Anda di halaman 1dari 2

Rasio Beton

September 26, 2015 choirulrama Ketekniksipilan

Halo semua, semoga semua dalam keadaan sehat-sehat saja. Pada


kesempatan kali, saya akan melanjutkan tulisan sebelumnya, yaitu
rasio besi.
Kamu bisa mengakses tulisan tersebut melalui alamat berikut :
https://choirulrama.wordpress.com/2015/09/09/rasio-besi/
Setelah membaca tulisan diatas, kamu sudah mengetahui teknik
mencari rasio dan berat besi. Apa artinya? Dengan mengetahui berat
besi, kamu dapat menentukan kisaran harga besi yang kamu
dibutuhkan untuk membangun rumah/bangunan kamu sendiri. Tinggal
melihat luas bangunan dan harga satuan besi saja.
Satu lagi material yang sangat umum digunakan dalam dunia
konstruksi adalah beton. Beton merupakan campuran dari batu kerikil,
pasir, semen, dan air. Sama halnya dengan besi, beton pun memiliki
rasio, yang biasanya dijadikan acuan untuk menentukan harga kasar
suatu proyek.
Tekniknya?
Rasio beton digambarkan dalam satuan volume per satuan luas. Jika
kamu menghitung dalam satuan meter, maka satuan rasio beton
adalah meter kubik per meter persegi. Perhitungannya cukup
sederhana, seluruh elemen struktur, misalkan, pelat, kolom, balok,
dan dinding geser, seluruhnya dijadikan sebagai pelat (rata) dan
dihitung volumenya.
Sebagai contoh, tebal pelat pada umumnya adalah 0,12 meter. Untuk
lebar 1 meter dan panjang 1 meter, maka terdapat 0,12 meter kubik
pelat. Begitu juga dengan elemen lain, didatarkan, lalu dimodelkan
sebagai pelat, untuk kolom kira-kira 0,07 hingga 0,08 sedangkan
untuk balok bisa sekitar 0,1.
Jika kita total seluruhnya, meter kubik per meter persegi beton yang
diperlukan sekitar 0,3. Mungkin untuk konstruksi tingkat tinggi, detail
tertentu, dan atau spesifikasi khusus, angka tadi bisa sampai 0,4.
Angka ini dikalikan dengan berat jenis beton, secara normal bisa
2.250 kg/m3 (beton bertulang sekitar 2.400-2.500 kg/m2).
Selanjutnya, sama seperti besi, kita tinggal mengalikan angka
tersebut dengan luas bangunan dan harga satuan. Maka didapat
harga kasar proyek.
Yang perlu kita ingat adalah bahwa angka tersebut tidak mutlak. Rasio
tersebut dipengaruhi oleh detail bangunan, jika spesifikasi bangunan
atau bentuknya tidak umum, maka rasio ini belum tentu digunakan.
Selain itu, peninjauan biaya proyek bukan hanya dilihat dari besi dan
beton. Mereka hanya sebagian dari bidang material, kita perlu juga
meninjau alat berat dan sumber daya manusia sebagai acuan lain
dalam estimasi biaya konstruksi.
Tapi,
Ini berguna ketika kamu berdiskusi dengan pemilik proyek, yang ingin
memperluas bangunannya. Ketika ia bertanya tentang harga yang
dibutuhkan untuk menambah luas bangunan 1.000 m2, kita tidak bisa
menjawab,
“Tunggu Pak, saya modelkan dulu dan hitung volumenya. 1 minggu
lagi saya beritahu.”
Begitulah.
I’d love to share my mind with other. For me, knowledge will improve
itself as we share it, not just earn it. So, let the discussion begin!

Tulisan ini terinspirasi dari diskusi bersama rekan kerja saya,


calon engineerhebat, Andre Ong.