Anda di halaman 1dari 1

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Negara Republik Indonesia adalah negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar 1945, yang mempunyai tujuan mewujudkan tata kehidupan negara dan bangsa yang
adil dan sejahtera, aman, tenteram, dan tertib, serta menjamin kedudukan hukum yang sama bagi
seluruh warga masyarakat. Untuk mencapai tujuan yang dimaksud, perlu didukung dengan
dilaksanakannya pembangunan nasional (Hadi, M. 2013).
Pembangunan nasional adalah kegiatan yang berlangsung terus menerus dan berkesinambungan
yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat baik materil maupun spiritual. Untuk
merealisasikan tujuan tersebut perlu banyak memperhatikan masalah pembiayaan pembangunan.
Salah satu usaha untuk mewujudkan kemandirian suatu bangsa dalam bidang pembiayaannya yaitu
dengan menggali sumber dana yang berasal dari dalam negeri berupa pajak. Pajak digunakan untuk
membiayai pembangunan yang berguna bagi kepentingan bersama (Ester, HS. 2014).
Pajak merupakan iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan Undang-Undang (yang dapat
dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan
dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum. Direktorat Jenderal Pajak (DJP)
Kementerian Keuangan mencatat selama kurun waktu lima tahun terakhir terdapat lebih dari
Rp.255 triliun pajak yang kurang bayar. Jumlah tersebut diketahui dari tahun 2011 hingga 2015.
Jika dirinci per tahunnya, pada tahun 2011 terdapat pajak kurang bayar sebesar Rp.32,78 triliun,
kemudian sempat menurun di tahun 2012 menjadi Rp.26 triliun. Namun, selama tiga tahun terakhir
terjadi kenaikan kurang bayar secara signifikan. Tercatat, di tahun 2013 pajak kurang bayar
mencapai Rp.44,68 triliun, kemudian sebesar Rp.44,19 tahun di 2014, dan Rp.77,47 triliun pada
tahun 2015. Hal ini dipengaruhi oleh jumlah wajib pajak yang terus meningkat (Edi Slamet Irianto,
2015).
Kendala dalam penerimaan pajak selalu ada, diantaranya adalah wajib pajak yang terlambat atau
tidak membayar pajak terutangnya. Untuk mengatasi itu salah satu upaya yang dilakukan
pemerintah adalah dengan tindakan penagihan tunggakan pajak.
Penagihan tunggakan pajak merupakan wujud upaya untuk sarana pencairan tunggakan pajak,
meliputi pemberitahuan Surat Teguran, pemberitahuan Surat Paksa, melaksanakan penyitaan,
melaksanakan penyanderaan, dan/atau menjual barang yang telah disita berdasarkan ketentuan
yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat
Paksa sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 19 Tahun 2000. Diupayakan
agar setiap WP mendapatkan giliran untuk diperiksa dalam rangka menguji pemenuhan kewajiban
perpajakannya. Jika wajib pajak setelah ditagih pun belum memenuhi penagihan pajak, maka
Kantor Pelayanan Pajak (KPP) berhak menagih dengan Surat Paksa sesuai dengan hukum
perpajakan. Dengan efektifnya penagihan pajak akan dapat meningkatkan penerimaan pajak yang
diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan nasional.