebijakan sulit untuk merumuskan dan menerapkan strategi ini sepenuhnya dari
pusat, mereka mencari cara-cara baru dalam memunculkan partisipasi yang lebih

2
besar dalam perencanaan dan administrasi pembangunan. Selain itu, pada akhir
tahun 1970-an, sebagian besar negara berkembang menghadapi masalah keuangan
yang parah, penurunan tingkat ekspor, kenaikan harga sumber daya energi dan
barang-barang impor, dan pengurangan bantuan luar negeri. Karena faktor-faktor
tersebut, pemerintah menjadi lebih tertarik dalam mencari cara untuk
menggunakan sumber daya yang terbatas terbatas tersebut agar lebih efektif.
Desentralisasi muncul sebagai solusi akhir dari masalah tersebut.

Banyak pemerintah di negara-negara dunia ketiga menjadi lebih


tersentralisasi pada tahun 1950-an dan awal 1960-an, setelah menerima
kemerdekaan dari rezim kolonial. Mereka, secara alami, pertama mengalihkan
perhatian mereka ke pembangunan bangsa dan dengan demikian berinvestasi
dalam program pembangunan ekonomi. Proses tersebut tampaknya memerlukan
legitimasi manajemen yang terpusat. Tetapi, seiring waktu, konsekuensi buruk
dari perencanaan dan administrasi yang terpusat menjadi jelas. Sebuah
kementerian pertanian yang menerapkan kuota produksi tanaman ke seluruh area
negara tanpa mempertimangkan kondisi tanah dan iklim setiap daerahnya,
misalnya, dapat memperlambat produksi dan membuang-buang sumber daya yang
ada. Ketika perencana pusat merancang proyek-proyek pembangunan pedesaan di
ibukota nasional tanpa benar-benar memahami kondisi sosial, ekonomi, fisik, dan
organisasi lokal, mereka sering menghasilkan oposisi antara kelompok-kelompok
lokal atau bahkan menjadi apatis sehingga proyek ditakdirkan untuk gagal sejak
awal. Petugas keuangan pusat terlalu banyak bekerja dan berhati-hati, yang
biasanya bertanggung jawab untuk menyetujui pengeluaran untuk proyek-proyek
pembangunan daerah, sering terlalu lama dalam mengeluarkan dana untuk
proyek-proyek pertanian hingga di akhir tahun fiskal, sehingga masa tanam
optimal menjadi terlewatkan. Ketidakmampuan manajer proyek untuk menerima
sumber daya dari pemerintah pusat pada waktu yang tepat, karena kebutuhan
untuk disetujui oleh berbagai tingkat administrasi yang lebih tinggi, dan juga
penundaan pelaksanaan yang menyebabkan pembengkakan biaya yang serius.

3
Administrator pusat tidak dapat mengetahui kompleksitas berbagai faktor yang
mempengaruhi keberhasilan proyek di komunitas lokal di seluruh negara.

Dalam usaha mereka untuk mengatasi ketidakpastian ini, mereka


menciptakan prosedur yang sangat terpusat dan standar; atau, karena takut
membuat kesalahan, mereka melakukan apapun tentang keputusan mendesak
yang penting untuk melaksanakan proyek-proyek dan program-program lokal.
Sentralisasi berlebihan dipandang sebagai penyebab kinerja yang buruk;
desentralisasi adalah satu bentuk lain sebagai perangkat korektif.

Studi ini mengkaji berbagai pengalaman baru dengan desentralisasi di


sejumlah besar negara-negara berkembang. Ulasan ini menunjukkan bahwa,
sampai saat ini, belum ada yang menunjukkan secara meyakinkan bahwa
desentralisasi sebenarnya memecahkan masalah yang dihadapi sebelumnya, atau
bahwa itu adalah tentu lebih efisien daripada sentralisasi. Studi ini menunjukkan
bahwa desentralisasi bukan "perbaikan cepat" untuk masalah pengelolaan negara-
negara berkembang. Faktor-faktor yang membentuk hal tersebut, seperti kebijakan
yang menarik biasanya orang-orang yang sama yang membuat sulit untuk
menerapkan.

Meskipun demikian, studi ini percaya bahwa optimisme yang terjaga dari
desentralisasi di negara-negara berkembang diperlukan. Kesimpulan ini
memberikan sejumlah kasus di mana perbaikan kecil tetapi jelas telah terjadi
sebagai hasil dari program desentralisasi di negara berkembang. Program
Pembangunan Provinsi di Indonesia, reformasi pemerintah daerah Maroko, upaya
desentralisasi di Thailand, Pakistan, dan Tunisia, dan kasus lainnya, menunjukkan
perbaikan yang jelas dalam distribusi sumber daya, partisipasi lokal, perluasan
pelayanan publik ke daerah pedesaan, identifikasi, dan pelaksanaan proyek.

4
BAB II
Tujuan Desentralisasi

Ruang lingkup dari konsep desentralisasi diungkapkan oleh banyak tujuan


yang seharusnya berfungsi. Sebuah harapan sering diungkapkan adalah bahwa
desentralisasi akan mengurangi beban dan kemampatan di saluran administrasi
dan komunikasi. Program desentralisasi memberi harapan bahwa delay akan
berkurang dan sifat abai administrator untuk memuaskan kebutuhan klien mereka,
yaitu rakyat, akan diatasi. Diperkirakan bahwa desentralisasi akan meningkatkan
respon pemerintah kepada masyarakat dan meningkatkan kuantitas dan kualitas
penyediaan layanan.

Desentralisasi seringkali dibenarkan sebagai cara mengelola pembangunan


ekonomi nasional yang lebih efektif dan efisien. Tetapi jelas bahwa pemerintah di
negara-negara berkembang yang telah mencoba untuk mendesentralisasikan
pengelolaan negaranya selama tahun 1970 dan 1980 tidak selalu menghasilkan
efektivitas atau efisiensi sebagaimana tujuan utama mereka. Mereka telah jarang
memulai suatu program desentralisasi terutama karena alasan ekonomi. Memang,
dampak ekonomi dari desentralisasi biasanya belum dapat dihitung terlebih
dahulu. Dengan demikian, eksperimen terbaru dengan desentralisasi tidak dapat
dinilai seluruhnya oleh kriteria ekonomi.

Di banyak negara, desentralisasi diikuti dalam reaksi terhadap kegagalan


teknis dari perencanaan pembangunan nasional yang komprehensif atau dampak
lemahnya multisektoral, program pembangunan ekonomi makro. Tak satu pun
dari hal tersebut telah secara signifikan meningkatkan kemampuan pemerintah
pusat untuk merumuskan, mengartikulasikan, dan menerapkan kebijakan
pembangunan nasional. Desentralisasi sering dilihat sebagai cara untuk
meningkatkan kemampuan pejabat pemerintah pusat untuk mendapatkan
informasi yang lebih baik tentang kondisi lokal atau regional, untuk
merencanakan program lokal yang lebih responsif, dan bereaksi lebih cepat untuk

5
masalah tak terduga yang pasti muncul selama pelaksanaan. Secara teori,
desentralisasi harus memungkinkan project akan selesai lebih cepat dengan
memberikan manajer lokal kebijaksanaan yang lebih besar dalam pengambilan
keputusan sehingga memungkinkan mereka untuk memotong “red tape” dan
prosedur lamban yang sering lebih dikaitkan dengan administrasi terpusat.

Di beberapa negara, desentralisasi dipandang sebagai cara memobilisasi


dukungan untuk kebijakan pembangunan nasional dengan membuat mereka lebih
dikenal di tingkat lokal. Pemerintah daerah atau unit administratif, diasumsikan,
dapat menjadi saluran komunikasi yang efektif antara pemerintah nasional dan
masyarakat lokal. Partisipasi yang lebih besar dalam perencanaan dan pengelolaan
pembangunan seharusnya mempromosikan persatuan nasional dengan
memberikan kesempatan kepada daerah untuk memiliki kemampuan yang lebih
besar untuk berpartisipasi dalam perencanaan dan pengambilan keputusan, dan
dengan demikian meningkatkan minat mereka dalam menjaga stabilitas politik.
Ekuitas yang lebih besar dalam alokasi sumber daya pemerintah untuk investasi
dianggap lebih mungkin ketika perwakilan dari berbagai kelompok politik,
agama, etnis, dan sosial berpartisipasi dalam pengambilan keputusan
pembanguam negara dimananan.

Di negara-negara di mana kapasitas administratifnya rendah, desentralisasi


kadang-kadang dilihat sebagai sarana untuk menciptakan sejumlah besar
administrator terampil dan pemimpin yang berkualitas. Keterampilan tersebut
hanya dapat diperkuat ketika administrator memiliki tanggung jawab manajerial
yang berarti. Sentralisasi berkonsentrasi di ibukota nasional, dan memberikan
kontribusi sedikit untuk mengembangkan kepemimpinan dan inisiatif setempat.
Studi desentralisasi administrasi reformasi tanah di akhir 1960-an dan awal 1970-
an menyimpulkan bahwa, jika hal tersebut dilakukan dengan baik, desentralisasi
meningkatkan pengetahuan pejabat mengenai kondisi lokal, memotivasi tokoh
masyarakat untuk mengambil peran aktif, menciptakan komunikasi yang lebih

6
baik antara warga dan tokoh masyarakat dengan pejabat nasional, dan peningkatan
solidaritas masyarakat dan kepentingan dalam proyek reformasi tanah.

Selain itu, telah menjadi jelas bahwa banyak fungsi yang saat ini menjadi
tanggung jawab kementerian atau instansi pusat yang tampil buruk karena
kesulitan memperluas layanan pusat untuk masyarakat lokal. Pemeliharaan jalan,
saluran irigasi dan peralatan, dan infrastruktur fisik dasar lainnya kadang-kadang
dilakukan dengan baik oleh pemerintah daerah atau unit administrasi, ketika
mereka diberikan dana yang memadai dan bantuan teknis dari instansi pusat, yang
tidak dapat dengan mudah memantau kerusakan yang ada di daerah tersebut.
Memang, untuk beberapa kegiatan, desentralisasi dapat meningkatkan efisiensi
kementerian pusat dengan membebaskan manajemen puncak rutinitas tugas yang
berulang dan memungkinkan mereka lebih banyak waktu untuk merencanakan
dan memantau program-program yang benar-benar membutuhkan arah atau
kontrol pusat. Administrasi subnasional dapat menjadi tingkat yang lebih efektif
di mana tindakan yang memerlukan partisipasi dari banyak lembaga.

Terdapat penelitian kecil yang berusaha melihat korelasi sosial ekonomi,


politik, atau fisik dengan desentralisasi, dan dengan demikian sedikit yang
diketahui tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan tekanan pemerintah
untuk mendekonsentrasikan atau menyerahkan tanggung jawab perencanaan dan
administratif. Vieira (1967) melakukan studi dari empat puluh lima negara, yang
dilakukan pada pertengahan 1960-an, menunjukkan bahwa tingkat devolusi
(diukur dengan rasio pendapatan dan beban pengeluaran pemerintah daerah
dengan total pengeluaran dan penerimaan pemerintah selama periode sepuluh
tahun) baik di negara barat dan negara-negara dunia ketiga secara signifikan
berkorelasi dengan lima faktor: (1) usia bangsa, yang lebih tua, pemerintah
nasional yang telah mapan memiliki tingkat devolusi lebih tinggi dibandingkan
yang baru; (2) ukuran gross national product, dimana negara-negara dengan
tingkat GNP yang tinggi cenderung memiliki derajat devolusi yang lebih tinggi
dibandingkan negara-negara miskin; (3) tingkat perkembangan media masa,

7
dimana negara-negara dengan sistem komunikasi masa yang lebih canggih dan
meluas cenderung lebih terdesentralisasi dibandingkan dengan sebaliknya; (4)
tingkat industrialisasi, dimana negara dengan tingkat industrialisasi yang tinggi
cenderung lebih terdesentralisasi dibandingkan dengan ekonomi pertanian; dan (5)
jumlah pemerintah daerah. Ukuran dan kepadatan penduduk serta ukuran fisik
negara tidak signifikan. Juga dengan tingkat urbanisasi. Struktur konstitusional
dan komposisi etnis penduduk juga faktor signifikan. Sherwood (1969)
menyimpulkan dari penelitian ini bahwa hubungan yang kuat antara devolusi dan
faktor-faktor ekonomi dan teknologi cenderung untuk memvalidasi posisi umum
bahwa struktur yang beragam dalam sebuah sistem dapat ditoleransi hanya ketika
integritas dari sistem itu sendiri tidak dipertanyakan. Artinya, kesatuan nasional
tampaknya menjadi prasyarat untuk devolusi.

Pada akhirnya, bagaimanapun, desentralisasi merupakan prinsip ideologis,


terkait dengan tujuan kemandirian, pengambilan keputusan yang demokratis,
partisipasi rakyat dalam pemerintahan, dan akuntabilitas pejabat publik untuk
warga. Meskipun pemerintah negara berkembang telah menawarkan berbagai
pembenaran untuk desentralisasi, namun hasilnya amat beragam. Pemerintah
negara dunia ketiga menghadapi berbagai masalah dalam merancang dan
melaksanakan program-program untuk desentralisasi administrasi pembangunan.
Bahkan di mana program telah relatif berhasil, tidak semua manfaat yang
diharapkan telah diterima oleh salah unit administrasi pusat atau daerah (Cheema
dan Rondinelli 1983). Pada akhirnya, desentralisasi merupakan keputusan politik,
dan pelaksanaannya refleksi dari proses politik suatu negara.

8
BAB III
Tipe-tipe Desentralisasi

Dalam desentralisasi, tingkat tanggung jawab dan kebijaksanaan dalam


pengambilan keputusan yang ditransfer oleh pemerintah pusat dapat bervariasi,
dari hanya menyesuaikan beban kerja dalam organisasi pemerintah pusat, hingga
divestasi dari semua tanggung jawab pemerintah untuk melakukan segala fungsi
di sektor publik. Kompleksitas ini mengharuskan kita untuk dapat membedakan
setiap tipe desentralisasi yang telah dicoba di negara berkembang. Desentralisasi
dapat dikategorikan menjadi empat jenis: dekonsentrasi, delegasi, devolusi, dan
privatisasi (Rondinelli, 1981a). Beberapa pemerintah telah menggunakan semua
empat jenis secara bersamaan atau pada waktu yang berbeda. Beberapa mulai
dengan satu pendekatan dan kemudian bergeser ke yang lain setelah menilai
hasilnya. Pemerintah lain telah menggunakan berbagai kombinasi dari empat tipe
tersebut. Sejumlah negara telah melimpahkan tanggung jawab manajemen
pembangunan kepada pemerintah, namun tetap mempertahankan kontrol yang
kuat secara tidak langsung kepada daerah-daerah tersebut. Privatisasi biasanya
berkembang dari situasi di mana perusahaan-perusahaan swasta mulai
menawarkan barang dan jasa yang tidak dapat ditawarkan dengan baik oleh
pemerintah, atau bahkan tidak sama sekali, dan bukan dari upaya yang disengaja
oleh pemerintah untuk memisahkan diri mereka dari fungsi publik.

III.1 Dekonsentrasi

Menurut Rondinelli & Cheema (1983), desentralisasi dalam bentuk


deconcentration, pada hakekatnya hanya merupakan pembagian kewenangan dan
tanggung jawab administratif antara pemerintah pusat dengan pejabat pusat di
lapangan atau daerah. Mereka menambahkan bahwa dalam desentralisasi
dekonsentrasi, kewenangan dan tanggung jawab yang diberikan lebih banyak
berupa ”shifting of workoad from a central government ministry or agency

9
headquarters to its own field staff located in offices outside of the national capital,
without transferring to them the authority to make decisions or to exercise
discretion in carrying them out”. Jadi, dekonsentrasi lebih banyak berupa
pergeseran volume pekerjaan dari departemen pusat kepada perwakilannya yang
ada di daerah, tanpa adanya penyerahan kewenangan untuk mengambil keputusan
atau keleluasaan untuk membuat keputusan.

Rondinelli dan Cheema (1983) membedakan dua tipe dekonsentrasi, yaitu


field administration dan local administration. Dalam tipe yang pertama, pejabat
lapangan diberi keleluasaan untuk membuat program-program serta opsi
kebijakan terkait dengan kondisi daerah tersebut. Namun, seluruh proses
pengambilan keputusan tetap melalui wewenang pemerintah pusat. Dalam sistem
ini, meskipun para staf lapangan bekerja di bawah lingkungan semi-otonomi,
mereka adalah pegawai departemen pusat dan tetap berada di bawah perintah dan
supervisi pusat. Pada sistem local adminitration, semua pejabat di setiap tingkat
pemerintahan merupakan perwakilan dari pemerintah pusat, seperti propinsi,
distrik, kotapraja, dan sebagainya, yang dikepalai oleh seorang yang diangkat
oleh, berada di bawah, dan bertanggung jawab kepada pemerintah pusat. Mereka
bekerja di bawah supervisi teknis dan pengawasan pemerintah pusat.

Dekonsentrasi telah menjadi bentuk desentralisasi yang paling sering


digunakan di negara-negara berkembang sejak awal 1970-an. Di Indonesia,
Maroko, Pakistan, Filipina, Sri Lanka, Thailand, Tunisia, dan beberapa negara
lain, dekonsentrasi telah didorong melalui hibah dana dari pemerintah pusat ke
provinsi, kabupaten, atau unit administratif lokal. Pemerintah lainnya telah
mendekonsentrasi operasi dengan menciptakan unit koordinasi di tingkat daerah
atau melalui insentif atau pengaturan kontrak. Di Thailand, pada rentang tahun
1979 – 1982, persentase anggaran nasional disisihkan untuk memungkinkan
pemerintah provinsi untuk membantu dewan desa untuk mengidentifikasi,
merumuskan, dan melaksanakan proyek-proyek skala kecil, membuat program-
program yang ditindaklanjuti pemerintah nasional dengan tujuan meningkatkan

10
produksi pertanian dan penghasilan rumah tangga di daerah rawan kekeringan. Di
Indonesia, pemerintah pusat memberikan sumber dari dana bantuan luar negeri
dan dari anggaran nasional, melalui Program Pembangunan Provinsi. Pengaturan
ini memungkinkan unit perencanaan provinsi dan daerah untuk melakukan
program dan proyek-proyek untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan di
daerah pedesaan.

III.2 Delegasi

Rondinelli dan Cheema memberi pengertian delegation to semi


autonomous, yaitu suatu pelimpahan pengambilan keputusan dan kewenangan
manajerial untuk melakukan tugas-tugas khusus kepada suatu organisasi yang
tidak secara langsung berada di bawah pengawasan pemerintah pusat. Tehadap
organisasi semacam ini diberikan kewenangan semi independen untuk
melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya. Bahkan terkadang berada di luar
ketentuan yang diatur oleh pemerintah, karena bersifat lebih komersial dan
mengutamakan efisiensi daripada prosedur birokratis dan politis. Hal ini biasanya
dilakukan terhadap suatu badan usaha publik yang ditugaskan melaksanakan
proyek tertentu, seperti telekomunikasi, listrik, bendungan, jalan raya, dan lain-
lain.

Delegasi telah lama digunakan dalam hukum administrasi. Ini menyiratkan


bahwa otoritas berdaulat menciptakan atau mentransfer fungsi-fungsi dan tugas ke
agen tertentu, dimana agen memiliki kewenangan yang luas untuk
melaksanakannya. Namun, tanggung jawab utama tetap dengan otoritas
kedaulatan. Di negara-negara berkembang, tanggung jawab tersebut telah
didelegasikan kepada perusahaan publik, lembaga pembangunan daerah, otoritas
fungsi khusus, unit proyek pelaksanaan semiotonom, dan berbagai organisasi
parastatal.

11
Di beberapa negara, delegasi dipandang sebagai cara menghilangkan
fungsi penting dari birokrasi pemerintah yang tidak efisien. Dalam pandangan
lain, itu dilihat sebagai cara bagi pemerintah secara tidak langsung untuk
menyediakan barang dan jasa yang sebenarnya baik secara kemampuan dan biaya
dapat dilakukan, namun tidak efektif disediakan oleh layanan sipil. Beberapa
negara telah menggunakan delegasi sebagai sarana mempertahankan kontrol
publik atas sumber daya yang sangat menguntungkan atau berharga. Hal ini
diasumsikan bahwa otonomi atau semiotonomi akan membebaskan organisasi dari
fungsi-fungsi yang rumit, kaku, dan kebiasaan kerja yang tidak produktif, seperti
yang kerap sering ditemukan dalam pelayanan sipil biasa. Selain itu, delegasi
dipandang sebagai cara menawarkan barang dan jasa publik melalui struktur yang
menggunakan teknik manajerial dan akuntansi pada umumnya layaknya
perusahaan swasta. Banyak lembaga bantuan internasional telah menciptakan
otoritas publik semiotonom untuk melaksanakan proyek-proyek mereka sehingga
pinjaman dan hibah mungkin dipisahkan dari proses penganggaran normal
pemerintah pusat. Idenya adalah bahwa “audit trail” dapat dibentuk untuk
pengeluaran dana bantuan luar negeri sehingga mereka tidak akan tercampur aduk
dengan sumber daya keuangan nasional. Pendonor internasional ingin proyek
mereka “dikarantina”, tidak hanya untuk melindungi mereka dari inefisiensi
layanan sipil, tapi untuk membuat mereka lebih terlihat. Selain itu, otoritas khusus
atau perusahaan publik sering dibentuk untuk membuat garis komando yang jelas
dalam organisasi, untuk memastikan tanggung jawab langsung untuk kinerja
manajerial, dan untuk menyediakan lingkungan yang kondusif untuk manajemen
yang fleksibel dan berorientasi pada permintaan.

Pemerintah Meksiko mendelegasikan berbagai fungsi kepada komisi dan


dewan independen, yang mengawasi dan mengelola fungsi khusus. Ini termasuk
pengembangan kawasan pertanian kering, menetapkan harga listrik, dan
mempromosikan pariwisata. Pada awal tahun 1980-an terdapat lebih dari 800
dewan dan komisi independen, 100 organisasi terdesentralisasi, dan 400
perusahaan parastatal di Meksiko. Di Amerika Latin, pemerintah telah

12
mendelegasikan berbagai fungsi, dari input esensial produksi untuk industrialisasi
melalui manajemen perusahaan industri, dengan penyediaan layanan sosial, untuk
otoritas publik.

Sejumlah negara berkembang cenderung mendelegasikan kendali atas


eksploitasi, pengolahan, dan ekspor sumber daya alam yang berharga seperti
mineral dan minyak bumi kepada perusahaan publik yang memiliki kewenangan
khusus, daripada membiarkan baik perusahaan swasta maupun pegawai negeri
biasa untuk mengambil tanggung jawab tersebut. Sonatrach di Algeria, Petroleos
Mexicanos (PEMEX) di Meksiko, COMIBOL di Bolivia, PETROBRAS di Brazil,
dan PERTAMINA di Indonesia memainkan peran penting dalam industri minyak
dan pertambangan di negaranya. Pemerintah telah memilih untuk mendelegasikan
pengelolaan fungsi-fungsi ini kepada otoritas khusus karena birokrasi biasa
dianggap tidak mampu mengatur atau mengendalikan kegiatan tersebut.

III.3 Devolusi

Devolusi merupakan bentuk desentralisasi tertinggi, desentralisasi paling


extensif. Prinsip-prinsipnya meliputi: pemberian otonomi penuh dan kebebasan
tertentu pada pemerintah daerah, serta kontrol yang relatif kecil dari pemerintah
pusat kepada pemerintah daerah; pemerintah daerah memiliki wilayah yang
kewenangan hukumnya jelas dan berhak menjalankan segala kewenangan guna
melaksanakan fungsi-fungsi publik dan pemerintah; pemerintah daerah
diharuskan memberikan kekuasaan yang cukup untuk menggali sumber-sumber
yang diperlukan untuk dapat menjalankan semua fungsi-fungsinya baik dalam
pelayanan publik dan pemerintahan atau politik; pemerintah daerah sebagai
institusi yang dikembangkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dan
menyediakan pelayanan optimal dapat bermanfaat, serta sebagai satuan
pemerintahan yang masyarakatnya mempunyai hak untuk mempengaruhi
keputusan-keputusannya.

13
Relatif sedikit negara-negara berkembang telah terdesentralisasikan
melalui devolusi selama dua dekade terakhir. Hal tersebut membuat upaya
mentransfer cukup berbagai kegiatan untuk pemerintah daerah. Salah satu upaya
yang paling luas pada tahap devolusi adalah di Sudan. Dewan provinsi dan
komisaris provinsi telah diberi tanggung jawab untuk hampir semua fungsi umum
kecuali keamanan nasional, pos dan komunikasi, hubungan luar negeri,
perbankan, dan lembaga peradilan. Ini diperuntukkan kepada pemerintah pusat.
Negara ini telah dibagi menjadi wilayah administratif, masing-masing dengan
gubernur dan perakitanperwakilan daerah yang memiliki tanggung jawab legislatif
dan eksekutif setengah otonom. Pemerintah provinsi memiliki kekuatan untuk
menerapkan pajak daerah dan biaya, memelihara hukum dan ketertiban, keuangan
proyek publik, mempersiapkan anggaran tahunan, merekomendasikan proyek
pembangunan ke instansi pemerintah pusat, dan membangun dan mengelola
kegiatan pembiayaan pembangunan secara mandiri. Mereka mengawasi semua
pekerjaan kementerian pusat dan departemen pemerintah di provinsi tersebut.
Devolusi dilakukan untuk mengalihkan tanggung jawab untuk layanan lokal untuk
daerah dan untuk memberikan partisipasi yang lebih luas dalam perencanaan dan
pengelolaan pembangunan di suatu negara dari ukuran fisik yang besar, di mana
sulit atau tidak mungkin untuk memberikan pelayanan secara efisien untuk semua
daerah dari ibukota nasional. Tujuan penting, bagaimanapun, adalah untuk
menemukan cara untuk mengakhiri perang sipil dan meningkatkan komitmen dari
kelompok agama, etnis, dan suku heterogen untuk pembangunan bangsa dengan
memberi mereka bagian yang lebih besar dalam pemerintahan.

III.4 Privatisasi

Desentralisasi bentuk ini diberikan melalui perencanaan dan


tanggungjawab administratif, fungsi-fungis publik dari pemerintah ke pada tenaga
sukarela (voluntary), swasta, lembaga-lembaga non pemerintah. Dalam kasus
tertentu pemerintah melakukan transfer perencanaan dan tanggungjawab

14
administratif kepada organisasi di luar pemerintah secara paralel. Misalkan
kepada industri nasional dan asosiasi perdagangan, organisasi profesional atau
organisasi gerejawi, partai-partai politik, koperasi-koperasi. Hak yang diberikan
dapat berupa ijin, peraturan, pengawasan anggota mereka di dalam melakukan
fungsi-fungsi yang sebelumnya dikontrol oleh pemerintah.

Organisasi sukarela di Sri Lanka, misalnya, telah datang untuk memainkan


peran penting dalam memberikan layanan untuk memenuhi kebutuhan dasar
manusia. Mereka menjalankan pusat penitipan, sekolah pembibitan, klinik
kesehatan, rumah untuk anak-anak miskin, dan rumah-rumah tua; dan mereka
memberikan pelatihan kejuruan, pendidikan non formal, dan olahraga dan
program rekreasi. Mereka mengoperasikan proyek pembangunan pedesaan dan
program swadaya masyarakat yang menyediakan social overhead capital, seperti
jalan, tangki air, saluran irigasi, fasilitas sanitasi, dan sumur. Banyak
menyediakan modal kerja untuk lokal, skala kecil pertanian dan kerajinan proyek
dan outlet pasar untuk barang yang diproduksi di desa-desa (James, 1982).
Kelompok swasta ini memberikan layanan yang ditawarkan di banyak negara lain
melalui instansi pemerintah.

15
BAB IV
Menilai Hasil Desentralisasi

Walaupun tingkat keberhasilan desentralisasi tidak terlalu tinggi, akan


tetapi perencana pemerintah, lembaga penyumbang, dan pengamat dari proses
pembangunan terus mempromosikannya. Alasannya adalah bahwa desentralisasi
sering berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan politik yaitu meningkatkan
stabilitas politik.

Selain itu, sentralisasi tidak efektif di banyak negara, terutama dalam


melaksanakan pembangunan daerah. Desentralisasi secara tidak langsung
bertujuan untuk memecahkan masalah dalam sistem sentralisasi yang ada. Namun
jika tidak berhasil, solusi yang ditawarkan dalam memperbaiki masalah utama
tidak sejalan dengan struktur yang ada melainkan membuat sistem baru. Jika tetap
tidak berhasil, desentralisasi akan diubah kembali ke sentralisasi.

Untuk itu perlu adanya evaluasi terhadap dampak dari desentralisasi. Hal
tersebut berarti dalam program-program desentralisasi tidak hanya berurusan
dengan masalah administrasi dan manajemen saja, melainkan juga dengan
beberapa faktor, yaitu:

1. Desentralisasi menunjukan bahwa pelakudan lembaga untuk dipaksa atau


dibujuk untuk memberikan kekuasaan dan wewenang yang dimilikinya.
2. Program desentralisasi hampir selalu bertujuan lebih dari reformasi
manajerial yang berarti bahwa mencoba untuk mengurangi
keterasingansosial politik dari kelompok-kelompok atau wilayah tertentu.

Perlu dicatat bahwa tidak ada peraturan yang khusus dan pembagian antara
sentralisasi dan desentralisasi untuk pemerintahan. Walaupun hal tersebut ada,
akan tetapi hanya sedikit dikarenakan Negara- Negara yang baik hanya benar-
benar terpusat atau benar-benar desentralisasi. Dengan demikian, tantangan bagi
kebanyakan pemerintah negara berkembang adalah menemukan keseimbangan
yang tepat antara pengaturan sentralisasi dan desentralisasi dan untuk

16
menghubungkannya dengan cara yang mendukung adanya pembangunan yang
paling efektif. Hal tersebut tidaklah mudah ditentukan dikarenakan dapat
menyebabkan perubahan yang disebut sebagai perubahan sosial, ekonomi, dan
kondisi politik. Ada beberapa kriteria untuk menilai desentralisasi, yaitu :

1. Sejauh mana desentralisasi untuk berkontribusi dalam mencapai tujuan


politik, seperti mempromosikan stabilitas politik dan adanya dukungan
dan kerjasama untukkebijakan pembangunan nasional.
2. Sejauh mana desentralisasi meningkatkan efektivitas administrasi dengan
mempromosikan koordinasi antara unit-unit pemerintah nasional,
pemerintah daerah, dan lembaga swadaya masyarakat, atau dengan
mendorong kerjasama yang lebih erat antara organisasi untuk mencapai
tujuan pembangunan yang dapat diterima bersama.
3. Sejauh mana desentralisasi memberikan kontribusi untuk efisiensi
ekonomi dan menejerial dengan memungkinkan pemerintah baik di tingkat
pusat dan daerah untuk mencapai tujuan pembangunan dengan cara yang
lebih hemat biaya.
4. Sejauh mana desentralisasi meningkatkan respon pemerintahdengan
melihat terhadap kebutuhan dan tuntutan di berbagai kelompok
masyarakat berdasarkan kepentingannya.
5. Sejauh mana desentralisasi memberikan kontribusi untuk lebih
menentukan nasib sendiri dan kemandirian.
6. Kelayakan terhadap kebijakan dan program-program yang di rancang dan
yang di lakukan untuk tujuan desentralisasi.

Evaluasi terhadap telah upaya desentralisasi yang dilakukan berdasarkan


dari biaya dan manfaat menunjukkan bahwa adanya keberhasilan di beberapa
negara sedangkan negara lainnya mengalami masalah administratif dalam
pelaksanakan desentralisasi.

Hal tersebut terlihat dari menilai desentralisasi pada sejauh mana


kekuasaan dan tanggung jawab untuk merencanakan dan pengelolaan kegiatan

17
pembangunan yang benar - benar telah diberikan dari instansi pemerintah pusat
kepada organisasi lain menunjukan adanya pesimis. Misalnya adalah sebagai
berikut:

1. Kenya, Tanzania, dan Sudan selama tahun 1970 untuk perencanaan


pembangunan yang terdesentralisasi akan tetapi sistem administrasinya
tetap sangat terpusat.
2. Amerika Latin yang telah memperluas kekuasaan dan kontrol dari
pemerintah nasional dengan mengorbankan pemerintah daerah (Haris
1983).
3. Asia Selatan dan Tenggara yang hasil dari desentralisasi sering
menyebabkan ketergantungan lebih besar dari unit administratif daerah di
pusat, contohnya saja adalah banyaknya pembuatan program yang inovatif
dan terpusat tetapi tidak didukung oleh politik dan finansial serta
pembuatan organisasi di daerah.

Sebagaimana yang terlihat di atas, maka menunjukan bahwa kekuasaan


dan wewenang yang diberikan kepada organisasi di daerah tetapi tidak diberi
sumber daya untuk melakukan fungsi tersebut, Pemerintah daerah di sebagian
besar negara – negara seperti di Asia masih berfungsi sebagai instrumen birokrasi
pusat, pemimpin daerah hanya sebagai penyalur komunikasi dan pengacara atas
dukungan untuk kebijakan nasional bukan sebagai penyalurhal – hal berupa
kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat kepada perencana pusat dan pembuat
kebijakan, atau sebagai penggerak sumber daya lokal untuk mempromosikan
pembangunan dari "bawah ke atas (Friedman 1983).

Sebuah tinjauan desentralisasi di Negaraberkembang menunjukkan bahwa


adanya perbedaan disetiap programnya, sehingga memiliki kelebihan dan
kekurangan serta hasil yang berbeda. Contohnya di Maroko yang telah
meningkatkan akses masyarakat daerah untuk dikendalikan secara terpusat
meskipun adanya keterlambatan karena adanya situasi ekonomi yang memburuk
dengan menunjukkan komitmen yang signifikan untuk desentralisasi (Nellis,

18
1983a). Hal tersebut terlihat dari bantuan dana yang diberikan oleh Fond’s
d’Equipment Komunal (FEC) yang meminjamkan dananya lebih dari 90 jt
Dirham (DH) pada tahun 1979, dan hampir 200 jt Dirham (DH) pada tahun 1980,
serta Pemerintah Maroko yang memperkirakan pada periode 1981-1985 FEC akan
pinjaman 2,45 miliar DG (sebesar US $ 490 juta).

Selain itu,pada akhir tahun 1970 Kementerian Dalam Negeri meluncurkan


upaya ganda besar, seperti meningkatkan jumlah dan kompetensi pegawai negeri
sipil di tingkat daerah dan menginstruksikan kepada presiden konsil dan komite
eksekutif tentang cara mengidentifikasi, menyusun, dan mengajukan proposal
proyek pembangunan untuk berbagai badan pendanaan. Upaya ini sangat penting
dikarenakan diperkirakan bahwa setengahdari presiden konsil yang dipilih dari
anggota konsil adalah buta huruf,Ini terlihat kemungkinan bahwa tingkat buta
huruf dari anggota konsil secara keseluruhan lebih besar dari 50 persen (Nellis
1983a).

Contoh lain, di Thailand yang mempunyai program “Rural Employment


Generation”(REG) menjadi sangat sukses di provinsi Lampang. Pada tahun 1980
dan 1981, proyek REG desentralisasi di Lampang mempekerjakan sekitar 50.000
pria sebagai pekerja harian, disediakan bekerja untuk 4.000 - 5.000 orang setiap
tahun, dan peningkatan pendapatan 2.000 - 3.000 rumah tangga pedesaan.

Selain itu, program ini membantu melatih pejabat daerah untuk


merencanakan, mendesain dan melaksanakan proyek-proyek yang dipilih dalam
rapat terbuka konsil Tambon. Sebelumnya, proyek dipilih oleh pejabat pemerintah
tingkat yang lebih tinggi dan dilakukan sepenuhnya oleh kontraktor dengan
sedikit atau tanpa partisipasi warga desa. Program REG ini dalam proses
pelaksanaannya melalui pemimpin tambon sehingga bahwa para pemimpin daerah
haruslah belajar bagaimana bekerja secara demokratis melalui seluruh proses
pelaksanaan.

19
Berdasarkan uraian di atas bahwa evaluasi Desentralisasi menunjukan
pemerintah bergerak hati-hati tapi jelas menuju dekonsentrasi yang lebih besar
atau delegasi dari manajemen pembangunan. Meskipun data tidak memungkinkan
untuk mengevaluasi dampak desentralisasi atau untuk menilai biaya ekonomi dan
manfaat dari prosedur manajemen desentralisasi, tetapi kondisi yang
mempengaruhi pelaksanaan program desentralisasi dapat diidentifikasi dan
didiskusikan dengan beberapa keyakinan.

20
BAB V
Kondisi dan Faktor yang Mempengaruhi Implementasi Desentralisasi

Secara umum, penilaian desentralisasi di negara-negara berkembang


menunjukkan adanya empat faktor utama dalam mempengaruhi keberhasilan atau
kegagalan kebijakan ini, antara lain seperti berikut.

V.1. Derajat Komitmen Politik dan Dukungan Administratif

Sejauh mana para pemimpin politik, pusat dan birokrasi mendukung


desentralisasi dan organisasi yang diberikan sebuah tanggung jawab, dimana
pemimpin politik dan nasional berkomitmen untuk perencanaan desentralisasi dan
fungsi administrasi,kemampuan dan kemauan dari birokrasi untuk memfasilitasi
dan mendukung kegiatan pembangunan yang terdesentralisasi serta kapasitas
pejabat di lembaga nasional dan departemen untuk mengkoordinasikan kegiatan
di tingkat lokal.

V.2 Kondisi Sikap, Perilaku, dan Budaya yang Kondusif Terhadap


Desentralisasi

Sejauh mana perilaku dominan, sikap, dan budaya yang kondusif untuk
pengambilan keputusan desentralisasi dan administrasi, dimana meliputi sikap
pejabat lokal atas kesediaannya untuk mendukung dan melakukan fungsi
manajemen desentralisasi, kualitas kepemimpinan lokal, sikap masyarakat
pedesaan terhadap pemerintah, dan sejauh mana kebiasaan dan perilaku
tradisional yang kompatibel dengan prosedur desentralisasi untuk perencanaan,
pengambilan keputusan, dan manajemen serta sikap dan perilaku pejabat
pemerintah pusat dan daerah terhadap warga, terutama di negara-negara dengan
sejarah panjang akibat penjajahan dalam menentukan iya atau tidaknya
desentralisasi akan efektif.

21
V.3 Rancangan Efektif dalam Program Desentralisasi

Di Asia, prosedur penerapan program desentralisasi dibuat sangat


sederhana. Hal tersebut diperikarakan sebagai salah satu kunci keberhasilan
desentralisasi. Prosedur yang rumit hanya akan menyebabkan ketidakpercayaan
masyarakat, karena mereka mencurigai ketidakmampuan pemerintah dalam
membuat prosedur yang menguntungkan bagi masyarakat. Sederhananya,
prosedur harus berdasarkan prinsip kemudahan dan transparansi demi kesuksesan
desentralisasi. Namun, kesederhanaan proses desentralisasi di Asia tidak menjadi
jaminan kesuksesan. Beberapa hambatan muncul dalam laju desentralisasi, seperti
kesalahan koordinasi dan penempatan personil di daerah. Contohnya adalah aparat
birokrasi yang masih belum berpengalaman dan teredukasi ditugaskan untuk
mengawasi jalannya desentralisasi. Karena itu, kegagalan desentralisasi di Asia
dapat dilihat dari adanya kelemahan kapasitas manajerial pemerintah daerah, juga
kurangnya komunikasi antara administrasi pusat dan daerah. Sedangkan mereka
seharusnya saling melengkapi dan berintegrasi, karena studi desentralisasi
menekankan pentingnya hubungan antara personil pusat dan daerah yang terjalin
dengan baik. Tidak hanya itu, pelayanan dan teknologi yang mendukung
pengembangan daerah harus saling mendorong dengan sistematis.

Institusi harus saling terkait secara vertikal dan horizontal untuk


mendukung pelayanan yang hierarki, juga demi peningkatan kualitas pelayanan.
Dukungan lingkungan juga penting untuk memperbaiki kelemahan kapasitas
administratif di tingakatan bawah pemerintahan. Ada beberapa cara bagi
pemerintah pusat untuk menyediakan bantuan untuk daerah yang kekuatan
adminitrasinya lemah, yaitu mengadakan pelatihan, mengawasi dan menilai
proyek lokal dan menyediakan bantuan teknis. Membentuk kader nasional untuk
menyediakan personil untuk menjadi agen di provinsi, distrik dan tingkat lokal
(Leonard, 1983).

22
Peraturan desentralisasi harus ditulis dengan pasti dan harus
dideskripsikan dengan jelas. Prosedur harus sederhana dan tetap fleksibel. Sistem
komunikasi. Diharapkan mampu memfasilitasi interaksi mutual, pertukaran
informasi, koorporasi dan membantu memecahkan masalah.

V.4 Sumber Daya Manusia dan Keuangan yang Memadai

Pada tingkat lokal, tidak semua pejabat daerah adalah orang-orang yang
berkompeten dalam bidangnya. Mereka ditekan oleh sistem politik kepegawaian
birokrasi untuk menyalahi wewenang dalam proyek desentralisasi. Pada akhirnya,
mereka sering menolak tugas mereka untuk menyerah-terimakan keuangan,
administrasi dan sumber daya teknis kepada agen lokal. Pada kasus lain,
pemerintah pusat merekrut banyak teknisi dan pengelola yang sudah terdidik
dengan baik, tetapi, mereka menempatkan pihak yang belum ahli di bidangnya
untuk menjalankan desentralisasi di daerah. Jadi nampak ketimpangan sumber
daya manusia yang jelas di sana. Hal tersebut terjadi karena pelatihan untuk para
pemimpin dan manejemen pejabat daerah tidak memadai (Rondinelli 1982). Pihak
telah yang terlatih ditempatkan di tingkat atas, kemudian tidak tahu permasalahan
yang terjadi di tingkat bawah. Keterbatasan personil di tingkat lokal juga menjadi
faktor penting dalam pengimplementasian desentralisasi di Asia.

Keterbatasan kemampuan dan sumber keuangan juga mempengaruhi


desentralisasi, contohnya di Amerika Latin. Pemerintah daerah kesulitan untuk
menutup pengeluaran operasional dasar, biaya pelatihan karyawan, pembelian
peralatan, biaya perbaikan organisasi, dana bantuan teknis dan biaya peningkatan
kualitas pelayanan publik. Keterbatasan mereka dalam memperbaiki kapasitas
administrasi dapat melemahkan alokasi fungsi baru, karena dikhawatirkan mereka
tidak mampu untuk melaksanakan desentralisasi secara efektif.

23
BAB VI
Kesimpulan

Desentralisasi bukanlah sebuah perbaikan yang instan untuk bidang


administratif, politik atau masalah ekonomi di negara-negara berkembang.
Penerapannya tidak secara otomatis dapat memperbaiki kekurangan yang ada.
Keberhasilan pelaksanaan desentralisasi sangat tergantung pada desain,
implementasi, kesiapan administrasi pemerintahan, sumber keuangan dan sumber
daya manusia yang memadai. Termasuk juga mekanisme koordinasi untuk
memperbaiki kinerja aparatur birokrasi, perubahan sistem nilai dan perilaku aparat
dalam memenuhi keinginan masyarakat khususnya dalam pelayanan sektor
publik.

Desentralisasi yang dapat berhasil dijalankan di suatu negara belum tentu


dapat berhasil di negara lain, walaupun dilakukan dengan proses yang sama.
Namun hal tersebut bukan berarti desentralisasi adalah sistem yang buruk, karena
desentralisasi dapat mewujudkan pemerintahan yang lebih dekat kepada
masyarakat yang harus dilayani. Desentralisasi mungkin bukan sebuah solusi
cepat untuk semua permsalahan negara yang belum berkembang, tapi mampu
memperbaiki efisiensi, efektivitas dan membentuk pemerintah yang lebih
responsif di segala kondisi. Desentralisasi akan lebih sukses dengan persiapan
yang matang dan implemenntasi yang baik. Muncul spekulasi bahwa
desentralisasi dapat sukses dengan rencana- rencana tertentu, yaitu:

1. Rencana skala kecil


Skala kecil dari program desentralisasi dirancang untuk memberikan
dampak positif di ruang yang terbatas. Rencana ini diharapkan dapat
memberikan hasil yang lebih baik dan dapat bertahan dalam waktu yang
lama. Prediksi ini muncul karena adanya anggapan bahwa desentralisasi
skala kecil tidak menuntut sumber daya yang besar. Program skala kecil
juga juga lebih menarik bagi para penyumbang karena biaya yang

24
dikeluarkan lebih sedikit. Desentralisasi skala kecil akan lebih mudah
untuk diawasi, evaluasi, dan dipelajari kembali.

2. Rencana jangka panjang


Desentralisasi membutuhkan waktu yang panjang untuk dapat melihat
dampak positif yang dihasilkan. Desentralisasi membutuhkan desain,
analisis, dan kesiapan yang setidaknya membutuhkan waktu lama. Karena,
sebuah perubahan juga membutuhkan proses yang panjang.

3. Rencana pendidikan
Rencana untuk memberikan pendidikan, pelatihan dalam pembuatan
inisiatif dalam mengambil sebuah tindakan dan keputusan kepada pegawai
lokal dan masyarakat dalam menjalankan tanggung jawab baru. Selain itu,
pejabat daerah juga harus diberikan edukasi untuk dapat mengambil
sebuah keputusan dan insiatif yang baik tanpa mengganggu jalannya
aktivitas pemerintahan di tingkat lain.

4. Rencana keterlibatan penyumbang


Program desentralisasi membutuhkan sumber dana yang memadai.
Dengan keterlibatan penyumbang, desentralisasi akan lebih terencana dan
dapat dengan mudah dilaksanakan. Namun saat suatu negara sangat
bergantung pada penyumbang pergerakan negara tersebut akan terbatas,
karena penyumbang akan mencari celah untuk meneruskan pewujudan
proyek-proyek mereka. Maka dari itu, diperlukan suatu strategi untuk
melepaskan diri secara bertahap dari para penyumbang.

5. Rencana pelatihan
Program desentralisasi yang memiliki rencana untuk memberikan
pelatihan kepada pegawai administrasi pusat, pegawai lokal, pejabat
daerah dan masyarakatnya akan lebih mudah untuk mendapatkan hasil

25
yang positif. Sebaiknya pegawai atau perwakilan yang sudah ahli,
diamanahkan untuk menginstruksikan tentang cara bereaksi di lapangan
kepada personil yang masih awam.

6. Rencana pemberian hibah


Kebijakan desentralisasi akan lebih berhasil bila dilakukan dengan adanya
penyaluran dana, serah-terima kekuasaan dan tanggung jawab yang
memadai, dibandingkan apabila pemerintah pusat hanya mengadakan
diskusi atau mengajak pemerintah lokal untuk berpartisipasi.

26
LAMPIRAN 1
Province Development Program di Indonesia

Program pengembangan provinsi Indonesia (PDP) direncanakan pada


pertengahan tahun 1970 dan dimulai tahun 1979. Programnya meliputi 3 tujuan,
yaitu:
1. Untuk membangun rencana dan kapasitas implementasi dalam tingkat
lokal;
2. Untuk mengandalkan proyek pengembangan skala kecil, di mana pejabat
tingkat rendah dan warga lokal dapat berartisipasi dalam proses
perencanaan dan pengimplementasian; dan
3. Untuk memastikan bahwa proyek ini menguntungkan untuk daerah
pedesaan dalam cakupan area PDP.

Persiapan awal PDP menguras biaya sekitar 60 juta dolar, di mana 20 juta
dolar berasal dari pemerintah Indonesia. Sisa 40 juta dolar datang dari 3 sumber
asing, salah satunya adalah United States Agency for International Development
(USAID), yang memberi pinjaman pada Indonesia sebesar 32 juta dolar untuk
mendukung PDP. Setiap provinsi yang berpartisipasi dalam program ini menerima
6 juta dolar yang disebarkan dalam jangka waktu 4 tahun. Uang tersebut
digunakan untuk membayar tim konsultan asing dalam membantu program
pelatihan pegawai. Sisanya dialokasikan untuk merancang proyek pengembangan
kecil dibeberapa bidang seperti program irigasi, pelatihan dan pengembangan
komunitas. Kriteria proyeknya fokus kepada daereah pedesaan yang miskin.

Sebagian PDP dievaluasi oleh tim USAID pada tahun 1981. Hasilnya,
PDP berhasil memperlihatkan kemampuan Indonesia dalam mengelola proyek-
proyek dengan prosedur yang sudah ditentukan. Performa dari pemerintah
provinsi dan lokal juga mengalami perbaikan. Hal tersebut membuktikan bahwa
PDP memberikan dampak positif bagi pengembangan daerah pedesaan yang

27
miskin. Keberhasilan itu tentunya tidak lepas dari sokongan dana dan dukungan
dari penyumbang asing, terutama USAID, tetapi, konsekuensinya adalah PDP
akan terus bergantung pada bantnuan bantuan tersebut demi kesuksesan program.

Maka dari itu, tugas selanjutnya bagi pemerintah adalah untuk


mengkombinasikan bantuan dari penymbang dan mekanisme prinsip desentraliasi,
yaitu secara bertahap melepaskan diri dari pihak penyumbang dan berusaha untuk
mandiri. Hal tersebut sangatlah esensial dalam kesuksesan desentralisasi dan
keberhasilan tersebut bergantung dari komitmen pemeritah negara tuan rumah itu
sendiri.

28
LAMPIRAN 2
Production Responsibility System di Cina

Dewan pusat dari partai komunis Cina menyetujui rancangan resolusi


untuk peningkatan produksi pertanian pada tahun 1978 dengan nama Production
Responsibility System. Mereka mengakui dapat meingkatkan produktivitas
masyarakat dengan cara:

1. Meningkatkan bagian lahan pertanian privat ke lahan pertanian publik;


2. Mengklasifikasikan produksi pertanian dan memberikan kebebasan dalam
mengendalikan produksi rumah tangga;
3. Memperluas peran dari pasar tradisional;
4. Menaikkan gaji produsen gandum dan hasil pertanian lainnya, juga
menurunkan harga perlatan pertanian; dan
5. Menurunkan atau menghapus pajak di daerah yang miskin.

Production Responsibility System ini telah disosialisasikan kepada 53.000


masyarakat di daerah pedesaan Cina. Tujuan dari sistem ini adalah untuk
meningkatkan peran pasar tradisional, mempromosikan hasil pertanian dan juga
mendapatkan perhatian dan pengawasan langsung dari pemerintah.

Sistem sebelum PRS memiliki cara kerja dengan membagi masyarakat


menjadi beberapa kelompok untuk menghasilkan beberapa jenis produksi. Setelah
itu, hasil produksi pertanian mereka akan dibagikan secara merata. Walaupun
dianggap baik, tapi sistem ini memunculkan keluhan bahwa masyarakat
mendapatkan jumlah penghasilan yang sama, tapi beban kerja setiap individu
berbeda-beda. Hal tersebut mendorong terbentuknya perubahan sistem.

Sistem baru ini akan mendorong mereka untuk menitik-pusatkan pekerjaan


mereka dalam meningkatkan produksi pertanian. Sistem baru ini tidak hanya
menekankan pada suatu fokus kerja, tapi juga pengurangan jumlah kelompok

29
yang kemudian diubah menjadi sistem individual atau tim rumah tangga. Sistem
baru membebankan suatu tanggung jawab kepada setiap individu atau rumah
tangga untuk menentukan cara kerja mereka sendiri. Pekerja yang sehat,
mempunyai keahlian dan sikap yang baik akan mendapatkan penghargaan. Selain
itu, akan diberikan hadiah apabila hasil produksinya melebihi dari jumlah yang
sudah ditentukan.

Peraturan baru dari Production Responsibility System adalah setiap


individu atau tim produksi rumah tangga dapat membuat kesepakatan dengan
masyarakat lain untuk memproduksi suatu tanaman dengan jumlah tertentu dan
juga menentukan harga pasti dari tanaman tersebut. Apabila hasil yang didapatkan
melebihi jumlah yang sudah disepakati, maka kelebihan tersebut dapat dijual ke
pemerintah dengan harga yang lebih tinggi.

Pada tahun 1979, Cina diakui telah mengalami peningkatan pesat dalam
hasil pertanian, terutama pada hasil gandum, kapas, minyak dan gula. Peningkatan
hasil pertanian ini diukuti dengan naiknya upah masyarakat pedesaan yang
berpartisipasi dalam proyek tersebut, dari 115 Yuan sampai 200 Yuan, dalam
jangka waktu 3 tahun (1981 - 1978). Dampaknya adalah para masyarakat di
pedesaan mendapatkan kehidupan yang lebih layak dari sebelumnya.

Dengan hasil yang sedemikian rupa, maka peraturan baru tersebut terus
dijalankan. Kenaikan upah membuat mereka mampu menjalankan tugas ini karena
mereka dapat membeli perlatan seperti mesin pertanian, pupuk, dan sumber lain
yang dapat mendukung peningkatan produktivitas mereka. Faktor pendukung lain
adalah kenaikan permintaan, karena mereka dibebaskan untuk menjual hasil kerja
mereka ke pasar bebas. Barang yang dijual di pasar bebas harganya lebih tinggi
dibandingkan dengan barang yang di jual di daerah lokal. Tapi dari segi kualitas,
barang yang dijual di pasar bebas memiliki kualitas yang tinggi dan mudah
ditemukan setiap saat. Menyadari hal ini, Bank Pertanian Cina mulai
menyediakan pinjaman bagi para petani mandiri untuk bisa menghasilkan hasil
pertanian lebih banyak lagi untuk dijual di pasar bebas. Namun, bukan berarti

30
semua hasil pertanian dijual di pasar bebas, karena tetap ada ketentuan untuk
membagi hasil di daerah.

Pemegang kewenangan di Cina memaparkan bahwa mereka menggunakan


sistem mekanisme pasar, memperluas usaha privat, dan menggunakan Production
Responsibility System sebagai usaha untuk mendorong majunya perekonomian.
Mereka menemukan bahwa kesederhanaan dari proses desentralisasi akan
memberikan hasil yang lebih efektif.

31
LAMPIRAN 3
The Programme de Developpment Rural di Tunisia

Pemerintah Tunisia mengeluarkan program pengembangan pedesaan


(Programme de developpment rural - PDR). PDR ini dianggap sebagai program
yang berhasil diimplementasikan dan memiliki hasil yang baik. Program ini
berjalan dengan memberikan dana kepada pajabat pemerintah di daerah miskin
sebesar 3,5 juta dolar per tahun. Biaya ini digunakan untuk menghasilkan dan
mengawasi suatu proyek desentralisasi. Pegawai Negeri Sipil tingkat atas yang
diberi tanggung jawab untuk mengidentifikasi proyek, mempelajari beberapa
kemungkinan yang akan terjadi dan biaya tidak terduga, juga mengawasi jalannya
implementasi desentralisasi.

Walaupun sederhana, PDR terbukti efektif, pejabat berwenang dapat


merespon dengan cepat dan juga lebih fleksibel terhadap permasalahan yang
terjadi. Pejabat pemerintah dituntut untuk mampu mempelajari bagaimana
mengadakan proyek dengan dana yang terbatas dengan prosedur yang sudah
ditentukan secara nasional. Maka dari itu, mereka mendapatkan respon positif atas
pekerjaannya dari masyarakat.

Pemerintah Tunisia sendiri membeberkan bahwa pada saat itu, mereka


hanya memiliki personil yang terbatas dan dana yang jumlahnya kecil, namun,
semua hal harus mulai dari hal-hal yang kecil tapi dengan semangat yang besar.
Dalam hal ini, PDR dianggap sebagai suatu langkah yang menuntun Tunisia
dalam mencapai keberhasilan desentralisasi yang lebih besar.

32