Anda di halaman 1dari 158
d r. R e s t h i e d r. R a c h

d r.

R e s t h i e

d r.

R a c h m a n t a

Yo l i n a

P u t r i

M a r c e l a

e d r. R a c h m a n t a Yo l i n

MASTER CLASS

I L M U

K E D O K T E R A N

K O M U N I T A S

Medan

Jl. Setiabudi Kompleks Setiabudi Square No. 15 Kel. Tanjung Sari, Kec. Medan Selayang 20132 WA/Line 082122727364

w w w . o p t I m a p r e p . c o m

BPJS KESEHATAN

KEPESERTAAN BPJS KESEHATAN

KEPESERTAAN BPJS KESEHATAN

PESERTA PBI

Penerima Bantuan Iuran (PBI) adalah peserta

Jaminan Kesehatan bagi fakir miskin dan orang tidak mampu sebagaimana

diamanatkan UU SJSN yang iurannya dibayari

Pemerintah sebagai peserta program Jaminan

Kesehatan. Peserta PBI adalah fakir miskin

yang ditetapkan oleh Pemerintah dan diatur

melalui Peraturan Pemerintah.

http://www.jkn.kemkes.go.id/detailfaq.php?id=9

Siapa Yang Dianggap Miskin dan Tidak

Mampu? (9 dari 14 harus dipenuhi)

Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8m2 per orang

Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan

Jenis dinding tempat tinggal dari bambu/ rumbia/ kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester.

Tidak memiliki fasilitas buang air besar/ bersama-sama dengan rumah tangga lain.

Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.

Sumber air minum berasal dari sumur/ mata air tidak terlindung/ sungai/ air hujan.

Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/ arang/ minyak tanah

Hanya mengkonsumsi daging/ susu/ ayam dalam satu kali seminggu.

Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun

Hanya sanggup makan sebanyak satu/ dua kali dalam sehari

Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/ poliklinik

Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 500m2, buruh tani, nelayan, buruh

bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000,- per bulan

Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/ tidak tamat SD/ tamat SD.

Tidak memiliki tabungan/ barang yang mudah dijual dengan minimal Rp. 500.000,- seperti sepeda motor kredit/ non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.

http://www.pasienbpjs.com/2016/04/cara-menjadi-peserta-bpjs-pbi.html

HAK KELAS PESERTA BPJS

Dibagi menjadi kelas I, II, III.

Tidak ada peserta BPJS kesehatan yang berhak

atas kelas VIP.

Peserta yang ingin dirawat di kelas VIP harus iur biaya (membayar selisih biaya kamar rawat inap VIP dengan biaya kamar yang menjadi hak kelasnya).

Peserta PBI tidak boleh naik kelas. Jika tetap naik kelas, hak PBInya akan gugur.

HAK KELAS PESERTA BPJS

 

KELAS 1

1.

Anggota TNI dan penerima pensiun Anggota TNI yang setara Pegawai Negeri Sipil golongan

ruang III dan golongan ruang IV beserta anggota keluarganya;

2.

Anggota Polri dan penerima pensiun Anggota Polri yang setara Pegawai Negeri Sipil

golongan ruang III dan golongan ruang IV beserta anggota keluarganya;

3.

Veteran dan Perintis Kemerdekaan beserta anggota keluarganya;

4.

Janda, duda, atau anak yatim piatu dari Veteran atau Perintis Kemerdekaan;

5. Peserta Pekerja Penerima Upah selain di atas (no 1-4) dan Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri dengan Gaji atau Upah di atas Rp 4.000.000,00 (empat juta rupiah) sampai dengan Rp 8.000.000,00 (delapan juta rupiah); dan

6.

Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Peserta bukan Pekerja yang membayar iuran

untuk Manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas I

https://www.panduanbpjs.com/penjelasan-ruang-perawatan-masing-masing-kelas-bpjs-kesehatan/

HAK KELAS PESERTA BPJS

 

KELAS 2

1.

Pegawai Negeri Sipil dan penerima pensiun Pegawai Negeri Sipil golongan ruang I dan

golongan ruang II beserta anggota keluarganya;

2.

Anggota TNI dan penerima pensiun Anggota TNI yang setara Pegawai Negeri Sipil golongan

ruang I dan golongan ruang II beserta anggota keluarganya;

3.

Anggota Polri dan penerima pensiun Anggota Polri yang setara Pegawai Negeri Sipil

golongan ruang I dan golongan ruang II beserta anggota keluarganya;

4. Peserta Pekerja Penerima Upah selain pada poin 1 sampai dengan 3 di atas dan Pegawai

Pemerintah Non Pegawai Negeri dengan Gaji atau Upah sampai dengan Rp 4.000.000,00 (empat juta rupiah); dan

5. Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Peserta bukan Pekerja yang membayar iuran untuk Manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas II.

https://www.panduanbpjs.com/penjelasan-ruang-perawatan-masing-masing-kelas-bpjs-kesehatan/

HAK KELAS PESERTA BPJS

KELAS 3

Peserta PBI Jaminan Kesehatan serta penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah Daerah;

dan

Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Peserta bukan Pekerja yang membayar iuran

untuk Manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas III

https://www.panduanbpjs.com/penjelasan-ruang-perawatan-masing-masing-kelas-bpjs-kesehatan/

Ketentuan Untuk Peserta BPJS Yang Mengalami PHK Dan Kecacatan Total

Peserta yang mengalami PHK tetap memperoleh

hak manfaat Jaminan Kesehatan paling lama 6

(enam) bulan sejak di PHK tanpa membayar

iuran.

Peserta bukan PBI Jaminan Kesehatan yang

mengalami cacat total tetap dan tidak mampu,

berhak menjadi Peserta PBI Jaminan Kesehatan

Penetapan cacat total tetap, dilakukan oleh dokter

yang berwenang.

Pasal 7 & 8 Perpres No 12 Tahun 2013

Iuran Peserta BPJS Kesehatan

Peserta PBI: Rp 19.225,00 per orang per bulan

(ditanggung oleh pemerintah).

Bukan peserta PBI: 5% dari gaji/ upah per

bulan.

Pegawai pemerintah (PNS, TNI, POLRI): 3% dibayar

oleh pemberi kerja, 2% dibayar oleh pekerja.

Pegawai non pemerintah: 4% dibayar oleh

pemberi kerja, 1% dibayar oleh pekerja.

PELAYANAN YANG DIJAMIN BPJS KESEHATAN

Di Faskes Primer

Pelayanan promotif dan preventif;

Pemeriksaan, pengobatan, dan

konsultasi medis;

Tindakan medis non spesialistik,

baik operatif maupun non operatif;

Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai;

Transfusi darah sesuai dengan

kebutuhan medis;

Pemeriksaan penunjang diagnostik laboratorium tingkat pratama; dan

Rawat Inap Tingkat Pertama sesuai dengan indikasi medis.

Di Rumah Sakit

Pengobatan dan konsultasi spesialistik oleh dokter spesialis dan subspesialis;

Tindakan medis spesialistik, baik bedah maupun

non bedah sesuai dengan indikasi medis;

Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai;

Pelayanan penunjang diagnostik lanjutan sesuai dengan indikasi medis;

Rehabilitasi medis;

Pelayanan darah;

Pelayanan kedokteran forensik klinik;

Pelayanan jenazah pada pasien yang meninggal

setelah dirawat inap di fasilitas kesehatan yang

bekerjasama dengan bpjs kesehatan, berupa pemulasaran jenazah tidak termasuk peti mati dan mobil jenazah;

Perawatan inap non intensif; dan

Perawatan inap di ruang intensif.

Perpres 12 Tahun 2013, Peraturan BPJS Kesehatan No. 1 Tahun 2014

Persalinan & Ambulans: Apakah Ditanggung BPJS Kesehatan?

Persalinan yang ditanggung BPJS Kesehatan di

Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama maupun

Tingkat Lanjutan adalah persalinan sampai

dengan anak ketiga tanpa melihat anak hidup/

meninggal.

Ambulan hanya diberikan untuk pasien rujukan

dari Fasilitas Kesehatan satu ke fasilitas kesehatan

lainnya, dengan tujuan menyelamatkan nyawa

pasien

Perpres 12 Tahun 2013, Peraturan BPJS Kesehatan No. 1 Tahun 2014

Pelayanan Yang Tidak Dijamin Oleh BPJS Kesehatan

Pelayanan kesehatan yang dilakukan tanpa

melalui prosedur sebagaimana diatur dalam

peraturan yang berlaku;

Pelayanan kesehatan yang dilakukan di fasilitas kesehatan yang tidak bekerjasama dengan BPJS Kesehatan, kecuali dalam

keadaan darurat;

Pelayanan kesehatan yang telah dijamin oleh program jaminan kecelakaan kerja terhadap penyakit atau cedera akibat kecelakaan kerja

atau hubungan kerja sampai nilai yang

ditanggung oleh program jaminan kecelakaan kerja;

Pelayanan kesehatan yang telah dijamin oleh program jaminan kecelakaan lalu lintas yang

bersifat wajib sampai nilai yang ditanggung

oleh program jaminan kecelakaan lalu lintas;

Pelayanan kesehatan yang dilakukan di luar negeri;

Pelayanan kesehatan untuk tujuan estetik;

Pelayanan untuk mengatasi infertilitas;

Pelayanan meratakan gigi (ortodonsi);

Gangguan kesehatan/penyakit akibat

ketergantungan obat dan/ atau alkohol;

Gangguan kesehatan akibat sengaja menyakiti diri sendiri, atau akibat melakukan hobi yang membahayakan diri sendiri;

Pengobatan komplementer, alternatif dan

tradisional, termasuk akupuntur, shin she,

chiropractic, yang belum dinyatakan efektif berdasarkan penilaian teknologi kesehatan (health technology assessment);

Pengobatan dan tindakan medis yang

dikategorikan sebagai percobaan (eksperimen);

Alat kontrasepsi, kosmetik, makanan bayi, dan susu;

Perbekalan kesehatan rumah tangga;

Pelayanan kesehatan akibat bencana pada masa tanggap darurat, kejadian luar biasa/wabah; dan

Biaya pelayanan lainnya yang tidak ada hubungan dengan manfaat jaminan kesehatan yang diberikan.

Klaim perorangan.

Perpres 12 Tahun 2013, Peraturan BPJS Kesehatan No. 1 Tahun 2014

Prosedur Pelayanan Bagi Peserta BPJS Kesehatan

Pelayanan kesehatan bagi Peserta dilaksanakan secara berjenjang

sesuai kebutuhan medis dimulai dari Fasilitas Kesehatan tingkat

pertama.

Pelayanan kesehatan tingkat kedua hanya dapat diberikan atas rujukan

dari Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.

Pelayanan kesehatan tingkat ketiga hanya dapat diberikan atas rujukan dari pelayanan kesehatan tingkat kedua atau tingkat pertama

Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama bagi Peserta diselenggarakan oleh Fasilitas Kesehatan tingkat pertama tempat Peserta terdaftar,

kecuali:

berada di luar wilayah Fasilitas Kesehatan tingkat pertama tempat Peserta terdaftar; atau

dalam keadaan kedaruratan medis

Permenkes No 71/2013, Peraturan BPJS Kesehatan No 1 Tahun 2014

PELAYANAN KEGAWATDARURATAN

Peserta yang memerlukan pelayanan gawat darurat

dapat langsung memperoleh pelayanan di setiap fasilitas kesehatan.

Peserta yang menerima pelayanan kesehatan di

fasilitas kesehatan yang tidak bekerjasama dengan BPJS

Kesehatan, akan segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan setelah

keadaan gawat daruratnya teratasi dan pasien dalam

kondisi dapat dipindahkan.

Biaya akibat pelayanan kegawatdaruratan ditagihkan

langsung oleh Fasiltas Kesehatan kepada BPJS Kesehatan.

PEMBAYARAN BPJS DI FASKES PRIMER

PEMBAYARAN BPJS DI FASKES PRIMER PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR TARIF PELAYANAN KESEHATAN DALAM PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KESEHATAN

Tarif Kapitasi

Tarif Kapitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2

huruf a diberlakukan pada FKTP yang melakukan pelayanan:

a.

administrasi pelayanan;

b.

promotif dan preventif;

c.

pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi medis;

d.

tindakan medis non spesialistik, baik operatif maupun

non operatif;

e.

obat dan bahan medis habis pakai;

f.

pemeriksaan penunjang diagnostik laboratorium

tingkat pratama.

Tarif Non Kapitasi

Tarif Non Kapitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b

diberlakukan pada FKTP yang melakukan pelayanan kesehatan di luar lingkup pembayaran kapitasi, yang meliputi:

a.

pelayanan ambulans

b.

pelayanan obat program rujuk balik;

c.

pemeriksaan penunjang pelayanan rujuk balik;

d.

pelayanan penapisan (screening) kesehatan tertentu termasuk pelayanan terapi krio untuk kanker leher rahim;

e.

rawat inap tingkat pertama sesuai indikasi medis;

f.

jasa pelayanan kebidanan dan neonatal yang dilakukan oleh bidan atau dokter, sesuai kompetensi dan kewenangannya; dan

g.

pelayanan Keluarga Berencana di FKTP

Penyakit yang Termasuk dalam Program Rujuk Balik

Penyakit yang Termasuk dalam Program Rujuk Balik

https://bpjs-kesehatan.go.id/bpjs/dmdocuments/4238e7d5f66ccef4ccd89883c46fcebc.pdf

Pembayaran BPJS di Faskes Sekunder & Tersier (Rumah Sakit)

Indonesian-Case Based Groups (INA-CBGs): besaran

pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan kepada Fasilitas

Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan atas paket layanan

yang didasarkan kepada pengelompokan diagnosis penyakit dan prosedur.

Non INA-CBGs: tarif diluar tarif paket INACBG untuk

beberapa item pelayanan tertentu meliputi alat bantu

kesehatan, obat kemoterapi, obat penyakit kronis,

CAPD dan PET Scan, dengan proses pengajuan klaim

dilakukan secara terpisah dari tarif INA-CBG

Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) No. 52 tahun 2016

Kecelakaan Lalu Lintas: Apakah Ditanggung BPJS Kesehatan?

Kecelakaan lalu lintas dapat ditanggung oleh:

Jasa Raharja BPJS Kesehatan

Tergantung jenis kecelakaan yang terjadi.

Kecelakaan Yang Ditanggung Jasa Raharja

Berdasarkan undang-undang no 33 tahun 1965 berikut adalah jenis kecelakaan yang dijamin oleh jasa raharja:

Kecelakaan di angkutan umum, dan si penumpang masih berada di dalam angkutan umum

Korban yang berada di atas kapal fery dan kapal mengalami kecelakaan, korban bisa mendapatkan jaminan ganga.

Korban kecelakaan kendaraan umum yang mayatnya tidak ditemukan berdasarkan

atas keputusan pengadilan negeri.

Sedangkan menurut undang-undang no 35 tahun 1965 yang berhak mendapatkan

santunan jasa raharja adalah sebagai berikut:

Setiap orang yang mengalami kecelakaan oleh angkutan umum, misalnya pejalan

kaki yang tertabrak angkutan umum dll.

orang yang berada di kendaraan bermotor kemudian mengalami kecelakaan yang bukan disebabkan oleh si pengemudi kendaraan tersebut

Tabrakan 2 atau lebih kendaraan bermotor

Kasus tabrak lari yang sudah terbukti

Kecelakaan Yang Ditanggung BPJS Kesehatan

Berikut adalah ketentuan bahwa kecelakaan tunggal bisa mendapatkan jaminan dari bpjs kesehatan:

Kecelakaan tunggal yang tidak dijamin oleh Jasa Raharja dan juga Oleh BPJS Ketenagakerjaan maka itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab BPJS Kesehatan.

Agar biaya ditanggung sepenuhnya oleh BPJS maka korban kecelakaan harus dipastikan memilih rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS, jika tidak maka kemungkinan besar biaya yang akan ditanggung hanya untuk biaya UGD saja.

Pastikan adanya Laporan ke pihak kepolisian setempat agar pihak kepolisian bisa membantu mengurusnya ke jasa raharja yang sistemnya sudah online.

Dapatkan surat keterangan dari jasa raharja yang menyatakaan bahwa Kecelakaan

tidak ditanggung Jasa Raharja (dengan catatatn: harus ada laporan kepolisian).

Jika kecelakaan bukan kecelakaan tunggal maka itu menjadi tanggung jawab Jasa

Raharja dengan catatan harus ada laporan kepolisian.

HUBUNGAN DOKTER PASIEN

Hubungan Dokter Pasien

Pola hubungan

Priestly model (paternalistik) dokter dominan

Colegial model (partnership) dokter dan pasien adalah mitra dengan tujuan yang sama Dokter tetap bertanggung jawab mengarahkan,

membimbing pertemuan bersifat kooperatif dan

pasien tetap bebas memutuskan sesuai

keinginan

Engineering model (pasien dominan)

PRINSIP PELAYANAN DOKTER

KELUARGA

PRINSIP PELAYANAN KEDOKTERAN KELUARGA

Holistik

Komprehensif

Terpadu

Berkesinambungan

Danasari. 2008. Standar Kompetensi Dokter Keluarga. PDKI : Jakarta

Pelayanan Kedokteran Keluarga

HOLISTIK

Mencakup seluruh tubuh jasmani dan rohani

pasien (whole body system), nutrisi

Tidak hanya organ oriented

Patient and Family oriented

Memandang manusia sebagai mahluk

biopsikososial pada ekosistemnya.

Pelayanan Kedokteran Keluarga

KOMPREHENSIF (Menyeluruh)

Tidak hanya kuratif saja, tapi pencegahan dan

pemulihan

Health promotion

Spesific protection

Early diagnosis and Prompt treatment

Disability limitation

Rehabilitation

Penatalaksanaan tidak hanya patient oriented,

tapi juga family oriented dan community oriented

Pelayanan Kedokteran Keluarga

BERKESINAMBUNGAN

Tidak sesaat, ada follow upnya dan

perencanaan manajemen pasien

TERPADU / TERINTEGRASI

Memakai seluruh ilmu kedokteran yang telah

di dapat bekerja sama dengan pasien,

keluarga, dokter spesialis atau tenaga

kesehatan lain

FAMILY ASESSMENT TOOL

FAMILY ASSESSMENT TOOL

Family dynamic interaksi dan hubungan antar anggota keluarga

Family assesment toolsalat yang digunakan untuk menilai family dynamic

dan hubungan antar anggota keluarga • Family assesment tools  alat yang digunakan untuk menilai family
dan hubungan antar anggota keluarga • Family assesment tools  alat yang digunakan untuk menilai family

Family Genogram

Suatu alat bantu berupa peta skema dari silsilah keluarga pasien

yang berguna untuk mendapatkan informasi mengenai nama anggota keluarga, kualitas hubungan antar anggota keluarga

Berisi nama, umur, status menikah, riwayat perkawinan, anak-

anak, keluarga satu rumah, penyakit spesifik, tahun meninggal,

dan pekerjaan.

Juga mengenai informasi tentang hubungan emosional, jarak/konflik antar anggota keluarga, hubungan penting dengan profesional yang lain serta informasi lain yang relevan.

Family Life Cycle/Circle

Siklus Hidup Keluarga (Family Life Cycle) adalah istilah yang

digunakan untuk menggambarkan perubahan-perubahan dalam jumlah anggota, komposisi dan fungsi keluarga sepanjang hidupnya.

Siklus hidup keluarga juga merupakan gambaran rangkaian tahapan yang akan terjadi atau diprediksi yang dialami kebanyakan keluarga.

Siklus hidup keluarga terdiri dari variabel yang dibuat secara sistematis menggabungkan variable demografik

yaitu status pernikahan, ukuran keluarga, umur anggota

keluarga, dan status pekerjaan kepala keluarga.

TAHAPAN-TAHAPAN SIKLUS HIDUP KELUARGA

Menurut Duvall tahun 1977 siklus hidup keluarga dapat dikategorikan menjadi 8

golongan yakni:

1.

Pasangan yang baru menikah ( tanpa anak ) lamanya ± 2 tahun

2.

Keluarga dengan anak yang baru dilahirkan ( usia anak tertua adalah baru lahir

30 bulan ) lamanya ± 2,5 tahun

3.

Keluarga dengan anak pra sekolah ( usia anak tertua adalah 30 bulan 6 tahun )

lamanya ± 3,5 tahun

4.

Keluarga dengan anak yang bersekolah ( usia anak tertua adalah 6 13 tahun) lamanya ± 7 tahun

5.

Keluarga dengan anak usia remaja ( usia anak tertua adalah 13 20 tahun) lamanya ± 7 tahun

6.

Keluarga dengan anak meninggalkan keluarga ( anak pertama pergi dan anak

terakhir tinggal di rumah) lamanya ± 8 tahun

7.

Keluarga dengan usia orang tua pertengahan ( tak berkumpul lagi hingga pensiun

) lamanya ± 15 tahun

8.

Keluarga dengan usia orang tua jompo (pensiun hingga kedua suami istri meninggal ) lamanya ± 10 - 15 tahun

Family APGAR

APGAR Keluarga merupakan kuesioner

skrining singkat yang dirancang untuk merefleksikan kepuasan anggota keluarga

dengan status fungsional keluarga dan untuk

mencatat anggota-anggota rumah tangga.

APGAR ini merupakan singkatan dari;

Adaptation, Partnership, Growth, Affection

dan Resolve.

 

Saya puas dengan keluarga saya karena masing-masing

ADAPTATION

Adaptasi

anggota keluarga sudah menjalankan kewajiban sesuai

dengan seharusnya

0-2

PARTNERSHIP

Saya puas dengan keluarga saya karena dapat membantu memberikan solusi terhadap permasalahan yang saya

hadapi

 

Kemitraan

0-2

GROWTH

Saya puas dengan kebebasan yang diberikan keluarga saya untuk mengembangkan kemampuan yang saya miliki

 

pertumbuhan

0-2

AFFECTION Kasih ssayang

Saya puas dengan kehangatan / kasih sayang yang diberikan keluarga saya

0-2

RESOLVE

Saya puas dengan waktu yang disediakan keluarga untuk menjalin kebersamaan

 

Kebersamaan

0-2

Interpretasi :

8-10 = Highly functional family (fungsi keluarga baik) 4-7 = Moderately dysfunctional family (disfungsi keluarga moderat) 0-3 = Severely dysfunctional family (keluarga sakit / tidak sehat)

Family Lifeline

Family Lifeline • Garis kehidupan menggambarkan secara kronologis stress kehidupan, sebagai contoh dari

Garis kehidupan menggambarkan

secara kronologis stress kehidupan,

sebagai contoh dari gambar disamping menunjukkan tingkat

kesakitan berupa migrain yang naik

turun sesuai dengan tingkat stress yang dialami oleh pasien

Misal :

pada tahun 1969 pasien berusia 22

tahun kejadian hidup yang dialami

adalah lulus dari kampus dan pasien mengalami migrain yang cukup berat,

sedangkan pada tahun 1972 saat

pasien berusia 25 dan menikah justru pasien tidak mengalami migrain,

akan tetapi pada tahun 1973 ketika

pasien berusia 26 tahun dan mulai bekerja serta mengalami kesulitan

bekerja, pasien mengalami migrain

yang cukup berat.

Family SCREEM

 

RESOURCE

PATHOLOGY

 

social interaction is evident among family members

Isolated from extra- familial

SOCIAL

Family members have well-balanced lines of communication with extra-familial social groups

 
 

Problem of over

commitment

 

Ethnic and cultural

CULTURAL

cultural pride and satisfaction can be identified

 
   

inferiority

 

Offers satisfying spiritual experiences as well as contacts

RELIGIOUS

with an extra-familial support group

Rigid dogma/rituals

 

Economic

 

Economic stability is sufficient to provide both reasonable

deficiency

ECONOMIC

satisfaction with financial status and an ability to meet economic demands of normative life events

 

Inappropriate economic plan

 

Education of members is adequate to allow members to solve or comprehend most problems that arise within the

format of the lifestyle established by the family

 

EDUCATIONA

handicapped to comprehend

L

 

MEDICAL

Medical health care is available through channels that are easily established and have previously been experienced

in a satisfactory manner

Not utilizing health care

facilities/resources

PUSKESMAS

Puskesmas

Puskesmas adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas

Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan

kesehatan di suatu wilayah kerja (Kepmenkes RI

No.128/Menkes/SK/II/2004).

Dasar-dasar puskesmas. Kemenkes RI. 2013

Wilayah Kerja Puskesmas

Berkaitan INPRES Kesehatan No 5 thn 1974

sejak pelita III maka konsep puskesmas

mencakup satu wilayah yang mempunyai

penduduuk 30.000 jiwa

Untuk wilayah dengan jumlah penduduk

30.000 jiwa dikoordinasi dengan 2 puskesmas.

Salah satu sebagai puskesmas induk dan salah

satu enjadi puskesmas pembantu

Puskesmas

Satu dokter sebagai kepala puskesmas dapat

merangkap sebagai dokter di poliklinik dan 1 dokter bertugas di puskesmas pembantu

Rasio dokter-penduduk bervariasi mulai

1:5000 sampai 1:2500 (rata rata 1:4000)

Fungsi Puskesmas

Fungsi Puskesmas

Indikator program gizi puskesmas

Cakupan pemimbangan balita

Cakupan vitamin A dan yodium untuk bayi,

balita dan ibu nias

Tablet tambah darah (fe) ibu hamil

Status gizi balita : pelayanan terhadap gizi buruk dan MP-ASI

Keluarga sadar gizi

Kecamatan bebas rawan gizi

Puskesmas

Jenis Puskesmas menurut pelayanan kesehatan medis, dibagi dua

kelompok yakni:

Puskesmas Perawatan, pelayanan kesehatan rawat jalan dan rawat inap (memberikan pelayanan 24 jam dan dapat merawat pasien one day care (atau maksimal selama 3 hari)

Puskesmas Non Perawatan, hanya pelayanan kesehatan rawat jalan

(pelayanan pengobatan di fasilitas pelayanan kesehatan dalam jam kerja saja, kecuali untuk pelayanan persalinan)

Menurut wilayah kerjanya, dikelompokkan menjadi:

Puskesmas Induk / Puskesmas Kecamatan Sasaran penduduk

30.000/puskesmas

Puskesmas Satelit / Puskesmas Kelurahan

PUSKESMAS

Puskesmas Pembantu (Pustu):

Biasanya ada satu buah di setiap desa/kelurahan

Membantu puskesmas induk

Pelayanan medis sederhana oleh perawat atau bidan, disertai jadwal kunjungan dokter

Sasaran meliputi 2-3 desa atau dengan jumlah penduduk 2.500 (luar jawa & bali) sampai 10.000 orang (jawa & bali)

Puskesmas Keliling (Puskel) :

Kegiatan pelayanan khusus ke luar gedung, di wilayah kerja puskesmas.

Menggunakan kendaraan bermotor roda 4, roda 2, atau perahu.

Pelayanan medis terpadu oleh dokter, perawat, bidan, gizi, pengobatan dan

penyuluhan.

Menunjang dan membantu melaksanakan kegiatan-kegiatan Puskesmas dalam wilayah kerjanya yang belum terjangkau.

Wilayah Kerja Puskesmas

Pembagian Puskesmas

Puskesmas Pembantu

Pelayanan kesehatan sederhana untuk menunjang dan membantu pelaksanaan kegiatan puskesmas dalam ruang

lingkup yang lebih kecil

satu pustu 2-3 desa dengan jumlah penduduk 2500 (luar jawa dan bali), 10.000 (jawa dan bali)

Puskesmas Keliling (unit pelayanan kesehatan yang dilekngkapi dengan kendaraan bermotor 4 atau perahu

motor dan peralatan komunikasi

Bidan Desa : untuk pelayanan persalinan di polindes

Posyandu : Keterpaduan antara puskesmas dan masyarkat di tingkat desa yang diwujudkan dalam pos pelayanan

terpadu. Satu posyandu sebaiknya melayani sekitar 100

balita, atau sesuai dengan kemampuan petugas dan

keadaan setempat

MONITORING DAN EVALUASI

MONITORING & EVALUASI

PROGRAM KESMAS (LOGIC MODEL)

MONITORING & EVALUASI PROGRAM KESMAS (LOGIC MODEL)

I N P U T S

A C T I V I T I E S

O U T P U T S

O U TC O M E S / I M PA C T S

 

what is produced

the changes or

what resources go

into a program

what activities the

program undertakes

through those

activities

benefits that result

from the program

e.g. money, staff, equipment

e.g. development of materials, training

programs

e.g. number of

booklets produced, workshops held,

people trained

e.g. increased skills/

knowledge/

confidence, leading in longer-term to

promotion, new job,

etc.

O U T C O M E

V S

I M P A C T

Indikator outcome dan impact sering kali disamakan atau dijadikan sebagai satu

kesatuan. Namun pada umumnya indikator outcome lebih menilai luaran jangka

pendek dan untuk wilayah setempat, sedangkan indikator impact lebih menilai luaran jangka panjang dan dampak untuk wilayah yang lebih luas. Outcome

bersifat dinamis (lebih mudah berubah dibandingkan impact).

POSYANDU

JENIS POSYANDU

Terdapat 4 jenis posyandu:

Posyandu pratama (warna merah)

Posyandu madya (warna kuning)

Posyandu purnama (warna hijau)

Posyandu mandiri (warna biru)

Posyandu Pratama

Posyandu tingkat pratama adalah posyandu

yang masih belum mantap, kegiatannya belum

bisa rutin tiap bulan dan kader aktifnya

terbatas.

Keadaan ini dinilai ‘gawat’ sehingga

intervensinya adalah pelatihan kader ulang. Artinya kader yang ada perlu ditambah dan dilakukan pelatihan dasar lagi.

Posyandu Madya

Rata-rata jumlah kader tugas 5 orang atau lebih.

Akan tetapi cakupan program utamanya (KB, KIA, Gizi, dan Imunisasi) masih rendah yaitu kurang dari 50%.

Kelestarian posyandu sudah baik tetapi masih rendah cakupannya.

Intervensi untuk posyandu madya ada 2 yaitu :

Pelatihan Toma dengan modul eskalasi posyandu yang

sekarang sudah dilengkapi dengan metoda simulasi.

Penggarapan dengan pendekatan PKMD (SMD dan MMD) untuk menentukan masalah dan mencari penyelesaiannya,

termasuk menentukan program tambahan yang sesuai

dengan situasi dan kondisi setempat.

Posyandu Purnama

Posyandu yang frekuensinya lebih dari 8 kali per tahun,

rata-rata jumlah kader tugas 5 orang atau lebih, dan cakupan 5 program utamanya (KB, KIA, Gizi dan

Imunisasi) lebih dari 50%.

Sudah ada program tambahan.

Intervensi pada posyandu di tingkat ini adalah :

Penggarapan dengan pendekatan PKMD untuk mengarahkan masyarakat menetukan sendiri

pengembangan program di posyandu

Pelatihan Dana Sehat, agar di desa tersebut dapat tumbuh

Dana Sehat yang kuat dengan cakupan anggota minimal

50% KK atau lebih.

Posyandu Mandiri

Posyandu ini berarti sudah dapat melakukan

kegiatan secara teratur, cakupan 5 program utama sudah bagus, ada program tambahan

dan Dana Sehat telah menjangkau lebih dari

50% KK.

Intervensinya adalah pembinaan Dana Sehat.

Keberhasilan Posyandu

Keberhasilan Posyandu

PROMOSI KESEHATAN

Promosi Kesehatan

Sasaran primer : Individu atau kelompok yang

diharapkan berubah perilakunya

Sasaran sekunder : individu atau kelompok

dan organisasi yang mempengaruhi

perubahan perilaku sasaran primer

Sasaran tersier : individu atau kelompok dan

organisasi yang memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan dan keputusan

MEDIA PROMOSI KESEHATAN

MEDIA PROMOSI KESEHATAN MASSAL

Ceramah umum (public speaking), misalnya pada hari kesehatan nasional, menteri kesehatan atau pejabat kesehatan lainnya

berpidato dihadapan massa rakyat untuk menyampaikan pesan-

pesan kesehatan.

Diskusi tentang kesehatan melalui media elektronik, baik siaran TV

maupun radio.

Simulasi, dialog antara pasien dengan dokter atau petugas kesehatan lainnya tentang suatu penyakit atau masalah kesehatan

disuatu media massa

Film

Tulisan-tulisan dimajalah atau Koran, baik dalam bentuk artikel

maupaun Tanya jawab/ konsultasi tentang kesehatan dan penyakit.

Billboard, yang dipasang dipinggir jalan, spanduk, poster, dsb. Contoh : Billboard Ayo ke Posyandu.

Metode Promosi Kesehatan untuk Kelompok

(<15 orang)

Diskusi kelompok: dipimpin 1 pemimpin diskusi, pemimpin

memberi pertanyaan atau kasus sehubungan dengan topik yang dibahas untuk memancing anggota untuk

berpendapat.

Curah Pendapat (Brain Storming): Prinsipnya sama dengan metode diskusi kelompok. Bedanya, pada permulaannya pemimpin kelompok memancing dengan satu masalah dan

kemudian tiap peserta memberikan jawaban-jawaban atau

tanggapan (curah pendapat). Sebelum semua peserta mencurahkan pendapatnya, tidak boleh diberikan

komentar oleh siapapun. Harus setelah semua

mengeluarkan pendapatnya, tiap anggota dapat mengomentari, dan akhirnya terjadi diskusi.

Metode Promosi Kesehatan untuk Kelompok

(<15 orang)

Bola salju (snowballing): Kelompok dibagi dalam pasangan-

pasangan (1 pasang 2 orang) kemudian dilontarkan suatu

pertanyaan atau masalah. Setelah lebih kurang 5 menit maka tiap 2

pasang bergabung menjadi 1. Mereka tetap mendiskusikan masalah

tersebut, dan mencari kesimpulannya. Kemudian tiap-tiap pasang

yang sudah beranggotakan 4 orang ini bergabung lagi dengan

pasangan lainnya dst, sampai akhirnya akan terjadi diskusi seluruh

anggota kelompok.

Kelompok kecil (buzz group): Kelompok langsung dibagi menjadi

kelompok-kelompok kecil (buzz group) yang kemudian diberi suatu

permasalahan yang sama atau tidak sama dengan kelompok lain. Masing-masing kelompok mendiskusikan masalah tersebut.

Selanjutnya hasil dari tiap kelompok didiskusikan kembali dan dicari

kesimpulannya.

Metode Promosi Kesehatan untuk Kelompok

(<15 orang)

Role play: Beberapa anggota kelompok diunjuk sebagai

pemegang peran tertentu untuk memainkan peranan,

misalnya sebagai dokter Puskesmas, sebagai perawat, atau

bidan, dan sebagainya, sedangkan anggota yang lain

sebagai pasien atau anggota masyarakat. Mereka

memperagakan, misalnya bagaimana komunikasi/interaksi

sehari-hari dalam melaksanakan tugas.

Simulation game: Gabungan antara role play dengan

diskusi kelompok. Pesan-pesan kesehatan disajikan dalam beberapa bentuk permainan seperti permainan monopoli.

Cara memainkannya persis seperti bermain monopoli dan

menggunakan dadu, gaco (petunjuk arah) selain papan

main. Beberapa orang menjadi pemain dan sebagian lagi

berperan sebagai narasumber.

Alat Bantu Promosi Kesehatan

(Menurut Cone of Experience, Edgar Dale)

Alat Bantu Promosi Kesehatan (Menurut Cone of Experience, Edgar Dale)

SISTEM RUJUKAN

JENIS RUJUKAN

Jenis rujukan secara umum dibagi menjadi 2,

yaitu:

Rujukan upaya kesehatan individual

Rujukan upaya kesehatan masyarakat

Skema Sistem rujukan Perorangan

Skema Sistem rujukan Perorangan

RUJUKAN UPAYA KESEHATAN PERORANGAN

Rujukan kasus untuk keperluan

diagnostik, pengobatan, tindakan operasi dan lainlain

Rujukan bahan (spesimen) untuk pemeriksaan

laboratorium klinik

yang lebih lengkap.

Rujukan ilmu pengetahuan

antara lain dengan mendatangkan atau mengirim

tenaga yang lebih kompeten

atau ahli untuk melakukan tindakan, memberi

pelayanan, ahli pengetahuan

dan teknologi dalam meningkatkan kualitas pelayanan.

RUJUKAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Rujukan sarana berupa

bantuan laboratorium dan

teknologi kesehatan.

Rujukan tenaga dalam bentuk dukungan tenaga ahli untuk

penyidikan, sebab dan asal

usul penyakit atau kejadian luar biasa suatu penyakit serta

penanggulangannya pada

bencana alam, dan lain lain

Rujukan operasional berupa

obat, vaksin, pangan pada saat

terjadi bencana, pemeriksaan

bahan (spesimen) bila terjadi

keracunan massal, pemeriksaan air minum penduduk dan sebagainya

Jenis Rujukan Berdasarkan Tingkatannya

Rujukan horizontal : rujukan yang dilakukan

antar pelayanan kesehatan dalam satu tingkatan apabila perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan

sesuai dengan kebutuhan pasien karena keterbatasan

fasilitas, peralatan dan/atau ketenagaan yang sifatnya sementara atau menetap.

Misalya rujukan dari RS tipe B ke RS tipe B lainnya

Rujukan vertikal adalah rujukan yang dilakukan

antar pelayanan kesehatan yang berbeda tingkatan, dapat dilakukan dari tingkat pelayanan yang lebih rendah ke

tingkat pelayanan yang lebih tinggi atau sebaliknya.

Misalnya rujukan dari puskesmas ke RS

JENIS RUJUKAN

Interval referral: pelimpahan wewenang dan

tanggungjawab penderita sepenuhnya kepada dokter

konsultan untuk jangka waktu tertentu, dan selama jangka

waktu tersebut dokter tsb tidak ikut menanganinya.

Collateral referral: menyerahkan wewenang dan

tanggungjawab penanganan penderita hanya untuk satu

masalah kedokteran khusus saja.

Cross referral: menyerahkan wewenang dan

tanggungjawab penanganan penderita sepenuhnya kepada

dokter lain untuk selamanya.

Split referral: menyerahkan wewenang dan tanggungjawab

penanganan penderita sepenuhnya kepada beberapa

dokter konsultan, dan selama jangka waktu pelimpahan wewenang dan tanggungjawab tersebut dokter pemberi

rujukan tidak ikut campur.

DESIGN PENELITIAN

DESAIN PENELITIAN

Secara umum dibagi menjadi 2:

DESKRIPTIF: memberi gambaran distribusi dan

frekuensi penyakit saja. Misalnya prevalensi

DM tipe 2 di DKI Jakarta, 10 penyakit

terbanyak di Puskesmas X.

ANALITIK: mencari hubungan antara paparan

dengan penyakit. Misalnya penelitian

hubungan antara obesitas dengan DM tipe 2.

DESAIN PENELITIAN

STUDY DESIGNS Descriptive Analytical Case report (E.g. Cholera) Case series Observational Experimental
STUDY
DESIGNS
Descriptive
Analytical
Case report (E.g. Cholera)
Case series
Observational
Experimental
Cross-sectional
1.
Cross-sectional
Clinical trial (parc vs. aspirin
in Foresterhill)
2.
Cohort
3.
Case-control
Field trial (preventive
programmes )
4.
Ecological

Prinsip Desain Studi Analitik Observasional

Cross-sectional

Pajanan/ faktor risiko dan outcome dinilai dalam waktu yang bersamaan.

Cohort study

Individu dengan pajanan/ faktor risiko diketahui, diikuti

sampai waktu tertentu, kemudian dinilai apakah outcome terjadi atau tidak.

Case-control study

Individu dengan outcome diketahui, kemudian digali

riwayat masa lalunya apakah memiliki pajanan/ faktor risiko atau tidak.

Prinsip Desain Studi Analitik Observasional

PAST

PAST

PRESENT

PRESENT

FUTURE

FUTURE

Time
Time
Time

Time

Time
Time
Observasional PAST PAST PRESENT PRESENT FUTURE FUTURE Time Cross -sectional study Cross -sectional study Assess

Cross -sectional study

Cross -sectional study

Assess exposure and outcome

Case -control study

Case -control study

Prospective cohort

Prospective cohort

Retrospective cohort

Retrospective cohort

Assess

Assess

exposure

exposure

Known

exposure

Known outcome Known exposure Assess outcome
Known
outcome
Known
exposure
Assess
outcome
Assess Assess outcome outcome
Assess
Assess
outcome
outcome

Contoh: Penelitian ingin mengetahui Hubungan

ASI Eksklusif dengan Diare pada Anak 1-3 tahun

Bila menggunakan desain cross sectional, maka dalam

satu waktu peneliti mengumpulkan data semua anak

berusia 1-3 tahun dan ditanyakan apakah mendapat

ASI eksklusif dan berapa frekuensi diare selama ini secara bersamaan.

Bila menggunakan desain case control, dimulai dengan

peneliti menentukan subyek anak 1-3 tahun yang

pernah mengalami diare dengan yang tidak pernah

mengalami diare. Kemudian ibu diwawancara apakah

sebelumnya memberi ASI eksklusif atau tidak.

Contoh: Penelitian ingin mengetahui Hubungan

ASI Eksklusif dengan Diare pada Anak 1-3 tahun

Bila menggunakan desain kohort (prospektif), maka dimulai

dengan peneliti mengumpulkan subyek penelitian berusia 6

bulan yang diberi ASI eksklusif dan yang tidak diberi ASI

eksklusif. Kemudian, subyek tersebut diamati selama 1

tahun untuk dilihat apakah mengalami diare atau tidak.

Bila menggunakan desain kohort (retrospektif), dari catatan

rekam medis RS tahun 2015 dimulai dengan dikumpulkan

data bayi yang diberi ASI eksklusif dan yang tidak diberi ASI eksklusif. Kemudian rekam medis ditelusuri, dari tahun

2015-2016 apakah subyek pernah mengalami diare atau

tidak.

Prinsip

Kohort

Prinsip Kohort • Studi kohort selalu dimulai dari subyek yang tidak sakit. Kelompok subyek dibagi menjadi

Studi kohort selalu dimulai dari subyek yang tidak sakit. Kelompok subyek

dibagi menjadi subyek yang terpajan dan tidak terpajan. Kemudian

dilakukan pengamatan sampai terjadinya penyakit atau sampai waktu

yang ditentukan.

Kohort Prospektif vs Retrospektif

Kohort Prospektif vs Retrospektif • Baik kohort prospektif maupun retrospektif selalu dimulai dari menjadi subyek yang

Baik kohort prospektif

maupun retrospektif selalu

dimulai dari menjadi subyek yang tidak sakit.

Kohort prospektif dimulai saat ini dan diikuti ke depan sampai terjadi penyakit.

Pada kohort retrospektif, peneliti kembali ke masa

lalumelalui rekam medik,

mencari subyek yang sehat

pada tahun tertentu kemudian mengikuti perkembangannya melalui

catatan rekam medik hingga

terjadinya penyakit.

Desain Cross Sectional

K E L E B I H A N :

Mengukur angka prevalensi

Mudah dan cepat

Sumber daya dan dana yang

efisien karena pengukuran

dilakukan dalam satu waktu

Kerjasama penelitian

(response rate) dengan

desain ini umumnya tinggi.

K E L E M A H A N :

Sulit membuktikan

hubungan sebab-akibat,

karena kedua variabel

paparan dan outcome

direkam bersamaan.

Desain ini tidak efisien

untuk faktor paparan atau

penyakit (outcome) yang

jarang terjadi.

Desain Case Control

K E L E B I H A N :

Dapat membuktikan

hubungan sebab-akibat.

Tidak menghadapi kendala

etik, seperti halnya

penelitian kohort dan

eksperimental.

Waktu tidak lama,

dibandingkan desain kohort.

Mengukur odds ratio (OR).

K E K U R A N G A N :

Pengukuran variabel secara

retrospektif, sehingga

rentan terhadap recall bias.

Kadang sulit untuk memilih

subyek kontrol yang

memiliki karakter serupa

dengan subyek kasus

(case)nya.

Desain Kohort

K E L E B I H A N :

Mengukur angka insidens.

Keseragaman observasi

terhadap faktor risiko dari

waktu ke waktu sampai terjadi outcome, sehingga merupakan

cara yang paling akurat untuk

membuktikan hubungan

sebab-akibat.

Mengukur Relative Risk (RR).

K E K U R A N G A N :

Memerlukan waktu penelitian

yang relative cukup lama.

Memerlukan sarana dan

prasarana serta pengolahan data yang lebih rumit.

Kemungkinan adanya subyek penelitian yang drop out/ loss

to follow up besar.

Menyangkut masalah etika

karena faktor risiko dari

subyek yang diamati sampai

terjadinya efek, menimbulkan

ketidaknyamanan bagi subyek.

UKURAN ASOSIASI DALAM PENELITIAN

Digunakan pada studi analitik (cross sectional,

case control, kohort, studi eksperimental).

Untuk mengukur kekuatan hubungan sebab-akibat

antara variabel paparan dengan variabel outcome.

Menunjukkan bagaimana suatu kelompok lebih

rentan mengalami sakit dibanding kelompok

lainnya.

Ukuran Asosiasi yang Sering Digunakan

Relative risk (RR) ukuran asosiasi dari studi kohort

Odds ratio (OR) ukuran asosiasi dari studi case

control

Prevalence ratio (PR) & prevalence odds ratio (POR)

ukuran asosiasi dari studi cross sectional

Tabel 2x2

Cara yang paling umum dan sederhana untuk

menghitung ukuran asosiasi.

Exposure

Outcome

Yes

No

Total

Yes

a

b

a

+ b

No

c

d

c

+ d

Total

a + c

b + d

a + b + c + d

Exposure

Outcome

Yes

No

Total

Yes

a

b

a

+ b

No

c

d

c

+ d

Total

a + c

b + d

a + b + c + d

Relative risk (RR):

insidens penyakit pada kelompok yang terpapar (a/(a+b))

dibandingkan dengan insidens penyakit pada kelompok yang tidak terpapar (c/(c+d))

Rumus RR: a/(a+b)

c/(c+d)

Exposure

Outcome

Yes

No

Total

Yes

a

b

a

+ b

No

c

d

c

+ d

Total

a + c

b + d

a + b + c + d

Odds ratio (OR):

Odds penyakit pada kelompok terpapar (a/b) dibandingkan dengan odds penyakit pada kelompok tidak terpapar (c/d)

Rumus OR: a/b = ad

c/d bc

Exposure

Outcome

Yes

No

Total

Yes

a

b

a

+ b

No

c

d

c

+ d

Total

a + c

b + d

a + b + c + d

Rumus prevalence ratio (PR) sama dengan rumus RR, yaitu:

PR: a/(a+b) c/(c+d)

Rumus prevalence odds ratio (POR) sama dengan rumus OR, yaitu:

POR: ad

bc

Interpretasi RR/OR/PR

RR/OR/PR= 1 menunjukkan tidak ada hubungan antara paparan

dengan outcome.

RR/OR/PR lebih dari 1 menunjukkan asosiasi positif (semakin tinggi paparan, semakin tinggi risiko mengalami penyakit) paparan

yang diteliti merupakan FAKTOR RISIKO suatu penyakit.

RR/OR/PR kurang dari 1 menunjukkan bahwa paparan bersifat

protektif terhadap terjadinya outcome(semakin tinggi paparan,

semakin rendah risiko mengalami penyakit) paparan yang diteliti

merupakan FAKTOR PROTEKTIF terjadinya suatu penyakit.

UJI DIAGNOSTIK

UJI DIAGNOSTIK

 

SAKIT (+)

SAKIT (-)

H A S I L

T E S T

( + )

True Positive (TP)

False Positive (FP)

H A S I L

T E S T

( - )

False Negative (FN)

True Negative (TN)

SENSITIVITAS =

SPESIFISITAS =

Kemampuan tes untuk

mendeteksi orang yang

sakit dengan benar.

Kemampuan tes untuk

mendeteksi orang yang

tidak sakit dengan

benar.

TP

TP+FN

TN

FP+TN

UJI DIAGNOSTIK

 

SAKIT (+)

SAKIT (-)

H A S I L

T E S T

( + )

True Positive (TP)

False Positive (FP)

H A S I L

T E S T

( - )

False Negative (FN)

True Negative (TN)

POSITIVE

PREDICTIVE VALUE

=

NEGATIVE

PREDICTIVE VALUE

=

Persentase pasien

dengan hasil test (+)

yang benar-benar sakit

Persentase pasien

dengan hasil test(-) yang

benar-benar tidak sakit

TP

TP+FP

TN

FN+TN

SENSITIVITAS, SPESIFISITAS, PPV, NPV

Rule of thumb:

Sensitivitas dan spesifisitas TIDAK DIPENGARUHI oleh

prevalensi penyakit di wilayah tempat alat diagnostik

digunakan.

Sedangkan, PPV dan NPV DIPENGARUHI oleh

prevalensi penyakit di wilayah tempat alat diagnostik

digunakan.

Pada tempat dengan prevalensi tinggi, PPV akan semakin tinggi. Pada tempat dengan prevalensi rendah, PPV akan rendah.

Sebaliknya, NPV akan semakin rendah pada tempat

dengan prevalensi tinggi. Dan NPV akan tinggi pada tempat dengan prevalensi rendah.

SAMPLING

TEKNIK SAMPLING

TEKNIK SAMPLING

Probability Sampling Techique lebih baik

dibanding non-probability

Simple Random Sampling: pengambilan sampel dari

semua anggota populasi dilakukan secara acak tanpa

memperhatikan strata/tingkatan yang ada dalam

populasi itu.

Stratified Sampling: Penentuan sampling tingkat

berdasarkan karakteristik tertentu (usia, jenis kelamin,

dsb). Misalnya untuk mengambil sampel dipisahkan

dulu jenis kelamin pria dan wanita. Baru kemudian dari

kelompok pria diambil sampel secara acak, demikian

juga dari kelompok wanita.

Probability Sampling Techique lebih baik dibanding non-probability

Cluster Sampling: disebut juga sebagai teknik sampling daerah.

Pemilihan sampel berdasarkan daerah yang dipilih secara acak.

Contohnya mengambil secara acak 20 kecamatan di Jakarta. Seluruh penduduk dari 20 kecamatan terpilih dijadikan sampel.

Multistage random sampling: teknik sampling yang menggunakan 2

teknik sampling atau lebih secara berturut-turut. Contohnya

mengambil secara acak 20 kecamatan di Jakarta (cluster sampling).

Kemudian dari masing-masing kecamatan terpilih, diambil 50 sampel secara acak (simple random sampling).

Systematical Sampling anggota sampel dipilh berdasarkan urutan

tertentu. Misalnya setiap kelipatan 10 atau 100 dari daftar pegawai

disuatu kantor, pengambilan sampel hanya nomor genap atau yang ganjil saja.

Non-probability Sampling

Purposive Sampling: sampel yang dipilih secara khusus

berdasarkan tujuan penelitiannya.

Snowball Sampling: Dari sampel yang prevalensinya

sedikit ,peneliti mencari informasi sampel lain dari

yang dijadikan sampel sebelumnya, sehingga makin

lama jumlah sampelnya makin banyak

Quota Sampling:anggota sampel pada suatu tingkat dipilih dengan jumlah tertentu (kuota) dengan ciri-ciri

tertentu

Convenience sampling:mengambil sampel sesuka

peneliti (kapanpun dan siapapun yang dijumpai

peneliti)

When population is small, homogeneous & readily available. All subsets of the frame are given
When population is small, homogeneous & readily available. All subsets of the frame are given
When population is small, homogeneous & readily available. All subsets of the frame are given

When population is small, homogeneous & readily available. All subsets of the frame are given an equal probability.

The frame organized into

separate "strata." Each stratum

is

then sampled as an

independent sub-population,

out of which individual elements can be randomly selected

In this technique, the total

population is divided into these

groups (or clusters) and

a

simple random sample of the

groups is selected (two stage) Ex. Area

sampling or geographical cluster sampling

EPIDEMIOLOGI

KEJADIAN EPIDEMIOLOGIS PENYAKIT

Sporadik: kejadian penyakit tertentu di suatu

daerah secara acak dan tidak teratur.

Contohnya: kejadian pneumonia di DKI

Jakarta.

Endemik: kejadian penyakit di suatu daerah

yang jumlahnya lebih tinggi dibanding daerah

lain dan hal tersebut terjadi terus menerus.

Contohnya: Malaria endemis di Papua.

Epidemik dan KLB: Epidemik dan KLB sebenarnya

memiliki definisi serupa, namun KLB terjadi pada

wilayah yang lebih sempit (misalnya di satu

kecamatan saja). Indonesia memiliki kriteria KLB

berdasarkan Permenkes 1501 tahun 2010 (di

slide selanjutnya).

Pandemik: merupakan epidemik yang terjadi

lintas negara atau benua. Contohnya: kejadian

MERS-COV di dunia tahun 2014-2015.

Endemic vs Epidemic

Epidemic Endemic of Cases of a DiseaseNumber
Epidemic
Endemic
of Cases of a DiseaseNumber

Time

Endemic vs Epidemic Epidemic Endemic of Cases of a DiseaseNumber Time

Kriteria KLB (Permenkes 1501, tahun 2010)

Timbulnya suatu penyakit menular tertentu yang sebelumnya tidak ada

atau tidak dikenal pada suatu daerah

Peningkatan kejadian kesakitan terus-menerus selama 3 (tiga) kurun

waktu dalam jam, hari atau minggu berturut-turut menurut jenis

penyakitnya

Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan

periode sebelumnya dalam kurun waktu jam, hari, atau minggu menurut

jenis penyakitnya

Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 (satu) bulan menunjukkan

kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata jumlah

per bulan dalam tahun sebelumnya

Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama 1 (satu) tahun

menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata

jumlah kejadian kesakitan per bulan pada tahun sebelumnya

Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1 (satu) kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% (lima puluh persen)

atau lebih dibandingkan dengan angka kematian kasus suatu penyakit

periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama

Angka proporsi penyakit (Proportional Rate) penderita baru pada satu

periode menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding satu periode

sebelumnya dalam kurun waktu yang sama

PELAPORAN KLB

Alur pelaporan KLB adalah sebagai berikut:

Masyarakat

KLB Alur pelaporan KLB adalah sebagai berikut: Masyarakat Puskesmas Dinkes Kabupaten Dinkes Propinsi Kementerian

Puskesmas

pelaporan KLB adalah sebagai berikut: Masyarakat Puskesmas Dinkes Kabupaten Dinkes Propinsi Kementerian Kesehatan

Dinkes

Kabupaten

pelaporan KLB adalah sebagai berikut: Masyarakat Puskesmas Dinkes Kabupaten Dinkes Propinsi Kementerian Kesehatan

Dinkes

Propinsi

pelaporan KLB adalah sebagai berikut: Masyarakat Puskesmas Dinkes Kabupaten Dinkes Propinsi Kementerian Kesehatan

Kementerian

Kesehatan

Laporan Puskesmas ke Dinas Kesehatan

Laporan W1(Laporan Wabah)

Isi Laporan: Tempat KLB, Jumlah P/M, Gejala/tanda-tanda.

Dalam jangka waktu 24 jam

setelah mengetahui kepastian

(hasil pengecekan lapangan) adanya tersangka KLB.

Selain melalui pos, penyampaian

isi laporan dapat dilakukan dengan sarana komunikasi cepat

lainnya, sesuai situasi dan kondisi

yang ada.

Pembuat laporan: Kepala Puskesmas.

Laporan W2

Laporan mingguan KLB.

Isi laporan : jumlah penderita dan kematian PMTKLB selama satu

minggu yang tercatat di

Puskesmas.

Pembuatan laporan setiap

minggu.

Pengiriman laporan : setiap Senin/Selasa.

Pembuat laporan : Kepala

Puskesmas.

POLA EPIDEMI PENYAKIT MENULAR

POLA EPIDEMI PENYAKIT MENULAR

Common source: satu orang atau sekelompok

orang tertular penyakit dari satu sumber yang

sama, dibagi menjadi:

Point

Continuous

Intermittent

Propagated/ progressive: penyakit menular dari 1 orang ke orang yang lain (sehingga umumnya

muncul penyakit baru dengan jarak 1 masa

inkubasi).

Point Source Epidemic

Terjadi bila sekelompok orang terpapar sumber

penyakit dalam waktu singkat sehingga setiap orang

menjadi sakit dalam waktu hampir bersamaan.

setiap orang menjadi sakit dalam waktu hampir bersamaan. Contoh: Insidens hepatitis A di Penssylvania yang terjadi

Contoh:

Insidens hepatitis A di

Penssylvania yang terjadi

akibat sayuran yang

mengandung virus hepatitis A yang dikonsumsi pengunjung restoran pada

tanggal 6 November.

Continuous Common Source Epidemic

Terjadi bila paparan terjadi pada jangka waktu yang

panjang sehingga insidens kasus baru terjadi terus

menerus berminggu-minggu atau lebih panjang.

terjadi terus menerus berminggu-minggu atau lebih panjang. Contoh: Paparan air yang mengandung bakteri terjadi terus

Contoh:

Paparan air yang mengandung bakteri terjadi terus menerus,

sehingga insidens diare terjadi

berminggu-minggu.

Intermittent Common Source Epidemic

bila paparan terjadi pada jangka waktu yang

panjang tetapi insidens kasus baru terjadi hilang timbul.

Source Epidemic • bila paparan terjadi pada jangka waktu yang panjang tetapi insidens kasus baru terjadi

Propagated/ Progressive Epidemic

Penularan dari satu orang ke orang lain

Pada penyakit yang penularannya melalui kontak atau melalui vehikulum.

Propagated/progressive pandemic propagated epidemic yang terjadi lintas negara.

 propagated epidemic yang terjadi lintas negara. Contoh: Kasus campak yang satu ke kasus campak yang

Contoh:

Kasus campak yang satu ke

kasus campak yang lain

berjarak 11 hari (1 masa inkubasi).

Mixed Epidemic

Gabungan antara common source epidemic

dan propagated epidemic.

antara common source epidemic dan propagated epidemic. Contoh: Kasus shigellosis di sebuah festival musik. Awalnya

Contoh:

Kasus shigellosis di sebuah festival

musik. Awalnya terjadi penularan

serempak saat festival berlangsung. Sehingga beberapa hari setelah

festival, kejadian shigellosis meningkat

sangat tinggi (common source epidemic). Namun satu minggu

kemudian, muncul lagi kasus

shigellosis karena penularan dari satu orang ke orang lain (propagated epidemic).

5 LEVEL OF PREVENTION

FIVE LEVEL OF PREVENTION

Health promotion Specific protection Early diagnosis & prompt treatment Disability limitation
Health promotion
Specific
protection
Early diagnosis &
prompt treatment
Disability
limitation

Rehabilitation

Dilakukan pada orang sehat

Promosi kesehatan

Contoh: penyuluhan

Dilakukan pada orang sehat

Mencegah terjadinya kesakitan

Contoh: vaksinasi, cuci tangan pakai sabun

Dilakukan pada orang sakit

Tujuannya kuratif

Contoh: Pengobatan yang tepat pada pasien TB

Dilakukan pada orang sakit

Membatasi kecacatan

Contoh: pasien neuropati DM latihan senam kaki

Dilakukan pada orang sakit dengan kecacatan

Optimalisasi fungsi tubuh yang masih ada

Contoh: latihan berjalan pada pasien pasca stroke

Pencegahan Primer-Sekunder-Tersier

Pencegahan Primer-Sekunder-Tersier

Primordial Prevention & Quartenary Prevention

Primordial prevention

consists of actions to minimize future

hazards to health and hence inhibits the establishment of factors which are known to increase the risk of

disease.

It addresses broad health

determinants rather than preventing

personal exposure to risk factors,

which is the goal of primary prevention.

The difference with primary

prevention:

Primary prevention seeks to prevent the onset of specific diseases via risk

reduction by altering behaviors or

exposures that can lead to disease or by enhancing resistance to the effects of exposure to a disease agent.

Quartenary prevention

Action taken to identify patient at risk

of over-medicalization, to protect him from new medical invasion, and

to suggest him interventions ethically

acceptable.

For example:

the avoidance of screening without

foundation, such as in prostate cancer

The appropriate use of antibiotics in upper respiratory tract infections

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4311333/

Pencegahan Primer-Sekunder-Tersier

PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH

DENGUE

PENGUKURAN KEPADATAN JENTIK NYAMUK

House Index (HI) adalah jumlah rumah positif jentik dari seluruh rumah yang diperiksa. HI = Jumlah rumah yang positif jentik x 100%

Jumlah rumah yang diperiksa

Container Index (CI) adalah jumlah kontainer yang ditemukan larva dari seluruh kontainer yang diperiksa

CI = Jumlah kontainer yang positif jentik x 100% Jumalh kontainer yang diperiksa

Breteu Index (BI) adalah jumlah kontainer dengan larva dalam seratus rumah

BI = Jumlah kontainer yang positif jentik x 100% 100 rumah yang diperiksa

PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH DENGUE

Pencegahan dilaksanakan oleh masyarakat di rumah dan Tempat

umum dengan melakukan Pemberantasan sarang Nyamuk (PSN) yang meliputi:

Menguras tempat penampungan air sekurang-kurangnya seminggu sekali, atau menutupnya rapat-rapat.

Mengubur barang bekas yang dapat menampung air

Menaburkan racun pembasmi jentik (abatisasi)

Memelihara ikan

Cara-cara lain membasmi jentik (menggunakan repellent, obat nyamuk bakar, kelambu, memasang kawat kasa dll)

Penemuan, pertolongan dan pelaporan

penderita penyakit demam berdarah dengue

Keluarga yang anggotanya menunjukkan gejala penyakit demam berdarah dengue memberikan pertolongan pertama (memberi minum banyak, kompres dingin dan dan obat penurun panas yang tidak mengandung asam salisilat) dan dianjurkan segera memeriksakan kepada dokter atau unit pelayanan kesehatan.

Petugas kesehatan melakukan pemeriksaan, penentuan diagnosa dan pengobatan/perawatan sesuai dengan keadaan penderita dan wajib melaporkan kepada puskesmas.

Kepala keluarga diwajibkan segera melaporkan kepada lurah/kepala desa melalui kader, ketua RT/RW, Ketua Lingkungan/Kepala Dusun.

Kepala asrama, ketua RT/RW, Ketua Lingkungan, Kepala Dusun yang mengetahui

adanya penderita/tersangka diwajibkan untuk melaporkan kepada Puskesmas atau melalui lurah/kepala desa.

Lurah/Kepala Desa yang menerima laporan, segera meneruskannya kepada

puskesmas.

Puskesmas yang menerima laporan wajib melakukan penyelidikan epidemiologi

dan pengamatan penyakit.

JENIS DATA

Data

Data
VARIABEL NOMINAL • Data yang diperoleh dengan cara kategorisasi atau klasifikasi. • Posisi data setara.
VARIABEL NOMINAL
• Data yang diperoleh dengan cara
kategorisasi atau klasifikasi.
• Posisi data setara. Misalnya: jenis
pekerjaan.
• Tidak bisa dilakukan operasi matematika
(X, +, - atau : )
VARIABEL INTERVAL • data yang diperoleh dengan cara pengukuran, dimana jarak antar dua titik pada
VARIABEL INTERVAL
• data yang diperoleh dengan cara
pengukuran, dimana jarak antar dua titik
pada skala, sudah diketahui. Misalnya
variabel suhu tubuh dalam Celcius,
sudah diketahui bahwa jaraknya antara
0-100 derajat Celcius.
• Tidak ada angka nol mutlak
• Bisa dilakukan operasi matematika.
VARIABEL ORDINAL • Data yang diperoleh dengan cara kategorisasi atau klasifikasi, tetapi diantara data tersebut
VARIABEL ORDINAL
• Data yang diperoleh dengan cara
kategorisasi atau klasifikasi, tetapi
diantara data tersebut terdapat
hubungan.
• Posisi data tidak setara. Misalnya
tingkat kepuasan pelanggan, dibagi
menjadi tidak puas, puas, dan sangat
puas.
• Tidak bisa dilakukan operasi
matematika (X, +, - atau : )
VARIABEL RASIO • data yang diperoleh dengan cara pengukuran, dimana jarak antar dua titik pada
VARIABEL RASIO
• data yang diperoleh dengan cara
pengukuran, dimana jarak antar dua titik
pada skala, sudah diketahui.
• Ada angka nol mutlak. Misalnya tinggi
badan, berat badan.
• Bisa dilakukan operasi matematika.

Cara Sederhana Membedakan Variabel Interval dan Rasio

Prinsipnya adalah pada variabel rasio, kita dapat merasiokan 2

pengukuran dengan nilai yang sama.

Contoh variabel rasio:

Berat (berat benda 40 kg dapat diperoleh dari 2 benda dengan berat masing-masing 20 kg)

Gaji (gaji Rp 1.000.000 dapat diperoleh dari 2 orang dengan gaji masing-masing Rp 500.000)

Contoh variabel interval:

Suhu tubuh (Suatu benda dengan suhu 100 derajat C tidak sama

dengan suhu 2 benda yang masing-masing suhunya 50 derajat C)

Tingkat keasaman/ pH (suatu larutan dengan pH 6 tidak sama dengan ada 2 larutan yang masing-masing memiliki pH 3 kemudian

dicampur)

UJI HIPOTESIS

HIPOTESIS NOL DAN HIPOTESIS ALTERNATIF

Kapan suatu penelitian membutuhkan

hipotesis? Hipotesis diperlukan pada penelitian

analitik (penelitian yang ingin membuktikan

adanya hubungan antara paparan dengan

terjadinya outcome). Pada penelitian yang

deskriptif (misalnya prevalensi hipertensi di

Indonesia), hipotesis tidak harus ada.

Terdapat 2 macam hipotesis: Hipotesis nol (null

hypothesis) dan hipotesis alternatif.

Hipotesis nol (H0) : hipotesis yang

menyatakan tidak adanya hubungan antara

variabel independen/paparan (X) dengan

variabel dependen/outcome (Y). Contoh:

Tidak ada hubungan antara merokok dengan

kanker paru.

Hipotesis alternatif/hipotesis kerja (Ha):

Hipotesis yang menyatakan adanya hubungan antara variabel independen/paparan(X) dan variabel dependen/outcome (Y) yang diteliti. Contoh: Merokok berhubungan dengan kanker paru, atau merokok menyebabkan peningkatan kejadian kanker paru.

Hipotesis Nol dan Hipotesis Alternatif

Kapan hipotesis nol diterima atau ditolak?

Harus dilakukan uji hipotesis dengan menetapkan

terlebih dahulu nilai alpha (α). Alpha adalah tingkat

kesalahan yang ditetapkan di mana hasil penelitian

menyatakan bahwa hipotesis nolnya benar padahal

kenyataan dalam populasi hipotesis alternatif yang

benar. Umumnya disepakati nilai α=0,05.

Bila nilai p-value > α, maka hipotesis nol diterima.

Bila

nilai p-value < α, maka hipotesis nol ditolak

sehingga hipotesis alternatif yang diterima.

Memahami Nilai p dan alpha dengan lebih sederhana

Nilai α merupakan nilai yang

ditetapkan oleh peneliti untuk menunjukkan

seberapa besar

kemungkinan hasil penelitian yang didapat

salah.

Umumnya peneliti sepakat

mentolerir nilai α sebesar

0,05. Artinya kemungkinan hasil penelitian salah

sebesar 5%. Dengan kata

lain, peneliti meyakini hasil penelitiannya 95% valid.

Nilai p merupakan hasil uji

statistik dari penelitian yang menunjukkan seberapa

besar kemungkinan hasil

penelitian tersebut salah.

Misalnya nilai p=0,01, maka

secara sederhana hasil uji statistik menunjukkan

kemungkinan hasil

penelitian salah sebesar 1%.

Hasil penelitian dikatakan bermakna secara statistik

bila nilai p lebih kecil dari

nilai α yang ditetapkan.

Tabel Uji Hipotesis

Tabel Uji Hipotesis

TABEL UJI HIPOTESIS

V A R I A B E L

I N D E P E N D E N

D E P E N D E N

UJ I

STAT I ST I K

Kategorik

Kategorik

(2 kategori)

Kategorik

(>2 kategori)

Numerik

Kategorik

Numerik

Numerik

Numerik

Chi square

T-test independen

T-test berpasangan

One Way Anova (tdk berpasangan)

Repeated Anova

(berpasangan)

Korelasi Pearson Regresi Linier

Keterangan:

* : Digunakan bila persyaratan untuk uji chi square tidak terpenuhi

**: Digunakan bila distribusi data numerik tidak normal

UJ I

A LT E R N AT I F

Fisher (digunakan untuk tabel

2x2)*

Kolmogorov-Smirnov

(digunakan untuk tabel bxk)*

Mann-Whitney**

Wilcoxon**

Kruskal Wallis**

Friedman**

Korelasi Spearman**

Langkah Menentukan Uji Statistik

Tentukan sifat variabel yang diuji (numerik atau kategorik)

Bila ada variabel yang bersifat numerik, tentukan apakah

variabel tersebut terdistribusi normal atau tidak. Atau bila

kedua variabel bersifat kategorik, tentukan apakah memenuhi persyaratan uji chi square. Untuk mengerjakan

soal UKDI, bila tidak disebutkan, maka diasumsikan bahwa variabel tersebut terdistribusi normal atau memenuhi

persyaratan chi square.

Lihat tabel untuk menentukan uji hipotesis apa yang sesuai.

Syarat Uji Chi Square

Tidak ada cell dengan nilai frekuensi kenyataan atau

disebut juga Actual Count (F0) sebesar 0 (Nol).

Apabila bentuk tabel kontingensi 2 X 2, maka tidak boleh

ada 1 cell saja yang memiliki frekuensi harapan atau disebut juga expected count (“Fh”) kurang dari 5.

Apabila bentuk tabel lebih dari 2 x 2, misak 2 x 3, maka jumlah cell dengan frekuensi harapan yang kurang dari 5

tidak boleh lebih dari 20%.

Bila tidak memenuhi salah satu atau lebih persyaratan

di atas, maka uji chi square tidak dapat digunakan.

One Sample vs Two Sample T-Test

One sample T-test

Mengetahui perbedaan mean (rerata) satu kelompok

dibandingkan dengan mean

yang sudah ditetapkan peneliti atau mean sudah diketahui di populasi.

Misalnya penelitian tentang

mean gula darah sewaktu (GDS)

pada pasien DM yang diberi

metformin. Contoh pertanyaan penelitiannya adalah: apakah

mean GDS pasien DM yang

diberi metformin lebih dari 200 mg/dl?

Two Sample T-test

Mengetahui apakah terdapat perbedaan mean antara dua

kelompok populasi.

Misalnya penelitian ingin

mengetahui apakah terdapat

perbedaan mean GDS dari kelompok pasien DM yang

diberi metformin dengan

kelompok pasien DM yang

diberi insulin?

Independent vs Paired T-Test

Independent T-test

Prinsipnya adalah setiap

subjek hanya dilakukan 1 kali

pengukuran.

Contoh: penelitian obat A dan

obat B terhadap kadar

kolesterol. Subyek dibagi dua kelompok, kelompok pertama

diberi obat A dan kelompok

kedua diberi obat B. setelah 3

bulan, tiap subyek diukur kadar kolesterolnya.

Paired T-test

Prinsipnya adalah setiap

subjek dilakukan pengukuran

lebih dari 1 kali.

Contoh: penelitian obat A dan

obat B terhadap kadar

kolesterol. Subyek dibagi dua kelompok, kelompok pertama

diberi obat A dan kelompok

kedua diberi obat B. Sebelum

mulai penelitian, tiaap subyek diukur kadar kolesterolnya.

setelah 3 bulan, tiap subyek

diukur kadar kolesterolnya lagi.

Korelasi Pearson vs Regresi Linier

Penelitian yang meneliti hubungan antara dua

variabel, di mana kedua variabel bersifat

numerik, dapat menggunakan korelasi Pearson

dan regresi linier.

Korelasi pearson digunakan untuk mengetahui arah dan kekuatan hubungan antara kedua

variabel. Sedangkan regresi linier digunakan

untuk memprediksi nilai variabel dependen

melalui variabel independen (dinyatakan dalam

persamaan Y = a + bX).

Korelasi Pearson vs Regresi Linier

Contohnya penelitian ingin mengetahui

hubungan berat badan dan tekanan darah.

Hasil uji korelasi Pearson didapatkan r =+0,8, artinya

terdapat hubungan kuat bahwa semakin tinggi berat badan, semakin tinggi pula tekanan darah. Sebaliknya,

bila didapatkan nilai r=-(0,8), artinya terdapat

hubungan kuat bahwa semakin tinggi berat badan, semakin rendah tekanan darah.

Bila menggunakan regresi linier, akan didapatkan

persamaan untuk memprediksi nilai tekanan darah

melalui berat badan. Misalnya tekanan darah sistolik =

20 + (2 x berat badan).

KOEFISIEN KORELASI

Penelitian yang meneliti hubungan antara dua variabel numerik

menggunakan uji Korelasi Pearson. Hasil uji korelasi Pearson dinyatakan dalam R (koefisen korelasi) sebagai berikut:

dinyatakan dalam R (koefisen korelasi) sebagai berikut: Prinsip: Nilai koefisien korelasi berkisar antara 0 sampai

Prinsip:

Nilai koefisien korelasi berkisar antara 0 sampai 1. Nol berarti tidak ada korelasi sama sekali,

sedangkan satu menandakan korelasi sempurna. Koefisien korelasi yang semakin mendekati

Contoh Uji Korelasi

Misalnya pada penelitian yang ingin mengetahui

hubungan antara kolesterol total (mg/dL) dengan tekanan darah sistolik (mmHg) didapatkan nilai R-nya

sebesar 0,8.

Hal ini berarti terdapat korelasi kuat antara kolesterol

total dan tekanan darah sistolik (semakin tinggi kolesterol, semakin tinggi tekanan darah sistolik).

Namun apakah hasil tersebut bermakna secara statistik

atau hanya merupakan kebetulan saja (ada

kemungkinan tidak sesuai dengan kenyataan di

populasi)? Harus diliihat nilai p-nya.

UKURAN FREKUENSI PENYAKIT

PROPORSI DAN RASIO

Proporsi: perbandingan yang pembilangnya

merupakan bagian dari penyebut. Proporsi

digunakan untuk melihat komposisi suatu

variabel dalam populasi.

Rumus proporsi: x/ (x+y)

Rasio: perbandingan dua bilangan yang tidak

saling tergantung. Ratio digunakan untuk

menyatakan besarnya kejadian.

Rumus rasio: x/y

UKURAN MORBIDITAS PENYAKIT

 

Definisi

Rumus

Insidens/ insidens

Jumlah kasus baru dalam

Jumlah kasus baru/ jumlah populasi

kumulatif/ incidence

periode waktu tertentu

berisiko di awal periode

rate/ attack rate/ attack risk

Attack rate/risk lebih sering

digunakan pada konteks KLB.

Secondary attack rate

jumlah penderita baru suatu penyakit yang terjangkit pada serangan kedua dibandingkan dengan jumlah penduduk

Jumlah penderita baru pd serangan kedua/ (jumlah populasi berisiko- jumlah orang yang terkena serangan pertama)

dikurangi orang/penduduk yang pernah terkena penyakit pada

serangan pertama.

Incidence density rate (or person-time rate)

jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada

Jumlah kasus baru/ jumlah populasi berisiko di awal periode (dalam

suatu jangka waktu tertentu

satuan orang-waktu)

(dalam satuan orang-waktu)

Ukuran Morbiditas Penyakit (2)

 

Definisi

Rumus

Point prevalence

Jumlah seluruh kasus pada satu

Jumlah seluruh kasus (kasus lama

waktu tertentu, misalnya jumlah seluruh kasus hipertensi per

dan kasus baru)/ jumlah populasi berisiko pada satu waktu yang

tanggal 1 April 2017.

spesifik (tanggal tertentu atau jam

 

tertentu).

Period prevalence

Jumlah seluruh kasus pada satu

Jumlah seluruh kasus (kasus lama

periode tertentu, misalnya jumlah

dan kasus baru)/ jumlah populasi

seluruh kasus hipertensi dari Januari-Desember 2016.

berisiko pada satu periode tertentu.

 

Jumlah populasi berisiko diambil dari jumlah populasi pada

pertengahan periode.

Ukuran Mortalitas Penyakit

Ukuran

Definisi

Crude death rate/ angka kematian kasar

angka kematian kasar atau jumlah seluruh kematian selama satu tahun dibagi jumlah penduduk pada pertengahan tahun.

Case fatality rate

persentase angka kematian oleh sebab penyakit tertentu, untuk menentukan kegawatan/ keganasan penyakit tersebut.

Rumus: jumlah kematian/jumlah seluruh kasus x 100%.

Angka kematian ibu

jumlah kematian ibu oleh sebab kehamilan/ melahirkan/ nifas

(sampai 42 hari post partum) per 100.000 kelahiran hidup.

Rumus: jumlah kematian ibu/jumlah kelahiran hidup x 100.000

Angka kematian bayi

jumlah kematian bayi (umur <1tahun) per 1000 kelahiran

hidup. Rumus: jumlah kematian bayi/jumlah kelahiran hidup x

1000