Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN CRANIOTOMY TUMOR REMOVAL
DI RUANG OK RSUD ULIN BANJARMASIN

Tanggal 20 – 22 Mei 2019

Oleh:
FATMAWATI, S. Kep
NIM. 1830913320050

PENDIDIKAN PROFESI NERS ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2019
LEMBAR PENGESAHAN

NAMA : Fatmawati, S.Kep

NIM : 1830913320050

JUDUL LP : - Laporan Pendahuluan Craniotomy Tumor Removal

- Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Craniotomy


Tumor Removal di Ruang OK RSUD Ulin Banjarmasin

- Resume Pasien di Ruang OK

Banjarmasin, Mei 2019

Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Rismia Agustina, S.Kep, Ns., M.Kep Mahyudi, S.Kep., Ns.


NIP. 19840812 201404 2 001 NIP. 19670728 198802 1 001
Definisi:
Tumor otak adalah lesi oleh karena ada desakan ruang baik jinak maupun ganas yang tumbuh
di otak, meningen dan tengkorak.
Tumor Otak
Etiologi
Belum diketahui pasti penyebab Namun ada bukti
kuat yang menunjukan bahwa beberapa agent Komplikasi :
bertanggung jawab untuk beberapa tipe tumor 1. Gangguan fisik neurologist
tumor tertentu. Agent tersebut meliputi : 2. Gangguan kognitif
1. Genetik 3. Gangguan tidur dan mood
2. Kimia dan Virus 4. Disfungsi seksual .
3. Radiasi
4. Trauma

Klasifikasi
Manifestasi klinis: 1. Glioma
Tanda dan gejala tumor otak sangat bervariasi, Jumlah ½ tumor otak. Tumbuh pada tiap jaringan dari otak. Infiltrasi dari terutama ke jaringan
tergantung pada tempat lesi dan kecepatan hemisfer cerebral. Tumbuh sangat cepat.
pertumbuhannya, antara lain : 2. Meningoma
1. Lobus Frontalis Dari 13 % sampai 18 % merupakan tumor primer intracranial. Tumbuh dari selaput meningeal
Gangguan kepribadian, Epilepsi, Afasia mototik, otak. Biasanya jinak tapi bisa berubah menjadi maligna. Biasanya berkapsul dan penyembuhan
Hemiparesis, Ataksia, Gangguan bicara,Gangguan melaui bedah sangat mungkin. Pertumbuhan kembali mungkin
gaya berjalan 3. Tumor Pituitari
2. Lobus Oksipitalis, Tumor pada semua kelompok umur, tapi lebih sering pada wanita. Tumbuh dari berbagai jenis
Gangguan penglihatan jaringan. Pendekatan pembedahan biasanya berhasil. Kekembuhan kembali mungkin.
3. Lobus Temporalis 4. Neuroma (Schwannoma, neuro)
Halusinasi, Kejang psikomotor, Tinitus (bunyi Neuroma akustik sangat sering. Tumbuh dari sel-sel Schwann di dalam meatus auditori pada
berdengung atau berdesing), Kesulitan menyebutkan bagian vestibular saraf cranial III. Biasanya jinak bisa berubah menjadi maligna. Akan tmbuh
objek kembali bila tidak terangkat lengkap. Reseksi bedah sukar karena lokasinya.
4. Lobus Parietalis 5. Tumor Metastase
Tidak mampu merekam gambar, Tidak dapat Dari 2 % sampai 20 % penderita kanker terjadi metastase ke otak Sel kanker menjangkau otak
membedakan mana kiri mana kanan lewat sistem sirkulasi. Reaksi bedah sangat sukar, pemgobatan kurang berhasil. Pemulihan
dibawah satu tahun atau dua tahun tidak biasa
Pemeriksaan Penunjang: Penatalaksanaan:
1. Arterigrafi atau Ventricolugram ; untuk mendeteksi kondisi 1. Pembedahan dengan craniotomy
patologi pada sistem ventrikel dan cisterna. 2. Radiotherapi
2. CT – SCAN ; Dasar dalam menentukan diagnosa. Biasanya merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak
3. Radiogram ; Memberikan informasi yang sangat berharga jarang pula merupakan therapi tunggal. Adapun efek samping
mengenai struktur, penebalan dan klasifikasi; posisi kelenjar : kerusakan kulit di sekitarnya, kelelahan, nyeri karena
pinelal yang mengapur; dan posisi selatursika. inflamasi pada nervus atau otot pectoralis, radang tenggorkan.
4. Elektroensefalogram (EEG) : Memberi informasi mengenai 3. Kemoterapi
perubahan kepekaan neuron. Pemberian obat-obatan anti tumor yang sudah menyebar
5. Ekoensefalogram : Memberi informasi mengenai pergeseran dalam aliran darah. Efek samping : lelah, mual, muntah,
kandungan intra serebral. hilang nafsu makan, kerontokan membuat, mudah terserang
6. Sidik otak radioaktif : Memperlihatkan daerah-daerah penyakit.
akumulasi abnormal dari zat radioaktif. Tumor otak 4. Manipulasi hormonal.
mengakibatkan kerusakan sawar darah otak yang Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk tumor yang
menyebabkan akumulasi abnormal zat radioaktif. sudah bermetastase..
CRANIOTOMY
Definisi:
Craniotomi adalah prosedur
membuka tulang kranium untuk
mengambil
tumor, mengontrol perdarahan dan
untuk membantu menurunkan
tekanan intra kranial.

Indikasi : Komplikasi : Teknik dan tahapan operasi :


1. Pengangkatan jaringan abnormal Beberapa komplikasi yang dapat 1. Informed concent
baik tumor maupun kanker. terjadi pada pasien pascabedah 2. Persiapan alat dan pasien
2. Mengurangi tekanan intrakranial. intrakranial atau kraniotomi adalah 3. Pembiusan dengan IV
3. Mengevakuasi bekuan darah sebagai berikut : 4. Desinfeksi dengan larutan antiseptik, kemudian dipersempit
4. Mengontrol bekuan darah 1. Peningkatan tekanan intracranial dengan linen steril.
5. Pembenahan organ-organ 2. Perdarahan dan syok hipovolemik 5. Buat insisi berbentuk U di atas telinga, insisi lurus di bagian
intrakranial, 3. Ketidakseimbangan cairan dan anterior, bertujuan untuk menghindari cederanya nervus fasialis.
6. Tumor otak elekrolit 6. otot fasia temporalis dipisahkan dengan meninggalkan pedicle di
7. Perdarahan (hemorrage), 4. Infeksi bagian inferior, lalu otot temporalis ditarik ke anterior
8. Kelemahan dalam pembuluh 5. Kejang 7. Kraniotomi diarahkan ke bawah bagian tengah mendekati
darah (cerebral aneurysms) mandibular joint dan meatus auditorius eksternus, lalu dilakukan
9. Peradangan dalam otak pada batas luar sutura skuamosa sehingga sinus sigmoid tidak
10. Trauma pada tengkorak. perlu dibuka.
8. anteroinferior kraniotomi dilakukan drilling agar foramen
spinosum terlihat.
9. Foramen spinosum yang terletak di bagian dasar fosa medialis
akan tampak dan arteri meningeal media dikoagulasi lalu
dipotong..
10. Lakukan diseksi secara hati-hati pada lapisan duramater yang
melekat di sebelah lateral.
ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian Diagnosis keperawatan post operasi:
1. Identitas Klien 1. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi
2. Riwayat
kesehatan 2. Ansietas berhubungan dengan keadaan status kesehatan saat ini
(Keluhan 3. Risiko cedera akibat posisi perioperative dengan faktor risiko disorientasi,gangguan sensorik/ persepsi akibat
Utama, Riwayat anestesia.
Penyakit 4. Resiko kekurangan volume cairan dengan faktor risiko kehilangan volume cairan aktif
sekarang, 5. Risiko jatuh dengan faktor risiko periode pemulihan pasca bedah
dahulu dan
keluarga) 6. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik
3. Pemeriksaan 7. Risiko infeksi dengan faktor risiko prosedur invasif
Fisik
4. Pola persepsi NOC NIC NANDA
5. Pola nutrisi
6. Pola eliminasi Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang Ansietas berhubungan dengan keadaan status kesehatan saat ini
7. Pola tidur dan informasi  NOC: kontrol kecemasan diri
aktivitas  NOC: Pengetahuan; Prosedur penanganan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 15menit,
8. Pola kognitif Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 15 menit, kecemasan klien dapat teratasi, dengan kriteria hasil:
dan persepsi defisiensi pengetahuan dapat teratasi, dengan kriteria hasil: 1. Klien sering menggunakan strategi koping yang efektif
9. Pola 1. Pengetahuan sangat banyak tentang prosedur (skala 4)
mekanisme penanganan., tujuan prosedur, langkah-langkah 2. Klien sering menggunakan teknik relaksasi untuk
koping dan rosedurdan efek samping prosedur yang akan dilakukan mengurangi kecemasan (skala 4)
stress (skala 5) 3. Klien sering mengendalikan respon kecemasan (skala 4)
10. Pola seksual
11. Pola hubungan NIC : Pengajaran; Perioperatif NIC : Pengurangan kecemasan
peran 1. Informasikan pada pasien dan keluarga tentang tanggal, 1. Gunakan pendekatan yang tenang dan menyakinkan.
12. Pola keyakinan waktu dan lokasi operasi serta lamanya operasi. 2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap perilaku klien
dan nilai 2. Kaji riwayat operasi sebelumnya, latar belakang, budaya 3. Jelaskan seluruh prosedur tindakan kepada klien dengan
13. Pemeriksaan dan tingkat pengetahuan klien tentang operasi. perasan yang mungkin muncul pada saat dilakukan tindakan
diagnostik 3. Jelaskan prosedur persiapan pre operasi 4. Berikan informasi tentang diagnose, prognosis dan tindakan
4. Jelaskan obat-obat preoperatifyang diberikan , efek yang 5. Dengarkan klien
akan ditimbulkan dan alasan penggunaan. 6. Motivasi klien utnuk mengungkapkan perasaan, pengharap
5. Berikan umpan balik terhadap kepercayaan pasien kepada dan ketakutan
semua pihak yang terlibat dalam proses operasi. 7. Bantu klien untuk mengidentifikasi situasi yang memicu
6. Diskusikan dengan klien kemungkinan nyeri yang akan kecemasan
dirasakan. 8. Ajarkan klien tekhnik relaksasi
7. Kaji harapan klien terhadap pembedahannya 9. Anjurkan kepada keluarga selalu menemani klien
8. Gunakan metode pendidikan kesehatan yang sesuai
dengan kemampuan klien.
9. Berikan kesempatan klien untuk bertanya.
NOC NIC NANDA

Risiko cedera akibat posisi Resiko Kekurangan Volume Cairan dengan Risiko Jatuh dengan factor risiko periode pemulihan pasca bedah
perioperative dengan faktor risiko faktor risiko kehilangan volume cairan aktif NOC : Pemulihan pembedahan: segera setelah operasi
disorientasi,gangguan sensorik/ NOC: Fluid Balance Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 60 menit risiko jatuh
persepsi akibat anstesia. Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x60 dapat teratasi, dengan kriteria :
1. Tanda-tanda vital dalam batas normal (skala 5)
 NOC: keparahan cedera fisik menit tidak terjadi kekurangan volume cairan
Tekanan darah 120/80mmhg
Setelah dilakukan tindakan dengan hasil: Nadi 60-80 x/menit
keperawatan selama 1 x 60 menit, 1. Tekanan darah, frekuensi Nadi , RR: 12-20xmenit (kedalaman dan irama normal)
risiko cedera dapat teratasi, dengan keseimbangan intake dan output selama T: 36,50C - 37,50C
kriteria hasil: operasi , turgor kulit tidak terganggu 2. Tingkat kesadaran composmentis (skala 5)
1. Klien tidak mengalami lecet, (skala 5) NIC: Pencegahan jatuh
memar, luka gores, fraktur, dan NIC: Monitor cairan 1. Identifikasi deficit kognisi atau fisik yang dapat meningkatkan
cedera saat dilakukan operasi 1. Tentukan faktor risiko yang mungkin potensi jatuh dalam lingkungan tertentu
(skala 5) menyebabkan ketdakseimbangan cairan. 2. Identifikasi perilaku yang memengaruhi risiko jatuh
2. Tentukan apakah pasien mengalami 3. Gunakan teknik yang tepat untuk memindahkan pasien
NIC : pengaturan: posisi 4. Sediakan matras dengan pinggiran yang lurus untuk memudahkan
intraoperatif gejala perubahancairan
pemindahan
1. Cek sirkulasi perifer 3. Periksa isi ulang kapiler 5. Jaga posisi sisi rel dalam posisi yang tinggi dengan tepat.
2. Cek keutuhan kulit 4. Periksa turgor kulit NIC: Transfer
3. Kunci roda pada meja operasi 5. Monitor tekanan darah, denyut jantung 1. Tentukan tingkat kesadaran dan kemampuan untuk bekerjasama
4. Topang kepala dan leher saat dan status pernafasan. 2. Pastikan peralatan berfungsi dengan baik sebelum digunakan
memindahkan pasien 6. Monitor dan catat intake dan output 3. Diskusikan kebutuhan untuk relokasi dengan pasien
5. Kordinasikan pemindahan dan 7. Berikan cairan dengan tepat 4. Diskusikan dengan pasien dan penolong bagaimana penolong
pengaturan posisi sesuai dengan bagaimana gerakan akan dilakukan
tingkat anastesi dan tingkat NIC: Pencegahan perdarahan 5. Pastikan lokasi baru pasien telah siap
kesadaran klien. 1. Monitor dengan ketat risiko terjadinya
6. Sesuaikan peralatan yang diperlukan untuk ketinggian bekerja dan
6. Jaga kepatenan infus, kateter dan perdarahan
mengunci semua roda
sirkuit alat bantu nafas. 2. Catat nilai hemoglobin dan hemaktokrit
7. Menaikkan sisi penghalang tempat tidur di sisi berlawanan dari
7. Pertahankan kesejajaran tubuh sebelum dan sesudah pasien kehilangan
darah perawat untuk mecegah pasien terjatuh dari tempat tidur.
dengan tepat. 8. Gunakan mekanika tubuh yang tepat saat pemindahan
8. Berikan posisi operasi yang 3. Monitor tanda dan gejala pendarahan
4. Monitor tanda-tanda vital 9. Jaga tubuh pasien dalam keselarasan saat perpindahan
sesuai.
5. Kolaborasi dengan tim medis dalam 10. Pindahkan paasien menggunakan papan transfer yang
9. Monitor posisi intraoperative
pemberian produk pergantian darah diperlukanevaluasi pasien di akhir perpindahan untuk keselarasan
10. Catat posisi dan alat-alat yang
digunakan. tubuh.
Nyeri akut berhubungan dengan agens cidera fisik Risiko infeksi dengan faktor risiko prosedur invasif
NOC : Pemulihan pembedahan: segera setelah operasi NOC: Pemulihan pembedahan: segera setelah
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 60menit masalah pasien teratasi, dengan operasi
kriteria hasil: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x
1. Tanda-tanda vital dalam batas normal (skala 5) 60menit masalah pasien teratasi, dengan kriteria hasil:
Tekanan darah 120/80mmHg 1. Tanda-tanda vital dalam batas normal (skala 5)
Nadi 60-80 x/menit Tekanan darah 120/80mmHg
RR: 12-20xmenit (kedalaman dan irama noral) Nadi 60-80 x/menit
T: 36,50C - 37,50C RR: 12-20xmenit (kedalaman dan irama noral)
2. Tingkat kesadaran composmentis (skala 5) T: 36,50C - 37,50C
3. Nyeri sedang (skala 3) 2. Tingkat kesadaran composmentis (skala 5)
NIC : perawatan pasca anastesi 3. Nyeri sedang (skala 3)
4. Perdarahan ringan (skala 4)
1. Kaji ulang alergi pasien
NIC : Kontrol Infeksi, : intraoperative
2. Berikan oksigen dengan tepat (intraoperative)
3. Monitor oksigenasi 1. Bersihkan debu dan permukaan medatar dengan
4. Ventilasi dengan tepat pencahayaan di ruang operasi
5. Monitor kualitas dan jumlah pernafasan 2. Monitor dan jaga suhu ruangan antara 200dan
6. Dukung pasien bernafas dalam dan batuk 240.
7. Dapatkan laporan dari perawat ruang operasi dan dari anastesi. 3. Lakukan tindakan – tindakan pencegahan
8. Moniot dan catat tanda vial meliputi pengkajian nyeri, setiap 15 menit atau lebih sering. universal
9. Monitor suhu 4. Pastikan menggunakan pakaian yang sesuai.
10. Berikan berikan tindakan menghangatkan seperti menggunakan selimut 5. Buka persedian steril dengan menggunakan
teknik aseptic.bantu mengenakan pakaian pasien.
11. Monitor urine output
6. Pisahkan alat yang steril dan tidak steril.
12. Sediakan pereda nyeri yang nonfarmakologi atau farmakologi sesuai kebutuhan 7. Batasi kontaminasi yang terjadi
13. Monitor kembalinya fungsi sensori dan motoric 8. Kordinasikan pembersihan dan persiapan ruang
14. Monitor tingkat kesadaran operasi untuk pasien berikutnya.
15. Cek catatan pasien untuk menentukan tanda-tanda vital dasar dengan tepat. NIC: Kontrol infeksi (post Operasi)
16. Bandingkan status saat ini dan sebelumnya untuk mengetahui kemajuan atau kondisi 1. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan
memburuk dari klien tindakan
17. Sediakan stimulasi verbal atau taktil dengan tepat 2. Pakai sarung tangan sebagaiman adianjurkan
18. Sediakan laporan pasien pada unit perawatan post operasi
19. Pindahkan pasien pada perawatan level berikutnya
PATHWAY

Pembedahan “Craniotomy”

Prosedur operasi invasif Perdarahan otak Prosedur anestesi

Penekanan pada Susunan


Luka insisi buruk Kerusakan Aliran darah saraf pusat (SSP)
(stimulasi nyeri) neuromuskuler ke otak 
Trauma
jaringan Ganguan Penurunan Penekanan pusat Penekanan pada
Mengaktivasi
metabolisme Suplay O2 ke pernafasan sistem cardiovaskuler
reseptor nyeri Paralisis Penurunan tonus
otot sensori otak
Penurunan Asam Penurunan kerja
Melalui sistem Penurunan cardiac
kelembaban luka organ pernafasan
saraf ascenden
Kelemahan laktat  Hipoksia jaringan out put (COP)
pergerakan
Perubahan
sendi persepsi sensori Penurunan
Infasi bakteri Oedem otak Suplai darah
Merangsang Penurunan RR ekspansi paru
Kontraktur berkurang
thalamus & koteks
serebri Ketidakadekuatan
Resiko infeksi Penurunan aliran
Ganguan perfusi suplai O2
jaringan darah
Muncul sensasi
nyeri Hambatan
mobilitas fisik Pola nafas Gangguan
tidak efektif perfusi jaringan
Nyeri Akut
DAFTAR PUSTAKA

Agus Widodo, Bakti Suroso. 2004. Meditek, Volume 12, Nomor 30. Januari-april
2004.
Crosby Hendry, Victor Pontoh, Marselus A. Merung. 2016.Pola Kelainan Tiroid di
RSUD Prof. Dr. R. D. Kandou Manado . Jurnal e-Clinic (eCI),
Volume 4, Nomor 1, Januari-Juni 2016.
Herdman, T. Heater dan Shigemi Kamitsuru. 2015. Nanda International Inc.
Diagnosis Keperawatan: Definisi & Klasifikasi 2015-2017. Jakarta:
EGC.
Nurjannah, Intansari. 2016. ISDA Intan’s Screening Diagnoses Assesment Versi
Bahasa Indonesia (2016). Yogyakarta: Mocomedia.

Nurjannah, Intisari. 2015. Nursing Interventions Classification (NIC) Pengukuran


Outcomes Kesehatan Edisi Keenam Edisi Bahasa Indonesia.
Indonesia: Elsevier.
Nurjannah, Intisari. 2015. Nursing Outcomes Classification (NOC) Pengukuran
Outcomes Kesehatan Edisi Kelima Edisi Bahasa Indonesia.
Indonesia: Elsevier.
Nurarif Huda Amin, Kusuma Hardhi.2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosis Medis & NANDA NIC NOC Jilid 1.
Jogjakarta: Mediaction Publishing.
Santoso M, Ndraha S, Patti Pawae H, Doranggi. 2009. Pola Profil Penyakit Struma
di RSUD Koja. Jurnal .THT-KL. Volume 2, Nomer 3 September-
Desember 2009 hal.127-133.
Tallane TSarah, Alwin Monoarfa, P.A.V.Wowiling. Profil Struma Non Toksik pada
pasien di RSUP Prof.Dr.R.D. Kandou Manado. Jurnal e-Clinic (eCI),
Volume 4, Nomor 2, Juli-Desember 2016.