Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah meningkat
melebihi batas normal. Batas tekanan darah normal bervariasi sesuai dengan usia.
Berbagai faktor dapat memicu terjadinya hipertensi, walaupun sebagian besar
90 % penyebab hipertensi tidak diketahui. Faktor terjadinya hipertensi bisa karena
pola diet yang tidak baik, stress dan juga karena komplikasi penyakit lain.
Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013 yang pernah didiagnosis tenaga
kesehatan sebesar 36,8 persen sedangkan sebagian besar belum terdeteksi sebesar
63,2 persen.
Berdasarkan hal diatas maka mahasiswa merencanakan untuk memberikan
pendidikan kesehatan mengenai hipertensi agar klien dan keluarga lebih mengerti
dan dapat melakukan perawatan pada hipertensi serta mengatur pola diet yang
benar.
SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP)

Pokok Bahasan : Hipertensi


Sub Pokok Bahasan : a. Pengertian hipertensi
b. Penyebab hipertensi
c. Faktor resiko hipertensi
d. Tanda dan gejala hipertensi
e. Pencegahan hipertensi dengan benar
f. Penatalaksanaan hipertensi
g. Pengaturan diet bagi penderita hipertensi
Hari / Tanggal : Senin 27 Mei 2019
Waktu : 13.30 WIB
Tempat :

Tujuan Instruksional :
1. Umum
Setelah mengikuti pendidikan kesehatan selama 20 menit, diharapkan pasien
yang menderita hipertensi dapat memahami tentang hipertensi dan dapat
melaksanakan dietnya dalam kehidupan sehari-hari
2. Khusus
Setelah mengikuti pendidikan kesehatan tentang hipertensi selama 20 menit,
pasien mampu :

a. Menyebutkan pengertian hipertensi


b. Menyebutkan penyebab hipertensi
c. Menyebutkan factor resiko hipertensi
d. Menyebutkan tanda dan gejala hipertensi
e. Menyebutkan usaha pencegahan hipertensi dengan benar
f. Menyebutkan penatalaksanaan hipertensi
g. Menyebutkan pengaturan diet bagi penderita hipertensi
Sasaran : Pasien
Metode : 1. Ceramah
2. Diskusi/tanya jawab
Media : Leaflet
Pemberi Penkes : Kelompok II
Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
 Kesiapan peserta kurang dalam mengikuti pendidikan kesehatan.
 Media kurang memadai

2. Evaluasi Proses
 Pelaksanaan penyuluhan sesuai dengan jadwal yang direncanakan
 Peserta penyuluhan kooperatif dan aktif berpartisipasi selama proses
penyuluhan

2. Evaluasi Hasil
Setelah mendengarkan pendidikan kesehatan maka peserta mampu
menjawab 80% pertanyaan yang diajukan oleh penyuluh pada saat
evaluasi.
LAMPIRAN
MATERI PENDIDIKAN KESEHATAN
HIPERTENSI
A. Definisi
Hipertensi merupakan keadaan tekanan darah dimana tekanan sistoliknya
lebih tinggi dari 140 mmHg dan diastolic lebih dari 90 mmHg. Pada lansia
dikatakan hipertensi bila sistolik lebih dari 160 mmHg dan diastolik lebih dari
90 mmHg (Brunner & Suddart, 2008)
B. Etiologi
1. Faktor keturunan
Seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan
hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi.
2. Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah:
 Umur, umur yang bertambah akan menyebabkan terjadinya kenaikan
tekanan darah
 Jenis kelamin, tekanan darah pria akan lebih tinggi dibandingkan
dengan wanita.
 Ras, dari data statistik di Amerika terbukti bahwa penderita hipertensi
pada orang kulit hitam hampir 2 kali lebih tinggi dibanding dengan
orang kulit putih.
3. Kebiasaan hidup
 Makan yang berlebihan dan kegemukan
 Konsumsi garam yang tinggi
 Stres atau ketegangan jiwa
 Pengaruh lain seperti: merokok, minum alkohol, minim obat-obatan
yang menimbulkan efek kerja jantung meningkat (Buku Ajar Penyakit
Dalam, 2010)
C. Faktor Resiko Dari Hipertensi
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit hipertensi adalah
sebagai berikut :
 Usia
Semakin meningkatnya usia, semakin potensial seseorang terkena
hipertensi. Biasanya peningkatan darah ini dimulai ketika seseorang beusia
30-40 tahun.
 Jenis Kelamin
Wanita mempunyai resiko lebih tinggi menderita hipertensi dari pada pria,
akan tetapi pada kasus ini wanita mempunyai insiden kematian yang lebih
rendah dari pria.
 Obesitas
Kegemukan akan menyebabkan hipertensi, hal ini dihubungkan dengan
lemak yang banyak didalam tubuh hal ini memungkinkan kesempatan
untuk tertimbun dai dalam pembuluh darah. Hal ini yang akan
menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah yang natinya akan
terjadi peningkatan tekanan darah.
 Gaya hidup ( Life style)
Kebiasaan makan, merokok dan konsumsi minuman beralkohol
meningkatkan insiden terjadinya hipertensi.
 Stress
Stress dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mendapat penyakit
hipertensi. Sebaliknya, factor-faktor gaya hidup, seperti dukungan social
dan diet yang baik dapat membantu mengatasi efek dari stress terhadap
penyakit hipertensi.(Padila, 2012)
D. Manifestasi Klinik
Pada kasus hipertensi tidak dijimpai gejala yang berarti selain tekanan
darah yang tinggi dan gejala pusing, tetapi dapat juga ditemukan perubahan
pada retina seperti perdarahan, eksudat dan pada kasus berat dapat terjadi
edema pupil. (Tanto Chris, 2014)
E. Komplikasi
 Kerusakan pada ginjal
Peningkatan serum kreatinin > 133 mol/I (1,5 mg/ 100 ml), proteinuria,
mikro albuminnaria.
 Kerusakan saraf pusat : strok.
 Gangguan pada jantung : MCI, angina pectoris, hipertropi jantung dan
pembuluh darah.
 Mata : hemorraghe dengan / tanpa pupil edema. (Buku Ajar Penyakit
Dalam, 2010)
F. Usaha Pencegahan Hipertensi
Pencegahan lebih baik dari pada mengobati, demikian juga terhadap
hipertensi. Usaha pencegahan juga bermanfaat bagi penderita hipertensi agar
penyakitnya tidak menjadi lebih parah, tentunya harus disertai pemakaian
obat-obatan yang ditentukan oleh dokter. Agar terhindar dari komplikasi fatal
hipertensi, harus diambil tindakan pencegahan yang baik, antara lain dengan
cara sebagai berikut:
1) Mengurangi konsumsi garam
Pembatasan konsumsi garam yang dianjurkan maksimal 2 gr garam dapur
untuk diet setiap hari
2) Menghindari kegemukan (obesiatas)
Hindarkan kegemukan (obesitas) dengan menjaga berat badan normal atau
tidak berlebihan.
3) Membatasi Konsumsi Lemak
Membatasi konsumsi lemak dilakukan agar kadar kolesterol darah tidak
terlalu tinggi. Kadar kolesterol darah yang tinggi dapat mengakibatkan
terjadinya endapan kolesterol dalam dinding pembuluh darah. Lama
kelamaan jika endapan kolesterol bertambah akan menyumbat pembuluh
darah dan mengganggu peredaran darah. Dengan demikian akan
memperberat jantung dan secara langsung akan memperparah hipertensi.
4) Olah raga dengan Teratur
Olah raga dengan teratur dapat menyerap dan menghilangkan endapan
kolesterol pada pembuluh darah. Olah raga yang dimaksud adalah latihan
menggerakkan semua sendi dan otot tubuh seperti gerak jalan, berenang,
naik sepeda
5) Makan banyak Buah dan Sayuran.
Buah dan sayuran segar mengandung banyak vitamin dan mineral. Buah
yang banyak mengandung mineral kalium dapat menurunkan tekanan
darah.
6) Tidak Merokok dan Minum Alkohol

7) Latihan Relaksasi atau Meditasi


 Mengeluarkan isi hati dan memecahkan masalah.
 Membuat jadwal kerja, menyediakan waktu istirahat atau waktu untuk
kegiatan santai.
 Menyelesaikan satu tugas pada saat itu saja, biarkan orang lain
menyelesaikan bagiannya.
 Sekali mengalah, belajar berdamai
 Cobalah menolong orang lain
 Menghilangkan perasaan iri dan dengki (Brunner & Suddart, 2008)
G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan non farmakologis atau perubahan gaya hidup, meliputi :
 Menghindari factor resiko seperti merokok, minum alcohol, hiperlipidemia
dan stress.
 Pengurangan asupan garam dan upaya penurunan berat badan. Pembatasan
asupan garam sampai 60 mmol/hari dengan tidak menambahkan garam
pada waktu makan, memasak tanpa garam, dan menggunakan mentega
bebas garam.
 Melakukan latihan relaksasi : meditasi, yoga atau hypnosis.
 Penatalaksanaan dengan obat :
Dengan mengutamakan penyebab dan mengurangi timbulnya komplikasi
dengan obat-obat seperti :
 Diuretik
 Vasodilator
Contoh : Hidralazin 50-300 mg 2x1, Nizardipin 60 mg 3x1
 Kalsium Antagonis
Contoh : Nifedipine 30-180 mg 3x1, Deltrazem 60-360 mg 2x1
 Beta blocker
Contoh : Propanolol Hcl 30-40 mg 1x1, Antenolol 25-150 mg 1x1
 Penghambat ACE
Contoh : Captopril 25-30 mg, Irsinopril 5-40 mg 1x1 (Brunner &
Suddart, 2008)
H. Penatalaksanaan Diet Bagi Penderita Hipertensi
Pada penderita hipertensi dimana tekanan darah tinggi > 160 mmHg, selain
pemberian obat-obatan anti hipertensi perlu terapi dietik dan merubah gaya
hidup. Tujun dari penatalaksanaan diet adalah untuk membantu menurunkan
tekanan darah dan mempertahankan tekanan darah menuju normal, selain itu
diet ditujukan untuk menurunkan factor resiko lain seperti berat badan yang
lebih, tingginya kadar lemak kolesterol dan asam urat dalam darah. Harus
diperhatikan pula penyakit degeneratif yang menyertai darah tinggi seperti
jantung, ginjal dan diabetes militus.Prinsip diet pada penderita hipertensi
adalah sebagai berikut:

Makan beraneka ragam dan gizi seimbang.


Jenis dan komposisi makanan disesuikan dengan kondisi penderita.
Jumlah garam dibatasi sesuai dengan kesehatan penderita dan jenis
makanan. Yang dimaksud dengan garam disini adalah garam natrium yang
terdapat dalam hamper semua bahan makanan yang berasal dari hewan
dan tumbuh-tumbuhan. Salah satu sumber utama garam natrium adalah
garam dapur. Oleh karena itu, dianjurkan konsumsi garam dapur tidak
lebih dari 1/4 – 1/2 sendok teh/hari atau dapat menggunakan garam lain
diluar natrium.
Penatalaksanaan diet pada hipertensi sehari-hari
Pembagian Makanan Sehari
Bahan makanan Berat (gram) URT
Pagi : Nasi 250 1 ¾ gls
Telur ayam 55/45 1 btr/ 3sdk mkn
Tempe/ tahu 50 1 ptg
Sayuran 100 1 gls
Jam 10.00 :
Buah 100 1 ptg bsr
Siang : Nasi 250 1 ¾ gls
Daging/ayam 50 1 ptg
Tempe/ tahu 50 1 ptg
Sayuran 100 1 gls
Buah 150 1 ½ ptg bsr
Minyak untuk menggoreng 15 1 sdm
Jam 16. 00 :
Buah 200 2 ptg bsr
Malam :
Nasi 200 1 ½ gls
Ikan 50 1 ptg
Tempe/ tahu 50 1 ptg
Sayuran 100 1 gls
Buah 150 ½ ptg bsr
Minyak menumis 15 1 sdm
Catatan : konsumsi garam dapur tidak
lebih dari 1/4–1/2 sendok teh/hari
(Tanto Chris, 2014)
DAFTAR PUSTAKA

Buku Ajar Penyakit Dalam. (2010). Jilid I. Edisi ke 3. Jakarta : FK UI


Brunner & Suddarth. (2008). Keperawatan Medikal Bedah, edisi refisi. Jakarta;
EGC
Padila, 2012. Buku Ajar: Keperawatan Medical Bedah. Nuha Medika. Yogyakarta
Riskesdas. (2013). Badan penelitian dan pengembangan kesehatan RI tahun 2013
Tanto Chris, (2014). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi IV. Media Aesculapius.
Jakarta
SATUAN ACARA PENYULUHAN ( SAP )
TENTANG HIPERTENSI

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK II
1. Raimundus laba
2. Risma Kartika Rambu Longgu
3. Soleman Jawu Yailo
4. Irawan Jordi Ndapamerang
5. Kartini Kartika

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN DAN NERS


STIKES WIRA HUSADA YOGYAKARTA
TAHUN 2019
LEMBAR PENGESAHAN PENDIDIKAN KESEHATAN
TENTANG HIPERTENSI

Laporan pendkes ini telah dibaca, diperiksa pada


Hari/tanggal :

Mahasiswa Praktikan

Raimundus Laba

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

Ardin S.,Kep.,Ns.,M.Kep